Tips


14 May 2013

New Regionalism in Bali Architecture by Popo Danes

Buku baru di Rujak Center for Urban Studies.

Popo Danes adalah salah satu arsitek paling sukses di Bali. Sepanjang sejarah karirnya, ia menghidupkan dan menghidupi arsitektur Bali.

Imelda Akmal, New Regionalism in Bali Architecture by Popo Danes, PT Imaji Media Pustaka, Jakarta, 2011.

photo

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


02 May 2013

Baru Tiba: Majalah Art & Thought (Fikrun wa Fann) no. 98

Majalah Fikrun wa Fann didirikan oleh almarhumah Anne-Marie Shimmel, seorang ahli teologi Islam yang pada umur 24 tahun sudah menjadi profesor bidang kajian Islam di Harvard. Kini majalah tersebut diterbitkan oleh Goethe Institut.

COMING TO TERMS WITH THE PAST

“Very few societies have the good fortune to boast a truly unproblematic, non-violent past. Dark corners are often found even in exemplary democracies that have not fought in the wars…”

photo copy 8

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


02 Feb 2013

Warga Berbagi Cerita : Advokasi Taman PIK Pulogadung

 

01_Taman PIK ed

Oleh : Shanty Syahril 

Tulisan ini runtutan kejadian dari upaya dua warga Jakarta menghentikan pembangunan kios komersial di dalam sebuah taman. Taman seluas 1,25 Ha tersebut berlokasi  di tengah Permukiman Industri Kecil (PIK) Pulogadung, Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Pembangunan di dalam taman tersebut diprakarsai oleh Instansi Pemda Pengelola PIK Pulogadung.

PIK Pulogadung dan Taman PIK

Di dalam Taman PIK dapat ditemui sebuah prasasti, penanda awal dibangunnya perkampungan industri kecil tersebut  sebagai perluasan kawasan industri Pulogadung. Walaupun terletak di Kelurahan Penggilingan, kawasan tersebut menyandang nama resmi  PIK Pulogadung. Prasasti tertanggal 25 Mei 1981 dan ditandatangani mantan Gubernur DKI Jakarta, Tjokropranolo.

Saat ini PIK Pulogadung yang luasnya 44 Ha menampung sedikitnya 500 UKM. Sebagai kawasan industri yang sekaligus berfungsi sebagai permukiman, banyak sekali anak-anak yang menghabiskan kesehariannya di lingkungan PIK Pulogadung. Setidaknya ada lima sekolah (4 SDN dan 1 SMPN) dalam radius 150 m dari batas selatan taman. Sekurangnya ada 1.500 siswa yang menuntut ilmu di lima sekolah tersebut.

Taman PIK bisa dikatakan satu-satunya fasilitas rekreasi bebas biaya bagi warga sekitar. Pagi hari sering terlihat beberapa orang tua, bersama anak balitanya berjalan-jalan di taman. Tengah hari biasa ditemui beberapa pekerja duduk di bangku taman menikmati bungkusan makan siangnya. Dua warga yang melakukan advokasi, biasa memanfaatkan Taman PIK sebagai media belajar dan tempat kegiatan alternatif luar sekolah yang diikuti sekitar 40 siswa sekolah dasar setempat.

Di sekeliling taman, mangkal beberapa pedagang makanan dengan gerobaknya. Tapi tak satupun pedagang berani berjualan di dalam taman. Sebuah rambu penanda di taman yang dipasang oleh Instansi Pemda Pengelola PIK memang menegaskan larangan berjualan/berdagang di sarana umum dan taman sesuai Perda Pemrov DKI Jakarta No. 8 Tahun 2007.

 

Pembangunan di Taman PIK

Ironisnya, pembangunan kios komersial di dalam Taman PIK diprakarsai oleh Instansi Pemda Pengelola PIK itu sendiri. Sepanjang bulan November 2012 berlangsung proses pembangunan 4 unit kios @ seluas 9,5 m2 di dalam Taman PIK. Tambahan sebanyak 4 unit kios @ seluas 6 m2 dibangun lebih utara dari lokasi yang pertama sepanjang bulan Desember 2012.

Kilas balik ke belakang, sebenarnya pembangunan kios komersial di kawasan PIK secara agresif sudah mulai pada awal tahun 2012. Atas restu Pengelola PIK, sepanjang pinggir lapangan PIK yang awalnya kosong, secara terorganisir dibangun menjadi deretan kios baru. Termasuk di tanah kosong di bantaran saluran drainase yang termasuk sebagai peruntukan jalur hijau (Pht) dalam Lembar Rencana Kota Jakarta.

Beberapa warga sekitar, antara lain ibu rumah tangga, orang tua siswa, dan pedagang kaki lima, sempat pula ditanyai secara acak pandangannya terhadap pembangunan kios di dalam taman. Seluruhnya keberatan dengan pembangunan tsb. “Lama-lama bisa habis semua tanah kosong dibuat kios,” ungkap salah satu di antara dengan geram. Tapi tak satupun berani menentang secara terbuka tindakan Pengelola PIK.

Bila dilihat sejarahnya, Pengelola PIK merupakan Instansi Pemda yang awalnya dibentuk untuk mengembangkan kawasan PIK. Mereka mengklaim puluhan hektar tanah milik Pemda di PIK merupakan hasil kerja keras mereka puluhan tahun. Sehingga tak heran bila perilakunya bak tuan tanah daerah tsb.

Ketika pembangunan terus berlanjut hingga merambah masuk ke dalam taman, maka kedua warga berpikir tindakan tsb tidak dapat dibiarkan. Apalagi pembangunan komersial di kawasan PIK sama sekali tidak diimbangi dengan pembangunan fasilitas yang mendukung tumbuh kembang anak-anak.

 

Upaya Advokasi

Kronologis upaya advokasi yang dilakukan dua warga di atas ditampilkan dalam tabel di bawah. Keduanya memutuskan untuk membatasi diri pada advokasi Taman PIK, dan tidak mempersoalkan pembangunan pada tanah kosong yang sebenarnya diperuntukkan bagi jalur hijau.

Keberatan disampaikan kepada penguasa wilayah setempat terlebih dahulu. Walaupun bersiap untuk membawanya kepada Gubernur atau Wakilnya sebagai langkah terakhir bila diperlukan. Langkah pertama di mulai dengan klarifikasi kepada Kelurahan Penggilingan, yang dilanjutkan dengan mengirim surat pengaduan kepada Camat Cakung.

Sekalipun keberatan dan sadar bahwa pembangunan di dalam taman melanggar aturan, baik pihak Kelurahan Penggilingan maupun Kecamatan Cakung tidak mampu (mau/berani) secara aktif bertindak untuk mencegahnya.  Pihak Kecamatan Cakung angkat tangan setelah mendapat surat resmi dari Pengelola PIK yang menjelaskan bahwa:

1. Pembangunan tersebut dijalankan berdasarkan koordinasi dengan Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan (KUMKMP) Jakarta Timur yang didukung oleh Kementerian Koperasi.

2. Pembangunan di taman tidak menyalahi peraturan yang ada

3. Kios di taman rencananya akan diresmikan pada awal bulan Januari 2013 oleh Bapak Gubernur DKI Jakarta

 

Surat penjelasan resmi tersebut tidak menyurutkan semangat kedua warga. Surat tersebut  justru penting artinya karena memberi informasi bahwa Pengelola PIK berada di bawah koordinasi Kepala Dinas KUMKMP. Di lain pihak dari laman berita online mereka menemukan artikel yang memuat pernyataan Ibu Ratnaningsih, Kepala Dinas KUMKMP yang patuh terhadap kaidah tata ruang dalam mengembangkan lokasi binaan UKM. Justru yang tidak sesuai akan beliau relokasi.

Bermodal amunisi baru tersebut, kedua warga mengirimkan surat untuk meminta klarifikasi sekaligus menyampaikan keberatan kepada Kepala Dinas KUMKMP terhadap pembangunan kios UKM di dalam Taman PIK. Ternyata respon Kepala Dinas KUMKMP tidak secepat yang diharapkan. Staf yang dihubungi tidak dapat menjelaskan tindak lanjut yang akan dilakukan. Khawatir kios tersebut terlanjur diresmikan oleh Gubernur, maka keduanya memutuskan untuk menempuh langkah terakhir, yakni mendatangi Posko Pengaduan Wakil Gubernur pada tanggal 15 Januari 2013.

Di Posko Pengaduan keduanya langsung dilayani oleh tiga orang petugas posko. Perlu beberapa waktu dan penjelasan panjang lebar sebelumnya akhirnya duduk persoalannya dipahami petugas. Salah seorang petugas berinisiatif menghubungi Pengelola PIK. Pada saat itulah kedua warga mendapat kabar yang sungguh mengejutkan. Pengelola PIK menyampaikan ke petugas bahwa kios sedang dalam proses pembongkaran.

Bahkan petugas posko juga sempat bertanya mengapa fasilitas bermain di Taman PIK tidak terawat. Menurut Pengelola PIK hal itu disebabkan belum jelas siapa yang bertanggung jawab terhadap perawatan taman, apakah Suku Dinas Pertamanan atau Pengelola PIK. Agak lucu sebenarnya, ketika terkait dengan bangun kios, Pengelola PIK begitu agresif, tapi lempar tanggung jawab ketika terkait dengan fasilitas taman lainnya.

Setelah berproses sekitar dua bulan, akhirnya bangunan kios yang sempat sudah terbangun dan siap beroperasi sudah dibongkar hingga bersih. Sebenarnya kedua warga masih memiliki tanya tanya besar. Sampai tanggal 10 Januari 2013, belum ada tanda-tanda akan dibongkar. Jadi apa sebenarnya yang akhirnya mendorong Pengelola PIK membongkarnya.

Belakangan terdengar kabar bahwa ibu RW setempat juga keberatan. Bisa jadi ada upaya pula yang dilakukan ibu RW untuk mencegah pembangunan. Tapi sejauh ini belum diperoleh informasi lebih rinci terkait hal tersebut. Barangkali juga ibu Kepala Dinas langsung menghubungi Kepala Pengelola PIK dan memerintahkan untuk membongkarnya, tanpa diketahui staf bawahannya.

Kedua warga tidak memusingkannya, yang terpenting tujuan sudah tercapai sesuai harapan. Taman PIK bersih dari kios pedagang. Bila ditanya alasan kenapa kedua warga tersebut berani mencoba melakukan advokasi terhadap Taman PIK, maka berikut jawabannya:

“Pemimpin baru Jakarta, terus terang memberi harapan baru. Walaupun masih baru menjabat, sudah terlihat mereka berusaha berpihak pada warga. Sebagai langkah terakhir kami percaya bisa mengadu kepada mereka. Sekaligus juga sebenarnya ingin menguji seberapa responsif pemimpin baru tsb dan sistem pelayanan pengaduan yang mereka siapkan”.

 

Belajar dari pengalaman

Kedua warga belajar banyak dari proses yang dijalaninya. Berikut beberapa tips dalam membuat pengaduan yang dirangkum keduanya:

1. Buat surat pengaduan sesuai prosedur, dalam hal ini kepada penguasa wilayah setempat atau instansi yang berwenang. Buat tembusan surat kepada atasannya, agar instansi terkait merespon dengan sungguh-sungguh.

2. Untuk menentukan instansi yang berwenang perlu paham struktur organisasi Pemda. Beberapa peraturan terkait struktur organisasi tersebut tersedia di situs jakarta.go.id (Produk Hukum).

3. Untuk urusan pengaduan, disarankan tembusan paling tinggi adalah kepada Wakil Gubernur, jangan Gubernur karena bisa hilang entah kemana suratnya.

4. Wakil Gubernur memiliki Posko Pengaduan khusus di Lantai 3 Gedung B. Surat tembusan bisa diserahkan ke posko tersebut. Atau bisa disimpan dulu, untuk lihat respon dari instansi bawahannya. Barangkali responnya ternyata positif, sehingga Wakil Gubernur tidak perlu turun tangan.

5. Bila diperlukan sebagai langkah terakhir, bisa datang langsung ke Posko Pengaduan Wakil Gubernur (tidak perlu buat janji) dan jelaskan duduk persoalannya. Pengalaman dari kedua warga di atas, petugas Posko perlu dijelaskan panjang lebar sebelum akhirnya paham duduk persoalannya.

 

Referensi

[1] http://timur.jakarta-tourism.go.id/obyek-wisata/perkampungan-industri-kecil-penggilingan.html

[2] http://www.tatakota-jakartaku.net/lrk/jt-cakung.html

[3] http://sentanaonline.com/detail_news/main/6745/1/29/03/2012/Asset-PIK-Pulogadung-Rp-1-Triliun-Berpotensi-Raib– (29 Maret 2012)

[4] http://kabarnasional.com/2012/10/kepala-dinas-koperasi-ukm-dan-perdagangan-dki-jakarta-dra-hj-ratnaningsih-pasar-modern-di-dki-jakarta-sudah-dikunci-tidak-ada-lagi-penambahan/

 

Tabel kronologis advokasi Taman PIK

 

Tanggal Deskripsi
07/11/12 Menyaksikan sedang berlangsung pembangunan di dalam Taman PIK

 

26/11/12 Mendapat keterangan dari Bapak Irwandi (Kepala Pengelola PIK Pulogadung) bahwa bangunan tsb untuk kios pedagang makanan. Pada tahap selanjutnya akan dibangun lagi kios sejenis di dalam taman dengan posisi lebih di utara.

 

27/11/12 Klarifikasi dengan Kelurahan Penggilingan. Bertemu dengan Wakil Lurah dan Sekretaris Lurah. Kelurahan keberatan dengan pembangunan, tapi tidak dapat berbuat apa-apa.

 

04/12/12 Mengirimkan surat keberatan terhadap pembangunan di dalam Taman PIK kepada Camat Cakung, Jakarta Timur dengan tembusan kepada:

  1. Walikota Jakarta Timur
  2. Gubernur DKI Jakarta
  3. Kepala Sudin Pertamanan Kota Administrasi Jakarta Timur
  4. Kepala Sudin Koperasi UMKM dan Perdagangan Kota Administrasi Jakarta Timur
  5. Lurah Penggilingan
  6. Rujak Center for Urban Studies

Bertemu langsung dengan Camat Cakung, Bapak Lukman Hakim. Beliau meminta waktu untuk melakukan klarifikasi dengan Pengelola PIK dan Kelurahan Penggilingan.

 

06/12/12 1. Mengantarkan surat tembusan kepada Gubernur. Surat untuk Gubernur masuk ke Bagian Umum dan Protokoler di Balai Kota Gedung A Lantai 6 Untuk mengetahui tindak lanjutnya harus datang sendiri sekitar seminggu kemudian, tidak bisa via telepon.

2. Bagian Umum dan Protokoler Walikota Jakarta Timur lebih maju dalam sistem penerimaan surat daripada Balaikota. Diperoleh tanda terima dengan nomor penerimaan surat. Tindak lanjut bisa dicek lewat telepon.

3. Hikmah datang ke Balai Kota adalah mendapatkan informasi adanya Posko Pengaduan Wakil Gubernur di Balaikota Gedung B Lantai 3 dan dapat datang menyampaikan laporan secara langsung.

 

10/12/12 Jawaban via telepon dari Kasi TU Sudin Pertamanan bahwa Taman PIK tidak termasuk dalam mata anggaran mereka. Sehingga taman tsb bukan tanggung jawab mereka.

 

13/12/12 Surat pengaduan kepada Camat Cakung sudah didisposisi kepada Kasi Perekonomian, Bapak Alfon

 

22/12/12 Sudah mulai pembangunan kios tahap 2

 

08/01/13 Menerima surat jawaban dari Camat Cakung Jakarta Timur yang disertai lampiran berupa surat penjelasan dari Kepala Pengelola PIK Pulogadung.

Penjelasan Pengelola PIK intinya menyatakan bahwa:

1. Pembangunan yang ada di taman berdasarkan koordinasi dengan Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan

2. Pembangunan di dalam taman tidak menyalahi peraturan yang ada.

3. Kios rencananya akan diresmikan pada awal Januari 2013 oleh Bapak Gubernur DKI Jakarta

Pihak Kecamatan Cakung via telepon mengatakan sudah berupaya maksimal secara administrasi dan tidak ada upaya lain yang bisa mereka lakukan, sekalipun mereka sadar bahwa pembangunan di Taman PIK menyalahi aturan, tapi mereka angkat tangan.

 

10/01/13 1. Cek ke Taman PIK, kedua lokasi kios sudah selesai pembangunan. Total ada 8 unit kios di dalam taman. Sudah ada 3 unit yang diisi oleh gerobak pedagang.

2. Mengirimkan surat untuk mengklarifikasi apakah Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan memang menginstruksikan pembangunan di DALAM taman, serta keberatan terhadap pembangunan di Taman PIK dan

3. Surat dikirim via email Bapak Dion, staf sekretariat Kepala Dinas, atas ijin Bapak Dion, setelah sebelumnya disarankan untuk antar langsung.

4. Surat disertai tembusan kepada

a. Wakil Gubernur DKI Jakarta

b.  Rujak Center for Urban Studies

 

14/01/13 1. Pagi hari menghubungi Bapak Dion. Menurut beliau, surat kepada Kepala Dinas koperasi, UMKM, dan Perdagangan sudah didisposisi kepada Seksi Pengawasan dan Pengendalian.

2. Untuk mengetahui apa tindak lanjutnya diminta menghubungi seksi tsb siang atau sore karena suratnya masih di tempat Bapak Dion.

3. Sebagai langkah terakhir, dua warga mendatangi Posko Pengaduan Wakil Gubernur di Lantai 3 Gedung B Balaikota untuk melaporkan pembangunan di dalam taman tsb.

4. Di Posko Pengaduan diterima oleh Ibu Dewi cs. Butuh waktu untuk menjelaskan duduk persoalannya hingga staf posko pengaduan paham. Setelah paham Ibu Dewi menghubungi Pengelola PIK dan mendapat informasi bahwa bangunan kios sedang dalam proses pembongkaran karena ada warga yang tidak setuju.

 

23/01/13 Taman PIK sudah bersih dari bangunan kios dan bekas bongkarannya.

 

 

 

 

2 Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


18 Jan 2013

Resensi Buku “Kota-Kota di Jawa : Identitas, Gaya Hidup dan Permasalahan Sosial”

Oleh Ibnu Nadzir

Buku Kota-Kota di Jawa: Identitas, Gaya Hidup dan Permasalahan Sosial adalah satu dari dua  kumpulan tulisan yang dibuat untuk merayakan ulang tahun Prof. Dr. Djoko Suryo, Guru Besar Sejarah UGM. Buku ini terdiri dari 18 tulisan akademis yang dibuat oleh mantan murid maupun koleganya yang bekerja di beragam institusi. Karena latar belakang sejarah tersebut, maka tidaklah mengherankan kalau tulisan dengan perspektif sejarah paling banyak muncul. Meskipun demikian, tema yang beragam saya kira membuat pekerjaan Sri Margana dan M. Nursam sebagai editor tidak mudah. Untuk mempermudah pembaca mencari tautan antar tema mereka kemudian  membagi 18 tulisan ini dalam lima tema besar.

Bagian pertama buku ini berbicara mengenai “Identitas kota”. Konsep identitas yang dikemukakan dalam bagian ini cukup fleksibel untuk dapat menampung ragam ide penulis. Tulisan Susanto misalnya, mencermati kota Solo yang kesulitan meneguhkan jati dirinya karena dipengaruhi modernisasi. Pada tulisan yang lain, Heddy Shri Ahimsa-Putra melihat kemungkinan merintis multikulturalisme di lewat penciptaan ulang tradisi Imlek oleh PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) di Yogyakarta.  Kedua tulisan tadi dan beberapa tulisan lainnya banyak bicara mengenai kegamangan kota ataupun unit di dalamnya terhadap perubahan.

Perkembangan kota selalu membuka ruang bagi munculnya gaya hidup baru yang tidak ditemukan sebelumnya. Persoalan “Gaya Hidup Perkotaan” menjadi tema yang diangkat dalam bagian kedua. Dalam bagian ini, tulisan Mutiah Amini melihat kemunculan biro konsultasi perkawinan pada awal abad 20 sebagai tanda adanya pergeseran nilai perkawinan Jawa. Tulisan lain karya Widya Fitrianingsih mengangkat isu konstruksi  sosok perempuan yang muncul dalam pariwara di Hindia Belanda pada periode 1900-1942.

“Permasalahan Sosial Perkotaan” adalah tema yang diangkat pada bagian ketiga. Bagian ini menyoroti persoalan-persoalan yang kerap dihindari pengelola kota. Persoalan seperti kemiskinan, prostitusi, dan aborsi sudah mengemuka sejalan dengan kelahiran kota-kota di Jawa. Tulisan Reza Hudianto mendeskripsikan Kota Malang yang pada masa itu bukan tempat yang ramah bagi kelompok ‘orang kecil’. Pada tulisan lain, Gayung Kusuma membahas persoalan aborsi yang meningkat seiring dengan dinamika kota pada masa kolonial.

Pada bagian keempat, Sajana Sigit Wahyudi berbicara mengenai Kota Surabaya yang menjadi magnet bagi migran Madura. Dalam bagian yang sama, Razief membahas dinamika buruh pelabuhan di Tanjung Priok pada periode 1920-1930-an. Tulisan-tulisan tersebut dimasukkan dalam kategori tema “ Urbanisasi, Pelabuhan dan Tenaga Kerja”.

Tema “Dinamika Politik  dan Ekonomi” menjadi penutup buku ini. Budiawan membahas kemunculan Marx House sebagai kelompok studi kiri pada masa awal revolusi. Dinamika kelompok tersebut memiliki sumbangan besar bagi perkembangan Partai Komunis Indonesia pada periode berikutnya. Tema serupa juga muncul dalam tulisan Didi Kwartanada dalam tulisan soal organisasi KEI (Kemadjuan Ekonomi Indonesia). Organisasi pedagang pribumi di Yogyakarta ini pernah memiliki pengaruh besar dalam peta perdangan lokal pada masa 1941-1949.

Bias pada Orang Kecil?

Bagi saya kumpulan tulisan ini merepresentasikan sosok kota sebenarnya yang terdiri dari kumpulan fragmen realitas. Persoalannya, realitas mana yang dianggap layak merepresentasikan kota? Jika menilik tulisan-tulisan yang ada dalam buku ini, sangat kuat terasa bahwa kota direpresentasikan sebagai ruang yang dimiliki kelompok elit. Sebagian besar kelompok masyarakat yang diangkat dalam kumpulan tulisan ini termasuk adalah orang-orang yang memiliki hak istimewa baik melalui akses pendidikan, modal, maupun konsumsi. Jika bicara angka, tentu saja kelompok seperti ini jauh lebih sedikit daripada kelompok yang bisa digolongkan sebagai ‘orang kecil’. Hal ini menjadi ironis, karena Prof. Djoko Suryo seperti yang dikemukakan oleh Reza Hudianto punya ketetarikan khusus pada kajian mengenai ‘orang kecil’ seperti yang dapat dilihat dalam disertasinya (hlm. 133). Upaya untuk menghadirkan pembacaan kota yang lebih berimbang seperti yang dilakukan oleh Reza Hudianto, Razief, atau Gayung Kusuma pun masih terasa kurang.

Ketimpangan representasi ini bisa saja digugat sebagai bentuk bias terhadap ‘orang kecil’ dalam pembacaan tentang kota. Namun, kesimpulan semacam itu boleh jadi sangat spekulatif apalagi kalau kita mengingat banyaknya keterbatasan penyusunan historiografi di Indonesia. Meskipun oral history sudah cukup lazim digunakan, dokumen tertulis tetap menjadi sumber data utama sejarawan. Dalam kasus Indonesia, dokumen tertulis ini sebagian besar bersumber pada catatan pejabat kolonial Belanda. Sehingga sejarawan yang bekerja di Indonesia seringkali diharuskan bekerja dalam kerangka tulisan pencatatnya di masa itu. Catatan-catatan ini tentu saja tidak terlepas dari bias, termasuk bias tentang urgensi atau signifikansi kelompok sosial yang ada. Mudah diduga kalau catatan mengenai orang kecil tidak termasuk pada hal-hal yang dianggap utama pada masa itu.

Keterbatasan tersebut sangat bisa diterima, sebab sebagian besar tulisan dalam buku ini toh dibangun dengan kerangka pikir yang baik. Tulisan-tulisan dalam buku ini juga berhasil menghindar  dari stereotip membosankan yang biasa ditemui pada naskah akademis. Buku ini cocok bagi siapa saja yang tertarik membaca mengenai dinamika kota di Jawa dari sudut pandang historis dan antropologis. Saya tidak tahu komentar Prof. Dr. Djoko Suryo mengenai buku ini, tapi saya kira kumpulan tulisan ini adalah hadiah yang berharga karena melakukan apresiasi pada sosoknya tanpa glorifikasi yang berlebihan.

Buku ini bisa dipinjam melalui keanggotaan perpustakaan Rujak.

1 Comment »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


26 Dec 2012

Reportase : Bedah Buku “Kota Rumah Kita”

 

Oleh Alfred Junaidhi | @alfredjunaidhi

 

Pagi yang cerah menandai acara bedah buku “Kota Rumah Kita” yang diadakan di Institut Francais Indonesia, pada Sabtu 15 Desember 2012. Buku yang bersampul karya pemenang World Press Photo: Peter Bialobrzeski, dengan tebal 381 halaman dan telah terbit tahun 2006 silam dibedah oleh Ayu Utami dan Ahmad Djuhara.

Ayu Utami sebagai penulis yang telah dikenal luas oleh masyarakat dengan karya-karyanya seperti Saman, Cerita Enrico, dll mendapat giliran pertama membedah buku ini.

Dia memaparkan pembahasan dari segi bagaimana Marco Kusumawijaya sebagai penulis buku berkomunikasi dengan publiknya (pembacanya) di mana kompleksitas yang rumit disampaikan dengan sederhana.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti “Siapa orang kota sesungguhnya? Siapa yang salah? Darimana kesalahan?” dicoba dimasukkan di dalam buku ini. Tetapi, sebagai buku yang membahas hal-hal yang bersifat ilmiah dengan mengedepankan intelektualitas tetap terdapat kelemahan. Karya para akademisi, menurutnya, memiliki kelemahan ketika tulisan mereka dipaparkan ke masyarakat luas yang sangat beragam mutu kecerdasannya. Berbicara dengan jargon-jargon dan istilah-istilah yang hanya dipahami oleh kalangan mereka menjadikan tulisannya cenderung tidak dipahami oleh masyarakat umum.

Ayu Utami membedah buku dengan cukup menghibur yang membuat peserta diskusi tertawa khususnya ketika dia menceritakan pengalaman-pengalaman yang dia alami sendiri.  Seperti ketika pertanyaan sederhana “Siapa orang kota sesungguhnya?” diajukan dalam buku, Marco menuliskan bahwa tidak bisa dibedakan lagi antara orang desa dan orang kota, karena semuanya telah jadi kota, baik kota besar maupun kota kecil.

Ayu menceritakan kisah mengenai pembantu laki-laki di rumahnya yang tidak mau membersihkan taman pada siang hari karena takut hitam dan memakai body lotion agar tampak lebih putih. Menurut Ayu, anak desa tidak lagi memahami desa karena telah terpogram dalam simbol-simbol yang sama dengan anak kota melalui televisi dan sekolah, sehingga membuat mereka tercerabut dari akarnya.

Buku yang setiap bab-nya terdapat foto karya Erik Prasetya ini kemudian dibedah oleh Ahmad Djuhara, seorang arsitek yang pernah menjadi Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta. Pembahasan yang dilakukan condong ke arah personal karena Djuhara dan Marco telah lama berteman.

Bagi para arsitek, kata Djuhara, buku ini menarik dan merupakan pengayaan, karena Marco berfungsi sebagai pemandu, pewarta, messiah, guru, pembawa berita baik dan buruk, pemikir, penata data, penyusun, pencatat, pengarah, dan pengoreksi. Dalam buku ini yang betul-betul rumah hanya dibahas satu rumah yakni rumahnya Sardjono Sani, selebihnya tentang luar rumah, tetapi tetap disebut rumah karena mengandaikan kota sebagai rumah.

Menurutnya, buku ini merupakan metamorfosa seorang Marco dari seorang yang pemarah yang tercermin dalam karya sebelumnya: Jakarta: Metropolis Tunggang-langgang, menjadi seorang yang lebih bijak. Dengan kecerdasan, kecepatan menganalisis, dan mengambil kesimpulan untuk bertanya, buku ini membagi bab-bab dengan orang kota dan kota, bagaimana kita melihat dan memposisikan diri kita terhadap kota, dan melulu adalah sebuah ajaran.

Ahmad Djuhara dalam pembedahan buku lebih bersifat akademis dikarenakan tulisan-tulisan dalam buku yang dia bahas memang demikian sifatnya seperti JakArt, Aga Khan Award, dan tentang Wendy Brauer pencipta Green Map. Kesan yang ingin disampaikan yakni fungsi Marco yang mengajak kita membangun Jakarta yang cerdas, serta menjadikan Jakarta bisa mencerdaskan orang lain juga.

Sesi tanya jawab para peserta merupakan lanjutan dari acara bedah buku ini. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan para peserta, namun ada satu pertanyaan yang pembahasannya berlangsung menarik dan berkepanjangan sampai habisnya acara. Yaitu pertanyaan tentang subjektifitas individual dalam menghadapi modernisasi pembangunan kota. Marco yang menjawab pertanyaan ini mengatakan bahwa subjek harus mampu menyikapi modernitas agak tidak tergilas begitu saja. Modernitas yang membawa kegalauan karena berkaitan erat dengan urbanisasi dan kolonialisasi. Kita tidak bisa menerima begitu saja apa yang terjadi dalam hidup kita seperti yang dikatakan Chairil Anwar kepada HB Jassin “Aku akan bikin perhitungan habis-habisan dengan begitu banyak di sekelilingku”.  Berdasarkan perkataan Chairil tersebut ingin ditunjukkan bahwa kota akan menjadi lebih baik bukan dikarenakan gubernurnya atau satu dua orang saja, tetapi semua warganya/semua subjek mampu membikin “perhitungan” terhadap kotanya sendiri melalui proses yang cerdas.

Lanjut Marco, kota pada kenyataannya (yang pahit) dibangun oleh mimpi-mimpi orang tertentu yang tidak mencerminkan mimpi semua orang. Namun inilah yang ingin dibangun Marco dalam buku ini yakni partisipasi semua orang atau warga kota berdasarkan pengetahuan yang mendalam. Kegalauan dihadapi bersama dengan cerdas, dengan pikiran yang rasional tanpa prasangka primordial. Dengan kata lain, subjek harus menghadapi modernisasi pembangunan kota tanpa kehilangan harga dirinya sebagai manusia. Tepatlah seperti yang disimpulkan Ayu Utami dan Ahmad Djuhara bahwa dengan membaca buku ini bisa mengubah cara pandang kita yang baru mengenai segala hal.

Tertarik membaca lebih jauh buku “Kota Rumah Kita” ? silahkan klik link ini.

No Comments »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |


30 Nov 2012

Tiga Buku Referensi Tebal di Perpustakaan RCUS

Krishna Dharma (a.k.a. Kenneth Anderson), Mahabharata : the Greatest Epic of All Time), New Delhi: Om Books, 2009. 955 hlm.

Peter Hall, Cities in Civilization, London: Phoenix Giant, 1998,  1169 hlm.

Paul Oliver, ed., Encyclopedia of Vernacular Architecture of the World, Oxford: Cambridge University Press,  1977, 1969 hlm dalam 3 volume.

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


06 Nov 2012

Tiga Buku Baru yang Tidak Berhubungan. Atau Berhubungan?

 

Alam dan seni bagai bercerai,

Sudah lah rujuk sebelum disadari;

(Goethe)

Goethe, Telah Terpilin Timur dan Barat, diterjemahkan dari “Orient und Okzident Sind nicht mehr zu trennen” oleh Berthold Damshäuser dan Agus R. Sarjono.

Ayu Utami, Cerita Cinta Enrico.

Paul Hawken, The Ecology of Commerce.

 

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


31 Oct 2012

Donasi untuk The Jungle School (Sokola Rimba)

The Jungle School oleh Sokola Rimba

Rujak memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memberikan donasi kepada Sokola Rimba dengan cara membeli buku The Jungle School. Sokola Rimba adalah upaya Butet Manurung dkk yang telah memberikan pembelajaran baca tulis hitung kepada masyarakat indigenous (suku asli) yang sama sekali tidak terjangkau oleh pelayanan negara. Saaat ini di Indonesia ada 8 juta masyarakat indigenous (suku asli) terpencil dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Harga buku tersebut adalah Rp 145.000 (+ongkos kirim pos Jakarta Rp 15.000), namun kami membuka kesempatan anda untuk memberi lebih dari harga buku.

Untuk pemesanan silakan hubungi edhis@rujak.org dengan memberikan bukti transfer harga+ongkos kirim+donasi (jika ada) ke Rekening:

Yayasan Rujak Center for Urban Studies

Bank Mandiri Cabang Jl. Sunda

103-00-0579937-0

Terima kasih dan selamat berdonasi! Seluruh donasi dan harga buku diberikan kepada Sokola Rimba.

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


18 Oct 2012

Call for Proposal: Smart City Exhibition

Call for Proposals for an Interdisciplinary Urban Exhibition: “SMART CITY: The Next Generation”, Focus South-East Asia

Dear Friends of the Aedes Architecture Forum in Berlin,
Dear Creative Professionals, Architects, Initiators, Artists, Urban Planners,
Politicians, Investors, Engineers, Scientists and Activists working in Southeast Asia

The internationally acclaimed gallery of architecture and urbanity, Aedes Architecture Forum, together with the Goethe Institut in Southeast Asia are planning an exhibition and symposium in Berlin titled ‘SMART CITY: The Next Generation’ under the guidance of curator Ulla Giesler.

We are seeking innovative smart city projects: architectural and urban solutions for improved living conditions in Southeast Asia:
We are interested in projects that take two aspects into account: human behaviour and new technology, and that successfully address both sustainability and social cohesion in the urban context. Projects should address existing environmental, technical and societal challenges. A particular (but not exclusive!) focus will lie on water-related projects.

Please share your examples and ideas with us!
- Examples of high performance buildings or infrastructure systems applying cutting-edge technologies
- Projects that adapt low tech ideas and applications in a unique, unusual, intelligent, effective way
- Visionary smart city concepts, which we have not even begun to imagine…

Please send brief descriptions of either completed projects or preliminary ideas and visions (with short text plus images) until middle of November to Ms. Ulla Giesler at smart@aedes-arc.de and do not forget to include your contact details.
Projects will be selected until end of 2012, and detailed participation guidelines for the exhibition will then follow. The exhibition will be held at the Aedes Architecture Forum in Berlin between May and July 2013.
Please forward this call for proposals to any colleagues who might be interested and feel free to contact us if you have any questions.

We look forward to hearing from you!

Ulla Giesler, Curator
Aedes East, International Forum for Contemporary Architecture e.V.

More Information: Exhibition Concept (PDF)

4 Comments »

| Agent of Change: none |


17 Sep 2012

Asyik-asyik Rumah Ngirit

Teks : Silvia Honsa

Foto : Rika Febriyani


“Sektor rumah tangga mengkonsumsi kira-kira 11% dari total energi di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, upaya efisiensi di sektor ini sangatlah penting, bukan hanya untuk menghemat biaya pemakaian energi di rumah tangga tersebut,namun juga untuk mengerem pemakaian energi secara keseluruhan.” – Efisiensi dan Konservasi Energi di Indonesia, EECCHI,2011


Video ketiga Rika and Silvia Project cukup spesial. Kali ini wawancara dan bermain ruang tidak dilakukan di ruang publik kota, tetapi kami mendatangi kantor teman-teman kami, Laras dan Ridwan di EECHI. Tim dari EECHI (Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia) sedang melakukan kampanye efisiensi energi di berbagai sektor, salah satunya sektor rumah tangga. Dari video ini diharapkan pemirsa bisa menerapkan tips-tips praktis untuk diterapkan di rumah masing-masing.

Video terbagi dalam tiga bagian. Tiap bagian mengambil contoh satu ruang existing dari salah satu ruang di rumah Laras dan Ridwan. Dari tiap ruang tersebut, Laras dan Ridwan memberikan solusi sederhana untuk efisiensi energi tanpa terlalu banyak melakukan perubahan fisik ruang.

Bagian 1. Ngirit di Kamar Mandi

Laras mengusulkan agar bath tub di kamar mandinya diganti dengan shower. “Jika menggunakan bath tub, kita cenderung menghabiskan banyak air” tutur Laras. Ridwan menambahkan bahwa itu tergantung pada kebiasaan setiap orang juga.

Solusi untuk menghemat air salah satunya jika mandi dan keramas, dahulukan keramas kemudian basuh badan dengan sabun baru bilas rambut dan badan dengan air.

Bagian 2. Ngirit di Kamar Tidur

Bagi Ridwan, kamar yang dia tempati ini cukup lembab. Menurutnya salah satu penyebab adalah ventilasi udara hanya ada di satu sisi. Aliran udara menjadi tidak lancar di dalam kamarnya.

Beberapa hal yang menurutnya bisa menjadikan kamar lebih sehat sekaligus efisien dalam penggunaan energi adalah dengan menambah ventilasi di dinding yang berseberangan dengan ventilasi asal, kemudian penggantian jenis lampu dan letak socket.

Bagian 3. Ngirit di Ruang Keluarga ++

Ruang keluarga Laras menyambung dengan ruang makan. Kegiatan sehari-hari di rumah terpusat di sini. Beban listrik tertinggi mungkin ada di ruang ini, dengan adanya begitu banyak sambungan listrik dan peralatan elektronik. Seperti yang banyak terjadi di berbagai rumah tanga yang lain, satu socket sering dimanfaatkan untuk berbagai sambungan ke elektronik. Beban yang tinggi di satu titik menjadikan socket rentan terbakar. Pembagian beban diperlukan sekali. Misal dengan menambah satu socket.


Hasil yang didapatkan dari pengenalan bagaimana cara mennghemat energi di satu rumah adalah:

  1. Perlu perencanaan dalam menentukan kebutuhan listrik dan pemilihan peralatan listrik yang tepat dan sesuai kebutuhan.

  2. Perilaku anggota keluarga diarahkan supaya terbiasa hemat energi dengan cara antara lain : biasakan menggunakan listrik atau peralatan elektronik saat diperlukan dan juga rutin melakukan pemeliharaan terhadap peralatan elektronik.

  3. Desain rumah berpengaruh pada pemanfaatan energi keseluruhan rumah. Arah bukaan rumah yang ideal adalah Utara Selatan agar tidak secara langsung terpapar sinar matahari.



————————

Rika & Silvia Project merupakan inisiatif dua warga Jakarta, Rika Febriyani dan Silvia Honsa. Inisiatif ini meyakini jika aspirasi warga dalam penataan ruang adalah sesuatu yang penting. Sebab, sejatinya, bentukan kota adalah termasuk untuk memenuhi kebutuhan ruang gerak warga. Dengan bantuan alat peraga berupa Lego, dilakukan simulasi penataan ulang letak elemen-elemen penting di ruang publik atau tempat umum. Simulasi langsung melibatkan warga di tempat mereka berada, yang dalam kesehariannya menggunakan fasilitas publik atau berada di ruang publik. Sekilas simulasi ini memang lebih mirip ‘bermain’, daripada duduk serius mendiskusikan tata letak sebuah ruang, tetapi karena itu juga cara ini mungkin bisa diharapkan untuk menggali aspirasi warga.

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |