Events


13 Apr 2015

Belajar Kriya Bambu Bersama Takayuki Shimizu

poster kriya bambu - landscape

1-2 Mei 2015 di Bumi Pemuda Rahayu ( www.facebook.com/bumipemudarahayu )

Formulir dapat diunduh disini

Hanya tersedia tempat untuk 20 pendaftar pertama.

No Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


19 Jan 2015

Tetangga Pak Gesang dan Tedi En Mencipta Lagu Bersama Anak-anak dan Pemuda Wakatobi

Ini link 5 lagu yang diciptakan oleh Tetangga Pak Gesang bersama anak-anak Taman Nasional Wakatobi ketika Ekspedisi Liwuto Pasi, tanggal 15-29 November 2014.

Dan ini oleh Tedi En (Jatiwangi Arts Factory) bersama pemuda Wakatobi:

Ekspedisi seniman itu diselenggarakan oleh Rujak Center for Urban Studies bersama Felencian Hutabarat dengan dukungan WWF.  Sebelas pekerja kreatif dipilih dari 130 lamaran.

IMG_2183IMG_2062

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


13 Jan 2015

UNDANGAN PROPOSAL: Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan

Keterangan dan formulir bisa diunduh disini.

poster horizontal

Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan

Untuk kegiatan kesenian oleh perorangan atau organisasi yang bekerja dengan isu-isu lingkungan di Indonesia.

Diselenggarakan oleh Rujak Center for Urban Studies dan IndoArtNow

 

Jadwal:

Penerimaan Proposal           : 1 Februari – 20 Maret 2015

Rapat Panel Seleksi               : 27-28 Maret 2015

Pengumuman                                    : 8 April 2015

Kegiatan                                 : 8 April 2015 – 31 Desember 2016

 

Panel Seleksi terdiri dari

-       Ayu Utami (Sastrawan, Jakarta)

-       Gustaff Harriman Iskandar (Pegiat budaya,  Common Room, Bandung)

-       Nur Hidayati (Pegiat keadilan lingkungan, Kepala Departemen Advokasi, Eksekutif Nasional WALHI 2012-2016, Jakarta)

-       Mella Jaarsma (Seniman, Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta)

 

Ketentuan:

-       Dana dapat digunakan untuk antara lain (tidak terbatas pada): biaya perjalanan, kebutuhan sehari-hari (stipendium), residensi di dalam wilayah Republik Indonesia, biaya proses, biaya produksi, pameran atau peristiwa penyajian lainnya, termasuk diskusi/seminar/lokakarya/ dan penerbitan online/offline.

-       Dana yang dapat diminta maksimal 100 juta rupiah per proposal.

-       Total proposal yang akan didanai maksimal 10.

-       Untuk proposal yang masuk dalam daftar-pendek, ada kemungkinan wawancara melalui telepon atau skype pada tanggal 27 Maret – 7 April 2015. (Diharapkan kesiapan para pengaju proposal pada periode tersebut)

 

Formulir Terlampir

- Narasi Proposal

- Riwayat Hidup

- Rencana Anggaran

 

Proposal dikirimkan hanya melalui email ke:

info@rujak.org

Sekretariat Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan:

u.p. Edhis Subhana

Rujak Center for Urban Studies

Telpon/Fax.: 021-31906809

 

 

4 Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


17 Aug 2014

UNDANGAN TERBUKA: Program Pesanggrahan (residensi) Seniman/Peneliti

bpr

 

Pusat pembelajaran kelestarian “Bumi Pemuda Rahayu” terletak pada 450 m di atas permukaa laut di desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta, di tengah-tengah masyarakat pedesaan dengan segala masalah dan “rahasia”nya.

Apabila Anda seniman, peneliti, aktivis, penulis, yang ingin mencoba bekerja sama dengan komunitas pada isu-isu ekologi, ini adalah kesempatan untuk pesanggrahan (residensi) dua bulan.

Pesanggrahan di Bumi Pemuda Rahayu ini akan berlangsung 15 Oktober – 15 Desember 2014 di Bumi Pemuda Rahayu, Dlingo, D.I. Yogyakarta.

Tenggat pengajuan proposal: 15 September 2014.

Informasi lengkap:

http://www.scribd.com/doc/235806927/bpr-pesanggrahan-2014

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


15 Aug 2014

Erik Prasetya bicara Estetika Banal Kota dalam Rangka Menjadi Ekologis

Sabtu, 16 Agustus 2014.

Jam 15:00.

Ruang Sinema, Institut Francais Indonesia.

Jalan Salemba Raya No. 25, Jakarta Pusat.

695194_orig

 

Teks oleh: Ign. Susiadi Wibowo.

Bila Ekologis (Oikos = Lingkungan/ habitat; Logos = Nalar / pikiran) berarti segala nilai dan sifat yang berkaitan dengan  nalar kerja sebuah habitat atau lingkungan, maka Menjadi Ekologis dapat diartikan sebagai berbagai cara upaya untuk (menuju) sebuah keadaan dimana laku, sikap, dan kerja satu atau sekelompok mahluk hidup yang berada di dalam sebuah habitat, mampu selaras dengan nalar kerja habitatnya. Memahami nilai dan sifat ekologis berarti juga menuntut upaya untuk memahami bahwa setiap mahluk hidup di sebuah habitat, akan terhubung dengan mahluk hidup yang lain di dalam kesatuan ekosistem: suatu tatanan kesatuan yang secara utuh dan menyeluruh antar segenap unsur mahluk hidup yang saling tak terpisahkan dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Dari sini, dapat dipahami bahwa salah satu konsekuensi kritis dari upaya mencari jalan menuju ekologis adalah mempertanyakan kembali posisi manusia di dalam habitatnya, di dalam ekosistemnya. Cukup lama kita menerima dogma dan begitu percaya bahwa manusia adalah pemimpin (mahluk hidup) bagi yang lainnya. Dogma ini bukan hanya menuntun pemahaman kita bahwa manusia ‘lebih’ dari mahluk hidup yang lain, yang kemudian menutup kesempatan manusia untuk melihat ‘kehebatan’ yang lainnya, tapi juga memberikan keyakinan yang ‘sesat’ bahwa nalar manusialah yang utama dan paling berguna dalam menjaga keberlangsungan kerja ekosistem. Egosentrik !

Yang terburuk, dogma di atas menghadirkan persepsi bahwa segala yang ada di ekosistem disediakan sepenuhnya dan sebebas-bebasnya bagi manusia demi penuhi kelangsungan hidupnya.  Dan sebagai mahluk yang secara inisiatif menempatkan dirinya di puncak ekosistem, persepsi ini mengantar manusia sebagai yang paling berwenang dalam menentukan nalar, sebagai penguasa dan kemudian, pengeksploitasi mahluk hidup lain yang berada di ‘bawah’nya.

Menjadi Ekologis
 juga menjadi tantangan besar bagi manusia sebagai bagian dari ekosistem kehidupan, karena ini berarti meminta manusia segera mencari cara dalam membangun relasi yang utuh antar dirinya. Nilai-nilai universal kemanusiaan yang dijadikan dasar relasi antar manusia, meskipun hari ini belum mampu menyelesaikan banyak persoalan yang muncul diantaranya, ditantang untuk memperluas perspektifnya : bahwa kemanusiaan bukanlah tujuan, bukan lagi yang puncak dan utama, tapi barulah satu pengantar jalan (yang wajib ditempuh) untuk mampu secara bersama-sama mengerti, memahami, hingga kemudian terlibat dan mengambil peran dalam proses kerja sebuah eksosistem.

Dalam penyampaian yang lebih sederhana, Menjadi Ekologis berarti sebuah kesadaran yang dimulai dari kerelaan hati manusia untuk menggeser posisinya, dari egosentrik melebur bersama-sama dengan mahluk hidup yang lainnya menjadi sebuah ekosistem yang utuh – bersama-sama menjadi ekosentrik. Menjadi Ekologis tentunya dan karenanya tak pernah menjadi keadaan yang final dimana halnya ekosistem adalah kumpulan berbagi mahluk yang terus tumbuh bergerak dan hidup, sebuah keadaan dinamis dan kompleks, maka upaya untuk mengenal dan mencari petunjuk menuju keadaan yang selaras dengan segala nilai dan sifat-sifat ekosistem, adalah juga kumpulan beragam upaya, yang tak pernah berhenti dan terus menerus, untuk mengenal dan mencari pentunjuk tentang kehidupan itu sendiri.

Mengenal kehidupan berarti juga mencoba mengapresiasi dan mencari petunjuk dalam banyak peristiwa keseharian.

Mudahkah?

Semestinya tidak. Menjadi tidak mudah sebab keseharian adalah peristiwa yang tak tunggal. Kumpulan peristiwa yang bergerak tak putus, tumpuk menumpuk satu sama lain, bahkan dengan begitu cepat dan terus ‘berulang’ terjadi. Inilah yang kadang menjadikan keseharian sering terlihat dan dirasakan sebagai hal yang biasa-biasa saja. Bukan karena tidak adanya kualitas dalam peristiwa-peristiwa tersebut tapi terlebih karena peristiwa keseharian, dalam derap kehidupan manusia hari ini yang ditantang untuk makin cepat, hampir tidak menyisakan ruang apresiasi. Lalu bila semua keseharian yang biasa-biasa saja dibiarkan lewat dan berlalu, dimana dan bagaimana kita bisa menemukan petunjuk-petunjuk tentang kehidupan? Dalam proyeknya, Jakarta, Estetika BanalErik Prasetya, seorang seniman fotografi, mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk melihat lebih dekat kota Jakarta, sebagai ruang hidupnya, dalam kumpulan rekaman gambar fotografi.

Erik – yang juga salah satu dari 30 Fotografer paling Berpengaruh di Asia seperti dilansir Invisible Photographer Asia (IPA) – mencoba melihat bahwa kota Jakarta dalam kesehariannya yang banal (baca:datar, biasa-biasa saja), mungkin menyembunyikan berbagai kualitasnya yang unik dan (mungkin saja) estetik. Lewat rekaman fotografinya, Erik tidak sedang berusaha tampil sebagai seorang sutradara, konstruktor sebuah wacana, namun membiarkan dirinya menangkap dan merekam peristiwa yang berlalu di ruang kota Jakarta, dengan cara spontan dan apa adanya. Karena justru lewat ke-apaada-annya inilah, Erik berharap bisa menemukan banyak petunjuk tentang ‘Yang Lain’.

“Fotografi memiliki takdir untuk mengungkap dan menyingkapkan”,
 demikian catat Erik di bukunya Jakarta, Estetika Banal.

Lewat optimisme Erik ini, bolehlah juga kita semua ikut optimis dan berharap, baik secara individu maupun bersama-sama menyingkap dan menemukan sedikit atau banyak petunjuk tentang tapak perjalanan panjang Menjadi Ekologis, sebuah perjalanan panjang bersama semua mahluk kehidupan. (AdiW)

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


15 Aug 2014

Musik Kota: Silampukau

Tim Ayorek! di Surabaya, yang tergabung dalam jaringan pengetahuan perkotaan, baru saja meluncurkan ulang album musik asik yang berkaitan dengan isu dan kegaluan kota (Surabaya): “Sementara Ini” oleh Silampukau.

(Full disclosure: Salah satu personel Silampukau, Kharis Junandharu, juga terlibat di Ayorek! sebagai editor. Tapi bener kok, album ini perlu Anda dengar!)

Silampukau-SementaraIni

Musiknya sederhana, hanya berbaju gitar akustik, dengan sedikit aksen akordeon. Tapi, dibalik kesederhanaan musiknya, terkandung kekuatan besar. Hal yang sama terjadi pada lagu-lagu Bob Dylan atau Iwan Fals saat mereka muda.

Seketika, saya merasa yakin bahwa Silampukau bukan sekedar band biasa. Liriknya mudah dicerna tapi berhasil menguak banyak kisah. Musiknya pun tak kalah bersahaja, tapi tetap bernuansa elegan.
Nuran Wibisono

Lima tahun yang lampau, lima lagu yang berkesan ini telah diliris secara mandiri oleh Silampukau dan dilepas bebas ke publik. Sembari menunggu album baru Silampukau yang akan diluncurkan dalam waktu dekat, Silampukau bersama SUB/SIDE —satu netlabel (label musik berbasis internet) yang didirikan di bawah ayorek.org untuk mendokumentasikan dan menyebarkan musik pilihan Surabaya—merilis kembali EP “Sementara Ini”.

Rilisan ulang kali ini dilengkapi dengan catatan dari Nuran Wibisono:
http://ayorek.org/2014/08/sementara-menunggu-silampukau/

Album selengkapnya beserta cover dapat diunduh langsung di:
https://archive.org/download/subside007/SUBSIDE007_Silampukau-SementaraIni.zip (21.1 MB)

Selamat menikmati, dan nantikan album baru yang akan datang dari Silampukau.

No Comments »

| Agent of Change: none |


11 Jul 2014

The Human Impacts Institute’s Fourth Annual Creative Climate Call to Action

Dear Friends!

CEC ArtsLink is pleased to help the Human Impacts Institute spread the word about their Fourth Annual Creative Climate Call to Action which brings together visual artists, performance artists and filmmakers to create climate-inspired public works throughout New York City.

 

In 2014, artists and artists’ collectives working in 2D, performance and short film (up to 5 minutes) are welcome to apply.

 

For more details about submissions, selection criteria and deadlines,

visit http://www.humanimpactsinstitute.org/

or email directly to  Climate@HumanImpactsInstitute.org.

 

Please note that CEC ArtsLink does not administer this program.

 

Sincerely,

CEC ArtsLink Team.

____________________________________

Call to Artists: Creative Climate Awards 2014

How will you tell the story of climate change?

image001

Call to Artists: 2D work, short films (up to 5 min), and performance pieces that “make climate personal” for the Creative Climate Awards, NYC
Developed by: The Human Impacts Institute (HII) NYC
Event Dates: September 15-October 15th
Cash Prizes: First place: $500  •  Second place: $300  •  Third Place: $200
Submissions: Send by email to Climate@HumanImpactsInstitute.org
Final deadline: No later than 11:30pm, Monday, August 4th
Awards Event: Thursday, October 30th

 

What Are the Creative Climate Awards?

image003

As an official part of Climate Week NYC and in partnership with Positive Feedback and Artbridge, the Human Impacts Institute’s Fourth Annual Creative Climate Call to Action brings together the visual arts, performance art, and film to install climate-inspired public works throughout New York City. Our Creative Climate Awards use the creative process as a tool to inspire audiences to explore the consequences of their actions, think critically about pressing issues, and to make the environment personal.

These events are an opportunity to creatively engage tens-of-thousands of people in positive action around the challenges posed by climate change, while having your work seen by our judges—some of the top artists, curators, and international leaders in the world.

See what we’ve selected in past years to be a part ofCreative Climate Awards here>>

For 2014, we welcome artists and artists’ collectives working in the following disciplines: 2D work, performance, and short film (up to 5 minutes).

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


01 Jul 2014

Liwuto Pasi

Ekspedisi Seniman/Pekerja Kreatif “Liwuto Pasi” ke Taman Nasional Kepulauan Wakatobi, 15-30 November 2014.

Silakan mengunduh informasi lengkap dan formulir pendaftaran di sini:

http://www.scribd.com/doc/232097790/X-Liwuto-Pasi-Info-Lengkap

http://www.scribd.com/doc/232097711/X-Liwuto-Pasi-formulir

atau di sini:

https://drive.google.com/?tab=mo&authuser=0#folders/0B7aQ8ZKnu0RDRUsxZnR6cklYcE0

Tengat waktu pendaftaran: 30 Juli 2014.

poster liwuto pasi landscape kecil

 

12 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


13 Mar 2014

Buku Baru Terbitan EFEO (Ecole française d’Extrême Orient)

Daripada beli, lebih baik menerapkan “collaborative consumption”. Buku-buku baru terbitan EFEO ini karya para peneliti Indonesi dan Preancis tentang Indonesia yang bermutu tinggi dan unik. Dapat dipinjam di Perpusakaan Rujak Center for Urban Studies.

photo 4

 

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


11 Dec 2013

Seminar “Menggali Pengetahuan Kota untuk Kota yang Ekologis”

 

RUJAK POSTER

Poster designed by @idznie

 

Dunia memasuki abad kota di mana lebih dari separuh penduduk dunia akan tinggal di wilayah perkotaan. Pertambahan penduduk di kota tentu akan menghadirkan tantangan baru khususnya dalam membawa kota menjadi lebih ekologis.

Perubahan menuju kota ekologis memerlukan pengetahuan. Pengetahuan adalah prasyarat untuk perubahan. Hak atas pengetahuan adalah hak mendasar, di samping penting sebagai prasyarat untuk mampu berperan serta dalam proses pengambilan keputusan tentang masa depan kota.

Sejak Agustus 2011, Rujak Center for Urban Studies bekerjasama dengan kaum muda dan komunitas di tiga kota; Surabaya, Semarang dan Makassar, menjalankan program bernama Dinamika Pengetahuan Perkotaan (DPP). Program ini bertujuan membangun dinamika-pengetahuan (knowledge dynamics) perkotaan di tiga kota-wilayah Indonesia sebagai perintis, dengan cara menyemangati produksi-bersama pengetahuan perkotaan dan pemanfaatannya ke dalam proses penyusunan kebijakan perkotaan.

Program dilaksanakan dengan mengkonsolidasikan penelitian dan penilaian yang sudah ada, memanfaatkan media-sosial untuk memetakan kegiatan produksi dan pengetahuan warga kota sehari-hari, dan menyelenggarakan forum konsultatif dengan memanfaatkan platform media-sosial dan lembaga-lembaga setempat lainnya. Di akhir program, proses produksi pengetahuan perkotaan telah terbangun di tiga kota dan menghasilkan mesin crowd-sourcing online; ayorek.org (Surabaya), makassarnolkm (Makassar) dan ugd.org (Semarang).

Melalui seminar ini, perwakilan dari ketiga kota akan melaporkan hasil program DPP.

Selain itu, saat ini, Pemerintah Pusat melalui Kementrian Dalam Negeri sedang menyusun RUU Perkotaan. Seminar ini juga dimaksudkan untuk mengajak peserta memberikan masukan yang lebih substantif dalam proses penyusunan RUU Perkotaan selain masukan dari ketiga kota.

 

Seminar akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal            :  Selasa, 17 Desember 2013

Waktu                         :  12.00-16.30 WIB (dimulai dengan makan siang)

Lokasi                         :  Hotel Treva Internasional, Jl. Menteng Raya No. 33 Jakarta Pusat

 

Bagi yang berminat hadir, silahkan mendaftar ke alamat email : info@rujak.org

Tempat terbatas.

 

 

 

 

No Comments »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |