Archive for 2009


28 Aug 2009

Cinta di Ruang Publik

Cinta di Ruang Publik

Wedding at Taman Fatahilah, Jakarta Kota. (August 17, 2009@Marco Kusumawijaya)

 

 

Oleh Laksmi Prasvita. Kekerasan dibalik wajah agama semakin marak dihadirkan di ruang publik Jakarta. Bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, tembak menembak melawan teroris di Temanggung yang dihadirkan melalui televisi kepada publik Jakarta, pernyataan Abu Bakar Ba’asyir di media masa yang terbit di Jakarta tentang pemaklumannya atas bom di Marriot dan Ritz Carlton sebagai akibat negara yang tidak mau mengadopsi Syariah Islam, Buku 34 Kiat Mendukung Mujahidin di terbitkan di jual di toko buku dengan jaringan terluas: Gramedia, dan banyak lagi yang lain.  

Ruang publik yang seharusnya dijaga netral, demi kehidupan warga Jakarta aman dan damai, terus mengalami ancaman radikalisme.

Tepat pada malam ulang tahun Republik Indonesia ke 64, sebuah stasiun TV swasta menayangkan hiburan musik dimana seorang penyanyi kondang dengan jutaan penggemar menitipkan pesan kepada para penggemarnya: “Jalankan perintah agama, taati hukum, hidup adalah perjuangan”

Selintas mendengar, mungkin pesan tersebut wajar adanya. Namun setelah didera oleh teror bom dan penumpasan teroris, wajar pula bila kita menjadi sensitif dengan pesan agama yang disajikan di ruang publik apalagi jika pesan jalankan perintah agama diteriakkan  dalam setarikan nafas dengan perjuangan. Jihad menjadi sebuah momok bagi mereka yang menginginkan kedamaian.

Saya cenderung untuk melarang pesan agama di ruang publik, kecuali pesan itu mengenai cinta. Namun demikian larangan akan mengkhianati semangat demokrasi.

Indonesia telah mengadopsi konsep demokrasi dengan segala konsekuensinya. Kebebasan berekspresi dan berpendapat harus dijamin. Dalam iklim demokrasi, kita menjadi rikuh ketika harus melarang. Akibatnya kita rikuh untuk melarang Ba’asyir memaklumi pengeboman, rikuh membredel buku mengenai gerakan radikal, rikuh melarang peredaran buku melalui toko buku ternama. Toh, jika dilarang dengan suatu mekanisme, mereka akan menemukan jalannya sendiri. Bisa melalui media baru, seperti blog, twitter, facebook, yang tidak bisa dibendung. Kini Indonesia sudah memasuki tahap jargon: “Dilarang Melarang” sebab larangan juga tidak akan efektif.

Lalu apakah demi menjaga ruh demokrasi kita harus membiarkan pesan agama yang penuh kebencian dan kekerasan terus menerus melanda ruang publik?

Tentu saja tidak.

Caranya?

Dengan memperbesar proporsi cinta  di ruang publik.

Kita biarkan ustad dengan kotbah radikalnya, namun kita harus memperbesar jumlah barisan orang yang menolak untuk mendengarkannya. Sehingga dia akan berbicara kepada relatif sedikit orang saja dan lama-lama dia akan berbicara di ruang kosong.

Kita biarkan buku radikal diterbitkan, namun kita harus memperbesar barisan orang yang mentertawakan isi buku tersebut dan juga meningkatkan penerbitan buku dan tulisan mengenai cinta dan perdamaian dan hal-hal positif yang berguna bagi kehidupan.

Alih alih penyanyi kondang diatas meneriakkan pesan agama dan perjuangan, ia kita himbau untuk  meneriakkan: “Jalankan perintah agama, hormati perbedaan, hidup adalah perjuangan untuk saling mencintai sesama”

Dengan memperbesar pesan cinta di ruang publik, maka proporsi pesan kekerasan menjadi relatif lebih kecil dibanding pesan cinta.

Namun demikian kita membuat ruang publik menjadi tidak netral, yaitu condong atau didominasi oleh cinta. Tidak apa. Siapa sih yang tidak mau cinta? Semua orang senang cinta, semua orang butuh cinta bukan?

3 Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


28 Aug 2009

KOTA DAN ALAM

Oleh:  Karlina Supelli

Disampaikan di Goethe Haus, sebagai bagian dari Rangkaian Studium Generale, kerjasama Goethe-Institut Jakarta dan STF Driyarkara Jakarta,  Jakarta, 20 Agustus 2009.

Di manakah tempatku? Di dalam kosmoskah? Ironisnya, untuk menjawab pertanyaan itu, manusia melepaskan diri dari alam sehingga ia tidak bisa lagi mengatakan, ‘Aku adalah bagian dari dunia dan dikelilingi olehnya’ (Max Scheler, 1928: 88-89).

 

Pada awal tahun 2007, 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mulai beberapa puluh sentimeter sampai 5 meter di beberapa lokasi. Korban meninggal, termasuk di Bekasi dan Tanggerang, mencapai 80 orang. Sekitar 82.150 meter-persegi jalan di DKI Jakarta rusak, serta lebih dari 1.500 rumah hanyut dan rusak akibat banjir mengakibatkan lebih dari 250.000 orang mengungsi (WHO, 2007). Gubernur DKI Jakarta yang menjabat waktu itu menegaskan bahwa sebagai fenomena alam, banjir akan surut dengan sendirinya (BBC, 2007). (more…)

4 Comments »

| Agent of Change: none |


27 Aug 2009

Tik Tok Tik Tok: Menunda Berakibat Bencana

Kampanye Bersama Greepeace-Oxfam-WWF:
Agar pembuat kebijakan dunia, terutama Indonesia, mampu mengambil langkah strategis dan cepat untuk mengatasi perubahan iklim di Kopenhagen, Desember 2009 nanti.
 
Sabtu, 29 Agustus 09, jam 15.00 – 18.00 di Bundaran HI.
 
Anda bisa partisipasi di momen besar ini!

1 Comment »

| Agent of Change: none |


16 Aug 2009

Apartment@central vs House@suburb?

There are still much stereotypes arising with living in an apartment. For many of my friends, the notion of living in an apartment is far from compelling. When asked why, there are a few reasons. Here, I’d like to rebuff those stereotypes based on my experience living in an apartment. (more…)

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: none |


16 Aug 2009

Practical Decisions Facing Urban Planners

by Alain Bertaud

1 Comment »

Topics: | Agent of Change: none |


16 Aug 2009

Density in Urban development

By Claudio Acioly Jr. and Forbes Davidson

1 Comment »

| Agent of Change: none |


16 Aug 2009

Tata Ruang untuk Awam

TataRuang101 Apakah “tata ruang” – terutama bagi kita yang tidak berprofesi di bidang arsitektur dan perkotaan?  Mungkin tata ruang terdengar asing bagi seorang ibu rumah tangga, dokter gigi, pengacara atau pedagang kaki lima. Tata ruang seolah bukan bagian dari kehidupan, dan hanya urusan segelintir spesialis. Apakah benar demikian?

Tanpa sadar maupun tidak sadar, hampir seluruh aspek hidup perkotaan diatur oleh tata ruang. Ketika berjalan di trotoar Jalan Kemang, pernahkah anda bertanya-tanya, mengapa ukurannya 1 meter, dan bukannya 3 meter supaya anda lebih nyaman berpindah kafe satu ke kafe lain? Atau ketika misalnya tiba-tiba ada pom bensin baru muncul mendadak, apakah anda sadar kalau sebetulnya pom bensin itu menempati area yang sebetulnya untuk ruang hijau? Atau ketika tiba-tiba di bulan Februari tahun depan, banjir kembali melanda Kelapa Gading – pernahkah anda bertanya, mengapa demikian? Jika masuk kedalam lingkungan rumah, pernahkan anda bertanya-tanya mengapa tiba-tiba disamping rumah bisa ada mini market menempel dengan batas jalan ? Bolehkah itu semua dilakukan.

Dan saat tersadar, ternyata semuanya itu berhubungan dengan Tata Ruang. Dan akhirnya pun Tata Ruang tidak menjadi eksklusif milik arsitek, pemerintah, maupun calon investor superblok terbaru, tetapi tata ruang juga mempengaruhi kehidupan seluruh warga kota. Tata ruang pun tidak berhenti hanya diperlukan saat ingin membangun rumah, tapi lebih dari itu, seperti: mengatur ketinggian bangunan, kepadatan, rasio ruang hijau, hingga peruntukan bangunan dan tipe trotoar.

Tata ruang sedikit banyak mengantarkan Jakarta ke arah tertentu. Jika ingin memadatkan Jakarta demi mendapatkan ruang terbuka hijau lebih banyak, maka simbol-simbol dan angka-angka dalam tata ruang dapat diatur sedemikian rupa, demi tercapainya tujuan itu. Atau jika ingin seluruh Jakarta menjadi ala Menteng dan Kebayoran, maka angka-angka dan aturan-aturan itu bisa dirubah. Walaupun memang dalam prakteknya tidak segampang membalikkan telapak tangan.

Lalu apa saja yang setidaknya perlu diketahui?

Sebenarnya sangat mudah dan praktis serta dekat dengan keseharian. Sebuah rumah selayaknya memiliki ruang terbuka, baik untuk ketersediaan air tanah dan sinar matahari cukup – dengan begitu rumah akan menjadi sehat. Dan itu ternyata diatur oleh apa yang disebut Koefisien Dasar Bangunan atau KDB, yang pengetian resminya adalah: angka persentase perbandingan luas lantai dasar dengan luas lahan. Jadi jika memiliki lahan sebesar 1000 m² dengan KDB sebesar 60%, maka luas lantai dasar yang boleh dibangun adalah 600m², dan sisa 400 m² menjadi ruang terbuka. Dan dalam prakteknya sebaiknya ruang terbuka itu tidak didominasi oleh perkerasan, supaya cita-cita luhur diatas tercapai. Tak hanya disitu, KDB pun dibantu oleh apa yang disebut Garis Sempadan Bangunan (GSB), yang intinya garis batas yang ditarik dari batas terluar kapling, yang memisahkan antara bagian yang boleh dibangun dan tidak dibangun. Jika memiliki GSB sebesar 3 meter, maka daerah yang tak terbangun pun adalah 3 meter dari batas terluar kapling.

Yang tak kalah penting adalah ketinggian bangunan, yang turut diatur dalam Tata Ruang. Jadi jika tetangga tiba-tiba merenovasi rumah menjadi 4 lantai, sementara menurut Tata Ruang hanya diperbolehkan 2 lantai, maka tetangga tersebut telah melanggar, dan jika anda peduli maka anda berhak melapor kepada Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan yang berada di Kecamatan. Sinar matahari dan aliran udara merupakan suatu yang berharga, karenanya ketinggian bangunan menjadi faktor penting.

Selain itu, keserasian dan keselarasan bangunan dalam mendapatkan akses terhadap sinar matahari, diatur pula oleh apa yang disebut Koefisien Lantai Bangunan (KLB): atau adalah total keseluruhan luas lantai yang boleh dibangun. KLB juga berfungsi mengontrol kepadatan, dan iapun sensitif terhadap sumber daya, misalnya air. Jadi misalnya di daerah Selatan Jakarta yang merupakan daerah resapan air, maka ketentuan KLB dan KDB akan lebih rendah dibandingkan daerah Jakarta Pusat yang menjadi pusat kegiatan.

Mengetahui dasar tata ruang adalah penting. Pengetahuan itu menyebabkan terhindarnya kejadian-kejadian penyegelan, seperti yang menimpa beberapa rumah di kawasan Pondok Indah, pembongkaran sekolah 5 lantai di Meruya, atau menghindari tragedi Kemang di kawasan perumahan lain. Seandainya baik pemilik properti maupun warga sekitar menyadari akan pentingnya tata ruang, maka hal-hal diatas dapat dihindari.

Dan sebetulnya informasi dasar tata ruang bisa dilihat secara online di website Dinas Tata Ruang Jakarta, yaitu di http://tatakota-jakartaku.net/. Tak hanya itu, disitu dapat juga dilihat perencanaan perkembangan kota Jakarta: seperti visi untuk Senen, Kemayoran hingga Kampung Bandan.

Jika tinggal dalam wilayah administratif Propinsi DKI Jakarta, maka dapat pula melihat KDB, KLB, Ketinggian Bangunan, Peruntukan, hingga Garis Sempadan di hampir seluruh daerah DKI Jakarta. Kumpulan informasi berupa peta itu disebut sebagai Lembaran Rencana Kota. Hanya sayangnya, Lembaran Rencana Kota tersebut tidak disertai penjelasan, dan peta itu penuh dengan istilah dan singkatan ajaib, seperti: Wsd, Kkt, Wtm, serta angka-angka. Dan mungkin ini bisa menjadi masukan bagi Dinas Tata Ruang untuk lebih memasyarakatkan situsnya dalam bahasa yang membumi.

Rujak mencoba merangkum beberapa informasi dan penjelasan dasar mengenai Tata Ruang dan sehubungan dengan situs Dinas Tata Ruang diatas. Sila pelajari slide terlampir untuk penjelasan lebih lanjut.
TataRuang 101

3 Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


16 Aug 2009

Density: Myth and Reality


Photo by Erik Prasetya

Photo by Erik Prasetya

Is Jakarta really dense? Or just not efficient? By density we should really mean to include the people, not just the square meters of built floor; and meanings, not just empty spaces; and also multiplicity of uses and relationships, not just mono-functionality dictated by short-term real-estate “efficiency”.  By density we should mean not only the volumetric density, but programatic density, which is the real, historical essense of urbanity.

In that context, we find it reasonable to doubt if highrise buildings solve the density problem. See Feature by Andrea Fitrianto and Guest Column by Meutia Chaerani http://rujak.org/2009/08/apartmentcentral-vs-housesuburb/

Comparison of Urban Densities

Instead of imagining Jakarta consisting of towers –highrise and high cost in both construction and operation periods, hence environmentally not friendly—can we really not imagine different forms, such as medium (4 to six or even 8 stories) high all over Jakarta?

The fact is that most of the expanse of the metropolis is low-rise medium density.  The propaganda on the metropolis’ density is also false in that most of the “high density” zones are high density only in volumetric sense, without programatic density or complexity.

Often also, as in the case of gentrification, or “super-gentrification” such as the taking over of already up-scale houses in Menteng by the nouveau-riche, square meter densification does not at all accommodate more people, but on the contrary often accommodates even less people, resulting in less people in larger built floor area. Often also, with more cars.

Therefore, higher density of square meters does not necesasarily mean higher density of inhabitants on the same area. The same case is true with Kemang area, where now there are more larger houses and yards with less people or families, with more cars, than 20 years ago. The same is also true with the so-called Sudirman Central Business District (SCBD) that about 15 years ago displaced thousands of families living there.

Density of contestation takes place not only in the “major” spaces, but also in “marginal” spaces such as along railroads and under fly-overs. See http://www.thejakartapost.com/news/2009/05/29/take-paradise-put-a-parking-lot.html; http://www.thejakartapost.com/news/2009/02/14/old-immigration-office-—-private-partnership-distortion.html; http://www.thejakartapost.com/news/2009/03/21/the-plight-and-plea-menteng.html. See also pictures of Jakarta Biennale 2009 intervention in marginal spaces.

Elisa Sutanudjaja compiles basic information that shows how “density” issues are institutionalised in urban planning practice in Jakarta. And, no less important: how it relates to our daily life. See her Tips: Tata-Ruang untuk Awam.

For other resources, see in Rujak/Resources: http://rujak.org/2009/08/density-in-urban-development/ and http://rujak.org/2009/08/practical-decisions-facing-urban-planners/

1 Comment »

| Agent of Change: none |


16 Aug 2009

Hunian 4 Lantai Lebih Berkelanjutan

Erik_Catur_Low

A sustained social space under a fly-over, next to a railroad, initially facilitated by Jakarta Biennale 2009 (Photo by Erik Prasetya,2009)

Orang bilang Jakarta bukan ‘kota’ tetapi kampung besar karena di Jakarta rumah-rumah berdiri di lahan masing-masing sebagian besar dengan halaman sendiri sebagaimana rumah pedesaan. Ciri-ciri hunian kota yang multi-keluarga, yang efisien dalam penggunaan lahan, tidak umum di Jakarta, begitu juga layanan dasar kota seperti jalur pejalan kaki dan taman kota, sulit ditemui.

Memang, Jakarta pada awalnya adalah kota-kota yang beraglomerasi. Batavia dengan Meester Cornelis, belakangan dengan kampung-kampung seperti Kemang dan Condet. Diantaranya dibangun hunian modern berkonsep garden city, berkepadatan rendah, satu-dua lantai, seperti di Menteng, Kebayoran Baru, Pondok Indah, Pulomas, dan lain-lain.

Padahal kepadatan (density) adalah kata kunci bagi kota. Asumsi umum mengatakan semakin padat maka semakin efisien, ini terkait mahalnya lahan dan pengadaaan layanan kota—air bersih, saluran pembuangan, jaringan listrik, dan lain-lain. Tetapi, kota adalah wujud eksistensi sosial-budaya manusia, bentuknya tidak cukup ditentukan skala ekonomi lahan dan jaringan infrastruktur.

(more…)

3 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


15 Aug 2009

Polusi Suara Berdampak Serius pada Seluruh Diri

IMG_1065

Slamet Abdul Syukur mengingatkan bahaya polusi suara

Polusi suara berdampak pada banyak fungsi tubuh manusia, karena indera pendengaran  adalah sensor pemberi masukan kepada otak untuk mengatur banyak fungsi lainnya, termasuk emosi, keseimbangan, dan bahkan kecerdasan. Selain itu, kebiasaan mendengarkan suara yang melebihi ambang batas juga menumpulkan kemampuan indera pendengaran untuk dapat menangkap suara-suara yang lebih halus dan indah. 

Sekitar 20 orang, antara lain Dr. Damayanti, Ketua Komisi Nasional Penanggulangan Gangguan Kesehatan Pendengaran, musisi Ivan Slank, dokter spesialis THT, ahli burung Ady Kristanto (penulis buku Alam Jakarta), penggiat Peta Hijau Bayu Wardhana, pemrajarsa TEDxJakarta Karina Sigar, direktur Ruang Rupa dan anggota Komite Senirupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Ade Dharmawan, dan pendiri Institut Grafi Sosial Arif Aditya, pada Rabu tanggal 12 Agustus 2009 di DKJ mendengarkan dan membahasa paparan dan himbauan komposer senior Slamet Abdul Syukur.

Menurut Slamet Abdul Syukur, anggota Akademi Jakarta, sudah waktunya kita mulai menyadarkan masyarakat akan bahaya polusi suara yang mulai meningkat bahayanya terhadap kesehatan kita semua, justru karena hal ini belum sepopuler seperti polusi udara dan lain-lain pengganggu kualitas hidup kita.

Ada rencana menyelenggarakan kegiatan bersama di bulan November 2009 sebagai bagian dari proses perubahan menuju penanggulangan kebisingan yang berkelanjutan

Akademi Jakarta dan DKJ mengajak publik, baik organisasi mauun perorangan, untuk bersama-sama melakukan sesuatu.

Gagasan dan keinginan terlibat dapat disampaikan kepada info@rujak.org atau info@dkj.or.id.

Lihat juga paparan Dr.Ronny Suwento, ahli THT dari RS Cipto Mangunkusumo, yang juga hadir pada pertemuan tersebut: http://www.scribd.com/doc/18627438/Music-Induced-Tim-120809

4 Comments »

Topics: | Agent of Change: none |