Sumber: @Rajasidi

Munich, penduduk 1.353.186 jiwa.

Nurnberg, 505.664 jiwa.

Hamburg, 1.799.144 jiwa.

Cologne, 1.007.119 jiwa

Berlin, 3.499.879 jiwa.

Paris, 2.234.105 jiwa
| Agent of Change:
none
This entry was posted
on Sunday, June 24th, 2012 at 6:43 am and is filed under Resources, Tips.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.
Saya pikir, antara ide dan wujudnya., sebenarnya wujud fisik jaringan kereta api pada keragaman ketinggian tanah adalah sebagai akibat, bukan sebab.
Perbedaan letak infrastruktur tersebut merupakan konsekuensi dari jaringan yang dipetakan terhadap kondisi geografis kawasan.
Bilamana terjadi satu alur jaringan kereta terpadu (yang dapat berada diatas maupun dibawah tanah) merupakan penyesuaian pada terciptanya sistem yang berkesinambungan.
Merujuk pada sebagian letak jaringan dan stasiun MRT di Singapura, yang mana dalam satu perjalanan keretanya dapat berada diantara variasi letak ketinggian tanahnya., hal itu adalah maksud diatas, yaitu sebagai konsekuensi dari penyesuaiannya terhadap perbedaan kontur dalam kawasan.
Yang saya perhatikan, menimbang kondisi geografis kota Jakarta (yang mayoritas datar, tidak berbukit-lembah), dan lalu menjadi pertanyaan, mengapa harus mempunyai ‘monorel’ (atas tanah) dan ‘MRT’ (bawah tanah)?
Apakah pengadaannya ditentukan dari keinginan untuk mewujud fisikkan kesemuanya terlebih dahulu, lalu keutuhan ide akan kebutuhannya tinggal menyesuaikan?
Saya jadi bertanya-tanya..