Resources


15 Oct 2011

Draft Rencana Detil Tata Ruang Jakarta 2030

Rujak mendapatkan Draft RDTR (Rencana Detil Tata Ruang) Jakarta tahun 2010 kemarin. RDTR merupakan turunan dari RTRW, dimana ia merupakan masterplan per kotamadya di Jakarta dan akan mengatur hingga kecamatan dan kelurahan.
Disini warga dapat melihat lebih jelas lagi apa yang akan terjadi pada lingkungan kehidupannya hingga tahun 2030, apa yang direncanakan pemerintah daerah lewat konsultan dan Dinas Tata Ruang, yang disusun tanpa banyak partisipasi masyarakat.

Silakan menelaah isi Naskah Akademis Rencana Detil Tata Ruang ini: (Naskah Akademis adalah dokumen persiapan yang menganalisa sebuah produk peraturan dan undang-udang, sebelum disusun.)

http://www.scribd.com/fullscreen/68829985?access_key=key-n9p25d4mxfrgy8wyqb6

http://www.scribd.com/fullscreen/68830169?access_key=key-1w8t6nqoqv32lcjxofvs

http://www.scribd.com/fullscreen/68830263?access_key=key-1oi2nhm37e7gutk1iuoq

http://www.scribd.com/fullscreen/68830664?access_key=key-moyzd9p0u5thkgel2jl

http://www.scribd.com/fullscreen/68831114?access_key=key-dbxjuh3iid5fpzflpso

http://www.scribd.com/fullscreen/68830970?access_key=key-hb7vzpshzlinwu75zm4

http://www.scribd.com/fullscreen/68830450?access_key=key-yth7gdveth1z451qafv

http://www.scribd.com/fullscreen/68831521?access_key=key-1b8hpbwgpun333xr21zz

Berikut adalah Draft Raperda Rencana Detil Tata Ruang Jakarta 2030:

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |


04 Oct 2011

Buku: Kata Fakta Jakarta

Buku ini dimaksudkan sebagai bantuan-mengingat peristiwa yang selama dasawarsa terakhir membentuk Jakarta seperti sekarang.

Ia tidak pernah lengkap, dan terbuka untuk ditambahi dan diperbaharui. Sebaiknya setiap satu atau beberapa tahun ada buku semacam ini, yang mencatat apa saja peristiwa penting sepanjang tahun atau tahun-tahun sebelumnya. Sudah pasti ia mencerminkan subyektivitas para editornya, yang meskipun telah bekerja keras dalam memilih bahan yang pantas dimuat dalam keterbatasan ruang, waktu dan uang, tidak ingin berpura-pura sepenuhnya obyektif. Yang dipentingkan adalah subyektivitas yang terbuka dan komunikatif, ketimbang obyektivitas yang tertutup dan sekali-jadi.

Mudah-mudahan dapat muncul kebiasaan untuk berkala menerbitkan kumpulan pengetahuan bersama ini.

Gunanya adalah membantu kita membangun kota dengan sadar, bahwa segala sesuatu terkait dalam kontinum waktu dan ruang. Kota adalah suatu produk peradaban manusia yang terbesar. Ia menggunakan sekitar 40 % dari semua sumber daya alam yang digunakan manusia di seluruh dunia. Ia mencerminkan keputusan-keputusan dan kemampuan kolektif kita. Cilaka kalau kita terus membangun tanpa menyadari apa yang sudah ada –yang buruk maupun yang baik—dari diri kolektif kita sebelumnya.

Jakarta mengcengangkan karena kecepatan dan besaran perubahannya tiap saat. Hanya sedikit yang dapat diketahui tiap masa-hidup tiap orang, bila tanpa bantuan. Seringkali kita menemui sesama warga yang tidak tahu pasti tentang, misalnya, hubungan antara Ali Sadikin dan Suharto, atau mengapa jalur khusus-bus TransJakarta ada di sisi jalur cepat, atau mengapa banjir dan kemacetan makin buruk, dan lain-lain. Ada banyak spekulasi atas siapa dan apa yang salah karena kurang terang dan terbukanya fakta. Seringpula kebijakan memancing kritik karena dirasa dibuat tanpa dasar fakta yang kuat. Mudah-mudahan sebuah buku bantuan-mengingat ini dapat mengurangi spekulasi semacam itu, sehingga Jakarta dapat menjadi makin sesuai dengan keinginan kita yang paling sederhana, yaitu tempat kita hidup nyaman dan baik.

Memiliki semacam pengetahuan bersama, yang dikumpulkan dan diingat bersama-sama seluas-luasnya, kelihatannya diperlukan oleh semua kota.

 

 

 

 

23 Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


23 Sep 2011

Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2010-2030

Tanggal 22 Agustus 2011 lampau, DPRD DKI Jakarta akhirnya mengesahkan RTRW Jakarta terbaru.

Seminggu sebelumnya Kementrian Dalam Negeri mengeluarkan surat keputusan bahwa untuk sementara RTRW yang berlaku adalah Perda no.6 tahun 1999.

Proses pengesahan tersebut masih harus menunggu penomoran perda dan administrasi di Kemendagri dan Kementrian Pekerjaan Umum.

Berikut adalah Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030. (Peta dan gambar dalam proses unggah)

RTRW DKI Jakarta 2030_22082011

Penjelasan RTRW DKI Jakarta 2030_04082011_edit

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |


18 Sep 2011

Lebih Jauh daripada Rokmini

Pernyataan Gubernur Fauzi Bowo bahwa sebaiknya perempuan tidak menggunakan rokmini di angkotan kota, setelah peristiwa perkosaan di dalam suatu angkutan-kota, memancing kemarahan perempuan ibukota. Berikut foto-foto mereka ber-demonstrasi di Bundaran HI pada hari minggu, tanggal 18 September 2011, jam 15:00.

Segera mencuat, bahwa persoalannya bukan sekedar seorang Gubernur yang salah ngomong.

Ucapannya itu mencerminkan suatu bias laki-laki yang memang masih menguasai sebagian (besar?) masyarakat kita: bahwa  kalau ada yang terangsang, maka ada yang “merangsang” atau bahkan “mengundang”, ialah perempuan itu sendiri, yang lalu dianggap salah, padahal mereka korban.

Selain itu, hal ini menyangkut persoalan kebijakan publik yang serius. Perempuan menuntut juga keamanan di semua ruang publik. Ini negara merdeka, sebuah republik, yang banyak perempuannya bekerja. Perempuan pekerja yang menggunakan angkutan umum lebih banyak daripada pekerja laki-laki, yang punya lebih banyak pilihan, misalnya sepeda motor. Kabarnya pembuat sepeda motor kini mengincar konsumen perempuan dengan transmisi otomatis.

Undang-undang ketenaga-kerjaan kita telah mengharuskan perusahaan untuk menyediakan angkutan antar jemput untuk yang bekerja dan/atau berangkat/pulang di antara jam 23:00-05:00. Adalah kewajiban pemerintah memenuhi menegakkan perintah tersebut. Selain itu patut dihargai semangatnya, bahwa siapapun berhak bekerja, dan itu perlu didukung dengan keamanan dan kondisi lainnya.

Angkutan umum kita sudah terkenal brengsek. Ini momentum yang tepat untuk sekalian memperbaikinya besar-besaran: mulai dari kualitas pengemudi dan awak, hingga ke sistem. Mengapa misalnya tidak ada semacam “SIM” untuk awak kangkutan umum? Bukankah seringkali mereka ini yang ngawur?

Yang saya maksud termasuk sistem angkutan umum adalah juga: fasilitas pejalan kaki yang baik. Sebab, tidak mungkin orang naik angkutan umum yang baik tanpa berjalan kaki cukup banyak.

 

4 Comments »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |


17 Sep 2011

Two young men are cycling from Berlin to Papua: “Berlin Chennai Papua – Eurasian Cyclocross 2011-12″.

When will they reach Jakarta? What shall we do to welcome them in this metropolis when they arrive?

Why are they doing this?

Follow Dominik Oskar Zschäbitz and Florian Augustin:

http://augefilms.blog.com/berlin-chennai-papua/

After “Jakarta Berlin – An Inspiration to Low Carbon Traveling” AugeFilms is proud to announce its next major project: “Berlin Chennai Papua – Eurasian Cyclocross 2011-12″.

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


06 Sep 2011

BUDAYA VISUAL DAN LEDAKAN INFORMASI: Oleh-oleh dari Jepang

Peta kereta Tokyo, subway dan jalur atas.

Oleh: Hikmat Darmawan.

Udara dan ruang penuh informasi. Stasiun-stasiun Tokyo, baik di lintasan jalur Yamanote yang jadi lingkar pusat jalur kereta Tokyo, maupun di stasiun-stasiun subway-nya. Ledakan informasi, seperti hana-bi (festival kembang api): penuh warna, meriah, dan ditonton dengan keriaan yang takzim.

Informasi dalam bentuk rupa: peta rute dengan menit-menit waktu kereta, poster tentang jangan lari terburu masuk kereta atau tentang bagaimana sebaiknya membawa tas ransel dalam kereta, iklan, signage, pengumuman digital tentang posisi kereta, dan sebagainya.

Informasi dalam bentuk suara: pengumuman-pengumuman tentang, antara lain, tujuan dan stasiun berikut serta tentang adab naik kereta; juga kode bunyi untuk memberi tahu penumpang yang buta bahwa pintu kereta sedang membuka; dan sebagainya.

Informasi dalam bentuk rupa-suara (audio-visual): TV kereta, yang berisi iklan-iklan produk dan berbagai pengumuman tentang posisi kereta.

Pada pintu masuk/keluar stasiun sudah banyak informasi

Masih ada beberapa bentuk informasi lain yang bisa didapat para penumpang. Terutama, peta jalur kereta Tokyo, yang tersedia versi selembar yang bisa dilipat-lipat dan versi booklet yang dilengkapi dengan keterangan tempat-tempat utama di Tokyo beserta berbagai atraksi utama mereka bagi para turis asing (informasi dalam bahasa Inggris).

Jika itu masih belum cukup, setiap petugas di setiap stasiun akan sangat membantu, walau seringkali mereka tak bisa berbahasa Inggris atau berbahasa Inggris yang terpatah-patah. Begitu juga jika stasiun dekat dengan komban (pos polisi), para polisi dengan ramah dan gigih akan berusaha memberi keterangan dan membantu Anda yang kebingungan. Dan di luar stasiun, masih ada berbagai medium informasi, termasuk mading (majalah dinding) dan peta daerah berbentuk mading.

Ledakan informasi ini jelas asyik buat yang para pengunjung kota dari mancanegara yang tak bisa berbahasa Jepang. Dan di dalam sistem kereta yang sungguh rumit di Tokyo, banyak warga Jepang sendiri (baik dari luar Tokyo maupun dari dalam Tokyo) yang sering kebingungan, kehilangan arah, di stasiun-stasiun besar Tokyo macam stasiun Tokyo, Shibuya, Shinjuku, Akihabara, atau Ueno.

Tapi, jika ditanya, ada saja warga Tokyo yang agak jengkel dengan keberlimpahan informasi tersebut. Khususnya, arus informasi di jalur Yamanote, yang sangat “cerewet”. Seorang kakek mengomel, “Saya tak butuh diajari terus-menerus, bagaimana cara naik kereta!” Kebanyakan warga, sebagaimana citra stoic (kalem) orang Jepang, naik kereta-kereta cerewet itu dengan anggun, atau bersibuk dengan buku di tangan, atau HP dan game di Gameboy, iPad atau Galaxy Pad, atau laptop mereka.

Toh, pada saat Gempa Tohoku 11 Maret 2011, banyak perangkat informasi di stasiun-stasiun dan kereta Tokyo berfungsi menjadi saluran info bencana. Saat gempa usai, dalam waktu beberapa menit saja, para petugas stasiun menjadi salah satu sumber informasi yang aktif memberi keterangan pada warga mengenai gangguan operasi kereta di Tokyo. Dalam waktu beberapa hari, di stasiun-stasiun ramai Tokyo, dipasang TV layar datar ukuran besar untuk info bencana selama stasiun beroperasi (rata-rata dari subuh hingga tengah malam).

 

Bangsa Paling Visual?

Banyak informasi di stasiun kereta dan dalam kereta Jepang berbentuk komik dan animasi. (Sebetulnya, boleh dibilang di seluruh Jepang, banyak informasi yang berbentuk komik dan animasi.) Di kota-kota besar Tokyo, berlimpah informasi berbentuk visual, baik berupa gambar (komik, kartun, dsb.) atau foto.

Apakah ada hubungan antara lekatnya bangsa Jepang pada budaya visual, dan kegandrungan mereka pada informasi?

Saya tak akan berpretensi memberi jawaban ilmiah di sini. Saya bahkan tak yakin akan menyodorkan jawaban definitif. Saya hanya akan berbagi kesan saja. Kesan yang saya duga mudah kita dapati jika kita berkesempatan menelusuri jalan-jalan di Tokyo, atau kota mana pun di Jepang.

Tempat antri menanti kereta.

Yang segera tertangkap, memang, jalan-jalan dan ruang-ruang publik Jepang dibuat dengan kesadaran besar akan dipandang. Bukan sekadar, misalnya, jalan-jalan yang ditata rapi dan pohon-pohon resik dan lezat dipandang. Bukan pula sekadar karena lautan neon di Shinjuku, Shibuya, atau Ginza, yang seolah jadi gambaran wajib dalam kartu-kartu pos atau film-film bertempat “Jepang modern”. Juga bukan sekadar karena kita temui patung-patung karya seniman kontemporer dunia di jalan Maranouchi, dekat stasiun Tokyo dan istana Kaisar.

Ada semacam kesadaran kuat tentang kegiatan memandang dan kesediaan dipandang di jalan-jalan dan ruang terbuka Jepang. Kesadaran yang tak hanya mewujud dalam penataan ruang dan benda-benda pendukungnya, tapi juga mewujud dalam bagaimana orang-orang Jepang membawa diri mereka di jalanan.

Ketika membahas lukisan nude di Barat dalam Ways of Seeing (1972), John Berger mengungkap: “A woman must continually watch herself. She is almost continually accompanied by her own image of herself. …Men look at women. Women watch themselves being looked at. …Thus she turns herself into an object –and most particularly an object of vision: a sight.

Saya merasakan bahwa gambaran Berger tentang perempuan Barat itu juga hadir pada orang-orang Jepang, baik perempuan atau pun lelaki mereka. Orang-orang Jepang selalu memikul beban menjadi yang dipandang. Mereka mengatur sikap tubuh mereka, cara mereka berpakaian, tampil, serta bergerak, agar sesuai standar tertentu bagi sebuah objek penglihatan (object of vision). Mereka seolah masuk ke jalan dengan selalu mawas risiko akan menjadi pemandangan (sight).

Jalan sebagai teater imaji.

Jalanan adalah teater, dan di Tokyo, teater itu dipenuhi peran-peran yang mudah dikenali dari “kostum” mereka: salary man, perempuan-perempuan kaya, otaku, pelajar, obo-chan (kaum nenek yang biasanya hidup sendiri), para pemberontak, dan sebagainya. Imaji (image) dan segala pirantinya, khususnya fashion dan fad, adalah aparatus penting bagi status sosial di Jepang.

Donald Ritchie, dalam Image Factory (2003), menulis: “…in a place so status conscious as Japan, self-image is important and new image indicators are in demand.” Selalu ada tuntutan pasar yang besar bagi piranti-piranti dan produk-produk imaji di Jepang.

Ketika sejak 1950-an Jepang mengawinkan kecenderungan budaya mereka pada budaya imaji dengan sistem ekonomi-konsumsi ala Amerika Serikat yang barangkali lebih efektif dari AS sendiri, Jepang menjadi Pabrik Imaji (Image Factory) yang khas. Imaji menjadi bukan saja aksesori, tapi semacam alat untuk bertahan hidup.

Jalan sebagai teater

Seorang akuntan, selama lima hari kerja, bertampang khas salary man yang culun: jas dan dasi, sepatu kulit, kaca mata lebar. Tapi, di mejanya, ada foto dirinya dalam kehidupan lain: berambut jambul Elvis, jaket kulit, siap menari rockabilly di Taman Yoyogi di hari Minggu. Ia mengaku pada teman saya, Rane Hafiedz, yang bekerja di NHK, bahwa ia bisa gila jika tak punya “kehidupan lain” itu.

Informasi dalam lautan neon

Imaji sebagai alat bertahan hidup? Hal ini terutama masuk akal dalam sebuah budaya yang menganggap kegiatan memandang sebagai sesuatu yang amat penting.

Ambil misal, kenapa Jepang dikenal sebagai “negeri Sakura”. Bukan karena ini negeri satu-satunya tempat Sakura, yang sebetulnya adalah pohon cherry, tumbuh. Tapi, karena di Jepang, bunga Sakura yang hanya mekar dua minggu, amat dirayakan. Setiap musim Sakura, pesta hanami dirayakan di seluruh negeri. Apakah “hanami“? Tak lain, kegiatan menatap bunga (yang selalu berarti, menatap Sakura).

Sambil menatap Sakura, orang-orang Jepang di taman-taman mereka menggelar alas kain, berkumpul sesama teman, kerabat, atau keluarga, bergurau dan bercanda, makan-makan, minum sake dan bir, berpesta. Sembari menatap Sakura, mereka saling mendekatkan diri.

Karena kegiatan memandang, menatap, melihat, dianggap sangat penting di Jepang, tak heran jika negeri ini jadi negeri penghasil kamera terpenting di dunia. Menjadi sebuah stereotipe yang mudah disetujui: turis-turis Jepang menenteng kamera ke mana saja, dan memotret apa saja. Di dalam negeri mereka sendiri, hal itu memang kelaziman. Kamera adalah bagian amat penting dalam kehidupan manusia Jepang modern.

 

Informasi Visual

Adalah seolah alamiah belaka jika orang Jepang menyerap informasi secara visual. Peradaban Jepang dibangun antara lain dibangun oleh aksara Kanji yang diimpor dari Cina. Satu karakter tak melambangkan sebuah bunyi seperti dalam aksara Latin, tapi melambangkan satu atau lebih makna.

Karakter-karakter Kanji itu sendiri lekat dengan budaya visual. Aksara Kanji bersifat ideografis (melambangkan ide) dan piktografis (melambangkan gambar/imaji). Banyak karakter Kanji sebetulnya turunan atau permutasi dari sebuah imaji.

Patung seniman kontemporer di Jalan Marounochi

Contoh, seperti yang saya ambil dari Anndundon.com:

Dengan bangun peradaban berbasis Kanji yang piktografis ini, orang Jepang tentu saja lebih cenderung pada berbagai bentuk komunikasi visual. Seperti kata Frederick Schodt, seorang peneliti manga (komik Jepang) paling otoritatif, yang dikutip oleh Donald Ritchie: “…the Japanese are predisposed to more visual forms of communication owing to their writing system. Calligraphy… might be said to fuse drawing and writing.” (The Image Factory, 2003)

Dan, perhatikanlah dunia kita saat ini. Salah satu ciri paling menonjol dunia kita saat ini adalah: dunia kita semakin visual. Limpahan data dan informasi kini seolah tak bisa lagi tertampung hanya dalam satu moda sistem simbol macam aksara Latin. Teknologi informasi yang semakin cepat memungkinkan bit-bit data yang membentuk gambar bisa tersirkulasi dengan amat cepat.

Informasi bisa dipadatkan, juga dibikin lebih sexy, jika diwujudkan dalam bentuk visual. Animasi, infografis, film, komik, fotografi, seni rupa di ruang publik, street art berupa mural dan graffiti, menjadi moda-moda komunikasi visual yang teramat lazim saat ini. Dalam dunia yang semakin visual ini, tak heran jika produk-produk visual dari Jepang kini mendominasi lanskap budaya pop global.

Seperti kata Donald Ritchie: “The successful and self-perpetuating factory which is Japan’s image enterprise has operated for centuries but it is only now, in this age of instant communication, that it reveals itself as a major industry… As William Gibson, scholar of the Japanese new, has noted, ‘cultural change is essentially technologically driven …the Japanese have been doing it for more than a century now and they really do have a head start on the rest of us.’ ” (The Image Factory, 2003)

 

Antara Tokyo dan Jakarta

Selama di Tokyo, hingga saat balik ke Jakarta Juni 2011 lalu, saya seringkali tergigit oleh banyak ketiadaan di kota asal saya ini. Jangan salah, saya tak sedang mengharapkan Jakarta jadi Tokyo, atau kita jadi Jepang. Saya rasa, kita memang tak perlu menjadi Jepang dan Jakarta tak perlu menjadi Tokyo.

Tapi, ada hal-hal dasar yang perlu ada di kota kita. Transportasi umum sebagai nadi lalulintas kota, jalur pejalan kaki dan sepeda yang memadai, sirkulasi informasi dan barang yang lancar, adalah hal-hal yang layak diharapkan bukan hanya untuk Jakarta, tapi untuk seluruh Indonesia.

Balik ke Jakarta setelah hampir setahun pergi, dari Bandara Soekarno-Hatta ke Jagakarsa, saya melewati jalan Antasari. Tiang-tiang beton pasak jalanan, matahari terang dan terik, debu-debu di tengah banyak bangunan kotor atau ditinggalkan. Saya membatin, betapa buruk wajah Jakarta saat ini.

Saya ingat percakapan saya dengan Mouly Surya (sutradara pemenang Citra untuk filmnya, fiksi.) di Yurakucho, dekat Ginza, November 2010. Waktu itu, ia ikut workshop pembuatan film di Festival Filmex 2010, Tokyo. Mouly bicara betapa ia mendamba bikin film di Tokyo. “Habis,” kata Mouly, “kota ini estetis sekali.” Sementara, kata Mouly, Jakarta sudah sangat “tidak estetis”, karena, “gue sih merasa, Jakarta itu sudah hilang kepribadiannya.”

Bisa dipahami. Mata sinematografis Mouly pasti tergoda sangat untuk membuat film di Tokyo: taruh kamera di mana saja di sudut Tokyo, dan kau niscaya akan dapat gambar sedap! Tapi, saya juga ingat percakapan lain.

Sekitar 2006, saya berbincang dengan Irfan Amalee, punggawa lini Pelangi di penerbit Mizan, yang juga banyak aktif sebagai pembuat dokumenter. Irfan tak merasa dirinya “orang film”, tapi ia aktif menggunakan kamera untuk “perubahan perilaku”.

Ia mencontohkan, bagaimana ia merekam anaknya menangis, lalu memutar rekaman kamera itu untuk berbincang dengan anaknya mengenai polah menangis itu. “Biasanya kan kita tak pernah melihat diri kita sendiri. Nah, dengan kamera, kita bisa dibantu melihat diri kita sendiri, lalu memikirkan bagaimana mengubah diri kita jika diperlukan,” kata Irfan.

Ia pun menerapkan konsep ini untuk merekam, misalnya, muhibah sekolah internasional ke sebuah pesantren di Jawa Barat, dan membincang lewat filmnya, kemungkinan-kemungkinan, seperti istilah Irfan, “breaking down the wall” antara dua dunia tersebut (dunia anak-anak AS dan anak-anak pesantren).

Saya kira, sekaranglah saatnya memberdayakan media visual semacam itu untuk Jakarta. Justru di saat-saat Jakarta sedang buruk rupa kinilah, kita perlu merekamnya banyak-banyak, dan mempertontonkan rekaman-rekaman visual tersebut ke sebanyak mungkin warga.

Apa yang dilakukan oleh Rika Febriyani di Rujak.org lewat rangkaian laporan visual Duduk “Manis” Sepanjang Kota dan Album Kompilasi Menghasrati Halte adalah contoh penggunaan media visual semacam itu. Sayang, Rika masih menggunakan kamera HP dengan resolusi rendah untuk rekaman-rekaman visualnya itu, sehingga sirkulasi dokumentasinya agak terbatas di situs macam Rujak.org atau blog saja.

Padahal, menarik juga jika rekaman-rekaman visual tersebut bisa dicetak jadi foto-foto yang jelas dan tajam, ukuran besar atau setidaknya tak kecil, lalu dipajang di situs-situs yang direkam oleh Rika tersebut. Sehingga warga yang sehari-hari di sana itu dapat mengakses rekaman polah mereka sehari-hari itu, wajah mereka yang terekam kamera itu, membicarakannya, membacanya semoga dengan cara baru.

Dengan media, kita bisa memandang Jakarta dengan cara lain. Tak perlu menunggu Jakarta jadi fotogenik dulu, sebelum para pembuat film mau membuat film tentang Jakarta. Saat ini, toh perkembangan teknologi informasi telah memberi banyak pilihan bekerja dengan media yang bisa jadi murah saja. Kamera digital, atau bahkan sekadar HP saja, bisa jadi cukup, walau tak ada salahnya mencari alat-alat yang lebih ciamik jika ingin hasil optimal.

Justru sekarang saatnya menaruh kamera di jalan Antasari hingga Blok M, merekam salah satu sudut terburuk Jakarta, hingga pembangunan jalan tersebut selesai, lalu menayangkannya ke seluruh warga Jakarta (atau dunia, misalnya lewat Youtube.com atau film dokumenter untuk diedarkan secara internasional). Sambil, misalnya, membingkainya dengan pertanyaan: apa makna jalan buruk rupa itu? Apa makna Jakarta saat ini, yang terbaca dari rekaman-rekaman buruk rupa Jakarta tersebut?

Di Tokyo, saya mengalami euforia akibat ledakan informasi. Di Jakarta, saya mengalami ledakan kekacauan (chaos) pemaknaan dan penataan kota. Tapi, chaos mengandung informasi-informasinya sendiri, bukan? Kita perlu memasuki chaos Jakarta, untuk bisa membaca lebih dalam Jakarta. Dengan begitu, kita masih berharap dan bekerja untuk sebuah Jakarta yang lebih baik. ***

Waktu kedatangan kereta yang amat tepat

No Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


25 Jul 2011

Informal Public Transportion Networks in Three Indonesian Cities

Click here for the report.

The Cities Development Initiative for Asia (CDIA) is a regional initiative established in 2007 by the Asian Development Bank and the Government of Germany, with additional core funding support of the governments of Sweden, Austria and Spain and the Shanghai Municipal Government. The Initiative provides assistance to medium-sized Asian cities to bridge the gap between their development plans and the implementation of their infrastructure investments (see www.cdia.asia) .

In recent months, CDIA has supported the cities of Palembang, Yogyakarta and Surakarta with the preparation of Pre-Feasibility Studies (PFS) for high priority infrastructure investment projects in the Urban Transport sector and we are currently in discussion with various financing agencies to secure funding for the identified investments.

To complement the Pre-Feasibility Studies in these 3 cities, CDIA commissioned a study on how Informal Public Transportation (IPT) offers alternatives to formal transportation systems and how IPT offers an alternative service to people in poverty and serves as a backbone of the informal economy. In doing so, the report describes how IPT improves mobility in cities by complementing formal transportation systems and argues that when IPT providers are given approriate support, local governments can fill gaps in service and extend reach of coverage when public resources as scarce.

We hope this report will be of interest to you and look forward to discussing its’ outcomes.

Best regards,

Joris van Etten

Capacity Development Coordinator/Indonesia Team-Leader

Cities Development Initiative for Asia (CDIA)

Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH

Suite 202-203 Hanston Bldg.

Emerald Avenue, Ortigas Center

Pasig City, 1600 Metro Manila

Philippines

T:   +63-2-6312342

F:   +63-2-6316158

M: +63-9188072917

E:   joris.van-etten@giz.de

W:  http://www.cdia.asia

2 Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


22 Jul 2011

Duduk Manis Sepanjang Kota

Teks dan foto: Rika Febriyani.

“Mari, silahkan duduk” begitu biasanya sambutan tuan rumah. Pada beranda di sekeliling pintu masuk rumah, juga ruang tamu di dalam rumah, lazim tersedia kursi atau bangku, bahkan sofa, untuk para tamu. Iseng-iseng mengibaratkan Jakarta sebagai tuan rumah, dimana tempat duduk bagi tamu?

Tak banyak lho, tempat duduk tersedia untuk sekitar 8 juta warga di sepanjang kota ini. Maka, ketika terduduk pada bangku dari batu dan semen, pose dan senyum bapak ini bisa meluncur begitu saja. Bangku ini ada di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, tepatnya di bawah jalan layang Benhil – Karet. Salah satu tempat dari berkilometer panjang jalanan nyaris tanpa ruang duduk. (Foto 1)

Gerak dan posisi tubuh agaknya tak bisa mungkir dari kebutuhan untuk duduk. Tanpa tempat duduk, bukan lalu warga melulu berdiri. Di sepanjang kota, pinggiran pot dan batu hias jadi salah satu pilihan tempat duduk warga. (Foto 2 & Foto 3)

Bahkan di stasiun dan terminal, pintu masuk Jakarta, tempat duduk entah lari kemana. Duduk melantai di sekitar loket Stasiun Kereta Api Gambir, juga terminal-terminal bus, adalah pemandangan keseharian. (Foto 4 & Foto 5)

Pilihan lain untuk duduk, ditemukan para pramuniaga, pada pinggir trotoar. Saat jam istirahat, di penggal jalan antara pusat perbelanjaan Grand Indonesia dan Plaza Indonesia, mereka terduduk di sana, menikmati aneka kudapan ringan. Para pramuniaga ini mencari nafkah di Jakarta, dan karenanya hidup di sini. Kalau mereka dibilang tuan rumah, lha, dimana tamu-nya akan duduk?  (Foto 6)

Tentu, jangan lupa pada halte bus. Tempat ini paling mungkin diharapkan untuk mendudukkan tubuh, terutama kalau perlu mengambil jeda dalam perjalanan. Tapi, itu kalau belum diduduki orang lain. (Foto 7 & Foto 8)

Dan, rasa girang pun tak terhindar, ketika melintas Banjir Kanal Barat, Cideng, Jakarta Barat. Dengan jeda beberapa ratus meter, di sepanjang jalan tepian aliran air, tersedia ruang-ruang duduk, bukan saja tempat duduk. Ruang yang memungkinkan siapa saja untuk duduk. Selain lampu dan dihiasi tanaman, salah satu diantaranya juga dilengkapi televisi, dan menepatkan posisinya dengan telepon umum.

Ah, bahkan di seputaran Tugu Selamat Datang saja tak ada tempat seperti ini. (Foto 9) ***

5 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


22 Jul 2011

Komunitas Pecinta Taman Kampung Sawah

Saya Andy, saat ini saya tertarik untuk mengajak massyarakat sekitar tempat saya untuk kembali ke taman, saat ini yg tengah saya lakukan di lingkungan sekitar adalah mengajak massyarakat berkunjung ke Taman kota tomang sembari membentuk komunitas pencinta taman ini ( http://www.facebook.com/?ref=home#!/pages/Komunitas-Pencinta-Taman-Kampung-Sawah-Asean-Kota-Tomang/206120502772290 ). Nota bene kawan2 yang saya ajak adalah rekan2 pesepeda sekitar jakarta barat.

Saya tertarik dengan warga kota austin dalam pengelolaan dan keikutsertaan mereka dalam merencanakan dan membangun serta membantu pemerintah kotanya dalam upaya pengembangan taman kota. Blog mereka di ( http://austinparks.wordpress.com/about/ )  situs resmi mereka di (http://www.austinparks.org/about.html ),

Program awal saya untuk lebih meningkatkan pemanfaatan dan kepedulian terhadap taman adalah dengan mengajak rekan2 sepeda untuk berkumpul di taman ini pada Jum’at ini. ( http://www.facebook.com/?ref=home#!/event.php?eid=192982917425469 ). Selain itu saya berencana untuk membangun sarana aktifitas bersepeda di lingkungan taman ini untuk lebih meningkatkan keinginan anak2 muda berkumpul di lokasi ini dimana mungkin nantinya mereka bisa lebih mempunyai kegiatan positif dan lebih bersedia menjadi volunteer. Gambaran sarana sepeda yang ingin saya bangun ada di ( http://www.facebook.com/?ref=home#!/media/set/?set=a.110775315685871.18279.100002602088891 ).

Jika tidak keberatan, bisa saya dikasih masukan mengenai gerakan sejenis ini di jakarta, atau dengan siapa saya bisa bekerjasama.

Catatan redaksi: Klik juga tulisan ini Mencari Taman di Jakarta.

No Comments »

| Agent of Change: none |


04 Jun 2011

50 Ribu Sepeda Publik di Hangzhou

Tulisan dan Foto oleh Robin Hartanto, Hangzhou.

Sejauh apa dapat bersepeda di sebuah kota? Baru seketika Jakarta membuat jalur sepeda pertamanya sepanjang Blok M-Taman Ayodya (1.5 m), katanya sudah tidak berfungsi.

Tapi, 28 Mei 2011, nun jauh dari Jakarta, saya berkesempatan mengunjungi Hangzhou, China, sekedar berjalan-jalan. Tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta dengan kota ini, terutama bagi para penikmat sepeda. Selama 10 tahun ini, kota Hangzhou mendapatkan berjubel-jubel penghargaan, antara lain “The Best Tourism City of China” dari United Nations World Tourism Organization dan National Tourism Administration tahun 2006 serta “China’ s Most Beautiful Leisure City” dariChina Leisure Development International Forum tahun 2010. Salah satu winning factor-nya, adalah perihal sepeda ini. Lantas apa yang membuatnya menakjubkan?

(more…)

6 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |