Resources


22 Apr 2011

Kitalah Aktor di Jalan.

Menembus batas (kolaborasi: kita dan teralis)

Oleh: Robin Hartanto.

Biasanya kita menjadikan pemerintah sebagai sutradara untuk segala kesemrawutan di ruang publik kota kita, lupa bercermin bahwa kita lah aktor yang berperan dalam jalannya cerita. Beberapa jepretan berikut merupakan berbagai karya kita di Jalan Medan Merdeka Timur, persis di samping Stasiun Gambir. Jalan ini dapat dikatakan cukup memadai, baik transportasinya (dari kereta, busway, bajaj, hingga ojek) maupun fasilitas publiknya (stasiun, halte bus dan busway, jembatan penyeberangan sela 300 meter, zebra cross, dan trotoar selebar 2 meter). Namun di balik segala kelengkapan tersebut, rupanya kreativitas kita terlalu tinggi untuk dibatasi.

Foto-foto diambil pada tanggal 21, bulan 10, tahun 2009. Ada yang mau berbagi foto-foto saat sekarang?

Trotoar belah setengah (kolaborasi: tukang ojek dan kita sebagai pengguna)

2 banding 9 (kolaborasi: penyeberang taat dan penyeberang cepat)

Menyeberang penuh sukacita (kolaborasi: kita dan mobil)

Menyeberang di bawah Jembatan penyeberangan (kolaborasi: kakek dan pegawai kantor)

Alat pengukur lebar badan (kolaborasi: pedagang gerobak dan kita)

Lansekap Medan Merdeka Timur (kolaborasi: kita, kendaraan kita, dan tak lupa Pak Polisi)

Halte tengah jalan (kolaborasi: Pelajar SMA dan sopir serta kenek angkot)

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


16 Apr 2011

Zebra Cross Tinggal Setengah…

Oleh Robin Hartanto.  Foto zebra cross di depan Bank BNI Kota Tua, tanggal 26 Agustus 2010. Setelah perbaikan jalan, zebra cross yang sebelumnya selalu saya pakai untuk menyeberang tiba-tiba tinggal setengah. Sepertinya pemerintah sedang membutuhkan atlet lompat jauh.

Comments Off

Topics: , | Agent of Change: none |


09 Apr 2011

Pejalan Kaki vs. Sepeda Motor

Terbitkan jepretan Anda tentang kasus jalan-kaki dan jalurnya ke info@rujak.org.

Oleh: Famega Syavira Putri;  http://cyapila.com | @cyapila

Bahkan untuk berjalan di trotoar pejalan kaki harus bersaing dengan motor. Saya pernah mencobanya, berjalan kaki dengan cuek di tengah trotoar yang ramai dilalui motor. Hasilnya? Klakson galak tak henti-hentinya dengan mata melotot dari balik helm. Padahal trotoar adalah hak pejalan kaki. Ini foto-fotonya. Suatu siang di sekitar Bank Indonesia, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. –

5 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


11 Mar 2011

Siapkah Jakarta dalam hadapi bencana?

Paska Gempa di Jakarta tahun 2009

Gempa disusul Tsunami kembali melanda Jepang. Sementara banjir bandang di Aceh melanda pada hari yang sama.

Lalu bagaimana dengan Jakarta? Apakah Jakarta siap dengan segala kemungkinan bencana alam maupun bencana sosial dan infrastruktur?

Sebuah studi yang dimulai dari tahun 2006 dan disponsori oleh Japan Bank for International Coorporation melakukan penelitian menyeluruh terhadap kemungkinan bencana yang akan dihadapi Jakarta, mulai dari gempa, tsunami hingga bencana-bencana sosial. Nama studi itu adalah Integrated Urban Disaster Management Project In Jakarta Metropolitan Area.

Berikut ringkasan dari presenatasi dari sekian banyak laporan studi Jakarta Urban Disaster Management:

Juga artikel lawas kami tentang Keselamatan Bangunan, yang ditulis beberapa hari setelah gempa melanda Jakarta tahun 2009 ada disini.

JBIC JakartaDM Semiar Mar 20 Final

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


28 Feb 2011

What is “Degrowth”? Is it zero-growth? or no-growth?

Check this out:

http://www.degrowth.org/Proceedings-new.122.0.html

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


20 Feb 2011

Art and the City

Collection of articles in an online magazine of India.

http://www.goethe.de/ins/in/lp/prj/kus/enindex.htm

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


17 Feb 2011

UDARA JAKARTA?

Indonesian Air Quality Profile draft by ADB is out for Public Review.

http://www.scribd.com/doc/44362670

Lihat juga laporan per tanggal 16 Februari 2011 ini:

http://www.thejakartaglobe.com/home/jakartas-green-credentials-need-more-work-new-report-finds/422899

2 Comments »

| Agent of Change: none |


14 Feb 2011

Pink di Bunderan HI, Jakarta 14 Februari 2011

Apa peristiwa pilihan Anda di Jakarta pada Tanggal 14 Februari 2011? Saya memilih peristiwa pernyataan sikap para Pekerja Rumah Tangga (PRT)di Bunderan HI pagi ini jam 11:00.

Mereka menjerang jemuran pakaian di sekeliling Bunderan HI. Di tengah hujan deras yang menerpa Jakarta dari pagi hingga siang hari ini, Hari Valentine, 14 Februari 2011.

PRT merupakan pekerja yang paling lemah perlindungan hak-haknya, karena hampir seratus prosen bersifat informal, tanpa surat-surat perjanjian yang melindungi mereka. Sebagian dari mereka di bawah umur. UU Tenaga Kerja belum melindungi mereka, karena lebih banyak mengatur hubungan industrial, sementara pada PRT ada banyak dimensi sosial-budaya, termasuk hubungan desa-kota yang sebenarnya punya juga di dalamnya aliran nilai budaya.

Kontak Penyelenggara:

JALA PRT, Jl. Kalibata Utara I No. 18, Jakarta Selatan.
Telp. 021-7988875
jala_prt@yahoo.com; www.jala-prt.org

Lita: 0811282297

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


13 Feb 2011

Jakarta: Estetika Banal

Buku Baru: Erik Prasetya, Jakarta: Estetika Banal, KPG dan Dewan Kesenian Jakarta, January 2011.

Bagaimana pentingnya pendekatan fotografi Erik dalam studi perkotaan, khususnya Jakarta?

Foto-foto Erik adalah suatu studi atas Jakarta, yang dilakukannya selama 20 tahun sebagai seorang warga yang berdiri di atas tanah, di dalam ruang dan peristiwa kota itu. Kita merasa hadir di dalam lokasi-lokasi itu, di saat-saat ketika tombol ditekan, bersama-sama subyek yang difotonya, baik itu bangunan, bus, bajaj dan tentu saja warga. Dengan vitalitasnya penduduk kota menyiasati tata-kota yang banal. Jalan terowongan menjadi tempat berteduh. Menunggu bus di mana saja. Atap kereta api berpenumpang. Kegembiraan-kegembiraan kecil di ruang khalayak.  Betapa kota-kota kekurangan pengetahuan yang intim tentang kebutuhan dan kemampuan yang nyata dari penduduk kota itu, sehingga sebagian besar kebutuhan itu tidak terpenuhi dan sebagian besar kemampuannya tidak disertakan dalam membangun kotanya. Ada senjang-pengetahuan antara kebijakan dan pengetahuan perkotaan.

Ini terbitan terpenting selama beberapa dasawarsa terakhir dalam bidang fotografi, karena menawarkan terobosan estetika dan metodologi kerja. Berguna bukan saja untuk penggemar fotografi, jurnalisme, tetapi juga para peminat urban studies dan cultural studies.

Lihat salah satu ulasan oleh Kurniadi Widodo.

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: Dewan Kesenian Jakarta |


11 Feb 2011

Jakarta Memerlukan Kerjabersama Kreativ

(Pengantar  Buku……)

Buku ini pada akhirnya mendorong kita menyimpulkan ajakan untuk menggalang kerjabersama kreativ (creative collaboration). Bangsa ini baru merdeka, baru mengenal demokrasi, yang berarti kesetaraan di dalam membuat masa depan bersama. Kita memang tersandung-sandung, sebab banyak himpitan, banyak desakan, banyak masalah, banyak keterbatasan, banyak kecurigaan, banyak tidak ikhlas, tidak tulus dalam berbagi, termasuk berbagi peran dan rezeki. Tapi justru karena itu semua kita diajak untuk merenungkan kembali bahwa tujuan kita berkelompok, atas dasar suatu tuah sekata (konsensus) nasional, adalah mensejahterakan kita semua bersama-sama. Tujuan bersama jelas dihayati. Hanya sering dilupakan bahwa kita perlu berkerjasama dalam pengertian yang kongkrit, sehingga tidak berhenti sebagai mantra.

Di abad demokratisasi informasi ini, keperluan untuk kerjabersama kreativ yang tulus juga makin menjadi keharusan. Semua orang relatif sama pintar sekarang, karena informasi yang mudah didapat. Setidaknya, seperti sering dikatakan, tidak seorang pun dari kita yang lebih pintar dari kita (none of us is smarter than us). Kita bukan saja makin tergantung kepada kecerdasan bersama secara tak terelakkan, tetapi malah wajib menciptakan kondisi yang menyuburkan dan memudahkan kerjabersama.

Riset di Jakarta dan Bangkok, yang antara lain menjadi dasar bagi penyusunan buku ini, membandingkan bagaimana kota-kota itu menyertakan masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan kemiskinan perkotaan, antara lain dalam membangun rumah. Jelas sekali bahwa salah satu faktor pembeda di kedua kota itu adalah terlembaganya kerjabersama komunitas kaum miskin kota, akademisi, pemerintah, dan aktivis lainnya di Bangkok. Kerjabersama itu memecahkan prasangka, menembus tembok koordinasi horisontal antar sektor dan dialog vertikal antara warga, pemerintah setempat dan pemerintah pusat. Tidak ada solusi tunggal dan mati yang dipaksakan. Setiap konteks memerlukan konsep solusi yang diprakarsai sendiri dari komunitas, yang memang dipermudah dan dirangsang. Kerjabersama kreativ kemudian mengembangkan solusi kongkrit yang berangkat darinya, tetapi tidak selalu sama persis dengan konsep awal itu.

Di Bangkok terpenuhi syarat-syarat bagi kerjabersama kreativ. Syarat pertama adalah komitmen untuk kerjabersama yang panjang. Ini diwujudkan dalam kelembagaan yang sesuai pada semua pihak terkait. Dasar dari kerjasama ini adalah pengakuan akan keragaman perspektif yang menjadi pijakan berangkat untuk saling memahami sudut pandang masing-masing dan mengurusi perbedaan-perbedaan. Melalui dialog konstruktif perbedaan-perbedaan dirundingkan. Pada saat bersamaan dikembangkan visi dan pandangan bersama. Syarat kedua adalah kesudian untuk berbagi gagasan, informasi dan pengetahuan, sehingga akhirnya semua pihak memiliki dasar pengetahuan yang sama. Sekali lagi ini hanya mungkin terbangun melalui keterlibatan dan interaksi intensif yang panjang. Syarat ketiga adalah saling percaya dan kebersamaan dalam mengambil resiko.

Pada konsep “kerjabersama kreativ” saya bukan hanya mau menekankan arti kata ‘kreativ’ yang berhubungan dengan daya-cipta untuk menghasilkan suatu produk karya atau inovasi, meskipun ini semua penting juga. Saya ingin juga menekankan makna kreativ sebagai lawan dari ‘destruktif’, dan bahwa kerjabersama itu hendaknya terus menerus berdaya-kembang secara berkelanjutan, bukan “sekali berarti sudah itu mati” seperti sering terjadi pada kegiatan-kegiatan pembangunan yang berorientasi pada proyek sekali pukul. Kerjabersama kreativ juga berarti kerjasama yang bentuk dan modusnya berkembang seiring dengan proses dialektis, tidak pernah selesai atau berhenti pada pembakuan yang diulang-ulang saja, sebab ia harus menghasilkan solusi-solusi yang tiap kali sesuai dengan tiap situasi dan kondisi yang baru atau berkembang.

Hendaknya juga dipahami bahwa kerjabersama kreativ bukan hanya suatu alat yang bertujuan menghasilkan proyek-proyek fisik, tetapi juga suatu proses, suatu cara hidup untuk terus menerus menghasilkan kembali makna dan pemaknaan, nilai dan penilaian. Ini penting untuk menghindari monopoli penciptaan makna oleh pihak tertentu saja, yang pada akhirnya membawa kita kepada keseragaman yang menyesakkan dan lama-lama mematikan (lawan dari kreativitas). Tanpa kerjabersama kreativ, kita telah sering mengamati terjadinya makna yang tiba-tiba meloncat menjadi konsep-konsep yang tanpa disadari tahu-tahu telah dijabarkan menjadi model-model pembangunan secara sepihak, misalnya: kota modern itu harus begini-begitu, dan tidak begini-begitu. Dalam proses pemaknaan yang sepihak demikian hampir dipastikan yang lemah (yang miskin, yang kecil, yang tak punya kuasa) akan tersingkir, dan realita disusun bukan saja tanpa kehadiran mereka, tetapi juga berakibat menggusur kehadiran mereka, sengaja atau tidak sengaja.

***

Dalam proses riset dan seminar yang mendahului buku ini terang sekali ditemukan banyak perbedaan persepsi dan pendapat antara berbagai pihak dalam bangsa kita, bahkan tentang hal-hal yang sebenarnya sudah baku dikenal, misalnya partisipasi, demokrasi, hak kaum miskin kota, kota yang berkelanjutan, dan lain-lain. Sering dapat dilacak, bahwa perbedaan itu sebenarnya muncul dari proses pemaknaan yang sepihak, yang didasarkan kecurigaan dalam menafsir informasi yang tidak lengkap, yang tidak diperiksa langsung ke pihak lain, yang tidak dialektis. Misalnya perumahan kaum miskin kota bermakna antara “masalah kita bersama sebagai suatu bangsa” dan “masalah perbenturan kepentingan”.

Kita berada dalam situasi di mana sebagian masyarakat pada saat bersamaan selalu curiga kepada pemerintah, ingin korupsi diberantas, dan sekaligus secara paradoksal menganggap pemerintah harus memenuhi semua tuntutannya (dengan persepi negara sebagai penyedia segala), sementara sebagian jajaran pemerintah menganggap masyarakat itu anarkis dan pada saat bersamaan menganggap dirinya paling tahu tentang apa yang paling baik bagi mereka.

Negara modern memang melahirkan hubungan-hubungan yang berbeda dengan yang ada dalam masyarakat tradisional. Ada birokrasi yang menjembatani atau menghalangi. Kekuasaan menjadi lebih abstrak, besar serta jauh, berperantaraan atau berperwakilan. Ada sistem ekonomi yang berbeda. Kecurigaan-kecurigaan muncul. Perbedaan persepsi tentang peran pihak-pihak terumuskan berbeda-beda. Tetapi semuanya itu semestinya, dan memang tidak boleh mengubah cita-cita suatu entitas masyarakat, yang dengan mendirikan negara berarti mengaku ingin berkerjabersama supaya semuanya hidup sejahtera.

Kita perlu merenungkan kembali tujuan kita bernegara, ketika berhadapan dengan pertanyaan pahit tentang mengapa sebagian cukup besar bangsa kita tidak terurus—apalagi terpenuhi—hak -hak dasarnya seperti rumah dan pekerjaan. Kita bahkan perlu belajar kembali. Dulu, kita ketahui, banyak bangsa dan kota Asia Tenggara belajar dari Indonesia. Sekarang kita tahu juga, banyak bangsa dan kota Asia Tenggara telah lebih maju daripada kita. Ini suatu pelajaran penting bagi bangsa yang korup, malas bekerja tekun, pencari jalan pintas, tak pandai berkoordinasi. Tapi kita bukan hanya perlu belajar, melainkan juga (terutama) bertindak berubah berdasarkan pelajaran itu. Berubah dan belajar memang adalah dua hal yang berbeda.  Awal dari perubahan adalah keinginan untuk belajar. Sedang akhir dari belajar adalah keharusan untuk berubah.

Jakarta, 4 Oktober 2007

Marco Kusumawijaya

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |