Urban Poor Consortium


29 Mar 2011

Pameran dan Diskusi Sayembara Terbatas StrenKali Surabaya

Rujak Center for Urban Studies, bekerja sama dengan Universitas Pelita Harapan, Arkom Jogja dan Paguyuban Warga Strenkali Surabaya menyelenggarakan Pameran dan Diskusi Sayembara Terbatas Stren Kali Surabaya.

Pameran: 4-15 April 2011 di Gedung B, Universitas Pelita Harapan

Diskusi Peran Arsitek dalam Komunitas

8 April 2011, 13.00 WIB, MYC MultiPurposeRoom

Lantai 1 Gedung D, Universitas Pelita Harapan

(more…)

Comments Off

Topics: , , , , | Agent of Change: Urban Poor Consortium |


01 Nov 2010

Sayembara Terbatas Penataan Kawasan Stren Kali Surabaya

Rujak Center for Urban Studies, bekerja sama dengan Urban Poor Consortium dan Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya menyelenggarakan sayembara terbatas desain penataan Kawasan Stren Kali Surabaya.

(more…)

6 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: Urban Poor Consortium |


29 Oct 2010

Pemenang Sayembara “Prakarsa Masyarakat untuk Kota Lestari”

PENGUMUMAN PROPOSAL TERPILIH

SAYEMBARA PRAKARSA MASYRAKAT DALAM PENATAAN RUANG UNTUK KOTA LESTARI TAHUN 2010

Dewan Juri Sayembara Prakarsa Masyarakat dalam Penataan Ruang untuk Kota Lestari tahun 2010 yang terdiri dari:

1.    Nana Firman (Pokja Kota Lestari)

2.    Wardah Hafidz (Urban Poor Consortium)

3.    Suryono Herlambang (Universitas Tarumanegara)

4.    M. Bijaksana Junerosano (Greeneration Indonesia, Pemrakarsa Terpilih Sayembara Prakarsa Masyarakat dalam Penataan Ruang untuk Kota Lestari tahun 2009)

5.    Doni J. Widiantono (Direktorat Jenderal Penataan Ruang)

memutuskan proposal terpilih untuk difasilitasi pelaksanaannya oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang pada Tahun Anggaran 2011, sebagai berikut:

No Pemarkarsa Judul Proposal Lokasi
1. Muhamad Aziz Firdaus Optimalisasi Lahan Fasilitas Umum Sebagai Tempat untuk Meningkatkan Kualitas Kehidupan Bermasyarakat  di Bukit Kayu Manis RW 12 Kelurahan Kayu Manis Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor Kota Bogor, Jawa Barat
2. Akhmad Setiobudi, Ir. MT dan kawan-kawan Pengembangan Pertanian Kota (Urban Farming) untuk Menunjang Ruang Terbuka Hijau dan Peningkatan Ketahanan Pangan

Di Lingkungan Permukiman Bumi Asri Padasuka Bandung

Kota Bandung, Jawa Barat
3. Komunitas Hijau Pondok Indah Peran Serta Masyarakat dalam Kepedulian dan Pemanfaatan Ruang Terbuka di Pondok Indah Jakarta Selatan, DKI Jakarta
4. Hari Nugroho, ST dan Komunitas Cinta Kampung (KONTAK) Binatur Riverwalk Konsep Penataan Lingkungan Permukiman Tepi Sungai sebagai Destinasi Wisata Publik untuk Menumbuhkan Ekonomi Lokal Warga Melalui Upaya Pelestarian Lingkungan di Kelurahan Podosugih, Kota Pekalongan Pekalongan, Jawa Tengah
5. Dedi Irawan, S.Pd dan kawan-kawan Mendorong Tata Ruang Kelola yang Sensitif Terhadap Kepentingan Nelayan Tradisional dalam Mengurangi Konflik Ruang di Teluk Palu Palu, Sulawesi Tengah
6. M. Yusuf Siregar dan kawan-kawan Pendampingan Penyusunan Program Pembangunan Berbasis Prioritas (Membangun Komunikasi Positif antara Masyarakat, Pemerintah, dan Stakeholder) Pulau Pramuka, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
7. Invani Lela Herlina dan kawan-kawan Aku Bangga Jadi Anak Kampung Kota Yogyakarta, DI Yogyakarta
8. BKM Sumber Makmur – Sonorejo, Kabupaten Sukoharjo Penataan Kalimati Sebagai Kawasan Wisata Air Terpadu Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
9. Muh. Mu’min F, S.Si dan kawan-kawan Penataan dan Pelestarian Kawasan Benteng Keraton Buton Sebagai Lingkungan Permukiman Tradisional yang Asri Pulau Buton, Sulawesi Tenggara

Panitia penyelenggara akan menghubungi permrakarsa proposal terpilih untuk tindak lanjut fasilitasi pelaksanaan kegiatan proposal terpilih.  Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Panitia Sayembara Prakarsa Masyarakat dalam Penataan Ruang untuk Kota Lestari 2010 di 021 722-6577 up Tessie/Hetty.

1 Comment »

| Agent of Change: Greeneration Indonesia Komunitas Hijau Pondok Indah Urban Poor Consortium |


11 Jul 2010

Pak Hartoyo Bikin Gas Sendiri


Teks dan Foto Oleh Yuli Kusworo.

Bebas dari tabung gas yang beresiko meledak, Pak Hartoyo bikin gas sendiri. Pemilik warung kecil di Kampung Rawamalang, Cilincing, Jakarta Utara, ini mendapat ilham dari berita televisi bahwa gas untuk kebutuhan dapur bisa didapat dari kotoran hewan ternak. Dia sudah 25 tahun menjadi peternak ulet. Pria asal Grobogan, Jawa Tengah, ini memelihara delapan sapi, sertus kambing dan seratus lima puluh bebek. Lahan yang tak begitu lebar di tepi sungai dimanfaatkan sebagai kandang ternak.

Dari kelompok tabungan perempuan kampungnya, Pak Hartoyo juga mendapat keterangan bahwa warga Kampung Papanggo juga baru mencoba memanfaatkan kotoran manusia menghasilkan gas untuk memasak. Dia pun lalu bertanya kepada Urban Poor Concortium (UPC) tentang kemungkinan membuat hal yang sama untuk keluarganya, tapi dengan memanfaatkan kotoran ternak (bebek, kambing dan sapi) yang banyak dipelihara di Kampung Rawamalang.

Sebagai pendamping Kampung Rawamalang, UPC pun langsung menanggapi ide Pak Hartoyo sebagai hal yang baik dan perlu dicoba sebagai percontohan, mengingat pada saat itu sedang dilakukan program bersama penataan kampung-kampung miskin di Jakarta Utara. Pembuatan biogas individu bersamaan dengan kegiatan penataan kampung merupakan contoh untuk memperbaiki kualitas lingkungan. Dengan memanfaatkan lahan sempit 2×4 meter persegi, reaktor biogas sederhana dibuat dengan plastik dan ditanam di dalam tanah. Reaktor biogas dan instalasinya hanya menghabiskan uang swadaya Pak Hartoyo sebesar 1,7 juta rupiah.

Sedikit harus bersusah payah–karena lokasi kandang ternak berada di seberang jalan–Pak Hartoyo setiap dua hari sekali harus memasukkan sejumlah  empat ember besar kotoran sapi ke dalam reaktor biogas. Melalui bak kontrol dari ember bekas, kotoran dimasukkan ke reaktor secara perlahan dengan cara mengaduk dan dicampur air. Ini adalah kegiatan baru Pak Hartoyo. Menyenangkan katanya, karena sore dimasukkan kotoran, pagi berikutnya api sudah bisa menyala sangat besar. Indikator keluarnya gas dilihat dari tabung plastik ukuran 1 meter yang digantung di belakang rumah. Bila plastik itu mengembung, berarti gasnya penuh.


5 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: Urban Poor Consortium |


09 Jul 2009

Stren Kali, Surabaya: Contoh untuk Jakarta

Oleh Yuli Kusworo.

Pemerintah tidak pernah punya alternatif yang masuk akal. Karena itu, inisiatif masyarakat adalah satu-satunya solusi . Di Surabaya ada suatu inisiatif pendekatan permukiman lestari oleh masyarakat yang dapat dicontoh Jakarta.

Kampung hijau dengan pupuk organik hasil kompos

Kampung hijau dengan pupuk organik hasil kompos

Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya (PWSKS) melawan ‘cap buruk’ yang selama ini ditujukan kepada mereka. Pada tahun 2002, berbekal semangat gotong royong dan kekuatan kebersamaan, warga mulai mengorganisasikan kampungnya, memperbaiki kualitas lingkungan kampungnya, melalui kearifan mereka sendiri, dan mengkampanyekannya ke media lokal dan nasional bahwa PWSKS adalah warga Kota yang baik dan peduli. Memang bukan pekerjaan mudah seperti menghapus  kesalahan tulis pada selembar kertas.

Melalui kelompok tabungan perempuan di masing-masing kampung, warga sepakat memilah sampah. Sampah plastik dan kertas dipilah dan dikumpulkan tiap hari Minggu. Sampah ditimbang dan dijual kepada pengumpul di sekitar kampung. Uang yang didapat dikumpulkan pada kelompok tabungan dan dijadikan dana cadangan renovasi kampung.

Kegiatan ini secara bergelombang menyebar ke seluruh kampung-kampung anggota PWSKS. Bahkan tak sedikit warga yang memungut sampah plastik yang mengapung di sungai dan mengumpulkannya melalui ibu-ibu. Ibu Kartika, warga Gunungsari mengatakan, ”Meskipun dana yang kami dapat dari penjualan sampah kertas dan plastik ini tidak besar, namun kami menjaga semangat yang sudah tumbuh agar tetap besar. Hanya dengan cara inilah pemerintah akan melihat, bahwa kami juga bisa berbuat untuk Kota Surabaya”.

Sampah organis yang berasal dari masing-masing rumah dicacah dan dimasukkan dalan sebuah keranjang ”ajaib” yang disebut Keranjang Takakura, dari nama pemciptanya, Prof. Takakura dari Jepang. Keranjang Takakura adalah salah satu cara pengomposan paling sederhana yang dilakukan pada lingkungan terkecil, yaitu rumah-tangga. Dengan paradigma baru ”memilah dan mengolah sendiri”, masing-masing rumah dan anggota keluarga akan sadar bahwa sampah bukan masalah.

Setiap 4-5 bulan sekali dilakukan panen bersama kompos, hasil dari Keranjang Takakura.

Sebagian hasilnya ditawarkan kepada Pemerintah Kota, yang saat ini sedang menggalakkan penghijauan kota. Sebagian lainnya digunakan untuk memupuk tanaman obat-obatan (TOGA, Tanaman Obat Keluarga) yang ditanam di lahan sempit di tepi jalan kampung masing-masing.

Akhirnya ’Sunan’ Jogokali bisa membuka mata para Anggota DPRD Propinsi Jawa Timur yang tergabung dalam Panitia Khusus (Pansus) Peraturan Daerah (Perda) Penataan Permukiman Stren Kali Surabaya. Pada 7 Oktober 2007, DPRD Propinsi Jawa Timur mengesahkan sebuah peraturan yang sangat partisipatif dan pro rakyat, yaitu Perda Nomor 9 Tahun 2007 tentang Penataan Permukiman Stren Kali Surabaya, yang intisarinya adalah warga diperbolehkan tetap tinggal di Permukiman Terbatas di Stren Kali, dengan melakukan penataan kampung.

Yuli Kusworo adalah Arsitek untuk Urban Poor Consortium (UPC) dan Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya

jogo kalipenghijauan2penghijauan5

IMG_0429

IMG_0455

IMG_0415

13 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: Urban Poor Consortium |


01 Jul 2009

Seminar Stren Kali 13 Juli 2009

UPC  dan Uplink akan menyelenggarakan seminar internasional tentang Stren Kali sebagai solusi permukiman kaum miskin kota pada tanggal 13 Juli 2009, di Surabaya.

Pembicara a.l. Abdoumaliq Simone (University of London), Wardah Hafidz (UPC-UPLINK), Marco Kusumawijaya (Dewan Kesenian Jakarta), Somsook Bunyabancha (Asian Coalition of Housing Rights, dan Banmankong, Bangkok).

2 Comments »

| Agent of Change: Urban Poor Consortium |