News


02 Sep 2010

Seri Lokakarya Ekonomi Komunitas Perkotaan di Rawabelong

26-28 September 2010
Di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat.

Tenggat Waktu Pendaftaran: 19 September 2010

Tersedia tempat gratis untuk 10 peserta atas dasar first come, first served.  Harap segera mendaftar. Lihat di bawah.

Rujak Center for Urban Studies (RCUS) bekerja sama dengan Kunci Cultural Studies Center dan Ruang Rupa mengundang anda semua untuk berpartisipasi dalam Seri Lokakarya Ekonomi Komunitas Perkotaan di Pasar Rawabelong. Ini suatu  Bengkel Kerja Lintas Sektor yang berlokasi tepat di tengah Pasar Bunga Rawabelong.

Latar Belakang

Dalam menentukan kebijakan pembangunan perkotaan, pihak perencana hanya memperhatikan angka pertumbuhan ekonomi. Dan ketika para investor hendak menanamkan modal, mereka hanya memperhatikan data ekonomi nasional dan kondisi ekonomi politik. Menurut Lin Che Wei, dalam disiplin ekonomi pun didapat kesan bahwa tidak ada ekonom yang sungguh mengkhususkan diri mempelajari Ekonomi Perkotaan.

Pengambil keputusan kerap mengabaikan kompleksitas ekonomi komunitas, yang diwakili oleh pasar-pasar, yang memiliki dimensi hubungan-hubungan sosial yang terjalin kuat dengan produktivitas ekonominya. Produktivitas ekonomi dan reproduktivitas sosial saling jalin menjalin dalam kehidupan sehari-hari, dalam komunitas yang tidak secara formal dan kaku memisahkan ruang kerja dan ruang hidup.

Contoh menarik adalah Pasar Rawabelong dan kampung serta komunitas sekitarnya (Sukabumi Selatan hingga Palmerah). Bermula dari kampung Betawi, tempat asal si Pitung, penuh dengan kebun Anggrek dan berbagai macam tanaman. Kemudahan bercocok tanam bunga pun ditambah dengan lokasi Rawa Belong yang dekat dengan Kali Pesanggrahan. Para petani pun kemudian menjual bunga hasil panenannya di pinggiran Jalan Palmerah.

Tetapi, dengan berjalannya perkembangan kota, Rawabelong seakan dibiarkan saja tanpa perencanaan seperti pembangunan universitas di dekatnya, dan perkembangan eksternal seperti menurunnya permintaan akan bunga oleh perubahan gaya hidup, dapat mengurangi secara tidak semestinya vitalitas ekonomi komunitas Rawabelong. Kalau saja ada pengetahuan dan kesadaran lebih tinggi, maka perubahan-perubahan itu dapat dijadikan faktor dalam rencana pengembangan ekonomi komunitas pasar bunga tersebut.

Rawabelong adalah sebuah ekonomi yang menghubungkan kota dan wilayah. Pada saat yang sama, ia terkait dengan kegiatan di seluruh Jakarta, misalnya digusurnya pedagang bunga di Taman Barito, maupun perubahan gaya hidup.  Pengetahuan akan “ekonomi mikro perkotaan” begini niscaya diperlukan untuk mengelola kota, ketika perubahan-perubahan diperkenalkan dengan sengaja, sehingga dampak negatif dan positifnya dapat diperkirakan dan karena itu dapat dikelola dengan sengaja, bukan hanya sebagai dampak tak sengaja yang dibiarkan begitu saja tanpa sikap.

Luruhnya Ruang-Ruang Ekonomi dan Sosial Milik Komunitas

Sebelum berubah menjadi pasar modern, pasar bunga ini merupakan ruang penengah antara antar hubungan barang dan pedagang, serta pembeli dan dunia luar, dimana bunga menjadi perantara dalam hubungan tersebut. Malah dalam ulasan lain, Betsky menyatakan bahwa pasar bak panggung untuk kebebasan ide dan pengalaman. Namun kebebasan tersebut, seiring waktu mengalami penurunan, bersamaan dengan upaya untuk meregulasi ruang.

Perkembangan kota dan masyarakat yang semakin konsumtif, terhadap produk maupun ruang, memiliki hubungan langsung dengan meningkatnya pentingnya formalitas dalam persepsi terhadap ruang-ruang ktoa. Formalitas tersebut juga membawa kepada hubungan yang efisien dan efektif. Bagaimana akhirnya prinsip ekonomi berada diatas, dengan satu pemikiran yaitu efisiensi biaya dan kemampuan untuk menyediakan ragam macam bunga sesuai dengan permintaan.

Membayangkan ‘Ruang’ Komunitas

Workshop ini didedikasikan untuk membayangkan bagaimana relasi-relasi yang terjadi antara Pasar, Komunitas maupun kepentingan lain diluarnya. Melalui persepsi dan perkembangan persepsi dari masing-masing anggota, tanpa ada keterbatasan media maupun batas, sehingga peserta bebas untuk mengeluarkan intepretasi dan tawarannya terhadap Pasar Rawa Belong dan komunitas sekitarnya.

Jadwal Workshop:

26 – 28 September 2010

Lokasi:

Pasar Rawa Belong

Kegiatan:

1. Tour Rawa Belong dan Hutan Kota Srengseng

2. Diskusi Lintas Sektor

Pendaftaran:

Unduh formulir pendaftaran disini: http://rawabelong.wordpress.com/daftar/

dan kirimkan formulir pendaftaran ke email kami di: info@rujak.org

Selain untuk 20 orang undangan, kami masih menyediakan tempat gratis untuk 10 peserta. Silakan mendaftar segera untuk mendapatkan tempat terbatas ini atas dasar first come first served.

Informasi lebih lanjut mengenai workshop dapat dibaca di: rawabelong.wordpress.com

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


24 Aug 2010

Keanekaragaman Hayati Jakarta: Survei Sabtu

Survei keanekaragaman hayati Jakarta ke IV akan berlangsung pada Sabtu, 28 Agustus 2010, pk 07.00 di hutan kota Kridaloka , Senayan, (belakang kolam renang).

Siapa saja boleh ikutan, dengan latar belakang apa saja, pasti akan berguna. Tidak ada biaya, hanya tiket masuk ke dalam hutan kota ini Rp 5.000,00/orang.

Bawa buku saku untuk mencatat, gunakan pakaian warna gelap (biar burung tidak kaget) dan bila ada binokuler silakan dibawa.

Sebelum ikut, mohon mendaftar dulu via email : petahijaujakarta@yahoo.com.

Kontak person untuk survei ke IV ini adalah : Ady 08176586743 O ya, sedikit cerita dari survei ketiga di Taman Suropati , bisa dibaca di sini : http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=17703&post=1

Salam,

Bayu (Koordinator Peta Hijau Jakarta)

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


23 Aug 2010

Grants for Art and Cutural Project: Arts Network Asia (ANA)

Call for Applications for Arts Network Asia (ANA) Grants 2011

Now Open – Deadline 1 October 2010

Artists, cultural workers and arts activists interested in collaboration, networking, dialogue and exchange in Asia are now welcome to apply for the Arts Network Asia (ANA) Grants 2011 scheme.

ANA supports projects that are carried out by Asian artists, residing in Asia and projects that are to be initiated and implemented in Asia, engaging with Asian artists and arts communities. Projects that encourage provocative exchanges and collaborations between and among various cultures and communities within Asia will be considered. ANA pays attention to the contemporary experience of Asia including its relationship with traditions. This includes urban expressions, contemporary arts, contemporary arts and its relationship to traditional arts. These collaborations and exchanges with diverse cultures can be within the same country or the same city. ANA would look into the potential of local-regional-global complementation.

ANA supports projects in multiple disciplines such as performing arts, visual arts, film/video/new media, literature, critical discourse, arts management and technical arts as well as hybrid interdisciplinary projects. In considering proposals, ANA will include the following as its criteria for selection: (1) Independent and process-oriented arts projects, (2) Sustainable, long-term development programme (3) Artistic merit of the project and its positive impact on the arts communities (4) Visibility of the project e.g. physical events, project website/blog, (5) Presence of other sources of funding and (6) Proposed project should be implemented from February 2011 onwards. The ANA grants range from US$1,500 – 7,500 for each project.

Applicants are required to submit one-A4 page project proposal enclosed with a 200-word bio/profile in PDF format via the ANA website (www.artsnetworkasia.org). The deadline for the submission is 1 October 2010.

Past projects supported by ANA can be found on ANA website, these can be reviewed for reference. If there are ANA Peer Panel members residing in your country, they can also be consulted for guidance and assistance.  Peer Panel names and contacts are available on ANA website.

For further information or inquiries, please contact Manuporn Luengaram, Manager airmanuporn@artsnetworkasia.org or fax on +65-6737-7013 or contact Tay Tong, Director: taytong@theatreworks.org.sg

About Arts Network Asia (ANA)

Arts Network Asia (ANA) is a regional and independent network of artists, cultural workers and arts activists from Asia and an enabling grant body, working across borders in multiple disciplines that encourages and supports artistic collaboration, dialogue, exchange as well as develop managerial and administrative skills within Asia. ANA is motivated by the philosophy of meaningful collaboration, distinguished by mutual respect, initiated in Asia and carried out together with Asian artists and arts communities.

ANA was found in 1999 by Ong Keng Sen, Artistic Director of TheatreWorks (Singapore).

It was hosted and managed by TheatreWorks (Singapore) from 1999 to 2003. Five Arts Centre (Malaysia) hosted the network from 2004 to 2006. Since 2007, ANA has been hosted and managed by TheatreWorks at 72-13, Singapore.

The ANA is supported by The Ford Foundation.

For more information, please visit www.artsnetworkasia.org

No Comments »

| Agent of Change: none |


12 Aug 2010

Survei Keanekaragaman Hayati di Taman Margasatwa Ragunan :

Tulisan oleh Febri Yanti, Foto oleh Ady Kristanto

Minggu pagi jam 7.30 di depan loket utara Ragunan sebelas orang berkumpul di bawah pohon sengon laut depan kolam pelikan. Kalau dilihat sepintas burung ini seperti patung. Setelah berkenalan satu sama lain, kami dibagi menjadi dua kelompok survei: kelompok barat dan timur. Dalam tiap kelompok terdapat pemeta hijau  dan pengenal burung (birdwatcher).

Daerah jelajah kelompok barat sebenarnya lebih kecil dibandingkan kawasan timur,  bila dilihat dari peta ragunan yang dibagikan. Tak lama setelah kami berjalan, beberapa burung mulai terlihat dan bersuara. Sempat berhenti sebentar di depan kandang burung emu dan kasuari. Tapi fokus utama kami bukan dua burung besar ini. Perlahan namun pasti kami mencoba mencari dan melihat pergerakan yang ada di pohon. Ternyata ada Bajing kelapa (Callosciurus notatus) di atas pohon, sedang berlari-lari kesana kemari, mungkin sedang mencari sarapan, pikir kami.

Walaupun agak berawan tapi cukup ramai suara burung pagi ini. Apalagi suara Betet biasa (Psittacula alexandri) yang sering terdengar dari awal perjalanan dan tak hanya satu individu yang kami temukan melainkan banyak sekali. Selain itu kami juga menemukan dua ekor Jalak putih (Sturnus melanopterus) yang sedang memakan serangga kecil. Jenis ini sangat terancam punah. Ia mungkin burung yang terlepas, karena dari survei Jakarta Birdwatchers Community di kawasan ini mulai tahun 2003 hingga sekarang, tidak pernah ditemukan di Taman Margasatwa Ragunan.

Melewati kandang komodo, yang sedang berdiam diri, di salah satu pohon di kandang tersebut, terlihat burung Merbah cerucuk (Pycnonotus goiavier), dan di dekatnya terlihat bunglon yang mempunyai leher berwarna merah. Tanpa teropong pasti yang belakangan ini tidak terlihat, sebab nampak seperti batang pohon kering.  Inilah Bunglon taman (Calotes versicolor).

Sampailah kami di dekat Pusat Primata Schumutzer (PPS) di taman yang ada patung orangutan. Di samping patung tersebut terdapat jalan batu untuk “pijat refleksi” seperti yang ada di Taman Monas atau Taman Suropati. Menarik sekali untuk mencoba berjalan disana. Tak jauh dari situ terdapat pohon yang sepertinya  cocok diberi aikon “autum leaves”. Namun kami tidak tahu jenis pohon apa itu. Daunnya banyak yang berwarna kuning, dan sedang gugur. Di sini kami juga bertemu burung Kepodang kuduk hitam (Oriolus chinensis) yang dominan bulunya berwarna kuning dan menemukan lebih dari 5 jenis kupu-kupu serta capung.

Kami lalu berjalan menuju Makam kramat kampong kandang. Pada hari-hari tertentu tempat ini suka di datangi masyarakat untuk berziarah. Di tempat yang terlihat sepi ini kami juga menemukan burung-burung seperti Bentet kelabu (Lanius schach) lalu ada Cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps) dan lainnya. Tidak jauh dari situ kami menemukan tanaman pepaya yang buahnya berwarna kuning dan ada beberapa pohon jambu mawar, yang buahnya berwarna putih mendekati pink. Buah dagingnya agak keras (sepertinya belum matang) dan rasanya agak sepet.

Kami lalu bertemu danau dalam arah menuju pintu selatan, Mata kami kembali menyisir area hijau yang ada di sekitar danau. Hasil dari penyisiran tersebut tidak sia-sia. Ada 8 ekor kakaktua jambul kuning (Cacatua sulphurea) yang kami temukan. Lagi-lagi pohon flamboyan yang rupanya menjadi sarang kakaktua tersebut. Posisi pohon agak ke tengah dan dikelilingi rumput besar yang agak padat dan rimbun. Dari kejauhan bisa terlihat beberapa lubang besar. Kami menduga itu mungkin sarangnya.

Tidak jauh dari danau, ada tempat pengomposan sampah organik. Sambil berjalan dan tetap menyisir area, kami meihat di sisi dekat sungai ada biawak (Varanus salvator) yang sedang memanjat tanah. Area danau di bagian selatan Ragunan adalah salah satu tempat sepi dan jarang sekali didatangi pengunjung, dan memang tidak ada binatang yang diperagakan disini.

Di depan kantor kesehatan hewan terdengar bunyi burung Wiwik kelabu (Cacomantis merulinus). Maksud kami mau mencoba mencari burung tersebut di dekat kandang babi rusa, tetapi ternyata yang ditemukan disana adalah Gelatik jawa (Padda oryzivora), salah satu burung yang mempunyai warna indah. Namun hanya nampak satu. Ia sedang bertengger di pohon. Sama halnya dengan Jalak putih, burung ini mungkin hasil lepasan orang atau melarikan diri dan sampailah di ragunan. Semoga mereka bisa bertahan hidup.

Karena sudah ditunggu teman2 dari kelompok lain, lalu kami juga sudah lelah dan lapar, kami bergegas kembali ke kolam pelikan, Jika disimpulkan hari ini kami menemukan sekitar 33 jenis burung, 2 jenis reptilia, lebih dari 5 jenis kupu-kupu dan capung, serta beberapa mamalia seperti bajing kelapa. Senang rasanya di Jakarta masih memiliki kawasan seperti ini

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: Peta Hijau |


11 Aug 2010

Mengenang Pasar Mayestik

Berapa kali dalam sebulan anda mengunjungi pasar tradisional? Itu adalah salah satu pertanyaan dalam survey terhadap 34 orang peserta kunjungan ke Pasar Mayestik yang diselenggarakan oleh JEMA Tour. 16 orang diantaranya menjawab bahwa mereka tidak pernah mengunjungi pasar tradisional. Dan 16 orang pun mengaku tidak pernah mengunjungi Pasar Mayestik, sedangkan 4 orang menolak untuk menjawab.

Beberapa saat lalu, Pasar Mayestik sempat mencuat dalam pemberitaan metropolitan, karena rencana PD Pasar Jaya untuk ‘meremajakan’ pasar tersebut. Pasar tersebut hingga saat dibongkar menampung sekitar 600 pedagang. Ada banyak hal yang menarik dalam pasar Mayestik. Ingin membeli bahan baju dan menjahitkannya dengan harga terjangkau? Disini lokasinya. Pasar Mayestik pun menyediakan berbagai macam peralatan memasak dan membuat kue. Juga pantas menjadi salah satu tujuan kuliner, yaitu demikian banyak penjual rujak bebeg, ada penjual Gabus Saksang hingga snack KhongGuan, disamping juga makanan tradisional diluar Jakarta seperti gudeg dan Nasi Krawu. Disini juga ada pusat jamu yang terkenal, yaitu Toko Jamu Had.

Pasar Mayestik populer dikalangan wanita -terlebih karena tersedia aneka bahan pakaian dan usaha menjahit dengan harga yang terjangkau dan kualitas baik. Ada toko besar Esagenangku, lalu juga banyak kios-kios yang menjadi tujuan para calon pengantin muda untuk mencari barang-barang seserahan untuk upacara pernikahan.

Awal Agustus ini, Pasar Mayestik yang ada pun tinggal kenangan, karena perlahan-lahan pedagang pindah ke tempat penampungan dan kontraktor mulai melakukan kegiatan konstruksi. Tempat penampungannya sendiri hanya terdiri atas 2 lantai, dengan lantai pertama sebagai pasar basah dan makanan sementara lantai kedua menjadi pasar kering yang menjual bahan-bahan pakaian, keperluan dapur hingga usaha menjahit. Kondisi pasar penampungan pun sangat sempit, juga ukuran kios dan koridor yang lebih sempit dibandingkan Pasar Mayestik.

Namun ternyata kondisi tersebut tidak menyurutkan peserta Tour Pasar Mayestik JEMA Tour untuk kembali mengunjungi Pasar Mayestik, setidaknya 25 orang dari peserta tour menyatakan ketertarikannya untuk berkunjung kembali.

Di mata peserta tour, buruknya kondisi fisik pasar menjadikan hal utama dalam kekurangan pasar, misalnya kios-kios yang tak tertata dengan baik, sempit, panas, kotor, kekurangan fasilitas toilet, hingga kurangnya lahan parkir. Namun kondisi fisik yang buruk tersebut diimbangi dengan varian barang dan jasa yang ditawarkan pasar, dan para peserta merasa terkesan dengan kelengkapan barang dan jasa yang ditawarkan, terlebih varian makanan khas daerah.

Terdapat potensi besar dalam Pasar Mayestik, yaitu potensinya sebagai pusat garmen dan busana, mengingat koleksi yang ditawarkan beragam, mulai dari berbagai macam kain, batik, ulos, aksesoris pakaian, toko kancing, hingga desainer dan tukang jahit.

Tentu saja banyak yang diharapkan dari Pasar Mayestik baru, yang kononnya akan setinggi 8 lantai. Misalnya perbaikan fasilitas pengujung seperti parkir dan WC, lokalisasi atraktif untuk penjual makanan serta sarana kebersihan yang mendukung, hingga manajemen yang lebih baik. Setidaknya dengan perbaikan fasilitas yang dilakukan PD Pasar Jaya, diharapkan pula agar terjadi perbaikan mutu dan kualitas pedagang, dengan melalui peniadaan pungli, pelatihan pemasaran hingga upaya menjaga kebersihan.

Di Toko Jamu

Mobil pun jadi kios

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |


10 Aug 2010

URBANIZATION IN CLIMATE CHANGE: Call for Papers

EXTENDED DEADLINE FOR ABSTRACT SUBMISSION

August 13, 2010

Indonesian Association of Planners (IAP) – International Conference on

URBANIZATION IN CLIMATE CHANGE:

Spatial Planning as a Strategy Towards Resilient and Low Carbon Cities

19-20 October 2010, Jakarta, Indonesia

http://conference-iap2010.com/

Final Call for Papers

In response to the growing global concern on climate change and its impact to the cities, and hope to formulating the near ideal solution to maintain and improve the sustainability of the cities, Indonesian Association of Planners (IAP) is pleased to present international conference with the theme “URBANIZATION IN CLIMATE CHANGE: Spatial Planning as a Strategy Towards Resilient and Low Carbon Cities”. This event is an initiative of the IAP in collaboration with Directorate General of Higher Education – Ministry of Education and Urban Studies Postgraduate Program UI (Universitas Indonesia), to be held on 19 – 20

October 2010 at

Hotel Borobudur, Jakarta.

The aim of the conference is to promote a stronger collaboration among practitioners, academicians, community leaders, public and

government officials, policy-makers, civic activists and other professionals from diverse disciplines and regions around the

world

in order to capture the benefits of urbanization, as well as mitigate and adapt to climate change and socioeconomic change and their

impacts. Its objective is to share and learn from international and local experiences regarding current issues, best practices and

policy implications of creative collaboration on spatial planning.

The following four suggested topic areas are

intended to guide your submissions; however, they should not be viewed as exclusive

which are:

1.       Climate Change Impact to Urban Infrastructure, including the topic of housing and settlement; road and other transportation

infrastructure; social and economic facilities, and urban heritage building as well.

2.       The Risk of Urban Coastal Community, including the topic of vulnerability of the coastal area, the risk of economic

activities, social behavior changes, and the lifestyle adaptation.

3.       Planning tools for Resilient City (adaptation), including the topic of saving resources consumption, climate governance,

adapted community planning, and social capital for community resilience.

4.       Planning tools for Low-Carbon City (mitigation), including the topic of public  transportation system, energy saving,

green lifestyle, carbon emission, and re-urban design.

We expect the papers will come from the interdisciplinary approach which emphasize on integrating the spatial planning approach

to the climate change factors.

For further information please visit http://conference-iap2010.com/

Conditions

* Participants with best papers are excluded from participation’s fee

* Papers selected for the conference will be given assistance for either national or international publications by the reviewers.

- Papers written in English shall be addressed for international publications

- Papers written in Indonesian shall be addressed for national publications

Further information please visit http://conference-iap2010.com/abstrak.php

Or send an email to info@conference-iap2010.com

Registration

Registration has been opened since July 20th.

Please visit http://conference-iap2010.com/registrasi.php to register for the International Conference on Urbanization in Climate Change.

Registration fees:

Early bird registration (Before August 15th):

- General participants (IDR 300.000)

- Student (IDR 150.000)

After August 15th:

- General participants (IDR 500.000)

- Student (IDR 300.000)

Payment should be transferred to:

Bank Mandiri Cabang Jakarta-Tebet

Account No. 124-0095032018

on behalf of Ikatan Ahli Perencana

Send the payment slip to info@conference-iap2010.com

Organizing Committee

IAP International Conference 2010 on Urbanization in Climate Change:

Spatial Planning as A Strategy Towards Resilient and Low Carbon Cities

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


04 Aug 2010

Burung Hantu di Jakarta?

Burung Hantu ini menabrak pengendara sepeda motor pada malam hari jam 20:45, tanggal 5 Agustus 2010, di Jalan Sunda Kelapa, belakang mesjid, Menteng, Jakarta Pusat.

3 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


15 Jul 2010

Arsitektur dan Produksi Ruang Kota

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


06 Jul 2010

Ruang Bermain Anak : Teka-teki di Ruang Publik

Oleh Carmelia Soe.

Minggu, 25 Juli 2010 di Jogja National Museum, pukul 8 pagi.

Selamat datang hari Minggu. Saatnya kita bermain.

Isu tentang anak selalu menarik perhatian siapa saja. Banyak kegiatan diselenggarakan atas nama anak, dan dipersembahkan untuk anak-anak. Namun, seberapa besar keterlibatan anak sebenarnya? Seberapa besar kebutuhan anak akan hal yang ditawarkan? Respon yang sama menariknya juga diberikan ketika topik yang diangkat bertajuk ‘ruang publik’.

Ruang kota sesungguhnya adalah publik. Dasarnya, seluruh warga memiliki hak untuk memanfaatkan ruang-ruang tersebut.Ruang kota tidak hanya harus enak dilihat tapi juga memiliki hubungan batin dengan masyarakat. Dengan begitu, masyarakat yang bertemu di ruang publik diikat dalam setting yang lebih luas daripada rumah sendiri¹. Masyarakat disini tentunya harus dibaca secara lebih bijaksana; anak-anak adalah bagian dari masyarakat.

Baru-baru saja Yogyakarta menjadi tuan rumah pameran 30 tahun Refleksi Gerakan Anak di Indonesia, bertempat di area Jogja National Museum. Maka tak ada salahnya bila di tempat itu pula, kita membaca catatan anak-anak: apa kata mereka tentang ruang publik ini.

Relawan Peta Hijau Yogyakarta, dalam Jagongan Media Rakyat 2010, mengajak anak-anak dari beberapa sekolah dasar dan kampung sekitar Jogja National Museum untuk bermain teka-teki dengan metode Green Map System©. Ini adalah permainan yang sangat sederhana. Anak-anak hanya perlu menjadi dirinya sendiri dan mencatatkan apa-apa yang mereka ingin ekspresikan dalam ruang publik ini. Apa-apa yang ada bagi mereka, apa-apa yang mereka bayangkan ada, apa-apa yang menurut mereka tidak.

Ini seperti teka-teki yang harus mereka cari, di tempat-tempat yang konon adalah ruang mereka juga. Jawabannya, tentu saja, harus dari mereka juga. Keluaran dari kegiatan workshop ini adalah sebuah drawing map yang memuat informasi dari sudut pandang anak, baik yang sehari-hari menggunakan tempatan JNM, maupun yang sedang bermain di sana. Dari catatan ini pula, kita akan melihat bagaimana teka-teki ini dijawab oleh mereka, yang paling membutuhkan ruang bermain. Apakah anak-anak, pada dasarnya, adalah kelompok yang dituntut untuk kreatif dengan merespon lingkungan sebagai sumber inspirasi? Atau, pada intinya, anak-anak adalah tempelan di ruang publik?

Workshop ini akan diberikan sebagai rangkaian dari Jagongan Media Rakyat, pada hari Minggu, 25 Juli 2010 di Jogja National Museum, pukul 8 pagi.

Carmelia Soe adalah relawan Peta Hijau Yogyakarta dan seorang guru taman kanak-kanak.

4 Comments »

| Agent of Change: Peta Hijau |


04 Jul 2010

Breaking News: Besok Media Briefing Kesiapan Jakarta terhadap Banjir

PEMPROV DKI JAKARTA : Media Briefing Kesiapan Pemerintah DKI Jakarta Mengantisipasi Potensi Ancaman Banjir”

Tempat : Balai Agung Balaikota, Jl. Medan Merdeka Selatan,
Tanggal : 2010-07-05, 12.00 – 15.30 WIB
Kontak : runi: 081399283356

No Comments »

| Agent of Change: none |