Tips


13 Apr 2015

Belajar Kriya Bambu Bersama Takayuki Shimizu

poster kriya bambu - landscape

1-2 Mei 2015 di Bumi Pemuda Rahayu ( www.facebook.com/bumipemudarahayu )

Formulir dapat diunduh disini

Hanya tersedia tempat untuk 20 pendaftar pertama.

No Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


30 Mar 2015

10 Lessons from Fukushima

 

unnamed

Glad to announce that we have published a booklet, namely “10

Lessons from Fukushima”, in Japanese, English, Chinese, Korean, and
French at the 4th anniversary of the 3.11. and the 3rd World Conference
on Disaster Risk Reduction in Sendai of Japan in the same month.

No copy right! Please freely print from http://fukushimalessons.jp/en-booklet.html
and distribute, and/or translate in other languages for further
distribution.

Appreciate your actions and comment on this.

Best,
Ohashi
———————-
OHASHI Masaaki
ohashi@keisen.ac.jp (Although I also have an e-mail address of Univ. of the Sacred Heart, please send your e-mail to this keisen address.
14年4月1日より聖心女子大学大学に勤務しそこのメルアドもありますが、この大学関係の用件を除き、これまでと同じこの恵泉のメルアドに連絡ください。名誉教授号を頂いたので、継続使用できます。)
tel/fax:81-42-729-7276

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


05 Mar 2015

SAMIN vs SEMEN


maxresdefault

 

 

“Sejak nenek moyang, kita butuh tanah, air dan pangan. Tidak butuh semen. Daripada krisis pangan, mending krisis semen. Sejak bayi lahir butuh air, tanah dan pangan” – perempuan SAMIN.

Saat ini, 180 Ha lahan di 4 desa (Mujomulyo, Karangawen, Larangan dan Tambakromo) milik 560 KK di Kecamatan Tambakromo, Pati terancam “dikuasai” oleh Group Indocement.
Pada tahun 2009 orang-orang  SAMIN memenangkan gugatan PTUN hingga Mahkamah Agung atas PT Semen GRESIK yang berencana membangun pabrik semen di wilayah Kecamatan Sukolilo, Pati, Jawa Tengah di tahun 2006.

Dandhy Laksono berhasil, kembali, memproduksi sebuah film dokumenter berjudul SAMIN vs SEMEN yang menggambarkan perjuangan orang SAMIN dan petani Pati untuk melawan serbuan perusahaan semen (PT Semen Gresik, Grup Indocement dan PT Semen Indonesia)  di wilayah Pati, Rembang dan sekitarnya.

Yang menarik dari film ini adalah tergambarkan nya kehidupan lestari orang SAMIN yang hidup dari alam dan memberikan penghormatan setingi-tingginya pada alam yang memberikan berkah pada mereka; tanah, air dan pangan.

 

No Comments »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


13 Jan 2015

UNDANGAN PROPOSAL: Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan

Keterangan dan formulir bisa diunduh disini.

poster horizontal

Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan

Untuk kegiatan kesenian oleh perorangan atau organisasi yang bekerja dengan isu-isu lingkungan di Indonesia.

Diselenggarakan oleh Rujak Center for Urban Studies dan IndoArtNow

 

Jadwal:

Penerimaan Proposal           : 1 Februari – 20 Maret 2015

Rapat Panel Seleksi               : 27-28 Maret 2015

Pengumuman                                    : 8 April 2015

Kegiatan                                 : 8 April 2015 – 31 Desember 2016

 

Panel Seleksi terdiri dari

-       Ayu Utami (Sastrawan, Jakarta)

-       Gustaff Harriman Iskandar (Pegiat budaya,  Common Room, Bandung)

-       Nur Hidayati (Pegiat keadilan lingkungan, Kepala Departemen Advokasi, Eksekutif Nasional WALHI 2012-2016, Jakarta)

-       Mella Jaarsma (Seniman, Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta)

 

Ketentuan:

-       Dana dapat digunakan untuk antara lain (tidak terbatas pada): biaya perjalanan, kebutuhan sehari-hari (stipendium), residensi di dalam wilayah Republik Indonesia, biaya proses, biaya produksi, pameran atau peristiwa penyajian lainnya, termasuk diskusi/seminar/lokakarya/ dan penerbitan online/offline.

-       Dana yang dapat diminta maksimal 100 juta rupiah per proposal.

-       Total proposal yang akan didanai maksimal 10.

-       Untuk proposal yang masuk dalam daftar-pendek, ada kemungkinan wawancara melalui telepon atau skype pada tanggal 27 Maret – 7 April 2015. (Diharapkan kesiapan para pengaju proposal pada periode tersebut)

 

Formulir Terlampir

- Narasi Proposal

- Riwayat Hidup

- Rencana Anggaran

 

Proposal dikirimkan hanya melalui email ke:

info@rujak.org

Sekretariat Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan:

u.p. Edhis Subhana

Rujak Center for Urban Studies

Telpon/Fax.: 021-31906809

 

 

4 Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


14 Oct 2014

PEKAKOTA, Semarang, Oktober-November 2014

 

 

KMD FEST-2

 

10605993_10152397882071821_3472639385660281800_n

 

GB (1)-2

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


17 Aug 2014

UNDANGAN TERBUKA: Program Pesanggrahan (residensi) Seniman/Peneliti

bpr

 

Pusat pembelajaran kelestarian “Bumi Pemuda Rahayu” terletak pada 450 m di atas permukaa laut di desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta, di tengah-tengah masyarakat pedesaan dengan segala masalah dan “rahasia”nya.

Apabila Anda seniman, peneliti, aktivis, penulis, yang ingin mencoba bekerja sama dengan komunitas pada isu-isu ekologi, ini adalah kesempatan untuk pesanggrahan (residensi) dua bulan.

Pesanggrahan di Bumi Pemuda Rahayu ini akan berlangsung 15 Oktober – 15 Desember 2014 di Bumi Pemuda Rahayu, Dlingo, D.I. Yogyakarta.

Tenggat pengajuan proposal: 15 September 2014.

Informasi lengkap:

http://www.scribd.com/doc/235806927/bpr-pesanggrahan-2014

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


15 Aug 2014

Erik Prasetya bicara Estetika Banal Kota dalam Rangka Menjadi Ekologis

Sabtu, 16 Agustus 2014.

Jam 15:00.

Ruang Sinema, Institut Francais Indonesia.

Jalan Salemba Raya No. 25, Jakarta Pusat.

695194_orig

 

Teks oleh: Ign. Susiadi Wibowo.

Bila Ekologis (Oikos = Lingkungan/ habitat; Logos = Nalar / pikiran) berarti segala nilai dan sifat yang berkaitan dengan  nalar kerja sebuah habitat atau lingkungan, maka Menjadi Ekologis dapat diartikan sebagai berbagai cara upaya untuk (menuju) sebuah keadaan dimana laku, sikap, dan kerja satu atau sekelompok mahluk hidup yang berada di dalam sebuah habitat, mampu selaras dengan nalar kerja habitatnya. Memahami nilai dan sifat ekologis berarti juga menuntut upaya untuk memahami bahwa setiap mahluk hidup di sebuah habitat, akan terhubung dengan mahluk hidup yang lain di dalam kesatuan ekosistem: suatu tatanan kesatuan yang secara utuh dan menyeluruh antar segenap unsur mahluk hidup yang saling tak terpisahkan dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Dari sini, dapat dipahami bahwa salah satu konsekuensi kritis dari upaya mencari jalan menuju ekologis adalah mempertanyakan kembali posisi manusia di dalam habitatnya, di dalam ekosistemnya. Cukup lama kita menerima dogma dan begitu percaya bahwa manusia adalah pemimpin (mahluk hidup) bagi yang lainnya. Dogma ini bukan hanya menuntun pemahaman kita bahwa manusia ‘lebih’ dari mahluk hidup yang lain, yang kemudian menutup kesempatan manusia untuk melihat ‘kehebatan’ yang lainnya, tapi juga memberikan keyakinan yang ‘sesat’ bahwa nalar manusialah yang utama dan paling berguna dalam menjaga keberlangsungan kerja ekosistem. Egosentrik !

Yang terburuk, dogma di atas menghadirkan persepsi bahwa segala yang ada di ekosistem disediakan sepenuhnya dan sebebas-bebasnya bagi manusia demi penuhi kelangsungan hidupnya.  Dan sebagai mahluk yang secara inisiatif menempatkan dirinya di puncak ekosistem, persepsi ini mengantar manusia sebagai yang paling berwenang dalam menentukan nalar, sebagai penguasa dan kemudian, pengeksploitasi mahluk hidup lain yang berada di ‘bawah’nya.

Menjadi Ekologis
 juga menjadi tantangan besar bagi manusia sebagai bagian dari ekosistem kehidupan, karena ini berarti meminta manusia segera mencari cara dalam membangun relasi yang utuh antar dirinya. Nilai-nilai universal kemanusiaan yang dijadikan dasar relasi antar manusia, meskipun hari ini belum mampu menyelesaikan banyak persoalan yang muncul diantaranya, ditantang untuk memperluas perspektifnya : bahwa kemanusiaan bukanlah tujuan, bukan lagi yang puncak dan utama, tapi barulah satu pengantar jalan (yang wajib ditempuh) untuk mampu secara bersama-sama mengerti, memahami, hingga kemudian terlibat dan mengambil peran dalam proses kerja sebuah eksosistem.

Dalam penyampaian yang lebih sederhana, Menjadi Ekologis berarti sebuah kesadaran yang dimulai dari kerelaan hati manusia untuk menggeser posisinya, dari egosentrik melebur bersama-sama dengan mahluk hidup yang lainnya menjadi sebuah ekosistem yang utuh – bersama-sama menjadi ekosentrik. Menjadi Ekologis tentunya dan karenanya tak pernah menjadi keadaan yang final dimana halnya ekosistem adalah kumpulan berbagi mahluk yang terus tumbuh bergerak dan hidup, sebuah keadaan dinamis dan kompleks, maka upaya untuk mengenal dan mencari petunjuk menuju keadaan yang selaras dengan segala nilai dan sifat-sifat ekosistem, adalah juga kumpulan beragam upaya, yang tak pernah berhenti dan terus menerus, untuk mengenal dan mencari pentunjuk tentang kehidupan itu sendiri.

Mengenal kehidupan berarti juga mencoba mengapresiasi dan mencari petunjuk dalam banyak peristiwa keseharian.

Mudahkah?

Semestinya tidak. Menjadi tidak mudah sebab keseharian adalah peristiwa yang tak tunggal. Kumpulan peristiwa yang bergerak tak putus, tumpuk menumpuk satu sama lain, bahkan dengan begitu cepat dan terus ‘berulang’ terjadi. Inilah yang kadang menjadikan keseharian sering terlihat dan dirasakan sebagai hal yang biasa-biasa saja. Bukan karena tidak adanya kualitas dalam peristiwa-peristiwa tersebut tapi terlebih karena peristiwa keseharian, dalam derap kehidupan manusia hari ini yang ditantang untuk makin cepat, hampir tidak menyisakan ruang apresiasi. Lalu bila semua keseharian yang biasa-biasa saja dibiarkan lewat dan berlalu, dimana dan bagaimana kita bisa menemukan petunjuk-petunjuk tentang kehidupan? Dalam proyeknya, Jakarta, Estetika BanalErik Prasetya, seorang seniman fotografi, mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk melihat lebih dekat kota Jakarta, sebagai ruang hidupnya, dalam kumpulan rekaman gambar fotografi.

Erik – yang juga salah satu dari 30 Fotografer paling Berpengaruh di Asia seperti dilansir Invisible Photographer Asia (IPA) – mencoba melihat bahwa kota Jakarta dalam kesehariannya yang banal (baca:datar, biasa-biasa saja), mungkin menyembunyikan berbagai kualitasnya yang unik dan (mungkin saja) estetik. Lewat rekaman fotografinya, Erik tidak sedang berusaha tampil sebagai seorang sutradara, konstruktor sebuah wacana, namun membiarkan dirinya menangkap dan merekam peristiwa yang berlalu di ruang kota Jakarta, dengan cara spontan dan apa adanya. Karena justru lewat ke-apaada-annya inilah, Erik berharap bisa menemukan banyak petunjuk tentang ‘Yang Lain’.

“Fotografi memiliki takdir untuk mengungkap dan menyingkapkan”,
 demikian catat Erik di bukunya Jakarta, Estetika Banal.

Lewat optimisme Erik ini, bolehlah juga kita semua ikut optimis dan berharap, baik secara individu maupun bersama-sama menyingkap dan menemukan sedikit atau banyak petunjuk tentang tapak perjalanan panjang Menjadi Ekologis, sebuah perjalanan panjang bersama semua mahluk kehidupan. (AdiW)

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


15 Aug 2014

Musik Kota: Silampukau

Tim Ayorek! di Surabaya, yang tergabung dalam jaringan pengetahuan perkotaan, baru saja meluncurkan ulang album musik asik yang berkaitan dengan isu dan kegaluan kota (Surabaya): “Sementara Ini” oleh Silampukau.

(Full disclosure: Salah satu personel Silampukau, Kharis Junandharu, juga terlibat di Ayorek! sebagai editor. Tapi bener kok, album ini perlu Anda dengar!)

Silampukau-SementaraIni

Musiknya sederhana, hanya berbaju gitar akustik, dengan sedikit aksen akordeon. Tapi, dibalik kesederhanaan musiknya, terkandung kekuatan besar. Hal yang sama terjadi pada lagu-lagu Bob Dylan atau Iwan Fals saat mereka muda.

Seketika, saya merasa yakin bahwa Silampukau bukan sekedar band biasa. Liriknya mudah dicerna tapi berhasil menguak banyak kisah. Musiknya pun tak kalah bersahaja, tapi tetap bernuansa elegan.
Nuran Wibisono

Lima tahun yang lampau, lima lagu yang berkesan ini telah diliris secara mandiri oleh Silampukau dan dilepas bebas ke publik. Sembari menunggu album baru Silampukau yang akan diluncurkan dalam waktu dekat, Silampukau bersama SUB/SIDE —satu netlabel (label musik berbasis internet) yang didirikan di bawah ayorek.org untuk mendokumentasikan dan menyebarkan musik pilihan Surabaya—merilis kembali EP “Sementara Ini”.

Rilisan ulang kali ini dilengkapi dengan catatan dari Nuran Wibisono:
http://ayorek.org/2014/08/sementara-menunggu-silampukau/

Album selengkapnya beserta cover dapat diunduh langsung di:
https://archive.org/download/subside007/SUBSIDE007_Silampukau-SementaraIni.zip (21.1 MB)

Selamat menikmati, dan nantikan album baru yang akan datang dari Silampukau.

No Comments »

| Agent of Change: none |


13 Jul 2014

Palembang: Sebuah Catatan Kota

 

images-1

Oleh : Ruhulludin Kudus

Palembang, apa yang menjadi daya tarik orang berkunjung ke Palembang? Pempek? Jembatan Ampera? Sungai Musi? Kain Songket? Mungkin semua ini, tapi apakah kita bisa menambah daya tarik bagi orang lain untuk berkunjung ke salah satu kota paling tua di Indonesia ini? Sejarah. Ya, sejarah kota.

Palembang memiliki sejarah panjang, kerajaan terbesar di Indonesia bahkan di Asia, Sriwijaya yang memilki kekuasaan sampai ke India. Bila kita kembalikan ke Palembang, berbicara Sriwijaya tak lepas dari pengaruh Sungai Musi, karena saat itu sungai berperan sebagai pusat perdagangan. Kota yang dulunya terkenal dengan Venesia dari Timur ini awalnya dibelah oleh ratusan anak Sungai Musi, lalu bertransformasi menjadi kota yang nyaris tak ada sungai lagi. Dalam rangka “memodernisasi” Kota. Pemerintah Kolonial Belanda secara perlahan mengubah Palembang dari kota air menjadi kota daratan. Proses penghilangan simbol kota dimulai sejak zaman kolonial, Gemeente Palembang membuat kebijakan pembangunan dan pengaspalan jalan dengan cara menimbun sungai. Jalan sebagai urat nadi transportasi dibangun di atas “tembokan” yang menimbun sungai dengan menggunakan puru dan kerikil.

Kota ini sangat kaya, khususnya sejarah. Elemen besar kota menarik untuk diceritakan, tapi elemen-elemen pembentuk kota juga berperan penting. Bagaimana Jembatan Ampera mengawali awal pembangunan di Palembang pasca kemerdekaan. Jembatan Ampera sebagai simbol kota, sebagai penghubung Palembang ulu dan Palembang Ilir. Jembatan ini dibuat sebagai media dalam menanamkan ideologi dan menjalankan politik identitas baik nasional maupun lokal. Ketika rakyat mendobrak Orde Lama, Jembatan Ampera menjadi media yang merepresentasikan kehendak mereka agar zaman berubah. Begitu banyak sejarah di Kota Palembang, semua bangunan bisa berbicara berdasarkan zamannya. Kemudian yang ingin saya khususkan yakni Pasar Cinde, karena pasar ini akan segera mengalah dengan kepentingan kapitalis dan akan berganti dengan sebuah bangunan megah.

 

Pasar cinde adalah pertama yang dibangun pasca kemerdekaan pada tahun 1959 di Palembang, dirancang oleh arsitek Belanda, Herman Thomas Karsten. Pasar ini terletak di jalur arteri Kota Palembang. Apabila melewati jalan Sudirman, kita akan dengan mudah mengenali pasar ini, bangunannya memanjang dengan atap datar, kesan bangunan modernnya sangat kuat.

Memasuki kawasan pasar cinde, kita akan disuguhi dengan berbagai bau kue-kue khas Palembang. Karena memang secara penempatan, pedagang  yang berdagang makanan diletakkan area depan. Kemudian memasuki sisi dalam, koridor kecil dengan berbagai kios yang berdagang kelontong dan bumbu dapur menyambut. Kondisi koridor sekarang cukup gelap, hanya remang lampu kios, ditambah lantai yang becek. Koridor kios tak terlalu panjang menuju ruang utama Pasar Cinde. Memasuki ruang utama, disinilah pangan pokok dijual, sayur, ikan dan daging.

Prinsip dasar arsitektur juga diterapkan dalam perancangan perpindahan antar ruang pasar, menggunakan koridor sempit sebagai pengantar sebelum bertemu ruang utama yang besar, sehingga ketika pengunjung memasuki ruang utama, ada kesan kejut sekaligus lega. Begitu arif sang arsitek mendesain ruang-ruang pengantar sebelum memasuki ruang utama. Bagaimana pula  ia mengatur bukaan-bukaan untuk ventilasi udara dan cahaya. Semuanya berpadu elegan dengan jajaran kolom berpenampang cawan.

Lalu lalang pedagang sangat cepat dan lugas, wangi buah dan sayur bercampur bau amis ikan, semua berdampingan. Begitupula para pedagang, lebih terlihat sebagai sebuah koloni kecil. Koloni yang bahu-membahu membangun sumber penghasilan mereka, tak ada persaingan, semua bergerak sebagai satu kesatuan, utuh membentuk pasar.

Ketika saya berkunjung untuk mengamati Pasar Cinde. Terlihat seorang bapak tua yang sedang membersihkan meja warung kopinya, dengan senyum ia menyapa. Sapa pun berlanjut mengejutkan dari seorang tetua yang telah berdiri dibelakang. Perkenalan singkat lalu ia mulai bercerita sebagai pedagang, pahit manis, serta cerita tentang pasar cinde. Pemerintah tidak berani mengusir secara langsung para pedagang ini, namun dengan perlahan pemerintah menyudutkan para pedagang dengan kenaikan harga sewa kios. Pedagang pun dibuat diam. Entah sampai kapan mereka akan bisa berdagang di sini, sementara pemerintah telah mengumumkan bahwa akan adanya revitalisasi pasar cinde, dengan membangun bangunan 20 lantai. Ironis.

Tidak ada lagi pasar paling strategis (dipusat kota) selain pasar cinde di Palembang. Namun pasar cinde sekarang dalam kondisi yang kurang baik. Sanitasi, jalur distribusi sampah, manajemen pasar yang masih perlu diperbaiki. Walaupun begitu, pasar cinde tetap ramai pengunjung. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat sangat menggantungkan kehidupan pada pasar cinde ini, baik pedagang maupun pembeli. Begitu banyak pedagang yang bergantung pada pasar cinde, bukan hanya pedagang di dalam pasar cinde itu sendiri, tapi juga pedagang di sekitar kawasan. Disisi Barat Pasar CInde kita temui ruko-ruko dan pedagang kaki lima yang berdagang segala jenis makanan. Sedangkan disisi timur, banyak pedagang barang-barang bekas dan spare part kendaraan bermotor. Prinsip dasar dari perdagangan, dimana ada keramaian maka akan ada pembeli. Penataan kembali pasar cinde tidak hanya meliputi fisik bangunan pasar cinde itu sendiri, perlu didata juga nonfisik disekitar bangunan.

Penataan nonfisik harus sama porsinya dengan penataan fisik, karena didalamnya terkandung unsur budaya dan kebiasaan turun temurun sebuah pasar. Hal ini tak bisa kita abaikan begitu saja, hanya karena tampilan fisik bangunan yang megah takkan menjamin pedagang akan laku dagangannya. Sebuah budaya ada karena perilaku yang terus berulang. Akankah kita akan menghilangkan sebuah budaya yang telah lama ada (bahkan membentuk identitas kita yang sekarang) dengan sebuah kemodernan?

No Comments »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


11 Jul 2014

The Human Impacts Institute’s Fourth Annual Creative Climate Call to Action

Dear Friends!

CEC ArtsLink is pleased to help the Human Impacts Institute spread the word about their Fourth Annual Creative Climate Call to Action which brings together visual artists, performance artists and filmmakers to create climate-inspired public works throughout New York City.

 

In 2014, artists and artists’ collectives working in 2D, performance and short film (up to 5 minutes) are welcome to apply.

 

For more details about submissions, selection criteria and deadlines,

visit http://www.humanimpactsinstitute.org/

or email directly to  Climate@HumanImpactsInstitute.org.

 

Please note that CEC ArtsLink does not administer this program.

 

Sincerely,

CEC ArtsLink Team.

____________________________________

Call to Artists: Creative Climate Awards 2014

How will you tell the story of climate change?

image001

Call to Artists: 2D work, short films (up to 5 min), and performance pieces that “make climate personal” for the Creative Climate Awards, NYC
Developed by: The Human Impacts Institute (HII) NYC
Event Dates: September 15-October 15th
Cash Prizes: First place: $500  •  Second place: $300  •  Third Place: $200
Submissions: Send by email to Climate@HumanImpactsInstitute.org
Final deadline: No later than 11:30pm, Monday, August 4th
Awards Event: Thursday, October 30th

 

What Are the Creative Climate Awards?

image003

As an official part of Climate Week NYC and in partnership with Positive Feedback and Artbridge, the Human Impacts Institute’s Fourth Annual Creative Climate Call to Action brings together the visual arts, performance art, and film to install climate-inspired public works throughout New York City. Our Creative Climate Awards use the creative process as a tool to inspire audiences to explore the consequences of their actions, think critically about pressing issues, and to make the environment personal.

These events are an opportunity to creatively engage tens-of-thousands of people in positive action around the challenges posed by climate change, while having your work seen by our judges—some of the top artists, curators, and international leaders in the world.

See what we’ve selected in past years to be a part ofCreative Climate Awards here>>

For 2014, we welcome artists and artists’ collectives working in the following disciplines: 2D work, performance, and short film (up to 5 minutes).

 

No Comments »

| Agent of Change: none |