Tips


14 Oct 2014

PEKAKOTA, Semarang, Oktober-November 2014

 

 

KMD FEST-2

 

10605993_10152397882071821_3472639385660281800_n

 

GB (1)-2

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


17 Aug 2014

UNDANGAN TERBUKA: Program Pesanggrahan (residensi) Seniman/Peneliti

bpr

 

Pusat pembelajaran kelestarian “Bumi Pemuda Rahayu” terletak pada 450 m di atas permukaa laut di desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta, di tengah-tengah masyarakat pedesaan dengan segala masalah dan “rahasia”nya.

Apabila Anda seniman, peneliti, aktivis, penulis, yang ingin mencoba bekerja sama dengan komunitas pada isu-isu ekologi, ini adalah kesempatan untuk pesanggrahan (residensi) dua bulan.

Pesanggrahan di Bumi Pemuda Rahayu ini akan berlangsung 15 Oktober – 15 Desember 2014 di Bumi Pemuda Rahayu, Dlingo, D.I. Yogyakarta.

Tenggat pengajuan proposal: 15 September 2014.

Informasi lengkap:

http://www.scribd.com/doc/235806927/bpr-pesanggrahan-2014

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


15 Aug 2014

Erik Prasetya bicara Estetika Banal Kota dalam Rangka Menjadi Ekologis

Sabtu, 16 Agustus 2014.

Jam 15:00.

Ruang Sinema, Institut Francais Indonesia.

Jalan Salemba Raya No. 25, Jakarta Pusat.

695194_orig

 

Teks oleh: Ign. Susiadi Wibowo.

Bila Ekologis (Oikos = Lingkungan/ habitat; Logos = Nalar / pikiran) berarti segala nilai dan sifat yang berkaitan dengan  nalar kerja sebuah habitat atau lingkungan, maka Menjadi Ekologis dapat diartikan sebagai berbagai cara upaya untuk (menuju) sebuah keadaan dimana laku, sikap, dan kerja satu atau sekelompok mahluk hidup yang berada di dalam sebuah habitat, mampu selaras dengan nalar kerja habitatnya. Memahami nilai dan sifat ekologis berarti juga menuntut upaya untuk memahami bahwa setiap mahluk hidup di sebuah habitat, akan terhubung dengan mahluk hidup yang lain di dalam kesatuan ekosistem: suatu tatanan kesatuan yang secara utuh dan menyeluruh antar segenap unsur mahluk hidup yang saling tak terpisahkan dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Dari sini, dapat dipahami bahwa salah satu konsekuensi kritis dari upaya mencari jalan menuju ekologis adalah mempertanyakan kembali posisi manusia di dalam habitatnya, di dalam ekosistemnya. Cukup lama kita menerima dogma dan begitu percaya bahwa manusia adalah pemimpin (mahluk hidup) bagi yang lainnya. Dogma ini bukan hanya menuntun pemahaman kita bahwa manusia ‘lebih’ dari mahluk hidup yang lain, yang kemudian menutup kesempatan manusia untuk melihat ‘kehebatan’ yang lainnya, tapi juga memberikan keyakinan yang ‘sesat’ bahwa nalar manusialah yang utama dan paling berguna dalam menjaga keberlangsungan kerja ekosistem. Egosentrik !

Yang terburuk, dogma di atas menghadirkan persepsi bahwa segala yang ada di ekosistem disediakan sepenuhnya dan sebebas-bebasnya bagi manusia demi penuhi kelangsungan hidupnya.  Dan sebagai mahluk yang secara inisiatif menempatkan dirinya di puncak ekosistem, persepsi ini mengantar manusia sebagai yang paling berwenang dalam menentukan nalar, sebagai penguasa dan kemudian, pengeksploitasi mahluk hidup lain yang berada di ‘bawah’nya.

Menjadi Ekologis
 juga menjadi tantangan besar bagi manusia sebagai bagian dari ekosistem kehidupan, karena ini berarti meminta manusia segera mencari cara dalam membangun relasi yang utuh antar dirinya. Nilai-nilai universal kemanusiaan yang dijadikan dasar relasi antar manusia, meskipun hari ini belum mampu menyelesaikan banyak persoalan yang muncul diantaranya, ditantang untuk memperluas perspektifnya : bahwa kemanusiaan bukanlah tujuan, bukan lagi yang puncak dan utama, tapi barulah satu pengantar jalan (yang wajib ditempuh) untuk mampu secara bersama-sama mengerti, memahami, hingga kemudian terlibat dan mengambil peran dalam proses kerja sebuah eksosistem.

Dalam penyampaian yang lebih sederhana, Menjadi Ekologis berarti sebuah kesadaran yang dimulai dari kerelaan hati manusia untuk menggeser posisinya, dari egosentrik melebur bersama-sama dengan mahluk hidup yang lainnya menjadi sebuah ekosistem yang utuh – bersama-sama menjadi ekosentrik. Menjadi Ekologis tentunya dan karenanya tak pernah menjadi keadaan yang final dimana halnya ekosistem adalah kumpulan berbagi mahluk yang terus tumbuh bergerak dan hidup, sebuah keadaan dinamis dan kompleks, maka upaya untuk mengenal dan mencari petunjuk menuju keadaan yang selaras dengan segala nilai dan sifat-sifat ekosistem, adalah juga kumpulan beragam upaya, yang tak pernah berhenti dan terus menerus, untuk mengenal dan mencari pentunjuk tentang kehidupan itu sendiri.

Mengenal kehidupan berarti juga mencoba mengapresiasi dan mencari petunjuk dalam banyak peristiwa keseharian.

Mudahkah?

Semestinya tidak. Menjadi tidak mudah sebab keseharian adalah peristiwa yang tak tunggal. Kumpulan peristiwa yang bergerak tak putus, tumpuk menumpuk satu sama lain, bahkan dengan begitu cepat dan terus ‘berulang’ terjadi. Inilah yang kadang menjadikan keseharian sering terlihat dan dirasakan sebagai hal yang biasa-biasa saja. Bukan karena tidak adanya kualitas dalam peristiwa-peristiwa tersebut tapi terlebih karena peristiwa keseharian, dalam derap kehidupan manusia hari ini yang ditantang untuk makin cepat, hampir tidak menyisakan ruang apresiasi. Lalu bila semua keseharian yang biasa-biasa saja dibiarkan lewat dan berlalu, dimana dan bagaimana kita bisa menemukan petunjuk-petunjuk tentang kehidupan? Dalam proyeknya, Jakarta, Estetika BanalErik Prasetya, seorang seniman fotografi, mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk melihat lebih dekat kota Jakarta, sebagai ruang hidupnya, dalam kumpulan rekaman gambar fotografi.

Erik – yang juga salah satu dari 30 Fotografer paling Berpengaruh di Asia seperti dilansir Invisible Photographer Asia (IPA) – mencoba melihat bahwa kota Jakarta dalam kesehariannya yang banal (baca:datar, biasa-biasa saja), mungkin menyembunyikan berbagai kualitasnya yang unik dan (mungkin saja) estetik. Lewat rekaman fotografinya, Erik tidak sedang berusaha tampil sebagai seorang sutradara, konstruktor sebuah wacana, namun membiarkan dirinya menangkap dan merekam peristiwa yang berlalu di ruang kota Jakarta, dengan cara spontan dan apa adanya. Karena justru lewat ke-apaada-annya inilah, Erik berharap bisa menemukan banyak petunjuk tentang ‘Yang Lain’.

“Fotografi memiliki takdir untuk mengungkap dan menyingkapkan”,
 demikian catat Erik di bukunya Jakarta, Estetika Banal.

Lewat optimisme Erik ini, bolehlah juga kita semua ikut optimis dan berharap, baik secara individu maupun bersama-sama menyingkap dan menemukan sedikit atau banyak petunjuk tentang tapak perjalanan panjang Menjadi Ekologis, sebuah perjalanan panjang bersama semua mahluk kehidupan. (AdiW)

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


15 Aug 2014

Musik Kota: Silampukau

Tim Ayorek! di Surabaya, yang tergabung dalam jaringan pengetahuan perkotaan, baru saja meluncurkan ulang album musik asik yang berkaitan dengan isu dan kegaluan kota (Surabaya): “Sementara Ini” oleh Silampukau.

(Full disclosure: Salah satu personel Silampukau, Kharis Junandharu, juga terlibat di Ayorek! sebagai editor. Tapi bener kok, album ini perlu Anda dengar!)

Silampukau-SementaraIni

Musiknya sederhana, hanya berbaju gitar akustik, dengan sedikit aksen akordeon. Tapi, dibalik kesederhanaan musiknya, terkandung kekuatan besar. Hal yang sama terjadi pada lagu-lagu Bob Dylan atau Iwan Fals saat mereka muda.

Seketika, saya merasa yakin bahwa Silampukau bukan sekedar band biasa. Liriknya mudah dicerna tapi berhasil menguak banyak kisah. Musiknya pun tak kalah bersahaja, tapi tetap bernuansa elegan.
Nuran Wibisono

Lima tahun yang lampau, lima lagu yang berkesan ini telah diliris secara mandiri oleh Silampukau dan dilepas bebas ke publik. Sembari menunggu album baru Silampukau yang akan diluncurkan dalam waktu dekat, Silampukau bersama SUB/SIDE —satu netlabel (label musik berbasis internet) yang didirikan di bawah ayorek.org untuk mendokumentasikan dan menyebarkan musik pilihan Surabaya—merilis kembali EP “Sementara Ini”.

Rilisan ulang kali ini dilengkapi dengan catatan dari Nuran Wibisono:
http://ayorek.org/2014/08/sementara-menunggu-silampukau/

Album selengkapnya beserta cover dapat diunduh langsung di:
https://archive.org/download/subside007/SUBSIDE007_Silampukau-SementaraIni.zip (21.1 MB)

Selamat menikmati, dan nantikan album baru yang akan datang dari Silampukau.

No Comments »

| Agent of Change: none |


13 Jul 2014

Palembang: Sebuah Catatan Kota

 

images-1

Oleh : Ruhulludin Kudus

Palembang, apa yang menjadi daya tarik orang berkunjung ke Palembang? Pempek? Jembatan Ampera? Sungai Musi? Kain Songket? Mungkin semua ini, tapi apakah kita bisa menambah daya tarik bagi orang lain untuk berkunjung ke salah satu kota paling tua di Indonesia ini? Sejarah. Ya, sejarah kota.

Palembang memiliki sejarah panjang, kerajaan terbesar di Indonesia bahkan di Asia, Sriwijaya yang memilki kekuasaan sampai ke India. Bila kita kembalikan ke Palembang, berbicara Sriwijaya tak lepas dari pengaruh Sungai Musi, karena saat itu sungai berperan sebagai pusat perdagangan. Kota yang dulunya terkenal dengan Venesia dari Timur ini awalnya dibelah oleh ratusan anak Sungai Musi, lalu bertransformasi menjadi kota yang nyaris tak ada sungai lagi. Dalam rangka “memodernisasi” Kota. Pemerintah Kolonial Belanda secara perlahan mengubah Palembang dari kota air menjadi kota daratan. Proses penghilangan simbol kota dimulai sejak zaman kolonial, Gemeente Palembang membuat kebijakan pembangunan dan pengaspalan jalan dengan cara menimbun sungai. Jalan sebagai urat nadi transportasi dibangun di atas “tembokan” yang menimbun sungai dengan menggunakan puru dan kerikil.

Kota ini sangat kaya, khususnya sejarah. Elemen besar kota menarik untuk diceritakan, tapi elemen-elemen pembentuk kota juga berperan penting. Bagaimana Jembatan Ampera mengawali awal pembangunan di Palembang pasca kemerdekaan. Jembatan Ampera sebagai simbol kota, sebagai penghubung Palembang ulu dan Palembang Ilir. Jembatan ini dibuat sebagai media dalam menanamkan ideologi dan menjalankan politik identitas baik nasional maupun lokal. Ketika rakyat mendobrak Orde Lama, Jembatan Ampera menjadi media yang merepresentasikan kehendak mereka agar zaman berubah. Begitu banyak sejarah di Kota Palembang, semua bangunan bisa berbicara berdasarkan zamannya. Kemudian yang ingin saya khususkan yakni Pasar Cinde, karena pasar ini akan segera mengalah dengan kepentingan kapitalis dan akan berganti dengan sebuah bangunan megah.

 

Pasar cinde adalah pertama yang dibangun pasca kemerdekaan pada tahun 1959 di Palembang, dirancang oleh arsitek Belanda, Herman Thomas Karsten. Pasar ini terletak di jalur arteri Kota Palembang. Apabila melewati jalan Sudirman, kita akan dengan mudah mengenali pasar ini, bangunannya memanjang dengan atap datar, kesan bangunan modernnya sangat kuat.

Memasuki kawasan pasar cinde, kita akan disuguhi dengan berbagai bau kue-kue khas Palembang. Karena memang secara penempatan, pedagang  yang berdagang makanan diletakkan area depan. Kemudian memasuki sisi dalam, koridor kecil dengan berbagai kios yang berdagang kelontong dan bumbu dapur menyambut. Kondisi koridor sekarang cukup gelap, hanya remang lampu kios, ditambah lantai yang becek. Koridor kios tak terlalu panjang menuju ruang utama Pasar Cinde. Memasuki ruang utama, disinilah pangan pokok dijual, sayur, ikan dan daging.

Prinsip dasar arsitektur juga diterapkan dalam perancangan perpindahan antar ruang pasar, menggunakan koridor sempit sebagai pengantar sebelum bertemu ruang utama yang besar, sehingga ketika pengunjung memasuki ruang utama, ada kesan kejut sekaligus lega. Begitu arif sang arsitek mendesain ruang-ruang pengantar sebelum memasuki ruang utama. Bagaimana pula  ia mengatur bukaan-bukaan untuk ventilasi udara dan cahaya. Semuanya berpadu elegan dengan jajaran kolom berpenampang cawan.

Lalu lalang pedagang sangat cepat dan lugas, wangi buah dan sayur bercampur bau amis ikan, semua berdampingan. Begitupula para pedagang, lebih terlihat sebagai sebuah koloni kecil. Koloni yang bahu-membahu membangun sumber penghasilan mereka, tak ada persaingan, semua bergerak sebagai satu kesatuan, utuh membentuk pasar.

Ketika saya berkunjung untuk mengamati Pasar Cinde. Terlihat seorang bapak tua yang sedang membersihkan meja warung kopinya, dengan senyum ia menyapa. Sapa pun berlanjut mengejutkan dari seorang tetua yang telah berdiri dibelakang. Perkenalan singkat lalu ia mulai bercerita sebagai pedagang, pahit manis, serta cerita tentang pasar cinde. Pemerintah tidak berani mengusir secara langsung para pedagang ini, namun dengan perlahan pemerintah menyudutkan para pedagang dengan kenaikan harga sewa kios. Pedagang pun dibuat diam. Entah sampai kapan mereka akan bisa berdagang di sini, sementara pemerintah telah mengumumkan bahwa akan adanya revitalisasi pasar cinde, dengan membangun bangunan 20 lantai. Ironis.

Tidak ada lagi pasar paling strategis (dipusat kota) selain pasar cinde di Palembang. Namun pasar cinde sekarang dalam kondisi yang kurang baik. Sanitasi, jalur distribusi sampah, manajemen pasar yang masih perlu diperbaiki. Walaupun begitu, pasar cinde tetap ramai pengunjung. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat sangat menggantungkan kehidupan pada pasar cinde ini, baik pedagang maupun pembeli. Begitu banyak pedagang yang bergantung pada pasar cinde, bukan hanya pedagang di dalam pasar cinde itu sendiri, tapi juga pedagang di sekitar kawasan. Disisi Barat Pasar CInde kita temui ruko-ruko dan pedagang kaki lima yang berdagang segala jenis makanan. Sedangkan disisi timur, banyak pedagang barang-barang bekas dan spare part kendaraan bermotor. Prinsip dasar dari perdagangan, dimana ada keramaian maka akan ada pembeli. Penataan kembali pasar cinde tidak hanya meliputi fisik bangunan pasar cinde itu sendiri, perlu didata juga nonfisik disekitar bangunan.

Penataan nonfisik harus sama porsinya dengan penataan fisik, karena didalamnya terkandung unsur budaya dan kebiasaan turun temurun sebuah pasar. Hal ini tak bisa kita abaikan begitu saja, hanya karena tampilan fisik bangunan yang megah takkan menjamin pedagang akan laku dagangannya. Sebuah budaya ada karena perilaku yang terus berulang. Akankah kita akan menghilangkan sebuah budaya yang telah lama ada (bahkan membentuk identitas kita yang sekarang) dengan sebuah kemodernan?

No Comments »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


11 Jul 2014

The Human Impacts Institute’s Fourth Annual Creative Climate Call to Action

Dear Friends!

CEC ArtsLink is pleased to help the Human Impacts Institute spread the word about their Fourth Annual Creative Climate Call to Action which brings together visual artists, performance artists and filmmakers to create climate-inspired public works throughout New York City.

 

In 2014, artists and artists’ collectives working in 2D, performance and short film (up to 5 minutes) are welcome to apply.

 

For more details about submissions, selection criteria and deadlines,

visit http://www.humanimpactsinstitute.org/

or email directly to  Climate@HumanImpactsInstitute.org.

 

Please note that CEC ArtsLink does not administer this program.

 

Sincerely,

CEC ArtsLink Team.

____________________________________

Call to Artists: Creative Climate Awards 2014

How will you tell the story of climate change?

image001

Call to Artists: 2D work, short films (up to 5 min), and performance pieces that “make climate personal” for the Creative Climate Awards, NYC
Developed by: The Human Impacts Institute (HII) NYC
Event Dates: September 15-October 15th
Cash Prizes: First place: $500  •  Second place: $300  •  Third Place: $200
Submissions: Send by email to Climate@HumanImpactsInstitute.org
Final deadline: No later than 11:30pm, Monday, August 4th
Awards Event: Thursday, October 30th

 

What Are the Creative Climate Awards?

image003

As an official part of Climate Week NYC and in partnership with Positive Feedback and Artbridge, the Human Impacts Institute’s Fourth Annual Creative Climate Call to Action brings together the visual arts, performance art, and film to install climate-inspired public works throughout New York City. Our Creative Climate Awards use the creative process as a tool to inspire audiences to explore the consequences of their actions, think critically about pressing issues, and to make the environment personal.

These events are an opportunity to creatively engage tens-of-thousands of people in positive action around the challenges posed by climate change, while having your work seen by our judges—some of the top artists, curators, and international leaders in the world.

See what we’ve selected in past years to be a part ofCreative Climate Awards here>>

For 2014, we welcome artists and artists’ collectives working in the following disciplines: 2D work, performance, and short film (up to 5 minutes).

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


01 Jul 2014

Liwuto Pasi

Ekspedisi Seniman/Pekerja Kreatif “Liwuto Pasi” ke Taman Nasional Kepulauan Wakatobi, 15-30 November 2014.

Silakan mengunduh informasi lengkap dan formulir pendaftaran di sini:

http://www.scribd.com/doc/232097790/X-Liwuto-Pasi-Info-Lengkap

http://www.scribd.com/doc/232097711/X-Liwuto-Pasi-formulir

atau di sini:

https://drive.google.com/?tab=mo&authuser=0#folders/0B7aQ8ZKnu0RDRUsxZnR6cklYcE0

Tengat waktu pendaftaran: 30 Juli 2014.

poster liwuto pasi landscape kecil

 

12 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


13 Mar 2014

Sebuah Perjodohan

 

JAF-3

Teks : Anita Halim

Foto : Mulia Idznillah

Di sebuah rumah kecil berukuran tiga kali tiga meter, Mak Tasih menjamu kami. Kami masing-masing menempati  satu  kursi di ruang tamu mungilnya. Ia sendiri duduk di dipannya. Ruang tamu ini memang merangkap ruang  tidur bagi Mak Tasih.

Mak Tasih adalah seorang kolektor lukisan di Desa Jatisura, Kabupaten Majalengka. Pagi itu, kami bertamu ke rumahnya karena ia ingin menunjukkan koleksi terbarunya – serangkaian lukisan berjudul “Dan Kawan Kawan  #1,2,3” karya Agus Suwage. Lukisan itu terpajang di dinding ruang tamunya yang bercat putih. Ada kesamaan antara lukisan itu dengan Mak Tasih, keduanya memancarkan kesendirian. Mak Tasih kini hidup sendiri karena sanak saudaranya telah menetap di luar kota.

Mak Tasih bukan satu-satunya kolektor karya seni di Jatisura. Masih ada 13 warga Jatisura lain yang menjadi kolektor selama perayaan ulang tahun Jatiwangi Art Factory (JAF) yang ke-8. Di Jatisura, karya seni itu bisa menjelma media bagi kami untuk berkunjung ke rumah warga sembari memahami kehidupan para kolektor tersebut. Kehadirannya menyediakan sekadar topik pembicaraan dengan mereka, atau bahkan tidak disinggung sama sekali dalam acara bertamu kami. Namun, dari obrolan-obrolan tersebut, kami selalu bisa menemukan suatu benang merah yang membuat kami yakin bahwa karya seni itu telah menemukan rumahnya.

 

JAF-8

 

 

Sebuah telur raksasa dari plat besi karya Yani Mariani Sastranegara diletakkan di rumah Pak Adeng Duriyat yang sering dikunjungi anak-anak sekolahan. Mereka lalu menafsirkan telur itu sebagai telur dinosaurus dan makin sering berkunjung hanya untuk melihat telur ajaib itu. Lukisan penuh angka berjudul Self Test karya Ade Darmawan dipajang di ruang tamu Bapak Kashwi dan Ibu Siti Marwah, sepasang suami istri petani yang mempercayai bahwa lukisan tersebut adalah semacam primbon yang sulit dipahami. Ada pula instalasi akrilik di atas seng karya Asmudjo Jono Irianto yang mendendangkan campuran-campuran pidato kenegaraan dengan lagu dangdut secara non-stop. Untunglah sang pemilik rumah, Pak Wali, memang menyukai dan sering memutar lagu dangdut. Kebetulan-kebetulan yang manis tersebut membuat kami percaya bahwa mungkin ini bukan sebuah pameran biasa, tetapi sebuah perjodohan yang mempertemukan karya seni dengan kolektornya.

 

JAF-9

 

 

Bila di galeri-galeri biasanya sebuah karya seni merupakan tokoh utama yang menuntut perhatian penuh pengunjung, Pameran seni di Rumah Warga ini terasa begitu dermawan karena karyanya rela berbagi perhatian dengan hal remeh temeh kehidupan warga. Lukisan Self Test yang beberapa bulan lalu sempat menempati dinding besar di ARK gallery pada pameran tunggal Ade Darmawan, kini rela berbagi perhatian dengan cerita tentang prestasi cucu Pak Kashwi yang bersekolah di Jerman. Sementara itu, di warung pojokan Pak Iing, video Reza “Asung” Afisina yang pernah dipamerkan oleh Guggenheim UBS MAP Global Art Initiative pun harus berbagi perhatian kami dengan secangkir kopi susu yang nikmat. Di sini, karya seni memang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

 

JAF-4

JAF-2

JAF-12

 

 

Pameran yang berlangsung dari tanggal 27 September hingga 17 Oktober 2013 ini memang telah berakhir. Tetapi, warga-warga Jatisura telah kembali mempersiapkan berbagai pameran dan festival lainnya yang tidak kalah menarik di tahun 2014. Sampai berjumpa di Jatisura!

JAF-11

JAF-5

1 Comment »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


02 Jan 2014

RCUS Mencari Kolaborator

Rujak Center for Urban Studies mencari kolaborator untuk bekerja sebagai Manajer Komunikasi Publik dalam rangka mengumpulkan dan menyiarkan pengetahuan perkotaan.  Tugas-tugasnya antara lain: menyusun strategi komunikasi publik, menyarikan berbagai pengetahuan perkotaan, merancang bahan-bahan dijital maupun tercetak, dan melakukan penyiaran melalui publikasi offline maupun online.

Masa kerja: Februari-November 2014.

Yang tertarik dipersilakan mengirimkan email dengan CV dan foto ke info@rujak.org selambat-lambatnya pada tanggal 10 Januari 2014.

Hanya calon yang akan diwawancarai yang akan mendapat pemberitahuan.Freedom

 

 

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


02 Dec 2013

Tentang Pontianak dan Kalimantan

Buku Baru di Perpustakaan Rujak Center for Urban Studies.

photo 5

 

Baru menyusul: Maria Goreti, anggota DPD dari Kalimantan Barat.

photo

 

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |