News


01 Sep 2015

Plewo Doi

Noesa bersama sanggar seni Watubo dan Na’ni House menyelenggarakan acara bertajuk Plewo Doi pada 2-13 Mei 2015 yang lalu. Noesa adalah sebuah studio yang aktif dalam kegiatan pelestarian seni dan budaya Indonesia yang turut berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan. Kegiatan ini terlaksana antara lain berkat dukungan Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan yang diselenggarakan oleh Rujak Center for Urban Studies.

Plewo Doi berasal dari bahasa Sikka yang memiliki arti memperkenalkan diri. Pada acara Plewo Doi ini Noesa memperkenalkan kesenian tenun ikat Sikka dan pewarnaan alam kepada masyarakat. Noesa merangkul 22 pengrajin dari Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur yang akan menampilkan hasil karyanya dan juga berbagi pengetahuan tentang tenun ikat Sikka dan pewarnaan alam.

Plewo Doi diselenggarakan beragam bentuk workshop di Museum Tekstil Jakarta. Di antaranya adalah workshop pintal, workshop ikat, worskhop tenun dan workshop warna. Setiap workshop tersebut diisi oleh para pemegang tradisi, yaitu pengrajin – pengrajin dari Maumere. Selanjutnya pada 22-24 Mei 2015, pameran kain dan pagelaran tarian dan musik Plewo Doi diadakan di Dia.lo.gue Artspace.

PlewoDoi-Mardi Gregorius Doko_9717

Di hari kedua, sebelum talkshow dimulai, Watubo menampikan tarian tradisional

PlewoDoi-Mardi Gregorius Doko_9779

Daniel David, selaku narasumber pada diskusi tentang motif bersejarah di Maumere

Pembukaan pameran dilaksanakan pada Jumat, 22 Mei 2015 pukul 19.30 dengan diiringi oleh pergelaran musik dan tarian oleh Sanggar Seni Watubo. Selain pameran kain bersejarah, Noesa juga menampilkan beberapa instalasi yang menceritakan tentang proses pewarnaan alam dan perempuan di balik selembar kain. Dalam acara ini ditampilkan demonstrasi pembuatan kain tenun dan bazaar. Pada hari Sabtu 23 Mei 2015 kembali diadakan workshop warna alam dengan teknik Tie-dye. Dan pada hari Minggu diadakan bincang-bincang dengan Daniel David dari Nani House yang membahas cerita dan sejarah di balik simbol maupun motif pada kain Sikka.

PlewoDoi-Mardi Gregorius Doko_9671

Mama Virginsia yang mendemonstrasikan proses tenun

 

PlewoDoi-Mardi Gregorius Doko_9121

Venue Bazaar di Dialogue, tenant yang mengikuti bazaar Plewodoi: Fika Julia, Osem Store, Praiyawang, Warlami, Noesa, Made, watubo

PlewoDoi-Mardi Gregorius Doko_9071

Wokshop Plewo Doi, mencelupkan kain kedalam pewarna alam

Dengan diadakannya Plewo Doi beserta rangkaian acaranya, Noesa berharap kegiatan ini dapat memperkenalkan, mengajarkan, dan memberikan kesempatan kepada semua lapisan masyarakat untuk turut mengapresiasi usaha pelestarian budaya lokal, khususnya pembuatan tenun ikat dan pewarnaan alam sebagai salah satu kekayaan warisan budaya Indonesia. Selain itu juga memberikan wadah bagi para pemerhati dan pencinta seni dan budayawan untuk berkumpul dan secara aktif memberikan dukungan bagi usaha pelestarian seni dan budaya lokal di Indonesia.

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


31 Aug 2015

Dapur Komunitas Mendira

IbuMendira (3 of 1)

 

Dapur Komunitas Mendira adalah sebuah proyek pembangunan dapur komunitas di dusun Mendira, Jombang. Dusun Mendira terletak di tepi hutan Anjasmara dan memiliki ragam hayati dan kearifan lokal yang sangat kaya untuk di eksplorasi.

Holopis ​melakukan kegiatan ini bersama dengan Kelompok Perempuan Sumber Karunia Alam (KPSKA). Kelompok yang beranggotakan 8 orang perempuan dari Dusun Mendira ini memberanikan diri untuk menyewa lahan desa sebagai lahan pembudidayaan tanaman pangan liar. Dapur ini akan berlokasi di sebelah lahan kebun agroekologi dan akan digunakan oleh warga untuk pengembangan produk pangan yang berfokus pada varietas tanaman lokal.

Pembangunan Dapur Komunitas ini akan dilakukan melalui proses residensi yang dimulai di bulan Februari 2016. Tiga praktisi arsitek/desain/seni diundang untuk berinteraksi dan membangun dapur komunitas ekologis bersama warga dengan menggunakan potensi alam sekitar. Selain ketiga peserta residensi ini, kami juga mengundang para arsitek, ahli lingkungan, desainer, dan seniman lain untuk mengunjungi Dusun Mendira dan berkontribusi dalam pembangunan Dapur Komunitas Mendira. Konsep ekologis seperti pengolahan kompos dapur, penggunaan biogas dan pengelolaan air yang efisien diharapkan bisa diimplementasikan di proyek ini.

Proses pembuatan dapur ini diharapkan bisa menjadi alat pelestarian tanaman varietas lokal dan peningkatan kualitas hidup kaum perempuan di dusun Mendira. Selain itu, proses pembuatan dapur ini akan didokumentasikan dan diharapkan bisa menjadi percontohan dapur yang ramah dan adaptif terhadap lingkungan.

Pada saat ini, Holopis masih melakukan berbagai dialog, pengamatan lokasi, dan berjejaring untuk menyiapkan program residensi ini. Pada bulan Oktober ini, kami akan mengundang Yu Sing dari studio akanoma untuk berbicara di konferensi + festival Design It Yoursef dan sekaligus memperkenalkan projek residensi kami di Surabaya. Selain itu di bulan yang sama, kami juga akan melakukan sosialisasi mengenai biogas dan berdialog mengenai solusi penyediaan air bersama warga Mendira.

https://www.youtube.com/watch?v=Ya3frWbFQ-w

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


31 Aug 2015

Inovasi dari Dapur Wati

Dapur Wati adalah sebuah proyek yang diprakarsai oleh XXLab, sebuah kolektif yang diinisiasi oleh beberapa perempuan dengan latar belakang yang beragam dan lintas disiplin. XXLab berfokus pada pengembangan seni, sains dan teknologi bebas yang aplikatif serta memiliki nilai inovasi. XXLab terbentuk pada tahun 2013, memiliki sifat keanggotaan yang terbuka. Anggota yang aktif saat ini adalah Irene Agrivina, Atinna Rizqiana, Ratna Djuwita, Eka Jayani Ayuningtyas dan Asa Rahmana.

Foto1_XXLab

Anggota Dapur Wati

Dapur Wati sendiri adalah sebuah proyek yang bersifat terbuka baik dalam proses pengembangan, riset maupun presentasinya. Dapur Wati adalah penggunaan dan pengoptimalan dapur biasa sebagai sebuah laboratorium riset dalam bidang sains (bioteknologi) yang kemudian diaplikasikan ke dalam berbagai bentuk. XXLab menamakan Dapur Wati karena dapur di Indonesia seringkali diidentifikasikan sebagai lingkungan yang bersifat domestik dan hanya diperuntukkan bagi para perempuan.

Foto2_dapur

Kegiatan di Dapur Wati

Proyek Dapur Wati ini mencoba untuk melakukan ujicoba yang biasanya dilakukan di seputar laboratorium biologi di dapur rumahan. Dengan memakai perangkat dan bahan sederhana yang terdapat di dapur pada umumnya maka siapapun dapat melakukan percobaan layaknya di laboratorium (biohacking). Tujuan dari proyek ini adalah mengolah limbah tahu menjadi biomaterial yang bernilai estetis dan ekonomis. Limbah tahu biasanya dibuang begitu saja ke sungai – sungai, menimbulkan polusi dan pencemaran air sungai. Proyek ini kemudian mengolah limbah tahu ini melalui proses biologis sehingga menjadi lapisan selulosa (yang lazim disebut nata), kemudian diproses sehingga menghasilkan lapisan menyerupai kulit yang dapat diaplikasikan ke berbagai produk.

Foto3_Starter

Starter

Foto4_ Lembar selulose basah (nata)

Lembar selulose basah

Proyek Dapur Wati ini melakukan serangkaian riset mulai dari pembuatan starter (bibit) yang dikulturkan dari bakteri Acetobacter Xylinum, kemudian limbah tahu diproses dan dibiakkan hingga menjadi lembar selulosa, kemudian dilakukan pengeringan dan pengolahan lebih lanjut sehingga menjadi lembar kulit alternatif atau lazim disebut biomaterial. Lembar kulit ini dapat menjadi alternatif bagi kulit binatang, bersifat ramah lingkungan dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Berbagai aplikasi estetis baik dalam bentuk produk jadi maupun karya seni dapat terbuat dari biomaterial tersebut oleh XXLab dinamakan SOYA COUTURE

Foto5_karya 1

Soya Couture 1

Foto6_karya 2

Soya Couture 2

 

Setelah melalui rangkaian riset, maka proses pembuatan ini diperkenalkan ke publik melalui serangkaian workshop dan presentasi. Presentasi dilakukan oleh XXLab dalam bentuk produk yang merupakan hasil kolaborasi dan juga karya seni. XXLab melakukan serangkaian workshop untuk umum. Workshop diperuntukkan mulai dari ibu-ibu pengrajin nata, produsen kerajinan, lingkungan akademis dan disainer.

Foto7_workshop1

Kegiatan workshop

Foto9_eksperimen1

Eksperimen di Dapur Wati

XXLab juga melakukan riset lebih lanjut dengan menggunakan perangkat keras terbuka untuk  membuat inkubator yang berguna untuk menjaga kestabilan suhu dalam proses pembuatan starter maupun lembar selulosa. Di kedepannya XXLab akan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan berbagai produk multifungsi yang terbuat dari biomaterial ini dan  memiliki kegunaan beragam semisal bahan 3D printer, bahan pelapis makanan, bahan untuk pengeras suara dan lain sebagainya. Dalam proses pembuatan biomaterial ini juga terdapat kajian kemungkinan untuk memproduksi biofuel. Dengan demikian maka terdapat inovasi yang keberlanjutan bagi proyek Dapur Wati ini, yang dapat dilakukan oleh hampir semua dapur di Indonesia.

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


28 Aug 2015

Peta Kota 6

Pekakota merupakan sebuah platform yang fokus pada produksi pengetahuan bersama warga melalui aktivitas penggalian pengetahuan lokal dan pendistribusian untuk pemanfaatan lebih lanjut. Kali ini Peta Kota 6 yang digagas oleh komunitas Hysteria akan melangsungkan festival seni, pemetaan partisipatif dan festival di kelurahan Purwodinatan, Semarang. Untuk info lebih lengkap silahkan klik poster di bawah ini.

1b

1aPeta Semarang, Pekakota

*Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Urbanisme Warga yang sedang berlangsung di 8 kota di Indonesia.

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


26 Aug 2015

CaPing Tanpa Sampah

11701141_820553354731989_4802200979713110246_n

Setelah periode Februari-Mei 2015 kemarin LabTanya bersama warga RW 08 Camar Pinguin (CaPing) Bintaro Jaya melakukan kegiatan riset, eksperimen, sekaligus sosialisasi gagasan Kota Tanpa Sampah, maka pada perayaan 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia hari Minggu yang lalu, pengurus RW 08 bersama kedua belas Ketua RT di CaPing serta warga yang hadir mencanangkan komitmennya untuk wujudkan CaPing sebagai kawasan yang bebas dari persoalan sampah: CaPing Tanpa Sampah*.

CaPing Tanpa Sampah memiliki arti tidak hanya sebagai kawasan lingkungan yang (nantinya) tidak lagi memiliki persoalan terkait sampah, tapi juga kawasan CaPing dengan segenap warga penghuninya mampu pahami serta praktikkan secara aktif dan nyata: gaya hidup terkait konsumsi juga produksi yang berkesadaran daur hidup.

Sekedar mengingat kembali, CaPing adalah klaster di kawasan pemukiman Bintaro Jaya yang dua tahun berturut-turut (2014 dan 2015) menjadi juara kedua lomba K3 (Kebersihan, Kelesetarian, dan Keamanan) Lingkungan dari seluruh klaster di Bintaro Jaya.

Penghargaan dengan parameter kebersihan dan kelestarian lingkungan ternyata masih menyimpan persoalan penting yang kompleks dan rumit serta indikasikan bahwa penghargaan ini tidak beri kontribusi penting atas problematika sampah perkotaan.

Sebagai data, dengan rata-rata jumlah sampah tiap rumah tangga sebesar 4 kg, jumlah seluruh sampah CaPing dengan jumlah penduduk sekitar 840 kk, menghasilkan sampah tidak kurang dari 3.340 kg setiap harinya. Kemana sampah ini pergi? Tidak berbeda dari catatan penelitian dari Bank Dunia, bahwa Indonesia termasuk negara yang perjalanan limbahnya berakhir di Tempat Penampungan Akhir (TPA). Dalam hal ini sampah CaPing dibawa setiap harinya ke TPA Rawa Kucing Cengkareng Tangerang.

Jumlah sampah harian ini bila diakumulasikan selama setahun, maka tidak kurang dari 1.226.400 kg sampah berpindah dari kawasan CaPing Bintaro ke TPA Rawa Kucing Cengkareng Tangerang. TPA Rawa Kucing sendiri tidak terlepas dari persoalan klasik TPA-TPA lain yang ada di kota-kota besar di Indonesia, mulai dari persoalan teknis pengelolaan sampah yang tak tertangani, dampak lingkungan dan sosial bagi kawasan sekitar TPA, hingga persoalan kapasitas lahan yang selalu ketinggalan (dan tak pernah cukup) tangani peningkatan volume sampah yang masuk.

Pencanangan komitmen CaPing Tanpa Sampah, merupakan kegiatan penting yang mewarnai perayaan hari kemerdekaan kali ini, yang juga dimeriahkan dengan acara lomba utama yakni lari dengan tema ‘Color Run’ , serta ragam lomba khas tujuh belasan lainnya, dan kegiatan bazar kuliner.

Komitmen ini kemudian ditandai dengan penandatangan sekaligus penyerahan bibit tanaman sirsak dan rosella oleh Ketua RW Ibu Puji Susilo kepada tiap ketua RT. Sebagai catatan, Bintaro Jaya sebagai sebuah kawasan lingkungan binaan hampir tidak memiliki ragam tanaman produktif (seperti tanaman buah atau tanaman obat), hampir sebagian besar vegetasi yang ditanam adalah tanaman ‘estetik’ yang bahkan cenderung homogen. Pemberian bibit tanaman ini juga sebagai langkah awal keseriusan lingkungan CaPing untuk menanam ragam tanaman buah dan obat di lingkungan mereka, sebagai satu langkah kongkrit kesadaran daur hidup.

11873416_820553351398656_2577385506290790220_n

Pada perayaan ini, LabTanya juga memakai kesempatan untuk membuka pendaftaran para relawan warga dan agen CaPing Tanpa Sampah yang akan berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan pemetaan, belajar, mengembangkan, sekaligus bertukar pengetahuan terkait gaya hidup ekologis yang berbasis atas pemahaman atas daur hidup. Relawan-relawan inilah yang kemudian diharapkan akan menjadi motor penggerak komunitas CaPing yang solid serta konsisten mempraktikkan serta menjawab tantangan-tantangan nyata atas gagasan Kota Tanpa Sampah.

Setelah di kegiatan sebelumnya mampu yakinkan sebagian warga bahwa masa depan tanpa sampah itu mungkin, di kegiatan ini sebagian warga CaPing lainnya, lewat pengurus dan sebagian relawan yang mendaftar tunjukkan adanya kemauan.
Yang kemudian menjadi tantangan berikutnya adalah keseriusan membangun konsistensi dan keyakinan bahwa tidak ada satu pun upaya serta inisiatif positif tiap warga masyarakat, walau pun kerap dianggap kecil dan remeh, yang akan sia-sia.

CaPing Tanpa Sampah, Kota Tanpa Sampah, Masa Depan Tanpa Sampah, mungkin!

 

catatan:

*CaPing Tanpa Sampah merupakan bagian dari kegiatan Urbanisme Warga di kota Tangerang Selatan

**Tulisan ini disalin dari halaman Facebook LabTanya

 

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


11 Aug 2015

Bamboo Basket Workshop with Takayuki Shimizu

IMG_3506

Book your place and join Bamboo Basket Workshop with Takayuki Shimizu!

20 August 2015

10.00-14.00 WIB

Rp. 550.000,-

(including workshop material, lunch and drinks)

at Alun-alun Indonesia

Grand Indonesia Shopping Town

Jl. MH. Thamrin No.1

 

Book your place now!

Putri +6281210734951

 

Supported by Rujak Center for Urban Studies, Alun-Alun Indonesia, Asia Center Japan Foundation, Noesa.

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


01 Aug 2015

Another support for arts from Rujak Center for Urban Studies: OPEN CALL FOR APPLICATIONS FROM INDONESIAN CURATORS

In partnership from the IndoArtNow and SAM Fund for Arts and Ecology, Delfina Foundation is offering a three-month residency to a curator with Indonesian citizenship living and working in Indonesia. The residency period is 11 January to 8 April 2016 and will begin during DF’s winter period focused on curatorial research.

Delfina Foundation (DF) is an independent, non-profit organisation dedicated to fostering artistic talent and facilitating exchange through residencies and public programmes ranging from workshops to exhibitions, both in the UK and with international partners.

 

ABOUT INDOARTNOW

 

IndoArtNow is a non-profit organization that strives to promote and support Indonesian contemporary art. IndoArtNow helps raise fund for potential projects, initiate project and connect Indonesian contemporary art to a wider audience through its online platform www.indoartnow.com. IndoArtNow engage in activities and aims to provide support for the infrastructure of Indonesian contemporary art, by featuring exhibited artworks and publications by artists, curators, gallerists, collectors and journalists.

 

ABOUT SAM FUND FOR ARTS AND ECOLOGY

 

SAM Fund for Arts and Ecology was co-founded in 2014 by Natasha Sidharta and Rujak Centre for Urban Studies to support developments of arts that work on ecological issues.

 

During the residency, DF will develop a loosely structured series of events and activities enabling residents to: 

  • Research and develop areas of interest
  • Develop skills via training and mentoring
  • Access information and resources through independent study, field trips and workshops
  • Participate in both internal and external/public events

This opportunity is open to both emerging and established curators.

 

THE SELECTED CURATOR WILL RECEIVE:

  • ·       A twelve-week residency in London, including one return, economy-class flight, and a living allowance for food/per diems and materials;
  • ·       A single bedroom at DF with shared facilities, such as the laundry room, kitchen, and dining room;
  • ·       Opportunities to engage in the art scene in UK through structured and independent time and activities; and
  • ·       Access to a programme of planned group activities and visits to cultural organisations in the UK.

 

REQUIREMENTS:

  • ·       An Indonesian citizen, currently living and working in Indonesia;
  • ·       Seeking an opportunity to develop your practice and the concepts of your curatorial work;
  • ·       Able to explain how the experience of an international residency may benefit your career development and local networks; and
  • ·       Proficient in English.

 

It is desirable that the applicant has an undergraduate qualification in a relevant discipline.

 

APPLICATION PROCESS:

Applicants are expected to submit:

 

  • ·       The completed application form
  • ·       A CV detailing recent projects, exhibitions, workshops and residencies
  • ·       A writing sample (an essay, artist profile, press article, etc.)
  • ·       At least 10 high-quality images of your previous projects or exhibitions, which could include unrealised proposals
  • ·       Contact details of one referee

 

Please submit only electronic copies of the above documents to following email address: [email protected].

 

Deadline for applications:  31 August 2015

 

Applicants will be notified of the panel’s decision in mid-September 2015.

 

ABOUT DELFINA FOUNDATION

Delfina Foundation (DF) is more than London’s largest international residency programme – it is a home where the next generation of contemporary artists, curators and thinkers are supported and nurtured.

 

Based in two newly renovated Edwardian houses near Buckingham Palace, DF is an independent, non-profit organisation dedicated to fostering artistic talent and facilitating exchange through residencies and public programmes ranging from workshops to exhibitions, both in the UK and with international partners. A photo tour of our new space was published online in Wallpaper* (please click the link to visit their site).

 

Established by arts philanthropist Delfina Entrecanales CBE, DF is the successor to Delfina Studio Trust. From 1988 to 2006, Delfina Studio held an unprecedented record for supporting artists through residencies and exhibitions, including more than a dozen Turner Prize nominees such as Mark Wallinger, Jane & Louise Wilson, Tacita Dean, Martin Creed and Glenn Brown as well as renowned artists such as Chantal Joffe, Michael Raedecker, Hangue Yang, Esra Ersen, Wim Delvoye and Khalil Rabah.  DF is proud to build on this history.

 

Our work is followed by key arts professionals and our audiences include arts patrons, curators, major art collectors and the general public. Over the last year, DF’s work has been featured in the Financial Times, The Independent, New York Times, Art Review, Frieze, ArtAsiaPacific, Artforum and the The Art Newspaper.

 

 

APPLICATION FORM

 

Guidance notes:

 

1.Please send all attachments in one email, preferably all in PDF format.

2.If sending separate images, please send image files that are high quality but small in size (less than 300KB each is preferable).

3.Please send a document with captions or descriptions of the submitted examples of your work. 

4.Ideally, images and captions should be in one document / portfolio, rather than separate files.

5.Please do not change the formatting of the application and do not exceed the word count.

 

  1. 1. ABOUT YOU

 

First name:  
Last name:  
Any other names you are known by:  
Date of birth:  
Place of birth:  
Sex (Male or Female):  
Nationality (as indicated in passport):  
Address:   
Telephone no:  
Mobile no:  
Email address:  
Website address:  
Current employer (if relevant):  


  1. 2. ABOUT YOUR WORK

 

What is your curatorial practice?  Please write a statement of motivation and include what interests and inspires you, as well as your significant past, present or on-going projects.  (maximum: 500 words)

 

 

 


 

 

3.MOTIVATION

 

How will this residency benefit you?  Please include in your answer: (a) how this experience may benefit you and your practice at this stage of your career, (b) how you would use your time in London and (c) how you plan to share your experience with your fellow curators, artists and/or audiences when you return. 

 

If you have visited the UK before, please also explain how this opportunity will be different from your previous experience(s), whether this was visiting, living, studying, exhibiting, etc.…. (maximum: 500 words)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.Have you taken part in an international residency program before?   If not, please go to the next question.  If yes, please use the space below to tell us about the program(s) that you have taken part in and how you hope this residency will add to your previous residency experience(s).   (maximum: 200 words)

 

 

 

 

  1. 5. Reference

 

Please list the contact details of one professional contact who can be a reference for you.  We do not require a letter but we may ask to speak to this person during the assessment of your application.

 

 

 

Name:  
Title:  
Address:  
Telephone no:  
Mobile no:  
Email address:  
Relationship to referee:  

 


 

 

  1. 6. ADDITIONAL MATERIAL

 

With this application form, please submit the following additional materials by email only:

 

  • ·       A CV detailing recent solo and group exhibitions, workshops and residencies

 

  • ·       A writing sample (an academic essay, artist profile, published article, etc.)

 

  • ·       Images – In one document, please submit at least 10 good quality images of your work and projects, which might be exhibitions you have curated or proposed (but remain unrealized). Although there is no maximum number of images, we advise applicants to only submit relevant materials to reduce the size of email submissions. The images should include captions or short descriptions (this can be in a separate file but we highly encourage you to submit all visual material in one document).

 

  • ·       Videos/films – We recommend providing links to your own website, Vimeo page, youtube page, etc.  Please do not send video files.  Relevant links to videos:

 

 

 

 

Please send all materials in one email only and reduce the size of your files accordingly.  No email should exceed 6MB.

 

Ideally, please send all documents in PDF format and using  your own name, please label your files:  Lastname_Firstname_Application or Lastname_Firstname_CV, etc.

 

Submission address: 

[email protected]

 

 

 

 

Deadline for applications:  31 August 2015

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


28 Jun 2015

Pengumuman Proposal Urbanisme Warga Terpilih

draft poster Urbanisme WargaR2-2

 

Berikut adalah 8 (delapan) Pengaju Proposal Urbanisme Warga yang terpilih untuk terlibat dalam rangkaian kegiatan Urbanisme Warga yang akan berlangsung dalam jangka waktu 27 bulan ke depan:

-       Kota Banda Aceh – International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS)

-       Kota Bandung – GreS – Institute for Social and Environmental Justice

-       Kota Bogor – Kampoeng Bogor

-       Kota Pontianak - Lembaga Pengkajian dan Studi Arus Informasi Regional (LPS-AIR)

-       Kota Semarang – Pekakota (Hysteria)

-       Kota Surabaya – C2O Library and Collabtive

-       Kota Surakarta – Kampungnesia

-       Kota Tangerang Selatan – LabTanya dan DAG

 

Rujak Center for Urban Studies sebagai penyelenggara kegiatan mengucapkan terimakasih kepada seluruh pengaju proposal yang telah menyatakan minatnya untuk mengikuti rangkaian kegiatan Urbanisme Warga. Semoga dapat terjalin kerjasama di masa mendatang.

 

No Comments »

Topics: , , , , , , , , , , , , , , , , , | Agent of Change: none |


06 May 2015

KESEMPATAN KERJA Di Rujak Center for Urban Studies

Rujak dalam 1 m2

Rujak dalam 1 m2

Rujak Center for Urban Studies mengundang pelamar untuk berkembang menjadi urbanist dengan bekerja sebagai Manajer Program pada program Urbanisme Warga dalam periode Juni 2015 – Desember 2017.

Tugas Manajer Program :

  1. Mengkoordinasi pelaksanaan program Urbanisme Warga di 5 kota terpilih.
  2. Mengelola kegiatan program Urbanisme Warga di tingkat nasional
  3. Mengkoordinasi advokasi bersama di tingkat nasional
  4. Menyusun laporan program Urbanisme Warga
  5. Mengkoordinasi proses evaluasi dan perencanaan pasca program
  6. Mengembangkan kerjasama jangka panjang dengan mitra di 5 kota.

Prasyarat :

  1. Berminat pada kegiatan produksi pengetahuan kota dan advokasi kebijakan perkotaan.
  2. Memiliki pengetahuan terkait kebijakan perkotaan, perencanaan kota, dan pembinaan perkotaan.
  3. Memiliki pengalaman mengelola program minimal 2 tahun.
  4. Memiliki jaringan dengan organisasi masyarakat, komunitas,  universitas, lembaga penelitian dan pemerintah kota.
  5. Memiliki kemampuan memproduksi materi laporan dan tulisan terkait program Urbanisme Warga
  6. Mampu bekerja dalam tim.

 

Informasi selengkapnya tentang program Urbanisme Warga dapat diunduh disini

Surat lamaran dikirim ke [email protected] dengan melampirkan CV selambat-lambatnya pada Hari Jumat Tanggal 5 Juni 2015.

 

 

 

 

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


01 May 2015

HABITAT 3 Final Preparatory Meeting (Prepcom) will be held in Jakarta, July 2016

image

We made this page to discuss what we want to do. Let’s post ideas and concerns.

https://www.facebook.com/HABITAT3Jakarta

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |