Rujak Answers


15 Aug 2010

Dimana Beribadah di Tengah Hiruk-pikuk Ibukota?

Ada mushola di bawah jembatan (fly-over) Slipi, seberang Slipi Jaya, pada sisi Jalan Katamso Dharmokusumo, yg dulu disebut Jalan Tali. Fly-over ini ternyata disebut “Fly-over Nelimurni”.

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


09 Jul 2010

Di Jakarta Bisa?

Highway voids used for open space.

Since 1986 a large strip of land was left with only the bones of what was to be the Lima, Peru’s railway for an electric train. The space remained unchanged, a ghostly construction site for the train that never happened, until the Spanish collective Basurama came up with a way to turn the abondoned concrete collumns and once forgotten urban space into an amenity for the people. And then earlier this year, the Ghost Train Amusement Park was born.

RUS_Lima_columpios_5-420x629.jpg

Basurama, from the word basura meaning trash, has been working with trash for over a decade throughout Latin America and describes themselves as “a forum for discussion and reflection on trash, waste and reuse in all its formats and possible meanings. Our aim is to study those phenomena inherent in the massive production of real and virtual trash in the consumer society, providing points of view on the subject that might generate new thoughts and attitudes. We find gaps in these processes of production and consume that not only raise questions about the way we manage our resources but also about the way we think, we work, we perceive reality.”

RUS_Lima_toro_2-420x280.jpg

RUS_Lima_tirolina_2-420x629.jpg

RUS_Lima_columpios_2-420x280.jpg

RUS_Lima_afiches_1-420x280.jpg

The bright and colorful park features recycled tires transformed into multi-person swinging contraptions and climbing structures along with lines of swings and a canopy line for kids to zip along from the unfinished structure through the color-wrapped concrete collumns.

Sumber (Via Nefa Firman) http://www.urban-logic.com/highway-voids-used-for-open-space/

2 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


05 Jul 2010

Bagaimana Keadaan Jalan Thamrin, Jalan Utama Kita?

Ada tanda petunjuk di mana mesjid berada. Pos Polisi “Go Green” menggunakan tenaga listrik surya dan sepeda. Kemana perginya pohon-pohon?.

Ini lobang-lobang dimana dulu terdapat pohon besar. Diganti dengan yg di tepian jalan. Alasan: menutupi fasade bangunan, dan supaya semua pohon sederet (di tepian luar kaki-lima)

Pos Polisi GoGreen di Bunderan HI

Pos Polisi hijau: listrik tenaga surya, dan sepeda!

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


14 Jun 2010

Sabun Alami: Rarak

Sudah ribuan tahun orang di berbagai belahan dunia menggunakan sabun alami dari “buah sabun”, atau soap nut atau sapindus. Di Asia Tenggara dikenal jenis Sapindus rarak DC.

Informasi tentang rarak atau lerak bisa diperoleh di sini.

Lerak di Jawa masih sangat lazim digunakan untuk mencuci kain batik. Informasi dari Widya Wijayanti di Semarang:  sebotol lerak cair bervolume 250 cc dijual Rp.17.000. Untuk 5 lembar batik digunakan kira-kira sepersepuluhnya,  20-30 cc. Untuk pemakaian sehari-hari, rasanya dapat diencerkan lagi.

Selain itu lerak dalam bentuk buah juga masih sangat lazim digunakan untuk membersihkan (perhiasan) emas, terutama di toko-toko mas di pasar-pasar, di pasar di samping dan belakang Mesid Raya Baiturrachman di kota Banda Aceh, misalnya.

Produk komersial sekarang mulai banyak dijual juga untuk mandi dan mencuci tangan. Harap hat hati dalam penggunaan, ada yang bila mengenai mata dapat menimbulkan rasa pedas yang perih dan bertahan lama, mungkin karena campuran tertentu.

Jadi kalau kita kembali ke sapu tangan, sehingga tidak menggunakan kertas tissue dan mencuci sapu tangan dengan sabun alami ini, kita bukan saja menjadi lebih keren dan gaya, kita juga menyelamatkan lingkungan dua kali lebih baik daripada sekedar tidak pakai tissue tapi mencuci dengan detergent.

8 Comments »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


11 Jun 2010

Mengapa atap ini beda-beda warnanya?

Mengapa atap ini beda-beda warnanya? Cikini 10 Juni 2010

Blok “rumah-toko” di Jalan Cikini Raya ini dibangun bersamaan dengan pengembangan kawasan menteng sebagai hunian di awal abad ke-20. Pada tiap-tiap kavling, masing-masing unit yang di lantai atas dan yang di lantai bawah memiliki pintu masuk tersendiri. Jadi yang lantai bawah dapat menjadi toko dan yang di lantai atas dapat menjadi apartemen dengan akses terpisah.  Tangga menuju ke lantai atas langsung dapat dicapai dari kaki-lima (trotoir) tanpa harus melewati unit yang di lantai bawah.

Uniknya lagi, di belakang blok ini ada bangunan satu lantai yang dipisahkan oleh jalan-pelayanan dengan blok yang di depan ini. Tipologi seperti ini memungkinkan pemilik unit menjadikan lantai bawah sebagai toko, dengan di belakangnya ada unit lagi untuk gudang atau tempat tinggal pekerja. Bisa juga kepemilikan masing-masing unit ini (di lantai atas, bawah dan belakang) berbeda tanpa saling mengganggu.

Tipologi yang persis sama pernah saya lihat di Pekanbaru. Saya duga ada juga di Maliboro, Jogyakarta, kalau belum dibongkar, dan di kota-kota besar lain yang mengalami pengembangan di awal abad ke-20 di Hindia belanda (Indonesia sekarang).

Jalan Cikini sejak 5 tahun terakhir mengalami revitalisasi spontan, dengan tanda-tanda terutama terjadi pada blok yang menyambung dengan Kantor Pos Cikini (di ujung utara) ini. Rupa-rupanya tipologi ini terasa tepat untuk menampung fungsi-fungsi seperti restoran yang menginginkan suasana khusus yang tidak terlalu formal, akrab dan tidak terlalu mahal.

Atap merupakan unsur yang sering diganti ketika banguan direnovasi. Atap asli blok ini adalah sirap, kayu ulin/besi yang sudah langka. Maka terjadilah atap-atap baru yang berbeda-beda karena selain memang tidak ada aturan yang menharuskan atap yang sama, juga tidak mudah memperoleh atap sirap sekarang.

No Comments »

| Agent of Change: none |


31 May 2010

Jarak Jalan Kaki yang Wajar?

Berapa jarak jalan kaki yang wajar? Ada yang bilang, untuk kesehatan setiap manusia sebaiknya melakukan 10,000 langkah perhari. Itu berarti sama dengan 3 hingga 5 kilometer, tergantung pada lebar langkah Anda. Sedang di kalangan perencana sistem mobilitas, untuk bepergian rumus umum yang dapat diterima begini: jalan kaki untuk jarak hingga 2,000 m; mengayuh sepeda hingga 5,000 m; selebihnya baru gunakan kendaraan bermotor, sebaiknya minimal hingga 20,ooo m.

Bagaimana menurut pengalaman pribadi Anda? Bagaimana membuat jalan kaki bisa nyaman di Jakarta? Apa yang kita bisa lakukan?

1 Comment »

| Agent of Change: none |


05 May 2010

Dilema sampah: daur ulang versus konsumsi

Apakah sebuah kota perlu mengalami tragedi pahit sebelum mengalami perubahan drastis? Setidaknya itulah yang dialami oleh Minamata, sebuah kota pantai di Jepang Selatan. Minamata menjadi pusat perhatian ketika untuk pertama kalinya sindrom keracunan merkuri ditemukan secara masif dalam seluruh mata rantai makanan. Kota tersebut menjadi terkenal karena penderitaannya.  Perlu waktu berpuluh-puluh tahun untuk memulihkan tatanan sosial dan rehabilitasi kerusakan lingkungan yang terjadi. Kepahitan yang terjadi hampir 60 tahun yang lalu kini membawa Minamata menjadi terdepan dalam babak baru era ekologis ini.

(more…)

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


24 Apr 2010

Pluit Village: Berapa Hijaukah Pengembang Kita yang terkenal itu?

Gunawan Tanuwidjaja
(Dari milis Green Map Jakarta)
Beberapa saat yang lalu, diadakan Sustainable Jakarta Conference, yang memang merupakan upaya untuk membuat Jakarta lebih berkelanjutan.[1] Ada sebuah pengembang terkenal yang mengajukan konsep Green Master Plan. Tetapi mirisnya ternyata pengembang ini hanya menjual konsep “Green”-nya yang kosong dan tidak menerapkan dalam bisnisnya.

Pengembang tersebut terlibat dengan sebuah di proyek Kawasan Jakarta Utara, Pluit Village.
Ternyata pengembang ini tidak mempraktekkan “Green and Responsible Water Resource Management.”

Pertama, Pengembang diduga telah “menkonversi badan air menjadi komersial, helipad dan jalan internal (melanggar UU Tata Ruang no 26 tahun 2007 dan UU Sumber Daya Air no 7 tahun 2004)”. Selain itu pengembang ini diduga telah mengganggu sistem polder yang ada dengan menutup saluran air yang masuk ke dalam Danau Pluit dan meninggikan lansekap di sekitar Danau tsb. Sehingga terjadi genangan di kawasan perumahan di Utara dan Selatan. Sungguh pengembang ini diduga tidak memiliki “kesatuan kata dan perbuatan.”

Terbukti pada 2008 – 2010, Warga Pluit telah menikmati beberapa serangan “Rob.” Padahal tadinya warga sempat merasakan aman dari Banjir Besar 2007 karena Polder Pluit yang berjalan dengan baik.

Mungkin sebuah sentuhan baru yang ditawarkan oleh Pluit Village.[2] Dari tinggal di dalam polder seperti di Belanda, menjadi “tinggal di Venesia, Italia, (alias setengah terendam banjir ketika hujan atau pasang laut datang). Jadi konsepnya dengan pengembang biasa yang menjual promosi BEBAS BANJIR. Mungkin judulnya silahkan tinggal di kawasan yang PASTI BANJIR!

Kalau kami boleh mengutip sebuah kata-kata bijak “Janganlah memutarbalikkan KEADILAN, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. ” Kmemang mengakui bahwa pengembang ini mampu mengatasi segala birokrasi untuk mewujudkan keinginannya di atas. Tetapi apakah hal ini tidak berlawanan dengan cita-cita mulia dan pelayanan Bpk James Riady,[3] bos besar pengembang ini. Apakah memang halal untuk merusak sistem lingkungan orang lain demi kepentingan ekonomi semata-mata?

Jika ada pertanyaan atau tanggapan silahkan baca dulu artikel kami di website kami dengan link sbb:

http://greenimpactindo.wordpress.com/2010/04/24/challenges-in-creating-sustainable-urban-polder-in-developing-countries-case-study-development-of-pluit-polder-jakarta/

Atau dapat kontak lewat email saja gunteitb@yahoo.com atau telpon ke 0812 212 208 42.

Terimakasih
Gunawan Tanuwidjaja
Pemerhati Pluit

Pro: Kami juga minta dukungan semua pihak agar Sistem Polder Pluit bisa direvitalisasi, Dan 14 Pompa yang dibeli dan dikonstruksi oleh PU DKI Jakarta bisa dipakai untuk operasi Polder Pluit dengan perencanaan yang baik “bukan merusak sistem polder yang sudah ada.”

Footnote
1 – Mr Gordon Benton OBE, architect and urban planner, giving lecture `The future of urban development in Jakarta and role of private developer’ in Sustainable Jakarta Convention, http://www.sjconvention.com/Downloads/Sustainable%20Jakarta%20Seminar%20Speakers.pdf

2 - http://www.lippokarawaci.co.id/retailmalls/pluitvillage.aspx

3 - http://en.wikipedia.org/wiki/James_Riady
http://www.grii.org/
http://www.ladangtuhan.com/komunitas/jadwal-acara-gathering/seminar-ekonomi-antisipasi-krisis-global-bagi-indonesia/

No Comments »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


27 Mar 2010

PPMK di Menteng

Bantuan pot dan tanaman untuk sebuah kampung di Kelurahan Menteng. Apakah Anda menemukan bantuan serupa di kelurahan Anda? Apakah ini bagian dari program penghijauan Jakarta? Kalau tidak salah PPMK berarti Program Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan. Apakah masyarakat kelurahan jadi berdaya dengan sumbangan pot dan tanaman ini? Apakah tidak lebih berdaya kalau terlibat menyusun tata ruang Jakarta 2010-2030?

1 Comment »

| Agent of Change: none |


22 Mar 2010

Kata Gubernur Jakarta

Menurut KOMPAS, Gubernur Fauzi Bowo mengatakan bahwa “…Tidak semua bagian RTRW dapat menyesuaikan aspirasi tersebut (publik).Jika semua bagian disesuaikan dengan aspirasi publik, RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta)  justru akan kehilangan orientasi untuk mencapai tujuan yang lebih besar”.

Setujukah Anda bahwa bila semua aspirasi publik ditampung akan menyebabkan hilangnya orientasi dan tujuan yang lebih besar? Apakah publik harus juga memahami dan menyetujui “orientasi dan tujuan besar itu?

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |