Previous Next

Distopia di Tempat Salah

21/11/2012 By Elisa Sutanudjaja

MVRDV,TheJerdePartnershipdanArup,ketiganyaadalahnamainternasionaluntukbidangarsitektur,lansekapdanrekayasa.KetiganyaakanbersatudalammegaproyekarsitekturyangdikhayalkanakanberadadiJalanPalatehan4,JakartaSelatan.

Pertamakalimelihatbangunanini,sepertinyacukupbagus.TetapiapakahcukupbagusuntukJakarta?Menurutsayatidak.

Bangunansepertiterlepasdarikenyataan.PerspektifdiatastidakmemperlihatkankondisisekitarJalanPalatehan,Trunujoyodansekitarnya,yangsudahmemilikibanyakbangunansepertiKepolisian,kompleksKementerianPekerjaanUmum,danlain-lain.

BangunantersebutakanberdiridiKebayoranBaru.Inimenjadisebuahbebanyangtaktertanggungkansecaravisual,arsitekturaldantatakotabagiKebayoranBarukhususnyadanJakartaumumnya.Sebuahunbearablelightness.BangunanyangnantinyadisebutPeruri88akanmenghancurkankompleksPeruriyangsaatiniadalahbangunanpemugarandenganGolonganD.MaksuddariGolonganDtersebutadalahbangunantersebutbisadibangunulangdenganmempertahankansemangatdankarakterlingkungansekitar.Lalu,apakahbangunandiatasmemilikisemangatKebayoranBaru?KawasanKebayoranBarumemilikisejarahpanjangtakterpisahkandengansejarahmoderentatakotaJakarta.KebayoranBaruadalahkaryaperencanaankotapertamaolehorangIndonesia,yaituM.Susilo(ayahandadariSuhartonoSusilo,salahsatupendiriIkatanArsitekIndonesia).Untuksuatudesaindikawasanpemugaran,seharusnyamerekamemperlihatkanrelasibangunantersebutdengankonteksbangunansekitarnya.Mungkintigafirmaternamatersebuttidakmemilikicukupdatadaninformasi,tetapijikabenardemikianbukankahhalinimemalukanuntukfirmasekelasmereka?Ataujangan-jangankonteksdannilaisejarahKebayoranBarutidakdianggappentingolehtigafirmatersebut.

Peruri88nantinyaakansetinggi400meter,terdiriatasretail,kantor,hotelmewah,sebuahtempatpernikahan,mesjid,teaterimaxdanamphitheater.Danhanya4lantaiparkir.Entah,berapatingkatkepadatanyangdiharapkanakanadadibangunantersebut.Apakahkondisitersebutdiperhitungkanolehpihakperencana.Berapabanyakairyangdibutuhkan,dimanakotainimasihbelumbisamenyelesaikanmasalahairbersih.

MarilihatketentuandanrencanaJakarta.PeruntukanPeruri88padarencanadetil2005dandraftrencana2030adalahkawasanpemerintahannasionaldanasing.Peruntukanyangsamauntukbangunan-bangunankementrian.DantentunyaitubukanuntukTeaterIMAX.Tanahinisekarangmilikpemerintah,yangseharusnyadigunakansebaik-baiknyauntukkepentinganpublik,malahdirencanakanuntukkepentingankomersial.

Berdasarkanketentuankotasekarang,kompleksPeruridiarahkanuntukmenjadibangunan4lantaidengansatutitikdiUtarabisasetinggi16.

Mungkinnilaiestetikadapatdiperdebatkan,tetapiinimerupakanpelanggaranyangfundamentalterhadapnilai-nilaiyangtelahdisepakatisebelumnya:nilaitataruangdanpemugaranyangsebagaimanasudahditetapkandalamberbagaiaturantermasukRencanaDetilTataRuang(RDTR)KecamatanKebayoranBaru.Apakahdiaberhakmenjadipresedenlaindarirentetanpelanggarantataruangyangkerapsekaliterjadi?

 

 

 

15 thoughts on “Distopia di Tempat Salah

  1. Ulasan yang kritis dan bagus. Terimakasih. Sebaiknya ditulis dalam Bahasa Inggris juga agar para perancang tersebut tahu.

  2. konteks kebayoran ini yang yang perlu dimasyarakatkan, juga tegaknya peraturan kota. Baiknya tulisan ini bisa disadur ke bahasa inggris untuk kemudian dipublikasikan juga. Terima kasih atas kekritisannya 🙂

  3. Berhala arsitektur. Sebuah menara congkak yg disembah karena tidak ada iman dan keyakinan atas budaya, langgam, ikatan sejarah, dedikasi, dan keberanian memahami jati diri sendiri. Altar sembah kepada tuhan yg lain malah dipakai, daripada jatuh bangun memahami keyakinan atas arsitektur diri.

  4. Apa tidak bisa ditelusuri dan ditinjau lagi izin yang tidak sesuai dgn RDTR ini? Kapan kota ini akan BERHENTI menjadi komersial?

  5. Selain ketidakpekaan 3 konsultan global tsb hrs juga dicermati diskonektifitas informasi dari owner dalam paparan sejarah inisiasi dan keberadaan kawasan Kebayoran Baru. Jika memang benar terjadi ‘kesengajaan’ dlm diskonektifitas atau ‘penutupan’ imformasi ini maka desain harus ditinjau ulang tdk peduli dgn uang yg sdh dikeluarkan – dan jikapun jadi proyek ini dibangun maka bisa jadi ini akan mjd project terburuk sekaligus yg tidak memiliki konteks dgn lingkungan. Memalukannya mereka ketiga konsultan global tadi 🙁

  6. kritik yang menarik dan menyadarkan kita untuk melihat fundamental peraturan kota yang bukan hanya berdebat estetika semata.

  7. Although “pretty in its drawings” (and looks mighty comphrehensive), i see no local character or DNA or sense of hiostory, being expressed here (other than a creation of a mechanized closed society in an isolated island of ivory tower cocoon which creates a heavy pressure to its surrounding, to perimeter ‘ecological footprint’; let alone the traffic gridlock that it will cause. There is no relation to the supposed ‘genius-loci’ of the “place and space”; to a balanced societal weigh for playing, work, recreation, health, education, spirituality, aquatic architecture; and the ‘down-to-earth-ness’ of the scheme. Not even close to the mechanistic influence, and inspirations derived from the philosophy of Corbusier’s Unite d’habitation or its modern interpretation and developments today.

  8. Pertama lihat project ini pas iseng2 klik newsletter dezeen di inbox email beberapa hari lalu. Tagnya serem “Is Jakarta the new Dubai?”.

    Membaca artikel ini, jawabannya makin jelas Jakarta bukan Dubai. Terlalu banyak masalah terkait daya dukung infrastruktur lingkungan sekitar dan daya dukung kota Jakarta secara keseluruhan yang harus dibenahi dulu sebelum Jakarta bisa dijadikan bahan eksperimen seperti Dubai. Dubai saja yang secara daya dukung sudah dipersiapkan dengan lebih baik dari Jakarta menemui banyak masalah di kemudian hari. Alih-alih menyelesaikan masalah, jangan sampai proyek ini malah menambah masalah. Itu baru bicara masalah daya dukung teknis, belum bioara masalah langgam, culture, estetika, dll…

    Agaknya untuk sebuah proyek raksasa seperti ini, perlu lebih banyak “ahli-ahli pribumi” yang dilibatkan, daripada sekedar tender tertutup yang hanya terbatas untuk arsitek2 internasional (baca: orang asing). Jangan sampai kita terlalu dijajah (dan repotnya lagi, malah bangga dengan hal itu)… Entahlah…

  9. My understanding of ‘building classification D’ is that it has no architectural or historical signifance and could be demolished. Correct me if I’m wrong.
    The design looks very disharmonious and very much out of place and context with Kebayoran. Interesting at first but I believe it would soon create an eye sore.

  10. Setelah Kebayoran Baru “kecolongan” di area Kemang…
    Jangan sampai kecolongan dua kali…
    Adalah sebodoh-bodohya manusia yg bisa “terjerumus dua kali.. bahkan berkali-kali”…
    Kenapa PERURI yg notabene perusahaan milik Negara (Rakyat ?)begitu antusias investasi utk bangunan “Peruri88 yg MENGERIKAN”, ketimbang turut berpartisipasi mempercepat terealisasiya Pengembangan SISTEM TRANSPORTASI ANGKUTAN MASSAL (MRT, LRT, BRT dll)..??? atau investasi untuk Pengembangan Sistem Pengendalian Banjir…????
    Begitu pentingkah Gedung 88 lantai ini dibangun… apa dampak /benefit yg bisa diberikan bagi Rakyat Jakarta..???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *