Editorial


11 Aug 2010

Mari Kembali Ke Pasar

Dalam 20 tahun terakhir jumlah pusat perbelanjaan dan hypermarket di Jakarta bertambah banyak. Setidaknya dalam satu tahun terdapat minimal 10 pusat perbelanjaan baru skala menengah hingga besar. Namun dalam periode yang sama, terjadi penurunan jumlah pasar tradisional di lokasi tertentu dan cenderung stagnan pada wilayah lain. Sementara jumlah penduduk semakin meningkat dan terjadi peningkatan dalam pertumbuhan ekonomi yang pertahunnya mencapai 6-7%, dimana Jakarta menjadi lokomotif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Pasar merupakan tempat belajar sosialisasi dan bertoleransi. Disitu masyarakat belajar tawar menawar, bernegosiasi. Seperti nenek moyangnya, yaitu Agora – pasar dan tempat kumpul warga di era Yunani hampir 3000 tahun lalu, pasar merupakan tempat berkumpulnya warga tanpa memandang kelas. Sementara yang menjadi kesepakatan diantara mereka berdua adalah harga.

Namun dengan masuknya upaya regulasi dan penataan ruang, terjadi pertanyaan apakah pasar akan selalu sama? Perkembangan kota dan masyarakat yang semakin konsumtif, terhadap produk maupun ruang, memiliki hubungan langsung dengan meningkatnya pentingnya formalitas dalam persepsi terhadap ruang-ruang kota. Formalitas tersebut juga membawa kepada hubungan yang efisien dan efektif. Bagaimana akhirnya prinsip ekonomi berada diatas, dengan satu pemikiran yaitu efisiensi biaya dan kemampuan untuk menyediakan ragam macam sayuran dan daging sesuai dengan permintaan.

Hubungan antara pedagang dan pasar yang tadinya demikian erat pun turut berubah dengan masuknya industrialisasi dan komersialisasi lahan dalam kota. Dahulu sangat memungkinkan bahwa pedagang sekaligus produsen dan/atau pengolah, namun kini telah terjadi peralihan peran, yaitu ia kini hanya bertindah sebagai perantara.

Menariknya 59% dari pertumbuhan ekonomi nasional disumbangkan dari konsumsi warga, setidaknya statistik tersebut menunjukkan betapa masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta doyan belanja. Namun hal tersebut tidak tercermin pada kesejahteraan penghuni pasar. Malah sedikitnya 3 pasar di Jakarta Utara berhenti operasi di tahun 2010. Dan ketiganya adalah pasar komunitas, yang dulunya dekat dengan keseharian masyarakat.
Fakta sederhana yang terjadi pada tiga pasar di Jakarta Utara menunjukkan bahwa pasar tidak akan tumbuh jika komunitas disekitarnya tidak mendukung. Sementara dengan upaya modernisasi pasar yang dilakukan terhadap lokasi serta minimnya lahan pertanian kota membawa pada relasi baru antara pembeli dan penjual.

Bekerja sama dengan JEMA Tour, sebuah tur yang didedikasikan kepada penggemar makanan di Jakarta yang ingin menikmati hidangan lezat kaya nilai budaya, Rujak berupaya menggali pengetahuan dan persepsi yang ada dalam masyarakat. Lewat survey sederhana, para peserta tour perlahan-lahan digugah atas relasi antara dirinya dengan pasar.

Kegiatan JEMA Tour berkutat pada pasar tradisional, dan merupakan aktifitas jalan kami selama 3 jam yang kurang lebi melibatkan budaya lokal pasar dan cicipan makanan lezat khas pasar. Pada akhirnya perlahan-lahan, kegiatan ini dapat menjadi salah satu inspirasi bagi warga Jakarta terhadap pasar tradisional sebagai warisan budaya, sekaligus menjadi salah satu pilihan untuk beraktifitas yang berkelanjutan dan terjangkau bagi warga perkotaan.

Rangkaian Kegiatan JEMA Tour:

Pasar Mayestik, 17-18 Juli 2010

Pasar Petak Sembilan, 7-8 Agustus 2010

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: none |


01 Jul 2010

Ruang untuk Budaya Rakyat

Oleh Jo Santoso: Pertama adalah bahwa budaya hanya bisa berkembang, atau dikembangkan kalau “Lebensraum” yang diperlukannya tersedia.
Tidak ada budaya bisa berkembang tanpa keterikatan pada tempat atau teritori/ruang dalam arti fisik. Proses perkembangan budaya terjadi di
sebuah tempat dan dilakukan secara bersama oleh sejumlah kelompok masyarakat.
Jadi kalau kita bicara tentang budaya urban yang tradisional, yang non-feodal, maka selama ini kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta tidak pernah memberikan tempat yang memungkinkan perkembangan semacam itu bisa berlangsungi. Memang kita tidak seburuk  Singapura yang membabat habis perkampungan tradisional mereka, dan sekarang secara budaya mati suri, tetapi kitapun tidak pernah secara sadar memberikan ruang bagi munculnya sebuah budaya urban yang berbasis pada pola kehidupan masyarakat kita. Budaya kota yang unggul baru bisa (suatu hari) muncul kalau kita juga menyediakan ruang hidup bagi budaya urban untuk semua lapisan masyarakat, terutama untuk rakyat biasa. Karena kalau budaya rakyatnya tidak bisa berkembang, karena digusur habis seperti di Singapura, sekolah tinggi seni sebanyak apapun tidak bisa menggantikan. Kalau tidak ada budaya rakyat, budaya tinggipun tidak bisa muncul.

Lihat juga Ruang Khalayak dan Kebudayaan serta City Life, from Jakarta to Dakar dan Jakarta Utara

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: none |


05 Jun 2010

Ekonomi Perkotaan: Langka

Menata akik, memulai hari perdagangan di pasar batu perhiasan Rawabening, Jatinegara, Jakarta.

Teks dan Foto oleh M. Kusumawijaya dan E. Sutanudjaja. Rujak hari ini mengunjungi pasar khusus perhiasan batu-batuan, Pasar Akik Rawabening di Jatinegara, karena ingin coba belajar tentang Ekonomi Perkotaan.

Sebab, ternyata salah satu cabang studi perkotaan yang paling sulit dicari ahlinya adalah Ekonomi Perkotaan. Dari sisi disiplin ilmu ekonomi pun didapat kesan tidak ada ekonom yang sungguh mengkhususkan diri mempelajari Ekonomi Perkotaan. Sebabnya, menurut Lin Che Wei, tidak ada permintaan dari sektor swasta atas data dan nasehat dari perspektif Ekonomi Perkotaan. Ekonomi pembangunan yang berorientasi pada mengundang investasi formal, besar, dari luar, hanya perlu melirik data ekonomi nasional, serta cuaca politik ekonomi.

Tetapi, Ekonomi Perkotaan diperlukan semestinya oleh sektor publik, oleh pemerintah dalam menyusun kebijakan perkotaan. Rujak dalam tulisan yang lalu tentang Pasar Bunga Rawabelong, misalnya, mencoba menunjukkan bagaimana intervensi pemerintah berupa pembangunan pasar dapat mengembangkan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan komunitas di Rawabelong; dan sebaliknya perkembangan yang dibiarkan saja tanpa perencanaan seperti pembangunan universitas di dekatnya, dan perkembangan eksternal seperti menurunnya permintaan akan bunga oleh perubahan gaya hidup, dapat mengurangi secara tidak semestinya vitalitas ekonomi komunitas Rawabelong. Kalau saja ada pengetahuan dan kesadaran lebih tinggi, maka perubahan-perubahan itu dapat dijadikan faktor dalam rencana pengembangan ekonomi komunitas pasar bunga tersebut.

Koalisi Warga untuk Jakarta 2030, sayangnya, juga menemukan sedikit sekali pengetahuan yang diterapkan pada buram Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi DKI Jakarta 2010-2030 yang bisa diunduh di situs Koalisi tersebut.

Selain itu di dalam rujak ada tulisan Abdoumaliq Simone tentang komunitas ekonomi di Jakarta Utara, yang antara lain menggambarkan kompleksitas ekonomi komunitas yang memiliki dimensi hubungan-hubungan sosial yang terjalin kuat dengan produktivitas ekonominya. Produktivitas ekonomi dan reproduktivitas sosial saling jalin menjalin dalam kehidupan sehari-hari, dalam komunitas yang tidak secara formal dan kaku memisahkan ruang kerja dan ruang hidup.

Apakah Anda melihat citra Tembok Besar Cina pada batu ini?

Sedang perdagangan perhiasan batu punya keunikannya sendiri, setidaknya yang di Rawabening, Jatinegara, Jakarta. Misalnya, menurut pengakuan para pedagang, ia tidak mengenal siklus yang sungguh terkait dengan irama kehidupan massa seperti adanya lebaran dan lain-lain. Orang belanja batu perhiasan karena hobi, kapan saja ada waktu. Iramanya mengikuti selera individual. AL yang datang dari Medan, mengaku berdagang batu perhiasan karena berawal hobi. Sedang pekerjaan utamanya adalah kontraktor. Dia ke Pasar Akik Rawabening membawa batu-batuan untuk diasah serta dipoles oleh artisan langganannya berpuluh tahun di pasar ini. Ketika Rujak menemui mereka, batu yang sedang diasah dan dipoles adalah Giok Putih. AL mengaku sering ke Myanmar lewat Thailand untuk memperoleh batu bermutu. Selama ini dia sudah lebih dari lima kali mengunjungi Myanmar. Berlainan dengan Pasar Bunga Rawabelong yang para pedagangnya banyak yang berasal dari komunitas setempat, para pedagang di Pasar Akik Rawabening banyak pendatang dari mana saja dengan berbagai keperluan. Selain berdagang batu, orang seperti Al juga datang untuk mengasah, memoles, melubangi, dan mungkin lain-lainnya lagi.

Akik sintetik yang diolah dari debu batu-batuan asli

Sebagian pedagang mengatakan lebih 50% pedagang di Pasar Rawabening adalah orang Minang.

Rujak baru mulai belajar tentang ekonomi perkotaan, dengan mencoba melihat kasus-kasus ekonomi komunitas di bagian-bagian Jakarta.  Anda punya pengalaman atau pengamatan tentang ekonomi perkotaan Jakarta? Mohon serta berbagi untuk semua, dapat dikirim ke info@rujak.org

Banyak terima kasih sebelumnya.

Giok Putih bongkahan dan yang sedang diasah

Lihat Juga di news: Kembali ke Pasar?

1 Comment »

Topics: | Agent of Change: none |


24 Apr 2010

Bunga Menginspirasi

Musim semi di Tokyo terasa demikian spesial. Berkat pemanasan global, mekarnya bunga Sakura pun bergeser, dan pada pohon-pohon tertentu malah bermekaran di penghujung bulan April. Mekarnya bunga Sakura menandai akhirnya musim dingin, pelan-pelan bunga tersebut memenuhi batang-batang kering pohonnya, menandakan kehidupan baru dimulai.

Bunga dan kehidupan masyarakat Jepang seakan saling berkaitan. Sakura di kebanyakan kota-kota Jepang, atau bunga Azalea yang mewarnai kota-kota di Jepang bagian Selatan, tepatnya di Pulau Kyushu. Budaya dan bunga pun saling bersinggungan. Tradisi upacara minum teh atau cha no yu tidak bisa dipisahkan dengan kaligrafi dan seni merangkai bunganya atau Ikebana. Setiap aliran, setiap musim dan setiap kota memiliki rangkaian bunga berbeda yang mewarnai ruang-ruang minum tehnya.

Sakura di sepanjang jalan menuju Stasiun Yotsuya

Toko bunga pun bertebaran di sepanjang sudut kota, dia tak ubahnya seperti kios majalah, berada di tempat strategis. Tak hanya berhenti di bunga potong, toko bunga di Jepang menyediakan bunga-bunga dan tanaman dalam pot. Jika anda berada di Jepang, dan diundang ke pesta rumah baru, maka tanaman pot adalah salah satu hadiah ideal. Bunga pun wajib hukumnya bagi rumah-rumah warga kebanyakan di Jepang, dimana altar leluhur mereka selalu dihiasi oleh bunga-bunga.

Toko bunga di daerah Sengawa

Bunga tak hanya menjadi simbol dan hiasan, ia pun menjadi inspirasi bagi produsen makanan Nestle lewat produknya Kit Kat. Setiap menjelang musim semi, Nestle mengeluarkan seri Kit Kat rasa sakura di kota-kota tertentu, dan bunga-bunga lain pada kota lain juga.

Kit Kat rasa Sakura dan Green Tea

Akhirnya bunga berhenti menjadi pemanis, dia menjadi simbol, bagian dari budaya, dan sinergis dengan kehidupan. Dia juga menjadi peluang bagi petani dan pengimpor bunga, dan disaat bersaman menjadi inspirasi bagi industri lain. Apakah arti bunga bagi anda? Apa arti bunga bagi kota kita? Lewat Rawa Belong, kita dapat melihat bahwa ada denyut ekonomi bunga yang menjadi bagian dari Jakarta. Mungkin bunga pun bisa memberi cerita lain – membawa kedamaian dan keceriaan, seperti Azalea di Minamata yang seakan menceriakan kehidupan Minamata paska tragedi pencemaran air raksa yang banyak merengut nyawa dan merusak tatanan dan keakraban hubungan sosial disana.

Azalea di Minamata

No Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


15 Apr 2010

Hari Bumi

Karya Taring Padi. Tahun...

Di dalam bulan April ada Hari Bumi. Ada banyak kegiatan untuk publik. Silakan lihat di Event. Tetapi saya sendiri tidak ingat, dan tidak ingin ingat tanggal berapa yang disebut Hari Bumi itu. Sebab saya mennganggap tidak penting adanya hari khusus untuk mengingat bumi. Saya menganggap kita harus mengingat bumi setiap saat. Sebenarnya bahkan agak ketinggalan jaman (“jadoel”) pendekatan yang membuat hari ini-hari itu, juga jam ini-jam itu, termasuk “Earth Hour”. Semua itu hanya mengembalikan kita kepada insting “suka rame-rame”. Saya hanya pikir kita perlu lebih maju lagi: berubah pada tingkat personal, pada tingkat habitus masing-masing, dengan prakarsa dan kerelaan sendiri. Selamat berubah! Dan, nikmati rame-rame di bulan April!

2 Comments »

| Agent of Change: none |


05 Apr 2010

Warga diajak “class-action” Pemda DKI

Warga Jakarta diajak gugat Pemda DKI berkenaan dengan penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2010-2030 yang tidak memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang ada.

Formulir kesertaan dapat diunduh di sini.

Berita terkait:

The Jakarta Post, Monday April 05, 2010 page 17: Spatial Planning “Coalition invites public to class action against Jakarta administration”

Kompas, Senin, 5 April  2010,  Halaman 26: “Warga Bisa Gugat Pemprov”

No Comments »

| Agent of Change: none |


02 Apr 2010

Dua Pertanyaan

Kawan-kawan penikmat Rujak yang setiawan, mohon sudi membantu Rujak dengan menjawab dua pertanyaan ini:

- Apakah hal yang Anda inginkan diliput oleh Rujak?

- Adakah Kelurahan atau/dan Lurah di Jakarta yang Anda ketahui membuat inovasi atau memiliki kekhasan yang membanggakan, untuk diliput oleh Rujak?

Kami tunggu tanggapan Anda sekalian. Banyak terima kasih sebelumnya!

4 Comments »

| Agent of Change: none |


22 Mar 2010

Jakarta Needs Us, too.

The NYC knows how to get attention of citizens I guess.
http://www.nyc.gov/html/planyc2030/html/greenyc/greenyc.shtml
Unfortunately I do not remember the contents, just graphics and feeling of hope/energy from the city.

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: none |


06 Feb 2010

Why do we need to redo Jakarta 2010-2030 Spatial Masterplan through a participatory process?

IMG_0239

Jakarta needs its people.

That is the simple but fundamental argument to redo Jakarta 2010-2030 Spatial Masterplan through a participatory process. Jakarta needs its people to own the plan so that they will participate in implementing it willingly. Participation builds a strong link called “ownership” between making and implementing a plan. They can only do so if they participate in the making of basic strategic options and decisions. This means deployment of a true participatory process that goes beyond passive “consultative participation” where people are merely asked their opinions about options and decisions that have been made or predetermined by others, usually the bureaucrats and their consultants. (more…)

9 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


22 Jan 2010

Refleksi 2009, Songsong 2010

Jakarta, kota tercinta tempat hidup 8 juta warganya, tempat mencari nafkah bagi jutaan komuter dari kota-kota dan propinsi tetangganya.

Perjalanan Jakarta tahun 2009 ini diwarnai bom, longsor, pemilu presiden langsung, hingga pesta kerak telor di pertengahan tahun. Tidak ada perubahan (positif) berarti selama perjalanan 2009 ini. Walaupun sebanyak 27 pom bensin di Jakarta dikembalikan fungsinya ke ruang terbuka hijau, justru makin banyak pom bensin bermunculan. (more…)

No Comments »

| Agent of Change: none |