Ibadah di ujung Jalan Silang Selatan Lapangan Monumen Nasional tg 15 Agustus siang, meskipun dilaksanakan dengan tata cara HKBP, diikuti sekitar 500 orang berbagai agama. Hadir antara lain Djohan Effendi, mantan Menteri Sekretaris Negara di masa Presiden Gus Dur dan Eva Sundari (PDIP). Bagaimana mungkin sebuah kota dapat hidup kalau kerukunan dalam perbedaan tidak dapat dijamin? Ada punya jawaban?
Resources
15 Aug 2010
Dimana Beribadah di Tengah Hiruk-pikuk Ibukota?
Ada mushola di bawah jembatan (fly-over) Slipi, seberang Slipi Jaya, pada sisi Jalan Katamso Dharmokusumo, yg dulu disebut Jalan Tali. Fly-over ini ternyata disebut “Fly-over Nelimurni”.
12 Aug 2010
Survei Keanekaragaman Hayati di Taman Margasatwa Ragunan :
Minggu pagi jam 7.30 di depan loket utara Ragunan sebelas orang berkumpul di bawah pohon sengon laut depan kolam pelikan. Kalau dilihat sepintas burung ini seperti patung. Setelah berkenalan satu sama lain, kami dibagi menjadi dua kelompok survei: kelompok barat dan timur. Dalam tiap kelompok terdapat pemeta hijau dan pengenal burung (birdwatcher).
Daerah jelajah kelompok barat sebenarnya lebih kecil dibandingkan kawasan timur, bila dilihat dari peta ragunan yang dibagikan. Tak lama setelah kami berjalan, beberapa burung mulai terlihat dan bersuara. Sempat berhenti sebentar di depan kandang burung emu dan kasuari. Tapi fokus utama kami bukan dua burung besar ini. Perlahan namun pasti kami mencoba mencari dan melihat pergerakan yang ada di pohon. Ternyata ada Bajing kelapa (Callosciurus notatus) di atas pohon, sedang berlari-lari kesana kemari, mungkin sedang mencari sarapan, pikir kami.
Walaupun agak berawan tapi cukup ramai suara burung pagi ini. Apalagi suara Betet biasa (Psittacula alexandri) yang sering terdengar dari awal perjalanan dan tak hanya satu individu yang kami temukan melainkan banyak sekali. Selain itu kami juga menemukan dua ekor Jalak putih (Sturnus melanopterus) yang sedang memakan serangga kecil. Jenis ini sangat terancam punah. Ia mungkin burung yang terlepas, karena dari survei Jakarta Birdwatchers Community di kawasan ini mulai tahun 2003 hingga sekarang, tidak pernah ditemukan di Taman Margasatwa Ragunan.
Melewati kandang komodo, yang sedang berdiam diri, di salah satu pohon di kandang tersebut, terlihat burung Merbah cerucuk (Pycnonotus goiavier), dan di dekatnya terlihat bunglon yang mempunyai leher berwarna merah. Tanpa teropong pasti yang belakangan ini tidak terlihat, sebab nampak seperti batang pohon kering. Inilah Bunglon taman (Calotes versicolor).
Sampailah kami di dekat Pusat Primata Schumutzer (PPS) di taman yang ada patung orangutan. Di samping patung tersebut terdapat jalan batu untuk “pijat refleksi” seperti yang ada di Taman Monas atau Taman Suropati. Menarik sekali untuk mencoba berjalan disana. Tak jauh dari situ terdapat pohon yang sepertinya cocok diberi aikon “autum leaves”. Namun kami tidak tahu jenis pohon apa itu. Daunnya banyak yang berwarna kuning, dan sedang gugur. Di sini kami juga bertemu burung Kepodang kuduk hitam (Oriolus chinensis) yang dominan bulunya berwarna kuning dan menemukan lebih dari 5 jenis kupu-kupu serta capung.
Kami lalu berjalan menuju Makam kramat kampong kandang. Pada hari-hari tertentu tempat ini suka di datangi masyarakat untuk berziarah. Di tempat yang terlihat sepi ini kami juga menemukan burung-burung seperti Bentet kelabu (Lanius schach) lalu ada Cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps) dan lainnya. Tidak jauh dari situ kami menemukan tanaman pepaya yang buahnya berwarna kuning dan ada beberapa pohon jambu mawar, yang buahnya berwarna putih mendekati pink. Buah dagingnya agak keras (sepertinya belum matang) dan rasanya agak sepet.
Kami lalu bertemu danau dalam arah menuju pintu selatan, Mata kami kembali menyisir area hijau yang ada di sekitar danau. Hasil dari penyisiran tersebut tidak sia-sia. Ada 8 ekor kakaktua jambul kuning (Cacatua sulphurea) yang kami temukan. Lagi-lagi pohon flamboyan yang rupanya menjadi sarang kakaktua tersebut. Posisi pohon agak ke tengah dan dikelilingi rumput besar yang agak padat dan rimbun. Dari kejauhan bisa terlihat beberapa lubang besar. Kami menduga itu mungkin sarangnya.
Tidak jauh dari danau, ada tempat pengomposan sampah organik. Sambil berjalan dan tetap menyisir area, kami meihat di sisi dekat sungai ada biawak (Varanus salvator) yang sedang memanjat tanah. Area danau di bagian selatan Ragunan adalah salah satu tempat sepi dan jarang sekali didatangi pengunjung, dan memang tidak ada binatang yang diperagakan disini.
Di depan kantor kesehatan hewan terdengar bunyi burung Wiwik kelabu (Cacomantis merulinus). Maksud kami mau mencoba mencari burung tersebut di dekat kandang babi rusa, tetapi ternyata yang ditemukan disana adalah Gelatik jawa (Padda oryzivora), salah satu burung yang mempunyai warna indah. Namun hanya nampak satu. Ia sedang bertengger di pohon. Sama halnya dengan Jalak putih, burung ini mungkin hasil lepasan orang atau melarikan diri dan sampailah di ragunan. Semoga mereka bisa bertahan hidup.
Karena sudah ditunggu teman2 dari kelompok lain, lalu kami juga sudah lelah dan lapar, kami bergegas kembali ke kolam pelikan, Jika disimpulkan hari ini kami menemukan sekitar 33 jenis burung, 2 jenis reptilia, lebih dari 5 jenis kupu-kupu dan capung, serta beberapa mamalia seperti bajing kelapa. Senang rasanya di Jakarta masih memiliki kawasan seperti ini
10 Aug 2010
Mengurangi Sampah Lewat Pertunjukan
Tulisan dan Foto oleh Lieke Soe, relawan Peta Hijau Yogyakarta, penikmat pertunjukan seni.
Setiap hari kita menghasilkan sampah. (Hampir) setiap hari kita dapat menikmati sebuah pertunjukan. Jika saja dua hal ini bergabung, apa yang dapat kita hasilkan?
Bayangkan jika dalam satu pertunjukan semalam, satu saja propertinya dibuat dari bahan daur ulang sampah.
Bayangkan seorang biduanita mengenakan gaun ini, menyanyikan sebuah lagu indah dari suaranya yang termurni. Bayangkan, sebuah sajak yang menyertai gaun ini, menembus kesadaran pendengar-pendengarnya. Bayangkan seorang tokoh yang terbalut gaun ini sedang membawa kita ke suasana lakon sandiwara. Atau siapapun yang ada di panggung.
Ini artinya, dalam satu malam, kita telah memperjelas nasib setidaknya setara 200-an bungkus mie instant daripada menjadi sekedar onggokan sampah.
Kita dapat menyelesaikan permasalahan sampah dengan mengubah bentuknya. Yang diperlukan hanyalah sedikit imajinasi dan sedikit tenaga untuk mengucek.Bicara tentang lingkungan dan masalah persampahan tidak harus selalu masalah teknis yang memusingkan. Bicara soal seni bisa jadi bicara soal kreasi dan inovasi.
Kita dapat mulai mempopulerkan sampah sebagai bahan properti pertunjukan kita!
foto: baju dan gaun kreasi Lestari, Lembaga Studi dan Tata Mandiri, Pendampingan Masyarakat untuk Pengelolaan Lingkungan dan Sanitasi. Beberapa gaun dipertunjukkan dalam Biennale Yogyakarta X 2009 dan Grarebeg Sampah, 22 Februari 2010 di TPA Piyungan, Yogyakarta. Beberapa gaun anak-anak dibuat oleh seorang guru SMK di Yogyakarta.
CP: Agus Hartono, 08562861257, Semoyan RT 01 DK II Singosaren, Kotagede, Yogyakarta p: 02748255509, e: a_hart01@yahoo.com, fb: lestari_cling@yahoo.co.id
19 Jul 2010
Lebih Baik Bikin Kolam Terbuka di Lapangan Monas
Pemda akan bikin reservoir bawah-tanah di Lapangan Monas (Kompas hari ini). Apakah tidak lebih baik bikin kolam besar sekalian yang terbuka sehingga menjadi feature yang berfungsi menampung air sekaligus bisa dinikmatii?Lapangan Monas sekarang dari segi landscape sangat datar dan karenanya sangat bising. Galian tanah untuk bikin kolam besar bisa untuk membentuk bukit dan lembah yang akan menjadi ruang-ruang mikro yang terlindung dari bising jalan sekitarnya.
Berikut ini visi yang pernah diajukan pada “Imagining Jakarta, 2004″ hasil kolaborasi antara seniman dan arsitek.
Lapangan MONAS dan Kota Bukittinggi
Medium: kayu, kaca
Marco Kusumawijaya, Hedi Harijanto
Lapangan Merdeka (dan sesungguhnya: seluruh Jakarta) perlu belajar dari Kota Bukittinggi tentang: ukurannya sendiri, keragaman dalam kepadatan melalui mixed-use, ekologi, topografi yang berbukit-bukit dan skala yang manusiawi.
Hampir seluruh inti-kota Bukittinggi muat di dalam Lapangan MONAS. Dengan topografi Bukittinggi, Lapangan MONAS (dan Jakarta) akan memiliki permukaan hijau yang lebih luas. Bukit akan juga menciptakan oase yang hening di lembah dan lereng dalamnya, melindunginya dari bising jalan di sekitar. Waduk raksasa berbentuk Ngarai Sianok akan menyimpan air. Topografi akan memberikan rentang probabilitas pengalaman yang tak terbatas. Dengan peningkatan kapasitas ekologis ini, maka ke dalam Lapangan MONAS dapat dimasukkan stasiun kereta api khusus dalam-kota yang sangat dibutuhkan oleh seluruh Jakarta, dan sebaliknya akan membuat Lapangan MONAS dapat dijangkau secara murah dan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.
Imagining Jakarta is a collaboration in 2004 by architects, urban designers/planners, poets, graphic designers, photographers, sculptors, and multi-media artists, to “imagine” visions for some urban spaces and issues in Jakarta. It was conducted through a series of workshop in 2004, and the results were exhibited at Gallery Cemara in December 2004. The participants are: Marco Kusumawijaya, Adi “Mamo” Purnomo, Dewi Susanti, Bonifacius Djoko Santoso , Yuka, Irwan Ahmett, Paul Kadarisman, Erik Prasetya, Enrico Halim, Akhmad “Apep” Tardiyana, Gregorius Supie Yolodi, Hedi Hariyanto, Budi Pradono ,Yuka Dian Narendra and David Setiadi.
Bagaimana kalau Lapangan Monas berkontur Bukittinggi? Dengan ngarai untuk menampung air, dan bukit serta lembah-lembah sebagai ruang mikro yang lebih dapat dinikmati daripada keadaan sekarang.

Ruang pameran: sepadat dan sehiruk pikuk metropolis Jakarta. Bundaran HI (kini HIK) yang permukarannya diturunkan, dengan stasiun MRT di bawahnya, suatu visi yang kini mau tidak mau akan/harus terwujud segera.
For more pictures, see: http://www.flickr.com/photos/rujak/sets/72157620952348995/ (more…)
11 Jul 2010
Pak Hartoyo Bikin Gas Sendiri
Teks dan Foto Oleh Yuli Kusworo.
Bebas dari tabung gas yang beresiko meledak, Pak Hartoyo bikin gas sendiri. Pemilik warung kecil di Kampung Rawamalang, Cilincing, Jakarta Utara, ini mendapat ilham dari berita televisi bahwa gas untuk kebutuhan dapur bisa didapat dari kotoran hewan ternak. Dia sudah 25 tahun menjadi peternak ulet. Pria asal Grobogan, Jawa Tengah, ini memelihara delapan sapi, sertus kambing dan seratus lima puluh bebek. Lahan yang tak begitu lebar di tepi sungai dimanfaatkan sebagai kandang ternak.
Dari kelompok tabungan perempuan kampungnya, Pak Hartoyo juga mendapat keterangan bahwa warga Kampung Papanggo juga baru mencoba memanfaatkan kotoran manusia menghasilkan gas untuk memasak. Dia pun lalu bertanya kepada Urban Poor Concortium (UPC) tentang kemungkinan membuat hal yang sama untuk keluarganya, tapi dengan memanfaatkan kotoran ternak (bebek, kambing dan sapi) yang banyak dipelihara di Kampung Rawamalang.
Sebagai pendamping Kampung Rawamalang, UPC pun langsung menanggapi ide Pak Hartoyo sebagai hal yang baik dan perlu dicoba sebagai percontohan, mengingat pada saat itu sedang dilakukan program bersama penataan kampung-kampung miskin di Jakarta Utara. Pembuatan biogas individu bersamaan dengan kegiatan penataan kampung merupakan contoh untuk memperbaiki kualitas lingkungan. Dengan memanfaatkan lahan sempit 2×4 meter persegi, reaktor biogas sederhana dibuat dengan plastik dan ditanam di dalam tanah. Reaktor biogas dan instalasinya hanya menghabiskan uang swadaya Pak Hartoyo sebesar 1,7 juta rupiah.
Sedikit harus bersusah payah–karena lokasi kandang ternak berada di seberang jalan–Pak Hartoyo setiap dua hari sekali harus memasukkan sejumlah empat ember besar kotoran sapi ke dalam reaktor biogas. Melalui bak kontrol dari ember bekas, kotoran dimasukkan ke reaktor secara perlahan dengan cara mengaduk dan dicampur air. Ini adalah kegiatan baru Pak Hartoyo. Menyenangkan katanya, karena sore dimasukkan kotoran, pagi berikutnya api sudah bisa menyala sangat besar. Indikator keluarnya gas dilihat dari tabung plastik ukuran 1 meter yang digantung di belakang rumah. Bila plastik itu mengembung, berarti gasnya penuh.
09 Jul 2010
Di Jakarta Bisa?
Highway voids used for open space.
Since 1986 a large strip of land was left with only the bones of what was to be the Lima, Peru’s railway for an electric train. The space remained unchanged, a ghostly construction site for the train that never happened, until the Spanish collective Basurama came up with a way to turn the abondoned concrete collumns and once forgotten urban space into an amenity for the people. And then earlier this year, the Ghost Train Amusement Park was born.

Basurama, from the word basura meaning trash, has been working with trash for over a decade throughout Latin America and describes themselves as “a forum for discussion and reflection on trash, waste and reuse in all its formats and possible meanings. Our aim is to study those phenomena inherent in the massive production of real and virtual trash in the consumer society, providing points of view on the subject that might generate new thoughts and attitudes. We find gaps in these processes of production and consume that not only raise questions about the way we manage our resources but also about the way we think, we work, we perceive reality.”




The bright and colorful park features recycled tires transformed into multi-person swinging contraptions and climbing structures along with lines of swings and a canopy line for kids to zip along from the unfinished structure through the color-wrapped concrete collumns.
Sumber (Via Nefa Firman) http://www.urban-logic.com/highway-voids-used-for-open-space/
04 Jul 2010
Taman Internet di Batam
01 Jul 2010
Ruang untuk Budaya Rakyat
Oleh Jo Santoso: Pertama adalah bahwa budaya hanya bisa berkembang, atau dikembangkan kalau “Lebensraum” yang diperlukannya tersedia.Tidak ada budaya bisa berkembang tanpa keterikatan pada tempat atau teritori/ruang dalam arti fisik. Proses perkembangan budaya terjadi di
sebuah tempat dan dilakukan secara bersama oleh sejumlah kelompok masyarakat.
Jadi kalau kita bicara tentang budaya urban yang tradisional, yang non-feodal, maka selama ini kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta tidak pernah memberikan tempat yang memungkinkan perkembangan semacam itu bisa berlangsungi. Memang kita tidak seburuk Singapura yang membabat habis perkampungan tradisional mereka, dan sekarang secara budaya mati suri, tetapi kitapun tidak pernah secara sadar memberikan ruang bagi munculnya sebuah budaya urban yang berbasis pada pola kehidupan masyarakat kita. Budaya kota yang unggul baru bisa (suatu hari) muncul kalau kita juga menyediakan ruang hidup bagi budaya urban untuk semua lapisan masyarakat, terutama untuk rakyat biasa. Karena kalau budaya rakyatnya tidak bisa berkembang, karena digusur habis seperti di Singapura, sekolah tinggi seni sebanyak apapun tidak bisa menggantikan. Kalau tidak ada budaya rakyat, budaya tinggipun tidak bisa muncul.
Lihat juga Ruang Khalayak dan Kebudayaan serta City Life, from Jakarta to Dakar dan Jakarta Utara
29 Jun 2010
Pertemuan Regional Arsitek Komunitas
Pertemuan arsitek komunitas se-Asia di Chiang Mai, Thailand pada tanggal 12-16 Juni 2010 lalu mungkin bukan pertemuan arsitek komunitas pertama yang pernah terselenggara. Tetapi, dalam hal jumlah peserta puluhan institusi terutama terdiri dari LSM dan akademik mengirimkan 125-an ‘arsitek komunitas’ –nya, mewakili lebih dari 23 negara-negara Asia plus negara-negara selatan Afrika, Australia, Selandia Baru, dan Kolombia menjadikan pertemuan ini istimewa. Tibet Heritage Fund dan Shack/Slum Dwellers International adalah dua kontingen organisasi internasional yang menambah keragaman. Pertemuan ini adalah inisiatif dari Asian Coalition for Housing Rights (lihat Box 1) untuk membangun jaringan arsitek dan para-arsitek (Chang Chumchon Thailand, jaringan tukang kampung) yang bekerja dengan komunitas dalam konteks Asia.
|
Box.1 Asian Coalition for Housing Rights (ACHR) ACHR berawal dari sekumpulan arsitek dan aktivis dari belasan negara-negara Asia yang bergerak bersama menentang penggusuran berkaitan dengan penyelenggaraan Olimpiade di Korea Selatan pada tahun 1986. Adalah Arsitek-Pastor J.E. Anzorena yang dalam 30 tahun terakhir secara teratur mengunjungi negara-negara di Asia dan menulis tentang arsitek yang bekerja bersama komunitas dalam jurnal Selavip. Tahun 2009 ACHR meluncurkan program Asian Coalition for Community Action untuk perbaikan kampung-kampung miskin kota di Asia. Somsook Boonyabancha menjabat sekretaris jendral ACHR. |
Di tengah arus globalisasi yang juga menjadi arus penyeragaman dalam berbagai hal istilah arsitektur komunitas sebagai sebuah konsep memang masih sangat sumir. Namun seperti disaksikan lewat pertemuan ini juga pada kesempatan lain cukup banyak inisiatif konkrit yang secara kolektif memberi makna pada istilah ‘arsitektur komunitas’ (lihat Box 2). Dan sepertinya pada saat ini kerja lapangan atau pengalaman empiris lebih awal dibanding pengembangan teori. Berkaitan dengan hal ini sebuah buku setebal 96-halaman berwarna tentang kinerja arsitek komunitas di Asia turut diluncurkan lewat acara ini.
Ada empat tema besar arsitektur komunitas yang diusung melalui diskusi panel, pameran, dan sesi pemutaran film; (1) upgrading atau perbaikan kampung, (2) pemulihan pasca bencana, (3) perencanaan kota partisipatif, dan (4) konservasi bersama komunitas. Sebagai tambahan diselenggarakan juga workshop bahan/teknik bangunan alami, kunjungan ke proyek perbaikan kampung Baan Mankong yang difasilitasi Community Organization’s Development Institute (sebuah badan pemerintah khusus menangani perbaikan kampung) dan kunjungan ke beberapa proyek konservasi partisipatif pemenang penghargaan UNESCO.
|
“Di umur saya, selama ini saya sering merasa sendiri dalam menggeluti bidang arsitektur komunitas” -Ivana Lee, arsitek komunitas Jaringan Relawan Kemanusiaan
|
Latar belakang dan rentang pengalaman peserta pertemuan adalah sebagian dari banyak aspek keragaman yang mewarnai pertemuan ini. Para relawan mahasiswa Fakultas Arsitektur Universitas Chiang Mai yang menjadi tuan rumah merupakan kelompok peserta termuda dapat memperoleh dukungan penyemangat dari seniornya dari Jepang hingga India. Sementara peserta lainnya berada pada pertengahan karir dan sudah memiliki pengalaman yang berarti. Dukungan senior dan kesinambungan antar generasi adalah penting bagi arsitek komunitas, sebuah ceruk sepi di alam profesi arsitek.
Di akhir pertemuan beberapa hal yang menjadi perhatian bersama bagi peserta adalah perlunya perubahan paradigma dalam sistim pendidikan arsitektur sehingga lebih akomodatif dan tidak semata-mata mejadi penyedia kebutuhan pasar. Selanjutnya juga muncul perhatian bersama tentang kesinambungan profesi arsitek komunitas mulai dari aspek penghidupan hingga aspek pengembangan keahlian. Terakhir, adalah pentingnya untuk menyadari bahaya bila unsur ’komunitas’ justru tertinggal saat arsitektur komunitas sebagai sebuah gerakan telah bergulir.
Akhir kata, pertemuan sebesar ini harus menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar kesenangan mendapat teman dan pengalaman baru. Pertemuan ini selayaknya menjadi pemula, pembuka peluang kerjasama dan pengembangan jaringan, sehingga menjadi langkah awal bagi gerakan arsitektur komunitas di Asia.
|
Box.2 Siapakah dia Arsitek Komunitas?
Demikian sebagian 23 dari sekian karakter yang dimiliki olek arsitek komunitas seperti disampaikan oleh Kirtee Shah, seorang arsitek komunitas senior dari Ahmedabad, India.
|
ACHR berawal dari sekumpulan arsitek dan aktivis dari belasan
negara-negara Asia yang bergerak bersama menentang penggusuran
berkaitan dengan penyelenggaraan Olimpiade di Korea Selatan pada
tahun 1986. Adalah Arsitek-Pastor J.E. Anzorena yang dalam 30 tahun
terakhir secara teratur mengunjungi negara-negara di Asia dan
menulis tentang arsitek yang bekerja bersama komunitas dalam jurnal
Selavip. Tahun 2009 ACHR meluncurkan program Asian Coalition for
Community Action (ACCA) untuk perbaikan kampung-kampung miskin kota
di Asia. Somsook Boonyabancha menjabat sekretaris jendral ACHR.


























