Previous Next

Ketika Ruang Tinggal Dipertanyakan

15/09/2009 By Elisa Sutanudjaja

Melaluiutopiaarsitekturberhentisebagaiproyekrancanganpesananindividual.Iainginberpikir‘menyempurnakan’masadepansemua.Iamenjadipemikiran.Iamenjadialatkolektifmembincangkanidealbersama.Karenakotamenjadiobyekyangtepat.Padaruangkota,arsitekturberhentimenjadialatpesananpribadi,sebabiaharusmenjadialatkolektif(MarcoKusumawijaya,2009)

Setidaknyakalimatdiatasberulangkalidikutip,mulaidariundanganhinggapadasaatpembukaanPameranWorkshopArsitekMudaIndonesiayangbertajukRuangTinggaldalamKota.Pemikiranutopisinilahyangmenjadidasarmateripameranyangmempertanyakanruangtinggal.Disaatruangtinggalditempatkandalamkota,makaartikataruangtinggaltersebutbisaterdekonstruksi,berevolusidanmemilikimaknalainmenjadilebihdarisekadarbangunandialamatKTP.

Adabanyakhalyangtersiratdantersuratdalam14hasilworkshop.Merekaberangkatdarifenomena,derita,kekinian,peluang,persepsi,definisiakantinggaldidalamkota.Temaakankotadanruangtinggalbegitudekatdalamkeseharian.Ditanganparaarsitekmudadanmahasiswaarsitektur,14proposalitumenjadiusulanyangunik,berani,sedikitnaïf,penuhmimpi,idealisdanbersemangat.Namunbukankahituyangdiharapkandarigenerasipenerusbangsa?

KenyataanbahwaJakartaadalahkotakontemporermenjadikanJakartasebagaiisufavoritdalamworkshopini. KekontemporeranJakartamenjadikotadanwarganyayangselalubergerak.Jakartaseakanmeradikalkanmobilitaswarganya,entahsecaravisualmaupunfisik.Itulahyangmenjadiisuproposalseperti:MobileHouse,diDedikasikanuntukKomuter,metabolismofJakartacity,ruangmimpi,danruang.waktu.tinggal.

Duaproposalpertamaberkutatpadamasalahwaktutempuhdaridankerumahtinggal.MobileHousepadaakhirnyamenyediakanstruktur-strukturutamadiberbagaipenjuruJakarta,sebagaisarangrumah-rumahuntukbermetabolisdantinggal–memungkinkanrumahtersebutuntukberpindahtempatsesuaidengankebutuhan.Sepertilayaknyaapartemen-apartemenditengahkota,MobileHousemendekatkanjarakpenghuniketempataktivitas,hanyasipenghunidanunitnyadenganmudahberpindahtempatkeanterokota.SementaradiDedikasikanuntukKomuteradalahupayauntukmengembalikanparakomuterkedalamkotadenganmenempatiruangyangmemangselamainimerekatempatisepanjangperjalanan,yaituJalanTolDalamKota.Proposalinimenggugatkeberadaanjalantoldalamkotayangtentusajaberlawanandenganprinsiptransportasipublik.Dandisaatbersamaaniapunmenggugatkediaman(mobil)akibatmacetdijalantol,sehinggadalamkediamanadalahgerakitusendiri.Mobildianggapsebagaihomeinhomelessnessuntukjangkawaktutertentudijalantolitu.

Pergerakandanmobilitasdapatdilihatjugasepertisistemmetabolismedalamtubuhmanusia,setidaknyaituyangdiutarakanolehkelompokmetabolismofJakartacity.Didalamtubuh(kota)yangsehat,tentunyamemerlukanaliran(pergerakan)yangsehatpula.Proposaliniseakanberupayauntukmenghilangkankadarkolesteroldalamdarah,sepertihalnyamencobamenyehatkanpergerakandansistemyangterjadidalamdaerahBlokM.

Benturanantarapergerakansemudankediamanabsurbmunculpadaproposalruangmimpi.Pergerakanyangmunculdariindahnyamagnetkota,namundisaatbersamaanmenyaringcalonwarganya,hinggaterpaksalahwargamenempatino-man’sland,dalamhalinipinggirrelkeretaapi.Menjadikankediamantersebutsewaktu-waktubisadigugat,tergusurdanberpindahketempatlain.

Ruang-ruangkotamarjinaltakhanyaberhentisebataspinggirrelkeretaapi,tapibisajugakolongjembatandanbantarankali.BahkanuntukkontekskotaJakarta,jalurpejalankakipunmenjadiruangtakbertuan,sepertibanyakyangterjadidibalikgedung-gedungkantor.Proposalruangbayanganmelihatruang-ruangtersebutsebagaipeluangyangdapatdikembangkanmenjadiserialruangtinggal.

Sementaraideakankotasebagaihidupnomadenmunculdalamproposalruang.waktu.tinggal.Dalamhalini,hidupnomadadalahintermezzo.Merekapercayabahwaruangtinggaladalahsegalasesuatuyangmemilikiwaktukebersamaandenganseseorangdalamkurunwaktutertentu.BerangkatdarikonsepfilmTheTerminal,berubahmenjadikonseparsitekturalparadoksnomadisme,menjadikanwaktusebagaipenentudesain,bukannyaklienataupunkebutuhanruang.Seakanwaktuyangdijual,dankemudiandikemasdalambentukruang.

Berlawanandengangugatanterhadapgayahidupnomad,proposalruangkembalijustrumemperlihatkankonsepkotadanruangtinggaldimasalampau.Ruangtinggalkembalimenjadikediamandalamartisesungguhnya,yaitusebagairumah,tempatuntukberhentitotaldaripergerakan–menjaditempatuntukpulang.

Isu-isupopulersepertikeberlanjutan(sustainability)punmunculdalambeberapaproposal,sepertiTropicalCapsuleBungalow,LinearCitydannenekmoyangkuseorangpelaut.TropicalCapsuleBungalowberangkatdariisupembangunandiBaliyangcenderungmerusakalam,makadarisitulahirlahidebungalowdenganbahansampahdaurulangdankemudianditempatkandilokasiterbengkalaisudutkota.SementaraLinearCityberangkatdarikonsepabad19akhirdengannamayangsama.ProposaltersebutberusahauntukmengkompakkanareaKuningandisepanjangjalan,danlalumerelokasikanarea-arealaindibelakanganjalanKuninganhinggaberubahmenjadiareakonservasidanpreservasi.TentupembentukandanluasanbangunandisepanjangKuningansertaperbandinganlahanmemakaiperhitunganjejakkakiekologis.Kenyataanakanperubahaniklim,buruknyalingkungandankeraprutinnyabanjirmelandaJakarta,mendasariproposalnenekmoyangkuseorangpelaut.Dengandemikian,diharapkanwargaJakartadimasamendatangmampuadaptifterhadapbencanayangkinimenjadirutinitas.

KotaBandungturutmenjadiinspirasi,terutamabagi2proposalyangberasaldariBandungyaitukotaskalakitadanfashion,Bandung,arsitektur.KeduanyamengambillokasisamayaitudiDago,namunberangkatdaripemahamanyangberbeda.ProposalpertamaberupayamengembalikanskalakotadisepanjangjalanDagokepadamanusia,denganmemberikankekayaandankuasaruangterhadappejalankaki.Kotaskalakitamelakukanpemisahanyangjelasdanmutlakantarapejalankakidanbukan.Sementaraproposalkedua:fashion,Bandung,arsitektur,mencobamenarikbenangmerahantaramodedanarsitekturdenganmempertanyakankemungkinandeskripsiruangtinggalsebagaielemen(aksesoris)dalamkota.Aksesorisdalambusanaterkadangbisamenjadipelengkappakaianbahkanpenyatu,sepertihalnyadenganmenempatkanruang-ruangkecildengantepatpadatitik-titikkotatertentu.MungkinsejalandenganidealismeCocoChanel:Fashionisnosomethingthatexistsindressesonly.Fashionisinthesky,inthstreet,fashionhastodowithideas,thewaywelive,whatishappening.

Duaproposallainmembahaskeintimanantaratubuhdalamruang.BlackoutArchitecturemenggaliakankemungkinanjikaperencanaanruangtidakbergantungpadainderapenglihatan.Bagaimanajikaparaperencanakotadanarsitekmulaijugamemperhatikanindera-inderalaindalammerencanakanruang.BlackoutArchitecturehadirdenganinstalasiyangdiharapkanmampumemberikanstimulidankepekaanindera.Rumahinitidakuntukdijual,berangkatdaripersonalisasirumahberdasarpemiliknya.Proposaliniseakanmenjadikritikterhadaptendensikomersialisasi,standarisasidanindustrialisasirumahlewatprodukdeveloper.

Danruangtinggalpunberagamdanmenggelitik.Adabeberapahalyangmenarikdari14proposalini.Waktumenjadikrusial,karenadalamruangtinggalunsurwaktusangaterat.Penolakanakanruang-ruangyangsterildantidakunikpunterjadi.Adayangmemperhatikankaummarjinalkotadanadapulayangbermimpi‘hijaulestari’.Lalubagaimanapemahamanandaterhadapruangtinggal?Apaartiruangtinggalbagianda?

PameranWorkshopAMI9-19September2009

GaleriKomunitasSalihara

JalanSaliharaNo.16
PasarMinggu–JakartaSelatan

FotoolehDitaWisnuwardanidanKeziaParamita


TrailerFinalAMIRuangTinggalDalamKotafromwagionobustamionVimeo.

allowscriptaccess=”always”allowfullscreen=”true”>

TrailerAMIRuangTinggalDalamKotafromwagionobustamionVimeo.

 

2 thoughts on “Ketika Ruang Tinggal Dipertanyakan

  1. Berangkat dari ….derita. Saya kira menarik bahwa kata “derita” muncul. Saya ingat Goenawan Muhamad pernah mengatakan pentingnya kita memahami derita orang lain (the other), dan saya ingin menafsirkannya sebagai “orang banyak atau kebanyakan” juga, untuk dapat berpikir melampaui diri sendiri, dan mengabdikan diri untuk kepentingan orang banyak. Ini syarat etik para profesional, apalagi para pemimpin. Jadi ingat Ali Sadikin yang, sebagaimana tertulis di batu prasasti di Salihara, “tak henti mengabdi kepada repubik”…dan republik mensyaratkan adanya publik yang sejati. Gubernur sekarang bagaimana ya? semoga tidak asyik dengan diri sendiri. Maukah dia, dan kita, menganggap kesempatan memahami derita orang lain/banyak sebagai karunia dan motivasi yang sangat kuat? Selama workshop kita kenal orang-orang yang memahami derita, misalnya Romo Sandyawan. Saya kira juga demikian halnya dengan Romo Mangunwijaya, atau Wardah Hafidz sebagai contoh lain, atau lagi Munir…Dan saya kira kita semua selama workshop berlangsung telah mencoba dengan sangat serius memahami derita orang banyak dan lain itu…Bukankah ini sungguh energi luar biasa untuk kita mampu berpikir utopia, seperti nampak pada arsitektur black-out yang paham orang buta, dan lain-lain? Juga Yusing dan impiannya? Mulai dari pemahaman akan derita juga mendisiplinkan diri kita untuk tidak berfantasi yang tidak-tidak, yang dapat membelokkan pikiran dari utopia ke arah fantasi konsumptif dan fetishistik. Selamat kepada semua peserta yang telah mendapat berkah memahami derita….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *