<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak</title>
	<atom:link href="http://rujak.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujak.org</link>
	<description>For a Better Jakarta. Everyone is Invited.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 May 2013 17:03:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Warga Bicara, Pakar Mendengar!</title>
		<link>http://rujak.org/2013/05/warga-bicara-pakar-mendengar/</link>
		<comments>http://rujak.org/2013/05/warga-bicara-pakar-mendengar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 May 2013 17:01:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Bustaman]]></category>
		<category><![CDATA[Eko Budihardjo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=5167</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Anastasia (Ami) Dwirahmi.  Setelah menikmati kemeriahan pembukaan Festival Tengok Bustaman di Sabtu malam, pada Minggu (19/5) sekitar pukul 3 sore warga berkumpul di lorong kampung bersama para pakar dan mahasiswa untuk menghadiri acara ‘Pakar Mendengar’. Di forum ini, warga yang berperan sebagai pembicara, sementara pakar dan mahasiswa diminta untuk mendengar dan memberi tanggapan atau [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/DSCN4284.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5168" alt="DSCN4284" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/DSCN4284-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/DSCN4280.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5170" alt="DSCN4280" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/DSCN4280-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Oleh Anastasia (Ami) Dwirahmi.  Setelah menikmati kemeriahan pembukaan Festival Tengok Bustaman di Sabtu malam, pada Minggu (19/5) sekitar pukul 3 sore warga berkumpul di lorong kampung bersama para pakar dan mahasiswa untuk menghadiri acara ‘Pakar Mendengar’.</p>
<p>Di forum ini, warga yang berperan sebagai pembicara, sementara pakar dan mahasiswa diminta untuk mendengar dan memberi tanggapan atau pertanyaan.</p>
<p>Forum ini bukanlah ajang keluh kesah warga. Dalam acara ngobrol santai ini, warga mengungkapkan cerita mengenai kampung mereka, keunikan, permasalahan, dan solusi yang mereka temukan sendiri bagi kampung.</p>
<p>Walaupun disiapkan secara dadakan dan menggunakan tempat seadanya, diskusi berjalan dengan baik.</p>
<p>Warga yang terlibat antara lain adalah Bapak Wahyuno (ketua RW), Ibu Fadillah (penggerak kesehatan masyarakat), Ibu Hartati (keturunan Kyai Bustam), Maulana (Ketua Ikatan Remaja Bustaman) dan Hari Bustaman (tokoh kampung). Pada momen itu, hadir pula Prof. Eko Budihardjo, mantan rektor Universitas Diponegoro, Djawahir Muhammad, yang telah lama meneliti mengenai sejarah Raden Saleh serta dosen dan mahasiswa dari berbagai universitas. Dalam obrolan yang dimoderatori oleh Galih dari Karamba Art Movement itu, ditekankan betapa pentingnya menjaga keaslian dan keunikan sebuah kampung. Baik itu dari bangunan, tradisi, sampai bahasa.</p>
<p>Hanya saja memang perlu dilakukan penyesuaian dan pembelajaran terus menerus dari sebuah kampung agar bisa menjadi bagian dari sebuah kota yang lestari. Seperti misalnya, menjaga kebersihan kampung, kesehatan masyarakat dan usaha untuk menjadi kampung yang ramah lingkungan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2013/05/warga-bicara-pakar-mendengar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemutaran Film Potensi Strenkali, Surabaya</title>
		<link>http://rujak.org/2013/05/pemutaran-film-potensi-strenkali-surabaya/</link>
		<comments>http://rujak.org/2013/05/pemutaran-film-potensi-strenkali-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 May 2013 11:08:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=5165</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2013/05/pemutaran-film-potensi-strenkali-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memproduksi Pengetahuan itu Hak Semua Orang</title>
		<link>http://rujak.org/2013/05/memproduksi-pengetahuan-itu-hak-semua-orang/</link>
		<comments>http://rujak.org/2013/05/memproduksi-pengetahuan-itu-hak-semua-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 May 2013 06:38:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Ami]]></category>
		<category><![CDATA[Anastasia Dwirahmi]]></category>
		<category><![CDATA[Bustaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=5161</guid>
		<description><![CDATA[Dinamika Penggalian Pengetahuan di Kampung Bustaman. Oleh Anastasia (Ami) Dwirahmi. Beberapa bulan terakhir, warga Kampung Bustaman memiliki kesibukan baru. Di sela-sela kegiatan pemotongan kambing dan pengelolaan sanimas, remaja dan tetua kampung membuka-buka album foto lama, menelusur arsip kampung dan menceritakan kenangan-kenangan mereka. Pengetahuan mengenai kampung dikumpulkan dan akan didistribusikan baik ke dalam maupun ke luar. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/1.Workshop-penentuan-isu-dan-tokoh-kampung-Awal-2013.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5162" alt="1.Workshop penentuan isu dan tokoh kampung - Awal 2013" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/1.Workshop-penentuan-isu-dan-tokoh-kampung-Awal-2013-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><b>Dinamika Penggalian Pengetahuan di Kampung Bustaman. Oleh Anastasia (Ami) Dwirahmi.</b></p>
<p>Beberapa bulan terakhir, warga Kampung Bustaman memiliki kesibukan baru. Di sela-sela kegiatan pemotongan kambing dan pengelolaan sanimas, remaja dan tetua kampung membuka-buka album foto lama, menelusur arsip kampung dan menceritakan kenangan-kenangan mereka. Pengetahuan mengenai kampung dikumpulkan dan akan didistribusikan baik ke dalam maupun ke luar. Program ini merupakan kolaborasi warga dengan beberapa komunitas di Semarang yang tetarik pada isu kampung.</p>
<p>Kebanyakan penelitian dilakukan oleh peneliti, tanpa melibatkan warga sama sekali. Warga hanya menjadi objek yang ditanyai dan diberi lembar kuesioner. Namun kali ini, warga terlibat cukup aktif untuk mengenal kembali sejarah mereka.</p>
<p>Ketika mendengar kata sejarah, ada beberapa warga yang merasa enggan untuk terlibat. Bagi mereka, kata itu terlalu berat dan mereka merasa tidak punya pengetahuan sama sekali. Maka yang pertama kali dilakukan adalah memetakan tema penelitian yang sekiranya lebih bisa diterima oleh warga, tetapi tidak menghilangkan misi untuk menggali sejara kampung.</p>
<p>Akhirnya setelah sekitar satu bulan mengadakan pertemuan informal dengan ketua RT, RW dan para remaja, ditentukan 6 buah tema turunan dari tema besar sejarah kampung. Tema-tema tersebut adalah : Profil remaja, Mushola, Rumah Pemotongan Hewan, Sanimas, Tokoh Bustaman, dan Pedagang. Metodenya para remaja akan menjadi ‘peneliti’ bagi kampung mereka sendiri dan mewawancarai orang tua mereka.</p>
<p>Untuk itu, remaja dibekali dengan teknik-teknik sederhana untuk menggali dan mendokumentasikan informasi. Tim UGD Semarang mengundang beberapa praktisi surat kabar dan televisi untuk berbagi pengetahuan pada para remaja mengenai teknik wawancara, pembuatan video dan pengolahan data.</p>
<p>Setelah mendapat pembekalan, remaja mulai bekerja dengan didampingi oleh beberapa fasilitator  untuk membantu mereka memecahkan masalah yang mereka temui selama melakukan penelitian ini. Mereka melakukan kegiatan ini sejak bulan Januari-April 2013. Mulai dari mewawancara tokoh kampung, mencari foto-foto lama, sampai digitalisasi arsip kampung.</p>
<p>Beberapa kendala bisa dipetakan dari metode seperti ini. Yang pertama adalah sulitnya membuat warga merasa terlibat dengan program ini. Mungkin karena warga terbiasa dengan ‘pendatang’ yang membawa uang segar dan melakukan proyek fisik. Sehingga ketika tim UGD datang dengan membawa tugas untuk mereka, warga sedikit malas ikut serta. Kedua adalah waktu. Para remaja harus berbagi dengan kegiatan sekolah dan pekerjaan mereka (karena banyak dari mereka yang juga bekerja).</p>
<p>Masalah ketiga adalah problem internal kampung. Ada beberapa gap yang terjadi, baik di antara remaja kampung maupun antara remaja dengan warga senior. Tapi tidak disangka-sangka, masalah yang terakhir ini cukup bisa diselesaikan dengan adanya program dari tim UGD. Beberapa kali kami berusaha mengupayakan dialog antara remaja dan para orang tua. Hasilnya adalah, Ikatan Remaja Bustaman yang sudah lama vakum kini bisa hidup kembali.</p>
<p>Setelah penelitian selama 4 bulan tersebut, data yang telah dikumpulkan diolah menjadi beberapa tulisan naratif mengenai kampung. Tulisan-tulisan inilah yang nanti akan dijadikan panduan untuk berkarya bagi seniman yang terlibat dalam festival Tengok Bustaman. Maksud dari penyelenggaraan festival ini, selain untuk menandai selesainya program Kampung Bustaman, juga untuk menyampaikan hasil penelitian warga dengan cara kreatif untuk menarik perhatian anak muda di Kota Semarang.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/20130208_164309.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5163" alt="20130208_164309" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/20130208_164309-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2013/05/memproduksi-pengetahuan-itu-hak-semua-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kampung Bustaman?</title>
		<link>http://rujak.org/2013/05/kampung-bustaman/</link>
		<comments>http://rujak.org/2013/05/kampung-bustaman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 May 2013 08:55:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Rujak Answers]]></category>
		<category><![CDATA[Ami]]></category>
		<category><![CDATA[Anastasia Dwirahmi]]></category>
		<category><![CDATA[Bustaman]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=5151</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Anastasia (Ami) Dwirahmi Sejak bulan Oktober 2012, tim UKD Semarang yang menyebut diri sebagai UGD (Unidentifid Group Discussion) telah menjalankan program di sebuah kampung di wilayah Semarang Tengah bernama Kampung Bustaman. Kampung ini terletak di antara situs penting Kota Semarang yaitu : Pecinan, Kota Lama dan Pasar Johar. Ketiganya mungkin sudah banyak kita dengar, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center">Oleh Anastasia (Ami) Dwirahmi</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/DSCN5366.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5155" alt="DSCN5366" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/DSCN5366-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/20121214_164216.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5154" alt="20121214_164216" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/20121214_164216-225x300.jpg" width="225" height="300" /></a></p>
<p>Sejak bulan Oktober 2012, tim UKD Semarang yang menyebut diri sebagai UGD (Unidentifid Group Discussion) telah menjalankan program di sebuah kampung di wilayah Semarang Tengah bernama Kampung Bustaman. Kampung ini terletak di antara situs penting Kota Semarang yaitu : Pecinan, Kota Lama dan Pasar Johar. Ketiganya mungkin sudah banyak kita dengar, namun Bustaman belum banyak yang mengenal.</p>
<p>Kampung Bustaman adalah sebuah kampung yang terdiri hanya dari 2 RT saja, dan dihuni oleh kurang lebih 90 keluarga. Ada 3 jalan masuk menuju kampung ini, dari Jalan MT. Haryono, Petudungan atau lewat Pekojan. Walaupun memiliki beberapa pintu, kampung ini senantiasa aman. Maka kata Bustaman sering juga dipelesetkan menjadi ‘Tembus Tapi Aman’.</p>
<p>Mendengar nama Bustaman, kita pasti teringat pada seorang tokoh seni lukis modern kebanggaan Indonesia, Raden Saleh. Ya, Raden Saleh Syarif Bustam memang memiliki kaitan dengan kampung ini secara tidak langsung. Kakek buyut dari Raden Saleh, yaitu Kyai Kertoboso Bustam, adalah orang yang mendirikan kampung ini. Kyai Bustam memulai kampung ini dengan membangun sebuah sumur, tanah kampung ini beliau dapatkan dari pemerintah Belanda atas jasanya menghentikan pemberontakan orang Jawa dan Cina. Kyai Bustam juga pintar menerjemahkan Bahasa Belanda, sehingga ia sangat disayang oleh pemerintah kolonial pada waktu itu.</p>
<p>Kebanggaan warga Bustaman akan sang Kyai sangat terasa. Walaupun begitu, ternyata tidak semua dari mereka sadar akan betapa berharganya ‘warisan’ yang mereka miliki. Tim UGD bersama beberapa komunitas berusaha untuk mengajak warga mengangkat kembali sejarah mereka demi kelestarian kisah dan kampung ini sendiri.</p>
<p>Selain Kyai Bustam, kampung kecil ini juga memiliki ‘warisan’ lain yaitu tradisi berdagang kambing. Perdagangan kambing sudah ada di Bustaman sejak berpuluh tahun yang lalu, bahkan Bustaman menjadi salah satu sentra pemotongan kambing di Semarang. Selain dagingnya, beberapa warga Bustaman juga membuat bumbu gule dan tengkleng, namun tidak ada yang berjualan masakan daging kambing siap makan. Pamor Bustaman sebagai pusat kambing membuat nama kampung ini diambil sebagai nama warung-warung gule di seantero Kota Semarang, walaupun yang berjualan sebenarnya bukan orang Bustaman.</p>
<p>Sejak tengah malam sampai menjelang sore, kegiatan yang berkaitan dengan pemotongan dan pendistribusian daging kambing terjadi di kampung ini. Mulai dari datangnya kambing hidup, disembelih, dibersihkan, dipotong menjadi bagian-bagian kecil, sampai diambil oleh para pedagang gule/tengkleng semua bisa kita lihat di Bustaman. Ditambah lagi dengan aroma bumbu gule yang sedang dimasak. Saat ini di Bustaman hanya tinggal tersisa 2 pedagang kambing yang masih aktif, yaitu Haji Toni dan Bapak Yusuf.  Sebagian pedagang lainnya sudah gulung tikar karena berbagai macam hal.</p>
<p>Bustaman adalah salah satu kampung bersejarah di Kota Semarang yang belum banyak diketahui orang. Di tengah perkembangan Kota Semarang, kampung-kampung seperti Bustaman ini sering kali dilupakan. Padahal jika dilihat dari kisahnya, Kampung Bustaman bisa menjadi salah satu aset sejarah dan budaya dari Kota Semarang.</p>
<p>Selamat datang di Bustaman!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2013/05/kampung-bustaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#Tengok Bustaman, Semarang</title>
		<link>http://rujak.org/2013/05/tengok-bustaman-semarang/</link>
		<comments>http://rujak.org/2013/05/tengok-bustaman-semarang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 May 2013 03:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[#TengokBustaman]]></category>
		<category><![CDATA[Adin]]></category>
		<category><![CDATA[Ami]]></category>
		<category><![CDATA[Anastasia Dwirahmi]]></category>
		<category><![CDATA[Bustaman]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=5136</guid>
		<description><![CDATA[Sekilas Tentang Persiapan Tengok Bustaman oleh Anastasia (Ami) Dwirahmi Akhirnya, rangkaian program UKD Semarang di Kampung Bustaman hampir mendekati akhir. Pada 18-19 Mei 2013, tim bersama warga mengadakan festival kampung bertajuk Tengok Bustaman. Festival ini juga menggandeng banyak komunitas seni di Semarang untuk berpartisipasi. Gagasan mengenai festival ini disampaikan pada warga di awal Mei 2013. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_4976.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5137" alt="IMG_4976" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_4976-225x300.jpg" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_4983.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5139" alt="IMG_4983" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_4983-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a> <a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_4984.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5140" alt="IMG_4984" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_4984-252x300.jpg" width="252" height="300" /></a> <a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_4977.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5138" alt="IMG_4977" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_4977-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a> <a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_4986.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5141" alt="IMG_4986" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_4986-212x300.jpg" width="212" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: left;" align="center"><b>Sekilas Tentang Persiapan Tengok Bustaman oleh Anastasia (Ami) Dwirahmi</b></p>
<p style="text-align: left;" align="center">Akhirnya, rangkaian program UKD Semarang di Kampung Bustaman hampir mendekati akhir. Pada 18-19 Mei 2013, tim bersama warga mengadakan festival kampung bertajuk Tengok Bustaman. Festival ini juga menggandeng banyak komunitas seni di Semarang untuk berpartisipasi. Gagasan mengenai festival ini disampaikan pada warga di awal Mei 2013. Dalam waktu yang singkat, beberapa rapat persiapan, presentasi pada warga, pendekatan dengan komunitas dilakukan secara berurutan. Warga dan komunitas menyambut baik dan sangat antusias terhadap rencana ini.</p>
<p>Rangkaian kegiatan sudah dimulai sejak Minggu, 12 Mei 2013. Pada hari itu, rekan-rekan dari Orart Oret, sebuah komunitas sketsa di Semarang, mengajak warga Bustaman menggambar kampung mereka. Walaupun mulanya sedikit malu-malu, akhirnya banyak juga anak-anak dan remaja yang mulai ikut menggambar. Menurut Dadang Pribadi, seorang penggagas komunitas ini, jumlah gambar yang terkumpul dari warga ada sekitar 27. Semua gambar tersebut kemudian dipamerkan di festival kampung.</p>
<p>Warga juga tidak mau kalah bersiap.  Sejak Selasa, 14 Februari 2013 warga Bustaman sudah mulai terlihat sibuk. Beberapa warga senior  yang dikomando langsung oleh Pak RW sibuk memasang lampu. Beberapa mulai menyapu halaman, membersihkan selokan, dan mushola. Para ibu juga mulai berkumpul, membicarakan kira-kira apa yang akan mereka jual di acara Tengok Bustaman. Mulai muncul ide-ide segar dari warga, warga yang tadinya tidak rutin berjualan, berniat untuk memasak beberapa jenis makanan untuk dijual. Selain itu, mereka juga mulai bersiap memasak untuk konsumsi pengisi acara, yang memang seluruhnya diupayakan secara swadaya oleh warga.</p>
<p>Remaja Bustaman yang kini mulai aktif kembali di bawah bendera Ikatan Remaja Bustaman semakin aktif membantu persiapan festival, terutama yang berkaitan dengan tata visual kampung. Para remaja putri membuat umbul-umbul dan hiasan lain. Sementara remaja putra membantu beberapa komunitas street art, seperti Hokage, ZOS, dan OneTwoPM untuk membuat mural kampung. Remaja mengaku senang karena selain kampungnya menjadi semarak, mereka juga mendapatkan ilmu baru.</p>
<p>Ketika beberapa gambar mural sudah jadi, banyak warga yang berkumpul membahas gambar di tembok kampung mereka tersebut. Salah satu karya mural dari ZOS menampilkan sejarah singkat mengenai Kampung Bustaman, dengan gambar seorang kyai yang menggendong kambing. Warga membahas gambar dan tulisan yang ada di mural tersebut, sebuah informasi sejarah kampung yang beberapa dari mereka belum ketahui sebelumnya. Misalnya mengenai keberadaan sumur Kyai Bustam dan hubungan kekerabatan Sang Kyai dengan Raden Saleh.</p>
<p>Selain kegiatan-kegiatan dalam rangka persiapan festival, ada juga beberapa workshop yang ternyata berhasil membangkitkan suasana kebersamaan kampung jelang festival. Salah satu workshop diadakan oleh Serok Mancung, yang mengajak anak-anak dan pemuda kampung bermain permainan tradisional bersama. Gambang Semarang Art Company, yang juga membuka acara Tengok Bustaman, mengadakan workshop tari gratis untuk Kampung Bustaman.</p>
<p>Melihat kampungnya sudah berhias, warga semakin semangat menyambut festival. Apalagi mereka tahu bahwa banyak komunitas seni di Semarang yang turut berpartisipasi. Beberapa kali para orang tua sempat mengingatkan anak-anak mereka untuk banyak belajar dari teman-teman komunitas yang datang membantu mereka, agar Kampung Bustaman bisa menjadi kampung yang kreatif.  Selama persiapan tersebut warga mengungkapkan harapannya agar acara serupa bisa diselenggarakan setiap tahun.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/Latihan-tari-bersama-Gambang-Semarang-Art-Company.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5144" alt="Latihan tari bersama Gambang Semarang Art Company" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/Latihan-tari-bersama-Gambang-Semarang-Art-Company-300x200.jpg" width="300" height="200" /></a> <a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/Menggambar-bersama-Orart-Oret-12-Mei-2013.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5146" alt="Menggambar bersama Orart Oret, 12 Mei 2013" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/Menggambar-bersama-Orart-Oret-12-Mei-2013-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a> <a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/Rapat-Awal-Persiapan-Tengok-Bustaman.-Dihadiri-Warga-dan-Komunitas..jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5147" alt="Rapat Awal Persiapan Tengok Bustaman. Dihadiri Warga dan Komunitas." src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/Rapat-Awal-Persiapan-Tengok-Bustaman.-Dihadiri-Warga-dan-Komunitas.-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a> <a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/Workshop-permainan-tradisional-dari-Serok-Mancung-Mei-2013.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5148" alt="Workshop permainan tradisional dari Serok Mancung - Mei 2013" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/Workshop-permainan-tradisional-dari-Serok-Mancung-Mei-2013-300x200.jpg" width="300" height="200" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2013/05/tengok-bustaman-semarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>New Regionalism in Bali Architecture by Popo Danes</title>
		<link>http://rujak.org/2013/05/new-regionalism-in-bali-architecture-by-popo-danes/</link>
		<comments>http://rujak.org/2013/05/new-regionalism-in-bali-architecture-by-popo-danes/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 May 2013 04:06:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arts & Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=5133</guid>
		<description><![CDATA[Buku baru di Rujak Center for Urban Studies. Popo Danes adalah salah satu arsitek paling sukses di Bali. Sepanjang sejarah karirnya, ia menghidupkan dan menghidupi arsitektur Bali. Imelda Akmal, New Regionalism in Bali Architecture by Popo Danes, PT Imaji Media Pustaka, Jakarta, 2011. &#160;]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Buku baru di Rujak Center for Urban Studies.</p>
<p>Popo Danes adalah salah satu arsitek paling sukses di Bali. Sepanjang sejarah karirnya, ia menghidupkan dan menghidupi arsitektur Bali.</p>
<p>Imelda Akmal, <strong>New Regionalism in Bali Architecture by Popo Danes</strong>, PT Imaji Media Pustaka, Jakarta, 2011.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/photo.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5134" alt="photo" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/photo-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2013/05/new-regionalism-in-bali-architecture-by-popo-danes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MUSEUM KOLONG TANGGA, MUSEUM YANG MENJADI RUANG UNTUK ANAK</title>
		<link>http://rujak.org/2013/05/museum-kolong-tangga-museum-yang-menjadi-ruang-untuk-anak/</link>
		<comments>http://rujak.org/2013/05/museum-kolong-tangga-museum-yang-menjadi-ruang-untuk-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 May 2013 09:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Anastasia Dwirahmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=5124</guid>
		<description><![CDATA[  Oleh: Anastasia Dwirahmi. Keberadaan Museum Anak Kolong Tangga memang tidak nampak dari luar jika kita berada di kompleks Taman Budaya Yogyakarta. Museum ini ‘hanya’ menempati ruang memanjang di bawah tangga, yang berada di lantai 2 gedung utama. Ruangan ini dulu dimanfaatkan sebagai kantin untuk para karyawan TBY. Sementara, dua tangga melingkar adalah jalan menuju [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_0084.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5125" alt="IMG_0084" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_0084-225x300.jpg" width="225" height="300" /></a></p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-5128" alt="IMG_8839" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_8839-200x300.jpg" width="200" height="300" /><img class="alignnone size-medium wp-image-5126" alt="IMG_4129" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_4129-200x300.jpg" width="200" height="300" /><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_6436.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5127" alt="IMG_6436" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/IMG_6436-300x200.jpg" width="300" height="200" /></a> <a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/25IMG_0038.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5129" alt="25IMG_0038" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/25IMG_0038-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Oleh: Anastasia Dwirahmi.</p>
<p>Keberadaan Museum Anak Kolong Tangga memang tidak nampak dari luar jika kita berada di kompleks Taman Budaya Yogyakarta. Museum ini ‘hanya’ menempati ruang memanjang di bawah tangga, yang berada di lantai 2 gedung utama. Ruangan ini dulu dimanfaatkan sebagai kantin untuk para karyawan TBY. Sementara, dua tangga melingkar adalah jalan menuju ke ruang pertunjukan. Walau berada di bawah tangga, museum ini mudah ditemukan karena temboknya yang berwarna-warni, dengan gambar khas anak-anak yang didesain sendiri oleh sang kurator sekaligus pendiri museum, Bapak Rudi Corens.</p>
<p>Rudi Corens adalah seorang Belgia yang sudah tinggal di Indonesia lebih dari 25 tahun. Kecintaannya pada dunia anak-anak dan seni membuat beliau hobi mengumpulkan berbagai mainan,permainan, dan pengetahuan mengenai dunia anak dari berbagai tempat dan zaman. Akhirnya pada 2 Februari 2008, museum mungil ini pun resmi dibuka. Sebelumnya Rudi Corens mendirikan sebuah yayasan, yaitu Yayasan Dunia Damai. Yayasan ini menaungi Museum Anak Kolong Tangga sampai sekarang dan menjadi penyandang dana bagi kegiatan museum. Yayasan Dunia Damai didukung oleh para donor, baik institusi maupun perorangan.</p>
<p>Museum Anak Kolong Tangga adalah museum mainan sekaligus museum anak pertama di Indonesia. Museum ini memiliki ribuan koleksi dari berbagai negara, dan senantiasa memperbaharui koleksinya. Saat ini jumlah koleksi sudah mencapai 7000 buah. Koleksi yang demikian banyak tersebut tentu tidak bisa dipamerkan sekaligus, maka museum ini rajin mengganti display pameran, yang dilakukan setiap satu tahun sekali. Biasanya peluncuran pameran baru akan dilakukan bersama dengan perayaan ulang tahun museum.</p>
<p>Sebagai kurator, Rudi Corens bertanggung jawab penuh atas pilihan koleksi. Beliau selalu berhati-hati dalam menentukan koleksi mana yang sebaiknya dipajang, dan bagaimana teknik displaynya. Apakah di dalam vitrin, atau dipasang di panel. Setiap mainan menyimpan banyak kisah mengenai waktu saat mainan itu diciptakan. Misalnya, sebuah set pasukan perang dari plastik yang sangat berhubungan dengan peperangan yang sedang terjadi ketika mainan itu dibuat. Atau bagaimana mainan bisa menunjukkan perubahan penggunaan bahan dasar kehidupan sehari-hari manusia. Misalnya, bahan seperangkat alat minum teh untuk anak perempuan yang dulu masih menggunakan keramik, kini sudah berubah menjadi plastik.</p>
<p>Kolong Tangga adalah sebuah museum yang unik, bukan hanya karena konsep dan koleksinya, namun juga karena museum ini dijalankan oleh para <i>volunteer </i>yang kebanyakan tidak memiliki pendidikan di bidang museum. Mereka adalah mahasiswa kreatif yang meluangkan waktunya selama beberapa jam setiap minggu untuk bekerja di berbagai divisi yang ada di museum ini. Divisi-divisi itu antara lain : workshop, perpustakaan, majalah, publikasi dan divisi museum, yang berhubungan langsung dengan koleksi. Keterlibatan anak muda dari berbagai bidang ini seolah menampik pandangan umum bahwa museum hanya bisa diurus oleh sejarawan atau arkeolog. Museum memang seharusnya selalu penuh dengan kreatifitas dari berbagai disiplin ilmu.</p>
<p>Kolong Tangga bisa menjadi contoh sebuah museum yang hidup. Workshop diadakan setiap satu minggu sekali, dengan tema yang berbeda dan tidak memungut biaya. Satu-satunya workshop yang memungut biaya adalah workshop yang dipesan oleh sekolah yang datang berkunjung. Itupun paling mahal hanya Rp. 10.000/anak. Selain itu ada pula kegiatan yang diselenggarakan di luar museum, seperti kunjungan ke rumah sakit, sekolah, dan desa. Museum juga aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan lain di Yogyakarta, misalnya pawai bersama museum lain di sepanjang Jalan Malioboro.</p>
<p>Selain rajin mengadakan workshop, Kolong Tangga perlu diapresiasi karena cukup rutin menyelenggarakan pameran temporer. Tidak banyak lagi museum yang memiliki agenda pameran temporer. Sejak sebelum museum ini resmi dibuka, beberapa koleksi awal dipamerkan dalam Pameran Come And See A Story di TBY. Pameran ini menjadi semacam pengenalan awal bagi masyarakat di Yogyakarta terhadap Museum Kolong Tangga. Setelah itu berturut-turut museum mengadakan pameran bertema robot (<i>Robot and Robotic</i>, 2009), celengan (2010), makanan (<i>You Cook I Eat</i>, 2012) dan pada Mei 2013 ini Kolong Tangga akan berpameran di Museum Pendidikan UNY dengan tema ilustrasi buku anak (<i>Beautiful Book, Beautiful Pictures</i>).</p>
<p>Tidak seperti museum negeri yang mendapat dana dari pemerintah, Museum Kolong Tangga sepenuhnya mengandalkan donatur. Walaupun begitu, museum ini tetap pada komitmen awalnya yaitu menjadi museum untuk semua anak. Visinya, selain tentu saja menjadi sarana pendidikan alternatif, adalah membuat museum  menjadi ruang publik bagi anak, terutama anak-anak yang tidak punya kemampuan untuk mengakses tempat-tepat bermain di kota yang kian mahal itu, seiring dengan semakin minimnya ruang di kota yang layak untuk anak. Komitmen ini diwujudkan dengan kebijakan museum untuk tidak menarik uang tiket bagi anak di bawah 15 tahun, sementara untuk orang dewasa, Kolong Tangga hanya membebankan sebanyak Rp. 4.000,00. Uang itu sepenuhnya akan digunakan untuk mengadakan workshop gratis dan kegiatan lainnya.</p>
<p><b>Museum Anak Kolong Tangga</b></p>
<p>Gedung Taman Budaya Yogyakarta (TBY)</p>
<p>Jl. Sriwedari no.1</p>
<p>Yogyakarta</p>
<p><b>Yayasan Dunia Damai (Sekretariat Museum)</b></p>
<p>Bintaran Kulon MG II/25, Surokarsan, Margansan</p>
<p>Yogyakarta, Indonesia</p>
<p>(0274) 6995577</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2013/05/museum-kolong-tangga-museum-yang-menjadi-ruang-untuk-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Once Upon a Sinking City: The Perpetual Floods of Jakarta</title>
		<link>http://rujak.org/2013/05/once-upon-a-sinking-city-the-perpetual-floods-of-jakarta/</link>
		<comments>http://rujak.org/2013/05/once-upon-a-sinking-city-the-perpetual-floods-of-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 May 2013 15:47:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Grace Susetyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=5122</guid>
		<description><![CDATA[From Jakarta Expat Posted on 25 February 2013. Tags: flooding, Grace Susetyo, History, Once Upon a Sinking City, The perpetual floods of Jakarta By: Grace Susetyo It is said that in life only two things are certain: death and taxes. But if you live in Jakarta, you can add two more to that list: macet and banjir. Government officials come and go, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jakartaexpat.biz/history/once-upon-a-sinking-city-the-perpetual-floods-of-jakarta/">From Jakarta Expat</a></p>
<p>Posted on 25 February 2013. Tags: <a href="http://jakartaexpat.biz/tag/flooding/" rel="tag">flooding</a>, <a href="http://jakartaexpat.biz/tag/grace-susetyo/" rel="tag">Grace Susetyo</a>, <a href="http://jakartaexpat.biz/tag/history/" rel="tag">History</a>, <a href="http://jakartaexpat.biz/tag/once-upon-a-sinking-city/" rel="tag">Once Upon a Sinking City</a>, <a href="http://jakartaexpat.biz/tag/the-perpetual-floods-of-jakarta/" rel="tag">The perpetual floods of Jakarta</a></p>
<h2>By: <strong>Grace Susetyo</strong></h2>
<div><a title="Once Upon a Sinking City: The Perpetual Floods of Jakarta" href="http://jakartaexpat.biz/wp-content/uploads/2013/02/Jakarta-Flood.jpg" rel="lightbox"><img alt="" src="http://jakartaexpat.biz/wp-content/uploads/2013/02/Jakarta-Flood-585x352.jpg" width="585" height="352" /></a>It is said that in life only two things are certain: death and taxes. But if you live in Jakarta, you can add two more to that list: macet and banjir.</p>
<p>Government officials come and go, and it seems like none of them can keep floods out of Jakarta. Even award-winning Governor Joko “Jokowi” Widodo–who visits the capital’s problematic areas on a daily basis and demonstrates considerable effort to “fix Jakarta”–was quoted saying to the press, “(Solving) banjir and macet takes process, so don’t expect me to fix it like a god turning his hand. Even the gods can’t [solve Jakarta's floods and traffic jams].”</p>
<p>It is rather unfortunate that Jokowi’s 100th day evaluation fell on January 22, right in the middle of last month’s major floods. But I don’t blame Jokowi.</p>
<p>Nevertheless, Jakarta’s flooding remains a serious perpetual concern. Some areas in Jakarta, according to urban planner and director of RuJak.org Marco Kusumawijaya, are confirmed to sink at an alarming rate of 18 centimetres per year (that’s a tall person’s height per decade!), mostly due to deep well groundwater usage and urban development.</p>
<p>Many people, fatigued with Jakarta’s less-than-stellar water management, like to romanticise about the “good-old-days” under the Dutch rule when the old canals were well maintained and Batavia was known as “Paris of the East”. But not many people know that Batavia has been flooded since 1665.</p>
<p>Batavia was established in 1619 by the Dutch East India Company. According to historian Bondan Kanumoyoso, who authored a book on 17th-18th century socioeconomic development in Batavia, the settlement now known as Jakarta’s Old City was never meant to be a proper city, but rather as the company’s Southeast Asian hub for the spice trade. Ecological considerations were the least of the Company’s concern.</p>
<p>The settlement was healthy for the first thirty years, until Batavia was attacked by Mataram (present-day Yogyakarta Sultanate), thus prompting the Dutch to end their isolation and start developing new settlements along the riverbanks of Ciliwung. Sugarcane plantations burgeoned down south, and migrant workers from outside Java were brought in, causing deforestation and subsequently flooding.</p>
<p>“But flooding in the rainy season is only half of the problem. In the dry season there’s drought, which causes muddy waters to stagnate in the canals and become breeding grounds for disease vectors like malaria-bearing mosquitos,” said Bondan. “In addition to preventing floods, there’s also the challenge of making sure that there’s the right amount of water flowing in the dry season.”</p>
<p>Batavia’s canals were commissioned in the early 17th century by Jan-Pieterszoon Coen, a Company official who studied in Venice and wanted a similar waterway transportation system in the hub. Batavia’s canals would later inspire the infamous canals of Amsterdam.</p>
<p>However, some of Batavia’s canals had to be converted into roads when waters carrying sedimentation from Mount Salak’s eruption stagnated. Other canals were subsequently built over the coming centuries, like the Molenvliet in Jl. Hayam Wuruk-Gajah Mada, the Mookervaart in Jl. Daan Mogot, Kanal Banjir Barat, and Kanal Banjir Timur. But the floods keep on coming.</p>
<p>Marco Kusumawijaya referred to Restu Gunawan’s book Gagalnya Sistem Kanal (“The Failure of the Canal System”), which explains the history of flood control in 20th century Batavia and problems Dutch canals cannot solve. Canals ultimately fail because once bigger ones are installed, it encourages development, which only exacerbates the root causes of flooding.</p>
<p>Marco’s mathematical formula for floods is:</p>
<p>F = SR – (Q1 + Q2)</p>
<p>F being “Flood”, SR being “Surface Runoff”, Q1 being natural drainages like rivers and lakes, and Q2 being manmade channels.</p>
<p>Most of the time, people attempt to control floods by maximising Q2: canals, dams, reservoirs. Such projects are often commissioned to private companies, thus making them economically and politically beneficial.</p>
<p>“But increasing Q2 without reducing SR is like putting a bigger glass under a tap of running water. Sure, it holds more water, but unless the tap is turned off, the glass would still eventually overflow no matter how big it is,” said Marco.</p>
<p><a href="http://jakartaexpat.biz/wp-content/uploads/2013/02/Jakarta-The-Sinking-City.jpg"><img title="Jakarta The Sinking City" alt="Jakarta The Sinking City" src="http://jakartaexpat.biz/wp-content/uploads/2013/02/Jakarta-The-Sinking-City-225x300.jpg" width="225" height="300" /></a>Jakarta already has a great amount of natural SR from rainfall and excess waters from West Java’s highlands alone. And then there’s the additional runoff from population growth, developments that take away surfaces for groundwater absorption, and sewage produced by human settlements and industries–some which draw deep groundwater but can’t put it back into the ground.</p>
<p>Efforts to curb SR include reforestation and groundwater recharging through infiltration wells. “They’re not politically ‘sexy’ because they require decentralisation and the empowerment of the people,” said Marco.</p>
<p>“Q2 measures tend to be more popular because they put money into infrastructure, thus giving the impression of modernisation. In comparison, SR measures tend to give the impression of curtailing development.” Reforestation, for instance, may require spending tax money to buy hectares of rainforest and simply conserve them, without developing any moneymaking investments on the expensive land.</p>
<p>In order to encourage SR measures, Marco said that it is important for the public to assure the government and businesses that it is acceptable to invest in them. “The sustainable way is always a challenge, but technology makes it possible. It’s just not well-embedded in the system yet,” said Marco. These technologies include permeable drainage to absorb the runoff, plants that act as natural water cleaners and absorbers, biopores, and “green roofs” that retain water.</p>
<p>Additionally, development and flood control can go hand-in-hand by implementing spatial planning bylaws that regulate the intensification of land use and set limits on floor area ratio. Unfortunately businesses often violate them with under-the-table arrangements involving money.</p>
<p>“This is because our government and our people still lack a scientific mentality,” said Marco. “In order for it to stop, damages must be clearly calculable, and there needs to be legal procedures to punish offenders. Sure, this will increase development costs and reduce profits, but it also disciplines the market by forcing it to become more efficient. Businesses need to start including SR measures as part of their normal business costs. It only costs a few million Rupiahs.”</p>
<p>“In order for Jakarta to have zero flooding, there needs to be zero corruption,” he added. “Sustainability is the only way to go if we want to survive. First we must believe that we need to survive and that we have the technology to make it possible.”</p>
<p><em>Rujak Center for Urban Studies (RCUS)</em><br />
<em>Gedung Ranuza 2nd Floor</em><br />
<em>Jl Timor No. 10</em><br />
<em>Menteng, Jakarta Pusat 10350</em><br />
<a href="http://www.rujak.org/" target="_blank"><em>http://www.rujak.org</em></a></p>
<p><em>Rujak  is a non-profit organisation devoted to exchange ideas and commit to actions that transform Jakarta into a better, sustainable city. The RuJak website is regularly updated with entries on urban planning and architecture, and announces upcoming public discussions.</em></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2013/05/once-upon-a-sinking-city-the-perpetual-floods-of-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baru Tiba: Majalah Art &amp; Thought (Fikrun wa Fann) no. 98</title>
		<link>http://rujak.org/2013/05/baru-tiba-majalah-art-thought-fikrun-wa-fann-no-98/</link>
		<comments>http://rujak.org/2013/05/baru-tiba-majalah-art-thought-fikrun-wa-fann-no-98/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 May 2013 02:48:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arts & Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Anne-Mary Schimmel]]></category>
		<category><![CDATA[goethe institut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=5114</guid>
		<description><![CDATA[Majalah Fikrun wa Fann didirikan oleh almarhumah Anne-Marie Shimmel, seorang ahli teologi Islam yang pada umur 24 tahun sudah menjadi profesor bidang kajian Islam di Harvard. Kini majalah tersebut diterbitkan oleh Goethe Institut. COMING TO TERMS WITH THE PAST &#8220;Very few societies have the good fortune to boast a truly unproblematic, non-violent past. Dark corners are [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Majalah <em><strong>Fikrun wa Fann</strong></em> didirikan oleh almarhumah <strong>Anne-Marie Shimmel</strong>, seorang ahli teologi Islam yang pada umur 24 tahun sudah menjadi profesor bidang kajian Islam di Harvard. Kini majalah tersebut diterbitkan oleh Goethe Institut.</p>
<p>COMING TO TERMS WITH THE PAST</p>
<p>&#8220;Very few societies have the good fortune to boast a truly unproblematic, non-violent past. Dark corners are often found even in exemplary democracies that have not fought in the wars&#8230;&#8221;</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/photo-copy-8.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-5115" alt="photo copy 8" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/photo-copy-8-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2013/05/baru-tiba-majalah-art-thought-fikrun-wa-fann-no-98/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terbaru dari Rujak : Dunia Dalam Kota</title>
		<link>http://rujak.org/2013/05/terbaru-dari-rujak-dunia-dalam-kota/</link>
		<comments>http://rujak.org/2013/05/terbaru-dari-rujak-dunia-dalam-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 May 2013 09:01:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian Tri Irawaty</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[bahan pokok]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[pasar induk]]></category>
		<category><![CDATA[pedagang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=5107</guid>
		<description><![CDATA[Buku ini merupakan hasil dari kolaborasi penggerak isu kota di Makassar, Penerbit Ininnawa, Active Society Institut (AcSI), SADAR, TANAHINDIE, dan Makassarnolkm . Digawangi oleh penerbit Ininnawa, buku hasil penelitian tentang Pasar Terong Makassar terbit pada Maret lalu. Pasar Terong menjadi muara pertemuan aliran komoditas dari 11 Provinsi di Indonesia. Tidak kurang sejuta petani yang ada [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/Dunia-dalam-kota.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-5108" alt="Dunia dalam kota" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2013/05/Dunia-dalam-kota-225x300.jpg" width="225" height="300" /></a></p>
<p>Buku ini merupakan hasil dari kolaborasi penggerak isu kota di Makassar, Penerbit Ininnawa, Active Society Institut (AcSI), SADAR, TANAHINDIE, dan Makassarnolkm . Digawangi oleh penerbit Ininnawa, buku hasil penelitian tentang Pasar Terong Makassar terbit pada Maret lalu.</p>
<p>Pasar Terong menjadi muara pertemuan aliran komoditas dari 11 Provinsi di Indonesia. Tidak kurang sejuta petani yang ada di jazirah Sulawesi Selatan mengirim beragam bahan pokok ke sana. Pasar Terong juga merupakan salah satu dari empat pasar rujukan harga bahan pokok di Indonesia setelah Pasar Kramat Jati Jakarta, Pasar Turi Surabaya, dan Pasar Meda Kota di Sumatera Utara.</p>
<p>Buku ini adalah buku pertama yang merekam denyut manusia-manusia yang menghidupkan pasar terpenting di Sulawesi Selatan.</p>
<p>Tetarik membeli buku ini?</p>
<p>Buku &#8220;Dunia Dalam Kota&#8221; dapat dibeli di Rujak dengan harga Rp. 85.000, -.</p>
<p>Untuk permintaan buku, kirimkan data melalui email info@rujak.org</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2013/05/terbaru-dari-rujak-dunia-dalam-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
