Feature


08 Oct 2010

Tiga Tahun Administrasi Gubernur Fauzi Bowo: Bagaimana Pendapat Anda tentang Prestasinya?

2 Comments »

| Agent of Change: none |


08 Sep 2010

Nature Kicks Back, with some help…

Replanted Ficus Elastica is growing at the Goethe Institute Jakarta (Photo by Marco Kusumawijaya, February 9,2010)

Replanted Ficus Elastica is growing at the Goethe Institute Jakarta (Photo by Marco Kusumawijaya, February 9,2010)

The replanted ficus elastica at the Goethe Institute in Menteng, Jakarta, is growing strong! It fell down in October 2009 at about 10:15 after a heavy rain and very strong wind.

“Stuborn love, technology and some money have saved the tree,” said Dewi Noviami, a former programme manager at the Goethe House who has persistently asked her boss to have it replanted.

It was not easy. First all the branches above the height of about  three meters were cut off. Then  a small crane (blue in picture) was rented to lift the remain of  the tree, but it failed. A stronger  one (yellow in picture) was then rented and managed to lift the tree, put it in its original position upright. More than 10 sacks of organic fertiliser were first mixed into the soil beneath and surrounding the base of the tree.

This operation might be the first of such scale to take place in the city.

Small truck

The Bigger Truck could eventually lift it (Photo by Goethe Institute, 2009)

The Bigger Truck could eventually lift it (Photo by Goethe Institute, 2009)

You get the scale? (Photo by Goethe Institute Jakarta, 2009)

You get the scale? (Photo by Goethe Institute Jakarta, 2009)

The new shoots springing from the main stock of Ficus Elastica (Local: Karet Kebo). (Photo by Marco Kusumawijaya, Februaty 9, 2010)

The new shoots springing from the main stock of Ficus Elastica (Local: Karet Kebo). (Photo by Marco Kusumawijaya, Februaty 9, 2010)

4 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


30 Aug 2010

Melampaui “Wow, Singapore!”

Teks oleh: Rika Febriyani.

Saya membayangkan swasta sebagai sponsor trotoar. Imbalannya, mereka beriklan di badan trotoar. Memang, trotoar kita akan ditimpa beraneka warna dan gambar, seperti bus-bus era 80-an. Bisa jadi tak indah dipandang. Tapi, dibandingkan keadaan sekarang, mungkin trotoar di sepanjang Jakarta akan relatif lebih baik.

Kita sudah sering heran, saat waktu tempuh semakin lama untuk jarak tak seberapa jauh. Kalau jalan kaki, kita malah kerepotan: trotoar sempit, terputus-putus, tak rata, dan sering berlubang. Keadaan ini membuat saya berpikir, percuma mengandalkan pemerintah. Barangkali dengan melibatkan swasta, trotoar bisa lebih baik. Bukan cuma menguntungkan yang tak punya kendaraan, tapi juga mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi. Sehingga, untuk jarak dekat, pilihan berjalan kaki menjadi masuk akal, dan selanjutnya bisa meminimalisasi tingkat kemacetan.

Dan, baru-baru ini, saya sadari percik-percik peran swasta atas penyediaan dan pemeliharaan trotoar.

Beberapa bulan lalu, saya menonton tayangan televisi khusus promosi bangunan superblok. Tentu di situ ada ulasan fasilitas umum yang disediakan oleh si pengembang. Dalam durasi 30 menit, ulasan ini diletakkan di awal daripada soal bangunan ruang huni untuk calon konsumen. Fasilitas yang “dijagokan” itu mereka sebut jogging track. Masih terngiang celetukan si bintang tamu, “wow, seperti di Singapore!”

Apa sih yang istimewa dari jogging track itu? Ternyata, fasilitas itu memang bukan sekedar untuk jogging. Berbeda dengan di televisi, di laman internet, mereka menyebutnyaPedestrian Walk.

Ya, ini memang jalur untuk berjalan kaki mengitari area superblok. Sebagian dari jalur ini tidak terletak di pinggir jalan, agak menjorok ke dalam. Kiri-kanan jalur dinaungi pepohonan dan rerumputan, terhubung dengan 7 titik lokasi wisata, diantaranya, kolam renang, danau, dan taman. Melihat cakupannya, agaknya jalur ini bisa dimanfaatkan mengunjungi rumah di blok lain, ke toko, sekolah, tempat les, dan segala yang terkait rutinitas penghuni di dalam area superblok.

Pedestrian walk, atau yang mereka sebut jogging track, menjadi kunci keunggulan superblok itu. Kenapa ada ide memenangkan pasar dengan pedestrian walk? Mencoba sebuah terobosan? Atau, inikah bacaan atas kejenuhan masyarakat yang dimanfaatkan pengembang superblok?

Semakin banyak waktu terbuang menghadapi kemacetan di Jakarta, semakin kecil kemungkinan ruang gerak menjadi lebih luas. Rumah, kendaraan, dan kantor jadi ruang mutlak bagi warga Jakarta, sebab hampir tak ada ruang terbuka yang mudah dijangkau, bahkan sekedar berjalan kaki dengan aman dan nyaman. Kesempatan mengamati dan menemukan hal-hal berbeda dari yang ada di rumah atau kantor nyaris tidak masuk akal karena buruknya kondisi trotoar yang harus dilalui. Si pengembang superblok tadi mengetahui pedestrian walk adalah hal yang tak lazim dalam keseharian, dan mereka mengomersialisasikan  kebutuhan itu.

Si Cantik yang Caper

Trotoar hasil rancangan pengembang superblok itu, agaknya mengindahkan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki di Perkotaan(dikeluarkan oleh Departemen (Kementerian) Pekerjaan Umum). Tapi, sebagai alat pemasaran, trotoar berarti bukan lagi ruang terbuka atau pilihan bermobilitas.

Trotoar di superblok itu ingin menerbitkan suasana agar konsumen merasa berada di Jakarta yang “berbeda”. Makanya, musti ada celetukan, “wow, seperti di Singapore!”. Ia tersedia untuk mencipta suatu kemewahan. Dan, komersialisasi trotoar atau jalur pedestrian macam ini, tak hanya oleh pengembang superblok.

Trotoar nyaman milik swasta. (Foto oleh Rika Febryani)

Kita juga bisa menjumpai komersialisasi itu di sekitar pusat perbelanjaan dan perkantoran. Misalnya, di depan Plaza Senayan dan Senayan City, tak hanya ada trotoar yang nyaman, tapi juga zebracross yang dijaga oleh petugas keamanan. Siapa pun bisa melenggang tanpa terlalu khawatir ada pengendara mobil atau motor yang melanggar hak mereka menyeberang. Tentu, ini hanya terbatas pada sekeliling dua pusat perbelanjaan itu. Dan, zebracross-nya hanya jadi penghubung antara Senayan City dan Plaza Senayan.

Penyeberangan yang dijaga. Mobil sudah lupa mengalah kepada pejalan kaki; padahal UU menuntut demikian. Menabrak pejalan kaki di zebra-cross sama dengan percobaan pembunuhan berencana (disengaja). (Foto oleh Rika Febryani)

Trotoir negara di seberang trotoir nyaman swasta. (Foto oleh Rika Febryani)

Di sekitar Kemang, di depan sebuah hotel yang berseberangan dengan apartemen, kita bisa memijakkan kaki leluasa. Apartemen itu bahkan meluaskan trotoar sampai memakan badan jalan. Tapi, selepas apartemen, trotoar kembali menyempit, memperlihatkan wajah morat-maritnya.

Trotoar nyaman buatan swasta. (Foto Rika Febryani)

trotoar pemerintah

Di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin, dengan kondisi trotoar lebih baik, Bank Indonesia menyediakan (more…)

4 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


16 Aug 2010

Ibadah di Jalan, Setelah 65 Tahun Merdeka

Ulos melindungi batik

Ibadah di ujung Jalan Silang Selatan Lapangan Monumen Nasional tg 15 Agustus siang, meskipun dilaksanakan dengan tata cara HKBP, diikuti sekitar 500 orang berbagai agama. Hadir antara lain Djohan Effendi, mantan Menteri Sekretaris Negara di masa Presiden Gus Dur dan Eva Sundari (PDIP). Bagaimana mungkin sebuah kota dapat hidup kalau kerukunan dalam perbedaan tidak dapat dijamin?  Ada punya jawaban?

Panas dan hujan, tetap berlangsung.

Hujan, orasi tetap berlangsung.

Kewajiban Konstitusional Presiden

Bendera kita merah putih semua. "Kita merdeka untuk memerdekakan semua suku bangsa dan agama," orasi pendeta

Mencoba berunding dengan poiisi, akhirnya memutuskan ibadah di sini, tidak di depan istana.

4 Comments »

| Agent of Change: none |


10 Aug 2010

Mengurangi Sampah Lewat Pertunjukan

Tulisan dan Foto oleh Lieke Soe, relawan Peta Hijau Yogyakarta, penikmat pertunjukan seni.

Setiap hari kita menghasilkan sampah. (Hampir) setiap hari kita dapat menikmati sebuah pertunjukan. Jika saja dua hal ini bergabung, apa yang dapat kita hasilkan?

Bayangkan jika dalam satu pertunjukan semalam, satu saja propertinya dibuat dari bahan daur ulang sampah.

Bayangkan seorang biduanita mengenakan gaun ini, menyanyikan sebuah lagu indah dari suaranya yang termurni. Bayangkan, sebuah sajak yang menyertai gaun ini, menembus kesadaran pendengar-pendengarnya. Bayangkan seorang tokoh yang terbalut gaun ini sedang membawa kita ke suasana lakon sandiwara. Atau siapapun yang ada di panggung.

Ini artinya, dalam satu malam, kita telah memperjelas nasib setidaknya setara 200-an bungkus mie instant daripada menjadi sekedar onggokan sampah.

Kita dapat menyelesaikan permasalahan sampah dengan mengubah bentuknya. Yang diperlukan hanyalah sedikit imajinasi dan sedikit tenaga untuk mengucek.Bicara tentang lingkungan dan masalah persampahan tidak harus selalu masalah teknis yang memusingkan. Bicara soal seni bisa jadi bicara soal kreasi dan inovasi.

Kita dapat mulai mempopulerkan sampah sebagai bahan properti pertunjukan kita!

foto: baju dan gaun kreasi Lestari, Lembaga Studi dan Tata Mandiri, Pendampingan Masyarakat untuk Pengelolaan Lingkungan dan Sanitasi. Beberapa gaun dipertunjukkan dalam Biennale Yogyakarta X 2009 dan Grarebeg Sampah, 22 Februari 2010 di TPA Piyungan, Yogyakarta. Beberapa gaun anak-anak dibuat oleh seorang guru SMK di Yogyakarta.

CP: Agus Hartono, 08562861257, Semoyan RT 01 DK II Singosaren, Kotagede, Yogyakarta p: 02748255509, e: a_hart01@yahoo.com, fb: lestari_cling@yahoo.co.id

No Comments »

| Agent of Change: none |


03 Aug 2010

TK Milik Nelayan

TK Nelayan di bawah tiang listrik

Teks dan Foto oleh Yanti Maryanti.

Aku pernah menawarkan latihan melukis di atas kain untuk anak-anak muda di kampung nelayan di Kampung Muara, namun Ibu Syamsudin malah menyarankan aku memberi latihan menggambar pada anak-anak TK di samping rumahnya. Dengan semangat istri pengurus organisasi nelayan itu mengeluarkan semua hasil karya anak didiknya. Aku terbelalak mendengar jumlah siswa yang belajar di sekolah kecil itu. Dua ratusan lebih siswa TK menunggu diajari melukis.

Dua bulan yang lalu Ibu Syamsudin memperlihatkan ratusan block note bergaris milik para siswa kepadaku. Block note itu adalah media latihan menggambar milik anak-anak TK di perkampungan nelayan itu. Ada gambar ikan, perahu, rumah, orang dan juga garis-garis tidak beraturan menghiasi lembar-lembar kertas bergaris itu. Mereka menggambar dengan pensil berwarna yang jumlahnya terbatas yang dipinjamkan sekolah. Para murid menggunakannya bergantian.

Sekolah TK itu tampak menyolok berada di tengah perumahan kumuh masyarakat nelayan. Sekolah itu tampak menyolok karena cat bangunannya yang baru dan berwarna-warni. Sementara perumahan di sekililingnya cenderung terlihat kusam. TK itu berdiri atas prakarsa masyarakat setempat yang menginginkan agar anak mereka memiliki tempat belajar di dekat rumah mereka. Pak Syamsudin memiliki peran besar dalam pendirian sekolah tersebut. Ia juga sering merelakan uang pribadinya untuk pengelolaan sekolah tersebut. Terakhir ada beberapa lembaga sosial yang mulai membantu mereka.

Saat aku datang, gedungnya masih baru karena baru saja dibangun dan dicat dengan dana bantuan dari Program Pundi Amal dari sebuah stasiun televisi. Meskipun memiliki alat permainan ayunan dan alat panjatan di depan sekolah, sesungguhnya masih banyak hal yang memprihatinkan dari sekolah itu.

Murid yang ditampung di sekolah itu jumlahnya sangat besar  dan tidak sebanding dengan luas gedung sehingga jadwal sekolah berlangsung pagi hingga menjelang sore. Pengajarnya pun bukan guru profesional yang terlatih mengajar anak-anak. Para pengajarnya adalah para remaja di perkampungan tersebut. Mereka mengajar secara bergiliran dengan sarana seadanya. Guru-guru tersebut tidak menerima gaji.

Sebagian besar siswa yang belajar di TK tersebut adalah anak nelayan di RW 04, Kelurahan Kamal Muara, Kejamatan Pejaringan, Jakarta Utara. Mereka adalah korban penggusuran pada tahun 1998. Kemudian mereka menempati lahan kosong tanpa surat kepemilikan tanah hingga saat ini.

Meskipun tahun ini Pemerintah DKI telah menganggarkan tujuh ratus milyard lebih dana untuk penanggulangan banjir, tampaknya hasilnya tak begitu dirasakan oleh masyarakat di sekitar TK itu. Sebulan sekali air rob dari laut datang menggenagi kampung mereka. Periodenya pun tergolong panjang. Bisa tiga hari hingga satu minggu air baru surut. TK tersebut juga tak luput dari banjir.

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


19 Jul 2010

Lebih Baik Bikin Kolam Terbuka di Lapangan Monas

Pemda akan bikin reservoir bawah-tanah di Lapangan Monas (Kompas hari ini). Apakah tidak lebih baik bikin kolam besar sekalian yang terbuka sehingga menjadi feature yang berfungsi menampung air sekaligus bisa dinikmatii?Lapangan Monas sekarang dari segi landscape sangat datar dan karenanya sangat bising. Galian tanah untuk bikin kolam besar bisa untuk membentuk bukit dan lembah yang akan menjadi ruang-ruang mikro yang terlindung dari bising jalan sekitarnya.

Berikut ini visi yang pernah diajukan pada “Imagining Jakarta, 2004″ hasil kolaborasi antara seniman dan arsitek.

Lapangan MONAS dan Kota Bukittinggi

Medium: kayu, kaca

Marco Kusumawijaya, Hedi Harijanto

Lapangan Merdeka (dan sesungguhnya: seluruh Jakarta) perlu belajar dari Kota Bukittinggi tentang: ukurannya sendiri, keragaman dalam kepadatan melalui mixed-use, ekologi, topografi yang berbukit-bukit dan skala yang manusiawi.

Hampir seluruh inti-kota Bukittinggi muat di dalam Lapangan MONAS. Dengan topografi Bukittinggi, Lapangan MONAS (dan Jakarta) akan memiliki permukaan hijau yang lebih luas. Bukit akan juga menciptakan oase yang hening di lembah dan lereng dalamnya, melindunginya dari bising jalan di sekitar. Waduk raksasa berbentuk Ngarai Sianok akan menyimpan air. Topografi akan memberikan rentang probabilitas pengalaman yang tak terbatas. Dengan peningkatan kapasitas ekologis ini, maka ke dalam Lapangan MONAS dapat dimasukkan stasiun kereta api khusus dalam-kota yang sangat dibutuhkan oleh seluruh Jakarta, dan sebaliknya akan membuat Lapangan MONAS dapat dijangkau secara murah dan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.

Imagining Jakarta is a collaboration in 2004 by architects, urban designers/planners, poets, graphic designers, photographers, sculptors, and multi-media artists, to “imagine” visions for some urban spaces and issues in Jakarta. It was conducted through a series of  workshop in 2004, and the results were exhibited at Gallery Cemara in December 2004. The participants are: Marco Kusumawijaya, Adi “Mamo” Purnomo, Dewi Susanti, Bonifacius Djoko Santoso , Yuka, Irwan Ahmett, Paul Kadarisman, Erik Prasetya, Enrico Halim, Akhmad “Apep” Tardiyana, Gregorius Supie Yolodi, Hedi Hariyanto, Budi Pradono ,Yuka Dian Narendra and David  Setiadi.

DSC05079

Bagaimana kalau Lapangan Monas berkontur Bukittinggi? Dengan ngarai untuk menampung air, dan bukit serta lembah-lembah sebagai ruang mikro yang lebih dapat dinikmati daripada keadaan sekarang.

MarcoWork3IJ

Ruang pameran: sepadat dan sehiruk pikuk metropolis Jakarta. Bundaran HI (kini HIK) yang permukarannya diturunkan, dengan stasiun MRT di bawahnya, suatu visi yang kini mau tidak mau akan/harus terwujud segera.

For more pictures, see: http://www.flickr.com/photos/rujak/sets/72157620952348995/ (more…)

2 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


11 Jul 2010

Pak Hartoyo Bikin Gas Sendiri


Teks dan Foto Oleh Yuli Kusworo.

Bebas dari tabung gas yang beresiko meledak, Pak Hartoyo bikin gas sendiri. Pemilik warung kecil di Kampung Rawamalang, Cilincing, Jakarta Utara, ini mendapat ilham dari berita televisi bahwa gas untuk kebutuhan dapur bisa didapat dari kotoran hewan ternak. Dia sudah 25 tahun menjadi peternak ulet. Pria asal Grobogan, Jawa Tengah, ini memelihara delapan sapi, sertus kambing dan seratus lima puluh bebek. Lahan yang tak begitu lebar di tepi sungai dimanfaatkan sebagai kandang ternak.

Dari kelompok tabungan perempuan kampungnya, Pak Hartoyo juga mendapat keterangan bahwa warga Kampung Papanggo juga baru mencoba memanfaatkan kotoran manusia menghasilkan gas untuk memasak. Dia pun lalu bertanya kepada Urban Poor Concortium (UPC) tentang kemungkinan membuat hal yang sama untuk keluarganya, tapi dengan memanfaatkan kotoran ternak (bebek, kambing dan sapi) yang banyak dipelihara di Kampung Rawamalang.

Sebagai pendamping Kampung Rawamalang, UPC pun langsung menanggapi ide Pak Hartoyo sebagai hal yang baik dan perlu dicoba sebagai percontohan, mengingat pada saat itu sedang dilakukan program bersama penataan kampung-kampung miskin di Jakarta Utara. Pembuatan biogas individu bersamaan dengan kegiatan penataan kampung merupakan contoh untuk memperbaiki kualitas lingkungan. Dengan memanfaatkan lahan sempit 2×4 meter persegi, reaktor biogas sederhana dibuat dengan plastik dan ditanam di dalam tanah. Reaktor biogas dan instalasinya hanya menghabiskan uang swadaya Pak Hartoyo sebesar 1,7 juta rupiah.

Sedikit harus bersusah payah–karena lokasi kandang ternak berada di seberang jalan–Pak Hartoyo setiap dua hari sekali harus memasukkan sejumlah  empat ember besar kotoran sapi ke dalam reaktor biogas. Melalui bak kontrol dari ember bekas, kotoran dimasukkan ke reaktor secara perlahan dengan cara mengaduk dan dicampur air. Ini adalah kegiatan baru Pak Hartoyo. Menyenangkan katanya, karena sore dimasukkan kotoran, pagi berikutnya api sudah bisa menyala sangat besar. Indikator keluarnya gas dilihat dari tabung plastik ukuran 1 meter yang digantung di belakang rumah. Bila plastik itu mengembung, berarti gasnya penuh.


5 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: Urban Poor Consortium |


04 Jul 2010

Taman Internet di Batam

Tulisan dan Foto dari Ricky Lestari.
Terlampir foto-foto beberapa taman kota dengan fasilitas internet dan salah satu danau buatan.

Internet gratis ada di taman Sungai Harapan, Sekupang, dikelilingi pepohonan yg rimbun serta tanaman-tanaman perdu yang tertata. Taman Sungai Harapan merupakan salah satu taman kota, letaknya sejajar dengan Jalan R.E. Martadinata. Fasilitas internet berada ditengah-tengah taman, dinaungi semacam gazebo, yang dapat menampung 10 hingga 12 orang. Fasilitas ini disediakan oleh pemerintah, terbuka untuk umum gratis 24 jam.

Ini suatu petunjuk bahwa kota Batam masih aman, dan pemerintah sangat peduli pada masyarakatnya, terutama dalam bidang pendidikan dan kemajuan teknologi, serta pemanfaatan taman-taman kota secara maksimal. Masyarakat menikmati kesejukan taman sambil belajar, bekerja, membaca dengan membuka laptop.
Jalan RE Martadinata sangat indah karena, selain lebar dan bersih, juga rimbun oleh barisan pohon Angsana (Pterocarpus indicus) dan cemara (Cassuarina sp.) di sepanjang kiri kanan jalan dengan median jalan yg lebar. Sangat dramatis dan romantis; dan yang paling menyenangkan adalah dari hari senin sampai minggu tidak pernah macet.

Di salah satu sisi Jalan RE Martadinata ada danau buatan, Danau Sekupang, yang merupakan salah satu penampung air. (Pulau Batam tidak punya mata air alam). Sangat indah dan luas. Salah satu sisi danau ditanami teratai. Taman danau ini tertata rapih, bersih dan teduh. Ada jalur pejalan kaki yg cukup luas pada sisi luarnya.

Fasilitas internet juga terdapat di taman Engku Putri di Batam Center. Di taman ini ada empat unit gazebo internet. Sayangnya pada saat ini taman Engku Putri sedang dalam perbaikan jadi kurang nyaman. Batam Center adalah pusat kegiatan pemerintahan dan perkantoran swasta. Di sini juga ada pelabuhan feri. Taman Engku Putri sangat luas. Ada bangunan kantor Pemerintah Kota Batam yg bergaya arsitektur Melayu.



17 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


29 Jun 2010

Pertemuan Regional Arsitek Komunitas

Pertemuan arsitek komunitas se-Asia di Chiang Mai, Thailand pada tanggal 12-16 Juni 2010 lalu mungkin bukan pertemuan arsitek komunitas pertama yang pernah terselenggara. Tetapi, dalam hal jumlah peserta puluhan institusi terutama terdiri dari LSM dan akademik mengirimkan 125-an ‘arsitek komunitas’ –nya, mewakili lebih dari 23 negara-negara Asia plus negara-negara selatan Afrika, Australia, Selandia Baru, dan Kolombia menjadikan pertemuan ini istimewa. Tibet Heritage Fund dan Shack/Slum Dwellers International adalah dua kontingen organisasi internasional yang menambah keragaman. Pertemuan ini adalah inisiatif dari Asian Coalition for Housing Rights (lihat Box 1) untuk membangun jaringan arsitek dan para-arsitek (Chang Chumchon Thailand, jaringan tukang kampung) yang bekerja dengan komunitas dalam konteks Asia.

Sesi diskusi konservasi bersama komunitas

Sesi diskusi konservasi bersama komunitas

Box.1 Asian Coalition for Housing Rights (ACHR)

ACHR berawal dari sekumpulan arsitek dan aktivis dari belasan negara-negara Asia yang bergerak bersama menentang penggusuran berkaitan dengan penyelenggaraan Olimpiade di Korea Selatan pada tahun 1986. Adalah Arsitek-Pastor J.E. Anzorena yang dalam 30 tahun terakhir secara teratur mengunjungi negara-negara di Asia dan menulis tentang arsitek yang bekerja bersama komunitas dalam jurnal Selavip. Tahun 2009 ACHR meluncurkan program Asian Coalition for Community Action untuk perbaikan kampung-kampung miskin kota di Asia. Somsook Boonyabancha menjabat sekretaris jendral ACHR.

www.achr.net

Di tengah arus globalisasi yang juga menjadi arus penyeragaman dalam berbagai hal istilah arsitektur komunitas sebagai sebuah konsep memang masih sangat sumir. Namun seperti disaksikan lewat pertemuan ini juga pada kesempatan lain cukup banyak inisiatif konkrit yang secara kolektif memberi makna pada istilah ‘arsitektur komunitas’ (lihat Box 2). Dan sepertinya pada saat ini kerja lapangan atau pengalaman empiris lebih awal dibanding pengembangan teori. Berkaitan dengan hal ini sebuah buku setebal 96-halaman berwarna tentang kinerja arsitek komunitas di Asia turut diluncurkan lewat acara ini.

Workshop bahan bangunan alami oleh Pun Pun Thailand

Workshop bahan bangunan alami oleh Pun Pun Thailand

Ada empat tema besar arsitektur komunitas yang diusung melalui diskusi panel, pameran, dan sesi pemutaran film; (1) upgrading atau perbaikan kampung, (2) pemulihan pasca bencana, (3) perencanaan kota partisipatif, dan (4) konservasi bersama komunitas. Sebagai tambahan diselenggarakan juga workshop bahan/teknik bangunan alami, kunjungan ke proyek perbaikan kampung Baan Mankong yang difasilitasi Community Organization’s Development Institute (sebuah badan pemerintah khusus menangani perbaikan kampung) dan kunjungan ke beberapa proyek konservasi partisipatif pemenang penghargaan UNESCO.

“Di umur saya, selama ini saya sering merasa sendiri dalam menggeluti bidang arsitektur komunitas” -Ivana Lee, arsitek komunitas Jaringan Relawan Kemanusiaan

Latar belakang dan rentang pengalaman peserta pertemuan adalah sebagian dari banyak aspek keragaman yang mewarnai pertemuan ini. Para relawan mahasiswa Fakultas Arsitektur Universitas Chiang Mai yang menjadi tuan rumah merupakan kelompok peserta termuda dapat memperoleh dukungan penyemangat dari seniornya dari Jepang hingga India. Sementara peserta lainnya berada pada pertengahan karir dan sudah memiliki pengalaman yang berarti. Dukungan senior dan kesinambungan antar generasi adalah penting bagi arsitek komunitas, sebuah ceruk sepi di alam profesi arsitek.

Arsitek komunitas lintas generasi lintas bangsa

Arsitek komunitas lintas generasi lintas bangsa

Di akhir pertemuan beberapa hal yang menjadi perhatian bersama bagi peserta adalah perlunya perubahan paradigma dalam sistim pendidikan arsitektur sehingga lebih akomodatif dan tidak semata-mata mejadi penyedia kebutuhan pasar. Selanjutnya juga muncul perhatian bersama tentang kesinambungan profesi arsitek komunitas mulai dari aspek penghidupan hingga aspek pengembangan keahlian.  Terakhir, adalah pentingnya untuk menyadari bahaya bila unsur ’komunitas’ justru tertinggal saat arsitektur komunitas sebagai sebuah gerakan telah bergulir.

Akhir kata, pertemuan sebesar ini harus menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar kesenangan mendapat teman dan pengalaman baru. Pertemuan ini selayaknya menjadi pemula, pembuka peluang kerjasama dan pengembangan jaringan, sehingga menjadi langkah awal bagi gerakan arsitektur komunitas di Asia.

Box.2 Siapakah dia Arsitek Komunitas?

  1. Arsitek yang bekerja untuk kaum tuna wisma atau ‘miskin hunian’.
  2. Yang terlibat di perbaikan kampung miskin kota, rekonstruksi pasca bencana, dan perbaikan desa.
  3. Yang bekerja lebih untuk kepuasan daripada untuk uang, lebih sebagai respon terhadap situasi sosial daripada sebagai pemilik kualifikasi akademik.
  4. Yang menghormati tradisi, budaya, pengetahuan dan keahlian rakyat dalam hal rancang bangun, yang percaya dan melaksanakan metode partisipatif.
  5. Yang berkomitmen untuk biaya-murah dan teknologi tepatguna dan kearifan lokal dan konteks.
  6. Yang mendengarkan rakyat, memahami hidup dan kebutuhannya, menolak untuk memaksakan pandangan, representasi, dan kekuatan dirinya di dalam rancang bangun.
  7. Yang peduli terhadap aspek psikologis penghuni dan dimensi sosio-kultural dari pengembangan hunian.
  8. Yang memperhatikan iklim dan lingkungan dan berkomitmen untuk pembangunan lestari.
  9. Yang perjuangan kreatifitasnya tidak dibatasi oleh pencarian bentuk baru melainkan doing more with less, dan seeing big in small.
  10. Yang memiliki klien tidak hanya individu, kelompok, dan komunitas, melainkan juga kelas (rakyat miskin, kelompok terkena bencana, tuna wisma) bahkan masyarakat secara keseluruhan.
  11. Yang lebih bekerja dengan rakyat daripada untuk rakyat.
  12. Yang inventif menggali sumberdaya dari rakyat dan lingkungan terdekat sebelum mencari keluar
  13. Yang bekerja tidak sebatas menangani gejala melainkan menangani akar masalah. Dia tahu kemiskinan hunian adalah gejala dan ketidak-adilan sosial adalah akar masalah.
  14. yang memiliki visi kemasyarakatan
  15. yang selamanya dalam proses belajar
  16. yang pekerjaannya tidak selalu menyediakan melainkan juga memfasilitasi
  17. yang tidak bangga dengan apa yang dia lakukan tetapi menjadi sebab
  18. Mereka bukan individu melainkan tim. Mereka bekerja bersama dan kebersamaan adalah etos mereka. Sinergi adalah mantra mereka. Mereka multi-disipliner dalam hal keahlian dan karakter.
  19. Bukan menyediakan jasa melainkan pemberdayaan adalah visi mereka
  20. Proyek kecil adalah pijakan untuk belajar, up-scaling dan city-wide adalah tujuan
  21. yang bertindak lokal dan berpikir global. Yang ruang semestanya mikro maupun makro
  22. Yang memimpikan perubahan sistem/ kemapanan, yang mereformasi persepsi dan praktek.
  23. Tidak terlatih secara formal kadang justru berasal dari komunitas.

Demikian sebagian 23 dari sekian karakter yang dimiliki olek arsitek komunitas seperti disampaikan oleh Kirtee Shah, seorang arsitek komunitas senior dari Ahmedabad, India.

Box.1 Asian Coalition for Housing Rights  (ACHR)
ACHR berawal dari sekumpulan arsitek dan aktivis dari belasan

negara-negara Asia yang bergerak bersama menentang penggusuran

berkaitan dengan penyelenggaraan Olimpiade di Korea Selatan pada

tahun 1986. Adalah Arsitek-Pastor J.E. Anzorena yang dalam 30 tahun

terakhir secara teratur mengunjungi negara-negara di Asia dan

menulis tentang arsitek yang bekerja bersama komunitas dalam jurnal

Selavip. Tahun 2009 ACHR meluncurkan program Asian Coalition for

Community Action (ACCA) untuk perbaikan kampung-kampung miskin kota

di Asia. Somsook Boonyabancha menjabat sekretaris jendral ACHR.

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: none |