News


11 Mar 2010

20 Menit Sehari Bacakan Cerita untuk Masa Depan Buah Hati Anda

Teks dan Foto oleh Roosie Setiawan. Lebih dari 120 guru Sekolah Dasar yang tersebar di Jakarta, Depok, Bekasi dan Serpong dapatkan pelatihan dari Reading Bugs tentang “guru membacakan” cerita, artikel, puisi dan materi cetak lain didepan siswa. Diharapkan guru menularkan strategi membaca dan menjadi contoh bagi siswa.

Kesan positif didapat dari para guru-guru ini dan timbul harapan agar Reading Bugs dapat memberikan pelatihan read aloud ini kepada semua guru, agar kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan. Reading Bugs dengan senang hati memberikan pelatihan read aloud dengan tujuan menjadikan anak-anak Indonesia mau membaca dan bisa membaca akhirnya tumbuh menjadi anak yang gemar membaca.

No Comments »

| Agent of Change: Reading Bugs |


08 Mar 2010

Siaran Pers Koalisi Warga untuk (Rencana Tata Ruang Wilayah, RTRW) Jakarta 2010-2030

Jakarta, 8 Maret 2010.

Kepada yth.

- Pimpinan Media Massa

- Warga Jakarta

Sehubungan dengan pernyataan Gubernur Jakarta Fauzi Bowo di Harian KOMPAS Tanggal 7 Maret 2010, hal 4, bahwa “Pemerintah telah berupaya menjaring aspirasi mayarakat dengan diskusi publik berseri sejak 2009”, kami sampaikan tanggapan sebagai berikut:

1. Pada dasarnya, apa yg dilakukan Pemda dalam proses partisipasi sampai saat ini adalah SALAH, karena:

a.     Proses itu tidak menjangkau tingkatan keberadaan dan aktifitas warga dalam keseharian mereka.

b.     Pemda Jakarta tidak menjelaskan secara gamblang kepada masyarakat alasan, risiko dan konsekuensi dari keputusan-keputusan yang diambilnya.

c.     Naskah Akademis, yang menjadi studi dasar atas pilihan-pilihan strategis yang dituangkan di dalam RAPERDA, tidak dipaparkan kepada masyarakat dalam bentuk dan bahasa yang dimengerti oleh masyarakat luas.
2. Persoalan proses partisipasi bukan soal sudah atau belum saja, tetapi soal “bagaimana”. Secara prosedural, sejauh ini setidaknya ada tiga peraturan perundang-undangan yang TIDAK dipenuhi:

a.     Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 15 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi.

b.     Undang-Undang No 14 Tahun 2008 tentang Kebebasan Informasi Publik.

c.     Undang-undang No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

3. Secara substansi (dan prosedural), undang-undang yang belum dipenuhi adalah Undang-undang No. 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup, yang mensyaratkan dilakukannya Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang harus dilaksanakan mendahului proses penyusunan RTRW.
Tidak dipenuhinya KLHS ini bertentangan dengan pernyataan Gubernur pada kesempatan yang sama dengan di atas, bahwa “Pemerintah berupaya berbuat terbaik dengan menelurkan RTRW terintegrasi dengan kawasan sekitarnya dan berbasis pelestarian lingkungan.

4. Rangkaian diskusi yang telah diselenggaran oleh Pemerintah tidak memenuhi syarat-syarat “MATERI”, “JANGKAUAN” dan “METODE” dari proses partisipasi itu sendiri.

a.     Seharusnya dalam proses dengar pendapat materinya harus dipilah sesuai dengan kepentingan kelompok pemangku-kepentingan (stakeholder), bukan dibagi secara teknis-sektoral (seperti transportasi, banjir, dan lain-lain). Proses partisipasi seharusnya bertujuan MENAMPUNG KEPENTINGAN pemangku kepentingan UNTUK DIJADIKAN MASUKAN BAGI PERENCANAAN TEKNIS.  Para pemangku kepentingan ini misalnya adalah: pedagang pasar, pedagang kaki lima, penghuni kampung di tengah kota, penghuni real estate/perumahan formal, organisasi keagamaan, para guru, orangtua murid, dan lain-lain.
Selain itu stakeholder juga perlu dibagi menurut tingkat wilayah kepentingannya, misalnya tingkat RT-RW, tingkat bagian kota, atau tingkat regional/nasional.
Proses partisipasi harus menjangkau tingkatan dimana kelompok yang diundang adalah mereka yang terkait dengan keberadaan dan aktifitas mereka sehari-hari.

b.     Selama ini, yang diundang umumnya hanyalah “para ahli” dan “pengamat” yang sama sekali tidak mewakili pemangku-kepentingan.

c.     METODE pelaksanaan seri diskusi yang diselenggarakan PEMDA sekarang bermasalah karena para pemangku kepentingan yang diundang tidak diberikan informasi yang akurat dan sahih sebelumnya.
Sekarang ini seolah-olah Pemda tidak berkewajiban untuk menjelaskan kepada mereka mengenai konsekuensi2 berbagai keputusan teknis yg diambil terhadap berbagai kelompok masyarakat. Contohnya adalah bahwa keputusan membatasi jumlah penduduk yang mengandung konsekuensi yang fatal bagi kota secara keseluruhan, misalnya terhadap keberagaman sosial, dan kemungkinan tergusurnya penduduk kelas menengah bawah dan kelas bawah. Hal ini juga berarti jumlah area yang beralih fungsi menjadi komersial akan semakin besar, dan seterusnya. Belum lagi konsekuensi dari pertambahan jumlah komuter terhadap beban ekologis kota, karena sebagian besar dari orang yg tidak tertamnpung itu kemudian menjadi komuter.

d.     Visi untuk RTRW Jakarta 2010-2030 telah diambil begitu saja dari Rencana Pembangunan Jangka Menengahh Jakarta yang berasal dari Gubernur sebagai syaratnya memulai jabatan. Hal ini SALAH, sebab visi RTRW 2010-2030 adalah visi jangka panjang (20 tahun) yang melewati masa jabatan Gubernur. Proses partisipatif diperlukan untuk menyegarkan mandat menyusun visi tersebut.

5. Pemda seharusnya berkewajiban untuk menjelaskan kepada masyarakat risiko dan akibat dari keputusan-keputusan teknis yang diambilnya. Selain soal proyeksi jumlah penduduk, Pemda misalnya wajib untuk menjelaskan masalah reklamasi teluk Jakarta, pilihan sistem angkutan umum, dan lain-lain, yang kesemuanya beresiko tinggi dan menyangkut hajat hidup banyak warga secara mendasar untuk dua puluh tahun ke depan.

6. Proses partisipasi harusnya melibatkan masyarakat membuat pilihan dan membuat keputusan, bukan hanya memberi masukan yang tidak diketahui kemana dibawanya masukan-masukan itu. Seri diskusi yang telah dilakukan Pemda tidak membuatkan satu pun notulensi yang dilaporkan kembali kepada peserta, apalagi masyarakat luas. Sehingga sebenarnya para peserta tidak punya kepastian tentang nasib masukan mereka.

a.n. Koalisi Warga untuk Jakarta 2030

Suryono Herlambang: s.herlambang@gmail.com, 08176034681.

Sekretariat: Jurusan Perencanaan Kota dan real Estat, Universitas Tarumanagara, Kampus 1, UNTAR, Blok L, Lantai 4, Jalan S. Parman No.1, Jakarta Barat. Telp. 021-5638357.

Penghubung lain:
Elisa Sutanudjaja: esutanudjaja@rujak.org, 0816913260
Nana Firman: nanafirman@gmail.com, 08159108243
Marco Kusumawijaya: mkusumawijaya@rujak.org, 0816811563

Koalisi ini terbuka untuk umum. Kami antara lain, adalah:

Ady Kristanto (Pemerhati Satwa dan Lingkungan)

Alfred (KPBB)

Andi Rahmah (NGI)

Andrea Fitrianto (Arsitek Komunitas, Urban Poor Consortium)

Anggriani Arifin (Sosiolog Perkotaan)

Armely Meiviana (Warga Jakarta)

Avianti Armand (Arsitek)

Azwar Anas (Walhi Jakarta)

Danny Wicaksono (Jong Arsitek!)

Dedy Agustrisna (INSWA/Perisai)

Edi Saidi (Urban Poor Consortium)

Elisa Sutanudjaja (Pokja Kota Lestari, Dosen Arsitektur)

Enrico Halim (Warga Kota)

Fatchy (Masyarakat Air Indonesia)

Harya Setyaka (Pengamat Transportasi)

I Putu Dhika (warga kota)

Inne Rifayantina (Jaringan Relawan Kemanusiaan)

Irena Pretika (Warga Kota)

Irvan Pulungan (ICEL, Dewan Walhi Jakarta)

Marco Kusumawijaya (www.rujak.org)

Merdi (Forum Permukiman Jakarta)

Meutia Chaerani (Ibu Rumah Tangga)

Miya Irawati (Universitas Tarumangara)

Muhammad Amry (Forum Permukiman Jakarta)

Nana Firman (Perencana Kota, TCPI Fellow)

Ning S. Purnomohadi (Arsitek Lansekap, Pemerhati Lingkungan)

Puput (KPBB)

Regina Tanudjaya (Universitas Tarumanagara)

Shanty Syahril (Ibu Rumah Tangga, Ahli Kualitas Udara)

Shinta Indriyanti (pemerhati lingkungan)

Silvia Honsa (warga)

Sri Bebassari (INSWA/Perisai)

Sri Palupi (Sosiolog, Institute of Ecosoc Rights)

Suryono Herlambang (Universitas Tarumanagara)

Tubagus Haryo Karbyanto (Forum Warga Kota Jakarta – FAKTA)

Yoga Adiwinarto (Pengamat Transportasi)

Yuli Kusworo (Arsitek Komunitas)

1 Comment »

| Agent of Change: none |


06 Mar 2010

Call for Applications: International Workshop “Climate Change Vulnerability Assessment and Urban Development Planning for Asian Coastal Cities”

The Call for Applications for an upcoming International Workshop entitled, ” Climate Change Vulnerability Assessment and Urban Development Planning for Asian Coastal Cities ” has been extended to 20 March 2010 .

The workshop is organized by the Southeast Asia START Regional Center (SEA-START) and the East-West Center with support from the Asia-Pacific Network for Global Change Research (APN). The workshop will be held 23 August – 1 September 2010 in Bangkok, Thailand .

Please help us spread the word about this opportunity by forwarding this message, with attachment, to any colleagues who might be interested to participate. Workshop organizers are particularly interested in applications from teams of researchers, urban planners, practitioners and/or policymakers tasked with actively contributing to and/or interested to build their capacity in risk and vulnerability assessments for Asian cities at risk.

For more information about the workshop and the application process, please see the attached document or visit:

http://start.org/news/call-applications-workshop-bangkok-asian-coastal-cities.html

No Comments »

| Agent of Change: none |


06 Mar 2010

Leaking Methane Could Push World Closer to Abrupt Climate Change

Institute for Governance & Sustainable Development

**FOR IMMEDIATE RELEASE**

Contact: Alex Viets, IGSD: aviets@igsd.org; +1-213-321-0911

Washington, D.C., March 5, 2010 – Significant amounts of methane found to be leaking from permafrost in the East Siberian Arctic Shelf could push the world closer to the tipping points for abrupt climate changes. According to a study published in Science journal this week, about 7-8 million tonnes of methane are being released from the Shelf each year – about the same amount that the entire world’s oceans release annually. Methane is a potent greenhouse gas considered to be one of the largest contributors to climate change. The fear is that should these leaks turn out to be new, due to rising temperatures, it’s possible that considerably larger pockets of methane will be released from thawing permafrost. Further studies will be necessary to determine whether the methane leaks are due to global warming.

“Regardless of the cause, methane is increasing,” said Durwood Zaelke, President of the Institute for Governance & Sustainable Development, “and this gas is more than 20 times more powerful than CO2 in warming the climate.”

These fast-action measures include reducing emissions of short-lived climate forcers such as black carbon soot, tropospheric ozone, and methane produced from activities such as agriculture, coal mining, and production of oil and natural gas. Because they are short-lived, implementing aggressive mitigation measures can lead to major near-term climate benefits. Expanding biochar production to sequester carbon and increasing urban albedo to reflect solar radiation are also important strategies to reduce the possibility of passing tipping points.

A 2008 study on methane funded by the National Science Foundation found that over 600 million years ago, a sudden release of methane from ice sheets set in motion an abrupt change in climate, transforming the Earth from a cold environment into a much warmer one. While the scientists involved in the study noted that there is no way to determine how much methane it would take to reach that threshold, the current trend of rising emissions is deeply troubling.

“We can’t afford to wait and see what happens,” added Zaelke. “Taking fast action on powerful, short-lived pollutants, capturing carbon through biochar, and reducing the absorption of solar radiation by increasing urban albedo – this group of strategies is our critical insurance policy against abrupt climate change that can offset the effects of CO2 by as much as 40 years or more.”

###

Extensive Methane Venting to the Atmosphere from Sediments of the East Siberian Arctic Shelf, Natalia Shakhova, Igor Semiletov, Anatoly Salyuk, Vladimir Yusupov, Denis Kosmach, Orjan Gustafsson (Science, March 2010): http://www.sciencemag.org/cgi/content/abstract/327/5970/1246

No Comments »

| Agent of Change: none |


04 Mar 2010

JAAGA, Bangalore: Ruang Seni Bergerak

Di Bangalore, subur tumbuh komunitas seni yang kreatif memanfaatkan ruang kota. JAAGA adalah komunitas yang membangun struktur bongkar-pasang yang dapat dipindah-pindahkan ke lahan kosong mana saja di dalam kota. Ia juga dapat dibangun menyesuaikan diri dengan bentuk lahan yang tersedia, karena dibuat dari rangkaian baja yang mudah dibongkar-pasang dan dibentuk dalam berbagai konfigurasi. Di sini penonton dan pelaku pertunjukan berbaur dengan cara yang khas, sehingga merupakan eksperimen yang nantinya dapat saja menghasilkan bentuk baru kesenian.

No Comments »

| Agent of Change: none |


22 Feb 2010

STOP PRESS: Koreksi atas pemberitaan KOMPAS, Senin, 22 Februari 2010

Kepada yth. Redaksi KOMPAS,

Terima kasih atas pemberitaannya tentang keberadaan Koalisi Warga untuk Jakarta 2030.

Saya ingin menyampaikan koreksi atas berita Saudara pada KOMPAS Hari Senin, 22 Februari, 2010, halaman 27 (“Mungkin Perlu Koin Atasi Bencana”) kolom 7, alinea dari atas.

Pada alinea itu tertulis:

Marco Kusumawijaya,……, mengatakan, pemerintah seharusnya bertindak cepat. Pemprov DKI, misalnya, diminta segera menetapkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) DKI 2010-2030.

(Saya garis bawahi “segera menetapkan”)

Pertama, saya merasa semampu ingatan saya belum pernah diwawancarai oleh penulis berita, Sdr. Neli Triana.

Kedua, tuntutan saya dan Koalisi Warga untuk Jakarta 2030 adalah JUSTRU agar MENUNDA penetapan RTRW Jakarta 2010-2030, dan agar MENGULANGr proses penyusunannya secara partisipatif, karena rancangan yang ada sekarang belum memenuhi syarat-syarat substansi maupun prosedural sesuai peraturan perundang-undangan yang sudah ada.

Pandangan saya ini termuat juga dalam tulisan terlampir yang sebelumnya sudah saya kirimkan kepada Redaksi KOMPAS yth.

Salam hormat,

Marco Kusumawijaya

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


09 Feb 2010

Nature Kicks Back, with some help…

Replanted Ficus Elastica is growing at the Goethe Institute Jakarta (Photo by Marco Kusumawijaya, February 9,2010)

Replanted Ficus Elastica is growing at the Goethe Institute Jakarta (Photo by Marco Kusumawijaya, February 9,2010)

The replanted ficus elastica at the Goethe Institute in Menteng, Jakarta, is growing strong! It fell down on October 2009 at about 10:15 after rain and very strong wind.

“Stuborn love, technology and some money have saved the tree,” said Dewi Noviami, a former programme manager at the Goethe House who has persistently asked her boss to have it replanted.

It was not easy. First all the branches above the height of about  three meters were cut off. Then  a small crane (blue in picture) was rented to lift the remain of  the tree, but if failed. A stronger  one (yellow in picture) was then rented and managed to lift the tree, put it in its original position upright. More than 10 sacks of organic fertiliser were first mixed into the soil beneath and surrounding the base of th tree.

This operation might be the first of such scale to take place in the city.

Small truck

The Bigger Truck could eventually lift it (Photo by Goethe Institute, 2009)

The Bigger Truck could eventually lift it (Photo by Goethe Institute, 2009)

You get the scale? (Photo by Goethe Institute Jakarta, 2009)

You get the scale? (Photo by Goethe Institute Jakarta, 2009)

The new shoots springing from the main stock of Ficus Elastica (Local: Karet Kebo). (Photo by Marco Kusumawijaya, Februaty 9, 2010)

The new shoots springing from the main stock of Ficus Elastica (Local: Karet Kebo). (Photo by Marco Kusumawijaya, Februaty 9, 2010)

3 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


05 Feb 2010

Management and Conservation of World Heritage Sites

IMG_1286The United Nations Institute for Training and Research (UNITAR) is pleased to announce the call for applications for the Seventh Session in its Series on the Management and Conservation of World Heritage Sites, to take place between 18-23 April 2010, in Hiroshima, Japan. Entitled Conservation for Peace: World Heritage Conservation Monitoring, the Session will focus on issues surrounding the monitoring of World Heritage Sites, as required by the World Heritage Convention. (more…)

No Comments »

| Agent of Change: none |


02 Feb 2010

M. Farhan dan Kanal Banjir Timur

Farhan di Kanal Banjir Timur bersama rujak, 13 Januari 2010

Farhan di Kanal Banjir Timur bersama rujak, 13 Januari 2010

M. Farhan, tuan rumah (host) acara Tatap Muka di TV One, kunjungi Kanal Banjir Timur bersama editor Rujak pada tanggal 13 Januari 2010. Kunjungan ini ditayangkan pada hari Minggu tanggal 16 Januari 2010.

Kanal Banjir Timur, yang kini secara salah kaprah disebut sebagai Banjir Kanal Timur (BKT karena mengikuti sebutan lama menurut tata-bahasa Belanda, memotong lima aliran air di bagian timur Jakarta. Air dari lima aliran ini, sebelum masuk ke pusat Jakarta, dialirkan oleh kanal tersebut langsung ke laut. Ia diperkirakan akan kurangi banjir sebesar 35 % di kawasan timur, bagian utara Jakarta. Tentu saja angka ini akan berubah-ubah tergantung pada rob, naiknya permukaan air laut karena perubahan iklim, dan tutupan hutan di daerah hulu maupun sepanjang kanal.

Kanal sudah menembus ke laut, tetapi pembangunan tepian (embankment)nya masih jauh dari selesai. Dan, masih banyak tersisa pertanyaan: Bagaimana penataan ruang di sepanjang kanal? Apakah akan jadi ruang publik atau diserahkan kepada swasta? Bagaimana perubahan guna-lahan sepanjang kanal akan direncanakan atau dibiarkan tidak terkendali, diserahkan kepada pasar? Apakah akan dimanfaatkan untuk mengisi kekurangan Kota Jakarta sekarang, seperti ruang terbuka hijau dan biru yang asri untuk kesehatan penduduk? Atau malah nantinya akan tidak terurus dan kotor lagi?

Bagaimana wujudnya dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2010-2030 yang sedang disusun?

Bagaimana menurut Anda? Sampaikan pandangan Anda untuk Rencana Tata Ruang Jakarta 2010-2030. Klik di sini.

Kanal Banjir Timur, Jakarta, 13 Januari 2010

Kanal Banjir Timur, Jakarta, 13 Januari 2010

3 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


20 Jan 2010

Naskah Akademis RTRW Jakarta 2010-2030

http://koalisijakarta2030.wordpress.com/2010/01/19/naskah-akademis-rtrw-2030/

Naskah Akademis menjadi dasar pengambilan keputusan dalam raperda Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030.

Hari ini, kami mendapatkan Naskah Akademis tersebut melalui pihak ketiga, dan secara informal. Walaupun kami telah mengirimkan surat kepada Gubernur yang salah satu poinnya adalah menuntut Naskah Akademis, namun hingga hari ini: Tidak Ada Tanggapan.

Berikut Isi Naskah Akademis (versi tanggal 12 Januari 2010, Revisi keempat)

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: none |