Editorial

Density: Myth and Reality

by Marco Kusumawijaya, 16.08.2009


Photo by Erik Prasetya

Photo by Erik Prasetya

Is Jakarta really dense? Or just not efficient? By density we should really mean to include the people, not just the square meters of built floor; and meanings, not just empty spaces; and also multiplicity of uses and relationships, not just mono-functionality dictated by short-term real-estate “efficiency”.  By density we should mean not only the volumetric density, but programatic density, which is the real, historical essense of urbanity.

In that context, we find it reasonable to doubt if highrise buildings solve the density problem. See Feature by Andrea Fitrianto and Guest Column by Meutia Chaerani http://rujak.org/2009/08/apartmentcentral-vs-housesuburb/

Comparison of Urban Densities

Instead of imagining Jakarta consisting of towers –highrise and high cost in both construction and operation periods, hence environmentally not friendly—can we really not imagine different forms, such as medium (4 to six or even 8 stories) high all over Jakarta?

The fact is that most of the expanse of the metropolis is low-rise medium density.  The propaganda on the metropolis’ density is also false in that most of the “high density” zones are high density only in volumetric sense, without programatic density or complexity.

Often also, as in the case of gentrification, or “super-gentrification” such as the taking over of already up-scale houses in Menteng by the nouveau-riche, square meter densification does not at all accommodate more people, but on the contrary often accommodates even less people, resulting in less people in larger built floor area. Often also, with more cars.

Therefore, higher density of square meters does not necesasarily mean higher density of inhabitants on the same area. The same case is true with Kemang area, where now there are more larger houses and yards with less people or families, with more cars, than 20 years ago. The same is also true with the so-called Sudirman Central Business District (SCBD) that about 15 years ago displaced thousands of families living there.

Density of contestation takes place not only in the “major” spaces, but also in “marginal” spaces such as along railroads and under fly-overs. See http://www.thejakartapost.com/news/2009/05/29/take-paradise-put-a-parking-lot.html; http://www.thejakartapost.com/news/2009/02/14/old-immigration-office-—-private-partnership-distortion.html; http://www.thejakartapost.com/news/2009/03/21/the-plight-and-plea-menteng.html. See also pictures of Jakarta Biennale 2009 intervention in marginal spaces.

Elisa Sutanudjaja compiles basic information that shows how “density” issues are institutionalised in urban planning practice in Jakarta. And, no less important: how it relates to our daily life. See her Tips: Tata-Ruang untuk Awam.

For other resources, see in Rujak/Resources: http://rujak.org/2009/08/density-in-urban-development/ and http://rujak.org/2009/08/practical-decisions-facing-urban-planners/


| Agent of Change: none

One Response to “Density: Myth and Reality”

  1. Marco Kusumawijaya says:

    Dari: adityasoekarno@gmail.com
    (melalui info@rujak.org)

    Jakarta merupakan gambaran sebuah evolusi perkotaan dari jaman berkuda, berbecak sampai menjadi berkendaraan. Evolusi dari perkampungan menjadi apartment. Evolusi dari jalan setapak menjadi jalan tol. Evolusi ini dapat diamati dan dianalisa pada setiap pertambahan tumpukan ’tissue’ penanda jamannya.
    Evolusi kota Jakarta itu juga terlihat dari semakin bertambahnya penduduk Jakarta secara periodik. Pertambahan penduduk ini sejalan dengan meluasnya area yang disebut “Jakarta”. Disaat area Jakarta sudah mencapai bibir pertemuan dengan kota sekitarnya, kota disekitar Jakarta harus menampung lubernya perluasan aktifitas terkait Jakarta.
    Pertumbuhan Jakarta ini mayoritas belum diiringi dengan perkembangan pola hidup manusia dalam berpikir perkotaan. Hal ini terlihat dari keinginan mayoritas penduduk Jakarta yang masih lebih suka tinggal di rumah yang memiliki kebun. Sebagian besar masyarakat Jakarta masih lebih nyaman hidup “horisontal” daripada hidup “vertikal”. Alasan yang sering terlontar adalah “masih ada keinginan untuk berkebun”, “tidak bisa kalau bangun tidur tidak melihat kebun dan menginjak tanah”, dan banyak alasan lainnya. Tidak heran jika perkembangan Jakarta adalah meluas secara horisontal.
    Kepadatan di Jakarta terlihat dari “kepadatan hunian” dan “kepadatan jalan”. “Kepadatan hunian” di Jakarta, karena mayoritas masih menjadi “manusia horisontal”, maka tidak heran jika perluasan jakarta terjadi meluas sampai ke bibir kota dan juga memadat di pusat kota. Setiap celah dimanfaatkan untuk hunian walaupun sadar tidak layak untuk dihuni. Kepadatan ini ditambah dengan cara pikir yang masih “ndeso”. Tidak heran cara pikir “ndeso” ini menumbuh-kembangkan perkampungan kota. Dan yang sangat disayangkan, perkembangan kampung kota ini seringkali tumbuh di daerah yang tidak layak huni, seperti daerah aliran sungai. Padatnya kampung kota ini juga tidak ditunjang dengan infrastuktur yang memadai, seperti air bersih, bukaan ruang, antisipasi terhadap kebakaran, pembuangan sampah dan lain sebagainya.
    Selain kepadatan hunian, juga terjadi “kepadatan jalan”. Hal ini terjadi terutama karena infrastruktur transportasi masih belum bisa mengantisipasi dan mengejar “kepadatan hunian” yang terjadi. Jakarta yang sudah terlanjur berkembang secara horisontal, masyarakatnya bekerja rata-rata di “pusat”. Tidak heran akan terjadi kepadatan di jalan pada waktu tertentu, seperti pada pagi hari disaat masyarakat urban memulai aktifitasnya dan sore hari disaat masyarakat urban mengakhiri aktifitas kerjanya. Kepadatan jalan ini, yang sering dikeluhkan oleh masyarakat sebagai “macet” terjadi karena sifat masyarakat horisontal tersebut yang lebih memilih hidup dengan “kebunnya” di tepian Jakarta (sub-urban) dan rela menempuh puluhan kilometer setiap pagi dan sore hari untuk bekerja.
    Kepadatan jalan juga terjadi karena masyarakat horisontal tersebut sebagian besar adalah masyarakat yang mampu secara ekonomi, sehingga dengan melihat belum bagusnya infrastruktur transportasi di Jakarta ini, takut dengan copet, tidak tahan dengan panas Jakarta, khawatir akan hujan, maka memilih berkendara menggunakan mobil pribadi.
    “Kepadatan” tersebut pun terjadi terkait dengan “waktu”, yaitu hanya terjadi di saat manusia horisontal melakukan aktifitas kerjanya. Pagi hingga sore, pusat Jakarta menjadi sangat penuh sesak, namun lenggang menjelang pukul 8 malam hingga subuh. Padat di hari kerja dan lengang di hari libur.
    Solusi untuk mengurangi “kepadatan” tersebut salah satunya adalah mendekatkan ruang hunian dan ruang kerja. Yang terbaik adalah ruang kerja dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari ruang hunian. Hal ini tentunya akan mengurangi aktifitas berkendara dan tentu saja akhirnya akan mengirangi polusi. Kalaupun di tengah aktifitas kerja tersebut harus berkunjung ke ruang kerja yang jaraknya relatif jauh, manusia pekerja tersebut dapat dengan mudah mencapai sarana transportasi massal tanpa rasa takut terhadap tindakan kejahatan, tidah harus merasakan terik matahari Jakarta yang panas dan menyengat, tidak perlu khawatir akan basah kehujanan sehingga mengganggu penampilan berpakaian ala perkantoran.
    Opini ini merupakan bagian dari impian saya sebagai manusia pekerja yang mendambakan bisa berjalan kaki dari ruang hunian menuju ruang kerja. Dan impian tersebut sudah menjadi kenyataan karena waktu yang saya gunakan dalam perjalanan tidak lebih dari 20-30 menit. Walaupun saya masih mengidamkan untuk menempuhnya tidak lebih dari 10 menit berjalan kaki. Hidup terasa sangat efisienn tidak melelahkan dan nyaman dalam bekerja serta berkeluarga.

Leave a Reply