Previous Next

Tan Ek Tjoan

18/07/2009 By Marco Kusumawijaya

PenyediarotidankueTanEkTjoanpunyasistemdidtribusidengantransportasiramahlingkungan.Fotoinimenunjukkansalahsatugerobakaslinyadenganmodifikasisepeda.Mungkiniaberasaldaritahun1950anataulebihawal.FotodiambildiUtanKayu,tanggal6Juli2009.Perhatikantipografi,engsel,danpapannamanyayangkelihatannyamasihasli.

Papannamaitumenunjukkanalamattoko/pabrikTanEkTjoan,ialahJalanCikiniRayaNo.61.DariCikinikeUtanKayudengangerobaksepedadapatdikatakansebagaijarakyanglumayanjauh.Jadijaringandistribusidenganangkutanramahlingkunganinipunyadayajangkauyangcukupjauh.

Beberapawaktulaluadadiskusitentangpasarrakat(“tradisional”)yangperludipertahankankarenamendukungkotaramahlingkungan,sebabmenjualmakanansegardengankemasanminimal,dansampahorganikyangbisadikompos.Persoalanyangmunculadalahjaringandistribusi,ketikakotamenjadimakinbesar,danjarakantarakota(sebagaipusatkonsumsimakanansegar)dandesa(sebagaipusatproduksimakanansegar)makin“besar”tersebabmasalahtransportasi.

Jakarta,selamasekianpuluhtahunterakhirternyatatidakpernahmenambahluaspasarrakyat(tradisional).Yangbertambahhanyamalldansupermarketolehswasta.MenteriPerdaganganpunyapaketinsentifuntukdaerahmengembangkanpasarrakyat.Surabayaadalahcontohberkembangbaiknyapasarrakyatyangterusdipeliharadanbertambah,dimodernisasi,bukanolehpemerintah,tetapiolehpengusahapasar.

 

9 thoughts on “Tan Ek Tjoan

  1. ketika saya masih kecil, saya hanya mengenal tiga bakerij: toko maju di parakan kota tempat saya dibesarkan, tan ek tjoan kalau lagi berlibur panjang di jakarta, dan abc (dulu di dekat kawedar, malioboro) di jogja. semua rotinya diperoleh dalam keadaan hangat. yang saya kenang dari tan ek tjoan ialah roti coklatnya yang didorong dg gerobak.

  2. Roti langganan dari jaman kecil! Setelah subuh biasanya si abang roti pada keluar deh tuh, berteriak “rot-rotiiii….” Tinggal tunjuk, si Abang langsung membungkuskan roti yang kita inginkan dengan kertas roti, bukan plastik. Rasa rotinya memang agak kasar dan tak seempuk roti pabrikan massal, tapi sebenernya lebih enak, mengenyangkan dan tanpa pengawet. Favorit saya roti keju (keju kampung yg baur spt tepung!), roti isi kelapa dan tentu roti tawarnya yg kalo beli pagi masih hangat dan harum 🙂

  3. Stuju mas! usaha pasar rakyat harus dibantu dan didukung oleh pemerintah terutama dalam jaringan distribusinya. Hebat roti tan ek tjoan masih bertahan, berarti mereka masih mempunyai “pasar” hingga kini karena ciri keorisinilan rasa (“ingredients”) dari roti ini, yang tentunya berbeda dengan roti-roti masa kini. Gerobak yang masih asli dan menjadi ciri dari usaha ini pun tentunya harus tetap dipertahankan dan didukung!
    (btw apakah toko roti tan ek tjoan ini ada kesamaan dengan toko yg di bogor kah?)…

  4. Gerobak sepeda spt ini menarik utk menjadi model gerobak Pedagang Kaki Lima (PKL/5) yg direnovasi dengan penambahan payungnya bisa buka-tutup. Lebih rapi dan mudah berpindah-pindah, walaupun sayangnya sampai sekarang pemerintah Jakarta sepertinya belum mau menyediakan kawasan2 khusus PKL seperti di Solo. Padahal PKL sudah merupakan budaya yang dibutuhkan banyak orang.

  5. kenapa pihak tan ek coan tidak merubah transportasi distribusinya dg kendaraan bermotor, apakah mereka memang peduli lingkungan? atau ada petimbangan bisnis?

  6. Pertanyaan dari Bung Ramdan menarik sekali. Saya tidak tahu jawabnya. Perlu ada yang bertanya langsung kepada mereka. Ada yang bersedia? Bung Ramdan sendiri? Terima kasih.

  7. Saya Pedagang Kaki Lima (PKL) yang ada di Solo, kami berjualan dengan gerobak sesuai dengan peraturan kota. Gerobak kami banyak menempati sebelah kiri jalur, (agar di sisi kanan) untuk orang berjalan kaki. Di sini juga ada naungan-naungan untuk PKL. Saya pikir Jakarta bisa membuat tempat-tempat khusus untuk para PKL karena kalau dihilangkan kasihan juga, tidak hanya penjual tetapi juga konsumen akan kesulitan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *