Arts & Culture


29 Mar 2011

Pameran dan Diskusi Sayembara Terbatas StrenKali Surabaya

Rujak Center for Urban Studies, bekerja sama dengan Universitas Pelita Harapan, Arkom Jogja dan Paguyuban Warga Strenkali Surabaya menyelenggarakan Pameran dan Diskusi Sayembara Terbatas Stren Kali Surabaya.

Pameran: 4-15 April 2011 di Gedung B, Universitas Pelita Harapan

Diskusi Peran Arsitek dalam Komunitas

8 April 2011, 13.00 WIB, MYC MultiPurposeRoom

Lantai 1 Gedung D, Universitas Pelita Harapan

(more…)

Comments Off

Topics: , , , , | Agent of Change: Urban Poor Consortium |


21 Feb 2011

The Art of Ecology: Transdisciplinary Research In Practice

SER2011 WORLD CONFERENCE ON ECOLOGICAL RESTORATION

Merida, Mexico – August 21-25, 2011

Re-establishing the Link between Nature and Culture

_________________

I am pleased to tell you that the SER2011 Scientific Program Committee has officially accepted the Symposium:

The Art of Ecology: Transdisciplinary Research in Practice.

Please submit abstracts (see link below) indicating the title of the symposium and my name – David Haley, as session organiser.

http://www.ser2011.org/en/ser2011-scientific-program/call-for-abstracts-posters/

Please, also, take advantage of early registration facilities which will be available through the Conference web page next week (http://www.ser2011.org).

SER (Society for Ecological Restoration) is an important and authoritative scientific organisation concerned with environmental remediation in many countries. It has, previously, held three ‘World Conferences’, two of which I was invited to coordinate and chair sessions on ecological art (Liverpool, 2000 and Zaragoza, 2005). In addition, I have contributed to Richard Scott’s ‘Creative Conservation’ initiatives at these and other SER conferences. Richard is Senior Programme Manager with Landlife, the National Wildflower Centre in Liverpool, and was a close colleague of the eminent ecologist, Professor Tony Bradshaw.  We shall be convening this Symposium together.

The SER World Conferences offer great opportunities to meet with some of the world’s top ecological scientists and activists from diverse cultures.  On occasion, the language of art and that of science have converged, to emerge as a common language – an ecology of cultures, perhaps. And this Symposium seeks presentations that pursue this concept – The Art of Ecology: Transdisciplinary Research In Practice’.

I look forward to seeing you in Mexico.

David Haley.

David Haley PhD

Senior Research Fellow

Director, Ecology In Practice [EIP]

MA Art As Environment Programme Leader

MIRIAD

Manchester Metropolitan University

G10 Righton Building, Cavendish Street,

Manchester M15 6 BG

T: +44 (0)161 247 1093

F: +44 (0)161 2476870

M: 07725 405 365

W: www.artdes.mmu.ac.uk/profile/dhaley

W: www.miriad.mmu.ac.uk/artandecology

Comments Off

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


22 Jan 2011

The Age of Restlessness

Pameran Seni Rupa galeri North Art Space, Pasar Seni Ancol.
20 -31 Januari 2011

Para perupa:
Luthfi Anwar (IKJ),
Walid Syarthowi Basmallah (IKJ),
Michael Binuko (FSRD-ITB),
Patriot Mukmin (FSRD-ITB),
Rizki Andina (FSRD-ITB),
Saroni (ISI-Yogyakarta),
Sutrisno (ISI)-Yogyakarta)
Muhama Yusuf Siregar (ISI-Yogyakarta).

press release

The Age of Restlessness

Kegelisahan bisa jadi adalah suatu modal yang paling utama dan klasik dalam menggerakan zaman terutama era modern. Kegelisahan pada hal tertentu bertransformasi menjadi nilai suatu dorongan atau menstimulasi suatu perasaan, pemikiran, bahkan dalam suatu mekanisme yang lebih terstruktur akhirnya bisa menjadi ekspresi seni bahkan gerakan massa atau sebaliknya, kegelisahan akhirnya mampu membawa ke dalam jurang kematian. Kegelisahan dibentuk oleh adanya perbenturan nilai individu dan individu lain atau sosial dan eksternal.

Setiap generasi, jaman dan konteks tertentu, kegelisahan disebabkan dan menghasilkan nilai yang berbeda-beda, maka suatu bentuk kegelisahan bisa menjadi unik dan khas. Pameran The Age of Restlesness, menjadi suatu teropong bagaimana ruang kegelisahan dalam era dimana media dan teknologi informasi mengkonstruksi realita keseharian, dan juga berbagai persoalan sosial yang terserap dalam ruang-ruang pribadi. Selain untuk melihat secara dekat bagaimana suatu generasi mengartikulasikan suatu kegelisahan dalam suatu rangkaian ekspresi seni.

Pameran ini menyajikan karya-karya hasil dari program residensi Jaya Ancol, yang terdiri dari 8 perupa muda dari berbagai kota: Jakarta, Bandung, Jogjakarta. Mereka berada di Pasar Seni Ancol selama 6 bulan, berproses dan berinteraksi dalam suatu konteks ruang tertentu; baik fisik dan sosial. Selain karya-karya , mereka juga merespon ruang ruang pamer sebagai suatu unsur yang menantang, untuk memperlihatkan proses kreatif mereka.

Rifky Effendy

Kurator North Art Space.

No Comments »

| Agent of Change: none |


12 Jan 2011

Pusat Kebudayaan Itali (IIC): Prendimi l’anima (The Soul Keeper | 2002 | 90′) Director: Roberto Faenza

Please join us in this week’s IIC Cine Club:

“Retrospettiva di Roberto Faenza”

Wednesday, 12 January 2011 at 19.00

Venue: Istituto Italiano di Cultura, Menteng

Prendimi l’anima

(The Soul Keeper | 2002 | 90′)

Director: Roberto Faenza

Cast: Iain Glen, Emilia Fox, Craig Ferguson, Caroline Ducey, Jane Alexander, D. Galluccio

Please see the attached information for synopsis.

See you at IIC Cine Club!

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


06 Jan 2011

Serial Diskusi Salihara: Agama dan Sekularisme di Ruang Publik: Pengalaman Dunia Islam

Pembicara/Speakers: Luthfi Assyaukanie & Ihsan Ali-Fauzi
Moderator: Saidiman Ahmad
Lokasi: SerAMBi SALiHArA
terbuka untuk umum
Pendaftaran selambatnya 18 Januari 2011, melalui dita@salihara.org
Diskusi ini melanjutkan pembahasan tema “Agama dan Sekularisme di ruang Publik” (Desember 2010) yang mengangkat dialog antara Habermas (filsuf) dan ratzinger (teolog) tentang bagaimana menanggapi kebangkitan agama di ruang publik di dunia Barat atau masyarakat Kristen. Kali ini diskusi akan lebih melihat hubungan agama dan ruang publik di dunia islam: bagaimana tarik-menarik doktrin agama dan politik dalam sejarah kekuasaan islam,
sejak kapan ide sekularisme bersentuhan dengan masyarakat muslim, dan benarkah sekularisme adalah “produk impor” dari luar-islam yang datang melalui modernisme, kolonialisme, dan konsep “negara bangsa”. tidak adakah pengalaman sekularisasi yang lahir dari tradisi intelektual atau praktik
politik islam? Dan bagaimana memaknai kembalinya otoritas agama dalam kehidupan publik (fatwa, penerapan aturan publik berbasis Syariah islam, dan kelompokkelompok sipil yang membakai simbol dan klaim agama), hingga ide “negara agama” di masyarakat muslim yang tak pernah matimati diteriakkan? Selain itu, seperti apa masa depan kebebasan, perbedaan, dan ruang
publik yang seharusnya tak terkooptasi oleh satu kelompok? Bagaimana menanggapi semua isu itu dalam kehidupan berdemokrasidan bernegara saat ini?
Ikuti diskusinya bersama Luthfi Assyukanie, Deputi Direktur Freedom institute dan Pendiri Jaringan islam Liberal (JiL), dan ihsan Ali-Fauzi, Direktur Program Yayasan Wakaf Paramadina dan Dosen Universitas Paramadina.
Program ini ditaja oleh Hivos.

No Comments »

Topics: | Agent of Change: Komunitas Salihara |


04 Jan 2011

Film Itali, IIC Cine Club: “Retrospettiva di Roberto Faenza”

Please join us in this week’s IIC Cine Club:
“Retrospettiva di Roberto Faenza”
Wednesday, 5 January 2011 at 19.00
Venue: Istituto Italiano di Cultura, Menteng

I giorni dell’abbandono
(The Days of Abandonment | 2004 | 96′)

Director: Roberto Faenza
Cast: Margherita Buy, Luca Zingaretti, Goran Bregovic, Alessia Goria

Please see the attached information for synopsis.
See you at IIC Cine Club!


No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


27 Dec 2010

Ruang Rupa: Ulang Tahun ke-10

28 Desember 2010 (Selasa)

Jam 19:30

Di Galeri Nasional, Gambir, Jakarta.

Performance pembukaan: Tintin Wulia, Mimi Fadmi-Christiawan, Tisna Sanjaya, Prilla Tania, Reza Afisina, Agus Nur Amal.

www.ruangrupa.org

Maya: 081932147525

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


02 Dec 2010

Presentasi Gedung Baru Goethe Institut, oleh Arsitek Budi Lim

14 Desember 2010 jam 18:00

Goethe-Institute Jakarta

Jaan Sam Ratulangi 9-15

Menteng, Jakarta

No Comments »

| Agent of Change: none |


02 Dec 2010

Pertemuan “Urban Knowledge Network”

Jumat, 10 Desember 2010,
di Wisma PGI, Jaan Teuku Umar 17, Menteng, Jakarta Pusat,
jam 0900-1700.

Kuota untuk peserta dari Jakarta sudah penuh. Mohon maaf. Kami arapkan ada teman-teman dari kota lain.

Untuk teman-teman Jakarta yang sempat kami tolak, mohon maaf; tetapi selalu ada lain kali. Terima kasih atas perhatiannya.

Peserta yang sudah terdaftar per tanggal 2 Desember 2010:

1. Prof. Sandi Siregar (UNPAr, Bandung),

2. Prof. Abdoumaliq Simone (Goldsmith College, London),

3. Widya Wijayanti (Kopi Semawis, Semarang)

4. Wicaksono Sarosa (Kemitraan),

5. Marco Kusumawijaya (Rujak Center for Urban Studies),

6. Suryono Herlambang (Ketua Jurusan Planologi, UNTAR, Jakarta),

7. Elisa Sutanudjaja (Rujak Center for Urban Studies)

8. Willy Samoel (Makassar)

9. Sylvia Khonsa (Pekalongan)

10. Ade Tinamei (PSUD, Bandung)

11. Ami Pratiwi (PGCHS-KU Leuven, Leuven)

12. Yulianti Tanyadji (Makssar)

13. Hizrah Muchtar (Jakarta)

14. Wahyu Dwi Adiningtyas (Jakarta)

15.Satyasuryawan (Majalah Prisma)

16.Bina Bektiati (Majalah Tempo)

17. Selwa Kumar (Medan)

18. Avianti Armand (Tangerang Selatan)

19.

20.

Masih tersedia tempat untuk 3 peserta. (Maksimum 20 orang). Yang berminat dipersilakan mendaftar sebelum tanggal 5 Desember 2010 kepada mkusumawijaya@rujak.org atau esutanudjaja@rujak.org

Tawaran pembahasan:

Perlunya membentuk basis pengetahuan, orang dan lembaga pengusungnya, tentang kota-kota di seluruh Indonesia, sebagai bagian dari penguatan urban-culture dan pemikiran yang akan memperkaya urban policy dan praktek pembangunan kota pada umumnya.

Latar belakang:

Desentralisasi/otonomi daerah perlu disertai dengan bangkitan pengetahuan dan kepemilikan pengetahuan itu oleh ahli dan warga setempat.

Dominasi citra dan realitas Jakarta atas wacana perkotaan Indonesia.

Banyak urban planning tanpa urban knowledge di kota-kota Indonesia.

Banyak peneliti dan pengetahuan yang sudah ada belum muncul ke permukaan untuk memperkaya wacana (komparatif) perkotaan Indonesia.

Perlu kerjasama jaringan sebagai salah satu cara mengatasi hal-hal di atas.

Bahan-bahan Pengantar:

http://www.scribd.com/doc/44536077

http://www.scribd.com/doc/44536073

No Comments »

| Agent of Change: none |


02 Sep 2010

Seri Lokakarya Ekonomi Komunitas Perkotaan di Rawabelong

26-28 September 2010
Di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat.

Tenggat Waktu Pendaftaran: 19 September 2010

Tersedia tempat gratis untuk 10 peserta atas dasar first come, first served.  Harap segera mendaftar. Lihat di bawah.

Rujak Center for Urban Studies (RCUS) bekerja sama dengan Kunci Cultural Studies Center dan Ruang Rupa mengundang anda semua untuk berpartisipasi dalam Seri Lokakarya Ekonomi Komunitas Perkotaan di Pasar Rawabelong. Ini suatu  Bengkel Kerja Lintas Sektor yang berlokasi tepat di tengah Pasar Bunga Rawabelong.

Latar Belakang

Dalam menentukan kebijakan pembangunan perkotaan, pihak perencana hanya memperhatikan angka pertumbuhan ekonomi. Dan ketika para investor hendak menanamkan modal, mereka hanya memperhatikan data ekonomi nasional dan kondisi ekonomi politik. Menurut Lin Che Wei, dalam disiplin ekonomi pun didapat kesan bahwa tidak ada ekonom yang sungguh mengkhususkan diri mempelajari Ekonomi Perkotaan.

Pengambil keputusan kerap mengabaikan kompleksitas ekonomi komunitas, yang diwakili oleh pasar-pasar, yang memiliki dimensi hubungan-hubungan sosial yang terjalin kuat dengan produktivitas ekonominya. Produktivitas ekonomi dan reproduktivitas sosial saling jalin menjalin dalam kehidupan sehari-hari, dalam komunitas yang tidak secara formal dan kaku memisahkan ruang kerja dan ruang hidup.

Contoh menarik adalah Pasar Rawabelong dan kampung serta komunitas sekitarnya (Sukabumi Selatan hingga Palmerah). Bermula dari kampung Betawi, tempat asal si Pitung, penuh dengan kebun Anggrek dan berbagai macam tanaman. Kemudahan bercocok tanam bunga pun ditambah dengan lokasi Rawa Belong yang dekat dengan Kali Pesanggrahan. Para petani pun kemudian menjual bunga hasil panenannya di pinggiran Jalan Palmerah.

Tetapi, dengan berjalannya perkembangan kota, Rawabelong seakan dibiarkan saja tanpa perencanaan seperti pembangunan universitas di dekatnya, dan perkembangan eksternal seperti menurunnya permintaan akan bunga oleh perubahan gaya hidup, dapat mengurangi secara tidak semestinya vitalitas ekonomi komunitas Rawabelong. Kalau saja ada pengetahuan dan kesadaran lebih tinggi, maka perubahan-perubahan itu dapat dijadikan faktor dalam rencana pengembangan ekonomi komunitas pasar bunga tersebut.

Rawabelong adalah sebuah ekonomi yang menghubungkan kota dan wilayah. Pada saat yang sama, ia terkait dengan kegiatan di seluruh Jakarta, misalnya digusurnya pedagang bunga di Taman Barito, maupun perubahan gaya hidup.  Pengetahuan akan “ekonomi mikro perkotaan” begini niscaya diperlukan untuk mengelola kota, ketika perubahan-perubahan diperkenalkan dengan sengaja, sehingga dampak negatif dan positifnya dapat diperkirakan dan karena itu dapat dikelola dengan sengaja, bukan hanya sebagai dampak tak sengaja yang dibiarkan begitu saja tanpa sikap.

Luruhnya Ruang-Ruang Ekonomi dan Sosial Milik Komunitas

Sebelum berubah menjadi pasar modern, pasar bunga ini merupakan ruang penengah antara antar hubungan barang dan pedagang, serta pembeli dan dunia luar, dimana bunga menjadi perantara dalam hubungan tersebut. Malah dalam ulasan lain, Betsky menyatakan bahwa pasar bak panggung untuk kebebasan ide dan pengalaman. Namun kebebasan tersebut, seiring waktu mengalami penurunan, bersamaan dengan upaya untuk meregulasi ruang.

Perkembangan kota dan masyarakat yang semakin konsumtif, terhadap produk maupun ruang, memiliki hubungan langsung dengan meningkatnya pentingnya formalitas dalam persepsi terhadap ruang-ruang ktoa. Formalitas tersebut juga membawa kepada hubungan yang efisien dan efektif. Bagaimana akhirnya prinsip ekonomi berada diatas, dengan satu pemikiran yaitu efisiensi biaya dan kemampuan untuk menyediakan ragam macam bunga sesuai dengan permintaan.

Membayangkan ‘Ruang’ Komunitas

Workshop ini didedikasikan untuk membayangkan bagaimana relasi-relasi yang terjadi antara Pasar, Komunitas maupun kepentingan lain diluarnya. Melalui persepsi dan perkembangan persepsi dari masing-masing anggota, tanpa ada keterbatasan media maupun batas, sehingga peserta bebas untuk mengeluarkan intepretasi dan tawarannya terhadap Pasar Rawa Belong dan komunitas sekitarnya.

Jadwal Workshop:

26 – 28 September 2010

Lokasi:

Pasar Rawa Belong

Kegiatan:

1. Tour Rawa Belong dan Hutan Kota Srengseng

2. Diskusi Lintas Sektor

Pendaftaran:

Unduh formulir pendaftaran disini: http://rawabelong.wordpress.com/daftar/

dan kirimkan formulir pendaftaran ke email kami di: info@rujak.org

Selain untuk 20 orang undangan, kami masih menyediakan tempat gratis untuk 10 peserta. Silakan mendaftar segera untuk mendapatkan tempat terbatas ini atas dasar first come first served.

Informasi lebih lanjut mengenai workshop dapat dibaca di: rawabelong.wordpress.com

2 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |