Events


17 Aug 2014

UNDANGAN TERBUKA: Program Pesanggrahan (residensi) Seniman/Peneliti

bpr

Pesanggrahan di Bumi Pemuda Rahayu ini akan berlangsung 15 Oktober – 15 Desember 2014 di Bumi Pemuda Rahayu, Dlingo, D.I. Yogyakarta.

Tenggat pengajuan proposal: 15 September 2014.

Informasi lengkap:

http://www.scribd.com/doc/235806927/bpr-pesanggrahan-2014

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


15 Aug 2014

Erik Prasetya bicara Estetika Banal Kota dalam Rangka Menjadi Ekologis

Sabtu, 16 Agustus 2014.

Jam 15:00.

Ruang Sinema, Institut Francais Indonesia.

Jalan Salemba Raya No. 25, Jakarta Pusat.

695194_orig

 

Teks oleh: Ign. Susiadi Wibowo.

Bila Ekologis (Oikos = Lingkungan/ habitat; Logos = Nalar / pikiran) berarti segala nilai dan sifat yang berkaitan dengan  nalar kerja sebuah habitat atau lingkungan, maka Menjadi Ekologis dapat diartikan sebagai berbagai cara upaya untuk (menuju) sebuah keadaan dimana laku, sikap, dan kerja satu atau sekelompok mahluk hidup yang berada di dalam sebuah habitat, mampu selaras dengan nalar kerja habitatnya. Memahami nilai dan sifat ekologis berarti juga menuntut upaya untuk memahami bahwa setiap mahluk hidup di sebuah habitat, akan terhubung dengan mahluk hidup yang lain di dalam kesatuan ekosistem: suatu tatanan kesatuan yang secara utuh dan menyeluruh antar segenap unsur mahluk hidup yang saling tak terpisahkan dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Dari sini, dapat dipahami bahwa salah satu konsekuensi kritis dari upaya mencari jalan menuju ekologis adalah mempertanyakan kembali posisi manusia di dalam habitatnya, di dalam ekosistemnya. Cukup lama kita menerima dogma dan begitu percaya bahwa manusia adalah pemimpin (mahluk hidup) bagi yang lainnya. Dogma ini bukan hanya menuntun pemahaman kita bahwa manusia ‘lebih’ dari mahluk hidup yang lain, yang kemudian menutup kesempatan manusia untuk melihat ‘kehebatan’ yang lainnya, tapi juga memberikan keyakinan yang ‘sesat’ bahwa nalar manusialah yang utama dan paling berguna dalam menjaga keberlangsungan kerja ekosistem. Egosentrik !

Yang terburuk, dogma di atas menghadirkan persepsi bahwa segala yang ada di ekosistem disediakan sepenuhnya dan sebebas-bebasnya bagi manusia demi penuhi kelangsungan hidupnya.  Dan sebagai mahluk yang secara inisiatif menempatkan dirinya di puncak ekosistem, persepsi ini mengantar manusia sebagai yang paling berwenang dalam menentukan nalar, sebagai penguasa dan kemudian, pengeksploitasi mahluk hidup lain yang berada di ‘bawah’nya.

Menjadi Ekologis
 juga menjadi tantangan besar bagi manusia sebagai bagian dari ekosistem kehidupan, karena ini berarti meminta manusia segera mencari cara dalam membangun relasi yang utuh antar dirinya. Nilai-nilai universal kemanusiaan yang dijadikan dasar relasi antar manusia, meskipun hari ini belum mampu menyelesaikan banyak persoalan yang muncul diantaranya, ditantang untuk memperluas perspektifnya : bahwa kemanusiaan bukanlah tujuan, bukan lagi yang puncak dan utama, tapi barulah satu pengantar jalan (yang wajib ditempuh) untuk mampu secara bersama-sama mengerti, memahami, hingga kemudian terlibat dan mengambil peran dalam proses kerja sebuah eksosistem.

Dalam penyampaian yang lebih sederhana, Menjadi Ekologis berarti sebuah kesadaran yang dimulai dari kerelaan hati manusia untuk menggeser posisinya, dari egosentrik melebur bersama-sama dengan mahluk hidup yang lainnya menjadi sebuah ekosistem yang utuh – bersama-sama menjadi ekosentrik. Menjadi Ekologis tentunya dan karenanya tak pernah menjadi keadaan yang final dimana halnya ekosistem adalah kumpulan berbagi mahluk yang terus tumbuh bergerak dan hidup, sebuah keadaan dinamis dan kompleks, maka upaya untuk mengenal dan mencari petunjuk menuju keadaan yang selaras dengan segala nilai dan sifat-sifat ekosistem, adalah juga kumpulan beragam upaya, yang tak pernah berhenti dan terus menerus, untuk mengenal dan mencari pentunjuk tentang kehidupan itu sendiri.

Mengenal kehidupan berarti juga mencoba mengapresiasi dan mencari petunjuk dalam banyak peristiwa keseharian.

Mudahkah?

Semestinya tidak. Menjadi tidak mudah sebab keseharian adalah peristiwa yang tak tunggal. Kumpulan peristiwa yang bergerak tak putus, tumpuk menumpuk satu sama lain, bahkan dengan begitu cepat dan terus ‘berulang’ terjadi. Inilah yang kadang menjadikan keseharian sering terlihat dan dirasakan sebagai hal yang biasa-biasa saja. Bukan karena tidak adanya kualitas dalam peristiwa-peristiwa tersebut tapi terlebih karena peristiwa keseharian, dalam derap kehidupan manusia hari ini yang ditantang untuk makin cepat, hampir tidak menyisakan ruang apresiasi. Lalu bila semua keseharian yang biasa-biasa saja dibiarkan lewat dan berlalu, dimana dan bagaimana kita bisa menemukan petunjuk-petunjuk tentang kehidupan? Dalam proyeknya, Jakarta, Estetika BanalErik Prasetya, seorang seniman fotografi, mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk melihat lebih dekat kota Jakarta, sebagai ruang hidupnya, dalam kumpulan rekaman gambar fotografi.

Erik – yang juga salah satu dari 30 Fotografer paling Berpengaruh di Asia seperti dilansir Invisible Photographer Asia (IPA) – mencoba melihat bahwa kota Jakarta dalam kesehariannya yang banal (baca:datar, biasa-biasa saja), mungkin menyembunyikan berbagai kualitasnya yang unik dan (mungkin saja) estetik. Lewat rekaman fotografinya, Erik tidak sedang berusaha tampil sebagai seorang sutradara, konstruktor sebuah wacana, namun membiarkan dirinya menangkap dan merekam peristiwa yang berlalu di ruang kota Jakarta, dengan cara spontan dan apa adanya. Karena justru lewat ke-apaada-annya inilah, Erik berharap bisa menemukan banyak petunjuk tentang ‘Yang Lain’.

“Fotografi memiliki takdir untuk mengungkap dan menyingkapkan”,
 demikian catat Erik di bukunya Jakarta, Estetika Banal.

Lewat optimisme Erik ini, bolehlah juga kita semua ikut optimis dan berharap, baik secara individu maupun bersama-sama menyingkap dan menemukan sedikit atau banyak petunjuk tentang tapak perjalanan panjang Menjadi Ekologis, sebuah perjalanan panjang bersama semua mahluk kehidupan. (AdiW)

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


15 Aug 2014

Musik Kota: Silampukau

Tim Ayorek! di Surabaya, yang tergabung dalam jaringan pengetahuan perkotaan, baru saja meluncurkan ulang album musik asik yang berkaitan dengan isu dan kegaluan kota (Surabaya): “Sementara Ini” oleh Silampukau.

(Full disclosure: Salah satu personel Silampukau, Kharis Junandharu, juga terlibat di Ayorek! sebagai editor. Tapi bener kok, album ini perlu Anda dengar!)

Silampukau-SementaraIni

Musiknya sederhana, hanya berbaju gitar akustik, dengan sedikit aksen akordeon. Tapi, dibalik kesederhanaan musiknya, terkandung kekuatan besar. Hal yang sama terjadi pada lagu-lagu Bob Dylan atau Iwan Fals saat mereka muda.

Seketika, saya merasa yakin bahwa Silampukau bukan sekedar band biasa. Liriknya mudah dicerna tapi berhasil menguak banyak kisah. Musiknya pun tak kalah bersahaja, tapi tetap bernuansa elegan.
Nuran Wibisono

Lima tahun yang lampau, lima lagu yang berkesan ini telah diliris secara mandiri oleh Silampukau dan dilepas bebas ke publik. Sembari menunggu album baru Silampukau yang akan diluncurkan dalam waktu dekat, Silampukau bersama SUB/SIDE —satu netlabel (label musik berbasis internet) yang didirikan di bawah ayorek.org untuk mendokumentasikan dan menyebarkan musik pilihan Surabaya—merilis kembali EP “Sementara Ini”.

Rilisan ulang kali ini dilengkapi dengan catatan dari Nuran Wibisono:
http://ayorek.org/2014/08/sementara-menunggu-silampukau/

Album selengkapnya beserta cover dapat diunduh langsung di:
https://archive.org/download/subside007/SUBSIDE007_Silampukau-SementaraIni.zip (21.1 MB)

Selamat menikmati, dan nantikan album baru yang akan datang dari Silampukau.

No Comments »

| Agent of Change: none |


11 Jul 2014

The Human Impacts Institute’s Fourth Annual Creative Climate Call to Action

Dear Friends!

CEC ArtsLink is pleased to help the Human Impacts Institute spread the word about their Fourth Annual Creative Climate Call to Action which brings together visual artists, performance artists and filmmakers to create climate-inspired public works throughout New York City.

 

In 2014, artists and artists’ collectives working in 2D, performance and short film (up to 5 minutes) are welcome to apply.

 

For more details about submissions, selection criteria and deadlines,

visit http://www.humanimpactsinstitute.org/

or email directly to  Climate@HumanImpactsInstitute.org.

 

Please note that CEC ArtsLink does not administer this program.

 

Sincerely,

CEC ArtsLink Team.

____________________________________

Call to Artists: Creative Climate Awards 2014

How will you tell the story of climate change?

image001

Call to Artists: 2D work, short films (up to 5 min), and performance pieces that “make climate personal” for the Creative Climate Awards, NYC
Developed by: The Human Impacts Institute (HII) NYC
Event Dates: September 15-October 15th
Cash Prizes: First place: $500  •  Second place: $300  •  Third Place: $200
Submissions: Send by email to Climate@HumanImpactsInstitute.org
Final deadline: No later than 11:30pm, Monday, August 4th
Awards Event: Thursday, October 30th

 

What Are the Creative Climate Awards?

image003

As an official part of Climate Week NYC and in partnership with Positive Feedback and Artbridge, the Human Impacts Institute’s Fourth Annual Creative Climate Call to Action brings together the visual arts, performance art, and film to install climate-inspired public works throughout New York City. Our Creative Climate Awards use the creative process as a tool to inspire audiences to explore the consequences of their actions, think critically about pressing issues, and to make the environment personal.

These events are an opportunity to creatively engage tens-of-thousands of people in positive action around the challenges posed by climate change, while having your work seen by our judges—some of the top artists, curators, and international leaders in the world.

See what we’ve selected in past years to be a part ofCreative Climate Awards here>>

For 2014, we welcome artists and artists’ collectives working in the following disciplines: 2D work, performance, and short film (up to 5 minutes).

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


01 Jul 2014

Liwuto Pasi

Ekspedisi Seniman/Pekerja Kreatif “Liwuto Pasi” ke Taman Nasional Kepulauan Wakatobi, 15-30 November 2014.

Silakan mengunduh informasi lengkap dan formulir pendaftaran di sini:

http://www.scribd.com/doc/232097790/X-Liwuto-Pasi-Info-Lengkap

http://www.scribd.com/doc/232097711/X-Liwuto-Pasi-formulir

atau di sini:

https://drive.google.com/?tab=mo&authuser=0#folders/0B7aQ8ZKnu0RDRUsxZnR6cklYcE0

Tengat waktu pendaftaran: 30 Juli 2014.

poster liwuto pasi landscape kecil

 

12 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


13 Mar 2014

Buku Baru Terbitan EFEO (Ecole française d’Extrême Orient)

Daripada beli, lebih baik menerapkan “collaborative consumption”. Buku-buku baru terbitan EFEO ini karya para peneliti Indonesi dan Preancis tentang Indonesia yang bermutu tinggi dan unik. Dapat dipinjam di Perpusakaan Rujak Center for Urban Studies.

photo 4

 

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


11 Dec 2013

Seminar “Menggali Pengetahuan Kota untuk Kota yang Ekologis”

 

RUJAK POSTER

Poster designed by @idznie

 

Dunia memasuki abad kota di mana lebih dari separuh penduduk dunia akan tinggal di wilayah perkotaan. Pertambahan penduduk di kota tentu akan menghadirkan tantangan baru khususnya dalam membawa kota menjadi lebih ekologis.

Perubahan menuju kota ekologis memerlukan pengetahuan. Pengetahuan adalah prasyarat untuk perubahan. Hak atas pengetahuan adalah hak mendasar, di samping penting sebagai prasyarat untuk mampu berperan serta dalam proses pengambilan keputusan tentang masa depan kota.

Sejak Agustus 2011, Rujak Center for Urban Studies bekerjasama dengan kaum muda dan komunitas di tiga kota; Surabaya, Semarang dan Makassar, menjalankan program bernama Dinamika Pengetahuan Perkotaan (DPP). Program ini bertujuan membangun dinamika-pengetahuan (knowledge dynamics) perkotaan di tiga kota-wilayah Indonesia sebagai perintis, dengan cara menyemangati produksi-bersama pengetahuan perkotaan dan pemanfaatannya ke dalam proses penyusunan kebijakan perkotaan.

Program dilaksanakan dengan mengkonsolidasikan penelitian dan penilaian yang sudah ada, memanfaatkan media-sosial untuk memetakan kegiatan produksi dan pengetahuan warga kota sehari-hari, dan menyelenggarakan forum konsultatif dengan memanfaatkan platform media-sosial dan lembaga-lembaga setempat lainnya. Di akhir program, proses produksi pengetahuan perkotaan telah terbangun di tiga kota dan menghasilkan mesin crowd-sourcing online; ayorek.org (Surabaya), makassarnolkm (Makassar) dan ugd.org (Semarang).

Melalui seminar ini, perwakilan dari ketiga kota akan melaporkan hasil program DPP.

Selain itu, saat ini, Pemerintah Pusat melalui Kementrian Dalam Negeri sedang menyusun RUU Perkotaan. Seminar ini juga dimaksudkan untuk mengajak peserta memberikan masukan yang lebih substantif dalam proses penyusunan RUU Perkotaan selain masukan dari ketiga kota.

 

Seminar akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal            :  Selasa, 17 Desember 2013

Waktu                         :  12.00-16.30 WIB (dimulai dengan makan siang)

Lokasi                         :  Hotel Treva Internasional, Jl. Menteng Raya No. 33 Jakarta Pusat

 

Bagi yang berminat hadir, silahkan mendaftar ke alamat email : info@rujak.org

Tempat terbatas.

 

 

 

 

No Comments »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |


10 Dec 2013

Pameran Hasil Program Pesanggrahan Bumi Pemuda Rahayu

 

BPR 14 Desember 2013

 

14 Desember 2013, Jam 10:00 –  16:00.

Bumi Pemuda Rahayu, Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Bantul, D.I. Yogyakarta.

Setelah hampir dua bulan, para pesanggrah di Bumi Pemuda Rahayu akan menyajikan berbagai bentuk karyanya. Hanya pada satu hari!

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


04 Dec 2013

Cultural Mapping

photo copy 3

 

Budaya menghasilkan ruang; ruang turut membentuk budaya. Hubungan yang nampaknya serta-merta itu umumnya mudah terlihat dan diceritakan di dalam konteks masyarakat tradisional. Tetapi, sebenarnya bahkan di dalam kota, pun yang merupakan produk modernisasi yang cepat, hubungan tersebut nyata. Hanya saja diperlukan metoda yang lebih khusus untuk menampilkan dan memahaminya. Dan itu penting untuk merencanakan masa depan.

Ini buku baru di Pustaka RCUS. Silakan menjadi anggota Pustaka Rujak Center for Urban Studies untuk membaca di tempat atau membawa keluar.

2 Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


27 Oct 2013

Iman pada Kota

oleh Adin

Beberapa bulan belakangan ini dalam twitter selalu aku twit kalimat ini ‘Seni untuk Kota Lestari’. Kalimat ini bukan kalimat latah dan asal yang kemudian aku distribusikan secara massif. Kalimat ini adalah sebentuk penegasan sikap berkesenian dalam merespons isu-isu terkini. Sebelum ‘menemukan’kalimat singkat itu, sering aku ngobrol sama Tri Aryanto, Noviaji, dan beberapa kawan yang lain. Sebenarnya kami itu berkesenian untuk apa sih? Capek-capek merawat ‘kegilaan’ ini namun tak tahu persis apa yang diperjuangkan. Meski sebenarnya tak disoreintasi-disorientasi amat. Setidaknya kalau menurut program yang dijalankan di Hysteria dan ketertarikan personalku, yang kulakukan mempunyai kecenderungan pada kota dan seni-seni urban. Namun kembali ke pertanyaan awal, untuk apa sih ini semua?

Dalam guyonan-guyonan minor, kami sering meledek diri sendiri dan Semarang, bahwa jikapun kota ini dihapus dalam peta,tak akan ada pengaruhnya dalam gegap gempita dunia seni di Indonesia. Sebagaimana diketahui, dalam politik representasi, yang dianggap Indonesia tuh hanya beberapa kota saja. Mereka secara sadar ataupun tak sadar merepresentasikan ‘yang Indonesia’, sementara kami yang di Semarang ini adalah konsumen isu dan wacana yang hampir selalu dari luar.

Jadi secara sinis aku kadang nganggap, Semarang ini kota cluster. Jagoan kandang, dan sering tak bersangkut paut dengan wacana besar bernama Indonesia, setidaknya dalam konteks dunia seni. Sebagai kota cluster ngapain juga sibuk dengan wacana kota lain, bahkan Indonesia, bukankah di kota ini sering timbul masalah-masalah yang harus direspons. Saatnya merespons isu kota sendiri dan tak berurusan dengan kota lain sebagaimana kota lain sebenarnya tak pernah berurusan dengan Semarang secara egaliter.

Makanya aku kadang ketawa masih ada gerakan-gerakan atas nama Indonesia di daerah-daerah yang itu-itu juga. Wilayah-wilayah yang sering menasbihkan diri sebagai pusat. Menggelikan.

Yah, itu tadi pikiran-pikiran sinis yang sering terlontar bersama teman-teman, ada positifnya juga yakni keengganan teman-teman untuk diposisikan diri sebagai konsumen wacana dari kota lain dan menjadi follower terus menerus.

antologi-tubuh-dan-kata-dewan-kesenian-semarang

 

‘Seni untuk Kota Lestari’ aku temukan setelah berkenalan dengan Marco Kusumawijaya. Memang idiomnya Marco namun tak sepenuhnya apa yang kami lakukan ini berdasar ide itu , aku dan beberapa teman merasa menemukan bahasa ungkap paling sederhana dari praksis yang kami lakukan bertahun-tahun. Dalam beberapa perbincanganku dengan Marco selalu ia tekankan bahwa kota-kota di Indonesia ini dibangun tanpa pengetahuan yang cukup. Tanpa pengetahuan yang cukup lalu kota dibangun secara asal, elitis dan tak pertisipatoris. Idealnya sebuah kota dibangun berdasar kebutuhan, harapan, dan pengetahuan warganya sehingga kota tak tumbuh secara ahistoris. Pembangunan non partisipatoris ini juga membuat warga enggan untuk ‘melibatkan’ diri dalam pembangunan. Kaitannya dengan isu ini, lalu di mana letak kesenian? Apakah ia hanya berdiam diri dan membangun menara gading sebagai milik kaum tertentu?

Tidak. Itu pilihanku dan teman-teman, semua bisa berkontribusi untuk menuju kota yang lebih baik, kota yang lestari, kota yang dibangun berdasar pendekatan jangka panjang dan sehat. Seringkali aku prihatin juga melihat praktik berkesenian teman-teman yang masih saja berjarak pada kotanya sendiri. Teriak melawan ketidakadilan, neolib dan isu-isu jauh lainnya tapi buta pada persoalan-persoalan di kotanya sendiri. Mereka tumbuh di awang-awang dan tak relevan juga kontekstual. Bagiku dan teman-teman, seni bisa kok memainkan peranan seperti halnya arsitektur, planologi, dan semua disiplin ilmu untuk berkontribusi pada perkembangan kota yang lebih baik. Dengan demikian kami juga menemukan iman dan alasan, untuk apa capek-capek bertahan.

Jauh dari funding, dari gegap gempita persoalan seni Indonesia, dan jauh dari sejahtera,ngapain bertahan? Banyak aku saksikan teman-teman lalu ‘menyerah’ dan dengan berbagai dalih menyatakan berhenti atau mengalihkan minatnya. Tak apa-apa sih, dan tak salah juga, tapi kalau hampir mayoritas begitu, aku pikir kok Semarang hingga 20 tahun ke depan cumak jadi penonton. Jangan lupa kota ini kekurangan orang-orang keras kepala dan sedikit gila. Apapun motifnya. Dan banyak kekurangan yang lain yang perlu dipetakan satu-satu lalu dicari solusinya. Saat ini persolan besar teman-teman seangkatanku adalah bertahan. Untuk kemudian bergerak lagi dan mencari strategi tepat. Dan tentu saja mereka butuh iman.

Seni untuk Kota Lestari, senantiasa kami gaungkan untuk mencari orang-orang atau komunitas yang seiman untuk bertahan,berstrategi, dan lantas merespons kota. Terserah dunia luar mau melihatnya sebagai apa. Kami memilih untuk kembali pada kota. Jangan lupa setelah otonomi daerah korupsi, kolusi, nepotisme, dan persoalan-persoalan lain semakin terdesentralisasi. Lalu dimana posisi seni? Tidak selamanya untuk advokasi sih, tapi langkah untuk kembali ke kota harus didorong secara terus-menerus supaya keberadaan kami tetap kontekstual dan relevan.

Aku kadang juga dikejutkan pernyataan teman-teman yang sering ingin merespons isu dari luar, tapi pada kotanya sendiri tak paham. Ah.. kasihan sekali, menyerap terlalu banyak tapi gagal membuatnya kontekstual dengan kotanya sendiri.

Pernyataan ini sempat kuuraikan saat diminta presentasi gagasan di Sanutoke, Jalan Tusam Timur Nomor 16, Banyumanik Semarang, Minggu, 12 Mei. Mas Eko Tunas secara khusus meminta saya untuk menguraikan gagasan tentang ‘Mau ke mana Arah Kesenian Semarang’. Judul yang cukup berat juga apalagi seolah-olah aku diposisikan sebagai representasi kota, alamak.
Dan kujawab, kami dan lingkaran jaringan kecil ini berlatih dan terus berlatih untuk mengorganisir diri dan mempunyai visi pada kota. Jangan lupa, Indonesia ada karena dibayangkan beberapa orang saja, Majalah Pujangga Baru yang diagung-agungkan dalam dunia sastra dan dihapalkan hampir katakanlah ratusan juta jiwa di Indonesia konon hanya diproduksi hanya 150 eksemplar. Aku masih ingat Benedict Anderson pernah mengatakan bangsa itu komunitas yang dibayangkan,dan ya, kami membayangkan kota dengan cara kami dan dan belajar membagi proyeksi itu sesuai kapasitas kami. Dan ya, aku mencari teman-teman yang seiman pada kota. Pada keadaan lebih baik dan dengan cara-cara yang masih masuk akal bagi kami. Tak mau muluk-muluk juga merubah kota dalam skala besar. Kami hanya menularkan kesadaran ini dan membangun basis nilai di antara teman-teman kenapa harus bertahan, dan kenapa harus kontekstual. Kota ini kekurangan orang-orang yang berkarakter, dan sekarang yang dibutuhkan adalah membangun basis nilai. Katakanlah disupport dana besar pun jika orang-orangnya tak siap pasti juga gagal dan hanya membuat mereka menggantungkan diri pada tali asih. Dan itu memalukan.
Kalau Jatiwangi bisa kenapa kami nggak? Kalau Sutanto Mendut bisa kenapa kami nggak? Kalau Ujung Berung bisa kenapa kami nggak? Lagian kami rata-rata masih muda, jenjang karir masih panjang, kenapa ragu?

 

adin mbuh

@mbuh_adin

2008 residensi di IVAA, 2009 rsd di CommonRoom,2011 manajer pmeran biennale Jogja XI,2012-2013 eks Tribun Jateng,2013 rsd di NKV Jerman,direktur Hysteria

semarang · adinhysteria.blogspot.com

No Comments »

| Agent of Change: none |