Editorial, Guest Column

URBAN PLAY

by Elisa Sutanudjaja, 02.08.2012

Ahmett Salina menawarkan kesempatan untuk melihat kota dari sisi lain. Segar, menyindir, dan membuat termenung.

“Hidup jangan terlalu serius karena tak seorangpun bisa melewatinya hidup-hidup.”

(Urban Play-When Designers Play In Their City)

Irwan Ahmett dan Tita Salina percaya bahwa manusia terlahir untuk bermain, dimulai dari zaman bermain di bawah terang purnama hingga era tablet digital, permainan selalu dijadikan alasan untuk lari dari rutinitas, kompetisi, membunuh waktu luang hingga memberikan sebuah sensasi kesenangan. Ada sejuta alasan bahwa permainan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kodrat manusia, selain dapat memberikan stimulasi positif bagi otak, bermain merupakan sebuah bahasa universal yang dimiliki oleh semua makhluk yang berotak. Kita bisa lihat sampai detik ini video game berkembang menjadi industri raksasa dengan berbagai inovasi teknologinya. Bahkan permainan manual kubus warna-warni Rubik’s yang meledak di tahun 80-an kini kembali menjadi candu generasi digital. Mau yang lebih seru? Mari kita lihat apa yang akan terjadi pada pertengahan tahun 2010, milyaran mata dari seluruh penjuru planet bumi akan tertuju pada sebuah benda berdiameter 35 cm seberat 400gr. Sebuah maha drama permainan sepak bola dunia akan berlangsung di Afrika. Why so serious? Menjadi sebuah kata sakti sang Joker untuk memainkan karakter psikopatnya seakan tidak hanya membuat jengkel sang Batman namun mentertawakan manusia yang sangat serius menyikapi hidupnya.

Irwan Ahmett dan Tita Salina sepakat bahwa bermain bisa membawa mereka ke dalam dimensi kreativitas yang menyenangkan, terbebas dari kungkungan mekanisme keseharian yang membuat cara dan pola berfikir menjadi satu arah saja. Permainan yang mengasyikkan membutuhkan alat dan media, untuk itu Ahmett dan Salina memilih kota Jakarta sebagai bagian dari permainannya. Bisa dibayangkan apabila Jakarta dijadikan sebagai wahana permainan raksasa bagi warganya, karena Jakarta bukan hanya milik penguasa yang ‘memainkan’ hukum dan rakyat saja, namun hakikatnya sebuah kota berhak menjadi milik setiap individu di dalamnya untuk memberi makna terhadap ruang kotanya. Ahmett dan Salina memutuskan untuk mengeksplorasi kembali ruang publik di sudut-sudut kota Jakarta yang semakin hari kian teraniaya oleh warganya! Mereka akan berinteraksi melalui mentalitas komunikasi visual dengan semangat improvisasi yang akan menggiring keduanya merasakan sensitivitas baru; melihat sisi menyenangkan dari kota Jakarta yang menyedihkan.

Nantikan rangkaian UrbanPlay di resources Rujak.

Play 1: Color Blindness Test

 

 

 


| Agent of Change: none

Leave a Reply