Resources


07 May 2012

Kota dan Sampah

oleh: Robin Hartanto

Sampah
Ia adalah kata yang cenderung berkonotasi negatif. Ia menjadi ujung kegunaan sebuah produk, tidak lagi dibutuhkan, dan hanya satu tindakan diperlukan untuk mengakhiri hayatnya, membuangnya.

Padahal, “membuang” tidak pernah benar-benar membunuhnya. Perjalanan panjang masih menanti. Apakah ia akan dibawa bersama teman-temannya oleh sebuah truk, yang selalu dihindari orang-orang karena baunya yang amat menyengat, menuju tempat pembuangan akhir? Apakah ia lalu akan ditimbun di dalam tanah? Apakah ia akan diambil oleh para pemulung dan dibawa ke tempat daur ulang, untuk kemudian diproses hingga dapat digunakan kembali? Ataukah ia akan terbang ke sana-sini mengikuti kemana angin membawanya? Sampai tiba dirinya di aliran sungai yang akan membawanya menuju hilir dan mempertemukannya dengan lautan luas?
Kita tentu tidak peduli akan nasibnya. Yang kita perlu tahu hanyalah membuangnya, baik dengan cara yang “sampahwi” ataupun tidak. Ibarat mengubur orang mati atau biarkan saja orang itu tergeletak di jalan.

Maka ketika salah satu mantan calon gubernur Jakarta tercantik menebarkan jargon “Mengubah Sampah Menjadi Emas” di belakang bus-bus umum, kita cenderung menganggapnya angin lalu. Bagi warga Jakarta, macet dan banjir adalah masalah, apalagi dirasakan secara langsung sehari-seharinya oleh warga. Sementara sampah? “Ya, jadi masalah pemerintah saja!” pikir kita dengan cuek.
Padahal data-data yang dimiliki kota Jakarta cukup fantastis. Jakarta menghasilkan 6000 ton sampah per hari (2007). Volumenya sekitar 26000 meter persegi. Bisa membayangkan seberapa besar? Buku Kata Fakta Jakarta memberikan sebuah gambaran menarik. Dalam setahun, kita bisa memiliki 185 Candi Borobudur (volumenya sekitar 55000 meter persegi) baru yang dibangun dari sampah.

Dengan jumlah yang begitu besar, memang ada potensi apabila kita dapat menemukan cara memanfaatkannya. Beberapa inisiatif masyarakat yang tersebar di sekitar 1000 RT dan RW di DKI Jakarta patut diteladani. Dengan menggunakan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), mereka melakukan pemilahan sampah dan mengolahnya kembali. Tentu saja mereka bukan penyihir yang bisa mengubah sampah menjadi emas, tetapi mereka dapat mengubah sampah menjadi pupuk kompos atau biogas. Dengan begitu, mereka dapat mengurangi pekerjaan pemerintah hingga dua puluh persen.

Namun, memikirkan masalah sampah hanya pada tahap pengolahan akhir adalah paradigma yang perlu diubah. Hal tersebut hanyalah dapat mengurangi sampah, tanpa dapat benar-benar menyelesaikan masalah sampah secara menyeluruh. Solusi justru perlu dipikirkan pada tataran produksi, distribusi, dan konsumsi kita atas produk-produk yang sejatinya akan berujung menjadi sampah.

Melalui buku Cradle to Cradle misalnya, William McDonough dan Michael Braungart mencoba menawarkan perubahan paradigma tersebut pada tataran produksi. Dengan mengubah cara kita menciptakan sesuatu, kita dapat menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Buku itu sendiri dibuat dari kertas sintetis dengan kualitas tinggi, tanpa memotong sebatang pohon pun, dan dapat didaur ulang tanpa menghilangkan kualitasnya.

Malah, terkadang kita tidak perlu teknologi canggih untuk melakukannya. Sesederhana dengan membawa tas lipat atau peralatan makan sendiri, kita dapat memberikan sumbangan besar terhadap masalah sampah dalam tataran konsumsi.

Tentu saja banyak lagi cara-cara yang dapat kita lakukan. Tetapi semua itu akan sia-sia saja tanpa aksi dari kita. Yang sejujurnya paling esensial kita perlukan adalah pengetahuan komprehensif serta inisiatif. Dan melalui diskusi-diskusi bermutu, saya percaya, kita dapat mendorong pemahaman dan inisiatif kita ke tingkat aksi.

No Comments »

| Agent of Change: none |


07 May 2012

Rujak Akhir Pekan Mei 2012 “Kota dan Sampah”


Rujak Center for Urban Studies mengadakan kegiatan rutin tiap Sabtu dan pada edisi Mei ini. Sesuai dengan tema bulan Mei akan berkisah tentang Kota dan Sampah, berikut kegiatan Sabtu kami:

Rujak Sorot and Berbagi: Sabtu, 12 Mei 2012  09.30 – 12.00

Untuk pembukaan kami akan menampilkan Film pendek dengan judul PLASTIC BAG  by:Ramin Bahrani dan Megacities-Sao Paulo

dan Rujak Share akan diisi oleh:

1. Dini Trisyanti dari InSWA (Indonesia Solid Waste Association)

2. Ricky Lestari dari KHPI (Komunitas Hijau Pondok Indah)

—————————

Semua kegiatan akan dilakukan di

Rujak Center for Urban Studies
Graha Ranuza Lt. 2
Jalan Timor no.10
Belakang Plaza BII Thamrin
Menteng, Jakarta
——–
Nah kami nantikan kehadiran anda, tapi jangan lupa mendaftar dengan mengisi form dibawah ini.
Salam dan Mari Berbagi! :)

No Comments »

| Agent of Change: none |


02 May 2012

#TanyaCagub “megapolitan”

  #TanyaCagub

No Comments »

| Agent of Change: none |


01 May 2012

Dua Tahun RCUS

Apa arti usia dua tahun bagi seseorang? Tidak banyak. Bahkan ciri-ciri fisikpun belum stabil, apalagi watak.

Bagi sebuah organisasi, usia dua tahun bahkan lebih tidak berarti lagi. Sebab, umur organisasi harus diukur dengan skala yang lebih panjang daripada skala umur manusia.

Dalam dua tahun terakhir, Rujak Center for Urban Studies belum apa-apa. Ia baru berada dalam tahapan memulai kehadirannya untuk “membantu kota-wilayah berubah menuju ke kelestarian”, misi yang diembannya.

Ia selayaknya berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu melahirkannya, yaitu para pendiri dan pengurus yayasan: Karina Sigar, Ricky Dewi Lestari, Evi Mariani, Ade Darmawan, Ignatius Hariyanto;  para perumus visi dan misinya, yaitu yang selamat ini menyebut dirinya “kelompok Pulau Macan”: Achmad Tardiyana, Suryono Herlambang, Shanty Syahril, Hizrah Muchtar, Antariksa, Ricky Dewi Lestari, Elisa Sutanudjaja, Meutia Chaerani, Anggie Arifin, Andrea Fitrianto, Irvan Pulungan; para donor: Goethe Institut, HIVOS, Ford Foundation, Yayasan Tifa, RWI, LGI, penyumbang perseorangan yang tidak dapat disebut satu persatu, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Japan Foundation; para mitra kerja: Arsitek Komunitas (Yuli Kusworo dan kawan-kawan), Cecil Mariani, Satya Witoelar, Iqbal Prakasa, Kaka Prakarsa (Air Putih) dan Nanang Syaifuddin (Air Putih), Kunci Cultural Studies Center, Famega Syafira, Hera Diani, Irwan Ahmett, Enrico Halim, Abdoumaliq Simone, Gustaff Iskandar (Common Room), berbagai lembaga pemerintah dan para sukarelawan yang tidak dapat disebut satu persatu.

Secara khusus kami ingin ucapkan terima kasih kepada berbagai komunitas atau kelompok masyarakat atas kerjasama yang erat selama ini. Untuk merekalah RCUS terutama didirikan. Dan merekalah sumber inspirasi terbesar kami dalam mengembangkan program kerja.

Pada saat ini pun RCUS masih sibuk membangun fondasinya, sambil melakukan berbagai kegiatan.

Salah satu fondasi yang kami sedang siapkan benar-benar bersifat fisik, ialah membangun fasilitas yang disebut “Pusat Pembelajaran Kelestarian” (Sustainability Learning Center) bernama Bumi Pemuda Rahayu di Dlingo, Imogiri, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami berharap tempat yang dimaksudkan untuk memadukan residensi berbagai pekerja kreatif dengan para pembelajar kelestarian ini dapat membantu inovasi dan pertumbuhan kesadaran, pemikiran, dan praktik kehidupan lestari.

Fasilitas tersebut akan terdiri dari akomodasi untuk sekitar lima puluh orang, bengkel, perpustakaan, teater terbuka, sebuah Joglo terbuka, sebuah bangunan bambu serbaguna, ruang diskusi, dan lain-lain penunjang serta instalasi daur-ulang limbah dan bio-gas. Semuanya dikelilingi suatu “taman pangan” (edible landscape).

Kami memohon doa restu dan dukungan baginya agar dapat terwujud di bulan September 2012. Masih jauh dari sempurna dan mencukupi, kami akan menerima dengan senang hati semua dukungan dan bantuan. Dukungan yang paling berharga pada akhirnya adalah: memakainya. Kami senang dihubungi kapan saja!

1 Comment »

| Agent of Change: none |


26 Apr 2012

Patungan, Yuk!

Yuk, Berpatungan

Punya impian kreatif namun tidak ada dana dalam mewujudkannya? Ingin berwira-sosial namun tidak kendala dana? Lagi dan kerap kali dana menjadi masalah untuk menggapai mimpi.

Tapi jangan lupa, sikap gotong royong sudah mendarah daging dalam masyarakat. Banyak sekali orang yang mungkin memiliki minat sama dengan anda, dan mau membantu dalam bentuk dana untuk mewujudkannya.

Patungan.net adalah bentuk media yang memungkinkan bertemunya pemilik ide dengan penyandang dana. Seperti dikutip dari situsnya, Patungan.net bertujuan untuk mendorong perkembangan kinerja kewirausahaan Indonesia. Pengaju proyek dilatih untuk, selain memikirkan teknis proyek ajuan, mereka dituntut untuk dapat mempresentasikan (menjual) gagasan, mempromosikan, yang dilakukan secara pararel dengan melakukan tahapan kerja, dan ‘memelihara’ dukungan.

Proyek seperti apa yang diharapkan ada di Patungan.net? Proyek yang diajukan, memenuhi kriteria dasar, yaitu;
• Berpikiran terbuka
• Berguna bagi publik
• Bertema: lingkungan (hidup dan sosial), sejarah, dan seni
• Berkelanjutan

Lalu apa peran masyarakat untuk mendukung proyek? Mudah, dapat berpartisipasi dengan cara mendonasi. Ada banyak proyek baik (dan akan bertambah terus) dan proyek-proyek tersebut membutuhkan dana publik. Entah itu proyek teater, film, workshop dan kesenian. Silakan cek daftar proyek ini dan dukunglah yang sesuai dengan hati. Tidak perlu khawatir dengan jumlah uang yang bisa anda patungkan.

Patungan, Yuk!

Cara Mengajukan Proyek Patungan.Net

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |


23 Apr 2012

Tanya Cagub edisi 2 “korupsi”

#TanyaCagub edisi 2 “korupsi”

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


23 Apr 2012

Remaja Urban : Kelahiran dalam Ketercerabutan ?

Oleh: Subronto Aji

 

 

sumber: http://www.terpopuler.net/tangga-lagu-korea-kpop-terbaru

 

 

Peristiwa ini dialami dalam sebuah angkutan kota bernomor 07, dari depan Pusat Grosir Cililitan (PGC) menuju Condet. Anak itu naik bersama ibunya. Wajahnya mewakili cita rasa blasteran, ibunya Melayu dan ayah yang mungkin Arab atau India, entahlah. Sejak di dalam angkot dan sepanjang jalan hingga tiba di tujuan bibirnya tak pernah diam. Ia bernyanyi lagu Hindustan yang pernah dinyanyikan Norman Camaru. Ia bernyanyi tanpa peduli. Anak ini bukan saja aktif, tetapi juga, berani. Ia mewakili pertumbuhan generasi Y.

 

Kira-kira dua atau tiga hari sebelum bertemu anak blasteran yang bernyanyi itu, dalam angkutan kota yang juga mengarah ke Condet, naik lima orang warga keturunan Asia Timur yang seumuran Anak Baru Gede (ABG). Saya menyebut Asia Timur sebab tidak terlalu jelas, mereka dari keturunan China atau Korea. Sebelum tiga ABG keturunan Asia Timur masuk, di angkutan kota hanya ada saya, seorang kawan, dan dua karyawati yang baru pulang kerja. Dua karyawati ini yang tak henti bicara dengan dialek melayu-betawi yang kental dan ekspresif, khas orang Jakarta pada umumnya.

 

Anda tahu apa yang terjadi sesudah lima ABG-keturunan itu bergabung dalam angkutan kota yang membawa kita menuju Condet?.

 

Mobil kecil yang maksimal diisi sepuluh orang dengan posisi duduk saling berhadapan itu menjadi ramai dengan lalu lalang percakapan. Dua karyawati yang mungkin berumur antara 20-23 tahun itu terus saja eksis dengan dialek Betawi-Melayu yang sesekali dicampur sedikit nuansa Bristish seperti by the way, oh my God beradu kencang suara dengan lima ABG yang tak kalah kuat bercakap menggunakan bahasa dan intonasi seperti di film Korea atau China. Jangan lupa, smart phone BlackBerry tetap eksis ditangan masing-masing.

Saya dan seorang kawan yang tersudut dipojok paling belakang  sesekali menatap mereka. Dalam hati bertanya pelan : tontotan apalagi ini ?.

 

Sketsa Tesis

Tesis pertama yang muncul di benak saya adalah angkutan kota ini telah menjadi panggung dari adu identitas khas rakyat pinggiran. Mereka tanpa peduli pada penumpang yang lain begitu aktif menampilkan dirinya lewat medium bahasa masing-masing. Tak penting apa isi percakapan itu, yang penting adalah bahasa yang digunakan. Sama halnya : mereka juga mengabaikan kenyataan ruang jikalau kita sedang berada di angkot yang sesak dan sesekali berhenti karena macet yang abadi ala Jakarta. Suara mereka lebih kencang dari bunyi knalpot.

Tesis kedua yang terbangun di benak saya adalah adu identitas itu mewakili arus besar pertumbuhan budaya pop, terutama yang berkaitan dengan ekspansi K-Pop yang kini merajai industri hiburan, khususnya fashion, film dan musik nasional. Wabah K-Pop ini meluas di seluruh Indonesia. Segenap kesadaran, cita rasa perasaan, gerak-gerik bahkan imajinasi tentang hidup sehari-hari remaja urban di Indonesia kini tumbuh dalam bayang-bayang serba Korea atau, lebih luas dari itu, Asia Timur. Mereka, para remaja itu, menjadi agen budaya yang terseok-seok meng-copy paste segala yang serba ‘K-Pop’ (walau sebenarnya sejarah K-Pop tidaklah genuine Korea).

Lalu, tesis ketiga yang menyemburat dalam ranah kesadaran ialah lalu lalang import budaya pop seperti ini memang memiliki efek pasang surut sebagaimana labilitas para remaja urban. Jelas saja perkembangan ini bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Kebaruannya hanyalah terletak pada subyek yang mendominasi (kali ini importirnya dari Asia Timur) saja. Para remaja urban seperti di Jakarta mungkin menjadi subyek-yang-tereksploitasi sekaligus hendak eksis. Perjumpaan ini, antara subyek-yang-mendominasi dan subyek-yang-tereksploitasi-hendak eksis mewakili narasi besar berjudul : global war of pop culture (??).

 

***

Agak terburu-buru jika perkembangan di atas lantas kita simpulkan sebagai krisis kebudayaan nasional kita di ruang urban. Atau sebutlah itu krisis identitas anak muda. Namun perkembangan ini tak bisa dipandang sambil lalu sebagai kegenitan cultural sesaat khas remaja dan ibu-ibu muda urban yang aktif mengucap ‘omigod,omigod,omigod’ ketika menyimak Twilight dan Breaking Down produksi Amerika.

Yang jelas di mata kita adalah kota-kota telah menjadi ruang yang mengalami defisit identitas lokal di mana akar-akar culturalnya membentuk diri terus menerus seirama gerak transfomasi fisik-ruang kota. Ini telah berlangsung lama sejak kota di Asia Tenggara diposisikan sebagai agen modernisasi. Ada kekalahan yang serius dari yang disebut sebagai lokalitas kultur urban, sebagaimana kekalahan bumiputera pemilik lahan dari ekspansi mall atau kekalahan pasar tradisional dari kekuasaan Giant dan Hypermart.

Sejarah kota memang tak pernah sepi dari pergantian pemenang dan pecundang, perintis dan peniru, penjaga juga perusak.

Kita tahu jikalau pada ruang ekonomi-politik, menyebut kalah-menang selalu paralel dengan menghitung rugi-untung. Tetapi, apakah juga sama berlaku diruang kultural ?. Maksudnya, ini bisa menjadi pertanyaan sejauh manakah terbuka kemungkinan bagi kepentingan ekonomi-politik untuk bekerja bagi pemuasan dirinya dengan menggunakan kultur sebagai mediumnya; meletakkan kultur sebagai sub-ordinat dari pemuasaan hasrat ekonomi-politik ?.

Artinya, pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada diskursus rumit mengenai imperialisme kebudayaan atau industri kebudayaan.

Tak ada jawab tunggal dan berkekuatan praktis atas hal diatas.

Salah satu hal penting yang tengah kita hadapi kini adalah model pertarungan kultural di mana agen-agen penyalurnya memainkan operasi ganda yang canggih. Ambillah contoh televisi, kotak canggih yang mengkombinasikan gambar, gerak, dan bunyi dalam satu momen penyampaian pesan. Daftar siaran televisi bisa menampilkan sesuatu yang berkarakter ‘kita’ (: Indonesia) namun di saat jam tayang lainnya, ia menjadi sepenuhnya bukan kita (: dengan segala macam tontonan gosip, musik, plus sinetron import). Televisi yang menguasai waktu-waktu luang pun waktu-waktu produktif bukan tak mungkin menggantikan fungsi keluarga sebagai apparatus dari sistem nilai masyarakat. Dalam adagium lama McLuhan : medium telah menjadi pesan itu sendiri.

 

Lalu para remaja itu bertumbuhan dalam pluralisme referensi nilai-norma yang jejak obyektivasinya bisa dilihat dari potret fisik mereka : mata bulat, kulit coklat dengan dandan anak muda Korea. Mereka seolah mengalami retak sekaligus mengumpulkan serakannya dalam model identitas tubuh yang melampaui kategori-kategori biner Timur Melayu vs Timur Mandarin, misalnya. Proses yang ditempuh para remaja seperti ini mungkin bisa ringkaskan dalam kalimat: ketercerabutan yang membentuk dirinya terus menerus. Sehingga, untuk sementara bisa dikatakan, problem eksistensial para remaja urban seperti di Jakarta ialah penemuan diri dalam satu episode ketercerabutan kepada episode ketercerabutan yang lain; semacam kelahiran dalam ketercerabutan.

Dalam bahasa yang lain : kelahiran dalam atau melalui ketercerabutan juga tersirat menandakan ada retak fungsi dalam pranata-pranata sosial dalam meng-inkulturasi anak-anak remaja. Pada ujungnya situasi ini membawa kita pada judul besar ke-Kita-an kita yang terus menerus bertempa diri dengan arus import ‘yang-Lain’.

 

Tentu saja kita tidak bisa menafikan pandangan kritis yang menyebutkan gaya hidup remaja urban sebagai bentuk keterasingan diri (: kesadaran palsu) yang terjebak dalam operasi canggih ‘rezim teknologi tubuh’ di mana komoditi membentuk sirkulasinya yang efektif dengan sasaran utama remaja. Maksudnya adalah proses penemuan diri dalam ketercerabutan itu adalah gerak yang rapuh dan, katakan, menipu.

 

Para remaja mungkin menemukan dirinya referensi-referensi kultural import itu (?) yang secara bersamaan mengambil keuntungan dari konsekuensi-konsekuensi ketercerabutan diri dan kelompok dari rumah kulturalnya masing-masing. Pada terma postkolonial theory, mereka barangkali sedang melakukan mimikri, yang juga mengisyaratkan ambivalensi akut ; benci-benci tapi rindu pun meniru-mengejek yang berakar dalam.

 

Menjadi Kita memang rumit.

 

 

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


19 Apr 2012

[SILAKAN/ MELARANG] DUDUK

Teks : Silvia Honsa; Foto : Rika Febriyani

Kita tidak sering menemukan tempat duduk di ruang publik Jakarta, baik di sepanjang trotoar, maupun di lingkungan perumahan.

Apakah ini terjadi karena warga kota kurang membutuhkannya?

Proyek kedua Rika and Silvia Project menggali pengetahuan soal perlu dan pentingnya
ruang duduk ini.

Bunderan Tugu Selamat Datang (GuMaTang) dengan fokus pada ruang publik
di depan Plaza Indonesia, serta ruang duduk di pemukiman RT 03/RW 014 di Kelurahan
Tomang (Cideng) adalah lokasi wawancara yang kami tampilkan dalam video “ [Silakan/
Melarang] Duduk “ (tautan ada di akhir tulisan ini). Sebab, kita tahu, sudut di depan Plaza
Indonesia – Bunderan Tugu Selamat Datang, tak pernah sepi dari warga. Pun, di lokasi lain,
sepanjang kali Banjir Kanal Barat, beragam tempat duduk berjejer untuk warga. (more…)

1 Comment »

| Agent of Change: none |


18 Apr 2012

#TanyaCagub “Ruang Bersama”

  #TanyaCagub

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


16 Apr 2012

Resensi Buku Kampung Perkotaan

 

oleh: Robin Hartanto

Kampung Perkotaan: Kajian Historis-Antropologis atas Kesenjangan Sosial dan Ruang Kota (2011)

Editor: Johny A. Khusyairi dan La Ode Rabani

Sebagai luaran sebuah pertemuan ilmiah bertajuk “The International Conference on the Urban Kampong”, buku Kampung Perkotaan: Kajian Historis-Antropologis atas Kesenjangan Sosial dan Ruang Kota jelas memiliki substansi akademis yang kental. Kajian-kajian ilmiah di dalamnya berusaha melihat keberadaan kampung di perkotaan dari perspektif spasial-sosial, yang kemudian mau tidak mau bersinggungan dengan berbagai aspek seperti ekonomi, politik, etnis, agama, dan bahkan gender.

Hal ini dirasa perlu mengingat definisi kampung yang elusif seringkali dipandang sebatas konsep yang mengarah pada stereotip negatif, terutama justru oleh negara. Miskonsepsi oleh negara terhadadap kampung masalahnya memiliki konsekuensi yang nyata. ‘Kawasan coklat yang tertinggal’ itu mengalami diferensiasi dalam perenanaannya dibandingkan lingkungan permukiman lainnya, bukan hanya sekarang tapi bahkan sejak masa kolonial.

Apa yang pembaca dapat temui dalam buku ini begitu beragam, apalagi penulis-penulis yang turut serta berasal dari berbagai latar belakang dengan obyek kajian dan metode penelitian yang berbeda-beda pula.

Penulis yang terlibat antara lain: Joost Cote, dosen School of History, Heritage and Society Deakin University, Melbourne, Australia; Karen Baker dan Michelle Kooy, dari University of British Columbia; Robbie Peters, Department of Anthropology, The University of Sydney; Freek Colombijn, dari Vrije Universiteit Amsterdam, Annemarie Samuels dari Universiteit Leiden; Asep Suryana dosen Jurusan Sosiologi UNJ; Azas Tigor Nainggolan Ketua Forum Warga Kota Jakarta; Ratna Saptari dari Universiteit Leiden; M. Nawir aktivis Jaringan Rakyat Miskin Kota – Uplink Indonesia; dan msih banyak lagi peneliti-peneliti yang dengan fokus mengkaji tentang kampung.

Untuk memberikan struktur yang jelas, penyusunan tulisan-tulisan yang amat variatif ini kemudian dibagi menjadi empat sub bagian yaitu “Perencanaan Kampung”, “Mobilitas Sosial”, “Dinamika Kampung”, dan “Konflik Intervensi Negara dan Solidaritas”.

Tetapi yang terpenting dari buku ini di balik keragamannya, ia dimaksudkan untuk tidak sekedar menjadi pengetahuan belaka.

Seperti yang dituturkan dalam tulisan pengantarnya, apa yang sebenarnya hendak ditawarkan adalah sebuah perspektif “baru”, yaitu kerangka analisis yang mengakui konstruksi (post)kolonial. Kampung merupakan konstruksi hibrida kolonial, sehingga menggali masa lalu sangatlah perlu untuk dapat memahami kampung secara utuh.



Buku Kampung Perkotaan ini tersedia di Rujak dengan jumlah terbatas, harga Rp. 65.000,- (belum termasuk ongkos kirim). Bagi yang berminat bisa menghubungi atau datang langsung ke Rujak

Gedung Ranuza, Lantai 2. Jl. Timor No. 10, Menteng, Jakarta Pusat 10350
Tlp : (021) 31906809 email: info@rujak.org

 

3 Comments »

| Agent of Change: none |