Events


02 Sep 2010

Seri Lokakarya Ekonomi Komunitas Perkotaan di Rawabelong

26-28 September 2010
Di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat.

Tenggat Waktu Pendaftaran: 19 September 2010

Tersedia tempat gratis untuk 10 peserta atas dasar first come, first served.  Harap segera mendaftar. Lihat di bawah.

Rujak Center for Urban Studies (RCUS) bekerja sama dengan Kunci Cultural Studies Center dan Ruang Rupa mengundang anda semua untuk berpartisipasi dalam Seri Lokakarya Ekonomi Komunitas Perkotaan di Pasar Rawabelong. Ini suatu  Bengkel Kerja Lintas Sektor yang berlokasi tepat di tengah Pasar Bunga Rawabelong.

Latar Belakang

Dalam menentukan kebijakan pembangunan perkotaan, pihak perencana hanya memperhatikan angka pertumbuhan ekonomi. Dan ketika para investor hendak menanamkan modal, mereka hanya memperhatikan data ekonomi nasional dan kondisi ekonomi politik. Menurut Lin Che Wei, dalam disiplin ekonomi pun didapat kesan bahwa tidak ada ekonom yang sungguh mengkhususkan diri mempelajari Ekonomi Perkotaan.

Pengambil keputusan kerap mengabaikan kompleksitas ekonomi komunitas, yang diwakili oleh pasar-pasar, yang memiliki dimensi hubungan-hubungan sosial yang terjalin kuat dengan produktivitas ekonominya. Produktivitas ekonomi dan reproduktivitas sosial saling jalin menjalin dalam kehidupan sehari-hari, dalam komunitas yang tidak secara formal dan kaku memisahkan ruang kerja dan ruang hidup.

Contoh menarik adalah Pasar Rawabelong dan kampung serta komunitas sekitarnya (Sukabumi Selatan hingga Palmerah). Bermula dari kampung Betawi, tempat asal si Pitung, penuh dengan kebun Anggrek dan berbagai macam tanaman. Kemudahan bercocok tanam bunga pun ditambah dengan lokasi Rawa Belong yang dekat dengan Kali Pesanggrahan. Para petani pun kemudian menjual bunga hasil panenannya di pinggiran Jalan Palmerah.

Tetapi, dengan berjalannya perkembangan kota, Rawabelong seakan dibiarkan saja tanpa perencanaan seperti pembangunan universitas di dekatnya, dan perkembangan eksternal seperti menurunnya permintaan akan bunga oleh perubahan gaya hidup, dapat mengurangi secara tidak semestinya vitalitas ekonomi komunitas Rawabelong. Kalau saja ada pengetahuan dan kesadaran lebih tinggi, maka perubahan-perubahan itu dapat dijadikan faktor dalam rencana pengembangan ekonomi komunitas pasar bunga tersebut.

Rawabelong adalah sebuah ekonomi yang menghubungkan kota dan wilayah. Pada saat yang sama, ia terkait dengan kegiatan di seluruh Jakarta, misalnya digusurnya pedagang bunga di Taman Barito, maupun perubahan gaya hidup.  Pengetahuan akan “ekonomi mikro perkotaan” begini niscaya diperlukan untuk mengelola kota, ketika perubahan-perubahan diperkenalkan dengan sengaja, sehingga dampak negatif dan positifnya dapat diperkirakan dan karena itu dapat dikelola dengan sengaja, bukan hanya sebagai dampak tak sengaja yang dibiarkan begitu saja tanpa sikap.

Luruhnya Ruang-Ruang Ekonomi dan Sosial Milik Komunitas

Sebelum berubah menjadi pasar modern, pasar bunga ini merupakan ruang penengah antara antar hubungan barang dan pedagang, serta pembeli dan dunia luar, dimana bunga menjadi perantara dalam hubungan tersebut. Malah dalam ulasan lain, Betsky menyatakan bahwa pasar bak panggung untuk kebebasan ide dan pengalaman. Namun kebebasan tersebut, seiring waktu mengalami penurunan, bersamaan dengan upaya untuk meregulasi ruang.

Perkembangan kota dan masyarakat yang semakin konsumtif, terhadap produk maupun ruang, memiliki hubungan langsung dengan meningkatnya pentingnya formalitas dalam persepsi terhadap ruang-ruang ktoa. Formalitas tersebut juga membawa kepada hubungan yang efisien dan efektif. Bagaimana akhirnya prinsip ekonomi berada diatas, dengan satu pemikiran yaitu efisiensi biaya dan kemampuan untuk menyediakan ragam macam bunga sesuai dengan permintaan.

Membayangkan ‘Ruang’ Komunitas

Workshop ini didedikasikan untuk membayangkan bagaimana relasi-relasi yang terjadi antara Pasar, Komunitas maupun kepentingan lain diluarnya. Melalui persepsi dan perkembangan persepsi dari masing-masing anggota, tanpa ada keterbatasan media maupun batas, sehingga peserta bebas untuk mengeluarkan intepretasi dan tawarannya terhadap Pasar Rawa Belong dan komunitas sekitarnya.

Jadwal Workshop:

26 – 28 September 2010

Lokasi:

Pasar Rawa Belong

Kegiatan:

1. Tour Rawa Belong dan Hutan Kota Srengseng

2. Diskusi Lintas Sektor

Pendaftaran:

Unduh formulir pendaftaran disini: http://rawabelong.wordpress.com/daftar/

dan kirimkan formulir pendaftaran ke email kami di: info@rujak.org

Selain untuk 20 orang undangan, kami masih menyediakan tempat gratis untuk 10 peserta. Silakan mendaftar segera untuk mendapatkan tempat terbatas ini atas dasar first come first served.

Informasi lebih lanjut mengenai workshop dapat dibaca di: rawabelong.wordpress.com

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


24 Aug 2010

Keanekaragaman Hayati Jakarta: Survei Sabtu

Survei keanekaragaman hayati Jakarta ke IV akan berlangsung pada Sabtu, 28 Agustus 2010, pk 07.00 di hutan kota Kridaloka , Senayan, (belakang kolam renang).

Siapa saja boleh ikutan, dengan latar belakang apa saja, pasti akan berguna. Tidak ada biaya, hanya tiket masuk ke dalam hutan kota ini Rp 5.000,00/orang.

Bawa buku saku untuk mencatat, gunakan pakaian warna gelap (biar burung tidak kaget) dan bila ada binokuler silakan dibawa.

Sebelum ikut, mohon mendaftar dulu via email : petahijaujakarta@yahoo.com.

Kontak person untuk survei ke IV ini adalah : Ady 08176586743 O ya, sedikit cerita dari survei ketiga di Taman Suropati , bisa dibaca di sini : http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=17703&post=1

Salam,

Bayu (Koordinator Peta Hijau Jakarta)

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


23 Aug 2010

Grants for Art and Cutural Project: Arts Network Asia (ANA)

Call for Applications for Arts Network Asia (ANA) Grants 2011

Now Open – Deadline 1 October 2010

Artists, cultural workers and arts activists interested in collaboration, networking, dialogue and exchange in Asia are now welcome to apply for the Arts Network Asia (ANA) Grants 2011 scheme.

ANA supports projects that are carried out by Asian artists, residing in Asia and projects that are to be initiated and implemented in Asia, engaging with Asian artists and arts communities. Projects that encourage provocative exchanges and collaborations between and among various cultures and communities within Asia will be considered. ANA pays attention to the contemporary experience of Asia including its relationship with traditions. This includes urban expressions, contemporary arts, contemporary arts and its relationship to traditional arts. These collaborations and exchanges with diverse cultures can be within the same country or the same city. ANA would look into the potential of local-regional-global complementation.

ANA supports projects in multiple disciplines such as performing arts, visual arts, film/video/new media, literature, critical discourse, arts management and technical arts as well as hybrid interdisciplinary projects. In considering proposals, ANA will include the following as its criteria for selection: (1) Independent and process-oriented arts projects, (2) Sustainable, long-term development programme (3) Artistic merit of the project and its positive impact on the arts communities (4) Visibility of the project e.g. physical events, project website/blog, (5) Presence of other sources of funding and (6) Proposed project should be implemented from February 2011 onwards. The ANA grants range from US$1,500 – 7,500 for each project.

Applicants are required to submit one-A4 page project proposal enclosed with a 200-word bio/profile in PDF format via the ANA website (www.artsnetworkasia.org). The deadline for the submission is 1 October 2010.

Past projects supported by ANA can be found on ANA website, these can be reviewed for reference. If there are ANA Peer Panel members residing in your country, they can also be consulted for guidance and assistance.  Peer Panel names and contacts are available on ANA website.

For further information or inquiries, please contact Manuporn Luengaram, Manager airmanuporn@artsnetworkasia.org or fax on +65-6737-7013 or contact Tay Tong, Director: taytong@theatreworks.org.sg

About Arts Network Asia (ANA)

Arts Network Asia (ANA) is a regional and independent network of artists, cultural workers and arts activists from Asia and an enabling grant body, working across borders in multiple disciplines that encourages and supports artistic collaboration, dialogue, exchange as well as develop managerial and administrative skills within Asia. ANA is motivated by the philosophy of meaningful collaboration, distinguished by mutual respect, initiated in Asia and carried out together with Asian artists and arts communities.

ANA was found in 1999 by Ong Keng Sen, Artistic Director of TheatreWorks (Singapore).

It was hosted and managed by TheatreWorks (Singapore) from 1999 to 2003. Five Arts Centre (Malaysia) hosted the network from 2004 to 2006. Since 2007, ANA has been hosted and managed by TheatreWorks at 72-13, Singapore.

The ANA is supported by The Ford Foundation.

For more information, please visit www.artsnetworkasia.org

No Comments »

| Agent of Change: none |


10 Aug 2010

Mengurangi Sampah Lewat Pertunjukan

Tulisan dan Foto oleh Lieke Soe, relawan Peta Hijau Yogyakarta, penikmat pertunjukan seni.

Setiap hari kita menghasilkan sampah. (Hampir) setiap hari kita dapat menikmati sebuah pertunjukan. Jika saja dua hal ini bergabung, apa yang dapat kita hasilkan?

Bayangkan jika dalam satu pertunjukan semalam, satu saja propertinya dibuat dari bahan daur ulang sampah.

Bayangkan seorang biduanita mengenakan gaun ini, menyanyikan sebuah lagu indah dari suaranya yang termurni. Bayangkan, sebuah sajak yang menyertai gaun ini, menembus kesadaran pendengar-pendengarnya. Bayangkan seorang tokoh yang terbalut gaun ini sedang membawa kita ke suasana lakon sandiwara. Atau siapapun yang ada di panggung.

Ini artinya, dalam satu malam, kita telah memperjelas nasib setidaknya setara 200-an bungkus mie instant daripada menjadi sekedar onggokan sampah.

Kita dapat menyelesaikan permasalahan sampah dengan mengubah bentuknya. Yang diperlukan hanyalah sedikit imajinasi dan sedikit tenaga untuk mengucek.Bicara tentang lingkungan dan masalah persampahan tidak harus selalu masalah teknis yang memusingkan. Bicara soal seni bisa jadi bicara soal kreasi dan inovasi.

Kita dapat mulai mempopulerkan sampah sebagai bahan properti pertunjukan kita!

foto: baju dan gaun kreasi Lestari, Lembaga Studi dan Tata Mandiri, Pendampingan Masyarakat untuk Pengelolaan Lingkungan dan Sanitasi. Beberapa gaun dipertunjukkan dalam Biennale Yogyakarta X 2009 dan Grarebeg Sampah, 22 Februari 2010 di TPA Piyungan, Yogyakarta. Beberapa gaun anak-anak dibuat oleh seorang guru SMK di Yogyakarta.

CP: Agus Hartono, 08562861257, Semoyan RT 01 DK II Singosaren, Kotagede, Yogyakarta p: 02748255509, e: a_hart01@yahoo.com, fb: lestari_cling@yahoo.co.id

No Comments »

| Agent of Change: none |


29 Jul 2010

Bermain Kota: Pameran

No Comments »

| Agent of Change: none |


25 Jul 2010

Yoga di Taman Suropati bersama Yudhi Widdyantoro

Photo dari http://www.facebook.com/photo.php?pid=4691624&op=2&o=global&view=global&subj=714297237&id=80049157650

Yoga bersama yogi Yudhi Widdyantoro, di Taman Suropati, setiap hari Minggu pagi jam 7:00-7:30, dengan catatan kalau Yudhi sedang tidak sedang keluar kota. Terbuka untuk umum.

Ikuti Yudhi di Facebook untuk mengetahui rincian jadwalnya.

1 Comment »

| Agent of Change: none |


24 Jul 2010

Seminar “Environment & Sustainable Development”.

The Japan Foundation Jakarta menyelenggarakan Seminar “Environment & Sustainable Development”.

Hari/Tanggal : Jumat, 30 Juli 2010
Jam : 13.30 – 16.00 WIB
Tempat : Hall The Japan Foundation Jakarta Gd. Summitmas 1 Lt. 2 Jl. Jend. Sudirman Kav. 61-62 Jakarta 12190

Pembicara : Elisa Sutanudjaja (Universitas Pelita Harapan
Reza Fahlevi (Kementrian Lingkungan Hidup)

Pembahas : Marco Kusumawijaya (Director RUJAK Center for Urban Studies)

Elisa Sutanudjaja merupakan lulusan program Master of Architecture dari University of New South Wales yang saat ini merupakan dosen Universitas Pelita Harapan. Dosen Studio Perancangan Arsitektur ini juga sedang bekerja sama dengan para urban dan city planners untuk Ditjen Penataan Ruang Kementrian Pekerjaan Umum. Salah satu pengalaman yang dimilikinya adalah terlibat dalam Hobart International Airport Refurbishment, Australia pada tahun 2003.

Reza Fahlevi bekerja di Deputi Urusan Pengkajian Dampak Lingkungan, Kementrian Lingkungan Hidup. Salah satu aktivitas utamanya adalah mengevaluasi dan sosialisasi kebijakan-kebijakan baru mengenai pengkajian dampak lingkungan. Kedua pembicara dalam seminar ini adalah peserta program JENESYS (sebuah program pertukaran pemuda di Jepang) yang akan membagikan apa yang didapatnya mengenai permasalahan environment dan sustainable development di Jepang. Hal ini kemudian dikaitkan dengan apa yang dihadapi oleh Indonesia. Salah satu contoh kasus yang akan dibahas oleh salah seorang pembicara dalam seminar ini adalah Tragedi Minamata, di mana penduduk Minamata tidak sadar selama bertahun-tahun bahwa mereka mengkonsumsi hasil teluk minamata yang ternyata tercemar limbah industri sehingga di kemudian hari berdampak pada keracunan merkuri pada penduduknya.

Pembahas dalam seminar ini, Marco Kusumawijaya, adalah Direktur RUJAK Center for Urban Studies.

2 Comments »

| Agent of Change: none |


15 Jul 2010

Arsitektur dan Produksi Ruang Kota

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


06 Jul 2010

Ruang Bermain Anak : Teka-teki di Ruang Publik

Oleh Carmelia Soe.

Minggu, 25 Juli 2010 di Jogja National Museum, pukul 8 pagi.

Selamat datang hari Minggu. Saatnya kita bermain.

Isu tentang anak selalu menarik perhatian siapa saja. Banyak kegiatan diselenggarakan atas nama anak, dan dipersembahkan untuk anak-anak. Namun, seberapa besar keterlibatan anak sebenarnya? Seberapa besar kebutuhan anak akan hal yang ditawarkan? Respon yang sama menariknya juga diberikan ketika topik yang diangkat bertajuk ‘ruang publik’.

Ruang kota sesungguhnya adalah publik. Dasarnya, seluruh warga memiliki hak untuk memanfaatkan ruang-ruang tersebut.Ruang kota tidak hanya harus enak dilihat tapi juga memiliki hubungan batin dengan masyarakat. Dengan begitu, masyarakat yang bertemu di ruang publik diikat dalam setting yang lebih luas daripada rumah sendiri¹. Masyarakat disini tentunya harus dibaca secara lebih bijaksana; anak-anak adalah bagian dari masyarakat.

Baru-baru saja Yogyakarta menjadi tuan rumah pameran 30 tahun Refleksi Gerakan Anak di Indonesia, bertempat di area Jogja National Museum. Maka tak ada salahnya bila di tempat itu pula, kita membaca catatan anak-anak: apa kata mereka tentang ruang publik ini.

Relawan Peta Hijau Yogyakarta, dalam Jagongan Media Rakyat 2010, mengajak anak-anak dari beberapa sekolah dasar dan kampung sekitar Jogja National Museum untuk bermain teka-teki dengan metode Green Map System©. Ini adalah permainan yang sangat sederhana. Anak-anak hanya perlu menjadi dirinya sendiri dan mencatatkan apa-apa yang mereka ingin ekspresikan dalam ruang publik ini. Apa-apa yang ada bagi mereka, apa-apa yang mereka bayangkan ada, apa-apa yang menurut mereka tidak.

Ini seperti teka-teki yang harus mereka cari, di tempat-tempat yang konon adalah ruang mereka juga. Jawabannya, tentu saja, harus dari mereka juga. Keluaran dari kegiatan workshop ini adalah sebuah drawing map yang memuat informasi dari sudut pandang anak, baik yang sehari-hari menggunakan tempatan JNM, maupun yang sedang bermain di sana. Dari catatan ini pula, kita akan melihat bagaimana teka-teki ini dijawab oleh mereka, yang paling membutuhkan ruang bermain. Apakah anak-anak, pada dasarnya, adalah kelompok yang dituntut untuk kreatif dengan merespon lingkungan sebagai sumber inspirasi? Atau, pada intinya, anak-anak adalah tempelan di ruang publik?

Workshop ini akan diberikan sebagai rangkaian dari Jagongan Media Rakyat, pada hari Minggu, 25 Juli 2010 di Jogja National Museum, pukul 8 pagi.

Carmelia Soe adalah relawan Peta Hijau Yogyakarta dan seorang guru taman kanak-kanak.

4 Comments »

| Agent of Change: Peta Hijau |


04 Jul 2010

Breaking News: Besok Media Briefing Kesiapan Jakarta terhadap Banjir

PEMPROV DKI JAKARTA : Media Briefing Kesiapan Pemerintah DKI Jakarta Mengantisipasi Potensi Ancaman Banjir”

Tempat : Balai Agung Balaikota, Jl. Medan Merdeka Selatan,
Tanggal : 2010-07-05, 12.00 – 15.30 WIB
Kontak : runi: 081399283356

No Comments »

| Agent of Change: none |