Agents for Change


11 Jul 2010

Pak Hartoyo Bikin Gas Sendiri


Teks dan Foto Oleh Yuli Kusworo.

Bebas dari tabung gas yang beresiko meledak, Pak Hartoyo bikin gas sendiri. Pemilik warung kecil di Kampung Rawamalang, Cilincing, Jakarta Utara, ini mendapat ilham dari berita televisi bahwa gas untuk kebutuhan dapur bisa didapat dari kotoran hewan ternak. Dia sudah 25 tahun menjadi peternak ulet. Pria asal Grobogan, Jawa Tengah, ini memelihara delapan sapi, sertus kambing dan seratus lima puluh bebek. Lahan yang tak begitu lebar di tepi sungai dimanfaatkan sebagai kandang ternak.

Dari kelompok tabungan perempuan kampungnya, Pak Hartoyo juga mendapat keterangan bahwa warga Kampung Papanggo juga baru mencoba memanfaatkan kotoran manusia menghasilkan gas untuk memasak. Dia pun lalu bertanya kepada Urban Poor Concortium (UPC) tentang kemungkinan membuat hal yang sama untuk keluarganya, tapi dengan memanfaatkan kotoran ternak (bebek, kambing dan sapi) yang banyak dipelihara di Kampung Rawamalang.

Sebagai pendamping Kampung Rawamalang, UPC pun langsung menanggapi ide Pak Hartoyo sebagai hal yang baik dan perlu dicoba sebagai percontohan, mengingat pada saat itu sedang dilakukan program bersama penataan kampung-kampung miskin di Jakarta Utara. Pembuatan biogas individu bersamaan dengan kegiatan penataan kampung merupakan contoh untuk memperbaiki kualitas lingkungan. Dengan memanfaatkan lahan sempit 2×4 meter persegi, reaktor biogas sederhana dibuat dengan plastik dan ditanam di dalam tanah. Reaktor biogas dan instalasinya hanya menghabiskan uang swadaya Pak Hartoyo sebesar 1,7 juta rupiah.

Sedikit harus bersusah payah–karena lokasi kandang ternak berada di seberang jalan–Pak Hartoyo setiap dua hari sekali harus memasukkan sejumlah  empat ember besar kotoran sapi ke dalam reaktor biogas. Melalui bak kontrol dari ember bekas, kotoran dimasukkan ke reaktor secara perlahan dengan cara mengaduk dan dicampur air. Ini adalah kegiatan baru Pak Hartoyo. Menyenangkan katanya, karena sore dimasukkan kotoran, pagi berikutnya api sudah bisa menyala sangat besar. Indikator keluarnya gas dilihat dari tabung plastik ukuran 1 meter yang digantung di belakang rumah. Bila plastik itu mengembung, berarti gasnya penuh.


5 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: Urban Poor Consortium |


06 Jul 2010

Ruang Bermain Anak : Teka-teki di Ruang Publik

Oleh Carmelia Soe.

Minggu, 25 Juli 2010 di Jogja National Museum, pukul 8 pagi.

Selamat datang hari Minggu. Saatnya kita bermain.

Isu tentang anak selalu menarik perhatian siapa saja. Banyak kegiatan diselenggarakan atas nama anak, dan dipersembahkan untuk anak-anak. Namun, seberapa besar keterlibatan anak sebenarnya? Seberapa besar kebutuhan anak akan hal yang ditawarkan? Respon yang sama menariknya juga diberikan ketika topik yang diangkat bertajuk ‘ruang publik’.

Ruang kota sesungguhnya adalah publik. Dasarnya, seluruh warga memiliki hak untuk memanfaatkan ruang-ruang tersebut.Ruang kota tidak hanya harus enak dilihat tapi juga memiliki hubungan batin dengan masyarakat. Dengan begitu, masyarakat yang bertemu di ruang publik diikat dalam setting yang lebih luas daripada rumah sendiri¹. Masyarakat disini tentunya harus dibaca secara lebih bijaksana; anak-anak adalah bagian dari masyarakat.

Baru-baru saja Yogyakarta menjadi tuan rumah pameran 30 tahun Refleksi Gerakan Anak di Indonesia, bertempat di area Jogja National Museum. Maka tak ada salahnya bila di tempat itu pula, kita membaca catatan anak-anak: apa kata mereka tentang ruang publik ini.

Relawan Peta Hijau Yogyakarta, dalam Jagongan Media Rakyat 2010, mengajak anak-anak dari beberapa sekolah dasar dan kampung sekitar Jogja National Museum untuk bermain teka-teki dengan metode Green Map System©. Ini adalah permainan yang sangat sederhana. Anak-anak hanya perlu menjadi dirinya sendiri dan mencatatkan apa-apa yang mereka ingin ekspresikan dalam ruang publik ini. Apa-apa yang ada bagi mereka, apa-apa yang mereka bayangkan ada, apa-apa yang menurut mereka tidak.

Ini seperti teka-teki yang harus mereka cari, di tempat-tempat yang konon adalah ruang mereka juga. Jawabannya, tentu saja, harus dari mereka juga. Keluaran dari kegiatan workshop ini adalah sebuah drawing map yang memuat informasi dari sudut pandang anak, baik yang sehari-hari menggunakan tempatan JNM, maupun yang sedang bermain di sana. Dari catatan ini pula, kita akan melihat bagaimana teka-teki ini dijawab oleh mereka, yang paling membutuhkan ruang bermain. Apakah anak-anak, pada dasarnya, adalah kelompok yang dituntut untuk kreatif dengan merespon lingkungan sebagai sumber inspirasi? Atau, pada intinya, anak-anak adalah tempelan di ruang publik?

Workshop ini akan diberikan sebagai rangkaian dari Jagongan Media Rakyat, pada hari Minggu, 25 Juli 2010 di Jogja National Museum, pukul 8 pagi.

Carmelia Soe adalah relawan Peta Hijau Yogyakarta dan seorang guru taman kanak-kanak.

4 Comments »

| Agent of Change: Peta Hijau |


01 Jun 2010

Manajemen Sampah Berbasis Komunitas di Pondok Indah

Para Penggerak Komunitas Hijau Pondok Indah (KHPI) bersama Kimberly Meyer, Direktur MAK Center for Art and Architecture, Los Angeles

Teks oleh Ricky Lestari. Foto oleh Rujak.

Usai peluncuran “Peta Hijau Pondok Indah 2010” yang dibarengi  acara Green Exhibition & Green Fair di Pondok Indah  yang diselenggarakan oleh Komunitas Hijau Pondok Indah (KHPI) pada bulan Maret 2010 lalu, kembali KHPI memulai aktivitas hijaunya yang memang mutlak menjadi agenda program, yaitu salah satunya adalah Program Pendidikan Lingkungan (bagi warga PI) yang sepakat disebut “Eco Neighborhood”. Program yang dimaksud adalah program Pemilahan sampah yang idealnya akan diterapkan ke seluruh lingkungan perumahan Pondok Indah, secara bertahap.

Karena kawasan ini sangat spesifik, unik dan perlu pola pendekatan yang berbeda dengan berbagai karakteristik yang mungkin agak sedikit berbeda  dibandingkan di beberapa kawasan lainnya.

Untuk mewujudkan program ini, KHPI mengajak Greeneration (Bandung) untuk bekerjasama membuat program yang terbaik yang bisa diterapkan di Pondok Indah. Dan didalam penerapannya KHPI akan melakukan secara langsung onsite di lapangan bersama dengan warga (PI).

Greeneration adalah kelompok social enterpreneurship yang bergerak khusus di bidang lingkungan.

Greeneration merupakan salah satu peserta yang ikut berpartisipasi dalam acara Green Exhibition dan Green Fair pada bulan Maret lalu. Kesamaan visi dalam program ini yang membuat KHPI berinisiatif  menjalin kerjasama dengan mereka.

Dalam kenyataan sehari-hari masalah sampah memang masih menjadi masalah utama, khususnya di kawasan PI dan  sangat dibutuhkan kesadaran perilaku dari para individunya.

Management sampah adalah persoalan sosial, dan merupakan bagian dari gaya hidup hijau (green lifestyle). Mengelola sampah dapat menjadi bagian dari green lifestyle.

Partisipasi dan peran serta masyarakat merupakan syarat mutlak dan sebagai langkah awal dalam mewujudkan program ini.

Pada hari ini, 25 April 2010 KHPI memulai program ini dengan mengadakan pertemuan dengan para ketua RW Pondok Indah di salah satu resto  di kawasan Pondok Indah Plaza I. Sayangnya, hanya satu Ketua RW yang hadir karena beberapa ketua lainnya berhalangan hadir. Sosialisasi tetap berjalan dengan baik, dan KHPI banyak mendapatkan masukan dari Bapak Ketua RW ( Bapak Ir. Indra Roespandji/ Ketua RW 013) yang memang menjadi  aspek-aspek permasalahan sampah yang ada di sebagian kawasan Pondok Indah.

Masih banyak dibutuhkan berbagai masukan, aspirasi dan feed back dari masyarakat  untuk dapat menentukan formula program yang terbaik yang bisa diterapkan di kawasan ini.

KHPI masih banyak memerlukan lagi masukan dari masyarakat melalui para ketua-ketua RT dan RW di Pondok Indah, dan oleh karena itu masih banyak hal yg harus dipersiapkan  dan berencana untuk bersosialisasi kembali dengan seluruh ketua RW di Pondok Indah.

Pertemuan ini sangat penting, karena  izin RW merupakan syarat mutlak bagi kelancaran program ini.

Saat ini KHPI sudah semakin berkembang dengan semakin bertambahnya anggota muda baru warga Pondok Indah yang sangat tertarik dengan program-program KHPI. Idea-idea briliant yang bersifat spontanitas sangat disambut baik KHPI dan menjadi agenda tambahan dalam mensukseskan program KHPI  lainnya, seperti program Revitalisasi Ruang-ruang terbuka Hijau  based on aspirasi warga, membuat bike lane, pedestrian walk, mendorong pihak management mal (Pondok Indah Mal) utk segera mewujudkan program bike parking (parkir sepeda) yang memang rencananya tahun ini akan segera direalisasikan, serta masih banyak berderet program-program hijau lainnya yang masih menunggu untuk segera diwujudkan.

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: Komunitas Hijau Pondok Indah Peta Hijau |


26 Mar 2010

Kompetisi Blog & Facebook

Akhir-akhir ini terlihat kampanye ‘green’ ada dimana-mana. Tapi, apa iya ada orang-orang yg sudah mengubah gaya hidupnya menjadi lebih ramah lingkungan? Atau jangan-jangan lebih banyak orang yang terjebak pada perilaku NATO alias No Action, Talk Only.
Jika kalian termasuk orang-orang yang sudah mulai mengubah gaya hidup sehari-harinya atau terinspirasi dari orang lain utk ikut mengubah gaya hidupnya, dan kalian punya blog atau FB, ayo jangan sungkan-sungkan utk berbagi cerita & inspirasi di dalam KumKum Blog Competition.
Tenggat waktu pengumpulan tulisan tgl 30 Maret 2010.

******************************

Kumkum Blog Competition

Sebagai rangkaian dari acara KumKum pada tanggal 17-18 April 2010, Dagdigdug.com bekerjasama dengan Komunitas GreenLifestyle, menyenggarakan sebuah kompetisi blog. Pemilik blog diminta untuk membuat tulisan mengenai :

  • Pengalaman penulis ketika mempraktekkan gaya hidup hijau; ATAU
  • Pendapat penulis ketika melihat orang lain yang mempraktekkan gaya hidup hijau

Apa sih gaya hidup hijau yang dimaksud?

Ada banyak sekali contoh gaya hidup hijau yang dapat diterapkan, namun untuk kontes kali ini akan dibatasi dalam 4 tema saja, yaitu:

  1. Upaya untuk hemat listrik (misal: menggunakan timer pada peralatan elektronik, mengganti lampu bohlam dengan lampu CFL, mengurangi jam nonton tv/main PS, ikut berpartisipasi dalam Earth Hour, dll)
  2. Menggunakan transportasi ramah lingkungan (misal: jalan kaki, naik sepeda/becak, naik angkutan umum, naik otopet, pakai skateboard, naik gerobak/rakit, dsb).
  3. Upaya mengurangi penggunaan kantong kresek (misal: barang belanjaan dimasukkan ke dalam tas yang sedang dibawa, memilih tidak jajan karena lupa bawa tas kain atau kotak makan, dll)
  4. Kegiatan mengurangi sampah kering (bisa sampah kertas, sampah air kemasan, kotak styrofoam, sampah kemasan produk, sampah kertas, dll).

Beberapa contoh praktek gaya hidup hijau bisa dilihat di: www.greenlifestyle.or.id/tips

Harapannya, tulisan-tulisan ini bisa menjadi inspirasi atau ide bagi orang lain yang membacanya, sehingga tergerak untuk ikut menerapkan hal yang sama.

Info lengkap mengenai syarat & ketentuan bisa disimak di: http://kumkum.dagdigdug.com/kompetisi-blog/

No Comments »

| Agent of Change: GreenLifeStyle |


11 Mar 2010

25 Tahun Kemudian: Prakarsa Warga di Pondok Indah

“Tidak ada perhatian dan peran pemerintah Jakarta selama ini. Pemerintah baru peduli kalau ada kepentingan, misalnya ketika mau bikin jalur khusus-bus (busway). Karena itu tidak bisa tidak kita harus mengandalkan prakarsa dan peran aktif warga untuk memelihara lingkungan Pondok Indah, termasuk memperbaiki jalan dan memelihara taman-taman.” Demikian dikatakan Mugirto, salah satu ketua RW di lingkungan Pondok Indah.

Dia mengatakan itu pada kesempatan pembukaan acara Green Exhibition yang diselenggrakan oleh Komunitas Hijau Pondok Indah. Pameran ini diselenggarakan mulai hari ini, 11 Maret, hingga 14 Maret 2010 di  lantai pertama North Skywalk, kompleks pusat perbelanjaan Pondok Indah. Puncaknya, pada tanggal 14 Maret 2010, akan diluncurkan Peta Hijau Pondok Indah yang pertama.

Tujuan Komunitas Hijau Pondok Indah lebih jauh daripada membuat Peta Hijau, yang merupakan langkah awal saja untuk mengajak masyarakat Pondok Indah menyadari potensi hijau Pondok Indah, dan tertarik untuk terlibat mencapai tujuan lebih jauh, ialah upaya transformasi lingkungan Pondok Hijau menjadi lingkungan lestari. Prakarsa yang murni dari warga ini tepat waktu, karena Pondok Indah telah berusia kurang lebih satu generasi. Dibandingkan dengan 25 tahun lampau, Pondok Indah telah berubah banyak. Struktur usia penghuni berubah. Kini ada dua pusat perbelanjaan dan bahkan dua jembatan perbelanjaan. Dan, ada jalur khusus-bus. Taman-taman tidak digunakan optimal. Memang lazim, setelah sekitar 20-25 tahun, setiap bagian kota, setiap kota, perlu ditinjau kembali dan direvitalisasi sebagai tanggapan aktif terhadap perubahan. Makanya, bahkan Jakarta secara keseluruhan kini sedang menyusun kembali tata ruangnya (Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2010-2030), yang sayangnya dilakukan secara buruk.

Keistimewaan prakarsa di Pondok Indah ini, karena itu, adalah bahwa ia muncul dari  warga itu sendiri, pada waktu yang tepat ketika memang lingkungannya sedang jatuh-tempo, memerlukan pemikiran dan upaya revitalisasi. Apakah Anda tahu ada prakarsa serupa, di mana warga berprakarsa memulai proses merevitalisasi lingkungannya?

No Comments »

| Agent of Change: Komunitas Hijau Pondok Indah Peta Hijau |


11 Mar 2010

20 Menit Sehari Bacakan Cerita untuk Masa Depan Buah Hati Anda

Teks dan Foto oleh Roosie Setiawan. Lebih dari 120 guru Sekolah Dasar yang tersebar di Jakarta, Depok, Bekasi dan Serpong dapatkan pelatihan dari Reading Bugs tentang “guru membacakan” cerita, artikel, puisi dan materi cetak lain didepan siswa. Diharapkan guru menularkan strategi membaca dan menjadi contoh bagi siswa.

Kesan positif didapat dari para guru-guru ini dan timbul harapan agar Reading Bugs dapat memberikan pelatihan read aloud ini kepada semua guru, agar kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan. Reading Bugs dengan senang hati memberikan pelatihan read aloud dengan tujuan menjadikan anak-anak Indonesia mau membaca dan bisa membaca akhirnya tumbuh menjadi anak yang gemar membaca.

2 Comments »

| Agent of Change: Reading Bugs |


02 Mar 2010

Peluncuran Peta Hijau Pondok Indah

Komunitas Hijau Pondok Indah

North Skywalk, PI Mall

11-14 Maret 2010


No Comments »

| Agent of Change: Komunitas Hijau Pondok Indah Peta Hijau Reading Bugs |


28 Feb 2010

Cintaku pada TransJakarta?

Pertanyaan ini diajukan pada diri sendiri: setelah 5 tahun TransJakarta melaju di Jakarta, berapa kalikah aku naik TransJakarta? Ternyata selama 5 tahun itu hanya 5 kali saja! Pengalaman 5 kali menaiki TransJakarta masih tampak nyata dalam pikiran yang sudah semakin pikun ini. Pertama kali di tahun 2006, dengan tujuan Museum Nasional. Lalu yang tak terlupakan adalah ketika demi ‘menerobos’ 3in1, naiklah TransJakarta, tapi apa daya, kakiku terjepit pegas pintu sepanjang 5 menit perjalanan. Sakit sekali dan agak-agak kapok, bersumpah tak mau naik TransJakarta lagi. Bis demikian penuh, luar biasa. Pernah sekali lagi, dengan tujuan Kota untuk turun di Plaza Indonesia, untuk seterusnya pindah naik taksi. Dan terakhir kali adalah ketika turut serta dalam acara peluncuran Peta Hijau Transportasi Hijau.

Hari Minggu ini, begitu menapak di lantai dasar Stasiun Gambir dan berjalan menuju tempat mangkal taksa, tapi ternyata tak ada satupun taksi favorit menanti. Akhirnya dengan iseng, melangkah ke halte TransJakarta terdekat. Pengalaman naik TransJakartaku sebelumnya hanya melibatkan satu koridor saja, yaitu koridor 1. Tak ada salahnya toh menjajal untuk pindah-pindah TransJakarta.

Mengantri masuk

Mengantri masuk

Bis pertama datang setelah 15 menit menunggu, penuh sekali. Orang-orang tak sabar berebut naik, sebelum yang turun sempat turun. Akupun memilih duduk, dan memotret isi halte. Bis kedua datang, tak kalah penuh. Sekali lagi penuh. Begitu juga bis ketiga, keempat dan kelima. Aku sudah menunggu di halte Gambir selama 30 menit tanpa hasil.

Menanti TransJakarta

Menanti TransJakarta

Lalu aku melihat merek taksi langgananku berhenti sekitar 10 meter dari Halte. Tanpa pikir panjang dan main hitung-hitungan, langsung aku keluar dan  masuk ke taksi: “Mangga Dua, pak!”

Di ulang tahun ke5 ini, TransJakarta memiliki tantangan yang demikian besar. Sementara dalam jangka waktu 1 tahun ada 2 pom bensin Shell muncul di bilangan Cikini dan Menteng Raya dengan jarak sekitar 1 kilometer, ada berapakah pusat pengisian bahan bakar gas untuk TransJakarta? Jangan-jangan tak bertambah?

Jika persentase kenaikan jumlah kendaraan pribadi tiap tahun mencapai 11%, berapa banyak armada TransJakarta yang baru? Koridor-koridor yang telah dipersiapkan pun percuma, ketika tak satupun bis TransJakarta melenggang melewati jalanan di Pluit dan Gatot Subroto.

Tantangan terbesar TransJakarta tak hanya pada manajemen, pengadaan bis, subsidi, beban keuangan, hingga perawatan dan pengadaan bis. Tapi tantangan TransJakarta adalah bagaimana mengajak golongan menengah seperti aku untuk mau dan rela meninggalkan mobilku di rumah untuk berpindah ke TransJakarta. Orang-orang yang tak keberatan untuk ‘sedikit’ bermacet-macet atau membayar lebih mahal dengan bepergian menggunakan taksi, yaitu orang-orang pekerja, dengan persentase 78.4% dari seluruh total tenaga kerja yang lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi (motor dan mobil) saat pergi bekerja.

Strategi untuk memindahkan golongan menengah yang biasanya bermobil, tak bisa dengan strategi biasa. Perlu sesuatu yang ‘seksi’ dan gebrakan budaya pop, sama halnya ketika Komunitas Bike 2 Work menggebrak dan mengangkat dunia persepedaan di Jabodetabek ke sesuatu yang hip dan menarik bagi kelompok menengah. Bagaimana TransJakarta menjadi sebuah GAYA hidup, bukannya sekadar cara hidup, itulah pertanyaan yang harus dijawab Pengelola TransJakarta.

3 Comments »

Topics: | Agent of Change: Institute for Transportation and Development Policy |


05 Feb 2010

Aksi Bersih Sampah Suaka Margasatwa Muara Angke, 7 Februari 2010

Dear Monsters,
Selamat Hari Lahan Basah Sedunia, 2 Februari 2010
“Caring for Wetlands, an Answer to Climate Change”

Dalam rangka menyambut Hari Lahan Basah Sedunia, Jakarta Green Monster kembali mengadakan acara Bersih Sampah Angke

Mari-mari gulung lengan bajumu untuk membersihkan sampah bersama
Jakarta Green Monster dan masyarakat lainnya,,,

Minggu, 7 Februari 2010
Lokasi: Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA)
pukul 08.00 – 12.00 WIB.

Apa saja yang harus dibawa??
1. Pakaian ganti
2. Botol Minuman (Panitia hanya menyediakan air minum isi ulang)
3. Sepatu/sepatu boot)
4. Makanan ringan

Untuk informasi dan pendaftaran peserta, hubungi:
Yulia Es Campur : 081314366870
Hendra ‘Kobe’ Aquan : 08157988053
Putri Ayusha : 085648177747

salam,
Putri Ayusha

Mengapa bersih sampah?

sampah-sampah yang mengalir masuk ke SMMA bisa menutupi akar mangroove
dan menyebabkan pohon2 tersebut mati,,,
SMMA merupakan rumah bagi 7 spesies mangroove, 91 spesies burung
seperti Bangau Bluwok, Kareo Padi, Pecuk Ular Asia, dsb, serta monyet
ekor panjang, dan lain sebagainya.

Kawasan ini juga menjadi tempat perlindungan bagi burung Bubut Jawa
(Centropus nigroforus) yang merupakan burung endemik Pulau Jawa. Saat
ini bubut Jawa berjumlah tidak lebih dari 10 ekor.

Jakarta yang merupakan hutan beton ternyata masih memiliki lahan basah
yang dihuni oleh berbagai jenis burung,,,tanpa lahan basah ini Jakarta
bisa lebih kebanjiran dan tenggelam air pasang

kosongkan jadwal mari-mari selamatkan lahan basah tersisa di Jakarta
dari tumpukan sampah

Bagaimana Menuju Suaka Margasatwa Muara Angke?

Menggunakan Kendaraan Umum

1. Busway
Naik busway Harmoni – Kalideres, turun di Halte Jelambar (samping
Citraland). Cari angkot berwarna merah nomer B 01 jurusan Grogol -
Angke. Turun di pintu gerbang Pantai Indah Kapuk. tepat di ujung Jl.
Muara Karang, ditandai dengan Pizza Hut dan apartemen. Jalan kaki
masuk ke Pantai Indah Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50
meter dari gerbang, di sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa
Muara Angke. Ikuti jalan setapak di seberang kompleks ruko Meditarania
Niaga, pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke sekitar 300 meter dari
jembatan.

2. Bus dari Terminal Grogol
Naik kendaraan apa saja yang berhenti di Terminal Grogol. Cari angkot
berwarna merah nomer B 01 jurusan Grogol – Angke. Turun di pintu
gerbang Pantai Indah Kapuk. tepat di ujung Jl. Muara Karang, ditandai
dengan Pizza Hut dan apartemen. Jalan kaki masuk ke Pantai Indah
Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter dari gerbang, di
sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara Angke. Ikuti jalan
setapak di seberang kompleks ruko Meditarania Niaga, pintu masuk Suaka
Margasatwa Muara Angke sekitar 300 meter dari jembatan.

3. Bus dari Terminal Blok M
Naik bus Steady Safe Non AC No 37 Jurusan BLOK M – Muara Angke,
ongkosnya cukup Rp. 2000. Bus ini umumnya gak sampai Muara Angke
(sesuai info dari keneknya), tapi cuman sampai Megamall Pluit.
Dari Megamall Pluit dilanjutkan naik angkot dua kali, nomornya 11
warna merah, dengan ongkos Rp. 2000 turun di Jl Mandara. Dari situ
naik lagi angkot warna merah yang melewati kawasan Pantai Indah Kapuk
dengan ongkos Rp. 1000 turun di depan ruko Mediterania yang langsung
berseberangan dengan pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.

Menggunakan Kendaraan Pribadi Roda Empat atau Lebih

1. Melalui Tol Dalam Kota
Ambil pintu keluar Pluit. Ikuti jalan melintasi Mega Mall Pluit. Lurus
hingga masuk Jl. Muara Karang yang ditandai dengan perempatan dengan
jembatan. Ikuti terus sampai ujung Jl. Muara Karang, ditandai dengan
Pizza Hut dan apartemen. Belok ke kiri, masuk ke Pantai Indah Kapuk,
setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter dari gerbang, di
sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara Angke. Anda bisa
parkir di kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di seberang pintu
masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.

2. Melalui Tol Bandara
Ambil pintu keluar Pantai Indah Kapuk. Masuk dalam kompleks Pantai
Indah Kapuk. Ikuti jalan yang menuju Mediterania. Anda bisa parkir di
kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di seberang pintu masuk Suaka
Margasatwa Muara Angke.

Menggunakan Motor atau Sepeda
Dari arah Grogol, masuk ke Jl. Jembatan Tiga, ikuti hingga Jl.
Jembatan Lima. Ikuti terus jalan utama sampai melewati Mega Mall
Pluit. Lurus hingga masuk Jl. Muara Karang yang ditandai dengan
perempatan dengan jembatan. Ikuti terus sampai ujung Jl. Muara Karang,
ditandai dengan Pizza Hut dan apartemen. Belok ke kiri, masuk ke
Pantai Indah Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter
dari gerbang, di sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara
Angke. Anda bisa parkir di kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di
seberang pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.

Catatan:
Warga sekitar Suaka Margasatwa Muara Angke mengenalnya dengan nama
Cagar Alam. Jadi, jika Anda hendak bertanya, tanyakan di mana lokasi
cagar alam.

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: Jakarta Green Monster |


12 Jan 2010

Tur Hijau bersama Komunitas Peta Hijau Jakarta: Mengenal Waduk dan Situ

Sabtu, 16 Januari 2010;  Pukul : 07.30 – 12.00 WIB

Bulan Januari-Februari adalah bulan waspada bagi warga Jakarta.

Sebagian besar warga tahu kalau di 2 bulan ini curah hujan akan tinggi dan Jakarta banjir. Bertahun-tahun Pemda DKI upaya mengatasi banjir, namun belum membuahkan hasil maksimal. Antara lain membangun waduk, konservasi situ/danau, membuat kanal baru (Banjir Kanal Timur).

Komunitas Peta Hijau Jakarta (PHJ) lewat kegiatan “Tur Hijau”, kali ini hendak mengajak warga Jakarta untuk mengenal fungsi-fungsi dari waduk dan situ yang ada di kota ini. Ada 2 lokasi yang akan kita kunjungi, yaitu Waduk Setiabudi dan Situ/Danau Ragunan. Kegiatan ini juga dalam rangka memperingati ulang tahun ke 6 busway hadir di kota Jakarta (15 Januari 2004). Busway atau salah satu transportasi publik (selain kereta listrik) di Jakarta ini, masih jauh dari ideal. Masih banyak harapan-harapan warga Jakarta yang belum terpenuhi. Namun lepas dari itu semua, sepatutnya kita (warga) sebagai pemangku kepentingan (stake holder) merayakan tahun keenam busway transjakarta.

Komunitas PHJ mengajak teman-teman untuk merayakan tahun ke-6 kehadiran busway , dengan menggunakan busway mengunjungi Waduk Setiabudi dan Situ Ragunan, pada:
Sabtu, 16 Januari 2010;  Pukul : 07.30 – 12.00 WIB

Rute : Waduk Setiabudi menuju Situ Ragunan dengan menggunakan busway.

Titik kumpul : pk 07.00 WIB di luar halte busway Dukuh Atas (yang bawah, dekat Landmark Building-nanti ada bendera Green Map)

Biaya : Rp 50.000/orang, sudah termasuk tiket busway pp, snack dan makan siang, tiket masuk KB Ragunan. Pendaftaran via email : petahijaujakarta@yahoo.com – Silakan kirim nama dan nomer ponsel. Pendaftaran akan ditutup bila peserta sudah mencapai kuota 30 orang atau batas waktu terakhir Jumat, 15 Januari pukul 15.00 WIB.

Peserta disarankan membawa botol minuman sendiri, untuk mengurangi sampah kemasan plastik. Info lebih lanjut :  021-68465892

Ada apa di antara Waduk Setiabudi – Situ Ragunan? Waduk Setiabudi, terbagi dalam 2 waduk, yaitu Setiabudi Timur dan Barat. Waduk ini setiap harinya menerima limbah cair dari pemukiman maupun perkantoran yang menjamur di sepanjang Rasuna Said. Sayangnya, hanya satu waduk yang memiliki alat penghancur limbah. Selain itu waduk Setiabudi berfungsi sebagai pengendali banjir, bila ketinggian air mencapai batas tertentu, maka air akan dibuang ke kanal barat. Situ Ragunan, di dalam kawasan kebun binatang ini, mempunyai beberapa situ alam maupun buatan. Situ-situ di Ragunan ini adalah tempat yang ideal untuk fungsi-fungsi resapan air tanah. Karena lokasinya relatif terawat, maka situ Ragunan ini juga berfungsi sebagai tempat rekreasi. Dari lokasi ini, kita dapat belajar bagaimana bila sebuah situ dapat memberikan manfaat lingkungan (resapan air) maupun budaya seperti tempat rekreasi dan mendatangkan usaha-usaha ekonomi.

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: Peta Hijau |