Tips


13 Jul 2014

Palembang: Sebuah Catatan Kota

 

images-1

Oleh : Ruhulludin Kudus

Palembang, apa yang menjadi daya tarik orang berkunjung ke Palembang? Pempek? Jembatan Ampera? Sungai Musi? Kain Songket? Mungkin semua ini, tapi apakah kita bisa menambah daya tarik bagi orang lain untuk berkunjung ke salah satu kota paling tua di Indonesia ini? Sejarah. Ya, sejarah kota.

Palembang memiliki sejarah panjang, kerajaan terbesar di Indonesia bahkan di Asia, Sriwijaya yang memilki kekuasaan sampai ke India. Bila kita kembalikan ke Palembang, berbicara Sriwijaya tak lepas dari pengaruh Sungai Musi, karena saat itu sungai berperan sebagai pusat perdagangan. Kota yang dulunya terkenal dengan Venesia dari Timur ini awalnya dibelah oleh ratusan anak Sungai Musi, lalu bertransformasi menjadi kota yang nyaris tak ada sungai lagi. Dalam rangka “memodernisasi” Kota. Pemerintah Kolonial Belanda secara perlahan mengubah Palembang dari kota air menjadi kota daratan. Proses penghilangan simbol kota dimulai sejak zaman kolonial, Gemeente Palembang membuat kebijakan pembangunan dan pengaspalan jalan dengan cara menimbun sungai. Jalan sebagai urat nadi transportasi dibangun di atas “tembokan” yang menimbun sungai dengan menggunakan puru dan kerikil.

Kota ini sangat kaya, khususnya sejarah. Elemen besar kota menarik untuk diceritakan, tapi elemen-elemen pembentuk kota juga berperan penting. Bagaimana Jembatan Ampera mengawali awal pembangunan di Palembang pasca kemerdekaan. Jembatan Ampera sebagai simbol kota, sebagai penghubung Palembang ulu dan Palembang Ilir. Jembatan ini dibuat sebagai media dalam menanamkan ideologi dan menjalankan politik identitas baik nasional maupun lokal. Ketika rakyat mendobrak Orde Lama, Jembatan Ampera menjadi media yang merepresentasikan kehendak mereka agar zaman berubah. Begitu banyak sejarah di Kota Palembang, semua bangunan bisa berbicara berdasarkan zamannya. Kemudian yang ingin saya khususkan yakni Pasar Cinde, karena pasar ini akan segera mengalah dengan kepentingan kapitalis dan akan berganti dengan sebuah bangunan megah.

 

Pasar cinde adalah pertama yang dibangun pasca kemerdekaan pada tahun 1959 di Palembang, dirancang oleh arsitek Belanda, Herman Thomas Karsten. Pasar ini terletak di jalur arteri Kota Palembang. Apabila melewati jalan Sudirman, kita akan dengan mudah mengenali pasar ini, bangunannya memanjang dengan atap datar, kesan bangunan modernnya sangat kuat.

Memasuki kawasan pasar cinde, kita akan disuguhi dengan berbagai bau kue-kue khas Palembang. Karena memang secara penempatan, pedagang  yang berdagang makanan diletakkan area depan. Kemudian memasuki sisi dalam, koridor kecil dengan berbagai kios yang berdagang kelontong dan bumbu dapur menyambut. Kondisi koridor sekarang cukup gelap, hanya remang lampu kios, ditambah lantai yang becek. Koridor kios tak terlalu panjang menuju ruang utama Pasar Cinde. Memasuki ruang utama, disinilah pangan pokok dijual, sayur, ikan dan daging.

Prinsip dasar arsitektur juga diterapkan dalam perancangan perpindahan antar ruang pasar, menggunakan koridor sempit sebagai pengantar sebelum bertemu ruang utama yang besar, sehingga ketika pengunjung memasuki ruang utama, ada kesan kejut sekaligus lega. Begitu arif sang arsitek mendesain ruang-ruang pengantar sebelum memasuki ruang utama. Bagaimana pula  ia mengatur bukaan-bukaan untuk ventilasi udara dan cahaya. Semuanya berpadu elegan dengan jajaran kolom berpenampang cawan.

Lalu lalang pedagang sangat cepat dan lugas, wangi buah dan sayur bercampur bau amis ikan, semua berdampingan. Begitupula para pedagang, lebih terlihat sebagai sebuah koloni kecil. Koloni yang bahu-membahu membangun sumber penghasilan mereka, tak ada persaingan, semua bergerak sebagai satu kesatuan, utuh membentuk pasar.

Ketika saya berkunjung untuk mengamati Pasar Cinde. Terlihat seorang bapak tua yang sedang membersihkan meja warung kopinya, dengan senyum ia menyapa. Sapa pun berlanjut mengejutkan dari seorang tetua yang telah berdiri dibelakang. Perkenalan singkat lalu ia mulai bercerita sebagai pedagang, pahit manis, serta cerita tentang pasar cinde. Pemerintah tidak berani mengusir secara langsung para pedagang ini, namun dengan perlahan pemerintah menyudutkan para pedagang dengan kenaikan harga sewa kios. Pedagang pun dibuat diam. Entah sampai kapan mereka akan bisa berdagang di sini, sementara pemerintah telah mengumumkan bahwa akan adanya revitalisasi pasar cinde, dengan membangun bangunan 20 lantai. Ironis.

Tidak ada lagi pasar paling strategis (dipusat kota) selain pasar cinde di Palembang. Namun pasar cinde sekarang dalam kondisi yang kurang baik. Sanitasi, jalur distribusi sampah, manajemen pasar yang masih perlu diperbaiki. Walaupun begitu, pasar cinde tetap ramai pengunjung. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat sangat menggantungkan kehidupan pada pasar cinde ini, baik pedagang maupun pembeli. Begitu banyak pedagang yang bergantung pada pasar cinde, bukan hanya pedagang di dalam pasar cinde itu sendiri, tapi juga pedagang di sekitar kawasan. Disisi Barat Pasar CInde kita temui ruko-ruko dan pedagang kaki lima yang berdagang segala jenis makanan. Sedangkan disisi timur, banyak pedagang barang-barang bekas dan spare part kendaraan bermotor. Prinsip dasar dari perdagangan, dimana ada keramaian maka akan ada pembeli. Penataan kembali pasar cinde tidak hanya meliputi fisik bangunan pasar cinde itu sendiri, perlu didata juga nonfisik disekitar bangunan.

Penataan nonfisik harus sama porsinya dengan penataan fisik, karena didalamnya terkandung unsur budaya dan kebiasaan turun temurun sebuah pasar. Hal ini tak bisa kita abaikan begitu saja, hanya karena tampilan fisik bangunan yang megah takkan menjamin pedagang akan laku dagangannya. Sebuah budaya ada karena perilaku yang terus berulang. Akankah kita akan menghilangkan sebuah budaya yang telah lama ada (bahkan membentuk identitas kita yang sekarang) dengan sebuah kemodernan?

No Comments »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


11 Jul 2014

The Human Impacts Institute’s Fourth Annual Creative Climate Call to Action

Dear Friends!

CEC ArtsLink is pleased to help the Human Impacts Institute spread the word about their Fourth Annual Creative Climate Call to Action which brings together visual artists, performance artists and filmmakers to create climate-inspired public works throughout New York City.

 

In 2014, artists and artists’ collectives working in 2D, performance and short film (up to 5 minutes) are welcome to apply.

 

For more details about submissions, selection criteria and deadlines,

visit http://www.humanimpactsinstitute.org/

or email directly to  Climate@HumanImpactsInstitute.org.

 

Please note that CEC ArtsLink does not administer this program.

 

Sincerely,

CEC ArtsLink Team.

____________________________________

Call to Artists: Creative Climate Awards 2014

How will you tell the story of climate change?

image001

Call to Artists: 2D work, short films (up to 5 min), and performance pieces that “make climate personal” for the Creative Climate Awards, NYC
Developed by: The Human Impacts Institute (HII) NYC
Event Dates: September 15-October 15th
Cash Prizes: First place: $500  •  Second place: $300  •  Third Place: $200
Submissions: Send by email to Climate@HumanImpactsInstitute.org
Final deadline: No later than 11:30pm, Monday, August 4th
Awards Event: Thursday, October 30th

 

What Are the Creative Climate Awards?

image003

As an official part of Climate Week NYC and in partnership with Positive Feedback and Artbridge, the Human Impacts Institute’s Fourth Annual Creative Climate Call to Action brings together the visual arts, performance art, and film to install climate-inspired public works throughout New York City. Our Creative Climate Awards use the creative process as a tool to inspire audiences to explore the consequences of their actions, think critically about pressing issues, and to make the environment personal.

These events are an opportunity to creatively engage tens-of-thousands of people in positive action around the challenges posed by climate change, while having your work seen by our judges—some of the top artists, curators, and international leaders in the world.

See what we’ve selected in past years to be a part ofCreative Climate Awards here>>

For 2014, we welcome artists and artists’ collectives working in the following disciplines: 2D work, performance, and short film (up to 5 minutes).

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


01 Jul 2014

Liwuto Pasi

Ekspedisi Seniman/Pekerja Kreatif “Liwuto Pasi” ke Taman Nasional Kepulauan Wakatobi, 15-30 November 2014.

Silakan mengunduh informasi lengkap dan formulir pendaftaran di sini:

http://www.scribd.com/doc/232097790/X-Liwuto-Pasi-Info-Lengkap

http://www.scribd.com/doc/232097711/X-Liwuto-Pasi-formulir

atau di sini:

https://drive.google.com/?tab=mo&authuser=0#folders/0B7aQ8ZKnu0RDRUsxZnR6cklYcE0

Tengat waktu pendaftaran: 30 Juli 2014.

poster liwuto pasi landscape kecil

 

8 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


13 Mar 2014

Sebuah Perjodohan

 

JAF-3

Teks : Anita Halim

Foto : Mulia Idznillah

Di sebuah rumah kecil berukuran tiga kali tiga meter, Mak Tasih menjamu kami. Kami masing-masing menempati  satu  kursi di ruang tamu mungilnya. Ia sendiri duduk di dipannya. Ruang tamu ini memang merangkap ruang  tidur bagi Mak Tasih.

Mak Tasih adalah seorang kolektor lukisan di Desa Jatisura, Kabupaten Majalengka. Pagi itu, kami bertamu ke rumahnya karena ia ingin menunjukkan koleksi terbarunya – serangkaian lukisan berjudul “Dan Kawan Kawan  #1,2,3” karya Agus Suwage. Lukisan itu terpajang di dinding ruang tamunya yang bercat putih. Ada kesamaan antara lukisan itu dengan Mak Tasih, keduanya memancarkan kesendirian. Mak Tasih kini hidup sendiri karena sanak saudaranya telah menetap di luar kota.

Mak Tasih bukan satu-satunya kolektor karya seni di Jatisura. Masih ada 13 warga Jatisura lain yang menjadi kolektor selama perayaan ulang tahun Jatiwangi Art Factory (JAF) yang ke-8. Di Jatisura, karya seni itu bisa menjelma media bagi kami untuk berkunjung ke rumah warga sembari memahami kehidupan para kolektor tersebut. Kehadirannya menyediakan sekadar topik pembicaraan dengan mereka, atau bahkan tidak disinggung sama sekali dalam acara bertamu kami. Namun, dari obrolan-obrolan tersebut, kami selalu bisa menemukan suatu benang merah yang membuat kami yakin bahwa karya seni itu telah menemukan rumahnya.

 

JAF-8

 

 

Sebuah telur raksasa dari plat besi karya Yani Mariani Sastranegara diletakkan di rumah Pak Adeng Duriyat yang sering dikunjungi anak-anak sekolahan. Mereka lalu menafsirkan telur itu sebagai telur dinosaurus dan makin sering berkunjung hanya untuk melihat telur ajaib itu. Lukisan penuh angka berjudul Self Test karya Ade Darmawan dipajang di ruang tamu Bapak Kashwi dan Ibu Siti Marwah, sepasang suami istri petani yang mempercayai bahwa lukisan tersebut adalah semacam primbon yang sulit dipahami. Ada pula instalasi akrilik di atas seng karya Asmudjo Jono Irianto yang mendendangkan campuran-campuran pidato kenegaraan dengan lagu dangdut secara non-stop. Untunglah sang pemilik rumah, Pak Wali, memang menyukai dan sering memutar lagu dangdut. Kebetulan-kebetulan yang manis tersebut membuat kami percaya bahwa mungkin ini bukan sebuah pameran biasa, tetapi sebuah perjodohan yang mempertemukan karya seni dengan kolektornya.

 

JAF-9

 

 

Bila di galeri-galeri biasanya sebuah karya seni merupakan tokoh utama yang menuntut perhatian penuh pengunjung, Pameran seni di Rumah Warga ini terasa begitu dermawan karena karyanya rela berbagi perhatian dengan hal remeh temeh kehidupan warga. Lukisan Self Test yang beberapa bulan lalu sempat menempati dinding besar di ARK gallery pada pameran tunggal Ade Darmawan, kini rela berbagi perhatian dengan cerita tentang prestasi cucu Pak Kashwi yang bersekolah di Jerman. Sementara itu, di warung pojokan Pak Iing, video Reza “Asung” Afisina yang pernah dipamerkan oleh Guggenheim UBS MAP Global Art Initiative pun harus berbagi perhatian kami dengan secangkir kopi susu yang nikmat. Di sini, karya seni memang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

 

JAF-4

JAF-2

JAF-12

 

 

Pameran yang berlangsung dari tanggal 27 September hingga 17 Oktober 2013 ini memang telah berakhir. Tetapi, warga-warga Jatisura telah kembali mempersiapkan berbagai pameran dan festival lainnya yang tidak kalah menarik di tahun 2014. Sampai berjumpa di Jatisura!

JAF-11

JAF-5

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


02 Jan 2014

RCUS Mencari Kolaborator

Rujak Center for Urban Studies mencari kolaborator untuk bekerja sebagai Manajer Komunikasi Publik dalam rangka mengumpulkan dan menyiarkan pengetahuan perkotaan.  Tugas-tugasnya antara lain: menyusun strategi komunikasi publik, menyarikan berbagai pengetahuan perkotaan, merancang bahan-bahan dijital maupun tercetak, dan melakukan penyiaran melalui publikasi offline maupun online.

Masa kerja: Februari-November 2014.

Yang tertarik dipersilakan mengirimkan email dengan CV dan foto ke info@rujak.org selambat-lambatnya pada tanggal 10 Januari 2014.

Hanya calon yang akan diwawancarai yang akan mendapat pemberitahuan.Freedom

 

 

 

No Comments »

| Agent of Change: none |


02 Dec 2013

Tentang Pontianak dan Kalimantan

Buku Baru di Perpustakaan Rujak Center for Urban Studies.

photo 5

 

Baru menyusul: Maria Goreti, anggota DPD dari Kalimantan Barat.

photo

 

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


09 Oct 2013

Wanted by THE RULES: Regional Strategy Consultant

The Rules
THE RULES | Regional Strategy Consultant

Background:

/The Rules (www.therules.org) is a new citizen-powered, global movement that unites the voices and collective power of the world’s majority to change rules that perpetuate poverty and inequality. Our objective is to build the first truly ‘post-aid’ advocacy organization – a social justice organization that merges the power of digital technology with the solidarity of the global public.

We are evolving the traditional organizing model by marrying the best of online organizing (e.g. the rapid response capability of groups like Avaaz,) with the decentralized network model (e.g. with principles from movements like Occupy and Indignados) and synchronized campaigning (e.g. the concentrated impact of campaigns like Make Poverty History and GCAP).

Position: Regional Strategy Consultant

We are in search of a consultant to provide a well constituted and clearly developed 2014- 2017 strategic and implementation plan for /The Rules. Each consultant will cover a specific region. The regions to be covered are as follows; Asia & the Pacific and Latin America & the Caribbean. Included in the strategy should be a social and political analysis of the given region.

Specific Objectives

To produce a three-year strategic plan based on the overarching organisational strategy, specific to the selected region. Included in the strategic plan should be a detailed implementation plan designed to achieve the strategic objectives proposed.

page1image13928

Scope of Work

The consultant will be responsible for designing a regionally tailored three-year strategic and implementation plan in line with the organisation’s overarching strategy. The consultant will work closely with the other regional consultants in developing a well-integrated and efficient plan. The consultant will be expected to accomplish the following tasks:

Consultant Duration

The consultancy duration is from November 2013 – February 2014.

/The Rules is an organization with staff members based all over the world; we accept applications from any location. We’re an equal opportunity employer and encourage applicants of diverse backgrounds, specifically women, people of color, and international applicants.

Please submit applications no later than 18 October 2013.

To Apply: Please submit C.V. and letter of intent to jobs@therules.org and/or Mazuba@therules.org

No Comments »

| Agent of Change: none |


25 Jul 2013

Koleksi Buku RCUS: Lingkungan dan Kelestarian

Berikut adalah resensi dari 5 buku koleksi Rujak mengenai lingkungan dan kelestarian. Buku dapat dipinjam dari Perpustakaan Rujak dengan menghubungi info@rujak.org

No Comments »

Topics: , , , , , , , , , , , | Agent of Change: none |


09 Jul 2013

Koleksi Buku RCUS: Kota-Kota di Indonesia

Berikut adalah resensi dari 4 buku koleksi Rujak mengenai kota Makassar, Kendari, Jakarta dan Yogyakarta dari berbagai aspek seperti ekonomi, sejarah, politik dan sosial. Buku dapat dipinjam di Perpustakaan Rujak dengan menghubungi info@rujak.org

No Comments »

Topics: , , , , , , , , , | Agent of Change: none |


21 Jun 2013

lagi, buku baru di Rujak

Illumination and Walter Spies

Illuminations; The Writing Traditions of Indonesia, Kumar, Ann, McGlynn, John H., 1996, Weather Hill, Inc. and the Lontar Foundation, Hongkong

Walter Spies; A Life in Art, Stowell, John

 

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |