Peta Hijau


12 Aug 2010

Survei Keanekaragaman Hayati di Taman Margasatwa Ragunan :

Tulisan oleh Febri Yanti, Foto oleh Ady Kristanto

Minggu pagi jam 7.30 di depan loket utara Ragunan sebelas orang berkumpul di bawah pohon sengon laut depan kolam pelikan. Kalau dilihat sepintas burung ini seperti patung. Setelah berkenalan satu sama lain, kami dibagi menjadi dua kelompok survei: kelompok barat dan timur. Dalam tiap kelompok terdapat pemeta hijau  dan pengenal burung (birdwatcher).

Daerah jelajah kelompok barat sebenarnya lebih kecil dibandingkan kawasan timur,  bila dilihat dari peta ragunan yang dibagikan. Tak lama setelah kami berjalan, beberapa burung mulai terlihat dan bersuara. Sempat berhenti sebentar di depan kandang burung emu dan kasuari. Tapi fokus utama kami bukan dua burung besar ini. Perlahan namun pasti kami mencoba mencari dan melihat pergerakan yang ada di pohon. Ternyata ada Bajing kelapa (Callosciurus notatus) di atas pohon, sedang berlari-lari kesana kemari, mungkin sedang mencari sarapan, pikir kami.

Walaupun agak berawan tapi cukup ramai suara burung pagi ini. Apalagi suara Betet biasa (Psittacula alexandri) yang sering terdengar dari awal perjalanan dan tak hanya satu individu yang kami temukan melainkan banyak sekali. Selain itu kami juga menemukan dua ekor Jalak putih (Sturnus melanopterus) yang sedang memakan serangga kecil. Jenis ini sangat terancam punah. Ia mungkin burung yang terlepas, karena dari survei Jakarta Birdwatchers Community di kawasan ini mulai tahun 2003 hingga sekarang, tidak pernah ditemukan di Taman Margasatwa Ragunan.

Melewati kandang komodo, yang sedang berdiam diri, di salah satu pohon di kandang tersebut, terlihat burung Merbah cerucuk (Pycnonotus goiavier), dan di dekatnya terlihat bunglon yang mempunyai leher berwarna merah. Tanpa teropong pasti yang belakangan ini tidak terlihat, sebab nampak seperti batang pohon kering.  Inilah Bunglon taman (Calotes versicolor).

Sampailah kami di dekat Pusat Primata Schumutzer (PPS) di taman yang ada patung orangutan. Di samping patung tersebut terdapat jalan batu untuk “pijat refleksi” seperti yang ada di Taman Monas atau Taman Suropati. Menarik sekali untuk mencoba berjalan disana. Tak jauh dari situ terdapat pohon yang sepertinya  cocok diberi aikon “autum leaves”. Namun kami tidak tahu jenis pohon apa itu. Daunnya banyak yang berwarna kuning, dan sedang gugur. Di sini kami juga bertemu burung Kepodang kuduk hitam (Oriolus chinensis) yang dominan bulunya berwarna kuning dan menemukan lebih dari 5 jenis kupu-kupu serta capung.

Kami lalu berjalan menuju Makam kramat kampong kandang. Pada hari-hari tertentu tempat ini suka di datangi masyarakat untuk berziarah. Di tempat yang terlihat sepi ini kami juga menemukan burung-burung seperti Bentet kelabu (Lanius schach) lalu ada Cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps) dan lainnya. Tidak jauh dari situ kami menemukan tanaman pepaya yang buahnya berwarna kuning dan ada beberapa pohon jambu mawar, yang buahnya berwarna putih mendekati pink. Buah dagingnya agak keras (sepertinya belum matang) dan rasanya agak sepet.

Kami lalu bertemu danau dalam arah menuju pintu selatan, Mata kami kembali menyisir area hijau yang ada di sekitar danau. Hasil dari penyisiran tersebut tidak sia-sia. Ada 8 ekor kakaktua jambul kuning (Cacatua sulphurea) yang kami temukan. Lagi-lagi pohon flamboyan yang rupanya menjadi sarang kakaktua tersebut. Posisi pohon agak ke tengah dan dikelilingi rumput besar yang agak padat dan rimbun. Dari kejauhan bisa terlihat beberapa lubang besar. Kami menduga itu mungkin sarangnya.

Tidak jauh dari danau, ada tempat pengomposan sampah organik. Sambil berjalan dan tetap menyisir area, kami meihat di sisi dekat sungai ada biawak (Varanus salvator) yang sedang memanjat tanah. Area danau di bagian selatan Ragunan adalah salah satu tempat sepi dan jarang sekali didatangi pengunjung, dan memang tidak ada binatang yang diperagakan disini.

Di depan kantor kesehatan hewan terdengar bunyi burung Wiwik kelabu (Cacomantis merulinus). Maksud kami mau mencoba mencari burung tersebut di dekat kandang babi rusa, tetapi ternyata yang ditemukan disana adalah Gelatik jawa (Padda oryzivora), salah satu burung yang mempunyai warna indah. Namun hanya nampak satu. Ia sedang bertengger di pohon. Sama halnya dengan Jalak putih, burung ini mungkin hasil lepasan orang atau melarikan diri dan sampailah di ragunan. Semoga mereka bisa bertahan hidup.

Karena sudah ditunggu teman2 dari kelompok lain, lalu kami juga sudah lelah dan lapar, kami bergegas kembali ke kolam pelikan, Jika disimpulkan hari ini kami menemukan sekitar 33 jenis burung, 2 jenis reptilia, lebih dari 5 jenis kupu-kupu dan capung, serta beberapa mamalia seperti bajing kelapa. Senang rasanya di Jakarta masih memiliki kawasan seperti ini

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: Peta Hijau |


06 Jul 2010

Ruang Bermain Anak : Teka-teki di Ruang Publik

Oleh Carmelia Soe.

Minggu, 25 Juli 2010 di Jogja National Museum, pukul 8 pagi.

Selamat datang hari Minggu. Saatnya kita bermain.

Isu tentang anak selalu menarik perhatian siapa saja. Banyak kegiatan diselenggarakan atas nama anak, dan dipersembahkan untuk anak-anak. Namun, seberapa besar keterlibatan anak sebenarnya? Seberapa besar kebutuhan anak akan hal yang ditawarkan? Respon yang sama menariknya juga diberikan ketika topik yang diangkat bertajuk ‘ruang publik’.

Ruang kota sesungguhnya adalah publik. Dasarnya, seluruh warga memiliki hak untuk memanfaatkan ruang-ruang tersebut.Ruang kota tidak hanya harus enak dilihat tapi juga memiliki hubungan batin dengan masyarakat. Dengan begitu, masyarakat yang bertemu di ruang publik diikat dalam setting yang lebih luas daripada rumah sendiri¹. Masyarakat disini tentunya harus dibaca secara lebih bijaksana; anak-anak adalah bagian dari masyarakat.

Baru-baru saja Yogyakarta menjadi tuan rumah pameran 30 tahun Refleksi Gerakan Anak di Indonesia, bertempat di area Jogja National Museum. Maka tak ada salahnya bila di tempat itu pula, kita membaca catatan anak-anak: apa kata mereka tentang ruang publik ini.

Relawan Peta Hijau Yogyakarta, dalam Jagongan Media Rakyat 2010, mengajak anak-anak dari beberapa sekolah dasar dan kampung sekitar Jogja National Museum untuk bermain teka-teki dengan metode Green Map System©. Ini adalah permainan yang sangat sederhana. Anak-anak hanya perlu menjadi dirinya sendiri dan mencatatkan apa-apa yang mereka ingin ekspresikan dalam ruang publik ini. Apa-apa yang ada bagi mereka, apa-apa yang mereka bayangkan ada, apa-apa yang menurut mereka tidak.

Ini seperti teka-teki yang harus mereka cari, di tempat-tempat yang konon adalah ruang mereka juga. Jawabannya, tentu saja, harus dari mereka juga. Keluaran dari kegiatan workshop ini adalah sebuah drawing map yang memuat informasi dari sudut pandang anak, baik yang sehari-hari menggunakan tempatan JNM, maupun yang sedang bermain di sana. Dari catatan ini pula, kita akan melihat bagaimana teka-teki ini dijawab oleh mereka, yang paling membutuhkan ruang bermain. Apakah anak-anak, pada dasarnya, adalah kelompok yang dituntut untuk kreatif dengan merespon lingkungan sebagai sumber inspirasi? Atau, pada intinya, anak-anak adalah tempelan di ruang publik?

Workshop ini akan diberikan sebagai rangkaian dari Jagongan Media Rakyat, pada hari Minggu, 25 Juli 2010 di Jogja National Museum, pukul 8 pagi.

Carmelia Soe adalah relawan Peta Hijau Yogyakarta dan seorang guru taman kanak-kanak.

4 Comments »

| Agent of Change: Peta Hijau |


01 Jun 2010

Manajemen Sampah Berbasis Komunitas di Pondok Indah

Para Penggerak Komunitas Hijau Pondok Indah (KHPI) bersama Kimberly Meyer, Direktur MAK Center for Art and Architecture, Los Angeles

Teks oleh Ricky Lestari. Foto oleh Rujak.

Usai peluncuran “Peta Hijau Pondok Indah 2010” yang dibarengi  acara Green Exhibition & Green Fair di Pondok Indah  yang diselenggarakan oleh Komunitas Hijau Pondok Indah (KHPI) pada bulan Maret 2010 lalu, kembali KHPI memulai aktivitas hijaunya yang memang mutlak menjadi agenda program, yaitu salah satunya adalah Program Pendidikan Lingkungan (bagi warga PI) yang sepakat disebut “Eco Neighborhood”. Program yang dimaksud adalah program Pemilahan sampah yang idealnya akan diterapkan ke seluruh lingkungan perumahan Pondok Indah, secara bertahap.

Karena kawasan ini sangat spesifik, unik dan perlu pola pendekatan yang berbeda dengan berbagai karakteristik yang mungkin agak sedikit berbeda  dibandingkan di beberapa kawasan lainnya.

Untuk mewujudkan program ini, KHPI mengajak Greeneration (Bandung) untuk bekerjasama membuat program yang terbaik yang bisa diterapkan di Pondok Indah. Dan didalam penerapannya KHPI akan melakukan secara langsung onsite di lapangan bersama dengan warga (PI).

Greeneration adalah kelompok social enterpreneurship yang bergerak khusus di bidang lingkungan.

Greeneration merupakan salah satu peserta yang ikut berpartisipasi dalam acara Green Exhibition dan Green Fair pada bulan Maret lalu. Kesamaan visi dalam program ini yang membuat KHPI berinisiatif  menjalin kerjasama dengan mereka.

Dalam kenyataan sehari-hari masalah sampah memang masih menjadi masalah utama, khususnya di kawasan PI dan  sangat dibutuhkan kesadaran perilaku dari para individunya.

Management sampah adalah persoalan sosial, dan merupakan bagian dari gaya hidup hijau (green lifestyle). Mengelola sampah dapat menjadi bagian dari green lifestyle.

Partisipasi dan peran serta masyarakat merupakan syarat mutlak dan sebagai langkah awal dalam mewujudkan program ini.

Pada hari ini, 25 April 2010 KHPI memulai program ini dengan mengadakan pertemuan dengan para ketua RW Pondok Indah di salah satu resto  di kawasan Pondok Indah Plaza I. Sayangnya, hanya satu Ketua RW yang hadir karena beberapa ketua lainnya berhalangan hadir. Sosialisasi tetap berjalan dengan baik, dan KHPI banyak mendapatkan masukan dari Bapak Ketua RW ( Bapak Ir. Indra Roespandji/ Ketua RW 013) yang memang menjadi  aspek-aspek permasalahan sampah yang ada di sebagian kawasan Pondok Indah.

Masih banyak dibutuhkan berbagai masukan, aspirasi dan feed back dari masyarakat  untuk dapat menentukan formula program yang terbaik yang bisa diterapkan di kawasan ini.

KHPI masih banyak memerlukan lagi masukan dari masyarakat melalui para ketua-ketua RT dan RW di Pondok Indah, dan oleh karena itu masih banyak hal yg harus dipersiapkan  dan berencana untuk bersosialisasi kembali dengan seluruh ketua RW di Pondok Indah.

Pertemuan ini sangat penting, karena  izin RW merupakan syarat mutlak bagi kelancaran program ini.

Saat ini KHPI sudah semakin berkembang dengan semakin bertambahnya anggota muda baru warga Pondok Indah yang sangat tertarik dengan program-program KHPI. Idea-idea briliant yang bersifat spontanitas sangat disambut baik KHPI dan menjadi agenda tambahan dalam mensukseskan program KHPI  lainnya, seperti program Revitalisasi Ruang-ruang terbuka Hijau  based on aspirasi warga, membuat bike lane, pedestrian walk, mendorong pihak management mal (Pondok Indah Mal) utk segera mewujudkan program bike parking (parkir sepeda) yang memang rencananya tahun ini akan segera direalisasikan, serta masih banyak berderet program-program hijau lainnya yang masih menunggu untuk segera diwujudkan.

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: Komunitas Hijau Pondok Indah Peta Hijau |


11 Mar 2010

25 Tahun Kemudian: Prakarsa Warga di Pondok Indah

“Tidak ada perhatian dan peran pemerintah Jakarta selama ini. Pemerintah baru peduli kalau ada kepentingan, misalnya ketika mau bikin jalur khusus-bus (busway). Karena itu tidak bisa tidak kita harus mengandalkan prakarsa dan peran aktif warga untuk memelihara lingkungan Pondok Indah, termasuk memperbaiki jalan dan memelihara taman-taman.” Demikian dikatakan Mugirto, salah satu ketua RW di lingkungan Pondok Indah.

Dia mengatakan itu pada kesempatan pembukaan acara Green Exhibition yang diselenggrakan oleh Komunitas Hijau Pondok Indah. Pameran ini diselenggarakan mulai hari ini, 11 Maret, hingga 14 Maret 2010 di  lantai pertama North Skywalk, kompleks pusat perbelanjaan Pondok Indah. Puncaknya, pada tanggal 14 Maret 2010, akan diluncurkan Peta Hijau Pondok Indah yang pertama.

Tujuan Komunitas Hijau Pondok Indah lebih jauh daripada membuat Peta Hijau, yang merupakan langkah awal saja untuk mengajak masyarakat Pondok Indah menyadari potensi hijau Pondok Indah, dan tertarik untuk terlibat mencapai tujuan lebih jauh, ialah upaya transformasi lingkungan Pondok Hijau menjadi lingkungan lestari. Prakarsa yang murni dari warga ini tepat waktu, karena Pondok Indah telah berusia kurang lebih satu generasi. Dibandingkan dengan 25 tahun lampau, Pondok Indah telah berubah banyak. Struktur usia penghuni berubah. Kini ada dua pusat perbelanjaan dan bahkan dua jembatan perbelanjaan. Dan, ada jalur khusus-bus. Taman-taman tidak digunakan optimal. Memang lazim, setelah sekitar 20-25 tahun, setiap bagian kota, setiap kota, perlu ditinjau kembali dan direvitalisasi sebagai tanggapan aktif terhadap perubahan. Makanya, bahkan Jakarta secara keseluruhan kini sedang menyusun kembali tata ruangnya (Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2010-2030), yang sayangnya dilakukan secara buruk.

Keistimewaan prakarsa di Pondok Indah ini, karena itu, adalah bahwa ia muncul dari  warga itu sendiri, pada waktu yang tepat ketika memang lingkungannya sedang jatuh-tempo, memerlukan pemikiran dan upaya revitalisasi. Apakah Anda tahu ada prakarsa serupa, di mana warga berprakarsa memulai proses merevitalisasi lingkungannya?

No Comments »

| Agent of Change: Komunitas Hijau Pondok Indah Peta Hijau |


02 Mar 2010

Peluncuran Peta Hijau Pondok Indah

Komunitas Hijau Pondok Indah

North Skywalk, PI Mall

11-14 Maret 2010


No Comments »

| Agent of Change: Komunitas Hijau Pondok Indah Peta Hijau Reading Bugs |


12 Jan 2010

Tur Hijau bersama Komunitas Peta Hijau Jakarta: Mengenal Waduk dan Situ

Sabtu, 16 Januari 2010;  Pukul : 07.30 – 12.00 WIB

Bulan Januari-Februari adalah bulan waspada bagi warga Jakarta.

Sebagian besar warga tahu kalau di 2 bulan ini curah hujan akan tinggi dan Jakarta banjir. Bertahun-tahun Pemda DKI upaya mengatasi banjir, namun belum membuahkan hasil maksimal. Antara lain membangun waduk, konservasi situ/danau, membuat kanal baru (Banjir Kanal Timur).

Komunitas Peta Hijau Jakarta (PHJ) lewat kegiatan “Tur Hijau”, kali ini hendak mengajak warga Jakarta untuk mengenal fungsi-fungsi dari waduk dan situ yang ada di kota ini. Ada 2 lokasi yang akan kita kunjungi, yaitu Waduk Setiabudi dan Situ/Danau Ragunan. Kegiatan ini juga dalam rangka memperingati ulang tahun ke 6 busway hadir di kota Jakarta (15 Januari 2004). Busway atau salah satu transportasi publik (selain kereta listrik) di Jakarta ini, masih jauh dari ideal. Masih banyak harapan-harapan warga Jakarta yang belum terpenuhi. Namun lepas dari itu semua, sepatutnya kita (warga) sebagai pemangku kepentingan (stake holder) merayakan tahun keenam busway transjakarta.

Komunitas PHJ mengajak teman-teman untuk merayakan tahun ke-6 kehadiran busway , dengan menggunakan busway mengunjungi Waduk Setiabudi dan Situ Ragunan, pada:
Sabtu, 16 Januari 2010;  Pukul : 07.30 – 12.00 WIB

Rute : Waduk Setiabudi menuju Situ Ragunan dengan menggunakan busway.

Titik kumpul : pk 07.00 WIB di luar halte busway Dukuh Atas (yang bawah, dekat Landmark Building-nanti ada bendera Green Map)

Biaya : Rp 50.000/orang, sudah termasuk tiket busway pp, snack dan makan siang, tiket masuk KB Ragunan. Pendaftaran via email : petahijaujakarta@yahoo.com – Silakan kirim nama dan nomer ponsel. Pendaftaran akan ditutup bila peserta sudah mencapai kuota 30 orang atau batas waktu terakhir Jumat, 15 Januari pukul 15.00 WIB.

Peserta disarankan membawa botol minuman sendiri, untuk mengurangi sampah kemasan plastik. Info lebih lanjut :  021-68465892

Ada apa di antara Waduk Setiabudi – Situ Ragunan? Waduk Setiabudi, terbagi dalam 2 waduk, yaitu Setiabudi Timur dan Barat. Waduk ini setiap harinya menerima limbah cair dari pemukiman maupun perkantoran yang menjamur di sepanjang Rasuna Said. Sayangnya, hanya satu waduk yang memiliki alat penghancur limbah. Selain itu waduk Setiabudi berfungsi sebagai pengendali banjir, bila ketinggian air mencapai batas tertentu, maka air akan dibuang ke kanal barat. Situ Ragunan, di dalam kawasan kebun binatang ini, mempunyai beberapa situ alam maupun buatan. Situ-situ di Ragunan ini adalah tempat yang ideal untuk fungsi-fungsi resapan air tanah. Karena lokasinya relatif terawat, maka situ Ragunan ini juga berfungsi sebagai tempat rekreasi. Dari lokasi ini, kita dapat belajar bagaimana bila sebuah situ dapat memberikan manfaat lingkungan (resapan air) maupun budaya seperti tempat rekreasi dan mendatangkan usaha-usaha ekonomi.

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: Peta Hijau |


23 Dec 2009

Rujak in Jakarta Post

This article rightly situates www.rujak.org and others as citizens’ initiatives that are so important to actively engage into making Jakarta a better place, while offering progressive visions and critiques towards government.

No Comments »

| Agent of Change: Peta Hijau |


26 Oct 2009

Balada Sungai Jakarta

13 sungai dan puluhan kali melewati wilayah Jakarta dalam bermacam rupa, warna dan bau. Sungai dan kali tersebut membelah jalan, mengiringi jalan, ada di belakang rumah kita atau sepanjang kita berjalan dan bersepeda. Lalu bagaimanakah warga Jakarta berinteraksi dengan sungai-sungai itu. (more…)

6 Comments »

Topics: , | Agent of Change: Peta Hijau |


07 Oct 2009

CINTA JAKARTA dengan PETA HIJAU

Polusi, macet, sampah, banjir, dan kriminalitas  merupakan bagian dari sejuta masalah yang kerap kita temui sebagai warga Jakarta. Namun sesungguhnya, adakah hal yang bisa membuat kita bangga akan Jakarta? Adakah sesuatu yang bisa menjadi inspirasi bagi sesama warga Jakarta? Adakah pesona yang bisa membuat kita begitu mencintai kota Jakarta?

Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak cinta. Begitu kata orang bijak.

Peta Hijau membantu warga Jakarta untuk lebih mengenal seluk-beluk kehidupan kota Jakarta yang tersembunyi di balik gedung-gedung tinggi. Bukan sekedar untuk mengenali lokasi-lokasi yang hijau dan juga bukan untuk memetakan jalan-jalan dan gedung-gedung di Jakarta. Dengan Peta Hijau Jakarta, warga bisa lebih mengenal tentang isi hati Jakarta. Tentang tempat-tempat rekreasi yang unik. Tentang inisiatif-inisiatif warga yang berhasil mengubah sejuta masalah menjadi secercah harapan.

Bagi yang berani untuk jatuh cinta pada Jakarta, Komunitas Peta Hijau Jakarta mengundang warga untuk menghadiri Pameran Peta Hijau yang diadakan dalam rangka meramaikan Temu Pusaka 2009 yang diselenggarakan oleh BPPI  (Badan Pelestarian Pusaka Indonesia/ Indonesian Heritage Trust)

Jadwal Kegiatan Pameran Peta Hijau

Pembukaan Pameran

Sebagai acara pembuka, akan diadakan acara bincang-bincang mengenai temuan-temuan relawan Peta Hijau Jakarta dalam menguak pesona kota berupa presentasi photo slideshow.   Juga diundang beberapa warga Jakarta yang telah berinisiatif untuk membuat Jakarta menjadi kota yang lebih nyaman.  Diantaranya Pak Salam yang berupaya mengatasi masalah sampah kertas; Pak Santo yang konsisten mengatasi pencemaran dan melakukan penghijauan di bantaran kali, Chrisandini yang ingin membantu mencerdaskan anak dengan  menyediakan perpustakaan anak, dsb.

Acara juga dimeriahkan dengan suguhan musik anak-anak dari Sanggar Anak Roda yang terletak di kawasan terminal Pulo Gadung. Instrumen yang digunakan berupa gabungan alat musik elektrik dengan angklung dan rebana.

Sabtu, 10 Oktober 2009/ pk. 09.00 – 12.00 WIB

Newseum Cafe, Jl. Veteran I, Jakarta Pusat (dekat Es Krim Ragusa)

Pameran Peta Hijau

Pada acara ini akan dipamerkan 6 edisi Peta Hijau Jakarta serta hampir seluruh peta hijau yang pernah dibuat di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Peta Hijau Medan, Bukittinggi, Yogyakarta, Kota Gede, Borobudur, Solo, Surabaya, Malang, Makassar, Ternate, dan Buton. Selain itu juga akan dipamerkan beberapa peta hijau yang dibuat masyarakat kota-kota di luar negeri.

Perhatikan keunikan peta hijau di tiap wilayah, baik dari sisi batasan wilayah dan hal yang dipetakan, serta cara penyajian informasi agar menarik dan  mudah dimengerti oleh pengguna peta.

11 – 25 Oktober 2009

Sabtu – Minggu/ pk. 12.00 – 20.00 WIB.

Senin – Jumat/ pk. 16.00 – 20.00 WIB

Griya BPPI – Badan Pelestarian Pusaka Indonesia

Jl. Veteran I No. 27 , Jakarta Pusat (dekat Es Krim Ragusa)

Diskusi: Kaitan situ dan krisis air di Jakarta

Dalam beberapa tahun terakhir,  Jakarta selalu dilanda banjir saat musim hujan. Namun menurut data, semakin tahun air tanah di Jakarta semakin berkurang. Kejanggalan apakah yang sesungguhnya tengah terjadi? Mengapa di saat musim hujan kita kelebihan air, dan di saat musim kemarau kita justru kekurangan air? Apa yang harus dilakukan  warga Jakarta untuk mengatasi ancaman krisis air di masa depan? Lalu, adakah kaitan peran situ dengan pengendalian banjir dan penyediaan air bersih di Jakarta?

Sabtu, 24 Oktober 2009/ pk. 13.00 – 16.00 WIB

Newseum Cafe, Jl. Veteran I, Jakarta Pusat (dekat Es Krim Ragusa)

Pembicara:

Fatchy Muhammad – Masyarakat Air Indonesia

Heri Syaefudin – Pegiat Konservasi Situ Pengasinan

Ady Kristanto – Pegiat Peta Hijau Situ & Jakarta Green Monster

Moderator: Shanty Syahril – Pegiat Peta Hijau Jakarta

Workshop Membuat Peta Hijau

Membuat peta hijau merupakan hal yang mudah. Semua orang bisa melakukan, termasuk anak-anak. Semua hal yang menarik di sekitar kita bisa dipetakan dengan menggunakan peta hijau. Namun apa yang membedakan peta hijau dengan peta-peta pada umumnya, serta langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk membuat peta hijau akan dipaparkan di workshop ini.

Pada acara ini, peserta akan diajak untuk menyusuri kawasan di sekitar Jl. Veteran I, sebagai uji coba untuk mengalami sendiri proses membuat peta hijau.

Minggu, 25 Oktober 2009/ pk.09.00 – 12.00 WIB

Newseum Cafe,  Jl. Veteran I, Jakarta Pusat (dekat Es Krim Ragusa)

Narasumber: Nirwono Yoga – Koord. Peta Hijau Jakarta

Semua acara GRATIS dan terbuka untuk umum!

Green Tips:

  • Bawa botol minum/tumbler untuk kurangi sampah plastik air kemasan. Tersedia minuman galon untuk isi ulang.
  • Ke lokasi acara dengan busway, bis umum atau KRL, untuk mengurangi emisi dan kemacetan. (rute terlampir)

Informasi lebih lanjut silakan hubungi:

Awang | p. 0818986022 | e. ariefdarmawan.p100@gmail. com

************

Rute ke Veteran 1:

a. Naik TransJakarta:
Jurusan Blok M – Kota, turun di Harmoni kemudian berganti Jurusan Harmoni – Pulo Gadung, turun di Halte Juanda kemudian berjalan ke arah selatan sekitar 50 m.

Jurusan Pulo Gadung – Harmoni, turun di Halte Juanda kemudian berjalan ke arah selatan sekitar 50 m.

b. Naik KRL:

Naik KRL ke arah Jakarta Kota, turun di Stasiun Juanda, kemudian berjalan ke arah selatan menyebrang melewati Jalan Veteran Raya sekitar 100 m.

c. Naik Bis umum:

Kopaja 20 ( Lebak Bulus – Senen), turun sebelum Masjid Istiqlal kemudian berjalan ke arah utara sekitar 50 m.

Metromini 15 (Setiabudi – Senen), turun sebelum Masjid Istiqlal kemudian berjalan ke arah utara sekitar 50 m.

Bis apa saja yang melewati Stasiun Gambir, turun sebelum Masjid Istiqlal kemudian berjalan ke arah utara sekitar 50 m.

No Comments »

| Agent of Change: Peta Hijau |


20 Jul 2009

Indonesian Green Map makers look into the future in Borobudur

 

IMG_0758

Green Map needs to persistently engage people residing in the areas being mapped in order to help generating intimate knowledge of places, and giving local voice a chance in the changing world. Green Map needs to ever amphasize its participatory method. Indonesian Green Map makers all over the country need to assemble together the total assets they have so far generated to be the basis for strengthening their capacity to achieve that goal. (more…)

3 Comments »

Topics: , | Agent of Change: Peta Hijau |