<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak &#187; Resources</title>
	<atom:link href="http://rujak.org/category/resources/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujak.org</link>
	<description>For a Better Jakarta. Everyone is Invited.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 09:55:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Kota dan Sampah</title>
		<link>http://rujak.org/2012/05/kota-dan-sampah/</link>
		<comments>http://rujak.org/2012/05/kota-dan-sampah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 15:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3822</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Robin Hartanto Sampah Ia adalah kata yang cenderung berkonotasi negatif. Ia menjadi ujung kegunaan sebuah produk, tidak lagi dibutuhkan, dan hanya satu tindakan diperlukan untuk mengakhiri hayatnya, membuangnya. Padahal, “membuang” tidak pernah benar-benar membunuhnya. Perjalanan panjang masih menanti. Apakah ia akan dibawa bersama teman-temannya oleh sebuah truk, yang selalu dihindari orang-orang karena baunya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/05/mei-newslet-01.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3851" title="mei newslet-01" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/05/mei-newslet-01-300x222.jpg" alt="" width="300" height="222" /></a></p>
<p>oleh: Robin Hartanto</p>
<p>Sampah<br />
Ia adalah kata yang cenderung berkonotasi negatif. Ia menjadi ujung kegunaan sebuah produk, tidak lagi dibutuhkan, dan hanya satu tindakan diperlukan untuk mengakhiri hayatnya, membuangnya.</p>
<p>Padahal, “membuang” tidak pernah benar-benar membunuhnya. Perjalanan panjang masih menanti. Apakah ia akan dibawa bersama teman-temannya oleh sebuah truk, yang selalu dihindari orang-orang karena baunya yang amat menyengat, menuju tempat pembuangan akhir? Apakah ia lalu akan ditimbun di dalam tanah? Apakah ia akan diambil oleh para pemulung dan dibawa ke tempat daur ulang, untuk kemudian diproses hingga dapat digunakan kembali? Ataukah ia akan terbang ke sana-sini mengikuti kemana angin membawanya? Sampai tiba dirinya di aliran sungai yang akan membawanya menuju hilir dan mempertemukannya dengan lautan luas?<br />
Kita tentu tidak peduli akan nasibnya. Yang kita perlu tahu hanyalah membuangnya, baik dengan cara yang “sampahwi” ataupun tidak. Ibarat mengubur orang mati atau biarkan saja orang itu tergeletak di jalan.</p>
<p>Maka ketika salah satu mantan calon gubernur Jakarta tercantik menebarkan jargon “Mengubah Sampah Menjadi Emas” di belakang bus-bus umum, kita cenderung menganggapnya angin lalu. Bagi warga Jakarta, macet dan banjir adalah masalah, apalagi dirasakan secara langsung sehari-seharinya oleh warga. Sementara sampah? “Ya, jadi masalah pemerintah saja!” pikir kita dengan cuek.<br />
Padahal data-data yang dimiliki kota Jakarta cukup fantastis. Jakarta menghasilkan 6000 ton sampah per hari (2007). Volumenya sekitar 26000 meter persegi. Bisa membayangkan seberapa besar? Buku Kata Fakta Jakarta memberikan sebuah gambaran menarik. Dalam setahun, kita bisa memiliki 185 Candi Borobudur (volumenya sekitar 55000 meter persegi) baru yang dibangun dari sampah.</p>
<p>Dengan jumlah yang begitu besar, memang ada potensi apabila kita dapat menemukan cara memanfaatkannya. Beberapa inisiatif masyarakat yang tersebar di sekitar 1000 RT dan RW di DKI Jakarta patut diteladani. Dengan menggunakan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle), mereka melakukan pemilahan sampah dan mengolahnya kembali. Tentu saja mereka bukan penyihir yang bisa mengubah sampah menjadi emas, tetapi mereka dapat mengubah sampah menjadi pupuk kompos atau biogas. Dengan begitu, mereka dapat mengurangi pekerjaan pemerintah hingga dua puluh persen.</p>
<p>Namun, memikirkan masalah sampah hanya pada tahap pengolahan akhir adalah paradigma yang perlu diubah. Hal tersebut hanyalah dapat mengurangi sampah, tanpa dapat benar-benar menyelesaikan masalah sampah secara menyeluruh. Solusi justru perlu dipikirkan pada tataran produksi, distribusi, dan konsumsi kita atas produk-produk yang sejatinya akan berujung menjadi sampah.</p>
<p>Melalui buku Cradle to Cradle misalnya, William McDonough dan Michael Braungart mencoba menawarkan perubahan paradigma tersebut pada tataran produksi. Dengan mengubah cara kita menciptakan sesuatu, kita dapat menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Buku itu sendiri dibuat dari kertas sintetis dengan kualitas tinggi, tanpa memotong sebatang pohon pun, dan dapat didaur ulang tanpa menghilangkan kualitasnya.</p>
<p>Malah, terkadang kita tidak perlu teknologi canggih untuk melakukannya. Sesederhana dengan membawa tas lipat atau peralatan makan sendiri, kita dapat memberikan sumbangan besar terhadap masalah sampah dalam tataran konsumsi.</p>
<p>Tentu saja banyak lagi cara-cara yang dapat kita lakukan. Tetapi semua itu akan sia-sia saja tanpa aksi dari kita. Yang sejujurnya paling esensial kita perlukan adalah pengetahuan komprehensif serta inisiatif. Dan melalui diskusi-diskusi bermutu, saya percaya, kita dapat mendorong pemahaman dan inisiatif kita ke tingkat aksi.</p>
<div>
<p><object style="width: 600px; height: 300px;" width="320" height="240" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="menu" value="false" /><param name="src" value="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v1/IssuuViewer.swf" /><param name="flashvars" value="mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=120507074416-0c765ff809444ca59ec5f71037906ce9&amp;docName=rujak_weekend_mei_&amp;username=rujak&amp;loadingInfoText=Rujak%20Weekend%20Mei%202012&amp;et=1336377158223&amp;er=42" /><embed style="width: 600px; height: 300px;" width="320" height="240" type="application/x-shockwave-flash" src="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v1/IssuuViewer.swf" allowfullscreen="true" menu="false" flashvars="mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=120507074416-0c765ff809444ca59ec5f71037906ce9&amp;docName=rujak_weekend_mei_&amp;username=rujak&amp;loadingInfoText=Rujak%20Weekend%20Mei%202012&amp;et=1336377158223&amp;er=42" /></object></p>
<div style="width: 600px; text-align: left;"><a href="http://issuu.com/rujak/docs/rujak_weekend_mei_?mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true" target="_blank">Open publication</a> &#8211; Free <a href="http://issuu.com" target="_blank">publishing</a> &#8211; <a href="http://issuu.com/search?q=rujak" target="_blank">More rujak</a></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2012/05/kota-dan-sampah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rujak Akhir Pekan Mei 2012 &#8220;Kota dan Sampah&#8221;</title>
		<link>http://rujak.org/2012/05/rujakevent-mei-2012-kota-dan-sampah/</link>
		<comments>http://rujak.org/2012/05/rujakevent-mei-2012-kota-dan-sampah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 15:14:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3814</guid>
		<description><![CDATA[Rujak Center for Urban Studies mengadakan kegiatan rutin tiap Sabtu dan pada edisi Mei ini. Sesuai dengan tema bulan Mei akan berkisah tentang Kota dan Sampah, berikut kegiatan Sabtu kami: Rujak Sorot and Berbagi: Sabtu, 12 Mei 2012  09.30 &#8211; 12.00 Untuk pembukaan kami akan menampilkan Film pendek dengan judul PLASTIC BAG  by:Ramin Bahrani dan Megacities-Sao [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/05/mei-01.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3846" title="mei-01" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/05/mei-01-300x222.jpg" alt="" width="300" height="222" /></a><br />
Rujak Center for Urban Studies mengadakan kegiatan rutin tiap Sabtu dan pada edisi Mei ini. Sesuai dengan tema bulan Mei akan berkisah tentang Kota dan Sampah, berikut kegiatan Sabtu kami:</p>
<p><strong>Rujak Sorot and Berbagi: Sabtu, 12 Mei 2012  09.30 &#8211; 12.00</strong></p>
<p>Untuk pembukaan kami akan menampilkan Film pendek dengan judul PLASTIC BAG  by:Ramin Bahrani dan Megacities-Sao Paulo</p>
<p>dan Rujak Share akan diisi oleh:</p>
<p>1. Dini Trisyanti dari InSWA (Indonesia Solid Waste Association)</p>
<p>2. Ricky Lestari dari KHPI (Komunitas Hijau Pondok Indah)</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Semua kegiatan akan dilakukan di</p>
<div>Rujak Center for Urban Studies</div>
<div>Graha Ranuza Lt. 2</div>
<div>Jalan Timor no.10</div>
<div>Belakang Plaza BII Thamrin</div>
<div>Menteng, Jakarta</div>
<div>&#8212;&#8212;&#8211;</div>
<div>Nah kami nantikan kehadiran anda, tapi jangan lupa mendaftar dengan mengisi form dibawah ini.</div>
<div>Salam dan Mari Berbagi! <img src='http://rujak.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </div>
<p><iframe src="https://docs.google.com/spreadsheet/embeddedform?formkey=dDB3cElEU0VLTHBnZnJ2amRTZG9udVE6MQ" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" width="600" height="639"></iframe></p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<div style="width: 600px; text-align: left;"><a href="http://issuu.com/rujak/docs/rujak_weekend_mei_?mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true" target="_blank">Open publication</a> &#8211; Free <a href="http://issuu.com" target="_blank">publishing</a> &#8211; <a href="http://issuu.com/search?q=rujak" target="_blank">More rujak</a></div>
</div>
<div><object style="width: 600px; height: 300px;" width="320" height="240" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="menu" value="false" /><param name="src" value="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v1/IssuuViewer.swf" /><param name="flashvars" value="mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=120514081403-07aa6036e3134c5db074f39cec75af5c&amp;docName=tanyacagubsampah&amp;username=rujak&amp;loadingInfoText=%23tanyacagub&amp;et=1336983675257&amp;er=75" /><embed style="width: 600px; height: 300px;" width="320" height="240" type="application/x-shockwave-flash" src="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v1/IssuuViewer.swf" allowfullscreen="true" menu="false" flashvars="mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=120514081403-07aa6036e3134c5db074f39cec75af5c&amp;docName=tanyacagubsampah&amp;username=rujak&amp;loadingInfoText=%23tanyacagub&amp;et=1336983675257&amp;er=75" /></object></p>
<div style="width: 600px; text-align: left;"><a href="http://issuu.com/rujak/docs/tanyacagubsampah?mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true" target="_blank">Open publication</a> &#8211; Free <a href="http://issuu.com" target="_blank">publishing</a> &#8211; <a href="http://issuu.com/search?q=rujak" target="_blank">More rujak</a></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2012/05/rujakevent-mei-2012-kota-dan-sampah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#TanyaCagub &#8220;megapolitan&#8221;</title>
		<link>http://rujak.org/2012/05/tanyacagub-megapolitan/</link>
		<comments>http://rujak.org/2012/05/tanyacagub-megapolitan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2012 17:41:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3796</guid>
		<description><![CDATA[  #TanyaCagub Open publication &#8211; Free publishing &#8211; More megapolitan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/rujak-icon.png"><img class="alignnone size-full wp-image-3710" title="rujak-icon" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/rujak-icon.png" alt="" width="96" height="96" /></a>  #TanyaCagub</p>
<div><object style="width: 600px; height: 426px;" width="320" height="240" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="menu" value="false" /><param name="src" value="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v1/IssuuViewer.swf" /><param name="flashvars" value="mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=120501091558-f04ce465fbce449f8970fdfea742168b&amp;docName=megapol&amp;username=rujak&amp;loadingInfoText=TanyaCagub3&amp;et=1335864669108&amp;er=89" /><embed style="width: 600px; height: 426px;" width="320" height="240" type="application/x-shockwave-flash" src="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v1/IssuuViewer.swf" allowfullscreen="true" menu="false" flashvars="mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=120501091558-f04ce465fbce449f8970fdfea742168b&amp;docName=megapol&amp;username=rujak&amp;loadingInfoText=TanyaCagub3&amp;et=1335864669108&amp;er=89" /></object></p>
<div style="width: 600px; text-align: left;"><a href="http://issuu.com/rujak/docs/megapol?mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true" target="_blank">Open publication</a> &#8211; Free <a href="http://issuu.com" target="_blank">publishing</a> &#8211; <a href="http://issuu.com/search?q=megapolitan" target="_blank">More megapolitan</a></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2012/05/tanyacagub-megapolitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Tahun RCUS</title>
		<link>http://rujak.org/2012/05/dua-tahun-rcus/</link>
		<comments>http://rujak.org/2012/05/dua-tahun-rcus/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 17:52:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3787</guid>
		<description><![CDATA[Apa arti usia dua tahun bagi seseorang? Tidak banyak. Bahkan ciri-ciri fisikpun belum stabil, apalagi watak. Bagi sebuah organisasi, usia dua tahun bahkan lebih tidak berarti lagi. Sebab, umur organisasi harus diukur dengan skala yang lebih panjang daripada skala umur manusia. Dalam dua tahun terakhir, Rujak Center for Urban Studies belum apa-apa. Ia baru berada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/05/BPR_Bambu.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3791" title="BPR_Bambu" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/05/BPR_Bambu-300x205.jpg" alt="" width="300" height="205" /></a></p>
<p><strong id="internal-source-marker_0.168963078642264">Apa arti usia dua tahun bagi seseorang? Tidak banyak. Bahkan ciri-ciri fisikpun belum stabil, apalagi watak.</strong></p>
<p>Bagi sebuah organisasi, usia dua tahun bahkan lebih tidak berarti lagi. Sebab, umur organisasi harus diukur dengan skala yang lebih panjang daripada skala umur manusia.</p>
<p>Dalam dua tahun terakhir, Rujak Center for Urban Studies belum apa-apa. Ia baru berada dalam tahapan memulai kehadirannya untuk “membantu kota-wilayah berubah menuju ke kelestarian”, misi yang diembannya.</p>
<p>Ia selayaknya berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu melahirkannya, yaitu para pendiri dan pengurus yayasan: Karina Sigar, Ricky Dewi Lestari, Evi Mariani, Ade Darmawan, Ignatius Hariyanto;  para perumus visi dan misinya, yaitu yang selamat ini menyebut dirinya &#8220;kelompok Pulau Macan&#8221;: Achmad Tardiyana, Suryono Herlambang, Shanty Syahril, Hizrah Muchtar, Antariksa, Ricky Dewi Lestari, Elisa Sutanudjaja, Meutia Chaerani, Anggie Arifin, Andrea Fitrianto, Irvan Pulungan; para donor: Goethe Institut, HIVOS, Ford Foundation, Yayasan Tifa, RWI, LGI, penyumbang perseorangan yang tidak dapat disebut satu persatu, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Japan Foundation; para mitra kerja: Arsitek Komunitas (Yuli Kusworo dan kawan-kawan), Cecil Mariani, Satya Witoelar, Iqbal Prakasa, Kaka Prakarsa (Air Putih) dan Nanang Syaifuddin (Air Putih), Kunci Cultural Studies Center, Famega Syafira, Hera Diani, Irwan Ahmett, Enrico Halim, Abdoumaliq Simone, Gustaff Iskandar (Common Room), berbagai lembaga pemerintah dan para sukarelawan yang tidak dapat disebut satu persatu.</p>
<p>Secara khusus kami ingin ucapkan terima kasih kepada berbagai komunitas atau kelompok masyarakat atas kerjasama yang erat selama ini. Untuk merekalah RCUS terutama didirikan. Dan merekalah sumber inspirasi terbesar kami dalam mengembangkan program kerja.</p>
<p>Pada saat ini pun RCUS masih sibuk membangun fondasinya, sambil melakukan berbagai kegiatan.</p>
<p>Salah satu fondasi yang kami sedang siapkan benar-benar bersifat fisik, ialah membangun fasilitas yang disebut &#8220;Pusat Pembelajaran Kelestarian&#8221; (Sustainability Learning Center) bernama Bumi Pemuda Rahayu di Dlingo, Imogiri, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami berharap tempat yang dimaksudkan untuk memadukan residensi berbagai pekerja kreatif dengan para pembelajar kelestarian ini dapat membantu inovasi dan pertumbuhan kesadaran, pemikiran, dan praktik kehidupan lestari.</p>
<p>Fasilitas tersebut akan terdiri dari akomodasi untuk sekitar lima puluh orang, bengkel, perpustakaan, teater terbuka, sebuah Joglo terbuka, sebuah bangunan bambu serbaguna, ruang diskusi, dan lain-lain penunjang serta instalasi daur-ulang limbah dan bio-gas. Semuanya dikelilingi suatu &#8220;taman pangan&#8221; (edible landscape).</p>
<p>Kami memohon doa restu dan dukungan baginya agar dapat terwujud di bulan September 2012. Masih jauh dari sempurna dan mencukupi, kami akan menerima dengan senang hati semua dukungan dan bantuan. Dukungan yang paling berharga pada akhirnya adalah: memakainya. Kami senang dihubungi kapan saja!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2012/05/dua-tahun-rcus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Patungan, Yuk!</title>
		<link>http://rujak.org/2012/04/patungan-yuk/</link>
		<comments>http://rujak.org/2012/04/patungan-yuk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 22:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[arts & culture]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[Patungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3783</guid>
		<description><![CDATA[Punya impian kreatif namun tidak ada dana dalam mewujudkannya? Ingin berwira-sosial namun tidak kendala dana? Lagi dan kerap kali dana menjadi masalah untuk menggapai mimpi. Tapi jangan lupa, sikap gotong royong sudah mendarah daging dalam masyarakat. Banyak sekali orang yang mungkin memiliki minat sama dengan anda, dan mau membantu dalam bentuk dana untuk mewujudkannya. Patungan.net [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 561px"><img title="Patungan.net" src="http://patungan.stagingsites.net/wp-content/uploads/2012/01/komik-patungan_eko.jpg" alt="" width="551" height="651" /><p class="wp-caption-text">Yuk, Berpatungan</p></div>
<p>Punya impian kreatif namun tidak ada dana dalam mewujudkannya? Ingin berwira-sosial namun tidak kendala dana? Lagi dan kerap kali dana menjadi masalah untuk menggapai mimpi.</p>
<p>Tapi jangan lupa, sikap gotong royong sudah mendarah daging dalam masyarakat. Banyak sekali orang yang mungkin memiliki minat sama dengan anda, dan mau membantu dalam bentuk dana untuk mewujudkannya.</p>
<p><a title="Patungan.net" href="http://www.patungan.net" target="_blank">Patungan.net</a> adalah bentuk media yang memungkinkan bertemunya pemilik ide dengan penyandang dana. Seperti dikutip dari situsnya, Patungan.net bertujuan untuk mendorong perkembangan kinerja kewirausahaan Indonesia. Pengaju proyek dilatih untuk, selain memikirkan teknis proyek ajuan, mereka dituntut untuk dapat mempresentasikan (menjual) gagasan, mempromosikan, yang dilakukan secara pararel dengan melakukan tahapan kerja, dan ‘memelihara’ dukungan.</p>
<p>Proyek seperti apa yang diharapkan ada di Patungan.net? Proyek yang diajukan, memenuhi kriteria dasar, yaitu;<br />
• Berpikiran terbuka<br />
• Berguna bagi publik<br />
• Bertema: lingkungan (hidup dan sosial), sejarah, dan seni<br />
• Berkelanjutan</p>
<p>Lalu apa peran masyarakat untuk mendukung proyek? Mudah, dapat berpartisipasi dengan cara mendonasi. Ada banyak proyek baik (dan akan bertambah terus) dan proyek-proyek tersebut membutuhkan dana publik. Entah itu proyek teater, film, workshop dan kesenian. Silakan cek <a href="http://patungan.stagingsites.net/temukan-proyek-seru" target="_blank">daftar proyek</a> ini dan dukunglah yang sesuai dengan hati. Tidak perlu khawatir dengan jumlah uang yang bisa anda patungkan.</p>
<p>Patungan, Yuk!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Proses Pengajuan" src="http://patungan.stagingsites.net/wp-content/uploads/2012/01/proses_pengaju1.jpg" alt="Cara Mengajukan Proyek Patungan.Net" width="472" height="334" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2012/04/patungan-yuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanya Cagub edisi 2 &#8220;korupsi&#8221;</title>
		<link>http://rujak.org/2012/04/tanya-cagub-edisi-2-korupsi/</link>
		<comments>http://rujak.org/2012/04/tanya-cagub-edisi-2-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 16:45:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[cagub]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[pilkada DKI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3761</guid>
		<description><![CDATA[#TanyaCagub edisi 2 &#8220;korupsi&#8221; Open publication &#8211; Free publishing &#8211; More korupsi]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/rujak-icon1.png"><img class="alignnone size-full wp-image-3762" title="rujak-icon" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/rujak-icon1.png" alt="" width="160" height="160" /></a>#TanyaCagub edisi 2 &#8220;korupsi&#8221;</p>
<div><object style="width: 600px; height: 426px;" width="320" height="240" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="menu" value="false" /><param name="src" value="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v1/IssuuViewer.swf" /><param name="flashvars" value="mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=120423082103-6baeeb1fb02543afbbdfa7ac74d3a657&amp;docName=korupsi&amp;username=rujak&amp;loadingInfoText=TanyaCagub2&amp;et=1335169936753&amp;er=24" /><embed style="width: 600px; height: 426px;" width="320" height="240" type="application/x-shockwave-flash" src="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v1/IssuuViewer.swf" allowfullscreen="true" menu="false" flashvars="mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=120423082103-6baeeb1fb02543afbbdfa7ac74d3a657&amp;docName=korupsi&amp;username=rujak&amp;loadingInfoText=TanyaCagub2&amp;et=1335169936753&amp;er=24" /></object></p>
<div style="width: 600px; text-align: left;"><a href="http://issuu.com/rujak/docs/korupsi?mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true" target="_blank">Open publication</a> &#8211; Free <a href="http://issuu.com" target="_blank">publishing</a> &#8211; <a href="http://issuu.com/search?q=korupsi" target="_blank">More korupsi</a></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2012/04/tanya-cagub-edisi-2-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remaja Urban : Kelahiran dalam Ketercerabutan ?</title>
		<link>http://rujak.org/2012/04/remaja-urban-kelahiran-dalam-ketercerabutan/</link>
		<comments>http://rujak.org/2012/04/remaja-urban-kelahiran-dalam-ketercerabutan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 08:31:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3739</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Subronto Aji &#160; &#160; sumber: http://www.terpopuler.net/tangga-lagu-korea-kpop-terbaru &#160; &#160; Peristiwa ini dialami dalam sebuah angkutan kota bernomor 07, dari depan Pusat Grosir Cililitan (PGC) menuju Condet. Anak itu naik bersama ibunya. Wajahnya mewakili cita rasa blasteran, ibunya Melayu dan ayah yang mungkin Arab atau India, entahlah. Sejak di dalam angkot dan sepanjang jalan hingga tiba di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Subronto Aji</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/kpop-chart.gif"><img class="alignnone size-medium wp-image-3740" title="kpop-chart (sumber: http://www.terpopuler.net/tangga-lagu-korea-kpop-terbaru)" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/kpop-chart-300x187.gif" alt="" width="300" height="187" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>sumber: <a href="http://www.terpopuler.net/tangga-lagu-korea-kpop-terbaru">http://www.terpopuler.net/tangga-lagu-korea-kpop-terbaru</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Peristiwa ini dialami dalam sebuah angkutan kota bernomor 07, dari depan Pusat Grosir Cililitan (PGC) menuju Condet. Anak itu naik bersama ibunya. Wajahnya mewakili cita rasa blasteran, ibunya Melayu dan ayah yang mungkin Arab atau India, entahlah. Sejak di dalam angkot dan sepanjang jalan hingga tiba di tujuan bibirnya tak pernah diam. Ia bernyanyi lagu Hindustan yang pernah dinyanyikan Norman Camaru. Ia bernyanyi tanpa peduli. Anak ini bukan saja aktif, tetapi juga, berani. Ia mewakili pertumbuhan generasi Y.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kira-kira dua atau tiga hari sebelum bertemu anak blasteran yang bernyanyi itu, dalam angkutan kota yang juga mengarah ke Condet, naik lima orang warga keturunan Asia Timur yang seumuran Anak Baru Gede (ABG). Saya menyebut Asia Timur sebab tidak terlalu jelas, mereka dari keturunan China atau Korea. Sebelum tiga ABG keturunan Asia Timur masuk, di angkutan kota hanya ada saya, seorang kawan, dan dua karyawati yang baru pulang kerja. Dua karyawati ini yang tak henti bicara dengan dialek melayu-betawi yang kental dan ekspresif, khas orang Jakarta pada umumnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anda tahu apa yang terjadi sesudah lima ABG-keturunan itu bergabung dalam angkutan kota yang membawa kita menuju Condet?.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mobil kecil yang maksimal diisi sepuluh orang dengan posisi duduk saling berhadapan itu menjadi ramai dengan lalu lalang percakapan. Dua karyawati yang mungkin berumur antara 20-23 tahun itu terus saja eksis dengan dialek Betawi-Melayu yang sesekali dicampur sedikit nuansa <em>Bristish</em> seperti <em>by the way, oh my God</em> beradu kencang suara dengan lima ABG yang tak kalah kuat bercakap menggunakan bahasa dan intonasi seperti di film Korea atau China. Jangan lupa, smart phone BlackBerry tetap eksis ditangan masing-masing.</p>
<p>Saya dan seorang kawan yang tersudut dipojok paling belakang  sesekali menatap mereka. Dalam hati bertanya pelan : tontotan apalagi ini ?.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sketsa Tesis</strong></p>
<p>Tesis pertama yang muncul di benak saya adalah angkutan kota ini telah menjadi panggung dari adu identitas khas rakyat pinggiran. Mereka tanpa peduli pada penumpang yang lain begitu aktif menampilkan dirinya lewat medium bahasa masing-masing. Tak penting apa isi percakapan itu, yang penting adalah bahasa yang digunakan. Sama halnya : mereka juga mengabaikan kenyataan ruang jikalau kita sedang berada di angkot yang sesak dan sesekali berhenti karena macet yang abadi ala Jakarta. Suara mereka lebih kencang dari bunyi knalpot.</p>
<p>Tesis kedua yang terbangun di benak saya adalah adu identitas itu mewakili arus besar pertumbuhan budaya pop, terutama yang berkaitan dengan ekspansi K-Pop yang kini merajai industri hiburan, khususnya fashion, film dan musik nasional. Wabah K-Pop ini meluas di seluruh Indonesia. Segenap kesadaran, cita rasa perasaan, gerak-gerik bahkan imajinasi tentang hidup sehari-hari remaja urban di Indonesia kini tumbuh dalam bayang-bayang serba Korea atau, lebih luas dari itu, Asia Timur. Mereka, para remaja itu, menjadi agen budaya yang terseok-seok meng-<em>copy paste</em> segala yang serba &#8216;K-Pop&#8217; (walau sebenarnya sejarah K-Pop tidaklah genuine Korea).</p>
<p>Lalu, tesis ketiga yang menyemburat dalam ranah kesadaran ialah lalu lalang import budaya pop seperti ini memang memiliki efek pasang surut sebagaimana labilitas para remaja urban. Jelas saja perkembangan ini bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Kebaruannya hanyalah terletak pada subyek yang mendominasi (kali ini importirnya dari Asia Timur) saja. Para remaja urban seperti di Jakarta mungkin menjadi subyek-yang-tereksploitasi sekaligus hendak eksis. Perjumpaan ini, antara subyek-yang-mendominasi dan subyek-yang-tereksploitasi-hendak eksis mewakili narasi besar berjudul <em>: global war of pop culture</em> (??).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p>Agak terburu-buru jika perkembangan di atas lantas kita simpulkan sebagai krisis kebudayaan nasional kita di ruang urban. Atau sebutlah itu krisis identitas anak muda. Namun perkembangan ini tak bisa dipandang sambil lalu sebagai kegenitan cultural sesaat khas remaja dan ibu-ibu muda urban yang aktif mengucap ‘omigod,omigod,omigod’ ketika menyimak Twilight dan Breaking Down produksi Amerika.</p>
<p>Yang jelas di mata kita adalah kota-kota telah menjadi ruang yang mengalami defisit identitas lokal di mana akar-akar culturalnya membentuk diri terus menerus seirama gerak transfomasi fisik-ruang kota. Ini telah berlangsung lama sejak kota di Asia Tenggara diposisikan sebagai agen modernisasi. Ada kekalahan yang serius dari yang disebut sebagai lokalitas kultur urban, sebagaimana kekalahan bumiputera pemilik lahan dari ekspansi mall atau kekalahan pasar tradisional dari kekuasaan Giant dan Hypermart.</p>
<p>Sejarah kota memang tak pernah sepi dari pergantian pemenang dan pecundang, perintis dan peniru, penjaga juga perusak.</p>
<p>Kita tahu jikalau pada ruang ekonomi-politik, menyebut kalah-menang selalu paralel dengan menghitung rugi-untung. Tetapi, apakah juga sama berlaku diruang kultural ?. Maksudnya, ini bisa menjadi pertanyaan sejauh manakah terbuka kemungkinan bagi kepentingan ekonomi-politik untuk bekerja bagi pemuasan dirinya dengan menggunakan kultur sebagai mediumnya; meletakkan kultur sebagai sub-ordinat dari pemuasaan hasrat ekonomi-politik ?.</p>
<p>Artinya, pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita pada diskursus rumit mengenai imperialisme kebudayaan atau industri kebudayaan.</p>
<p>Tak ada jawab tunggal dan berkekuatan praktis atas hal diatas.</p>
<p>Salah satu hal penting yang tengah kita hadapi kini adalah model pertarungan kultural di mana agen-agen penyalurnya memainkan operasi ganda yang canggih. Ambillah contoh televisi, kotak canggih yang mengkombinasikan gambar, gerak, dan bunyi dalam satu momen penyampaian pesan. Daftar siaran televisi bisa menampilkan sesuatu yang berkarakter ‘kita’ (: Indonesia) namun di saat jam tayang lainnya, ia menjadi sepenuhnya bukan kita (: dengan segala macam tontonan gosip, musik, plus sinetron import). Televisi yang menguasai waktu-waktu luang pun waktu-waktu produktif bukan tak mungkin menggantikan fungsi keluarga sebagai apparatus dari sistem nilai masyarakat. Dalam adagium lama McLuhan : medium telah menjadi pesan itu sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu para remaja itu bertumbuhan dalam pluralisme referensi nilai-norma yang jejak obyektivasinya bisa dilihat dari potret fisik mereka : mata bulat, kulit coklat dengan dandan anak muda Korea. Mereka seolah mengalami retak sekaligus mengumpulkan serakannya dalam model identitas tubuh yang melampaui kategori-kategori biner Timur Melayu vs Timur Mandarin, misalnya. Proses yang ditempuh para remaja seperti ini mungkin bisa ringkaskan dalam kalimat: ketercerabutan yang membentuk dirinya terus menerus. Sehingga, untuk sementara bisa dikatakan, problem eksistensial para remaja urban seperti di Jakarta ialah penemuan diri dalam satu episode ketercerabutan kepada episode ketercerabutan yang lain; semacam kelahiran dalam ketercerabutan.</p>
<p>Dalam bahasa yang lain : kelahiran dalam atau melalui ketercerabutan juga tersirat menandakan ada retak fungsi dalam pranata-pranata sosial dalam meng-inkulturasi anak-anak remaja. Pada ujungnya situasi ini membawa kita pada judul besar ke-Kita-an kita yang terus menerus bertempa diri dengan arus import ‘yang-Lain’.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tentu saja kita tidak bisa menafikan pandangan kritis yang menyebutkan gaya hidup remaja urban sebagai bentuk keterasingan diri (: kesadaran palsu) yang terjebak dalam operasi canggih &#8216;rezim teknologi tubuh&#8217; di mana komoditi membentuk sirkulasinya yang efektif dengan sasaran utama remaja. Maksudnya adalah proses penemuan diri dalam ketercerabutan itu adalah gerak yang rapuh dan, katakan, menipu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Para remaja mungkin menemukan dirinya referensi-referensi kultural import itu (?) yang secara bersamaan mengambil keuntungan dari konsekuensi-konsekuensi ketercerabutan diri dan kelompok dari rumah kulturalnya masing-masing. Pada terma postkolonial theory, mereka barangkali sedang melakukan mimikri, yang juga mengisyaratkan ambivalensi akut ; benci-benci tapi rindu pun meniru-mengejek yang berakar dalam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menjadi Kita memang rumit.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2012/04/remaja-urban-kelahiran-dalam-ketercerabutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[SILAKAN/ MELARANG] DUDUK</title>
		<link>http://rujak.org/2012/04/silakan-melarang-duduk/</link>
		<comments>http://rujak.org/2012/04/silakan-melarang-duduk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 22:39:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3714</guid>
		<description><![CDATA[Teks : Silvia Honsa; Foto : Rika Febriyani Kita tidak sering menemukan tempat duduk di ruang publik Jakarta, baik di sepanjang trotoar, maupun di lingkungan perumahan. Apakah ini terjadi karena warga kota kurang membutuhkannya? Proyek kedua Rika and Silvia Project menggali pengetahuan soal perlu dan pentingnya ruang duduk ini. Bunderan Tugu Selamat Datang (GuMaTang) dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teks : Silvia Honsa; Foto : Rika Febriyani</p>
<p>Kita tidak sering menemukan tempat duduk di ruang publik Jakarta, baik di sepanjang trotoar, maupun di lingkungan perumahan.</p>
<p>Apakah ini terjadi karena warga kota kurang membutuhkannya?</p>
<p>Proyek kedua Rika and Silvia Project menggali pengetahuan soal perlu dan pentingnya<br />
ruang duduk ini.</p>
<p>Bunderan Tugu Selamat Datang (GuMaTang) dengan fokus pada ruang publik<br />
di depan Plaza Indonesia, serta ruang duduk di pemukiman RT 03/RW 014 di Kelurahan<br />
Tomang (Cideng) adalah lokasi wawancara yang kami tampilkan dalam video “ [Silakan/<br />
Melarang] Duduk “ (tautan ada di akhir tulisan ini). Sebab, kita tahu, sudut di depan Plaza<br />
Indonesia &#8211; Bunderan Tugu Selamat Datang, tak pernah sepi dari warga. Pun, di lokasi lain,<br />
sepanjang kali Banjir Kanal Barat, beragam tempat duduk berjejer untuk warga.<span id="more-3714"></span></p>
<p>Kedua lokasi tersebut, sudut di depan Plaza Indonesia dan RT 03/RW 014 di Kelurahan Tomang<br />
(Banjir Kanal Barat), memuat pengalaman ruang yang berbeda. Yang satu dikenal sebagai<br />
kawasan komersial, satunya merupakan pemukiman. Dengan harapan memperoleh pengetahuan<br />
lebih obyektif dan variatif, kami melibatkan warga yang berkeseharian di kedua lokasi tersebut<br />
dalam proyek ini. Keterlibatan dilakukan melalui wawancara dan bermain Lego.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/001_Cideng_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-3715" title="001_Cideng_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/001_Cideng_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412.jpg" alt="" width="503" height="354" /></a></p>
<p>(foto 001_Cideng)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Banjir Kanal Barat</strong></p>
<p>RT 03/RW 014 Kelurahan Tomang merupakan salah satu bagian pemukiman di Banjir Kanal<br />
Barat. Di sini, kami bertemu Mulyo Santoso, yang menjadi ketua RT sejak 1979. Perbincangan<br />
dengan beliau meninggalkan kesan tersendiri bagi kami. Awalnya, kami menduga terbentuknya<br />
ruang duduk di RT ini karena adanya kebutuhan ruang bersama, ternyata kami salah.</p>
<p>Ruang duduk justru dibentuk dari sisi pertimbangan kesehatan. Pemukiman yang padat<br />
dengan gang-gang sempit dan berposisi di bawah badan jalan, menjadikan ruang-ruang hunian</p>
<p>kurang mendapatkan cahaya dan udara segar. Kondisi ini mendorong Mulyo mengajak warga<br />
memanfaatkan bahu jalan di dekat gerbang RT 03/RW 014 sebagai ruang duduk.</p>
<p>Posisi ruang duduk sekarang ini dirasa sempurna menerima cahaya matahari pagi dari arah<br />
timur. Bayi-bayi dan warga dari berbagai usia bisa berjemur di pagi hari dengan nyaman.<br />
Tentu saja ruang duduk ini kemudian menjadi tempat berkumpul dan bersosialisasi. Dalam<br />
perkembangannya, ruang duduk dilengkapi dengan televisi dan VCD/DVD player. Mulyo<br />
bahkan meminta PT.Telkom untuk memindahkan telepon umum, yang tadinya ada di sekitar<br />
MCK, ke ruang duduk bersama. Pada beberapa titik dipasang lampu taman.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/002_Cideng_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3718" title="002_Cideng_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/002_Cideng_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412-300x226.jpg" alt="" width="500" height="426" /></a></p>
<p>(foto 002_Cideng )</p>
<p>Keberadaan ruang duduk sebagai salah satu bentuk ruang bersama, tempat berbagi antar warga,<br />
memberi dampak pada kedekatan antar warga dari berbagai usia dan latar belakang. Karena<br />
saling mengenal antar warga, keamanan lebih terjaga. Misalnya, mengenai pemeliharaan,<br />
(termasuk biaya untuk listrik dan perbaikan ruang duduk) dikelola bersama oleh warga.<br />
Menyapu dan menyiram tanaman dikerjakan tanpa ada penjadwalan khusus. Ruang duduk tidak<br />
dibiarkan kotor.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/003_cideng_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3720" title="003_cideng_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/003_cideng_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412-300x226.jpg" alt="" width="500" height="426" /></a></p>
<p>(foto 003_Cideng)</p>
<p>Apa yang diupayakan RT 03/RW 14, kami lihat juga ada di RT-RT lain. Warga merasakan<br />
banyak manfaat dari ruang duduk seukuran rata-rata 2,5 x 1.5 m di area pemukiman<br />
mereka. Ruang ini dapat pula digunakan untuk mengatasi kantuk yang begadang atau ronda<br />
malam. &#8220;Yang begadang bisa nonton TV&#8221;, kata Mulyo. Pemukiman padat ini rawan kebakaran.<br />
Perlu ada yang berjaga untuk membangunkan warga, jika kebakaran terjadi, agar api menjalar<br />
dapat dicegah. &#8220;Kalau ada kebakaran, yang begadang yang tahu duluan&#8221;, lanjut Mulyo.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/004_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3721" title="004_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/004_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412-300x212.jpg" alt="" width="500" height="412" /></a></p>
<p>(foto 004_BunderanGuMaTang)</p>
<p><strong>Sudut Plaza Indonesia &#8211; Tugu Selamat Datang (GuMaTang)</strong></p>
<p>Beralih ke seputaran Bunderan GuMaTang. Untuk Menemukan tempat duduk di sekitar<br />
Bunderan GuMaTang tidak lah banyak. Trotoar yang ada sebenarnya cukup lebar, tetapi sangat<br />
sedikit ketersediaan ruang untuk duduk dengan nyaman. Padahal, justru banyak orang yang ingin<br />
menikmati waktu di sini. &#8220;Kita suka duduk-duduk di sini karena pemandangannya bagus dan<br />
tidak gerah&#8221; kata Alamsyah, salah seorang karyawan di Plaza Indonesia.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/005_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3722" title="005_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/005_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412-300x212.jpg" alt="" width="500" height="412" /></a></p>
<p>(foto 005_BunderanGuMaTang)</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/006_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3723" title="006_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/006_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412-225x300.jpg" alt="" width="425" height="500" /></a></p>
<p>(foto 006_BunderanGuMaTang)</p>
<p>Sebagian orang memilih duduk di trotoar, di pinggir pagar batas kavling gedung, dan di<br />
pinggiran pot-pot besar yang ada di sepanjang trotoar. Yang bahaya, ada beberapa ruas pot-pot<br />
bunga diberi penghalang berupa segitiga-segitiga besi runcing (lihat foto 006). Ini bukan lagi<br />
berkesan melarang orang untuk duduk, tapi sudah berpotensi mencelakakan publik. Penghalang<br />
yang dipakai tampak berbahaya bagi keselamatan orang. Bagaimana jika ada anak atau siapa pun<br />
yang terjatuh ke arah pot-pot tersebut?</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/007_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3724" title="007_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/007_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412-300x213.jpg" alt="" width="500" height="413" /></a></p>
<p>(foto 007_BunderanGuMaTang)</p>
<p>Kami pun melanjutkan wawancara kedua di trotoar depan Plaza Indonesia. Kali ini sambil<br />
melakukan wawancara, kami meminta sekelompok karyawan yang sedang beristirahat untuk<br />
bermain lego. Kami sudah menyiapkan miniatur ruang terbuka tempat wawancara dilakukan dan<br />
meminta beberapa orang untuk menyusun ruang duduk yang ideal menurutnya.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/008_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3725" title="008_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/008_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412-300x187.jpg" alt="" width="500" height="387" /></a></p>
<p>(foto 008_BunderanGuMaTang)</p>
<p>Bagi para karyawan dari Plaza Indonesia, mungkin juga karyawan dari gedung-gedung di sekitar<br />
Bunderan GuMaTang, duduk di lantai trotoar menjadi pilihan yang paling mungkin. &#8220;Tidak<br />
ada tempat duduk lain&#8221; kata Hidayat, karyawan Plaza Indonesia, ketika ditanya alasan duduk di<br />
lantai trotoar. Dan, ini juga merupakan alternatif yang jauh lebih baik daripada menghabiskan<br />
waktu istirahat di dalam kantin. Sebagian mengungkapkan alasan kebutuhan berada di ruang<br />
terbuka, menikmati pemandangan, berinteraksi dengan lebih banyak orang dalam suasana santai,<br />
dan mendapatkan udara segar.</p>
<p>Wawancara dengan para karyawan yang duduk di depan Plaza Indonesia, disertai aktivitas<br />
menata letak ruang duduk dengan Lego. Sebelumnya, kami telah menyusun miniatur dari<br />
lokasi tersebut. Tujuan aktivitas ini adalah menerjemahkan keinginan adanya ruang duduk yang<br />
nyaman. Hidayat, Alamsyah, dan teman-teman menyusun ruang duduk dalam jarak tertentu dan<br />
berkelompok. Masing-masing bangku dilengkapi tempat sampah. Menurut pendapat mereka,<br />
salah satu syarat ruang duduk di ruang terbuka yang nyaman adalah berada di bawah naungan<br />
pohon yang rindang. Mereka juga berinisiatif menempatkan lampu taman di beberapa sudut dan<br />
menayakan perihal keberadaan toilet. (untuk hasilnya bisa dilihat di video“ [Silakan/Melarang]<br />
Duduk “ )</p>
<p>Berlawanan dengan pendapat kami, Hidayat, Alamsyah, dan teman-teman lain, tentang perlunya<br />
bangku, Pendapat kedua tentang ruang duduk kami dapatkan dari Pak Andri. Bagi Pak Andri,<br />
karyawan di sekitar Bunderan GuMaTang, mengatakan bentukan tempat duduk yang menerus<br />
dan memanjang lebih ideal dibanding bentuk bangku. Jika tempat duduk berbentuk bangku,<br />
seperti di halte, maka akan terbentuk kelompok-kelompok. Baginya, daya tarik duduk di depan<br />
Plaza Indonesia justru karena semua berbaur, mudah saling menyapa dan berkenalan.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/009_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3726" title="009_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/009_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412-300x201.jpg" alt="" width="500" height="401" /></a></p>
<p>(foto 009_BunderanGuMaTang)</p>
<p>Sayangnya, spot yang dimaksud Andri tersebut, yang untuk saat ini sebenarnya juga<br />
satu-satunya spot yang layak sebagai tempat duduk, kerap basah walau tak ada hujan. Kenapa?<br />
Ketika kami tanyakan hal tersebur pada para karyawan yang sedang beristirahat, salah satu<br />
menjawab bahwa lokasi tersebut mungkin memang disiram oleh petugas dari Plaza Indonesia<br />
untuk menghalangi orang duduk. Kemungkinan alasannya adalah kerumunan orang-orang<br />
yang duduk dianggap mengganggu pemandangan, apalagi dengan banyaknya sampah yang<br />
ditinggalkan. Dari informasi yang kami dapatkan, spot tersebut memang milik Plaza Indonesia,<br />
bukan bagian dari trotoar.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/010_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-3727" title="010_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/010_bundaranGuMaTang_SilakanMelarangDuduk_RikaAndSilviaProject_150412-200x300.jpg" alt="" width="400" height="500" /></a></p>
<p>(foto 010_BunderanGuMaTang)</p>
<p>Sampah memang tampak berserakan di sudut itu. Menurut Andri, itu terjadi karena, pertama,<br />
orang-orang yang duduk memang tidak mau repot-repot membuang sampah, dengan asumsi<br />
petugas dari Plaza Indonesia akan membersihkannya. Kedua, tidak menemukan tempat sampah<br />
dan malas untuk membawa sampahnya. Sebenarnya ada tempat sampah dalam jarak beberapa<br />
meter di area tersebut, hanya saja tidak memiliki bentuk dan posisi yang membuat orang sadar<br />
bahwa itu adalah tempat sampah.</p>
<p><strong>Duduk adalah Kebutuhan</strong></p>
<p>Dari semua wawancara dan hasil bermain lego ruang duduk, bisa disimpulkan bahwa ruang<br />
duduk di area publik dibutuhkan warga Jakarta. Bagi warga pemukiman di RT 003/RW 014<br />
Kelurahan Tomang, ruang duduk berfungsi juga sebagai ruang bersama untuk berbagi berbagai<br />
kegiatan (termasuk berjemur di pagi hari), dan sarana untuk mendekatkan antar warga. Bagi para<br />
karyawan di seputar Bunderan Tugu Selamat Datang, ruang publik di depan Plaza Indonesia menjadi ruang duduk untuk menghilangkan kepenatan di sela-sela jam kerja selain juga sebagai</p>
<p>tempat bersosialisasi, meski kesulitan mencari tempat duduk yang layak/manusiawi.</p>
<p>Ruang duduk di trotoar maupun lingkungan pemukiman, tidak hanya berfungsi sebagai sekedar<br />
tempat duduk. Ada warga dan kegiatan yang menghidupkannya. Kebutuhan akan adanya<br />
bentukan ruang tempat interaksi antar warga di area publik cukup terasa. Akankah di masa akan<br />
datang, Jakarta semakin banyak memiliki ruang-ruang duduk yang nyaman di area publik?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><iframe src="http://www.youtube.com/embed/7adPUYzfWac" frameborder="0" width="540" height="380"></iframe></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Rika &amp; Silvia Project merupakan inisiatif dua warga Jakarta, Rika Febriyani dan Silvia Honsa.<br />
Inisiatif ini meyakini jika aspirasi warga dalam penataan ruang adalah sesuatu yang penting.<br />
Sebab, sejatinya, bentukan kota adalah termasuk untuk memenuhi kebutuhan ruang gerak<br />
warga. Dengan bantuan alat peraga berupa Lego, dilakukan simulasi penataan ulang letak<br />
elemen-elemen penting di ruang publik atau tempat umum. Simulasi langsung melibatkan warga<br />
di tempat mereka berada, yang dalam kesehariannya menggunakan fasilitas publik atau berada<br />
di ruang publik. Sekilas simulasi ini memang lebih mirip &#8216;bermain&#8217;, daripada duduk serius<br />
mendiskusikan tata letak sebuah ruang, tetapi karena itu juga cara ini mungkin bisa diharapkan<br />
untuk menggali aspirasi warga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2012/04/silakan-melarang-duduk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#TanyaCagub &#8220;Ruang Bersama&#8221;</title>
		<link>http://rujak.org/2012/04/tanyacagub-ruang-bersama/</link>
		<comments>http://rujak.org/2012/04/tanyacagub-ruang-bersama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 16:12:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[cagub]]></category>
		<category><![CDATA[pilkada DKI]]></category>
		<category><![CDATA[ruang]]></category>
		<category><![CDATA[ruang bersama]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3705</guid>
		<description><![CDATA[  #TanyaCagub Open publication &#8211; Free publishing &#8211; More ruangbersama]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/rujak-icon.png"><img class="alignnone size-full wp-image-3710" title="rujak-icon" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/rujak-icon.png" alt="" width="96" height="96" /></a>  #TanyaCagub</p>
<div>
<p><object style="width: 600px; height: 426px;" width="320" height="240" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="menu" value="false" /><param name="src" value="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v1/IssuuViewer.swf" /><param name="flashvars" value="mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=120418080021-3ff3d0e5254548319a67fc16c01148c4&amp;docName=ruang_bersama&amp;username=rujak&amp;loadingInfoText=TanyaCagub%201&amp;et=1334736137854&amp;er=89" /><embed style="width: 600px; height: 426px;" width="320" height="240" type="application/x-shockwave-flash" src="http://static.issuu.com/webembed/viewers/style1/v1/IssuuViewer.swf" allowfullscreen="true" menu="false" flashvars="mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true&amp;documentId=120418080021-3ff3d0e5254548319a67fc16c01148c4&amp;docName=ruang_bersama&amp;username=rujak&amp;loadingInfoText=TanyaCagub%201&amp;et=1334736137854&amp;er=89" /></object></p>
<div style="width: 600px; text-align: left;"><a href="http://issuu.com/rujak/docs/ruang_bersama?mode=embed&amp;layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Flight%2Flayout.xml&amp;showFlipBtn=true" target="_blank">Open publication</a> &#8211; Free <a href="http://issuu.com" target="_blank">publishing</a> &#8211; <a href="http://issuu.com/search?q=ruangbersama" target="_blank">More ruangbersama</a></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2012/04/tanyacagub-ruang-bersama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resensi Buku Kampung Perkotaan</title>
		<link>http://rujak.org/2012/04/buku-kampung-perkotaan-kini-bisa-didapatkan-di-rujak/</link>
		<comments>http://rujak.org/2012/04/buku-kampung-perkotaan-kini-bisa-didapatkan-di-rujak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2012 14:29:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3700</guid>
		<description><![CDATA[&#160; oleh: Robin Hartanto Kampung Perkotaan: Kajian Historis-Antropologis atas Kesenjangan Sosial dan Ruang Kota (2011) Editor: Johny A. Khusyairi dan La Ode Rabani Sebagai luaran sebuah pertemuan ilmiah bertajuk “The International Conference on the Urban Kampong”, buku Kampung Perkotaan: Kajian Historis-Antropologis atas Kesenjangan Sosial dan Ruang Kota jelas memiliki substansi akademis yang kental. Kajian-kajian ilmiah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/kampung-perkotaan.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-3701" title="kampung perkotaan" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2012/04/kampung-perkotaan-727x1024.jpg" alt="" width="305" height="430" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>oleh: Robin Hartanto</p>
<p dir="ltr">Kampung Perkotaan: Kajian Historis-Antropologis atas Kesenjangan Sosial dan Ruang Kota (2011)</p>
<p dir="ltr">Editor: Johny A. Khusyairi dan La Ode Rabani</p>
<p dir="ltr">Sebagai luaran sebuah pertemuan ilmiah bertajuk “The International Conference on the Urban Kampong”, buku Kampung Perkotaan: Kajian Historis-Antropologis atas Kesenjangan Sosial dan Ruang Kota jelas memiliki substansi akademis yang kental. Kajian-kajian ilmiah di dalamnya berusaha melihat keberadaan kampung di perkotaan dari perspektif spasial-sosial, yang kemudian mau tidak mau bersinggungan dengan berbagai aspek seperti ekonomi, politik, etnis, agama, dan bahkan gender.</p>
<p dir="ltr">Hal ini dirasa perlu mengingat definisi kampung yang elusif seringkali dipandang sebatas konsep yang mengarah pada stereotip negatif, terutama justru oleh negara. Miskonsepsi oleh negara terhadadap kampung masalahnya memiliki konsekuensi yang nyata. ‘Kawasan coklat yang tertinggal’ itu mengalami diferensiasi dalam perenanaannya dibandingkan lingkungan permukiman lainnya, bukan hanya sekarang tapi bahkan sejak masa kolonial.</p>
<p dir="ltr">Apa yang pembaca dapat temui dalam buku ini begitu beragam, apalagi penulis-penulis yang turut serta berasal dari berbagai latar belakang dengan obyek kajian dan metode penelitian yang berbeda-beda pula.</p>
<p dir="ltr">Penulis yang terlibat antara lain: Joost Cote, dosen School of History, Heritage and Society Deakin University, Melbourne, Australia; Karen Baker dan Michelle Kooy, dari University of British Columbia; Robbie Peters, Department of Anthropology, The University of Sydney; Freek Colombijn, dari Vrije Universiteit Amsterdam, Annemarie Samuels dari Universiteit Leiden; Asep Suryana dosen Jurusan Sosiologi UNJ; Azas Tigor Nainggolan Ketua Forum Warga Kota Jakarta; Ratna Saptari dari Universiteit Leiden; M. Nawir aktivis Jaringan Rakyat Miskin Kota – Uplink Indonesia; dan msih banyak lagi peneliti-peneliti yang dengan fokus mengkaji tentang kampung.</p>
<p dir="ltr">Untuk memberikan struktur yang jelas, penyusunan tulisan-tulisan yang amat variatif ini kemudian dibagi menjadi empat sub bagian yaitu “Perencanaan Kampung”, “Mobilitas Sosial”, “Dinamika Kampung”, dan “Konflik Intervensi Negara dan Solidaritas”.</p>
<p dir="ltr">Tetapi yang terpenting dari buku ini di balik keragamannya, ia dimaksudkan untuk tidak sekedar menjadi pengetahuan belaka.</p>
<p dir="ltr">Seperti yang dituturkan dalam tulisan pengantarnya, apa yang sebenarnya hendak ditawarkan adalah sebuah perspektif “baru”, yaitu kerangka analisis yang mengakui konstruksi (post)kolonial. Kampung merupakan konstruksi hibrida kolonial, sehingga menggali masa lalu sangatlah perlu untuk dapat memahami kampung secara utuh.</p>
<pre></pre>
<pre></pre>
<p>Buku Kampung Perkotaan ini tersedia di Rujak dengan jumlah terbatas, harga Rp. 65.000,- (belum termasuk ongkos kirim). Bagi yang berminat bisa menghubungi atau datang langsung ke Rujak</p>
<p>Gedung Ranuza, Lantai 2. Jl. Timor No. 10, Menteng, Jakarta Pusat 10350<br />
Tlp : (021) 31906809 email: info@rujak.org</p>
<p><iframe src="https://docs.google.com/spreadsheet/embeddedform?formkey=dC1lNVRtTTB4SVVFcmdZZHhrYV82NVE6MQ" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" width="600" height="987"></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2012/04/buku-kampung-perkotaan-kini-bisa-didapatkan-di-rujak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

