Resources


09 Nov 2011

Bebas Hambatan

Oleh Patrick Anderson.

Jakarta memiliki ruang badan jalan yang cukup untuk penggunanya bertransportasi pada kecepatan 30 hingga 50 km per jam secara nyaman. Setiap hari, lebih dari tiga juta warga mencapai tempat tujuannya tanpa terhenti berjam-jam oleh kemacetan lalu-lintas. Jumlah mereka mencapai lebih dari setengah pengguna kendaraan pribadi di jalanan di Jakarta tapi dengan kendaraannya hanya memakan tempat seperlima dari total kapasitas ruas jalan. Dalam hal energi, perjalanan mereka hamper seefisien menggunakan busway. Kendaraan mereka menggiring mereka dari satu tempat ke tempat lainnya dengan biaya Cuma sepersepuluh dari biaya yang diperlukan untuk membeli, memelihara dan mengisi bahan bakar mobil. Seandainya dibuat beberapa perubahan sederhana terhadap sistem transportasi, kita bisa membuat mereka berkeliling dengan lebih nyaman, aman dan cepat ke tempat tujuan, dan mendorong lebih banyak lagi orang untuk meninggalkan mobilnya di rumah. Hal yang sedang dibicarakan, tentu saja, sepeda motor.

Mendorong lebih banyak penggunaan kendaraan roda dua tidak diragukan lagi merupakan cara tercepat, termudah dan termurah untuk memudahkan lalu-lintas yang sudah terlalu padat sebagai wadah mobilisasi massa seputar Jakarta. Berikut adalah sepuluh langkah yang bisa dilakukan pemeirntah untuk meningkatkan transportasi public yang lebih cepat berdasarkan kendaraan roda-dua.

 

Jalur tetap untuk roda dua 

Menyediakan jalur-jalur roda dua yang permanent sudah terbukti di seluruh dunia sebagai cara terbaik untuk masyarakat menggunakan kendaraan roda dua, bukannya mobil. Jalur-jalur demikian biasanya diperuntukkan bagi sepeda, tapi di Jakarta bisa saja diperuntukkan bagi semua jenis kendaraan roda dua, baik sepeda maupun sepeda motor. Jalur ini bisa dikembangkan di badan jalan yang memiliki dua atau lebih jalur untuk tiap arah. Biasanya jalur roda dua mengambil yang sebelah kiri, tapi kadang juga di sebelah kanan, dan lebarnya hanya satu meter.

Membuatnya pun cukup dengan memasang cekungan untuk bantalan tanda jalur lalu mengecatnya. Kendaraan-kendaraan lain boleh melintas di depannya (di perempatan) tapi dilarang menggunakan jalur tersebut baik untuk melintas ataupun parkir. Sebaliknya, pengendara roda dua diperbolehkan untuk menggunakan sisa badan jalan lainnya seandainya jalur roda dua sudah padat. Kuncinya, adalah meningkatkan penyediaan jalur pejalan kaki di dekat jalur roda dua untuk mereka yang suka berjalan dan mendorong gerobak di jalanan.

 

Roda Dua di atas Busway.

 

Busway sesungguhnya meningkatkan kemacetan lalu-lintas di Jakarta. Matematika sederhana menunjukkan bahwa busway mengambil ruas jalan dari pengguna lainnya sehingga hanya membuat lebih buruk kepadatan lalu-lintas. Bahkan ketika sebuah bis tiba setiap lima menit untuk mengangkut 100 orang, sepanjang satu kilometernya sebuah busway hanya bisa mengangkut 1.200 orang per jamnya. Jalur yang sama jika penuh dengan mobil, misalnya masing-masing dengan dua orang di dalamnya, memakan tempat 20 meter dengan 20 km perjam bisa memindahkan 2.000 orang per jam. Jika jalur yang sama penuh dengan sepeda motor, maka 10.000 orang bisa terangkut per jamnya. Jalur-jalur busway seharusnya bisa digunakan juga oleh sepeda motor, tapi tidak untuk mobil. Kendaraan roda dua bisa juga diizinkan untuk menggunakan bahu jalan tol dalam kota, misalnya dikenakan tariff Rp 1.000.

 

Motor taxi. System informal ‘ojek’ atau motor taxi membantu ratusan ribu orang di sekeliling kota tiap harinya. Ada peluang usaha untuk menciptakan perusahaan atau koperasi motor taxi yang menyediakan jasa berkualitas lebih tinggi dengan jarak lebih jauh: misalnya bisa dipesan via telepon; sepeda motornya bersih, bisa dipertanggungjawabkan kondisinya dan suaranya lembut; jaminan keamanan bagi penumpang dan barang-barang miliknya; bandana yang bersih untuk menandai helm bagi tiap penumpangnya, dan sebagainya. Saat ini, kita sangat kekurangan peraturan yang memfasilitasi usaha-usaha komersial seperti itu.

 

Membersihkan polusi udara.

Polusi udara dan kebisingan membuat orang malas mengendarai sepeda motor. Sepertiga dari tiga juga sepeda motor di Jakarta menggunakan mesin dua tax, seperti Bajaj, dan kendaraan seperti ini menghasilkan lebih banyak polusi kebisingan dan asap daripada jumlah polusi gabungan dari polusi semua jenis kendaraan roda dua dan roda empat di Jakarta. Pemerintah harus mulai membatasi perizinan motor dua tax. Caranya, setiap kali pemiliknya mendaftarkan kembali izin motor dua tax atau bajaj mereka, beritahukan bahwa itu adalah terakhir kalinya mereka bisa mendapat izin. Dalam lima tahun terakhir, Bangkok dan New Delhi sudah menghilangkan kendaraan motor dua tax, dan hari ini di kota-kota tersebut Anda bisa melihat bajaj yang sama, yang mencemari jalanan Jakarta, berjalan dengan suara tenang dan menggunakan mesin empat tax berbahan bakar gas.

Bangkok dan New Delhi juga mengharuskan semua bis dan taxi nya beralih ke gas (LPG), menyudahi kepulan asap diesel. Suatu langkah yang patut diikuti oleh Jakarta.

 

Pengalih katalis. Jakarta setahap demi setahap mengurangi penggunaan bensin pada 2003 sehingga kendaraannya kini menggunakan pengalih katalis, yang mengurangi lebih dari 90% polusi karbonmonoksida dan nitrat-oksida. Pengalih katalis tersedia untuk mesin diesel dan bensin seperti juga untuk sepeda motor. Ibukota seharusnya mengharuskan pamasangan pengalih katalis sebagai syarat perizinan operasi mobil, truk, dan sepeda motor.

 

SEpeda motor listrik. Indonesia sudah memproduksi sepeda motor listrik. Kendaraan-kendaraan ini sempurna bagi kondisi perkotaan, karena murah, tenang dan bersih. Model-model yang sudah saya lihat, harganya sekitar lima juta rupiah, bisa berkeliling 60km setiap kali di-‘charge’. Pengisian ulang dengan baterai (baterry recharger) memakan waktu empat hingga enam jam, biayanya sekitar 800 rupiah, dibandingkan Rp 4.000 untuk sepeda motor bensin dengan jarak yang sama. Dengan listrik, emisi karbondioksia diminimalisasi. Di Inodnesia, sepeda motor listrik dengan batas kecepatan 70 km per jam tidak perlu perizinan resmi, pengendaranya tidak perlu SIM, sehingga pengguna sepeda motor dengan mudah beralih padanya.

 

Mengarahkan kembali Rencana Investasi.

Rencana investasi satu milyar dolar untuk system subway “Mass Rapid Transit”, yang jika dibangun pada 2014 akan hanya memindahkan 400.000 orang sehari sepanjang jalur 14km –sebaliknya bisa digunakan untuk mendanai pembelian dua juta sepeda motor listrik, yang bisa menjadi dasar sesungguhnya untuk system “Mass Rapid Transit”. Pemerintah bisa membuka kredit sepeda motor listrik misalnya dicicil Rp 3.000 per hari selama lima tahun, dengan tingkat bunga pinjaman yang rendah. Ini lebih murah dari biaya tiket busway bagi pengemudi.

Pendaftaran ulang mobil bisa disertai syarat membeli sepeda motor listrik untuk menggantikan penggunaan mobil di saat jam-jam sibuk. Jadi mobilnya ditinggalkan di rumah saja.

 

Kebijakan dan pengadaan oleh pemerintah. Pemerintahan DKI Jakarta perlu mengembangkan kerangka kebijakan yang mendukung penggunaan kendaraan roda dua yang lebih luas seperti yang dikemukakan di atas. Para pejabat seharusnya menjadi pelopor gerakan beralih dari mobil ke sepeda motor. Dalam hal mengelola lalu lintas dan kendaraan bermotor, pemerintah sebaiknya memprioritaskan pembelian sepeda motor listrik.

 

Pahlawan Roda Dua : langkah-langkah yang mudah dan sederhana ini membutuhkan sikap kepahlawanan ; para pemimpin masyarakat yang bersedia jadi pembela bagi system transportasi public yang cepat berbasis sepeda motor. Bapak Fauzi Bowo, siapkah Anda meluncur dengan sepeda motor listrik dan mengusir belenggu kemacetan dari Jakarta ?

 

Patrick Anderson. Penulis sudah tujuh tahun tinggal di Jakarta, dan berkeliling Jakarta dengan ojek, sepeda, kereta api, taxi, mobil, bis, delman dan busway.

 

6 Comments »

| Agent of Change: none |


04 Nov 2011

SPBU dan Protes Warga

Oleh Famega Syafira. Warga Kelurahan Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat protes pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum milik PT Total Oil Indonesia. SPBU itu beroperasi mulai 15 Oktober 2011, meskipun warga merasa tidak memberikan persetujuan. Padahal, persetujuan warga sekitar adalah salah satu syarat untuk mendapatkan Izin Gangguan sebagai syarat mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB).
“Sebagian besar warga menolak pembangunan SPBU dan tak memberikan izin,” kata Elizabeth, salah satu warga RT 13.
Elizabeth menolak keras pembangunan SPBU di lingkungan tempat tinggalnya karena membawa banyak dampak buruk.
Setidaknya ada tiga alasan yang mendasari keberatan ini. Sebagai ibu, Elizabeth khawatir uap bensin dari SBPU memberi dampak buruk bagi anaknya. Menurut penelitian, anak yang tinggal di dekat SPBU punya risiko terkena leukimia empat kali lipat lebih besar dibanding anak-anak lain.
Alasan kedua adalah risiko kebakaran. Elizabeth mengaku terkejut saat melakukan riset kecil mengenai kasus kebakaran yang terjadi di SPBU. “Saya tak mengira ternyata ada banyak sekali kasus kebakaran di berbagai daerah,” kata dia. (Lihat box: Kasus-kasus Kebakaran SPBU). Keberadaan SPBU juga diduga memberi dampak negatif secara ekonomi.
Pemerintah bukan tak menyadari adanya potensi bahaya di sekitar SPBU. Keputusan Gubernur DKI 2863/2001 menyatakan depot pengisian bahan bakar minyak wajib dilengkapi analisis mengenai dampak lingkungan karena berpotensi menghasilkan limbah gas padat dan cair yang cukup besar
Warga sempat mengirimkan surat pembaca yang dimuat di detik.com.
Sesudahnya, beberapa warga mendapatkan sms gelap yang berisi makian dan ancaman. Warga juga merasa mendapatkan ancaman tak langsung dengan embel-embel organisasi massa. “Saat dibangun, di proyek tertempel bendera FORKABI,” kata Elizabeth.
Meski tanpa izin warga, pembangunan tetap dilanjutkan hingga beroperasi. PT Total menyatakan telah memperoleh izin sesuai peraturan, tapi bagaimana bisa izin terbit tanpa persetujuan warga? Menurut peraturan Mendagri nomor 27 tahun 2009, IMB baru bisa terbit dengan seizin warga.
Pembangunan SPBU tanpa izin warga tak hanya sekali ini terjadi. Warga Cempaka Putih mengeluhkan hal yang sama, dengan modus serupa. Pemaksaan pembangunan SPBU juga terjadi di Jalan Bintaro Raya. Oktober 2009, PT Shell Indonesia menyatakan akan membangun SPBU di Jalan Bintaro Raya, RT 11 RW 10, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan.
23 warga menyatakan keberatan dan penolakan. Alasannya, pembangunan SPBU akan merugikan kepentingan pemukiman dan membahayakan kepentingan umum; antara lain ancaman kebakaran, menganggu keseharan dan mencemari air tanah.
Tanpa persetujuan warga, Izin Mendirikan Bangunan telah diterbitkan. Pada September 2010, warga meminta dokumen tersebut namun tak diberikan. Desember 2010, sembilan warga, termasuk istri budayawan Nucholish Madjid, Omi Komeria Madjid, mengajukan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara.
Putusan pengadilan pada 18 Mei 2011 mengabulkan gugatan warga. Kepala Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan DKI justru mengajukan banding bersama Shell. Dian Try Irawaty, peneliti Rujak Center For Urban Studies menilai bahwa pembangunan SPBU tanpa izin telah mengabaikan kepentingan masyarakat. “Pemerintah malah melindungi penanam modal,” kata dia.
Protes warga tak diindahkan, pembangunan tak dilakukan dengan keterbukaan, proses perizinan pun ditutup-tutupi. Pembangunan SPBU di daerah pemukiman, menimbulkan kecurigaan bahwa kota ini dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa tata kota yang terencana. Dengan pertumbuhan kendaraan yang sangat pesat, berapa banyak lagi SPBU yang akan dibangun di wilayah pemukiman?
Adakah hal semacam ini juga terjadi di sekitar tempat tinggal Anda? Berbagilah dengan warga yang lain melalui e-mail info@rujak.org atau laporkan lengkap lokasinya ke www.klikjkt.or.id.

3 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


15 Oct 2011

Draft Rencana Detil Tata Ruang Jakarta 2030

Rujak mendapatkan Draft RDTR (Rencana Detil Tata Ruang) Jakarta tahun 2010 kemarin. RDTR merupakan turunan dari RTRW, dimana ia merupakan masterplan per kotamadya di Jakarta dan akan mengatur hingga kecamatan dan kelurahan.
Disini warga dapat melihat lebih jelas lagi apa yang akan terjadi pada lingkungan kehidupannya hingga tahun 2030, apa yang direncanakan pemerintah daerah lewat konsultan dan Dinas Tata Ruang, yang disusun tanpa banyak partisipasi masyarakat.

Silakan menelaah isi Naskah Akademis Rencana Detil Tata Ruang ini: (Naskah Akademis adalah dokumen persiapan yang menganalisa sebuah produk peraturan dan undang-udang, sebelum disusun.)

http://www.scribd.com/fullscreen/68829985?access_key=key-n9p25d4mxfrgy8wyqb6

http://www.scribd.com/fullscreen/68830169?access_key=key-1w8t6nqoqv32lcjxofvs

http://www.scribd.com/fullscreen/68830263?access_key=key-1oi2nhm37e7gutk1iuoq

http://www.scribd.com/fullscreen/68830664?access_key=key-moyzd9p0u5thkgel2jl

http://www.scribd.com/fullscreen/68831114?access_key=key-dbxjuh3iid5fpzflpso

http://www.scribd.com/fullscreen/68830970?access_key=key-hb7vzpshzlinwu75zm4

http://www.scribd.com/fullscreen/68830450?access_key=key-yth7gdveth1z451qafv

http://www.scribd.com/fullscreen/68831521?access_key=key-1b8hpbwgpun333xr21zz

Berikut adalah Draft Raperda Rencana Detil Tata Ruang Jakarta 2030:

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |


04 Oct 2011

Buku: Kata Fakta Jakarta

Buku ini dimaksudkan sebagai bantuan-mengingat peristiwa yang selama dasawarsa terakhir membentuk Jakarta seperti sekarang.

Ia tidak pernah lengkap, dan terbuka untuk ditambahi dan diperbaharui. Sebaiknya setiap satu atau beberapa tahun ada buku semacam ini, yang mencatat apa saja peristiwa penting sepanjang tahun atau tahun-tahun sebelumnya. Sudah pasti ia mencerminkan subyektivitas para editornya, yang meskipun telah bekerja keras dalam memilih bahan yang pantas dimuat dalam keterbatasan ruang, waktu dan uang, tidak ingin berpura-pura sepenuhnya obyektif. Yang dipentingkan adalah subyektivitas yang terbuka dan komunikatif, ketimbang obyektivitas yang tertutup dan sekali-jadi.

Mudah-mudahan dapat muncul kebiasaan untuk berkala menerbitkan kumpulan pengetahuan bersama ini.

Gunanya adalah membantu kita membangun kota dengan sadar, bahwa segala sesuatu terkait dalam kontinum waktu dan ruang. Kota adalah suatu produk peradaban manusia yang terbesar. Ia menggunakan sekitar 40 % dari semua sumber daya alam yang digunakan manusia di seluruh dunia. Ia mencerminkan keputusan-keputusan dan kemampuan kolektif kita. Cilaka kalau kita terus membangun tanpa menyadari apa yang sudah ada –yang buruk maupun yang baik—dari diri kolektif kita sebelumnya.

Jakarta mengcengangkan karena kecepatan dan besaran perubahannya tiap saat. Hanya sedikit yang dapat diketahui tiap masa-hidup tiap orang, bila tanpa bantuan. Seringkali kita menemui sesama warga yang tidak tahu pasti tentang, misalnya, hubungan antara Ali Sadikin dan Suharto, atau mengapa jalur khusus-bus TransJakarta ada di sisi jalur cepat, atau mengapa banjir dan kemacetan makin buruk, dan lain-lain. Ada banyak spekulasi atas siapa dan apa yang salah karena kurang terang dan terbukanya fakta. Seringpula kebijakan memancing kritik karena dirasa dibuat tanpa dasar fakta yang kuat. Mudah-mudahan sebuah buku bantuan-mengingat ini dapat mengurangi spekulasi semacam itu, sehingga Jakarta dapat menjadi makin sesuai dengan keinginan kita yang paling sederhana, yaitu tempat kita hidup nyaman dan baik.

Memiliki semacam pengetahuan bersama, yang dikumpulkan dan diingat bersama-sama seluas-luasnya, kelihatannya diperlukan oleh semua kota.

 

 

 

 

29 Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


23 Sep 2011

Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2010-2030

Tanggal 22 Agustus 2011 lampau, DPRD DKI Jakarta akhirnya mengesahkan RTRW Jakarta terbaru.

Seminggu sebelumnya Kementrian Dalam Negeri mengeluarkan surat keputusan bahwa untuk sementara RTRW yang berlaku adalah Perda no.6 tahun 1999.

Proses pengesahan tersebut masih harus menunggu penomoran perda dan administrasi di Kemendagri dan Kementrian Pekerjaan Umum.

Berikut adalah Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030. (Peta dan gambar dalam proses unggah)

RTRW DKI Jakarta 2030_22082011

Penjelasan RTRW DKI Jakarta 2030_04082011_edit

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |


18 Sep 2011

Lebih Jauh daripada Rokmini

Pernyataan Gubernur Fauzi Bowo bahwa sebaiknya perempuan tidak menggunakan rokmini di angkotan kota, setelah peristiwa perkosaan di dalam suatu angkutan-kota, memancing kemarahan perempuan ibukota. Berikut foto-foto mereka ber-demonstrasi di Bundaran HI pada hari minggu, tanggal 18 September 2011, jam 15:00.

Segera mencuat, bahwa persoalannya bukan sekedar seorang Gubernur yang salah ngomong.

Ucapannya itu mencerminkan suatu bias laki-laki yang memang masih menguasai sebagian (besar?) masyarakat kita: bahwa  kalau ada yang terangsang, maka ada yang “merangsang” atau bahkan “mengundang”, ialah perempuan itu sendiri, yang lalu dianggap salah, padahal mereka korban.

Selain itu, hal ini menyangkut persoalan kebijakan publik yang serius. Perempuan menuntut juga keamanan di semua ruang publik. Ini negara merdeka, sebuah republik, yang banyak perempuannya bekerja. Perempuan pekerja yang menggunakan angkutan umum lebih banyak daripada pekerja laki-laki, yang punya lebih banyak pilihan, misalnya sepeda motor. Kabarnya pembuat sepeda motor kini mengincar konsumen perempuan dengan transmisi otomatis.

Undang-undang ketenaga-kerjaan kita telah mengharuskan perusahaan untuk menyediakan angkutan antar jemput untuk yang bekerja dan/atau berangkat/pulang di antara jam 23:00-05:00. Adalah kewajiban pemerintah memenuhi menegakkan perintah tersebut. Selain itu patut dihargai semangatnya, bahwa siapapun berhak bekerja, dan itu perlu didukung dengan keamanan dan kondisi lainnya.

Angkutan umum kita sudah terkenal brengsek. Ini momentum yang tepat untuk sekalian memperbaikinya besar-besaran: mulai dari kualitas pengemudi dan awak, hingga ke sistem. Mengapa misalnya tidak ada semacam “SIM” untuk awak kangkutan umum? Bukankah seringkali mereka ini yang ngawur?

Yang saya maksud termasuk sistem angkutan umum adalah juga: fasilitas pejalan kaki yang baik. Sebab, tidak mungkin orang naik angkutan umum yang baik tanpa berjalan kaki cukup banyak.

 

4 Comments »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |


17 Sep 2011

Two young men are cycling from Berlin to Papua: “Berlin Chennai Papua – Eurasian Cyclocross 2011-12″.

When will they reach Jakarta? What shall we do to welcome them in this metropolis when they arrive?

Why are they doing this?

Follow Dominik Oskar Zschäbitz and Florian Augustin:

http://augefilms.blog.com/berlin-chennai-papua/

After “Jakarta Berlin – An Inspiration to Low Carbon Traveling” AugeFilms is proud to announce its next major project: “Berlin Chennai Papua – Eurasian Cyclocross 2011-12″.

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


06 Sep 2011

BUDAYA VISUAL DAN LEDAKAN INFORMASI: Oleh-oleh dari Jepang

Peta kereta Tokyo, subway dan jalur atas.

Oleh: Hikmat Darmawan.

Udara dan ruang penuh informasi. Stasiun-stasiun Tokyo, baik di lintasan jalur Yamanote yang jadi lingkar pusat jalur kereta Tokyo, maupun di stasiun-stasiun subway-nya. Ledakan informasi, seperti hana-bi (festival kembang api): penuh warna, meriah, dan ditonton dengan keriaan yang takzim.

Informasi dalam bentuk rupa: peta rute dengan menit-menit waktu kereta, poster tentang jangan lari terburu masuk kereta atau tentang bagaimana sebaiknya membawa tas ransel dalam kereta, iklan, signage, pengumuman digital tentang posisi kereta, dan sebagainya.

Informasi dalam bentuk suara: pengumuman-pengumuman tentang, antara lain, tujuan dan stasiun berikut serta tentang adab naik kereta; juga kode bunyi untuk memberi tahu penumpang yang buta bahwa pintu kereta sedang membuka; dan sebagainya.

Informasi dalam bentuk rupa-suara (audio-visual): TV kereta, yang berisi iklan-iklan produk dan berbagai pengumuman tentang posisi kereta.

Pada pintu masuk/keluar stasiun sudah banyak informasi

Masih ada beberapa bentuk informasi lain yang bisa didapat para penumpang. Terutama, peta jalur kereta Tokyo, yang tersedia versi selembar yang bisa dilipat-lipat dan versi booklet yang dilengkapi dengan keterangan tempat-tempat utama di Tokyo beserta berbagai atraksi utama mereka bagi para turis asing (informasi dalam bahasa Inggris).

Jika itu masih belum cukup, setiap petugas di setiap stasiun akan sangat membantu, walau seringkali mereka tak bisa berbahasa Inggris atau berbahasa Inggris yang terpatah-patah. Begitu juga jika stasiun dekat dengan komban (pos polisi), para polisi dengan ramah dan gigih akan berusaha memberi keterangan dan membantu Anda yang kebingungan. Dan di luar stasiun, masih ada berbagai medium informasi, termasuk mading (majalah dinding) dan peta daerah berbentuk mading.

Ledakan informasi ini jelas asyik buat yang para pengunjung kota dari mancanegara yang tak bisa berbahasa Jepang. Dan di dalam sistem kereta yang sungguh rumit di Tokyo, banyak warga Jepang sendiri (baik dari luar Tokyo maupun dari dalam Tokyo) yang sering kebingungan, kehilangan arah, di stasiun-stasiun besar Tokyo macam stasiun Tokyo, Shibuya, Shinjuku, Akihabara, atau Ueno.

Tapi, jika ditanya, ada saja warga Tokyo yang agak jengkel dengan keberlimpahan informasi tersebut. Khususnya, arus informasi di jalur Yamanote, yang sangat “cerewet”. Seorang kakek mengomel, “Saya tak butuh diajari terus-menerus, bagaimana cara naik kereta!” Kebanyakan warga, sebagaimana citra stoic (kalem) orang Jepang, naik kereta-kereta cerewet itu dengan anggun, atau bersibuk dengan buku di tangan, atau HP dan game di Gameboy, iPad atau Galaxy Pad, atau laptop mereka.

Toh, pada saat Gempa Tohoku 11 Maret 2011, banyak perangkat informasi di stasiun-stasiun dan kereta Tokyo berfungsi menjadi saluran info bencana. Saat gempa usai, dalam waktu beberapa menit saja, para petugas stasiun menjadi salah satu sumber informasi yang aktif memberi keterangan pada warga mengenai gangguan operasi kereta di Tokyo. Dalam waktu beberapa hari, di stasiun-stasiun ramai Tokyo, dipasang TV layar datar ukuran besar untuk info bencana selama stasiun beroperasi (rata-rata dari subuh hingga tengah malam).

 

Bangsa Paling Visual?

Banyak informasi di stasiun kereta dan dalam kereta Jepang berbentuk komik dan animasi. (Sebetulnya, boleh dibilang di seluruh Jepang, banyak informasi yang berbentuk komik dan animasi.) Di kota-kota besar Tokyo, berlimpah informasi berbentuk visual, baik berupa gambar (komik, kartun, dsb.) atau foto.

Apakah ada hubungan antara lekatnya bangsa Jepang pada budaya visual, dan kegandrungan mereka pada informasi?

Saya tak akan berpretensi memberi jawaban ilmiah di sini. Saya bahkan tak yakin akan menyodorkan jawaban definitif. Saya hanya akan berbagi kesan saja. Kesan yang saya duga mudah kita dapati jika kita berkesempatan menelusuri jalan-jalan di Tokyo, atau kota mana pun di Jepang.

Tempat antri menanti kereta.

Yang segera tertangkap, memang, jalan-jalan dan ruang-ruang publik Jepang dibuat dengan kesadaran besar akan dipandang. Bukan sekadar, misalnya, jalan-jalan yang ditata rapi dan pohon-pohon resik dan lezat dipandang. Bukan pula sekadar karena lautan neon di Shinjuku, Shibuya, atau Ginza, yang seolah jadi gambaran wajib dalam kartu-kartu pos atau film-film bertempat “Jepang modern”. Juga bukan sekadar karena kita temui patung-patung karya seniman kontemporer dunia di jalan Maranouchi, dekat stasiun Tokyo dan istana Kaisar.

Ada semacam kesadaran kuat tentang kegiatan memandang dan kesediaan dipandang di jalan-jalan dan ruang terbuka Jepang. Kesadaran yang tak hanya mewujud dalam penataan ruang dan benda-benda pendukungnya, tapi juga mewujud dalam bagaimana orang-orang Jepang membawa diri mereka di jalanan.

Ketika membahas lukisan nude di Barat dalam Ways of Seeing (1972), John Berger mengungkap: “A woman must continually watch herself. She is almost continually accompanied by her own image of herself. …Men look at women. Women watch themselves being looked at. …Thus she turns herself into an object –and most particularly an object of vision: a sight.

Saya merasakan bahwa gambaran Berger tentang perempuan Barat itu juga hadir pada orang-orang Jepang, baik perempuan atau pun lelaki mereka. Orang-orang Jepang selalu memikul beban menjadi yang dipandang. Mereka mengatur sikap tubuh mereka, cara mereka berpakaian, tampil, serta bergerak, agar sesuai standar tertentu bagi sebuah objek penglihatan (object of vision). Mereka seolah masuk ke jalan dengan selalu mawas risiko akan menjadi pemandangan (sight).

Jalan sebagai teater imaji.

Jalanan adalah teater, dan di Tokyo, teater itu dipenuhi peran-peran yang mudah dikenali dari “kostum” mereka: salary man, perempuan-perempuan kaya, otaku, pelajar, obo-chan (kaum nenek yang biasanya hidup sendiri), para pemberontak, dan sebagainya. Imaji (image) dan segala pirantinya, khususnya fashion dan fad, adalah aparatus penting bagi status sosial di Jepang.

Donald Ritchie, dalam Image Factory (2003), menulis: “…in a place so status conscious as Japan, self-image is important and new image indicators are in demand.” Selalu ada tuntutan pasar yang besar bagi piranti-piranti dan produk-produk imaji di Jepang.

Ketika sejak 1950-an Jepang mengawinkan kecenderungan budaya mereka pada budaya imaji dengan sistem ekonomi-konsumsi ala Amerika Serikat yang barangkali lebih efektif dari AS sendiri, Jepang menjadi Pabrik Imaji (Image Factory) yang khas. Imaji menjadi bukan saja aksesori, tapi semacam alat untuk bertahan hidup.

Jalan sebagai teater

Seorang akuntan, selama lima hari kerja, bertampang khas salary man yang culun: jas dan dasi, sepatu kulit, kaca mata lebar. Tapi, di mejanya, ada foto dirinya dalam kehidupan lain: berambut jambul Elvis, jaket kulit, siap menari rockabilly di Taman Yoyogi di hari Minggu. Ia mengaku pada teman saya, Rane Hafiedz, yang bekerja di NHK, bahwa ia bisa gila jika tak punya “kehidupan lain” itu.

Informasi dalam lautan neon

Imaji sebagai alat bertahan hidup? Hal ini terutama masuk akal dalam sebuah budaya yang menganggap kegiatan memandang sebagai sesuatu yang amat penting.

Ambil misal, kenapa Jepang dikenal sebagai “negeri Sakura”. Bukan karena ini negeri satu-satunya tempat Sakura, yang sebetulnya adalah pohon cherry, tumbuh. Tapi, karena di Jepang, bunga Sakura yang hanya mekar dua minggu, amat dirayakan. Setiap musim Sakura, pesta hanami dirayakan di seluruh negeri. Apakah “hanami“? Tak lain, kegiatan menatap bunga (yang selalu berarti, menatap Sakura).

Sambil menatap Sakura, orang-orang Jepang di taman-taman mereka menggelar alas kain, berkumpul sesama teman, kerabat, atau keluarga, bergurau dan bercanda, makan-makan, minum sake dan bir, berpesta. Sembari menatap Sakura, mereka saling mendekatkan diri.

Karena kegiatan memandang, menatap, melihat, dianggap sangat penting di Jepang, tak heran jika negeri ini jadi negeri penghasil kamera terpenting di dunia. Menjadi sebuah stereotipe yang mudah disetujui: turis-turis Jepang menenteng kamera ke mana saja, dan memotret apa saja. Di dalam negeri mereka sendiri, hal itu memang kelaziman. Kamera adalah bagian amat penting dalam kehidupan manusia Jepang modern.

 

Informasi Visual

Adalah seolah alamiah belaka jika orang Jepang menyerap informasi secara visual. Peradaban Jepang dibangun antara lain dibangun oleh aksara Kanji yang diimpor dari Cina. Satu karakter tak melambangkan sebuah bunyi seperti dalam aksara Latin, tapi melambangkan satu atau lebih makna.

Karakter-karakter Kanji itu sendiri lekat dengan budaya visual. Aksara Kanji bersifat ideografis (melambangkan ide) dan piktografis (melambangkan gambar/imaji). Banyak karakter Kanji sebetulnya turunan atau permutasi dari sebuah imaji.

Patung seniman kontemporer di Jalan Marounochi

Contoh, seperti yang saya ambil dari Anndundon.com:

Dengan bangun peradaban berbasis Kanji yang piktografis ini, orang Jepang tentu saja lebih cenderung pada berbagai bentuk komunikasi visual. Seperti kata Frederick Schodt, seorang peneliti manga (komik Jepang) paling otoritatif, yang dikutip oleh Donald Ritchie: “…the Japanese are predisposed to more visual forms of communication owing to their writing system. Calligraphy… might be said to fuse drawing and writing.” (The Image Factory, 2003)

Dan, perhatikanlah dunia kita saat ini. Salah satu ciri paling menonjol dunia kita saat ini adalah: dunia kita semakin visual. Limpahan data dan informasi kini seolah tak bisa lagi tertampung hanya dalam satu moda sistem simbol macam aksara Latin. Teknologi informasi yang semakin cepat memungkinkan bit-bit data yang membentuk gambar bisa tersirkulasi dengan amat cepat.

Informasi bisa dipadatkan, juga dibikin lebih sexy, jika diwujudkan dalam bentuk visual. Animasi, infografis, film, komik, fotografi, seni rupa di ruang publik, street art berupa mural dan graffiti, menjadi moda-moda komunikasi visual yang teramat lazim saat ini. Dalam dunia yang semakin visual ini, tak heran jika produk-produk visual dari Jepang kini mendominasi lanskap budaya pop global.

Seperti kata Donald Ritchie: “The successful and self-perpetuating factory which is Japan’s image enterprise has operated for centuries but it is only now, in this age of instant communication, that it reveals itself as a major industry… As William Gibson, scholar of the Japanese new, has noted, ‘cultural change is essentially technologically driven …the Japanese have been doing it for more than a century now and they really do have a head start on the rest of us.’ ” (The Image Factory, 2003)

 

Antara Tokyo dan Jakarta

Selama di Tokyo, hingga saat balik ke Jakarta Juni 2011 lalu, saya seringkali tergigit oleh banyak ketiadaan di kota asal saya ini. Jangan salah, saya tak sedang mengharapkan Jakarta jadi Tokyo, atau kita jadi Jepang. Saya rasa, kita memang tak perlu menjadi Jepang dan Jakarta tak perlu menjadi Tokyo.

Tapi, ada hal-hal dasar yang perlu ada di kota kita. Transportasi umum sebagai nadi lalulintas kota, jalur pejalan kaki dan sepeda yang memadai, sirkulasi informasi dan barang yang lancar, adalah hal-hal yang layak diharapkan bukan hanya untuk Jakarta, tapi untuk seluruh Indonesia.

Balik ke Jakarta setelah hampir setahun pergi, dari Bandara Soekarno-Hatta ke Jagakarsa, saya melewati jalan Antasari. Tiang-tiang beton pasak jalanan, matahari terang dan terik, debu-debu di tengah banyak bangunan kotor atau ditinggalkan. Saya membatin, betapa buruk wajah Jakarta saat ini.

Saya ingat percakapan saya dengan Mouly Surya (sutradara pemenang Citra untuk filmnya, fiksi.) di Yurakucho, dekat Ginza, November 2010. Waktu itu, ia ikut workshop pembuatan film di Festival Filmex 2010, Tokyo. Mouly bicara betapa ia mendamba bikin film di Tokyo. “Habis,” kata Mouly, “kota ini estetis sekali.” Sementara, kata Mouly, Jakarta sudah sangat “tidak estetis”, karena, “gue sih merasa, Jakarta itu sudah hilang kepribadiannya.”

Bisa dipahami. Mata sinematografis Mouly pasti tergoda sangat untuk membuat film di Tokyo: taruh kamera di mana saja di sudut Tokyo, dan kau niscaya akan dapat gambar sedap! Tapi, saya juga ingat percakapan lain.

Sekitar 2006, saya berbincang dengan Irfan Amalee, punggawa lini Pelangi di penerbit Mizan, yang juga banyak aktif sebagai pembuat dokumenter. Irfan tak merasa dirinya “orang film”, tapi ia aktif menggunakan kamera untuk “perubahan perilaku”.

Ia mencontohkan, bagaimana ia merekam anaknya menangis, lalu memutar rekaman kamera itu untuk berbincang dengan anaknya mengenai polah menangis itu. “Biasanya kan kita tak pernah melihat diri kita sendiri. Nah, dengan kamera, kita bisa dibantu melihat diri kita sendiri, lalu memikirkan bagaimana mengubah diri kita jika diperlukan,” kata Irfan.

Ia pun menerapkan konsep ini untuk merekam, misalnya, muhibah sekolah internasional ke sebuah pesantren di Jawa Barat, dan membincang lewat filmnya, kemungkinan-kemungkinan, seperti istilah Irfan, “breaking down the wall” antara dua dunia tersebut (dunia anak-anak AS dan anak-anak pesantren).

Saya kira, sekaranglah saatnya memberdayakan media visual semacam itu untuk Jakarta. Justru di saat-saat Jakarta sedang buruk rupa kinilah, kita perlu merekamnya banyak-banyak, dan mempertontonkan rekaman-rekaman visual tersebut ke sebanyak mungkin warga.

Apa yang dilakukan oleh Rika Febriyani di Rujak.org lewat rangkaian laporan visual Duduk “Manis” Sepanjang Kota dan Album Kompilasi Menghasrati Halte adalah contoh penggunaan media visual semacam itu. Sayang, Rika masih menggunakan kamera HP dengan resolusi rendah untuk rekaman-rekaman visualnya itu, sehingga sirkulasi dokumentasinya agak terbatas di situs macam Rujak.org atau blog saja.

Padahal, menarik juga jika rekaman-rekaman visual tersebut bisa dicetak jadi foto-foto yang jelas dan tajam, ukuran besar atau setidaknya tak kecil, lalu dipajang di situs-situs yang direkam oleh Rika tersebut. Sehingga warga yang sehari-hari di sana itu dapat mengakses rekaman polah mereka sehari-hari itu, wajah mereka yang terekam kamera itu, membicarakannya, membacanya semoga dengan cara baru.

Dengan media, kita bisa memandang Jakarta dengan cara lain. Tak perlu menunggu Jakarta jadi fotogenik dulu, sebelum para pembuat film mau membuat film tentang Jakarta. Saat ini, toh perkembangan teknologi informasi telah memberi banyak pilihan bekerja dengan media yang bisa jadi murah saja. Kamera digital, atau bahkan sekadar HP saja, bisa jadi cukup, walau tak ada salahnya mencari alat-alat yang lebih ciamik jika ingin hasil optimal.

Justru sekarang saatnya menaruh kamera di jalan Antasari hingga Blok M, merekam salah satu sudut terburuk Jakarta, hingga pembangunan jalan tersebut selesai, lalu menayangkannya ke seluruh warga Jakarta (atau dunia, misalnya lewat Youtube.com atau film dokumenter untuk diedarkan secara internasional). Sambil, misalnya, membingkainya dengan pertanyaan: apa makna jalan buruk rupa itu? Apa makna Jakarta saat ini, yang terbaca dari rekaman-rekaman buruk rupa Jakarta tersebut?

Di Tokyo, saya mengalami euforia akibat ledakan informasi. Di Jakarta, saya mengalami ledakan kekacauan (chaos) pemaknaan dan penataan kota. Tapi, chaos mengandung informasi-informasinya sendiri, bukan? Kita perlu memasuki chaos Jakarta, untuk bisa membaca lebih dalam Jakarta. Dengan begitu, kita masih berharap dan bekerja untuk sebuah Jakarta yang lebih baik. ***

Waktu kedatangan kereta yang amat tepat

No Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


25 Jul 2011

Informal Public Transportion Networks in Three Indonesian Cities

Click here for the report.

The Cities Development Initiative for Asia (CDIA) is a regional initiative established in 2007 by the Asian Development Bank and the Government of Germany, with additional core funding support of the governments of Sweden, Austria and Spain and the Shanghai Municipal Government. The Initiative provides assistance to medium-sized Asian cities to bridge the gap between their development plans and the implementation of their infrastructure investments (see www.cdia.asia) .

In recent months, CDIA has supported the cities of Palembang, Yogyakarta and Surakarta with the preparation of Pre-Feasibility Studies (PFS) for high priority infrastructure investment projects in the Urban Transport sector and we are currently in discussion with various financing agencies to secure funding for the identified investments.

To complement the Pre-Feasibility Studies in these 3 cities, CDIA commissioned a study on how Informal Public Transportation (IPT) offers alternatives to formal transportation systems and how IPT offers an alternative service to people in poverty and serves as a backbone of the informal economy. In doing so, the report describes how IPT improves mobility in cities by complementing formal transportation systems and argues that when IPT providers are given approriate support, local governments can fill gaps in service and extend reach of coverage when public resources as scarce.

We hope this report will be of interest to you and look forward to discussing its’ outcomes.

Best regards,

Joris van Etten

Capacity Development Coordinator/Indonesia Team-Leader

Cities Development Initiative for Asia (CDIA)

Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH

Suite 202-203 Hanston Bldg.

Emerald Avenue, Ortigas Center

Pasig City, 1600 Metro Manila

Philippines

T:   +63-2-6312342

F:   +63-2-6316158

M: +63-9188072917

E:   joris.van-etten@giz.de

W:  http://www.cdia.asia

3 Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


22 Jul 2011

Duduk Manis Sepanjang Kota

Teks dan foto: Rika Febriyani.

“Mari, silahkan duduk” begitu biasanya sambutan tuan rumah. Pada beranda di sekeliling pintu masuk rumah, juga ruang tamu di dalam rumah, lazim tersedia kursi atau bangku, bahkan sofa, untuk para tamu. Iseng-iseng mengibaratkan Jakarta sebagai tuan rumah, dimana tempat duduk bagi tamu?

Tak banyak lho, tempat duduk tersedia untuk sekitar 8 juta warga di sepanjang kota ini. Maka, ketika terduduk pada bangku dari batu dan semen, pose dan senyum bapak ini bisa meluncur begitu saja. Bangku ini ada di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, tepatnya di bawah jalan layang Benhil – Karet. Salah satu tempat dari berkilometer panjang jalanan nyaris tanpa ruang duduk. (Foto 1)

Gerak dan posisi tubuh agaknya tak bisa mungkir dari kebutuhan untuk duduk. Tanpa tempat duduk, bukan lalu warga melulu berdiri. Di sepanjang kota, pinggiran pot dan batu hias jadi salah satu pilihan tempat duduk warga. (Foto 2 & Foto 3)

Bahkan di stasiun dan terminal, pintu masuk Jakarta, tempat duduk entah lari kemana. Duduk melantai di sekitar loket Stasiun Kereta Api Gambir, juga terminal-terminal bus, adalah pemandangan keseharian. (Foto 4 & Foto 5)

Pilihan lain untuk duduk, ditemukan para pramuniaga, pada pinggir trotoar. Saat jam istirahat, di penggal jalan antara pusat perbelanjaan Grand Indonesia dan Plaza Indonesia, mereka terduduk di sana, menikmati aneka kudapan ringan. Para pramuniaga ini mencari nafkah di Jakarta, dan karenanya hidup di sini. Kalau mereka dibilang tuan rumah, lha, dimana tamu-nya akan duduk?  (Foto 6)

Tentu, jangan lupa pada halte bus. Tempat ini paling mungkin diharapkan untuk mendudukkan tubuh, terutama kalau perlu mengambil jeda dalam perjalanan. Tapi, itu kalau belum diduduki orang lain. (Foto 7 & Foto 8)

Dan, rasa girang pun tak terhindar, ketika melintas Banjir Kanal Barat, Cideng, Jakarta Barat. Dengan jeda beberapa ratus meter, di sepanjang jalan tepian aliran air, tersedia ruang-ruang duduk, bukan saja tempat duduk. Ruang yang memungkinkan siapa saja untuk duduk. Selain lampu dan dihiasi tanaman, salah satu diantaranya juga dilengkapi televisi, dan menepatkan posisinya dengan telepon umum.

Ah, bahkan di seputaran Tugu Selamat Datang saja tak ada tempat seperti ini. (Foto 9) ***

5 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |