Bang Idin

JIKA SUNGAI MASIH BERPALUNG DI PESANGGRAHAN

Oleh: Laksmi Prasvita

 “Alam Ini Bukan Warisan Nenek Moyang Tetapi Titipan Anak Cucu Kita”, demikian  tulisan di sebuah plang yang di tancapkan di sebatang pohon ditengah jalan masuk menuju Pos 1, salah satu pos pengawasan sungai Pesanggrahan. Dilatar belakang plang tersebut, seorang lelaki berkostum silat hitam, penuh lumpur dan tak beralas kaki, tampak sedang membersihkan dinghy. Dia segera menyambut kami dan memperkenalkan diri: “Saya Bang Idin”

Pemenang hadiah Kalpataru untuk bidang konservasi air itu sangat terbuka,  hangat dan rendah hati. “Ada sekitar 150 titik mata air di sepanjang sungai Pesanggrahan yang harus diselamatkan. Jika air tidak diselamatkan, bisa lebih mahal harganya daripada bensin”, ujarnya. Dengan antusias dia melanjutkan: “Ada sekitar 30 rawa besar yang hilang di Jakarta. Jika Jakarta banjir, itu karena air menemukan jalannya. Alam tidak bisa dilawan!”

Bang Idin, yang nama lengkapnya adalah Haji Chaerudin, telah menata 120 hektar lahan dari total 136 km panjang sungai Pesanggrahan. Empat puluh hektar darinya berada di Jakarta Selatan di sepanjang 36 km bantaran sungai. 80 hektar lainnya tersebar di wilayah Bogor, Tangerang, Depok dan Banten. Lahan yang ditata Bang Idin dan Kelompok Tani Sangga Buana bimbingannya, ditanami sekitar 60.000pohon, yang terdiri dari tanaman buah buahan, koridor burung, tanaman langka, tanaman obat, serta tanaman dengan nilai konservasi. Sekitar 20.000 ikan dari berbagai jenis dilepaskan kembali  ke habitat sungai . Burung, kura kura, berang-berang, ular piton,  musang  dan berbagai  jenis binatang lainnya yang telah punah  telah dikembalikan lagi ke habitatnya. Hutan Bang Idin seluas 40 hektar disepanjang 36km sungai Pesanggrahan, bisa di akses dari Vila Delima, Jl. Karang Tengah Raya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Segalanyanya berawal dari keprihatinan 15 tahun yang lalu. Saat itu, Bang Idin menyaksikan kerusakan  sempadan sungai Pesanggrahan yang penuh sampah, gundul, gersang  dan malahan ditumbuhi bangunan perumahan baru, serta menjadi tempat pembuangan limbah.  Bang Idin melancarkan protes. Ia berujar: “Protes saya lakukan dengan membersihkan sampah, menanam pohon dan tidak memaki maki, alih-alih membuat bom seperti Amrozi”

“Saya protes akan filsafat pembangunan yang hanya menekankan pada pembangunan fisik. Pembangunan itu seharusnya menekankan pada pembangunan manusia agar lebih mengenal jati dirinya, mengenal Tuhannya dan mengenal hakikat hidup”

Ada pepatah leluhur yang mengatakan: kalau sungai tak lagi berpalung, kalau pasar tak lagi tawar menawar, maka hilanglah peradaban. “Pepatah ini saya pegang dan memberi saya motivasi untuk menjaga palung sungai serta pasar tradisional, yang memberi tempat kepada manusia untuk saling berinteraksi . Bukan mall, dimana harga sudah ditentukan dan pembeli harus membayar harga yang ditentukan. Peradaban akan hilang jika interaksi antar manusia dihilangkan”

Pembangunan di Jakarta yang marak dengan berdirinya gedung dan perumahan penduduk, terus memberikan ancaman bukan saja bagi interaksi tradisional antar manusia namun juga interaksi manusia dengan alamnya. Peraturan Pemerintah menetapkan lebar sempadan sungai  minimal 50-100meter (tergantung besar sungai dan peruntukan daerah sekitar). Artinya wilayah ini harus dijaga dari jarahan pembangunan perumahan dan gedung. Namun peraturan ini mendapat ancaman dari meningkatnya harga tanah. Harga untuk mempertahankan tanah bagi lingkungan hidup harus bertarung dengan opportunity cost harga ekonominya. Dengan menerawang Bang Idin mengatakan: “Pembangunan seharusnya berdasarkan kearifan bukan keuntungan ekonomi semata. Kalau berdasarkan kearifan kita pasti untung. Kalau berdasarkan keuntungan ekonomi semata, kita semua akan tengelam”. Sebuah filsafat yang kini menjaga dan membuat sungai masih berpalung di Pesanggrahan.