14 Desember 2010 jam 18:00
Goethe-Institute Jakarta
Jaan Sam Ratulangi 9-15
Menteng, Jakarta
02 Dec 2010
Jumat, 10 Desember 2010,
di Wisma PGI, Jaan Teuku Umar 17, Menteng, Jakarta Pusat,
jam 0900-1700.
Kuota untuk peserta dari Jakarta sudah penuh. Mohon maaf. Kami arapkan ada teman-teman dari kota lain.
Untuk teman-teman Jakarta yang sempat kami tolak, mohon maaf; tetapi selalu ada lain kali. Terima kasih atas perhatiannya.
Peserta yang sudah terdaftar per tanggal 2 Desember 2010:
1. Prof. Sandi Siregar (UNPAr, Bandung),
2. Prof. Abdoumaliq Simone (Goldsmith College, London),
3. Widya Wijayanti (Kopi Semawis, Semarang)
4. Wicaksono Sarosa (Kemitraan),
5. Marco Kusumawijaya (Rujak Center for Urban Studies),
6. Suryono Herlambang (Ketua Jurusan Planologi, UNTAR, Jakarta),
7. Elisa Sutanudjaja (Rujak Center for Urban Studies)
8. Willy Samoel (Makassar)
9. Sylvia Khonsa (Pekalongan)
10. Ade Tinamei (PSUD, Bandung)
11. Ami Pratiwi (PGCHS-KU Leuven, Leuven)
12. Yulianti Tanyadji (Makssar)
13. Hizrah Muchtar (Jakarta)
14. Wahyu Dwi Adiningtyas (Jakarta)
15.Satyasuryawan (Majalah Prisma)
16.Bina Bektiati (Majalah Tempo)
17. Selwa Kumar (Medan)
18. Avianti Armand (Tangerang Selatan)
19.
20.
Masih tersedia tempat untuk 3 peserta. (Maksimum 20 orang). Yang berminat dipersilakan mendaftar sebelum tanggal 5 Desember 2010 kepada mkusumawijaya@rujak.org atau esutanudjaja@rujak.org
Tawaran pembahasan:
Perlunya membentuk basis pengetahuan, orang dan lembaga pengusungnya, tentang kota-kota di seluruh Indonesia, sebagai bagian dari penguatan urban-culture dan pemikiran yang akan memperkaya urban policy dan praktek pembangunan kota pada umumnya.
Latar belakang:
Desentralisasi/otonomi daerah perlu disertai dengan bangkitan pengetahuan dan kepemilikan pengetahuan itu oleh ahli dan warga setempat.
Dominasi citra dan realitas Jakarta atas wacana perkotaan Indonesia.
Banyak urban planning tanpa urban knowledge di kota-kota Indonesia.
Banyak peneliti dan pengetahuan yang sudah ada belum muncul ke permukaan untuk memperkaya wacana (komparatif) perkotaan Indonesia.
Perlu kerjasama jaringan sebagai salah satu cara mengatasi hal-hal di atas.
Bahan-bahan Pengantar:
02 Sep 2010
26-28 September 2010
Di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat.
Tenggat Waktu Pendaftaran: 19 September 2010
Tersedia tempat gratis untuk 10 peserta atas dasar first come, first served. Harap segera mendaftar. Lihat di bawah.
Rujak Center for Urban Studies (RCUS) bekerja sama dengan Kunci Cultural Studies Center dan Ruang Rupa mengundang anda semua untuk berpartisipasi dalam Seri Lokakarya Ekonomi Komunitas Perkotaan di Pasar Rawabelong. Ini suatu Bengkel Kerja Lintas Sektor yang berlokasi tepat di tengah Pasar Bunga Rawabelong.
Latar Belakang
Dalam menentukan kebijakan pembangunan perkotaan, pihak perencana hanya memperhatikan angka pertumbuhan ekonomi. Dan ketika para investor hendak menanamkan modal, mereka hanya memperhatikan data ekonomi nasional dan kondisi ekonomi politik. Menurut Lin Che Wei, dalam disiplin ekonomi pun didapat kesan bahwa tidak ada ekonom yang sungguh mengkhususkan diri mempelajari Ekonomi Perkotaan.
Pengambil keputusan kerap mengabaikan kompleksitas ekonomi komunitas, yang diwakili oleh pasar-pasar, yang memiliki dimensi hubungan-hubungan sosial yang terjalin kuat dengan produktivitas ekonominya. Produktivitas ekonomi dan reproduktivitas sosial saling jalin menjalin dalam kehidupan sehari-hari, dalam komunitas yang tidak secara formal dan kaku memisahkan ruang kerja dan ruang hidup.
Contoh menarik adalah Pasar Rawabelong dan kampung serta komunitas sekitarnya (Sukabumi Selatan hingga Palmerah). Bermula dari kampung Betawi, tempat asal si Pitung, penuh dengan kebun Anggrek dan berbagai macam tanaman. Kemudahan bercocok tanam bunga pun ditambah dengan lokasi Rawa Belong yang dekat dengan Kali Pesanggrahan. Para petani pun kemudian menjual bunga hasil panenannya di pinggiran Jalan Palmerah.
Tetapi, dengan berjalannya perkembangan kota, Rawabelong seakan dibiarkan saja tanpa perencanaan seperti pembangunan universitas di dekatnya, dan perkembangan eksternal seperti menurunnya permintaan akan bunga oleh perubahan gaya hidup, dapat mengurangi secara tidak semestinya vitalitas ekonomi komunitas Rawabelong. Kalau saja ada pengetahuan dan kesadaran lebih tinggi, maka perubahan-perubahan itu dapat dijadikan faktor dalam rencana pengembangan ekonomi komunitas pasar bunga tersebut.
Rawabelong adalah sebuah ekonomi yang menghubungkan kota dan wilayah. Pada saat yang sama, ia terkait dengan kegiatan di seluruh Jakarta, misalnya digusurnya pedagang bunga di Taman Barito, maupun perubahan gaya hidup. Pengetahuan akan “ekonomi mikro perkotaan” begini niscaya diperlukan untuk mengelola kota, ketika perubahan-perubahan diperkenalkan dengan sengaja, sehingga dampak negatif dan positifnya dapat diperkirakan dan karena itu dapat dikelola dengan sengaja, bukan hanya sebagai dampak tak sengaja yang dibiarkan begitu saja tanpa sikap.
Luruhnya Ruang-Ruang Ekonomi dan Sosial Milik Komunitas
Sebelum berubah menjadi pasar modern, pasar bunga ini merupakan ruang penengah antara antar hubungan barang dan pedagang, serta pembeli dan dunia luar, dimana bunga menjadi perantara dalam hubungan tersebut. Malah dalam ulasan lain, Betsky menyatakan bahwa pasar bak panggung untuk kebebasan ide dan pengalaman. Namun kebebasan tersebut, seiring waktu mengalami penurunan, bersamaan dengan upaya untuk meregulasi ruang.
Perkembangan kota dan masyarakat yang semakin konsumtif, terhadap produk maupun ruang, memiliki hubungan langsung dengan meningkatnya pentingnya formalitas dalam persepsi terhadap ruang-ruang ktoa. Formalitas tersebut juga membawa kepada hubungan yang efisien dan efektif. Bagaimana akhirnya prinsip ekonomi berada diatas, dengan satu pemikiran yaitu efisiensi biaya dan kemampuan untuk menyediakan ragam macam bunga sesuai dengan permintaan.
Membayangkan ‘Ruang’ Komunitas
Workshop ini didedikasikan untuk membayangkan bagaimana relasi-relasi yang terjadi antara Pasar, Komunitas maupun kepentingan lain diluarnya. Melalui persepsi dan perkembangan persepsi dari masing-masing anggota, tanpa ada keterbatasan media maupun batas, sehingga peserta bebas untuk mengeluarkan intepretasi dan tawarannya terhadap Pasar Rawa Belong dan komunitas sekitarnya.
Jadwal Workshop:
26 – 28 September 2010
Lokasi:
Pasar Rawa Belong
Kegiatan:
1. Tour Rawa Belong dan Hutan Kota Srengseng
2. Diskusi Lintas Sektor
Pendaftaran:
Unduh formulir pendaftaran disini: http://rawabelong.wordpress.com/daftar/
dan kirimkan formulir pendaftaran ke email kami di: info@rujak.org
Selain untuk 20 orang undangan, kami masih menyediakan tempat gratis untuk 10 peserta. Silakan mendaftar segera untuk mendapatkan tempat terbatas ini atas dasar first come first served.
Informasi lebih lanjut mengenai workshop dapat dibaca di: rawabelong.wordpress.com
23 Aug 2010
Call for Applications for Arts Network Asia (ANA) Grants 2011
Now Open – Deadline 1 October 2010
Artists, cultural workers and arts activists interested in collaboration, networking, dialogue and exchange in Asia are now welcome to apply for the Arts Network Asia (ANA) Grants 2011 scheme.
ANA supports projects that are carried out by Asian artists, residing in Asia and projects that are to be initiated and implemented in Asia, engaging with Asian artists and arts communities. Projects that encourage provocative exchanges and collaborations between and among various cultures and communities within Asia will be considered. ANA pays attention to the contemporary experience of Asia including its relationship with traditions. This includes urban expressions, contemporary arts, contemporary arts and its relationship to traditional arts. These collaborations and exchanges with diverse cultures can be within the same country or the same city. ANA would look into the potential of local-regional-global complementation.
ANA supports projects in multiple disciplines such as performing arts, visual arts, film/video/new media, literature, critical discourse, arts management and technical arts as well as hybrid interdisciplinary projects. In considering proposals, ANA will include the following as its criteria for selection: (1) Independent and process-oriented arts projects, (2) Sustainable, long-term development programme (3) Artistic merit of the project and its positive impact on the arts communities (4) Visibility of the project e.g. physical events, project website/blog, (5) Presence of other sources of funding and (6) Proposed project should be implemented from February 2011 onwards. The ANA grants range from US$1,500 – 7,500 for each project.
Applicants are required to submit one-A4 page project proposal enclosed with a 200-word bio/profile in PDF format via the ANA website (www.artsnetworkasia.org). The deadline for the submission is 1 October 2010.
Past projects supported by ANA can be found on ANA website, these can be reviewed for reference. If there are ANA Peer Panel members residing in your country, they can also be consulted for guidance and assistance. Peer Panel names and contacts are available on ANA website.
For further information or inquiries, please contact Manuporn Luengaram, Manager airmanuporn@artsnetworkasia.org or fax on +65-6737-7013 or contact Tay Tong, Director: taytong@theatreworks.org.sg
About Arts Network Asia (ANA)
Arts Network Asia (ANA) is a regional and independent network of artists, cultural workers and arts activists from Asia and an enabling grant body, working across borders in multiple disciplines that encourages and supports artistic collaboration, dialogue, exchange as well as develop managerial and administrative skills within Asia. ANA is motivated by the philosophy of meaningful collaboration, distinguished by mutual respect, initiated in Asia and carried out together with Asian artists and arts communities.
ANA was found in 1999 by Ong Keng Sen, Artistic Director of TheatreWorks (Singapore).
It was hosted and managed by TheatreWorks (Singapore) from 1999 to 2003. Five Arts Centre (Malaysia) hosted the network from 2004 to 2006. Since 2007, ANA has been hosted and managed by TheatreWorks at 72-13, Singapore.
The ANA is supported by The Ford Foundation.
For more information, please visit www.artsnetworkasia.org
10 Aug 2010
Tulisan dan Foto oleh Lieke Soe, relawan Peta Hijau Yogyakarta, penikmat pertunjukan seni.
Setiap hari kita menghasilkan sampah. (Hampir) setiap hari kita dapat menikmati sebuah pertunjukan. Jika saja dua hal ini bergabung, apa yang dapat kita hasilkan?
Bayangkan jika dalam satu pertunjukan semalam, satu saja propertinya dibuat dari bahan daur ulang sampah.
Bayangkan seorang biduanita mengenakan gaun ini, menyanyikan sebuah lagu indah dari suaranya yang termurni. Bayangkan, sebuah sajak yang menyertai gaun ini, menembus kesadaran pendengar-pendengarnya. Bayangkan seorang tokoh yang terbalut gaun ini sedang membawa kita ke suasana lakon sandiwara. Atau siapapun yang ada di panggung.
Ini artinya, dalam satu malam, kita telah memperjelas nasib setidaknya setara 200-an bungkus mie instant daripada menjadi sekedar onggokan sampah.
Kita dapat menyelesaikan permasalahan sampah dengan mengubah bentuknya. Yang diperlukan hanyalah sedikit imajinasi dan sedikit tenaga untuk mengucek.Bicara tentang lingkungan dan masalah persampahan tidak harus selalu masalah teknis yang memusingkan. Bicara soal seni bisa jadi bicara soal kreasi dan inovasi.
Kita dapat mulai mempopulerkan sampah sebagai bahan properti pertunjukan kita!
foto: baju dan gaun kreasi Lestari, Lembaga Studi dan Tata Mandiri, Pendampingan Masyarakat untuk Pengelolaan Lingkungan dan Sanitasi. Beberapa gaun dipertunjukkan dalam Biennale Yogyakarta X 2009 dan Grarebeg Sampah, 22 Februari 2010 di TPA Piyungan, Yogyakarta. Beberapa gaun anak-anak dibuat oleh seorang guru SMK di Yogyakarta.
CP: Agus Hartono, 08562861257, Semoyan RT 01 DK II Singosaren, Kotagede, Yogyakarta p: 02748255509, e: a_hart01@yahoo.com, fb: lestari_cling@yahoo.co.id
01 Jul 2010
29 Jun 2010

How can we produce art that reflects, celebrates, critiques and advances the cultural life of our community without contributing to the destruction of the setting that inspires these artistic endeavours?
The Faculty of Fine Arts at York University (Toronto – Canada) invites proposals for papers for Staging Sustainability: Arts, Community, Culture, Environment, a conference taking place April 20-22, 2011.
The conference will provide an opportunity for artists and those who support the arts in a myriad of ways – from scholars, critics, producers and designers to policy-makers, industry and government – to engage in interdisciplinary dialogue about issues associated with the creation of environmentally sustainable arts practice and performance.
The conference committee welcomes proposals for papers that consider the relationship between the cultural and ecological aspects of sustainability in the arts, and may encompass aspects of subjectivity with respect to community and identity.
Please forward a 250-word abstract of your proposal, including your name, affiliation, mailing and email address to:
Ina Agastra, Executive Assistant to the Dean
Faculty of Fine Arts, York University
ffadeanasst@yorku.ca
Submission deadline: September 1, 2010
Conference website: www.stagingsustainability.ca