<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak &#187; Feature</title>
	<atom:link href="http://rujak.org/category/feature/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujak.org</link>
	<description>For a Better Jakarta. Everyone is Invited.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 03:28:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>SEBELUM KERETA TIBA</title>
		<link>http://rujak.org/2012/02/sebelum-kereta-tiba/</link>
		<comments>http://rujak.org/2012/02/sebelum-kereta-tiba/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 15:16:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3344</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:  Rika and Silvia Project Kereta api menjadi salah satu pilihan warga untuk terhubung dalam wilayah Se-Jabodetabek setiap harinya. Loket, peron, rel kereta dan lain-lain menjadi hal yang akrab dalam keseharian mereka. Sedemikian akrabnya, sehingga keberadaan di dalam ruang lingkup stasiun benar-benar menjadi bagian dari hidup, menjadi sesuatu yang biasa, lumrah. Fakta bahwa kereta api [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;" align="center"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/02/001_Sebelum-Kereta-Tiba_RikaAndSilviaProject_20-01-12.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3347" title="001_Sebelum Kereta Tiba_RikaAndSilviaProject_20 01 12" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/02/001_Sebelum-Kereta-Tiba_RikaAndSilviaProject_20-01-12.jpg" alt="" /></a></p>
<p style="text-align: left;" align="center">Oleh:  Rika and Silvia Project</p>
<p>Kereta api menjadi salah satu pilihan warga untuk terhubung dalam wilayah Se-Jabodetabek setiap harinya. Loket, peron, rel kereta dan lain-lain menjadi hal yang akrab dalam keseharian mereka. Sedemikian akrabnya, sehingga keberadaan di dalam ruang lingkup stasiun benar-benar menjadi bagian dari hidup, menjadi sesuatu yang biasa, lumrah. Fakta bahwa kereta api adalah salah satu alat trasportasi umum yang cukup diandalkan oleh warga seJabodetabek membuat kami, Rika and Silvia Project <sup>1</sup> memutuskan proyek pertama kami di stasiun kereta api.</p>
<p>Persinggungan warga pengguna KRL terhadap keberadaannya di ruang Stasiun Tebet Jakarta adalah hal yang menarik untuk diketahui lebih jauh. Pengguna ruang publik seperti di stasiun kereta memiliki kebutuhan tertentu, ruang gerak tertentu yang hanya bisa diketahui dengan menanyakan secara langsung atau terlibat sebagai pengguna. Sesuai dengan inisiatif awal, bahwa proyek ini didasari oleh keyakinan bahwa aspirasi warga dalam penataan ruang adalah sesuatu yang penting, maka kami melakukan simulasi.</p>
<p>Dengan berbekal alat peraga berupa Lego dan sebuah kamera perekam, mulai lah kami mengajak pengguna peron Stasiun Kereta Api Tebet untuk bermain menata ruang stasiun.</p>
<p>Secara umum, warga merasa fasilitas yang ada di Stasiun Tebet sudah mencukupi kebutuhan hanya kurang terawat. Area loket dirasa memadai dengan sedikit komentar mengenai perlunya papan jadwal kereta dipindah ke lokasi yang lebih mudah untuk dijangkau. Pilihan model bangku di peron yang ada sekarang disetujui oleh sebagian besar warga yang kami wawancarai. Daya tampung dan ukuran yang tidak mengambil ruang untuk bergerak di peron terlalu banyak menjadikan pilihan model bangku ini dianggap ideal.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/02/002_Sebelum-Kereta-Tiba_RikaAndSilviaProject_20-01-12.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3349" title="002_Sebelum Kereta Tiba_RikaAndSilviaProject_20 01 12" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/02/002_Sebelum-Kereta-Tiba_RikaAndSilviaProject_20-01-12.jpg" alt="" width="1064" height="709" /></a></p>
<p>Warga sebenarnya cukup terbuka dan memiliki pendapat yang bisa memperbaiki kualitas ruang publik serta mengetahui apa yang dibutuhkan. Beberapa hal yang menarik, misalnya keberadaan kios di dalam peron yang memang dibutuhkan, tetapi warga merasa tidak nyaman dengan adanya pedagang asongan di peron stasiun. Juga tentang pintu masuk tidak resmi dari arah belakang peron (bisa dilihat di video).</p>
<p>Pada dasarnya warga yang kami wawancarai tidak menuntut fasilitas yang berlebihan, atau menyarankan perubahan yang radikal. Dan, walau belum sepenuhnya berhasil mengajak warga untuk melakukan simulasi dengan Lego, tetapi cara ini bisa menarik opini warga yang berarti bagi kenyamanan penggunaan stasiun, utamanya Stasiun Tebet Jakarta.</p>
<p>Tautan video <a href="http://www.youtube.com/watch?v=kZd1HR60INk">http://www.youtube.com/watch?v=kZd1HR60INk</a></p>
<p><em>Rika &amp; Silvia Project merupakan inisiatif dua warga Jakarta, Rika Febriyani dan Silvia Honsa. Inisiatif ini meyakini jika aspirasi warga dalam penataan ruang adalah sesuatu yang penting. Sebab, sejatinya, bentukan kota adalah termasuk untuk memenuhi kebutuhan ruang gerak warga. Dengan bantuan alat peraga berupa Lego, dilakukan simulasi penataan ulang letak elemen-elemen penting di ruang publik atau tempat umum. Simulasi langsung melibatkan warga di tempat mereka berada, yang dalam kesehariannya menggunakan fasilitas publik atau berada di ruang publik. Sekilas simulasi ini memang lebih mirip &#8216;bermain&#8217;, daripada duduk serius mendiskusikan tata letak sebuah ruang, tetapi karena itu juga cara ini mungkin bisa diharapkan untuk menggali aspirasi warga.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2012/02/sebelum-kereta-tiba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Tunanetra Bertahan di Jakarta</title>
		<link>http://rujak.org/2011/11/cara-tunanetra-bertahan-di-jakarta/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/11/cara-tunanetra-bertahan-di-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 12:42:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[kerupuk]]></category>
		<category><![CDATA[tuna-netra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3224</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lilin Rosasanti.  Lewatlah Jalan Joglo Raya, Jakarta Barat pada sore hari. Anda akan menemukan setidaknya lima pedagang kerupuk tunanetra “berlomba” menjajakan dagangannya. Salah satunya adalah Sahwono, berjalan kaki sejauh 10 kilometer dari kediamannya di Meruya Selatan. &#8220;Dari Meruya muter dulu ke Kelapa Dua, Relasi Jl Arteri, sorenya mangkal di Joglo.&#8221; Sahwono berjalan dengan tongkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/11/Pasang-tiang.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3225" title="Pasang tiang" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/11/Pasang-tiang.jpg" alt="" width="518" height="679" /></a></p>
<p>Oleh: Lilin Rosasanti.  Lewatlah Jalan Joglo Raya, Jakarta Barat pada sore hari. Anda akan menemukan setidaknya lima pedagang kerupuk tunanetra “berlomba” menjajakan dagangannya. Salah satunya adalah Sahwono, berjalan kaki sejauh 10 kilometer dari kediamannya di Meruya Selatan. &#8220;Dari Meruya muter dulu ke Kelapa Dua, Relasi Jl Arteri, sorenya mangkal di Joglo.&#8221; Sahwono berjalan dengan tongkat yang digantungi beberapa kerupuk Bangka dengan merek “Purnama”.</p>
<p>Para penyandang tuna netra ini awalnya datang ke Jakarta untuk menjadi pemijat. Tahun 1995-1997, rata-rata para penyandang tuna netra bisa memijat sampai tujuh orang sehari. Beberapa tahun belakangan ini jumlah langganan pijat menurun hingga satu sampai dua orang sehari. Itu membuat mereka mencari sumber pendapatan lain. Menjual kerupuk menjadi pilihan karena tidak memerlukan proses memilih khusus.</p>
<p>Tidak seperti produk baju, kosmetik, atau tas, dimana penjual dan pembeli perlu melihat bagus tidaknya produk saat membeli. Mereka tetap mencintai profesinya sebagai pemijat, keahlian yang didapat saat sekolah ketrampilan di desa masing-masing.</p>
<p>Selama berjualan, mereka tak segan-segan meninggalkan lokasi bila seorang pelanggan pijatnya menelpon. Semua pedagang ini selalu membawa handphone di kantung, jenis telepon yang bisa mengeluarkan suara yang menunjukkan jam (karena mereka tak bisa melihat).</p>
<p>Mereka mengingat nomer telpon dengan dihafalkan. “Saya nggak pernah nyimpen nomer di hp. Yg penting dihafalkan. Ada sekitar 20-an nomer lebih yang saya hapal, nomer pelanggan pijet, warga rumah, sahabat,” ujar Sahwono. Ahmad mengakui hal yang sama. Ia bisa mengingat lebih dari 30 nomer telepon.</p>
<p>Kudhori, pemijat yang juga berjualan kerupuk, mempunyai target menghabiskan 50 kerupuk dalam 2-3 hari. Kerupuk yang dijual dengan harga Rp 5000-Rp 6000.</p>
<p>Dalam sebulan, keuntungan bersih rata-rata penjual kerupuk kurang lebih antara Rp 1,2 &#8211; Rp 1,5 juta rupiah. Jumlah itu tentu sangat minimal untuk biaya hidup dan sekolah anak. Untuk kontrak rumah sebulan, Arsidi (49 tahun) harus mengeluarkan uang sebesar Rp 750 ribu. Sewa rumah Haryanti (37 tahun) memang lebih murah, Rp 380 ribu per bulan.</p>
<p>Namun Arsidi maupun Haryanti masih memiliki anak yang bersekolah, dan mereka tidak pernah mendapatkan bantuan keringanan pendidikan. Beberapa kali Arsidi menghadap Kepala Sekolah, namun tidak pernah mendapatkan kabar baik. “Nanti Tuhan yang akan membantu,” sering terucap dari pihak sekolah. Mereka juga tidak pernah mendapatkan kartu Gakin (warga miskin). Ahmad, yang pernah protes kepada ketua RT justru mendapat jawaban ketus “Anda kan bukan warga Jakarta, Anda hanya menumpang di Jakarta”. Padahal, Ahmad mempunyai KTP Jakarta yang menunjukkan kependudukan resminya.</p>
<p>Mengenali uang kertas adalah kesulitan lain bagi para pedagang ini. Menurut Bank Indonesia seperti dikutip detikFinance (11/10/2010), mata uang yang beredar saat ini sudah ramah bagi penyandang tuna netra. Uang punya tanda khusus berbentuk geometri yang bisa dipelajari tuna netra setiap memegang uang koin. Kenyataannya, meski sudah secara otodidak mempelajari bentuk uang, mereka beberapa kali ditipu pembeli. “Uang dua ribu dan lima ribu sekarang nggak ada bedanya, jadi susah,” ucap Arsidi.</p>
<p>Berbeda dengan dulu, ada perbedaan ukuran antara uang Rp 5.000 dan Rp 10 ribu. Meski kerap ditipu, mereka tetap bertransaksi atas dasar kepercayaan terhadap pembeli, dengan cara bertanya nominal uang yang diberikan pembeli. Mayoritas pembeli memang memberi tahu berapa uang yang ia berikan, dan membantu terjadinya pembayaran dan pengembalian uang. Pedagang tuna netra memisahkan antara uang Rp 1.000 atau Rp 2.000 sebagai kembalian dan uang yang lebih besar seperti Rp 5.000, Rp 10 ribu, dan Rp 20 ribu di saku yang lain.</p>
<p>Dengan segala kesulitannya, mereka betah tinggal di ibukota karena banyak teman senasib. Menurut beberapa tunanetra dari Jawa Tengah (Pemalang, Purworejo, Magelang, Temanggung, Cilacap) hampir sebagian besar teman satu sekolah ketrampilan di desanya hijrah ke Jakarta. Kudhori, asal Pemalang, hijrah ke Jakarta meski sudah mempunyai pekerjaan di sebuah hotel di tempat asalnya dan memiliki pendapatan tetap. Begitu juga dengan Arsidi yang sempat membuat sapu di daerah Purworejo. Haryanti, asal Magelang, mengaku kabar dari mulut ke mulutlah yang membuatnya tertarik datang ke Jakarta. “Katanya di Jakarta banyak orang capek dan harganya lebih besar,” ujar ibu beranak empat ini.</p>
<p>Di Jakarta, para tuna netra ini di bergabung di beberapa paguyuban. Kegiatan yang sering mereka lakukan sebagian besar adalah arisan, yang tujuan sebenarnya bukan uang, tapi hanya berbagi cerita. Pertemuan yang dilakukan Khudori mewajibkan tiap anggotanya membayar 10 ribu yang terdiri dari uang arisan sebesar dua ribu dan delapan ribu untuk snack.</p>
<p>Selain arisan, kelompok ini juga memikirkan apa yang bisa mereka lakukan untuk kemajuan bersama. Misalnya, membentuk koperasi simpan pinjam. Koperasi ini adalah inisiatif bersama untuk membantu anggota yang memerlukan bantuan. Iuran pokoknya Rp 50 ribu, dan Rp 5 ribu per bulan. Dengan segala keterbatasannya, mereka bertahan hidup dengan mandiri di tengah hiruk pikuk kota Jakarta yang ternyata sangat mereka cintai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/11/cara-tunanetra-bertahan-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Kaki di Jakarta a la Tunanetra Penjual Krupuk</title>
		<link>http://rujak.org/2011/11/jalan-kaki-di-jakarta-ala-tunanetra/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/11/jalan-kaki-di-jakarta-ala-tunanetra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 00:51:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-kaki]]></category>
		<category><![CDATA[tuna-netra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3205</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lilin Rosasanti. Agus Wahono, 44 tahun, berjalan kaki sekitar 20 kilometer setiap harinya untuk berjualan kerupuk. Perjalanan sejauh itu ditempuhnya tanpa indra penglihatan, karena Agus adalah seorang tunanetra.       Ada banyak penjual kerupuk tunanetra seperti Agus. &#8220;Kalo pagi dari rumah Meruya Selatan, muter dulu ke Kelapa Dua, Relasi Jl Arteri, sorenya mangkal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><strong><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/11/Transaksi.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3208" title="Transaksi" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/11/Transaksi.jpg" alt="" width="504" height="374" /></a><br />
</strong></div>
<div>Oleh: Lilin Rosasanti.</div>
<div>Agus Wahono, 44 tahun, berjalan kaki sekitar 20 kilometer setiap harinya untuk berjualan kerupuk. Perjalanan sejauh itu ditempuhnya tanpa indra penglihatan, karena Agus adalah seorang tunanetra.</div>
<div>      Ada banyak penjual kerupuk tunanetra seperti Agus. &#8220;Kalo pagi dari rumah Meruya Selatan, muter dulu ke Kelapa Dua, Relasi Jl Arteri, sorenya mangkal di Joglo,&#8221; kata Sahwono, juga tunanetra pedagang kerupuk. Rute itu berjarak tak kurang dari 10 km.</div>
<div>     Biasanya para pedagang kerupuk tunanetra ini berjualan di jalan dari pagi hingga sore hari atau malam hari. Pukul 9 pagi hingga 4 sore, atau berangkat pukul 2 siang hingga 9 malam. Permasalahan seperti polusi kendaraan dan kemacetan menjadi makanan sehari-hari.</div>
<div>     Mereka berhadapan langsung dengan kondisi jalan dan lalu lintas yang tidak aman. Tidak ada balok pemandu tunanetra, selokan yang menganga, juga rambu lalu lintas dan jembatan penyebrangan yang tidak bersahabat. Trotoar yang digunakan untuk kepentingan selain pejalan kaki makin menambah beban.</div>
<div>    Tati Sugiarto (50 tahun) mengenang masa dimana kepentingan tunanetra diperhatikan penguasa kota. “Dulu di zaman Ali Sadikin, tunanetra yang berbekal <a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1972/12/09/NAS/mbm.19721209.NAS60979.id.html">tongkat merah putih</a> sangat diperhatikan. Bila sudah mengangkat tongkat, pengendara motor tidak akan berani ngebut,&#8221; kata Tuti.</div>
<div><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/11/seluruhjalan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3210" title="seluruhjalan" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/11/seluruhjalan.jpg" alt="" width="475" height="377" /></a></div>
<div>     Kini mereka berharap pemerintah kota menyediakan lampu merah dengan suara. Tunanetra juga ingin ada jalan khusus bagi tuna netra di jalan-jalan kecil yang mereka lalui, bukan hanya di jalan besar utama di Jakarta. Beberapa bahkan hanya mengharapkan pembuatan selokan yang lebih ramah. Mereka menginginkan selokan yang tidak terlalu dalam (karena banyaknya kemungkinan terjerembab), dilapisi dengan kawat atau ditutup rapat.</div>
<div>     Terperosok di selokan menjadi hal biasa di kalangan para tunanetra. Arsidi yang mengalami terperosok di selokan bersama istri, tabah menganggap kejadian berbahaya itu sebagai guyonan. Arsidi juga memilih tidak menggunakan bus TransJakarta dan lebih memilih bus biasa karena proses menuju halte yang rumit, dan antrian yang selalu panjang.</div>
<div>     Untuk berjualan setiap harinya, Sahwono mengandalkan kekuatan inderanya yang sangat terlatih.  Tongkat menjadi senjata utamanya. “Udah feeling aja. Waktu pertama kali jualan ya, asal jalan aja, sambil tanya-tanya,” kata Sahwono.</div>
<div>Seiring dengan waktu, mereka mulai mengenal “jalan tikus” bila ingin cepat sampai tujuan. “Mata aja yang nggak lihat, tapi perasaan kami sama. Perasaan di mana harus belok. Tidak tepat sekali, tapi seperti ada yang gandeng,” kata Ahmad.</div>
<div>     Entah karena kemampuannya beradaptasi atau sifat nrimo yang membuat pedagang tuna netra ini tidak mengeluhkan banyaknya kekurangan Jakarta sebagai sebuah kota. Tidak terpikir sama sekali bagi mereka untuk pulang kembali ke kampung halaman. “Jakarta bikin saya jadi keras. Jadi semangat,” kata Sahwono.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/11/jalan-kaki-di-jakarta-ala-tunanetra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SPBU dan Protes Warga</title>
		<link>http://rujak.org/2011/11/spbu-dan-protes-warga/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/11/spbu-dan-protes-warga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 03:59:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[pemukiman]]></category>
		<category><![CDATA[SPBU]]></category>
		<category><![CDATA[warga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3132</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Famega Syafira. Warga Kelurahan Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat protes pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum milik PT Total Oil Indonesia. SPBU itu beroperasi mulai 15 Oktober 2011, meskipun warga merasa tidak memberikan persetujuan. Padahal, persetujuan warga sekitar adalah salah satu syarat untuk mendapatkan Izin Gangguan sebagai syarat mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: left;"></div>
<div style="text-align: left;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/11/SPBU_trial1.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3173" title="SPBU_trial" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/11/SPBU_trial1.jpeg" alt="" width="560" height="400" /></a></div>
<div style="text-align: left;">Oleh Famega Syafira. Warga Kelurahan Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat protes pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum milik PT Total Oil Indonesia. SPBU itu beroperasi mulai 15 Oktober 2011, meskipun warga merasa tidak memberikan persetujuan. Padahal, persetujuan warga sekitar adalah salah satu syarat untuk mendapatkan Izin Gangguan sebagai syarat mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB).</div>
<div>&#8220;Sebagian besar warga menolak pembangunan SPBU dan tak memberikan izin,&#8221; kata Elizabeth, salah satu warga RT 13.</div>
<div>Elizabeth menolak keras pembangunan SPBU di lingkungan tempat tinggalnya karena membawa banyak dampak buruk.</div>
<div>Setidaknya ada tiga alasan yang mendasari keberatan ini. Sebagai ibu, Elizabeth khawatir uap bensin dari SBPU memberi dampak buruk bagi anaknya. Menurut <a href="http://www.oncolink.org/resources/article.cfm?c=3&amp;s=8&amp;ss=23&amp;Year=2004&amp;Month=08&amp;id=10996">penelitian</a>, anak yang tinggal di dekat SPBU punya risiko terkena leukimia empat kali lipat lebih besar dibanding anak-anak lain.</div>
<div>Alasan kedua adalah risiko kebakaran. Elizabeth mengaku terkejut saat melakukan riset kecil mengenai kasus kebakaran yang terjadi di SPBU. &#8220;Saya tak mengira ternyata ada banyak sekali kasus kebakaran di berbagai daerah,&#8221; kata dia. (Lihat box: Kasus-kasus Kebakaran SPBU). Keberadaan SPBU juga diduga memberi dampak negatif secara ekonomi.</div>
<div>Pemerintah bukan tak menyadari adanya potensi bahaya di sekitar SPBU. Keputusan Gubernur DKI 2863/2001 menyatakan depot pengisian bahan bakar minyak wajib dilengkapi analisis mengenai dampak lingkungan karena berpotensi menghasilkan limbah gas padat dan cair yang cukup besar</div>
<div>Warga sempat mengirimkan surat pembaca yang dimuat di <a href="http://detik.com/" target="_blank">detik.com</a>.</div>
<div>Sesudahnya, beberapa warga mendapatkan sms gelap yang berisi makian dan ancaman. Warga juga merasa mendapatkan ancaman tak langsung dengan embel-embel organisasi massa. &#8220;Saat dibangun, di proyek tertempel bendera FORKABI,&#8221; kata Elizabeth.</div>
<div>Meski tanpa izin warga, pembangunan tetap dilanjutkan hingga beroperasi. PT Total menyatakan telah memperoleh izin sesuai peraturan, tapi bagaimana bisa izin terbit tanpa persetujuan warga? Menurut peraturan Mendagri nomor 27 tahun 2009, IMB baru bisa terbit dengan seizin warga.</div>
<div>Pembangunan SPBU tanpa izin warga tak hanya sekali ini terjadi. Warga Cempaka Putih mengeluhkan hal yang sama, dengan modus serupa. Pemaksaan pembangunan SPBU juga terjadi di Jalan Bintaro Raya. Oktober 2009, PT Shell Indonesia menyatakan akan membangun SPBU di Jalan Bintaro Raya, RT 11 RW 10, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan.</div>
<div>23 warga menyatakan keberatan dan penolakan. Alasannya, pembangunan SPBU akan merugikan kepentingan pemukiman dan membahayakan kepentingan umum; antara lain ancaman kebakaran, menganggu keseharan dan mencemari air tanah.</div>
<div>Tanpa persetujuan warga, Izin Mendirikan Bangunan telah diterbitkan. Pada September 2010, warga meminta dokumen tersebut namun tak diberikan. Desember 2010, sembilan warga, termasuk istri budayawan Nucholish Madjid, Omi Komeria Madjid, mengajukan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara.</div>
<div>Putusan pengadilan pada 18 Mei 2011 mengabulkan gugatan warga. Kepala Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan DKI justru mengajukan banding bersama Shell. Dian Try Irawaty, peneliti Rujak Center For Urban Studies menilai bahwa pembangunan SPBU tanpa izin telah mengabaikan kepentingan masyarakat. &#8220;Pemerintah malah melindungi penanam modal,&#8221; kata dia.</div>
<div>Protes warga tak diindahkan, pembangunan tak dilakukan dengan keterbukaan, proses perizinan pun ditutup-tutupi. Pembangunan SPBU di daerah pemukiman, menimbulkan kecurigaan bahwa kota ini dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa tata kota yang terencana. Dengan pertumbuhan kendaraan yang sangat pesat, berapa banyak lagi SPBU yang akan dibangun di wilayah pemukiman?</div>
<div>Adakah hal semacam ini juga terjadi di sekitar tempat tinggal Anda? Berbagilah dengan warga yang lain melalui e-mail info@rujak.org atau laporkan lengkap lokasinya ke <a href="www.klikjkt.or.id">www.klikjkt.or.id.</a></div>
<div>Baca juga: <a href="http://rujak.org/2011/11/warga-dan-lika-–-liku-perizinan-bagian-1/">Warga dan Lika-liku Perijinan</a>.</div>
<div>
<div id=":q" data-tooltip="Show trimmed content"><img src="https://mail.google.com/mail/images/cleardot.gif" alt="" /></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/11/spbu-dan-protes-warga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Three Recommended Articles Today</title>
		<link>http://rujak.org/2011/10/three-recommended-articles-today/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/10/three-recommended-articles-today/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 03:01:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[bicycle]]></category>
		<category><![CDATA[map]]></category>
		<category><![CDATA[skin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3113</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Faraday Utility Bike - http://changeobserver.designobserver.com/entry.html?entry=30718 Everything Sings: Maps for a Narrative Atlas - http://places.designobserver.com/entry.html?entry=30358 Zerofootprint Re-Skinning Awards 2011 Winners and Finalists - http://places.designobserver.com/entry.html?entry=30758]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<div>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/10/RockLobster1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3115" title="RockLobster1" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/10/RockLobster1.jpg" alt="" width="423" height="413" /></a><a href="http://changeobserver.designobserver.com/entry.html?entry=30718">Faraday Utility Bike</a> -<br />
<a href="http://changeobserver.designobserver.com/entry.html?entry=30718">http://changeobserver.designobserver.com/entry.html?entry=30718</a></p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/10/wood-map-4_525.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3118" title="wood-map-4_525" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/10/wood-map-4_525.jpg" alt="" width="525" height="448" /></a></p>
<p><a href="http://places.designobserver.com/entry.html?entry=30358">Everything Sings: Maps for a Narrative Atlas</a> -<br />
<a href="http://places.designobserver.com/entry.html?entry=30358">http://places.designobserver.com/entry.html?entry=30358</a></p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/10/toronto-reskinning_525.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3117" title="toronto-reskinning_525" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/10/toronto-reskinning_525.jpg" alt="" width="525" height="393" /></a></p>
<p><a href="http://places.designobserver.com/entry.html?entry=30758">Zerofootprint Re-Skinning Awards 2011 Winners and Finalists</a> -<br />
<a href="http://places.designobserver.com/entry.html?entry=30758">http://places.designobserver.com/entry.html?entry=30758</a></p>
</div>
</div>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/10/three-recommended-articles-today/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BUDAYA VISUAL  DAN LEDAKAN INFORMASI: Oleh-oleh dari Jepang</title>
		<link>http://rujak.org/2011/09/budaya-visual-dan-ledakan-informasi-oleh-oleh-dari-jepang/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/09/budaya-visual-dan-ledakan-informasi-oleh-oleh-dari-jepang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 05:15:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[tokyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3025</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Hikmat Darmawan. Udara dan ruang penuh informasi. Stasiun-stasiun Tokyo, baik di lintasan jalur Yamanote yang jadi lingkar pusat jalur kereta Tokyo, maupun di stasiun-stasiun subway-nya. Ledakan informasi, seperti hana-bi (festival kembang api): penuh warna, meriah, dan ditonton dengan keriaan yang takzim. Informasi dalam bentuk rupa: peta rute dengan menit-menit waktu kereta, poster tentang jangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3027" class="wp-caption aligncenter" style="width: 537px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Peta-kereta-Tokyo-subway-dan-jalur-atas_s.jpg"><img class="size-full wp-image-3027 " title="Peta kereta Tokyo, subway dan jalur atas_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Peta-kereta-Tokyo-subway-dan-jalur-atas_s.jpg" alt="" width="527" height="341" /></a><p class="wp-caption-text">Peta kereta Tokyo, subway dan jalur atas.</p></div>
<p>Oleh: Hikmat Darmawan.</p>
<p>Udara dan ruang penuh informasi. Stasiun-stasiun Tokyo, baik di lintasan jalur Yamanote yang jadi lingkar pusat jalur kereta Tokyo, maupun di stasiun-stasiun <em>subway</em>-nya. Ledakan informasi, seperti <em>hana-bi</em> (festival kembang api): penuh warna, meriah, dan ditonton dengan keriaan yang takzim.</p>
<p>Informasi dalam bentuk rupa: peta rute dengan menit-menit waktu kereta, poster tentang jangan lari terburu masuk kereta atau tentang bagaimana sebaiknya membawa tas ransel dalam kereta, iklan, <em>signage</em>, pengumuman digital tentang posisi kereta, dan sebagainya.</p>
<p>Informasi dalam bentuk suara: pengumuman-pengumuman tentang, antara lain, tujuan dan stasiun berikut serta tentang adab naik kereta; juga kode bunyi untuk memberi tahu penumpang yang buta bahwa pintu kereta sedang membuka; dan sebagainya.</p>
<p>Informasi dalam bentuk rupa-suara (audio-visual): TV kereta, yang berisi iklan-iklan produk dan berbagai pengumuman tentang posisi kereta.</p>
<div id="attachment_3030" class="wp-caption aligncenter" style="width: 543px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/keluar-stasiun-subway-sudah-banyak-informasi_s-.jpg"><img class="size-full wp-image-3030 " title="keluar stasiun subway sudah banyak informasi_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/keluar-stasiun-subway-sudah-banyak-informasi_s-.jpg" alt="" width="533" height="338" /></a><p class="wp-caption-text">Pada pintu masuk/keluar stasiun sudah banyak informasi</p></div>
<p>Masih ada beberapa bentuk informasi lain yang bisa didapat para penumpang. Terutama, peta jalur kereta Tokyo, yang tersedia versi selembar yang bisa dilipat-lipat dan versi <em>booklet</em> yang dilengkapi dengan keterangan tempat-tempat utama di Tokyo beserta berbagai atraksi utama mereka bagi para turis asing (informasi dalam bahasa Inggris).</p>
<p>Jika itu masih belum cukup, setiap petugas di setiap stasiun akan sangat membantu, walau seringkali mereka tak bisa berbahasa Inggris atau berbahasa Inggris yang terpatah-patah. Begitu juga jika stasiun dekat dengan <em>komban </em>(pos polisi), para polisi dengan ramah dan gigih akan berusaha memberi keterangan dan membantu Anda yang kebingungan. Dan di luar stasiun, masih ada berbagai medium informasi, termasuk mading (majalah dinding) dan peta daerah berbentuk mading.</p>
<p>Ledakan informasi ini jelas asyik buat yang para pengunjung kota dari mancanegara yang tak bisa berbahasa Jepang. Dan di dalam sistem kereta yang sungguh rumit di Tokyo, banyak warga Jepang sendiri (baik dari luar Tokyo maupun dari dalam Tokyo) yang sering kebingungan, kehilangan arah, di stasiun-stasiun besar Tokyo macam stasiun Tokyo, Shibuya, Shinjuku, Akihabara, atau Ueno.</p>
<p>Tapi, jika ditanya, ada saja warga Tokyo yang agak jengkel dengan keberlimpahan informasi tersebut. Khususnya, arus informasi di jalur Yamanote, yang sangat &#8220;cerewet&#8221;. Seorang kakek mengomel, &#8220;Saya tak butuh diajari terus-menerus, bagaimana cara naik kereta!&#8221; Kebanyakan warga, sebagaimana citra <em>stoic </em>(kalem) orang Jepang, naik kereta-kereta cerewet itu dengan anggun, atau bersibuk dengan buku di tangan, atau HP dan <em>game</em> di Gameboy, iPad atau Galaxy Pad, atau laptop mereka.</p>
<p><em>Toh</em>, pada saat Gempa Tohoku 11 Maret 2011, banyak perangkat informasi di stasiun-stasiun dan kereta Tokyo berfungsi menjadi saluran info bencana. Saat gempa usai, dalam waktu beberapa menit saja, para petugas stasiun menjadi salah satu sumber informasi yang aktif memberi keterangan pada warga mengenai gangguan operasi kereta di Tokyo. Dalam waktu beberapa hari, di stasiun-stasiun ramai Tokyo, dipasang TV layar datar ukuran besar untuk info bencana selama stasiun beroperasi (rata-rata dari subuh hingga tengah malam).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bangsa Paling Visual?</strong></p>
<p>Banyak informasi di stasiun kereta dan dalam kereta Jepang berbentuk komik dan animasi. (Sebetulnya, boleh dibilang di seluruh Jepang, banyak informasi yang berbentuk komik dan animasi.) Di kota-kota besar Tokyo, berlimpah informasi berbentuk visual, baik berupa gambar (komik, kartun, dsb.) atau foto.</p>
<p>Apakah ada hubungan antara lekatnya bangsa Jepang pada budaya visual, dan kegandrungan mereka pada informasi?</p>
<p>Saya tak akan berpretensi memberi jawaban ilmiah di sini. Saya bahkan tak yakin akan menyodorkan jawaban definitif. Saya hanya akan berbagi kesan saja. Kesan yang saya duga mudah kita dapati jika kita berkesempatan menelusuri jalan-jalan di Tokyo, atau kota mana pun di Jepang.</p>
<div id="attachment_3032" class="wp-caption aligncenter" style="width: 550px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Tempat-antri-menanti-kereta_s.jpg"><img class="size-full wp-image-3032 " title="Tempat antri menanti  kereta_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Tempat-antri-menanti-kereta_s.jpg" alt="" width="540" height="594" /></a><p class="wp-caption-text">Tempat antri menanti kereta.</p></div>
<p>Yang segera tertangkap, memang, jalan-jalan dan ruang-ruang publik Jepang dibuat dengan kesadaran besar akan <em>dipandang</em>. Bukan sekadar, misalnya, jalan-jalan yang ditata rapi dan pohon-pohon resik dan lezat dipandang. Bukan pula sekadar karena lautan neon di Shinjuku, Shibuya, atau Ginza, yang seolah jadi gambaran wajib dalam kartu-kartu pos atau film-film bertempat &#8220;Jepang modern&#8221;. Juga bukan sekadar karena kita temui patung-patung karya seniman kontemporer dunia di jalan Maranouchi, dekat stasiun Tokyo dan istana Kaisar.</p>
<p>Ada semacam kesadaran kuat tentang kegiatan <em>memandang </em>dan kesediaan <em>dipandang</em> di jalan-jalan dan ruang terbuka Jepang. Kesadaran yang tak hanya mewujud dalam penataan ruang dan benda-benda pendukungnya, tapi juga mewujud dalam bagaimana orang-orang Jepang membawa diri mereka di jalanan.</p>
<p>Ketika membahas lukisan <em>nude</em> di Barat dalam <em>Ways of Seeing </em>(1972), John Berger mengungkap: &#8220;<em>A woman must continually watch herself. She is almost continually accompanied by her own image of herself. …Men look at women. Women watch themselves being looked at. …Thus she turns herself into an object –and most particularly an object of vision: a sight.</em>&#8221;</p>
<p>Saya merasakan bahwa gambaran Berger tentang perempuan Barat itu juga hadir pada orang-orang Jepang, baik perempuan atau pun lelaki mereka. Orang-orang Jepang selalu memikul beban menjadi <em>yang dipandang</em>. Mereka mengatur sikap tubuh mereka, cara mereka berpakaian, tampil, serta bergerak, agar sesuai standar tertentu bagi sebuah objek penglihatan (<em>object of vision</em>). Mereka seolah masuk ke jalan dengan selalu mawas risiko akan menjadi <em>pemandangan </em>(<em>sight</em>).</p>
<div id="attachment_3035" class="wp-caption aligncenter" style="width: 489px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Jalan-sebagai-teater-imaji_s.jpg"><img class="size-full wp-image-3035" title="Jalan sebagai teater imaji_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Jalan-sebagai-teater-imaji_s.jpg" alt="" width="479" height="677" /></a><p class="wp-caption-text">Jalan sebagai teater imaji.</p></div>
<p>Jalanan adalah teater, dan di Tokyo, teater itu dipenuhi peran-peran yang mudah dikenali dari &#8220;kostum&#8221; mereka: <em>salary man</em>, perempuan-perempuan kaya, <em>otaku</em>, pelajar, <em>obo-chan </em>(kaum nenek yang biasanya hidup sendiri), para pemberontak, dan sebagainya. Imaji (<em>image</em>) dan segala pirantinya, khususnya <em>fashion </em>dan <em>fad</em>, adalah aparatus penting bagi status sosial di Jepang.</p>
<p>Donald Ritchie, dalam <em>Image Factory </em>(2003), menulis: &#8220;…<em>in a place so status conscious as Japan, self-image is important and new image indicators are in demand</em>.&#8221; Selalu ada tuntutan pasar yang besar bagi piranti-piranti dan produk-produk imaji di Jepang.</p>
<p>Ketika sejak 1950-an Jepang mengawinkan kecenderungan budaya mereka pada budaya imaji dengan sistem ekonomi-konsumsi <em>ala </em>Amerika Serikat yang barangkali lebih efektif dari AS sendiri, Jepang menjadi Pabrik Imaji (<em>Image Factory</em>) yang khas. Imaji menjadi bukan saja aksesori, tapi semacam alat untuk bertahan hidup.</p>
<div id="attachment_3037" class="wp-caption aligncenter" style="width: 417px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Jalan-sebagai-teater_s1.jpg"><img class="size-full wp-image-3037" title="Jalan sebagai teater_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Jalan-sebagai-teater_s1.jpg" alt="" width="407" height="618" /></a><p class="wp-caption-text">Jalan sebagai teater</p></div>
<p>Seorang akuntan, selama lima hari kerja, bertampang khas <em>salary man </em>yang <em>culun</em>: jas dan dasi, sepatu kulit, kaca mata lebar. Tapi, di mejanya, ada foto dirinya dalam kehidupan lain: berambut jambul Elvis, jaket kulit, siap menari <em>rockabilly </em>di Taman Yoyogi di hari Minggu. Ia mengaku pada teman saya, Rane Hafiedz, yang bekerja di NHK, bahwa ia bisa gila jika tak punya &#8220;kehidupan lain&#8221; itu.</p>
<div id="attachment_3034" class="wp-caption aligncenter" style="width: 488px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Informasi-dalam-lautan-neon_s.jpg"><img class="size-full wp-image-3034" title="Informasi dalam lautan neon_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Informasi-dalam-lautan-neon_s.jpg" alt="" width="478" height="629" /></a><p class="wp-caption-text">Informasi dalam lautan neon</p></div>
<p><em>Imaji sebagai alat bertahan hidup?</em> Hal ini terutama masuk akal dalam sebuah budaya yang menganggap kegiatan <em>memandang </em>sebagai sesuatu yang amat penting.</p>
<p>Ambil misal, kenapa Jepang dikenal sebagai &#8220;negeri Sakura&#8221;. Bukan karena ini negeri satu-satunya tempat Sakura, yang sebetulnya adalah pohon <em>cherry</em>, tumbuh. Tapi, karena di Jepang, bunga Sakura yang hanya mekar dua minggu, amat dirayakan. Setiap musim Sakura, pesta <em>hanami </em>dirayakan di seluruh negeri. Apakah &#8220;<em>hanami</em>&#8220;? Tak lain, kegiatan <em>menatap bunga</em> (yang selalu berarti, <em>menatap Sakura</em>).</p>
<p>Sambil <em>menatap Sakura</em>, orang-orang Jepang di taman-taman mereka menggelar alas kain, berkumpul sesama teman, kerabat, atau keluarga, bergurau dan bercanda, makan-makan, minum <em>sake </em>dan bir, berpesta. Sembari <em>menatap Sakura</em>, mereka saling mendekatkan diri.</p>
<p>Karena kegiatan <em>memandang</em>, <em>menatap</em>, <em>melihat</em>, dianggap sangat penting di Jepang, tak heran jika negeri ini jadi negeri penghasil kamera terpenting di dunia. Menjadi sebuah stereotipe yang mudah disetujui: turis-turis Jepang menenteng kamera ke mana saja, dan memotret apa saja. Di dalam negeri mereka sendiri, hal itu memang kelaziman. Kamera adalah bagian amat penting dalam kehidupan manusia Jepang modern.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Informasi Visual</strong></p>
<p>Adalah seolah alamiah belaka jika orang Jepang menyerap informasi secara visual. Peradaban Jepang dibangun antara lain dibangun oleh aksara Kanji yang diimpor dari Cina. Satu karakter tak melambangkan sebuah bunyi seperti dalam aksara Latin, tapi melambangkan satu atau lebih makna.</p>
<p>Karakter-karakter Kanji itu sendiri lekat dengan budaya visual. Aksara Kanji bersifat ideografis (melambangkan ide) dan piktografis (melambangkan gambar/imaji). Banyak karakter Kanji sebetulnya turunan atau permutasi dari sebuah imaji.</p>
<div id="attachment_3039" class="wp-caption aligncenter" style="width: 536px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Parung-seniman-kontemporer-dunia-di-Jalan-Maranouchi_s.jpg"><img class="size-full wp-image-3039" title="Parung seniman kontemporer dunia di Jalan Maranouchi_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Parung-seniman-kontemporer-dunia-di-Jalan-Maranouchi_s.jpg" alt="" width="526" height="395" /></a><p class="wp-caption-text">Patung seniman kontemporer di Jalan Marounochi</p></div>
<p>Contoh, seperti yang saya ambil dari <em>Anndundon.com</em>:</p>
<p>Dengan bangun peradaban berbasis Kanji yang piktografis ini, orang Jepang tentu saja lebih cenderung pada berbagai bentuk komunikasi visual. Seperti kata Frederick Schodt, seorang peneliti <em>manga</em> (komik Jepang)<em> </em>paling otoritatif, yang dikutip oleh Donald Ritchie: &#8220;<em>…the Japanese are predisposed to more visual forms of communication owing to their writing system. Calligraphy… might be said to fuse drawing and writing.</em>&#8221; (<em>The Image Factory</em>, 2003)</p>
<p>Dan, perhatikanlah dunia kita saat ini. Salah satu ciri paling menonjol dunia kita saat ini adalah: dunia kita semakin visual. Limpahan data dan informasi kini seolah tak bisa lagi tertampung hanya dalam satu moda sistem simbol macam aksara Latin. Teknologi informasi yang semakin cepat memungkinkan bit-bit data yang membentuk gambar bisa tersirkulasi dengan amat cepat.</p>
<p>Informasi bisa dipadatkan, juga dibikin lebih <em>sexy</em>, jika diwujudkan dalam bentuk visual. Animasi, infografis, film, komik, fotografi, seni rupa di ruang publik, <em>street art</em> berupa mural dan <em>graffiti</em>, menjadi moda-moda komunikasi visual yang teramat lazim saat ini.<em> </em>Dalam dunia yang semakin visual ini, tak heran jika produk-produk visual dari Jepang kini mendominasi lanskap budaya pop global.</p>
<p>Seperti kata Donald Ritchie: &#8220;<em>The successful and self-perpetuating factory which is Japan&#8217;s image enterprise has operated for centuries but it is only now, in this age of instant communication, that it reveals itself as a major industry… As William Gibson, scholar of the Japanese new, has noted, &#8216;cultural change is essentially technologically driven …the Japanese have been doing it for more than a century now and they really do have a head start on the rest of us.&#8217; </em>&#8221; (<em>The Image Factory</em>, 2003)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Antara Tokyo dan Jakarta</strong></p>
<p>Selama di Tokyo, hingga saat balik ke Jakarta Juni 2011 lalu, saya seringkali tergigit oleh banyak ketiadaan di kota asal saya ini. Jangan salah, saya tak sedang mengharapkan Jakarta jadi Tokyo, atau kita jadi Jepang. Saya rasa, kita memang tak perlu menjadi Jepang dan Jakarta tak perlu menjadi Tokyo.</p>
<p>Tapi, ada hal-hal dasar yang perlu ada di kota kita. Transportasi umum sebagai nadi lalulintas kota, jalur pejalan kaki dan sepeda yang memadai, sirkulasi informasi dan barang yang lancar, adalah hal-hal yang layak diharapkan bukan hanya untuk Jakarta, tapi untuk seluruh Indonesia.</p>
<p>Balik ke Jakarta setelah hampir setahun pergi, dari Bandara Soekarno-Hatta ke Jagakarsa, saya melewati jalan Antasari. Tiang-tiang beton pasak jalanan, matahari terang dan terik, debu-debu di tengah banyak bangunan kotor atau ditinggalkan. Saya membatin, betapa buruk wajah Jakarta saat ini.</p>
<p>Saya ingat percakapan saya dengan Mouly Surya (sutradara pemenang Citra untuk filmnya, <em>fiksi.</em>) di Yurakucho, dekat Ginza, November 2010. Waktu itu, ia ikut <em>workshop </em>pembuatan film di Festival Filmex 2010, Tokyo. Mouly bicara betapa ia mendamba bikin film di Tokyo. &#8220;Habis,&#8221; kata Mouly, &#8220;kota ini estetis sekali.&#8221; Sementara, kata Mouly, Jakarta sudah sangat &#8220;tidak estetis&#8221;, karena, &#8220;<em>gue sih </em>merasa, Jakarta itu sudah hilang kepribadiannya.&#8221;</p>
<p>Bisa dipahami. Mata sinematografis Mouly pasti tergoda sangat untuk membuat film di Tokyo: taruh kamera di mana saja di sudut Tokyo, dan kau niscaya akan dapat gambar sedap! Tapi, saya juga ingat percakapan lain.</p>
<p>Sekitar 2006, saya berbincang dengan Irfan Amalee, punggawa lini Pelangi di penerbit Mizan, yang juga banyak aktif sebagai pembuat dokumenter. Irfan tak merasa dirinya &#8220;orang film&#8221;, tapi ia aktif menggunakan kamera untuk &#8220;perubahan perilaku&#8221;.</p>
<p>Ia mencontohkan, bagaimana ia merekam anaknya menangis, lalu memutar rekaman kamera itu untuk berbincang dengan anaknya mengenai polah menangis itu. &#8220;Biasanya <em>kan</em> kita tak pernah melihat diri kita sendiri. <em>Nah</em>, dengan kamera, kita bisa dibantu melihat diri kita sendiri, lalu memikirkan bagaimana mengubah diri kita jika diperlukan,&#8221; kata Irfan.</p>
<p>Ia pun menerapkan konsep ini untuk merekam, misalnya, muhibah sekolah internasional ke sebuah pesantren di Jawa Barat, dan membincang lewat filmnya, kemungkinan-kemungkinan, seperti istilah Irfan, &#8220;<em>breaking down the wall</em>&#8221; antara dua dunia tersebut (dunia anak-anak AS dan anak-anak pesantren).</p>
<p>Saya kira, sekaranglah saatnya memberdayakan media visual semacam itu untuk Jakarta. Justru di saat-saat Jakarta sedang buruk rupa kinilah, kita perlu merekamnya banyak-banyak, dan mempertontonkan rekaman-rekaman visual tersebut ke sebanyak mungkin warga.</p>
<p>Apa yang dilakukan oleh Rika Febriyani di <em>Rujak.org </em>lewat rangkaian laporan visual <em><a href="http://rujak.org/2011/07/duduk-manis-sepanjang-kota/">Duduk &#8220;Manis&#8221; Sepanjang Kota</a></em> dan <em><a href="http://rujak.org/2011/01/album-kompilasi-menghasrati-halte/">Album Kompilasi Menghasrati Halte</a></em> adalah contoh penggunaan media visual semacam itu. Sayang, Rika masih menggunakan kamera HP dengan resolusi rendah untuk rekaman-rekaman visualnya itu, sehingga sirkulasi dokumentasinya agak terbatas di situs macam <em>Rujak.org </em>atau blog saja.</p>
<p>Padahal, menarik juga jika rekaman-rekaman visual tersebut bisa dicetak jadi foto-foto yang jelas dan tajam, ukuran besar atau setidaknya tak kecil, lalu dipajang di situs-situs yang direkam oleh Rika tersebut. Sehingga warga yang sehari-hari di sana itu dapat mengakses rekaman polah mereka sehari-hari itu, wajah mereka yang terekam kamera itu, membicarakannya, membacanya semoga dengan cara baru.</p>
<p>Dengan media, kita bisa memandang Jakarta dengan cara lain. Tak perlu menunggu Jakarta jadi fotogenik dulu, sebelum para pembuat film mau membuat film tentang Jakarta. Saat ini, <em>toh </em>perkembangan teknologi informasi telah memberi banyak pilihan bekerja dengan media yang bisa jadi murah saja. Kamera digital, atau bahkan sekadar HP saja, bisa jadi cukup, walau tak ada salahnya mencari alat-alat yang lebih <em>ciamik</em> jika ingin hasil optimal.</p>
<p>Justru sekarang saatnya menaruh kamera di jalan Antasari hingga Blok M, merekam salah satu sudut terburuk Jakarta, hingga pembangunan jalan tersebut selesai, lalu menayangkannya ke seluruh warga Jakarta (atau dunia, misalnya lewat <em>Youtube.com</em> atau film dokumenter untuk diedarkan secara internasional). Sambil, misalnya, membingkainya dengan pertanyaan: <em>apa makna jalan buruk rupa itu? Apa makna Jakarta saat ini, yang terbaca dari rekaman-rekaman buruk rupa Jakarta tersebut?</em></p>
<p>Di Tokyo, saya mengalami euforia akibat ledakan informasi. Di Jakarta, saya mengalami ledakan kekacauan (<em>chaos)</em> pemaknaan dan penataan kota. Tapi, <em>chaos </em>mengandung informasi-informasinya sendiri, bukan? Kita perlu memasuki <em>chaos </em>Jakarta, untuk bisa membaca lebih dalam Jakarta. Dengan begitu, kita masih berharap dan bekerja untuk sebuah Jakarta yang lebih baik. ***</p>
<div id="attachment_3040" class="wp-caption aligncenter" style="width: 570px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Waktu-kedatangan-kereta-yang-amat-tepat_s.jpg"><img class="size-full wp-image-3040 " title="Waktu kedatangan kereta yang amat tepat_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Waktu-kedatangan-kereta-yang-amat-tepat_s.jpg" alt="" width="560" height="287" /></a><p class="wp-caption-text">Waktu kedatangan kereta yang amat tepat</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/09/budaya-visual-dan-ledakan-informasi-oleh-oleh-dari-jepang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Duduk Manis Sepanjang Kota</title>
		<link>http://rujak.org/2011/07/duduk-manis-sepanjang-kota/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/07/duduk-manis-sepanjang-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 03:09:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[duduk]]></category>
		<category><![CDATA[Rika Febriyani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2972</guid>
		<description><![CDATA[Teks dan foto: Rika Febriyani. “Mari, silahkan duduk” begitu biasanya sambutan tuan rumah. Pada beranda di sekeliling pintu masuk rumah, juga ruang tamu di dalam rumah, lazim tersedia kursi atau bangku, bahkan sofa, untuk para tamu. Iseng-iseng mengibaratkan Jakarta sebagai tuan rumah, dimana tempat duduk bagi tamu? Tak banyak lho, tempat duduk tersedia untuk sekitar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teks dan foto: Rika Febriyani.</p>
<p>“Mari, silahkan duduk” begitu biasanya sambutan tuan rumah. Pada beranda di sekeliling pintu masuk rumah, juga ruang tamu di dalam rumah, lazim tersedia kursi atau bangku, bahkan sofa, untuk para tamu. Iseng-iseng mengibaratkan Jakarta sebagai tuan rumah, dimana tempat duduk bagi tamu?</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/1_s.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2973" title="1_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/1_s.jpg" alt="" width="529" height="412" /></a></p>
<p>Tak banyak lho, tempat duduk tersedia untuk sekitar 8 juta warga di sepanjang kota ini. Maka, ketika terduduk pada bangku dari batu dan semen, pose dan senyum bapak ini bisa meluncur begitu saja. Bangku ini ada di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, tepatnya di bawah jalan layang Benhil – Karet. Salah satu tempat dari berkilometer panjang jalanan nyaris tanpa ruang duduk. (Foto 1)</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/2_s.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2974" title="2_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/2_s.jpg" alt="" width="516" height="379" /></a></p>
<p>Gerak dan posisi tubuh agaknya tak bisa mungkir dari kebutuhan untuk duduk. Tanpa tempat duduk, bukan lalu warga melulu berdiri. Di sepanjang kota, pinggiran pot dan batu hias jadi salah satu pilihan tempat duduk warga. (Foto 2 &amp; Foto 3)</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/3_s.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2975" title="3_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/3_s.jpg" alt="" width="493" height="358" /></a></p>
<p>Bahkan di stasiun dan terminal, pintu masuk Jakarta, tempat duduk entah lari kemana. Duduk melantai di sekitar loket Stasiun Kereta Api Gambir, juga terminal-terminal bus, adalah pemandangan keseharian. (Foto 4 &amp; Foto 5)</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/4.-Duduk-melantai-di-Stasiun-Gambir_s.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2976" title="4. Duduk melantai di Stasiun Gambir_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/4.-Duduk-melantai-di-Stasiun-Gambir_s.jpg" alt="" width="576" height="432" /></a><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/5.-Duduk-melantai-di-Terminal-Pulogadung_s.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2977" title="5. Duduk melantai di Terminal Pulogadung_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/5.-Duduk-melantai-di-Terminal-Pulogadung_s.jpg" alt="" width="576" height="432" /></a></p>
<p>Pilihan lain untuk duduk, ditemukan para pramuniaga, pada pinggir trotoar. Saat jam istirahat, di penggal jalan antara pusat perbelanjaan Grand Indonesia dan Plaza Indonesia, mereka terduduk di sana, menikmati aneka kudapan ringan. Para pramuniaga ini mencari nafkah di Jakarta, dan karenanya hidup di sini. Kalau mereka dibilang tuan rumah, lha, dimana tamu-nya akan duduk?  (Foto 6)</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/tepijalan_s.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2978" title="tepijalan_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/tepijalan_s.jpg" alt="" width="576" height="398" /></a></p>
<p>Tentu, jangan lupa pada halte bus. Tempat ini paling mungkin diharapkan untuk mendudukkan tubuh, terutama kalau perlu mengambil jeda dalam perjalanan. Tapi, itu kalau belum diduduki orang lain. (Foto 7 &amp; Foto <img src='http://rujak.org/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/Halte_s.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2979" title="Halte_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/Halte_s.jpg" alt="" width="559" height="462" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/8.-Duduk-di-halte-busway-Dukuh-Atas_s.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2980" title="8. Duduk di halte busway Dukuh Atas_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/8.-Duduk-di-halte-busway-Dukuh-Atas_s.jpg" alt="" width="576" height="432" /></a></p>
<p>Dan, rasa girang pun tak terhindar, ketika melintas Banjir Kanal Barat, Cideng, Jakarta Barat. Dengan jeda beberapa ratus meter, di sepanjang jalan tepian aliran air, tersedia ruang-ruang duduk, bukan saja tempat duduk. Ruang yang memungkinkan siapa saja untuk duduk. Selain lampu dan dihiasi tanaman, salah satu diantaranya juga dilengkapi televisi, dan menepatkan posisinya dengan telepon umum.</p>
<p>Ah, bahkan di seputaran Tugu Selamat Datang saja tak ada tempat seperti ini. (Foto 9) ***</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/9.-Ruang-duduk-umum-di-Banjir-Kanal-Barat-Cideng_s.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2981" title="9. Ruang duduk umum di Banjir Kanal Barat, Cideng_s" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/07/9.-Ruang-duduk-umum-di-Banjir-Kanal-Barat-Cideng_s.jpg" alt="" width="576" height="432" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/07/duduk-manis-sepanjang-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>50 Ribu Sepeda Publik di Hangzhou</title>
		<link>http://rujak.org/2011/06/50-ribu-sepeda-publik-di-hangzhou/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/06/50-ribu-sepeda-publik-di-hangzhou/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 09:45:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[China]]></category>
		<category><![CDATA[Hangzou]]></category>
		<category><![CDATA[sepeda]]></category>
		<category><![CDATA[sustainability]]></category>
		<category><![CDATA[transportation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2949</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan dan Foto oleh Robin Hartanto, Hangzhou. Sejauh apa dapat bersepeda di sebuah kota? Baru seketika Jakarta membuat jalur sepeda pertamanya sepanjang Blok M-Taman Ayodya (1.5 m), katanya sudah tidak berfungsi. Tapi, 28 Mei 2011, nun jauh dari Jakarta, saya berkesempatan mengunjungi Hangzhou, China, sekedar berjalan-jalan. Tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta dengan kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p id="internal-source-marker_0.5759403947740793" style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/06/RH1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2950" title="RH1" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/06/RH1.jpg" alt="" width="546" height="398" /></a></p>
<p>Tulisan dan Foto oleh Robin Hartanto, Hangzhou.</p>
<p><strong><em> Sejauh apa dapat bersepeda di sebuah kota? </em></strong>Baru seketika Jakarta membuat <a href="http://rujak.org/2011/04/jalur-sepeda-jakarta-sedang-dibuat/">jalur sepeda pertamanya</a> sepanjang Blok M-Taman Ayodya (1.5 m), katanya sudah tidak berfungsi.</p>
<p>Tapi, 28 Mei 2011, nun jauh dari Jakarta, saya berkesempatan mengunjungi Hangzhou, China, sekedar berjalan-jalan. Tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta dengan kota ini, terutama bagi para penikmat sepeda. Selama 10 tahun ini, kota Hangzhou mendapatkan berjubel-jubel penghargaan, antara lain “The Best Tourism City of China” dari United Nations World Tourism Organization dan National Tourism Administration tahun 2006 serta “China&#8217; s Most Beautiful Leisure City” dariChina Leisure Development International Forum tahun 2010. Salah satu winning factor-nya, adalah perihal sepeda ini. Lantas apa yang membuatnya menakjubkan?</p>
<p><span id="more-2949"></span>Titik alfanya pada 1 Mei 2008. Program Public Bicycle Service yang disponsori pemerintah setempat memulai dengan 8.100 sepeda yang tesebar di 61 stasiun. Angka tersebut terus bertambah dari waktu ke waktu. 10.000 sepeda di 350 stasiun pada Maret 2009, 40.000 sepeda di 1600 stasiun pada awal Oktober 2009, dan sekarang telah menembus angka 50.000 sepeda dengan total 2050 titik servis. Tenang saja, angka tersebut masih akan terus bertambah seiring rencana pemerintah lokal mencapai angka 175.000 sepeda tahun 2020!</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/06/RH3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2953" title="RH3" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/06/RH3.jpg" alt="" width="564" height="412" /></a></p>
<p>Bike Sharing sebenarnya bukan hal baru. Kota-kota besar di Eropa telah memulainya terlebih dahulu. Yang teranyar adalah Paris ‘Vélib’ program yang diluncurkan tahun 2007. Dengan total 20.000 sepeda dan 1450 stasiun, proyek ini pernah menjadi Bike Sharing terbesar sebelum akhirnya dibalap oleh Hangzhou. Jarak antar stasiun di kota Paris mencapai 300 meter, bandingkan dengan Hangzhou yang apabila rencana pemerintah Hangzhou tahun 2011 untuk mencapai 2711 stasiun berjalan lancar, maka jarak antar stasiun sepeda di Hangzhou akan mencapai 100 meter antar stasiun.</p>
<p>Sementara vandalisme dan pencurian menjadi salah satu masalah utama dari bike sharing, Hangzhou punya catatan superior. Pada tahun pertama beroperasi, HPTC (Hanzhou Public Transportation Corporation) mengklaim bahwa tidak ada satu pun sepeda yang dicuri dan hanya 0,5% sepeda yang rusak. Bandingkan dengan Paris, yang berdasarkan artikel Treehugger.com tahun 2009, telah kehilangan lebih dari 50% sepedanya, baik itu rusak maupun hilang (data dari Wikipedia.org malah mencapai 80%).</p>
<p>Hal lain yang menjadikan bike sharing Hangzhou brilian adalah anda dapat bersepeda gratis. Terdengar too good to be true, tapi nyatanya seperti itu. Untuk peminjaman satu jam pertama, kita tidak perlu membayar. Jika lebih, jam kedua akan dikenakan biaya 1 RMB (sekitar 1300 Rupiah/1 RMB), jam ketiga dikenakan biaya 2 RMB, dan jam keempat dan seterusnya biayanya menjadi 3 RMB/jam. Bagi yang ingin berhemat alias berpelit, cukup letakkan kembali sepeda di stasiun sebelum jam pertama, kemudian tinggal mengambilnya kembali, sehingga perhitungan waktu akan dimulai lagi dari awal.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/06/RH21.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2954" title="RH2" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/06/RH21.jpg" alt="" width="520" height="349" /></a></p>
<p>Untuk mendapatkan kartu peminjamannya, hal yang pertama kali perlu dilakukan adalah ke konter pembuatan kartu yang tersebar di banyak titik, kemudian memberikan deposit senilai 300 RMB. Bagi para pelancong dari luar negeri, cukup tunjukkan paspor sebagai bukti identitas. Tidak sampai 5 menit mengisi formulir, kartu sudah di tangan.</p>
<p>Sistem pengambilan dan pengembalian sepeda pun sangat praktis. Letakkan kartu di atas mesin pengunci sepeda, beberapa detik kemudian akan terdengar bunyi ‘bip’ panjang dan sepeda sudah dapat digunakan. Prosesnya serupa ketika mengembalikan sepeda. Jika sudah tidak lagi ingin menggunakan fasilitas bike sharing, cukup kembali ke tempat pembuatan kartu untuk mengambil kembali deposit.</p>
<p>Tak sedikit stasiun peminjaman sepeda di Hangzhou yang terintegrasi dengan pusat informasi untuk turisme serta fasilitas publik lainnya seperti telepon umum. Di pusat informasi tersebut, kita dapat mengambil beragam brosur gratis dalam berbagai bahasa, yang di dalamnya terdapat peta dan informasi lengkap berbagai titik-titik terbaik di Hangzhou yang umumnya tersebar di sekitar pada Xi Hu (West Lake), obyek turisme utama di Hangzhou. Selain itu, di sana juga dijual berbagai minuman dan makanan ringan, layaknya warung-warung kecil di pinggir jalan Jakarta.</p>
<p>Tiga tahun berlalu sejak program Public Bicycle Service dijalankan di Hangzhou, sementara ribuan kilometer dari sana Jakarta baru memulai proyek jalur sepedanya. PBS Hangzhou bisa menjadi preseden yang sangat baik untuk pengembangan pemanfaatan jalur sepeda. Harapan saya, semoga proyek jalur sepeda Jakarta dapat menjadi katalis berbagai kebijakan dan program lain yang dapat membuat warga Jakarta lebih menikmati kotanya, semoga tulisan ini dapat menjadi sebuah ‘studi banding’ bagi pemerintah tanpa perlu mampir ke sana, dan semoga berbagai informasi ini dapat berguna bagi kita semua.</p>
<p>NB: untuk gambaran yang lebih jelas saya lampirkan video yang sangat komprehensif tentang bike sharing di Hangzhou, dipublikasikan oleh Elizabeth Press, berikut embed code dan alamat web nya.<br />
<a href="http://www.streetfilms.org/the-biggest-baddest-bike-share-in-the-world-hangzhou-china/">http://www.streetfilms.org/the-biggest-baddest-bike-share-in-the-world-hangzhou-china/</a></p>
<p>Berbagai sumber referensi tentang bike sharing Hangzhou<br />
<a href="http://www.treehugger.com/files/2009/07/biggest-bike-share-in-china.php">http://www.treehugger.com/files/2009/07/biggest-bike-share-in-china.php</a><br />
<a href="http://bike-sharing.blogspot.com/2009/03/bike-sharing-in-hangzhou-china.html">http://bike-sharing.blogspot.com/2009/03/bike-sharing-in-hangzhou-china.html</a><br />
<a href="http://bike-sharing.blogspot.com/2009/10/hangzhou-on-go-and-wuhan-can.html">http://bike-sharing.blogspot.com/2009/10/hangzhou-on-go-and-wuhan-can.html</a><br />
<a href="http://bike-sharing.blogspot.com/2011/06/bike-sharing-world-first-week-of-june.html">http://bike-sharing.blogspot.com/2011/06/bike-sharing-world-first-week-of-june.html</a><br />
<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bicycle_sharing_system">http://en.wikipedia.org/wiki/Bicycle_sharing_system</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/06/50-ribu-sepeda-publik-di-hangzhou/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Kaki di Seputar Istiqlal, Jakarta. Nyamankah?</title>
		<link>http://rujak.org/2011/05/jalan-kaki-di-seputar-istiqlal-jakarta-nyamankah/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/05/jalan-kaki-di-seputar-istiqlal-jakarta-nyamankah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 May 2011 10:36:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Istiqlal]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-kaki]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[pejalan kaki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2937</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Silvia Honsa Sungguh suatu “kemewahan” bisa berjalan kaki dengan nyaman di Jakarta. Suatu hal yang aneh sebenarnya, karena kegiatan berjalan kaki adalah termasuk kegiatan kita sehari-hari yang paling alami.  Berjalan kaki menjadi “mewah” karena sulit sekali kita menemukan jalur yang nyaman atau paling tidak, aman untuk kita para pejalan kaki melewatinya. Belum lagi masalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Silvia Honsa</p>
<div id="attachment_2940" class="wp-caption alignnone" style="width: 615px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/05/SH_01.jpg"><img class="size-full wp-image-2940" title="SH_01" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/05/SH_01.jpg" alt="" width="605" height="408" /></a><p class="wp-caption-text">Sekitar Masjid Istiqlal, Jakarta, Oktober 2009</p></div>
<p>Sungguh suatu “kemewahan” bisa berjalan kaki dengan nyaman di Jakarta. Suatu hal yang aneh sebenarnya, karena kegiatan berjalan kaki adalah termasuk kegiatan kita sehari-hari yang paling alami.  Berjalan kaki menjadi “mewah” karena sulit sekali kita menemukan jalur yang nyaman atau paling tidak, aman untuk kita para pejalan kaki melewatinya. Belum lagi masalah adakah jalur pejalan kaki di sepanjang jalan yang akan ditempuh. Nah, itu termasuk hal  yang penting untuk dipertimbangkan saat ingin berjalan kaki dari satu titik ke titik lain.</p>
<p>Kalau pun ada jalur pejalan kaki seperti foto di atas, menurut saya masih kurang nyaman. Lihatlah batas pagar di kiri kanannya, membuat kita pejalan kaki dibatasi interaksinya dengan taman di kiri kanan jalur.</p>
<p>Hak pejalan kaki sepertinya terlalu dibatasi bahkan cenderung diabaikan. Ini aneh sekali. Seakan yang layak ada di jalan begitu kita keluar rumah hanya lah orang-orang yang menggunakan alat transportasi saja. Pemahaman akan jalur jalan menjadi dibatasi hanya untuk mengakomodasi kendaraan dan tidak untuk pejalan kaki.</p>
<p>Kalau merujuk pada pedoman <strong>Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki di Perkotaan</strong> yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum , sepertinya ideal sekali jika benar-benar dilaksanakan di tiap kota. Gambar di bawah ini adalah salah satu pedoman mengenai tipologi ruang pejalan kaki di sisi jalan. Nyaman bukan seandainya terwujud?</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/05/SH_02.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2941" title="SH_02" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/05/SH_02-300x159.jpg" alt="" width="300" height="159" /></a></p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/05/SH_03.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-2942" title="SH_03" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/05/SH_03-1024x553.jpg" alt="" width="614" height="332" /></a></p>
<p>Lihat lah foto di atas, sebenarnya bisa menjadi cukup nyaman, tetapi desain difokuskan pada halte, bukan pada jalur pejalan kakinya dan sekali lagi, ada pagar pembatas. Mungkin juga tidak bisa menyalahkan seratus persen pertimbangan pemasangan pagar di sini. Tetapi apakah itu satu-satunya solusi?</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/05/SH_04.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2943" title="SH_04" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/05/SH_04.jpg" alt="" width="442" height="609" /></a></p>
<p>Ini dia, foto di atas adalah salah satu foto yang sangat menunjukkan keajaiban jalur pejalan kaki di Jakarta. Sebelum bertemu dengan jalur busway ini, saya melewati jalur pejalan kaki seperti dua foto teratas. Tiba-tiba saja saya kebingungan, tertegun, berhenti berjalan. Di depan saya, ada bangunan halte busway yang menghalangi seluruh badan jalur pejalan kaki. Pilihan yang ada sama-sama tidak menyenangkan dan tidak aman. Pertama, seperti tampak di foto, melewati celah antara bangunan busway dengan pagar masjid yang sungguh sangat tidak nyaman. Kedua, turun di badan jalan, berjalan di jalur busway yang jelas selain tidak nyaman juga tidak aman. Akhirnya, saya memilih pilihan pertama, dengan pertimbangan saya tidak berminat ditabrak kendaraan bermotor apabila memilih pilihan kedua.</p>
<p>Bayangkan sulitnya berjalan kaki di Jakarta ini secara umum. Ini baru di sekitar Istiqlal yang nota bene di tengah pusat pemerintahan, bukan hanya untuk DKI Jakarta tetapi Republik Indonesia. Bagaimana dengan di daerah pinggiran? Seperti di Kali Malang yang tidak ada jalur pejalan kakinya, atau di jalan MT Haryono yang ada jalur pejalan kaki tetapi sering kali bersaingan dengan pengendara motor?</p>
<p>Sungguh, bagi saya berjalan kaki di Jakarta lebih sering saya rasakan sebagai suatu perjuangan. Karena pejalan kaki harus berjuang di jalurnya sendiri, menghadapi pengendara motor dan para pedagang. Kalau tidak ada jalurnya, kita terpaksa turun ke bahu jalan, yang artinya menyabung nyawa. Oh, sulitnya berjalan kaki yang nyaman di Jakarta.</p>
<p>Tapi apakah kita pejalan kaki harus menyerah dengan keadaan ini? Saya rasa tidak. Masih ada peluang bagi pejalan kaki untuk memperjuangkan haknya. Apalagi dengan semakin banyaknya orang yang peduli dengan kondisi-kondisi ini dan berusaha untuk membuat solusi yang adil bagi para pejalan kaki dan pengguna jalan yang lain. Masih tersisa harapan. Salah satu gerakan yang saya tahu akhir-akhir ini cukup aktif membahas soal pejalan kaki, adalah pengguna akun twitter @yukjalankaki.</p>
<p>Jadi mari kita tidak patah semangat dalam berjalan kaki di Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/05/jalan-kaki-di-seputar-istiqlal-jakarta-nyamankah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitalah Aktor di Jalan.</title>
		<link>http://rujak.org/2011/04/kita-lah-aktor-di-jalan/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/04/kita-lah-aktor-di-jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2011 02:42:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Gambir]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-kaki]]></category>
		<category><![CDATA[Medan Merdeka Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Monas]]></category>
		<category><![CDATA[pejalan kaki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2903</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Robin Hartanto. Biasanya kita menjadikan pemerintah sebagai sutradara untuk segala kesemrawutan di ruang publik kota kita, lupa bercermin bahwa kita lah aktor yang berperan dalam jalannya cerita. Beberapa jepretan berikut merupakan berbagai karya kita di Jalan Medan Merdeka Timur, persis di samping Stasiun Gambir. Jalan ini dapat dikatakan cukup memadai, baik transportasinya (dari kereta, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2905" class="wp-caption aligncenter" style="width: 598px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_02.jpg"><img class="size-full wp-image-2905  " title="RH_02" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_02.jpg" alt="" width="588" height="388" /></a><p class="wp-caption-text">Menembus batas (kolaborasi: kita dan teralis)</p></div>
<p>Oleh: Robin Hartanto.</p>
<p>Biasanya kita menjadikan pemerintah sebagai sutradara untuk segala kesemrawutan di ruang publik kota kita, lupa bercermin bahwa kita lah aktor yang berperan dalam jalannya cerita. Beberapa jepretan berikut merupakan berbagai karya kita di Jalan Medan Merdeka Timur, persis di samping Stasiun Gambir. Jalan ini dapat dikatakan cukup memadai, baik transportasinya (dari kereta, busway, bajaj, hingga ojek) maupun fasilitas publiknya (stasiun, halte bus dan busway, jembatan penyeberangan sela 300 meter, zebra cross, dan trotoar selebar 2 meter). Namun di balik segala kelengkapan tersebut, rupanya kreativitas kita terlalu tinggi untuk dibatasi.</p>
<p>Foto-foto diambil pada tanggal 21, bulan 10, tahun 2009. Ada yang mau berbagi foto-foto saat sekarang?</p>
<div id="attachment_2904" class="wp-caption aligncenter" style="width: 627px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_1.jpg"><img class="size-full wp-image-2904 " title="RH_1" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_1.jpg" alt="" width="617" height="385" /></a><p class="wp-caption-text">Trotoar belah setengah (kolaborasi: tukang ojek dan kita sebagai pengguna)</p></div>
<div id="attachment_2906" class="wp-caption aligncenter" style="width: 614px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_3.jpg"><img class="size-full wp-image-2906 " title="RH_3" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_3.jpg" alt="" width="604" height="428" /></a><p class="wp-caption-text">2 banding 9 (kolaborasi: penyeberang taat dan penyeberang cepat)</p></div>
<div id="attachment_2907" class="wp-caption aligncenter" style="width: 604px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_04.jpg"><img class="size-full wp-image-2907   " title="RH_04" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_04.jpg" alt="" width="594" height="385" /></a><p class="wp-caption-text">Menyeberang penuh sukacita (kolaborasi: kita dan mobil)</p></div>
<div id="attachment_2908" class="wp-caption aligncenter" style="width: 590px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_05.jpg"><img class="size-full wp-image-2908  " title="RH_05" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_05.jpg" alt="" width="580" height="938" /></a><p class="wp-caption-text">Menyeberang di bawah Jembatan penyeberangan (kolaborasi: kakek dan pegawai kantor)</p></div>
<div id="attachment_2909" class="wp-caption aligncenter" style="width: 595px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_06.jpg"><img class="size-full wp-image-2909  " title="RH_06" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_06.jpg" alt="" width="585" height="430" /></a><p class="wp-caption-text">Alat pengukur lebar badan (kolaborasi: pedagang gerobak dan kita)</p></div>
<div id="attachment_2910" class="wp-caption aligncenter" style="width: 578px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_07.jpg"><img class="size-full wp-image-2910   " title="RH_07" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_07.jpg" alt="" width="568" height="377" /></a><p class="wp-caption-text">Lansekap Medan Merdeka Timur (kolaborasi: kita, kendaraan kita, dan tak lupa Pak Polisi)</p></div>
<div id="attachment_2911" class="wp-caption aligncenter" style="width: 595px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_08.jpg"><img class="size-full wp-image-2911   " title="RH_08" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/04/RH_08.jpg" alt="" width="585" height="392" /></a><p class="wp-caption-text">Halte tengah jalan (kolaborasi: Pelajar SMA dan sopir serta kenek angkot)</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/04/kita-lah-aktor-di-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

