Events


22 May 2013

Pemutaran Film Potensi Strenkali, Surabaya

No Comments »

| Agent of Change: none |


14 May 2013

New Regionalism in Bali Architecture by Popo Danes

Buku baru di Rujak Center for Urban Studies.

Popo Danes adalah salah satu arsitek paling sukses di Bali. Sepanjang sejarah karirnya, ia menghidupkan dan menghidupi arsitektur Bali.

Imelda Akmal, New Regionalism in Bali Architecture by Popo Danes, PT Imaji Media Pustaka, Jakarta, 2011.

photo

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


02 May 2013

Baru Tiba: Majalah Art & Thought (Fikrun wa Fann) no. 98

Majalah Fikrun wa Fann didirikan oleh almarhumah Anne-Marie Shimmel, seorang ahli teologi Islam yang pada umur 24 tahun sudah menjadi profesor bidang kajian Islam di Harvard. Kini majalah tersebut diterbitkan oleh Goethe Institut.

COMING TO TERMS WITH THE PAST

“Very few societies have the good fortune to boast a truly unproblematic, non-violent past. Dark corners are often found even in exemplary democracies that have not fought in the wars…”

photo copy 8

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


21 Jan 2013

Sabtu Kota: Water Sensitive City

Sabtu Kota: Water Sensitive City

oleh Elisa Sutanudjaja

26 Januari 2013

Jam 10.00 – 12.00

di Institut Perancis di Indonesia

Jl. Salemba 25, Jakarta

Informasi: info@rujak.org / 021 31906809

(more…)

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


17 Jan 2013

Menjawab 10 Mitos Tentang Air dan Banjir di Jakarta

Oleh Mulia Idznillah

Hujan dengan intensitas lebat kembali mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir. Ketinggian air di beberapa pintu air masih terus menunjukkan kenaikan, dan mengarah ke status siaga 1. Genangan air telah menutupi banyak titik ruas jalan utama, merendam puluhan rumah warga terutama mereka yang tinggal di daerah pemukiman rawan banjir. Ya, Jakarta banjir lagi.

Bagi warga Jakarta kebanyakan, kata banjir mungkin bukanlah suatu hal yang baru keberadaannya. Pemberitaan mengenai banjir dan permasalahannya kerap mewarnai media massa hampir di setiap musim penghujan. Berbagai spekulasi mengenai sebab-akibat banjir yang tengah melanda Ibu Kota dan bagaimana mengatasinya pun menjadi topik bahasan utama. Sayangnya, pemberitaan tersebut terkadang menimbulkan salah pemahaman orang tentang masalah banjir.

Sabtu 12 Januari 2013 lalu, melalui program Diskusi Sabtu Kota perdananya, Rujak Center for Urban Studies mencoba mengangkat 10 pertanyaan-pertanyaan umum mengenai mitos air dan banjir  yang sering diperbincangkan ketika kita membahas banjir di Jakarta. Bertempat di ruang Le Cinema-IFI Salemba, diharapkan dari diskusi ini nantinya dapat meluruskan berbagai spekulasi tentang banjir di Jakarta dan membentuk pemahaman mendasar warga dalam mengatasi banjir itu sendiri.

Menghadirkan Edwin Husni Sutanudjaja, seorang doktor ahli air tanah yang juga merupakan seorang peneliti di Utrecht University-Belanda sebagai pembicara utama, alur diskusi dibuat runut dengan menjawab 10 pertanyaan. Adapun 10 pertanyaan akan mitos /hal-hal yg terabaikan mengenai air dan banjir yang menurutnya penting untuk dibahas adalah sebagai berikut:

1. Apa itu banjir 5 tahunan? Apakah itu sebuah siklus? 

Di awal presentasinya, doktor kelahiran Kota Cirebon tersebut berusaha meluruskan pemahaman peserta diskusi mengenai siklus datangnya banjir di Jakarta. Menurutnya, banyak sekali masyarakat yang salah kaprah dalam memahami istilah banjir 5 tahunan. Seolah-olah banjir besar yang sempat terjadi tahun 2002, pasti akan berulang hanya di tahun 2007, 2012, 2017 dan seterusnya. Padahal apabila merunut pada data historis di lapangan, banjir besar bisa terjadi kapan saja. Istilah banjir 5 tahunan itu sendiri sebenarnya berasal dari penerjemahan kata kala ulang/ return period (Tr) dalam ilmu statistika. Di sini banjir dianggap sebagai kejadian acak dalam desain rencana banjir, dan angka 5 didapat dari perhitungan analisa frekuensi banjir setiap tahunnya. Dan akhirnya, istilah banjir 5 tahunan seharusnya diartikan sebagai probabilitas banjir yang mungkin terjadi (atau terlampaui) di setiap tahun.

Jadi, jangan heran mengapa di awal 2013 ini Jakarta mengalami banjir lagi dan bukan di 2017. Karena pada dasarnya istilah banjir 5 tahunan bukanlah sebuah siklus 5 tahun sekali, tapi merupakan rasio kemungkinan Jakarta untuk mengalami banjir setiap tahunnya yakni sebesar 20%.

2. Benarkah air mengalir dari tempat tinggi ke rendah?

Sudah menjadi pengetahuan umum dalam ilmu air bahwa salah satu sifat air paling mendasar adalah mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah. Dan itu bukanlah sebuah mitos. Dalam konteks air dan banjir di Jakarta, kita dapat mengaitkannya dengan topografi Jakarta yang berada di dataran yang lebih rendah dibandingkan daerah-daerah lain di sekitarnya. Sungai-sungai di Jakarta merupakan hilir dari hulu sungai di daerah lain sekelilingnya (jawa barat) yang sebagian terletak di dataran tinggi.

gambar: peta topografi jawa barat, terlihat bahwa Jakarta merupakan dataran rendah.


3. Benarkah sistem kanal bisa membebaskan banjir dr jakarta?

Melihat sejarahnya, Jakarta memang sudah rawan banjir dari dulu akibat letak geografisnya yang memungkinkan terjadinya peningkatan debit air sungai-sungai dari daerah hulu saat musim hujan. Pada awal pembentukan kota Batavia oleh Belanda, kota ini kemudian dirancang dengan kanal-kanal seperti kota Amsterdam dan kota-kota lain di Belanda yang bertujuan mengurangi banjir tersebut. Namun apakah benar bahwa sistem kanal saja cukup untuk menangani banjir? Ternyata hal tersebut tidak sepenuhnya benar.  Dalam presentasinya, Edwin mengutip pernyataan Restu Gunawan dalam buku: Gagalnya Sistem Kanal, bahwa sistem kanal tidak sepenuhnya akan berhasil mengatasi masalah banjir yang ada di Jakarta karena topografi Jakarta yang datar sehingga air tidak bisa mengalir secara gravitasi. Dengan demikian, mengandalkan sistem kanal saja tidak cukup membebaskan Jakarta dari Banjir. Dan Jakarta perlu alternatif solusi lain dalam menangani air dan banjir setiap tahunnya.

4. Apakah itu sistem polder? 

Sistem polder merupakan sistem lain yang juga diadaptasi dari Belanda. Pada dasarnya sistem ini membantu mengurangi banjir di daerah yang hilir. Adapun prinsip dasarnya adalah menahan, menampung (ekstra ruangan), dan membuang aliran air dengan pompa. Secara tidak langsung, sistem tersebut akan membantu menurunkan puncak banjir,menurunkan beban saluran di hilir, dan menurunkan beban pompa. Jakarta yang berada di daerah dataran rendah dengan ketinggian 0 sampai 7 meter di atas laut mempunyai kecenderungan lebih sulit untuk mengalirkan air ke hilir. Karena itu penggunaan sistem polder dianggap dapat diadaptasi. Disini tampungan air menjadi faktor yang sangat penting. Namun, tidak dapat dipungkiri pula masalah air dan banjir di Jakarta selain dikarenakan hujan dan aliran sungai dari hulu, juga dipengaruhi pasang surut air laut.

gambar: illustrasi sistem polder.


5. Apa itu banjir kiriman? 

Seperti pada penjelasan sebelumnya, Jakarta berada di dataran yang lebih rendah dibandingkan Bogor dan daerah lain di sekitarnya.  Aliran air sungai dari daerah-daerah di hulu yang akhirnya menumpuk di hilir ini lah yang sebenarnya menyebabkan banjir di Jakarta.

6. Apa itu daerah aliran sungai? 

Menurut Edwin, ketika kita berbicara mengenai daerah aliran sungai berarti kita berbicara mengenai siklus hidrologi. Pada dasarnya air banjir pasti berasal dari alam di sekitar kita. Air yang datang ke Jakarta, bukan saja air hujan namun juga debit air dari aliran sungai seperti dari sungai Citarum, Ciliwung, dll. Pada sebagian wilayah di Jakarta, banjir juga dipengaruhi dari pasang surut air laut. Kenyataannya, banjir di Jakarta datang dari air kiriman dari langit, gunung maupun laut yang mengapitnya. Masalah banjir di Jakarta menjadi tidak dapat berdiri sendiri. Ia harus dapat dilihat secara terintegrasi dari hulu ke hilir dan tentunya mempertimbangkan aspek ekologis. Ketika jakarta menyelesaikan masalahnya sendiri akan terasa sia-sia tanpa melihat masalah utuh.  Selain itu yang penting untuk kita sadari adalah peran serta lingkungan dalam penyelesaian banjir di Jakarta.


7. Mengapa jakarta kekurangan air padahal sering kebanjiran?

Menjadi sebuah ironi tersendiri ketika mengetahui bahwa Jakarta yang sering kebanjiran, di lain musim mengalami kekurangan air. Dalam paparannya, Edwin Husni Sutanudjaja berpendapat bahwa tidak adanya tampungan serta kurangnya manajemen air yang baik menjadi faktor penting penyebab terjadinya hal tersebut. Ia kemudian mengutip pernyataan Fatchy Muhammad dari Masyarakat Air Indonesia, bahwa kita semestinya mampu mengubah “banjir kiriman” menjadi “berkah kiriman”. Banjir yang terjadi di musim hujan, degan  penampungan dan manajemen air yang baik bisa menjadi sumber air di musim kemarau.

8. Alasan utama dari sedimentasi sungai adalah sampah? 

Pada banyak pembahasan, seringkali sedimentasi sampah pada sungai dianggap sebagai faktor penyebab banjir. Tapi apa benar sampah merupakan penyebab sedimentasi sungai? Menurut Edwin Husni Sutanudjaja, sampah bukanlah alasan utama terjadinya sedimentasi pada sungai. Sedimentasi pasti terjadi. Menurutnya, faktor utama di Indonesia adalah curah hujan yang tinggi, belum lagi masalah penggundulan tanaman di daerah bantaran sungai. Ia menambahkan, sedimentasi bisa dikurangi jika kita dapat menjaga alam dengan baik. Penanaman vegetasi sekitar sungai akan sangat membantu menghambat sedimentasi air sungai. Pengadaan program pengerukan sungai secara berkala, juga dapat menjadi salah satu solusi dari pemerintah. Ia kemudian menambahkan, akan sangat tidak bijak jika kita menyalahkan mereka yang tinggalnya di bantaran sungai sebagai sumber masalah banjir karena dianggap membuang sampah langsung ke sungai dan menyebabkan sedimentasi.

9. Apakah waduk/sumur resapan dapat mengurangi beban puncak banjir?

Iya, Edwin Husni Sutanudjaja setuju dengan hal itu. Selama ini kecenderungan warga Jakarta hanya mengambil air dari tanah tanpa ada usaha menampungnya lagi melalui sumur resapan. Padahal hal seperti itu malah akan berdampak buruk bagi Jakarta dan mempercepat proses penurunan tanah. Di Jakarta sendiri, tingkat penurunan tanah berkisar 5-18 cm setiap tahunnya.

gambar: Peta kontur dan pembagian zona air tanah.

Namun penting untuk dipahami bahwa pembuatan sumur resapan haruslah mencapai kedalaman yang tepat atau berada pada lapisan akuifer. Ia tidak bisa diterapkan dimana saja. Karena jika tidak, air tidak akan meresap dengan baik melainkan ikut mengalir. Sayangnya belum ada pengkajian lebih detail mengenai daerah mana saja yang bisa ataupun tidak bisa dijadikan sumur resapan. Data yang ada dan bisa dijadikan pegangan sementara baru sekedar pembagian zona kedalaman mata air tanah di Jakarta. Untuk daerah zona merah (dominasi Utara Jakarta dengan jenis tanah lempung) tentunya pengadaan sumur resapan dan biopori tidak akan efektif. Namun, bukan berarti wilayah pada zona merah tidak bisa berperan serta dalam mengurangi banjir. Penampungan air hujan bisa menjadi alternatif solusi bagi mereka yang tinggal di daerah tersebut. Tapi itu dengan asumsi, mereka yang tinggal di dataran yang lebih tinggi juga sudah membangun sumur-sumur resapan.

 

10. Air tanah dalam ialah sumber air yang sustainable?

Pengambilan air tanah dalam sebagai sumber air ternyata bukanlah suatu hal yang berkelanjutan. Mengapa? Karena air tanah dalam merupakan salah satu sumber energi yang tidak dapat diperbaharui. Fossil groundwater / air tanah dalam merupakan air yang telah terperangkap jutaan tahun lamanya dan tentu saja untuk memperbaharuinya tidak membutuhkan waktu yang sedikit.  Padahal mayoritas pembangunan di Jakarta menggunakan air tanah dalam sebagai sumber air utama. Terutama gedung-gedung bertingkat seperti apartemen yang marak dibangun di Jakarta. Pengambilan air tanah dalam berkontribusi terhadap kenaikan muka air laut  hampir 30%.  Bisa kita bayangkan tingkat banjir di Jakarta beberapa tahun mendatang, bila kebiasaan ini tidak coba kita imbangi dengan perbaikan?

Banjir di Jakarta memang sudah sampai di fase mengkhawatirkan setiap tahunnya. Tapi bukan berarti itu tidak dapat diatasi. Menurut Edwin, dalam mengatasi banjir sebenarnya tidaklah perlu bergantung pada teknologi canggih. Peran serta warga dan pemahaman dasar mengenai air dirasa lebih penting dalam pengaplikasian solusi sederhana di berbagai aspek. Mulai dari penerapan prinsip arsitektur yang ramah lingkungan dalam pembangunan di Jakarta, hingga perencanaan tata ruang yang tidak melebihi kapasitas daya dukung lingkungan dan terintegrasi dengan baik dari hulu ke hilir.

Menghadiri diskusi kota kali ini memberikan pemahaman mendasar bahwa penyebab banjir di DKI Jakarta, secara umum terjadi karena takdir Jakarta yang berada di daerah bercurah hujan tinggi di dataran rendah. Namun pada akhirnya banjir diperparah dengan ketidakmampuan manusianya mengelola alam dan air dengan baik. ” Apa yang terjadi dalam kota lebih besar pengaruhnya dibandingkan isu global climate change.” ujarnya dalam akhir acara.

6 Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


04 Jan 2013

Public Expose: Smart City Workshop

Open for public:

12 proposals 12 individuals 1 dream for smarter city! Let’s be smart

Public Expose – 13 January 2013. 13.00 – 17.00

GoetheHaus Auditorium

Jl. Dr. Sam Ratulangi 9-15

Jakarta

 

3 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


04 Jan 2013

Sabtu Kota: 10 Myths on Water and Flood in Jakarta


Sabtu Kota: 10 Myths On Water and Flood in Jakarta

oleh: DR. Edwin Husni Sutanudjaja, M.Sc.

Sabtu, 12 Januari 2013

10.00 -12.00

Ruang Cinema

Institut Francais Indonesia

Jl. Salemba 58, Jakarta

Seberapa jauh pemahaman warga Jakarta terhadap banjir dan manajemen air?

Apakah benar banjir 2002 dan 2007 adalah suatu siklus?

Apakah kanal dan beton yang terus dibangun dapat selamatkan Jakarta?

Apa itu banjir kiriman?

Mengapa Jakarta kekurangan air padahal sering kebanjiran?

Diskusi ini mencoba untuk menjawab pertanyaan diatas. Apakah tepat atau hanya mitos.

Informasi: info@rujak.org / 021-31906809

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


02 Jan 2013

Smart City Workshop: Open For Public

Proses harian Smart City Workshop terbuka untuk umum. Kami memberikan 10 tempat untuk Pengamat untuk turut serta mengikuti proses lokakarya dan mendengarkan kuliah. Lokakarya akan berlangsung dari tanggal 3-13 Januari 2013.  Kami tidak memberikan makan siang dan transportasi ke tempat kunjungan.

Lokakarya akan dilakukan dalam bahasa Indonesia dan Inggris

Lokasi Workshop: Museum Bank Mandiri

Jadwal Workshop:

3 Januari 2013

09.00 – 16.30

- Penjelasan tentang Smart City oleh Dietmar Leyk, Marco Kusumawijaya

- Jakarta Overview: Suryono Herlambang

4 Januari 2013

09.00 – 16.30

- Mobility: Yoga Adiwinarta (Institute for Transportation and Development Policy)

- Habitat: Elisa Sutanudjaja (Rujak Center for Urban Studies)

- Water Related Issues: Selamet Daroyini (KIARA)

- Disaster & Resilient: Hening Parlan (Humanitarian Forum Indonesia)

5 Januari 2013

09.00: Street Photography with Erik Prasetya (one of 20 Most Influential Asian Photographers).

10.00 – 12.00

Kunjungan dan diskusi bersama warga di: Kampung Muara Baru dan Kampung Bukit Pulo.

Kunjungan ke Manggarai dan Dukuh Atas

7 Januari 2013

09.00 – 16.30

- Sesi Diskusi Komunitas: Shanty Syahril, @nebengers, Komunitas Hijau Pondok Indah

- Sesi Kerja (Dietmar Leyk)

8 Januari 2013

09.00 – 16.30

- Sesi Diskusi Komunitas: Indonesia Street Art Database & Khairani Barokka

- Sesi Kerja

9 Januari 2013

09.00 – 1700

- Presentasi Peserta: 09.00 – 12.00

- Workshop 12.00 – 17.00

10 Januari 2013

09.00 – 16.30

Sesi Kerja Penanggap: Avianti Armand, Hizrah Muchtar, Bayu Wardhana

11 Januari 2013

09.00 – 16.30

Sesi Kerja Penanggap Dietmar Leyk & Famega Syafira

No Comments »

| Agent of Change: none |


26 Dec 2012

Reportase : Bedah Buku “Kota Rumah Kita”

 

Oleh Alfred Junaidhi | @alfredjunaidhi

 

Pagi yang cerah menandai acara bedah buku “Kota Rumah Kita” yang diadakan di Institut Francais Indonesia, pada Sabtu 15 Desember 2012. Buku yang bersampul karya pemenang World Press Photo: Peter Bialobrzeski, dengan tebal 381 halaman dan telah terbit tahun 2006 silam dibedah oleh Ayu Utami dan Ahmad Djuhara.

Ayu Utami sebagai penulis yang telah dikenal luas oleh masyarakat dengan karya-karyanya seperti Saman, Cerita Enrico, dll mendapat giliran pertama membedah buku ini.

Dia memaparkan pembahasan dari segi bagaimana Marco Kusumawijaya sebagai penulis buku berkomunikasi dengan publiknya (pembacanya) di mana kompleksitas yang rumit disampaikan dengan sederhana.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti “Siapa orang kota sesungguhnya? Siapa yang salah? Darimana kesalahan?” dicoba dimasukkan di dalam buku ini. Tetapi, sebagai buku yang membahas hal-hal yang bersifat ilmiah dengan mengedepankan intelektualitas tetap terdapat kelemahan. Karya para akademisi, menurutnya, memiliki kelemahan ketika tulisan mereka dipaparkan ke masyarakat luas yang sangat beragam mutu kecerdasannya. Berbicara dengan jargon-jargon dan istilah-istilah yang hanya dipahami oleh kalangan mereka menjadikan tulisannya cenderung tidak dipahami oleh masyarakat umum.

Ayu Utami membedah buku dengan cukup menghibur yang membuat peserta diskusi tertawa khususnya ketika dia menceritakan pengalaman-pengalaman yang dia alami sendiri.  Seperti ketika pertanyaan sederhana “Siapa orang kota sesungguhnya?” diajukan dalam buku, Marco menuliskan bahwa tidak bisa dibedakan lagi antara orang desa dan orang kota, karena semuanya telah jadi kota, baik kota besar maupun kota kecil.

Ayu menceritakan kisah mengenai pembantu laki-laki di rumahnya yang tidak mau membersihkan taman pada siang hari karena takut hitam dan memakai body lotion agar tampak lebih putih. Menurut Ayu, anak desa tidak lagi memahami desa karena telah terpogram dalam simbol-simbol yang sama dengan anak kota melalui televisi dan sekolah, sehingga membuat mereka tercerabut dari akarnya.

Buku yang setiap bab-nya terdapat foto karya Erik Prasetya ini kemudian dibedah oleh Ahmad Djuhara, seorang arsitek yang pernah menjadi Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta. Pembahasan yang dilakukan condong ke arah personal karena Djuhara dan Marco telah lama berteman.

Bagi para arsitek, kata Djuhara, buku ini menarik dan merupakan pengayaan, karena Marco berfungsi sebagai pemandu, pewarta, messiah, guru, pembawa berita baik dan buruk, pemikir, penata data, penyusun, pencatat, pengarah, dan pengoreksi. Dalam buku ini yang betul-betul rumah hanya dibahas satu rumah yakni rumahnya Sardjono Sani, selebihnya tentang luar rumah, tetapi tetap disebut rumah karena mengandaikan kota sebagai rumah.

Menurutnya, buku ini merupakan metamorfosa seorang Marco dari seorang yang pemarah yang tercermin dalam karya sebelumnya: Jakarta: Metropolis Tunggang-langgang, menjadi seorang yang lebih bijak. Dengan kecerdasan, kecepatan menganalisis, dan mengambil kesimpulan untuk bertanya, buku ini membagi bab-bab dengan orang kota dan kota, bagaimana kita melihat dan memposisikan diri kita terhadap kota, dan melulu adalah sebuah ajaran.

Ahmad Djuhara dalam pembedahan buku lebih bersifat akademis dikarenakan tulisan-tulisan dalam buku yang dia bahas memang demikian sifatnya seperti JakArt, Aga Khan Award, dan tentang Wendy Brauer pencipta Green Map. Kesan yang ingin disampaikan yakni fungsi Marco yang mengajak kita membangun Jakarta yang cerdas, serta menjadikan Jakarta bisa mencerdaskan orang lain juga.

Sesi tanya jawab para peserta merupakan lanjutan dari acara bedah buku ini. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan para peserta, namun ada satu pertanyaan yang pembahasannya berlangsung menarik dan berkepanjangan sampai habisnya acara. Yaitu pertanyaan tentang subjektifitas individual dalam menghadapi modernisasi pembangunan kota. Marco yang menjawab pertanyaan ini mengatakan bahwa subjek harus mampu menyikapi modernitas agak tidak tergilas begitu saja. Modernitas yang membawa kegalauan karena berkaitan erat dengan urbanisasi dan kolonialisasi. Kita tidak bisa menerima begitu saja apa yang terjadi dalam hidup kita seperti yang dikatakan Chairil Anwar kepada HB Jassin “Aku akan bikin perhitungan habis-habisan dengan begitu banyak di sekelilingku”.  Berdasarkan perkataan Chairil tersebut ingin ditunjukkan bahwa kota akan menjadi lebih baik bukan dikarenakan gubernurnya atau satu dua orang saja, tetapi semua warganya/semua subjek mampu membikin “perhitungan” terhadap kotanya sendiri melalui proses yang cerdas.

Lanjut Marco, kota pada kenyataannya (yang pahit) dibangun oleh mimpi-mimpi orang tertentu yang tidak mencerminkan mimpi semua orang. Namun inilah yang ingin dibangun Marco dalam buku ini yakni partisipasi semua orang atau warga kota berdasarkan pengetahuan yang mendalam. Kegalauan dihadapi bersama dengan cerdas, dengan pikiran yang rasional tanpa prasangka primordial. Dengan kata lain, subjek harus menghadapi modernisasi pembangunan kota tanpa kehilangan harga dirinya sebagai manusia. Tepatlah seperti yang disimpulkan Ayu Utami dan Ahmad Djuhara bahwa dengan membaca buku ini bisa mengubah cara pandang kita yang baru mengenai segala hal.

Tertarik membaca lebih jauh buku “Kota Rumah Kita” ? silahkan klik link ini.

No Comments »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |


11 Dec 2012

[Updated] International Workshop: SMART CITY

Updated with list of participants (in alphabetical order):

1. Andreas Wibisono (Carnival Mobility)

2. Anita Halim (City Home: An Urban Tactic)

3. Dzikri Prakasa (Improving Public Transport System & Services)

4. Elbert Cahyadi (Public Space Develompent in Sunter to Fulfill Optional and Social Activity of The Community)

5. Fariduddin Atthar (Elevated pathway as an option to minimize flood impact, based on knockdown building and community early warning system)

6. Miktha Farid (Rethinking Urban Kampung @ Kampung Pulo)

7. Mochamad Hasrul Indrabakti (Jakarta Besok)

8. Mufty Riyan (Integration of BRT: Smart Mobility)

9. Muhammad Fatchurofi (JakVOICE)

10. Ria Istiana (Healthier Jakarta)

11. Robin Hartanto (Proposing the Semi-public Spaces in Private Residential Areas in Jakarta)

12. Safrilah (Dynamic Signaling System to Achieve Smart Mobility)

13. Soritua Sidjabat (Creative Signage)

14. Syarfina Nadila (The Place that we live in)

15. Wildan Abdurrahman (Infiltration Wells)

15. Yunus Kuntawi (Jakarta on The Move)

Congratulations to all participants. We’ll see you on January 3rd at Museum Bank Mandiri (Ruang Aula Kecil).

 

The internationally acclaimed gallery of architecture and urbanity, Aedes Architecture Forum, together with the Rujak Center for Urban Studies and the Goethe Institut in Southeast Asia are organizing an international workshop in Jakarta titled ‘SMART CITY=Smart Citizen+Smart Process’, from 3-13 of January 2013 in Jakarta. This workshop and its results will be part of the Interdisciplinary Urban Exhibition & Symposium of SMART CITY: The Next Generation, Focus South East Asia” in Berlin on June 2013. This workshop will be running by Dietmar Leyk & Rujak Center for Urban Studies. Dietmar Leyk is Visitor Professor at Berlage Institute and TU Delft.

We are inviting participants from age of 21-28. This workshop is suitable for 4th year students and young graduates from all subjects. This workshop does not only focus on built environment and spatially based solutions, but it will embrace urban tactics, innovative solutions, inter-disciplinary approaches and resilient tips. Your idea can be derived from diverse subjects, from architecture to urban planning, from product design to campaign design, from social approach to economic or environmental approach. It could be anything, as long as you believe that your idea is smart and could improve the living conditions in Jakarta. We are also interested in projects that take human behavior into both sustainability and social cohesion in the Jakarta’s urban context. Your ideas should address one OR combinations of these challenges:

  1. Resilient and Disaster
  2. Habitat
  3. Mobility
  4. Water-related issue

 

SMART CITY=Smart Citizen + Smart Process

The idea of Smart City is not only limited to geo-localization and wikification of places or massive use of ICTs (information and communication technology) in the city. Some people believe that smart cities is about the accessibility to and use of ICTs for citizens and city administration; or it’s about its human and social capital that accumulated in various concepts; or it’s about the education level of urban population and the generation of localized knowledge. Or sometimes it can be identified smart cities as its smart economy, its smart mobility and its smart environmental strategy.

Smart citizens produce a smart city, and vice versa. We believe that a smart city is a city that build based on citizen agreement. It will keep learning and adaptive. Its citizens build it together; therefore it is also an accumulation of citizen’s intelligence. A smart city is a city where its citizens able to participate in shaping and deciding their future together.

 

Is JAKARTA Smart Enough?

Plato said that ‘The City is what it is because our citizens are what they are”. A City is a process; a repository of possibilities by the people and from the people. And being smart is one of o solution to be sustainable in the future.

Jakarta is the megacity with 9.6 millions registered citizens that covered 665km2 of land and 1800 km2 of water. 13 main rivers run through Jakarta, almost 30% of its land is under sea level. Jakarta is sinking at the rate of 1-18 cm/year depends on location. Jakarta is a perfect combination of urban man-made disaster and natural disaster: +/- 900 fires every year, almost 300 floods in 70% of Jakarta areas, extreme drought in East and West area of Jakarta and even tornado in Thousand Islands. In 2004, the Study on Integrated Transportation Policy predicted that Jakarta would have a massive traffic jam and transportation in 2014 if no mass rapid transportation built. The current and average car speed is decreasing and now reaches almost 10 km/hour. Jakarta is also the center of Indonesia economy, rapidly urbanized in periphery area and an economic magnet. Current Jakarta economic growth is 7% and the minimum wage in Jakarta is the highest in Indonesia (USD 250/month)

But Jakarta is also a megacity that full of optimism with the new populist governor.  This is a melting pot of culture. The morphology of Jakarta consists of historical walled city, urban kampongs, gated communities, superblocks and various forms. Forthcoming urbanization trend is expected to intensify Jakarta density as the Indonesia population grows.

This workshop will give opportunity for young people to think smartly and give an alternative solution to make Jakarta a better and smarter city. We will select maximun 2 participants to be invited in design workshop in Aedes Campus, Berlin from 10-20 June 2013.

 

Eligibility

  1. Young people from age of 21 to 28
  2. Have a passion about Jakarta
  3. Suitable for students/young professional who work on architecture, urban planning, design & communication, product design, economic studies, social studies, sociology, anthropology, arts, medical studies, public health, law, urban management,  well basically, any fields will do.
  4. This is an individual proposal

 

HOW TO PARTICIPATE?

Prospective participants have to submit their Smart City ideas proposals in English. There are 3 proposal formats that you can choose:

  1. 300 words of abstract; OR
  2. Image Collage in A3 PDF format; OR
  3. 2 minutes of Video

Your proposal should address one OR combination of these challenges: Resilient and Disaster, Mobility, Habitat and Water-related issue.

Please submit your proposal in English and 1 page of your CV to info@rujak.org. If you have any question please feel free to contact us via email: info@rujak.org or phone 021 31906809. Submission deadline: 30 December 2012.

Your proposals will be part of SMART CITY: The Next Generation exhibition in Berlin from May to July 2013.

 

About Smart City Workshop

  1. “Smart City=Smart Citizen+Smart Process”Workshop will be conducted from 3-13 January 2013
  2. There will be site visits to selected places and communities
  3. Each participants have to commit to finish their work by 1 February 2013 in order to be exhibit on June 2013 in SMART CITY: The Next Generation Exhibition in Berlin.
  4. This workshop is free of charge
  5. This workshop and participants works will be under Creative Commons License.
  6. We will select 2 participants to be invited in Design Workshop in Aedes Campus, 10-20 June 2012.

15 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |