Rujak Answers


04 Mar 2015

Kampung Beting, Pontianak, Kalimantan Barat

 

 

Kampung Beting

Kampung Beting

 

Tulisan ini disusun oleh Indah Kartika Sari (dosen Arsitektur Universitas Tanjung Pura, Pontianak). Tulisan ini dipresentasikan dan didiskusikan dalam Diskusi Kampung yang diadakan oleh RCUS bertempat di Bumi Pemuda Rahayu pada  29-30 Januari 2015. Diskusi tersebut diikuti oleh peneliti, komunitas dan lembaga yang selama ini bekerja bersama dan untuk kampung seperti Kampungnesia, Program Arsitektur Kampung UNS,  Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Tanjung Pura, ArkomJogja, Paguyuban Kalijawi, Combine Resource Institution,  Kunci Cultural Studies, Ayorek Surabaya, gerobak Hysteria Semarang, dll.

Salah satu wujud arsitektur lokal yang masih eksis di wilayah nusantara dan masih menyimpan karakter arsitektur lokal di dalamnya adalah Kampung. Keunikan kampung di Kalimantan Barat terletak pada  sistem keterhubungan antar ruang tersebut. Setiap kampung-kampung tersebut memiliki elemen arsitektur yang sama, baik penempatan maupun fungsi-fungsinya. Konfigurasi ruang dalam kampung membentuk karakter dalam permukiman di Kalimantan Barat.

 

Kondisi Kampung Beting Kota Pontianak

Kondisi Kampung Beting Kota Pontianak

 

Kampung beting merupakan kampung pertama setelah dibangunnya istana Kadariah yaitu istana kerajaan Pontianak sebagai pusat kerajaan di masa lampau, kampung ini memiliki elemen arsitektur berupa langgar (elemen peribadatan), kopol (dermaga), tiga buah rumah besa’ (tempat bermusyawarah) dari tiga tokoh suku berbeda, rumah balai (elemen pemerintahan) dan makam. Bentuk tatanan dari konfigurasi kampung dipandang sebagai satu kesatuan sistem yang terdiri atas stylistic system, physical system dan spatial system. Susunan dari sistem tersebut terdiri atas elemen-elemen atau unsur-unsur pembentuk lingkungan yang terwujud di dalam suatu kawasan dan menjadi penunjang aktivitas perilaku kehidupan manusia. Latar belakang sosial-kultural dan tingkat adaptasi masyarakat cenderung beragam. Elemen-elemen dan tatanannya menjadi artefak dari cerminan karakter wujud kebudayaan dalam permukiman tersebut. (Sari, 2013, 2014)

Kampung Beting yang berdekatan dengan Kerajaan Pontianak

Kampung Beting yang berdekatan dengan Kerajaan Pontianak

 

Posisi Kampung, berada tepat dibelakang mesjid dan posisi mesjid sejajar dengan letak istana kerajaan Pontianak. Letak istana tersebut berada di pertigaan sungai Kapuas dan sungai Landak. Pada masa lampau jalur sungai ini digunakan sebagai akses utama dan merupakan jalur perdagangan yang dilalui dari berbagai wilayah.

 

Elemen-elemen arsitektur yang menjadi karakter Kampung Beting tahun 1771

Elemen-elemen arsitektur yang menjadi karakter Kampung Beting tahun 1771

 

Keunikan kampung beting yang merupakan kampung pertama kerajaan Pontianak yaitu mengenai elemen-elemen arsitekturnya. Hal tersebut terlihat memiliki karakter jika dilihat dari stylistic system, physical system dan spatial systemnya. Dikutip dari Habraken, 1976 pada dasarnya untuk mengetahui karakter bentuk arsitektur dapat dilakukan dengan tiga cara yang diantaranya:

  1. Stylistic System, berhubungan dengan tampilan bangunan misalnya bentuk bangunan.
  2. Physical System, mengidentifikasi melalui karakteristik komponennya yaitu bahan dan struktur elemen pembentuk ruang.
  3. Spatial System, mengidentifikasi karakter ruang dan bagaimana hubungan antara ruang-ruang tersebut orientasi maupun hirarki.

 

Hirarki Kampung Beting

Hirarki Kampung Beting

 

Bangunan kampung terdiri atas bangunan rumah tinggal dengan bentuk rumah panggung. Pada masa lampau terdapat rumah lanting, rumah ini berupa rumah tinggal yang terletak diatas air. namun kini rumah lanting tersebut telah berubah bentuk menjadi rumah panggung. Bahan dan struktur masih menggunakan bahan kayu. Orientasi bangunan didalam kampung juga memiliki karakter tersendiri. Hirarki bangunan terlihat jelas yakni Mesjid Jami merupakan bangunan tertinggi di kampung tersebut dan bangunan tokoh masyarakat lebih tinggi dari bangunan rakyat.

 

Rumah Panggung Kampung Beting

Rumah Panggung Kampung Beting

 

Rumah Panggung didalam kampung memiliki tiga tipe rumah. Tipe rumah menunjukkan kasta dari penghuni rumah. Tipe tersebut diantaranya tipe rumah Potong Godang, tipe rumah potong kawat dan tipe rumah potong limas. Tipe rumah potong limas biasanya ditinggali oleh tokoh masyarakat yang berkaitan dengan kerajaan.

Rumah Lanting Kampung Beting

Rumah Lanting Kampung Beting

 

Rumah lanting merupakan rumah yang ditinggali rakyat. Pada masa lalu, mereka bekerja sebagai pengawal kerajaan. Rumah ini terletak diatas air dan balok-balok kayu sebagai media apung bangunan tersebut. Hasyim (1999) memaparkan bahwa walaupun rumah lanting tidak dapat lagi ditemukan di Kampung Beting, namun jejak fisik rumah lanting masih dapat dijumpai dengan masih banyaknya batang-batang kayu besar yang terpendam di dalam lapisan lumpur. Perubahan hunian rumah lanting yang awalnya bersifat sementara kemudian menjadi rumah panggung bersifat permanen menyebabkan terjadinya perubahaan konstruksi bangunan. Namun di Kota lain di Kalimantan Barat masih dapat dijumpai rumah lanting.

(a) jalan gertak di Kampung Beting (b) Posisi Jalan gertak terhadap rumah

(a) jalan gertak di Kampung Beting (b) Posisi Jalan gertak terhadap rumah

 

Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang sebagian besar pulaunya dilalui jalur sungai dan ribuan anak-anak sungai. Keadaan geografis ini menjadikan Kota  Pontianak sering disebut sebagai kota seribu parit. Menurut Hassanudin, dkk (2000:21) bentuk awal ibu kota di Kalimantan Barat, Kota Pontianak dipengaruhi oleh letak geografis dipersimpangan sungai yakni sungai Landak dan sungai Kapuas. Jalur ini merupakan jalur yang mudah dalam menyelenggarakan transportasi dan komunikasi disekitar Kota Pontianak. Bagi suatu kerajaan, kondisi tersebut merefleksikan geliat taktis dan strategis dari gaung kekuatan politik, sosial ekonomi, kebudayaan dan militernya. Akibatnya Kota Pontianak termasuk kerajaan terpenting di wilayah Kalimantan. Kampung pertama yang ditempatkan didaerah delta sungai Kapuas dan sungai Landak juga dipilih karena memiliki beberapa pertimbangan strategi-strategi yang mempengaruhi perkembangan setiap wilayah.

Perkembangan Kota Pontianak diawali dari sebuah ide yang mempertimbangkan keselarasan dan keseimbangan antara potensi alam, potensi masyarakat heterogen (plural dan multikultural). Namun kini, tidak terjadi perubahan kondisi fisik arsitektur kawasan tersebut diantaranya fungsi bangunan seperti rumah Besa’ maupun rumah Balai sudah tidak difungsikan lagi. Keadaan ini dimulai semenjak bergesernya pemerintahan kesultanan (kerajaan) menjadi pemerintahan republik. Perubahan sistem kampung menjadi kelurahan memberikan dampak pada pengaturan kewenangan terhadap status sosial didalam kampung beting, yang awalnya sistem pemberian tanah berasal dari anugerah sultan namun kini melewati sistem jual beli ataupun sistem waris. Bentuk rumah yang awalnya berukuran besar karena memiliki 3 ruang utama (rumah induk, pelamtaran, rumah dapo’) kini terpisah menjadi beberapa bagian dan beberapa hadapan/orientasi. Jembatan yang awalnya berbentuk lengkung kini menjadi lurus karena perkembangan teknologi transportasi. Dahulunya masyarakat menggunakan sampan tapi sekarang masyarakat menggunakan motor diatas gertas sehingga memerlukan jembatan yang datar. Hal ini memberikan pengaruh, pada sore hari disaat air pasang, pengguna sampan harus menunduk dibawah jembatan.

Elemen-elemen arsitektur yang menjadi karakter Kampung Beting pada masa Republik

Elemen-elemen arsitektur yang menjadi karakter Kampung Beting pada masa Republik

 

Polisi Kepung Kampung Beting

Polisi Kepung Kampung Beting

 

Perubahan sistem pemerintahan memberikan dampak pada kampung ini. Pada masa lalu sebagian besar masyarakat kampung Beting merupakan tokoh masyarakat dan prajurit kerajaan. Namun perubahan sistem kesultanan menjadi kepresidenan membuat masyarakat setempat mengalami penurunan perekonomian. Mereka yang awalnya merupakan prajurit kerajaan menjadi pengangguran. Kondisi ini diperparah dengan masuknya kriminalitas didalam kawasan. Pengeredaran Narkoba didalam kampung membuat kampung bersejarah yang awalnya menjadi saksi sejarah perkembangan kota kini menjadi saksi bisu rusaknya anak bangsa.

Mirisnya keadaan ini membuat beberapa remaja maupun tokoh-tokoh masyarakat di Kota Pontianak membuat suatu gebrakan agar dapat mengangkat kembali nilai kampung beting.  Kegiatan-kegiatan kreatif ini diharapkan dapat mengurangi paradigma negatif yang berkembang dikampung tersebut.

 

Beting Sreet Art untuk Mengangkat Nilai Kampung Beting

Beting Sreet Art untuk Mengangkat Nilai Kampung Beting

 

 

 

Daftar Pustaka

Hasanuddin, Bambang Hendrata S.P, Pembayun Sulistyorini, 2000. Pontianak 1771-1900 Suatu Tinjauan Sejarah Sosial Ekonomi. Romeo Grafika Pontianak.

Habraken, N.J. 1976; Variations: The Systematic Design of Supports; MIT Cambridge; Massachusetts

Sari, Indah Kartika, 2013a. Perubahan Arsitektur Permukiman Kampung Beting Kota Pontianak. Thesis Program of Magister. Yogjakarta: University of Gadjahmada. (Unpublished).

______________, 2013b. The Changes of Settlement Architecture Beting Vilage Pontianak City.

National Journal of space#1 Penataan Ruang Kearifan Lokal dalam Pembangunan Berkelanjutan. Bali: University of Hindu Indonesia.

_____________  , 2014. The Changes of characteristic Settlement Architecture Beting Vilage

Pontianak City. Journal of Architecture Langkau Betang Volume 1 No.1.Pontianak: University of Tanjungpura.

www.saewad.blogspot.com

www.beritakalimantan.co

www.bloggerborneo.com

1 Comment »

Topics: , , , , , , , , , | Agent of Change: none |


13 Jan 2015

UNDANGAN PROPOSAL: Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan

Keterangan dan formulir bisa diunduh disini.

poster horizontal

Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan

Untuk kegiatan kesenian oleh perorangan atau organisasi yang bekerja dengan isu-isu lingkungan di Indonesia.

Diselenggarakan oleh Rujak Center for Urban Studies dan IndoArtNow

 

Jadwal:

Penerimaan Proposal           : 1 Februari – 20 Maret 2015

Rapat Panel Seleksi               : 27-28 Maret 2015

Pengumuman                                    : 8 April 2015

Kegiatan                                 : 8 April 2015 – 31 Desember 2016

 

Panel Seleksi terdiri dari

-       Ayu Utami (Sastrawan, Jakarta)

-       Gustaff Harriman Iskandar (Pegiat budaya,  Common Room, Bandung)

-       Nur Hidayati (Pegiat keadilan lingkungan, Kepala Departemen Advokasi, Eksekutif Nasional WALHI 2012-2016, Jakarta)

-       Mella Jaarsma (Seniman, Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta)

 

Ketentuan:

-       Dana dapat digunakan untuk antara lain (tidak terbatas pada): biaya perjalanan, kebutuhan sehari-hari (stipendium), residensi di dalam wilayah Republik Indonesia, biaya proses, biaya produksi, pameran atau peristiwa penyajian lainnya, termasuk diskusi/seminar/lokakarya/ dan penerbitan online/offline.

-       Dana yang dapat diminta maksimal 100 juta rupiah per proposal.

-       Total proposal yang akan didanai maksimal 10.

-       Untuk proposal yang masuk dalam daftar-pendek, ada kemungkinan wawancara melalui telepon atau skype pada tanggal 27 Maret – 7 April 2015. (Diharapkan kesiapan para pengaju proposal pada periode tersebut)

 

Formulir Terlampir

- Narasi Proposal

- Riwayat Hidup

- Rencana Anggaran

 

Proposal dikirimkan hanya melalui email ke:

[email protected]

Sekretariat Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan:

u.p. Edhis Subhana

Rujak Center for Urban Studies

Telpon/Fax.: 021-31906809

 

 

4 Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


13 Dec 2014

Mengintip Ekspedisi Liwuto Pasi

Sebagian proses dan hasil Ekspedisi Liwuto Pasi 15-30 November yang lalu.

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


23 Jun 2014

Rujak dalam 1 m2

Rujak dalam 1 m2

Rujak dalam 1 m2

 

Rujak Center for Urban Studies menghadirkan profil lembaga dengan tajuk “Rujak dalam 1 m2″. Dalam versi cetaknya, profil ini dicetak dalam satu lembar kain berukuran 1 m2. Profil ini berisikan kegiatan/program yang dikerjakan Rujak selama empat tahun terakhir. Dalam profil, ada dua poros yang menjadi prinsip kerja Rujak yaitu  ”Produksi Bersama Pengetahuan” dan “Proses Perubahan”.

Rujak percaya bahwa perubahan harus diawali dengan produksi pengetahuan secara bersama dan menjadikan pengetahuan tersebut menjadi dasar perubahan di level kebijakan.

Dalam profil, dimuat keterangan tentang program, kegiatan, produk program, dan mitra kerja Rujak di mana informasi tambahan diberikan dalam bentuk QR code.

Profil ini dibuat bekerjasama dengan Ahmett Salina dan didukung oleh Japan Foundation

 

 

 

 

 

No Comments »

Topics: , , , , , , , , , , , , | Agent of Change: none |


11 Nov 2013

Komik Workshop Kreativitas dan Kesiagaan Bencana

8 bw

13 bw

 

 

Prihatmoko Catur atau lebih dikenal sebagai Moki membantu Rujak mendokumentasikan Workshop Kreativitas dan Kesiagaan Bencana yang diadakan oleh Rujak di Bumi Pemuda Rahayu pada  31 Agustus – 2 September 2013.

Untuk membaca komik seutuhnya dan mendapatkan materi workshop, silahkan diunduh di link berikut ini:

https://www.dropbox.com/sh/qh8a2bt6c7pizn9/jL929zYl2D

 

 

No Comments »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


11 Oct 2013

Yang Terpilih: Residensi BPR 2013

BPR_logo7

Setelah melalui dua kali “open call” karena salah satu peserta yang terpilih pada kesempatan pertama mengundurkan diri, maka akhirnya terpilih 5 residen berikut untuk masa 17 Oktober – 17 Desember 2013:

Ishack Sonlay, Kupang, penulis.

Wukir Suryadi, Yogyakarta, pemusik (untuk periode 17 November – 17 Desember)

Sumarno Sandiarjo, Bandung, fotografer.

Wahyu Utami Wati, Wonogiri, videografer

Lintang Rembulan, Sala, arsitek.

 

Rujak Center for Urban Studies mengucapkan terima kasih kepada semua peminat yang telah maupun belum mengirimkan proposalnya, serta semua pihak yang telah membantu menyebarkan informasi residensi ini.

Kepada yang tidak terpilih, kami berharap akan ada kesempatan berikut. Kami harus memilih hanya lima yang terbaik dari yang melamar karena keterbatasan sumber daya.

Kepada yang terpilih, kami ucapkan selamat dan sampai jumpa tanggal 17 Oktober di Bumi Pemuda Rahayu.

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


07 Oct 2013

UNDANGAN RESIDENSI: Masih Terbuka Hingga 10/10/13

BPR_logo7

 

UNDANGAN RESIDENSI ini masih terbuka. Lamaran MASIH terbuka hingga HARI KAMIS, TANGGAL 10 OKTOBER 2013.

Masih tersedia satu tempat.

 

Rujak Center for Urban Studies (RCUS) mengundang teman-teman seniman/penulis/peneliti/arsitek melamar untuk program residensi di pusat pembelajaran kelestarian Bumi Pemuda Rahayu di Desa Muntuk, Dlingo, D.I. Yogyakarta.

Tengggat: 10 Oktober 2013. Masa Residensi: 17 Oktober-17 Desember 2013.

Informasi selengkapnya di:

https://www.dropbox.com/s/023udl8bg55ozhl/bpr-residensi-2013_finale.pdf

1 Comment »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


26 Sep 2013

Residensi Bumi Pemuda Rahayu 2013: Yang Terpilih

BPR_logo7

Rujak Center for Urban Studies mengucapkan terima kasih kepada semua 19 pelamar program residensi di Bumi Pemuda Rahayu.

Pada tanggal 22 September 2013, Tim Seleksi yang terdiri dari Abduh Aziz (Pembuat Film, Ketua Koalisi Seni Indonesia), Antariksa (Kunci Cultural Studies Center), Lilik Rahmad Ahmadi (Arsitek Komunitas Yogya), Kristi Monfries (Manajer Program Seni BPR) dan Dian Tri Irawaty (Manajer Program RCUS), telah memutuskan lima pesertaprogram residensi tersebut, yaitu:

 

Ishack Sonlay, NTT, penulis.

Wukir Suryadi, Yogyakarta, pemusik.

Wiwik Sriwiningsih, Ternate, penulis.

Sumarno Sandiarjo, Bandung, fotografer.

Wahyu Utami Wati, Wonogiri, videografer

 

Karena keterbatasannya, RCUS tidak mengirimkan kabar kepada pelamar yang tidak terpilih.

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


21 May 2013

Kampung Bustaman?

Oleh Anastasia (Ami) Dwirahmi

DSCN5366

20121214_164216

Sejak bulan Oktober 2012, tim UKD Semarang yang menyebut diri sebagai UGD (Unidentifid Group Discussion) telah menjalankan program di sebuah kampung di wilayah Semarang Tengah bernama Kampung Bustaman. Kampung ini terletak di antara situs penting Kota Semarang yaitu : Pecinan, Kota Lama dan Pasar Johar. Ketiganya mungkin sudah banyak kita dengar, namun Bustaman belum banyak yang mengenal.

Kampung Bustaman adalah sebuah kampung yang terdiri hanya dari 2 RT saja, dan dihuni oleh kurang lebih 90 keluarga. Ada 3 jalan masuk menuju kampung ini, dari Jalan MT. Haryono, Petudungan atau lewat Pekojan. Walaupun memiliki beberapa pintu, kampung ini senantiasa aman. Maka kata Bustaman sering juga dipelesetkan menjadi ‘Tembus Tapi Aman’.

Mendengar nama Bustaman, kita pasti teringat pada seorang tokoh seni lukis modern kebanggaan Indonesia, Raden Saleh. Ya, Raden Saleh Syarif Bustam memang memiliki kaitan dengan kampung ini secara tidak langsung. Kakek buyut dari Raden Saleh, yaitu Kyai Kertoboso Bustam, adalah orang yang mendirikan kampung ini. Kyai Bustam memulai kampung ini dengan membangun sebuah sumur, tanah kampung ini beliau dapatkan dari pemerintah Belanda atas jasanya menghentikan pemberontakan orang Jawa dan Cina. Kyai Bustam juga pintar menerjemahkan Bahasa Belanda, sehingga ia sangat disayang oleh pemerintah kolonial pada waktu itu.

Kebanggaan warga Bustaman akan sang Kyai sangat terasa. Walaupun begitu, ternyata tidak semua dari mereka sadar akan betapa berharganya ‘warisan’ yang mereka miliki. Tim UGD bersama beberapa komunitas berusaha untuk mengajak warga mengangkat kembali sejarah mereka demi kelestarian kisah dan kampung ini sendiri.

Selain Kyai Bustam, kampung kecil ini juga memiliki ‘warisan’ lain yaitu tradisi berdagang kambing. Perdagangan kambing sudah ada di Bustaman sejak berpuluh tahun yang lalu, bahkan Bustaman menjadi salah satu sentra pemotongan kambing di Semarang. Selain dagingnya, beberapa warga Bustaman juga membuat bumbu gule dan tengkleng, namun tidak ada yang berjualan masakan daging kambing siap makan. Pamor Bustaman sebagai pusat kambing membuat nama kampung ini diambil sebagai nama warung-warung gule di seantero Kota Semarang, walaupun yang berjualan sebenarnya bukan orang Bustaman.

Sejak tengah malam sampai menjelang sore, kegiatan yang berkaitan dengan pemotongan dan pendistribusian daging kambing terjadi di kampung ini. Mulai dari datangnya kambing hidup, disembelih, dibersihkan, dipotong menjadi bagian-bagian kecil, sampai diambil oleh para pedagang gule/tengkleng semua bisa kita lihat di Bustaman. Ditambah lagi dengan aroma bumbu gule yang sedang dimasak. Saat ini di Bustaman hanya tinggal tersisa 2 pedagang kambing yang masih aktif, yaitu Haji Toni dan Bapak Yusuf.  Sebagian pedagang lainnya sudah gulung tikar karena berbagai macam hal.

Bustaman adalah salah satu kampung bersejarah di Kota Semarang yang belum banyak diketahui orang. Di tengah perkembangan Kota Semarang, kampung-kampung seperti Bustaman ini sering kali dilupakan. Padahal jika dilihat dari kisahnya, Kampung Bustaman bisa menjadi salah satu aset sejarah dan budaya dari Kota Semarang.

Selamat datang di Bustaman!

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


30 Jan 2013

#RelawanKota untuk Jakarta

IMG_4996

Pada akhir November 2012, beberapa orang berkumpul di balai warga di Muara Baru, Jakarta Utara. Mereka tampak asyik berdiskusi tentang isu kemiskinan kota bersama beberapa organisasi yang bergerak di isu tersebut. Di antara wajah yang tengah semangat berdiskusi ada kaum muda  yang tergabung dalam program #RelawanKota yang digagas oleh Rujak sejak awal November 2012.

IMG_5035

 

Untuk kegiatan di atas, #RelawanKota tergabung dalam Tim Penataan Kampung Partisipatif.  Bersama warga dan sejumlah organisasi seperti Urban Poor Consortium (UPC), Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), dan Arsitek Komunitas (Arkom), #RelawanKota merancang konsep alternatif dalam penataan kampung miskin di Jakarta. Cita-cita besar mereka adalah merancang penataan kampung, secara partisipatif, dalam skala kota Jakarta.

20121201_140543

Seminggu setelah diskusi pengenalan isu tentang kemiskinan kota, tim Penataan Kampung Partisipatif terlibat dalam workshop dua hari di awal Desember bersama perwakilan warga dari kampung miskin di berbagai wilayah Jakarta seperti Muara Baru, Walang, Papanggo, Kebun Tebu, Rawa Malang, dan Kampung Melayu yang tergabung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK). Dalam workshop dua hari tersebut, #RelawanKota bersama Arkom dan UPC memfasilitasi proses pra pemetaan yang membahas  tentang peta fisik kampung, masalah kampung, dan impian warga terhadap penataan kampung nya ke depan.

 

20121201_110326

Tim penataan kampung partisipatif merupakan bagian dari Program Rujak bernama #RelawanKota. Tujuan Rujak membuka program #RelawanKota adalah membuka kesempatan pada warga Jakarta untuk berkontribusi dalam akumulasi pengetahuan perkotaan. Rujak selama ini belajar bahwa pengetahuan perkotaan ada dimana saja, dan termasuk ada di dalam warga kota. Warga kota yang beragam membentuk wajah kota dan pengetahuan itu sendiri.

Kegiatan #RelawanKota terbuka untuk umur berapapun dan latar belakang apapun. Peserta #RelawanKota yang saat ini terlibat dalam beragam kegiatan di Rujak berasal dari latar belakang berbeda. Ada mahasiswa, perawat, pekerja kantoran, pekerja lepas, PNS, dan lain-lain.

Dalam program Relawan Kota ada kegiatan yang mengharuskan kehadiran secara fisik, tapi ada juga kegiatan yang bisa dilakukan dari jarak jauh. Semua produksi yang dihasilkan dari kegiatan ini akan berlisensi Creative Commons ( CC BY (By Attribution) SA (Shared-Alike) NC (Non Commercial), yang artinya produk ini bebas dipakai orang lain untuk bentuk media dan kegiatan serupa, asalkan menyebutkan pembuat/asal dan bertujuan untuk Non Komersial. Dengan ini teman-teman sekalian menjadi penyebar pengetahuan (secara bebas tanpa copyright) kepada orang banyak.

Kegiatan #RelawanKota yang Rujak tawarkan adalah sebagai berikut:

  1. Diskusi Kota

Deskripsi : mengelola diskusi kota yang diadakan secara rutin berupa Program SabtuKota yang diadakan di Institut Francais Indonesia (IFI) dan Diskusi Tematik di Goethe Institut. #RelawanKota akan mengelelola kegiatan yang dibagi menjadi tim reportase, Live Tweet, Dokumentasi dan Moderator acara.

Berikut adalah salah satu reportase diskusi SabtuKota.

2.    Penataan Kampung Partisipatif

Deskripsi : terlibat dalam proses penataan kampung partisipatif seperti proses pemetaan kampung, perencanaan kampung dan pelaksanaan penataan kampung. Program ini bekerjasama dengan Arsitek Komunitas (Arkom), Urban Poor Consortium (UPC), Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK).

3.    Perpustakaan Rujak 

Deskripsi: Mengklasifikasikan buku baik versi elektronik maupun versi buku, video dan DVD; pembuatan katalog perpustakaan.  Keterangan: Kegiatan ini memerlukan kehadiran fisik secara rutin minimal 1xseminggu. Harap membawa laptop. Keuntungan: Tiap relawan Perpustakaan Rujak mendapatkan keuntungan untuk meminjam buku-buku di Perpustakaan Rujak selama menjadi #RelawanKota di bidang ini.

4.    KlikJKT

Deskripsi: mengasuh dan menyunting isi laporan warga yang masuk via KLIKJKT, serta menyampaikan laporan reguler kepada Gubernur, Wakil Gubernur dan SKPD terkait. KlikJKT saat ini juga dikirmkan langsung kepada Pemprov DKI Jakarta, karenanya butuh banyak relawan untuk mengapprove laporan yang setiap saat masuk dari berbagai media.

Keterangan: KlikJKT tidak membutuhkan kehadiran fisik di Jakarta, hanya perlu training 1 kali untuk menggunakan Ushaidi.

5.    ResensiKota

Deskripsi: memberikan resensi terhadap buku-buku perkotaan ataupun kliping-kliping yang telah dikumpulkan oleh Tim #ManajemenPengetahuanPerkotaan. Relawan diharapkan membaca buku-buku ataupun kliping dengan topik tertentu dan kemudian memberikan resensi terhadap buku tersebut. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyebarkan pengetahuan perkotaan yang ada di dalam buku-buku dimana buku-buku tersebut tidak mungkin dibaca oleh semua orang. Resensi buku akan tersedia dalam bentuk Wikipedia di wiki.rujak.org ataupun di Wikipedia Indonesia.

Berikut adalah salah satu contoh resensi kota yang dibuat oleh #RelawanKota

6.    Manajemen Pengetahuan Perkotaan

Deskripsi: melakukan kliping elektronik terhadap topik-topik perkotaan tertentu. Kliping tersebut akan tersedia dan diakses untuk umum. Dan akan diinformasikan secara berkala melalui media sosial dan situs. Tujuannya: Untuk membantu masyarakat untuk Melawan Lupa terhadap kejadian perkotaan.

Keterangan: Kegiatan ini tidak memerlukan kehadiran fisik dan bisa dilakukan dimanapun, hanya memerlukan internet.

 7.    InfoKOTA

Deskripsi: membuat infografis tentang berbagai masalah perkotaan dan kebijakan perkotaan. Kegiatan ini akan menerjemahkan berbagai macam kerumitan peraturan dan masalah perkotaan kedalam infografis, dengan harapan semakin banyak warga-warga Jakarta dapat memahami isu perkotaan, sehingga meningkatkan pengetahuan dan memperbaiki kualitas partisipasi perkotaan. Hasil dari kegiatan ini akan berlisensi CC-BY-SA-NC.

Keterangan: Kegiatan ini tidak memerlukan kehadiran fisik dan bisa dilakukan dimanapun. egiatan ini memerlukan kemampuan untuk menggunakan software desain. Contoh yang pernah dibuat dan dimuat di website Rujak adalah infografis tentang transportasi.

8.    Pelatih Tata Ruang

Deskripsi: memberikan pelatihan kepada warga sebanyak-banyaknya tentang dasar-dasar pengetahuan tata ruang. #RelawanKota disini harus mendapatkan pelatihan sebanyak 2 kali sebelum bisa melatih sesama warga. Keterangan: Peminat disini diharapkan untuk melatih warga di lingkungan sekitarnya (rumah, kantor, sekolah, dll), dengan bekal toolkits tata ruang untuk kita. Kegiatan ini hanya berlaku utk domisil Jakarta. Saat ini Rujak telah melatih ratusan orang, dari berbagai kalangan. Harapan kami adalah agar banyak orang dapat memahami tata ruang.

Bagi warga Jakarta lainnya yang tertarik untuk bergabung dalam program #RelawanKota, dapat menghubungi Rujak melalui [email protected]

 

 

1 Comment »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |