Dalam 20 tahun terakhir jumlah pusat perbelanjaan dan hypermarket di Jakarta bertambah banyak. Setidaknya dalam satu tahun terdapat minimal 10 pusat perbelanjaan baru skala menengah hingga besar. Namun dalam periode yang sama, terjadi penurunan jumlah pasar tradisional di lokasi tertentu dan cenderung stagnan pada wilayah lain. Sementara jumlah penduduk semakin meningkat dan terjadi peningkatan dalam pertumbuhan ekonomi yang pertahunnya mencapai 6-7%, dimana Jakarta menjadi lokomotif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Pasar merupakan tempat belajar sosialisasi dan bertoleransi. Disitu masyarakat belajar tawar menawar, bernegosiasi. Seperti nenek moyangnya, yaitu Agora – pasar dan tempat kumpul warga di era Yunani hampir 3000 tahun lalu, pasar merupakan tempat berkumpulnya warga tanpa memandang kelas. Sementara yang menjadi kesepakatan diantara mereka berdua adalah harga.
Namun dengan masuknya upaya regulasi dan penataan ruang, terjadi pertanyaan apakah pasar akan selalu sama? Perkembangan kota dan masyarakat yang semakin konsumtif, terhadap produk maupun ruang, memiliki hubungan langsung dengan meningkatnya pentingnya formalitas dalam persepsi terhadap ruang-ruang kota. Formalitas tersebut juga membawa kepada hubungan yang efisien dan efektif. Bagaimana akhirnya prinsip ekonomi berada diatas, dengan satu pemikiran yaitu efisiensi biaya dan kemampuan untuk menyediakan ragam macam sayuran dan daging sesuai dengan permintaan.
Hubungan antara pedagang dan pasar yang tadinya demikian erat pun turut berubah dengan masuknya industrialisasi dan komersialisasi lahan dalam kota. Dahulu sangat memungkinkan bahwa pedagang sekaligus produsen dan/atau pengolah, namun kini telah terjadi peralihan peran, yaitu ia kini hanya bertindah sebagai perantara.
Menariknya 59% dari pertumbuhan ekonomi nasional disumbangkan dari konsumsi warga, setidaknya statistik tersebut menunjukkan betapa masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta doyan belanja. Namun hal tersebut tidak tercermin pada kesejahteraan penghuni pasar. Malah sedikitnya 3 pasar di Jakarta Utara berhenti operasi di tahun 2010. Dan ketiganya adalah pasar komunitas, yang dulunya dekat dengan keseharian masyarakat.
Fakta sederhana yang terjadi pada tiga pasar di Jakarta Utara menunjukkan bahwa pasar tidak akan tumbuh jika komunitas disekitarnya tidak mendukung. Sementara dengan upaya modernisasi pasar yang dilakukan terhadap lokasi serta minimnya lahan pertanian kota membawa pada relasi baru antara pembeli dan penjual.
Bekerja sama dengan JEMA Tour, sebuah tur yang didedikasikan kepada penggemar makanan di Jakarta yang ingin menikmati hidangan lezat kaya nilai budaya, Rujak berupaya menggali pengetahuan dan persepsi yang ada dalam masyarakat. Lewat survey sederhana, para peserta tour perlahan-lahan digugah atas relasi antara dirinya dengan pasar.
Kegiatan JEMA Tour berkutat pada pasar tradisional, dan merupakan aktifitas jalan kami selama 3 jam yang kurang lebi melibatkan budaya lokal pasar dan cicipan makanan lezat khas pasar. Pada akhirnya perlahan-lahan, kegiatan ini dapat menjadi salah satu inspirasi bagi warga Jakarta terhadap pasar tradisional sebagai warisan budaya, sekaligus menjadi salah satu pilihan untuk beraktifitas yang berkelanjutan dan terjangkau bagi warga perkotaan.
Rangkaian Kegiatan JEMA Tour:
Pasar Mayestik, 17-18 Juli 2010
Pasar Petak Sembilan, 7-8 Agustus 2010















