Posts Tagged ‘Architecture’


15 Sep 2009

Katalog Workshop AMI: Ruang Tinggal Dalam Kota

Katalog Pameran Ruang Tinggal Dalam Kota

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


15 Sep 2009

Apa arti rumah?

Impian

Apakah definisi rumah? Apakah itu berarti sebuah bangunan dengan alamat yang tertera dalam KTP masing-masing? Atau sebuah tempat dimana kita menghabiskan sebagian besar waktu, entah itu tidur atau bermain? Atau tempat yang penuh dengan memori dan keluarga? Atau hanya tempat kita tidur, dan esok pagi bertolak pergi ke tempat lain?

Apakah berarti tempat yang kita kunjungi satu tahun sekali setiap libur raya?

Mari renungkan arti rumah? Munkinkah rumah tak hanya lagi berarti kelompok-kelompok ruang yang terdiri atas ruang tidur, ruang keluarga dan ruang makan? Toh cafe, lounge, restaurant mampu menjadi pengganti ruang-ruang itu?

Sementara ada warga-warga yang menghabiskan waktunya di kota lain yang bukan domisilinya, seperti hasil survey disini. Apakah dengan demikian rumahnya adalah tempat dia menghabiskan banyak waktu?

Jakarta pun demikian. Kota yang pada malam hari berjumlah sekitar 8 juta penduduk, sedangkan siang harinya hampir berlipat ganda. Kota dimana warganya dapat tinggal berdampingan dengan kereta api disaat bersamaan ada yang berdomisili di kaki langit. Ada juga yang terus mendeskripsikan ruang-ruang tinggal itu, seperti eksplorasi arsitek-arsitek muda ini. Lalu bagaimana dengan anda?

Apakah rumah itu?

Foto oleh Dita Wisnuwardani

14 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


15 Sep 2009

Ketika Ruang Tinggal Dipertanyakan

IMG_1626

Melalui utopia arsitektur berhenti sebagai proyek rancangan pesanan individual. Ia ingin berpikir ‘menyempurnakan’ masa depan semua. Ia menjadi pemikiran. Ia menjadi alat kolektif membincangkan ideal bersama. Karena kota menjadi obyek yang tepat. Pada ruang kota, arsitektur berhenti menjadi alat pesanan pribadi, sebab ia harus menjadi alat kolektif (Marco Kusumawijaya, 2009)

Setidaknya kalimat diatas berulang kali dikutip, mulai dari undangan hingga pada saat pembukaan Pameran Workshop Arsitek Muda Indonesia yang bertajuk Ruang Tinggal dalam Kota. Pemikiran utopis inilah yang menjadi dasar materi pameran yang mempertanyakan ruang tinggal. Di saat ruang tinggal ditempatkan dalam kota, maka arti kata ruang tinggal tersebut bisa terdekonstruksi, berevolusi dan memiliki makna lain menjadi lebih dari sekadar bangunan di alamat KTP.

Ada banyak hal yang tersirat dan tersurat dalam 14 hasil workshop. Mereka berangkat dari fenomena, derita, kekinian, peluang, persepsi, definisi akan tinggal didalam kota. Tema akan kota dan ruang tinggal begitu dekat dalam keseharian. Di tangan para arsitek muda dan mahasiswa arsitektur, 14 proposal itu menjadi usulan yang unik, berani, sedikit naïf, penuh mimpi, idealis dan bersemangat. Namun bukankah itu yang diharapkan dari generasi penerus bangsa?

Kenyataan bahwa Jakarta adalah kota kontemporer menjadikan Jakarta sebagai isu favorit dalam workshop ini.  Kekontemporeran Jakarta menjadi kota dan warganya yang selalu bergerak. Jakarta seakan meradikalkan mobilitas warganya, entah secara visual maupun fisik. Itulah yang menjadi isu proposal seperti: Mobile House, diDedikasikan untuk Komuter, metabolism of Jakarta city, ruang mimpi, dan ruang.waktu.tinggal.

Dua proposal pertama berkutat pada masalah waktu tempuh dari dan ke rumah tinggal. Mobile House pada akhirnya menyediakan struktur-struktur utama di berbagai penjuru Jakarta, sebagai sarang rumah-rumah untuk bermetabolis dan tinggal – memungkinkan rumah tersebut untuk berpindah tempat sesuai dengan kebutuhan. Seperti layaknya apartemen-apartemen di tengah kota, Mobile House mendekatkan jarak penghuni ke tempat aktivitas, hanya si penghuni dan unitnya dengan mudah berpindah tempat ke antero kota. Sementara diDedikasikan untuk Komuter adalah upaya untuk mengembalikan para komuter ke dalam kota dengan menempati ruang yang memang selama ini mereka tempati sepanjang perjalanan, yaitu Jalan Tol Dalam Kota. Proposal ini menggugat keberadaan jalan tol dalam kota yang tentu saja berlawanan dengan prinsip transportasi publik. Dan disaat bersamaan iapun menggugat kediaman (mobil) akibat macet di jalan tol, sehingga dalam kediaman adalah gerak itu sendiri. Mobil dianggap sebagai home in homelessness untuk jangka waktu tertentu di jalan tol itu.

Pergerakan dan mobilitas dapat dilihat juga seperti sistem metabolisme dalam tubuh manusia, setidaknya itu yang diutarakan oleh kelompok metabolism of Jakarta city. Didalam tubuh (kota) yang sehat, tentunya memerlukan aliran (pergerakan) yang sehat pula. Proposal ini seakan berupaya untuk menghilangkan kadar kolesterol dalam darah, seperti halnya mencoba menyehatkan pergerakan dan sistem yang terjadi dalam daerah Blok M.

Benturan antara pergerakan semu dan kediaman absurb muncul pada proposal ruang mimpi. Pergerakan yang muncul dari indahnya magnet kota, namun disaat bersamaan menyaring calon warganya, hingga terpaksalah warga menempati no-man’s land, dalam hal ini pinggir rel kereta api. Menjadikan kediaman tersebut sewaktu-waktu bisa digugat, tergusur dan berpindah ke tempat lain.

Ruang-ruang kota marjinal tak hanya berhenti sebatas pinggir rel kereta api, tapi bisa juga kolong jembatan dan bantaran kali. Bahkan untuk konteks kota Jakarta, jalur pejalan kaki pun menjadi ruang tak bertuan, seperti banyak yang terjadi di balik gedung-gedung kantor. Proposal ruang bayangan melihat ruang-ruang tersebut sebagai peluang yang dapat dikembangkan menjadi serial ruang tinggal.

Sementara ide akan kota sebagai hidup nomaden muncul dalam proposal ruang.waktu.tinggal. Dalam hal ini, hidup nomad adalah intermezzo. Mereka percaya bahwa ruang tinggal adalah segala sesuatu yang memiliki waktu kebersamaan dengan seseorang dalam kurun waktu tertentu. Berangkat dari konsep film The Terminal, berubah menjadi konsep arsitektural paradoks nomadisme, menjadikan waktu sebagai penentu desain, bukannya klien ataupun kebutuhan ruang. Seakan waktu yang dijual, dan kemudian dikemas dalam bentuk ruang.

Berlawanan dengan gugatan terhadap gaya hidup nomad, proposal ruang kembali justru memperlihatkan konsep kota dan ruang tinggal di masa lampau. Ruang tinggal kembali menjadi kediaman dalam arti sesungguhnya, yaitu sebagai rumah, tempat untuk berhenti total dari pergerakan – menjadi tempat untuk pulang.

Isu-isu populer seperti keberlanjutan (sustainability) pun muncul dalam beberapa proposal, seperti Tropical Capsule Bungalow, Linear City dan nenek moyangku seorang pelaut. Tropical Capsule Bungalow berangkat dari isu pembangunan di Bali yang cenderung merusak alam, maka dari situ lahirlah ide bungalow dengan bahan sampah daur ulang dan kemudian ditempatkan di lokasi terbengkalai sudut kota. Sementara Linear City berangkat dari konsep abad 19 akhir dengan nama yang sama. Proposal tersebut berusaha untuk mengkompakkan area Kuningan disepanjang jalan, dan lalu merelokasikan area-area lain di belakangan jalan Kuningan hingga berubah menjadi area konservasi dan preservasi. Tentu pembentukan dan luasan bangunan disepanjang Kuningan serta perbandingan lahan memakai perhitungan jejak kaki ekologis. Kenyataan akan perubahan iklim, buruknya lingkungan dan kerap rutinnya banjir melanda Jakarta, mendasari proposal nenek moyangku seorang pelaut. Dengan demikian, diharapkan warga Jakarta di masa mendatang mampu adaptif terhadap bencana yang kini menjadi rutinitas.

Kota Bandung turut menjadi inspirasi, terutama bagi 2 proposal yang berasal dari Bandung yaitu kota skala kita dan fashion, Bandung, arsitektur. Keduanya mengambil lokasi sama yaitu di Dago, namun berangkat dari pemahaman yang berbeda. Proposal pertama berupaya mengembalikan skala kota di sepanjang jalan Dago kepada manusia, dengan memberikan kekayaan dan kuasa ruang terhadap pejalan kaki. Kota skala kita melakukan pemisahan yang jelas dan mutlak antara pejalan kaki dan bukan. Sementara proposal kedua: fashion, Bandung, arsitektur, mencoba menarik benang merah antara mode dan arsitektur dengan mempertanyakan kemungkinan deskripsi ruang tinggal sebagai elemen (aksesoris) dalam kota. Aksesoris dalam busana terkadang bisa menjadi pelengkap pakaian bahkan penyatu, seperti halnya dengan menempatkan ruang-ruang kecil dengan tepat pada titik-titik kota tertentu. Mungkin sejalan dengan idealisme Coco Chanel: Fashion is no something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in th street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening.

Dua proposal lain membahas keintiman antara tubuh dalam ruang. Blackout Architecture menggali akan kemungkinan jika perencanaan ruang tidak bergantung pada indera penglihatan. Bagaimana jika para perencana kota dan arsitek mulai juga memperhatikan indera-indera lain dalam merencanakan ruang. Blackout Architecture hadir dengan instalasi yang diharapkan mampu memberikan stimuli dan kepekaan indera. Rumah ini tidak untuk dijual, berangkat dari personalisasi rumah berdasar pemiliknya. Proposal ini seakan menjadi kritik terhadap tendensi komersialisasi, standarisasi dan industrialisasi rumah lewat produk developer.

Dan ruang tinggal pun beragam dan menggelitik. Ada beberapa hal yang menarik dari 14 proposal ini. Waktu menjadi krusial, karena dalam ruang tinggal unsur waktu sangat erat. Penolakan akan ruang-ruang yang steril dan tidak unik pun terjadi. Ada yang memperhatikan kaum marjinal kota dan ada pula yang bermimpi ‘hijau lestari’. Lalu bagaimana pemahaman anda terhadap ruang tinggal? Apa arti ruang tinggal bagi anda?

Pameran Workshop AMI 9-19 September 2009

Galeri Komunitas Salihara

Jalan Salihara No. 16
Pasar Minggu – Jakarta Selatan

Foto oleh Dita Wisnuwardani dan Kezia Paramita


Trailer Final AMI Ruang Tinggal Dalam Kota from wagionobustami on Vimeo.

allowscriptaccess=”always” allowfullscreen=”true”>

Trailer AMI Ruang Tinggal Dalam Kota from wagionobustami on Vimeo.

2 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


10 Sep 2009

Ayo Pilih Bangunan Favoritmu!

AYO PILIH BANGUNAN FAVORITMU..

Dan raih kesempatan untuk mendapatkan satu Kursi Accupunto..

Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta mengajak masyarakat Jakarta untuk dapat ikut berpartisipasi pada acara IAI Jakarta Award 2009 dengan cara turut memilih bangunan favorit yang ada di Jakarta.

Caranya mudah saja, cukup dengan memfoto bangunan yang difavoritkan, lalu lampirkan keterangan alamat dan alasan anda memlilih bangunan tersebut, untuk kemudian dikirim via surat elektronik (e-mail) ke alamat award@iai-http://www.facebook.com/l/bbc9f;jakarta.org Waktu pemasukan pilihan atara 11 September hingga 16 Oktober 2009.

Pengirim yang beruntung berhak mendapatkan satu kursi Accupunto. Kursi Accupunto adalah kursi penerima penghargaan desain Red Dot Award 2003, Interior Innovation Award 2004 (German), Good Design Award (Jepang) dan Indonesian Good Design Award 2003. Pengumuman pemenang dapat dilihat pada website http://www.facebook.com/l/bbc9f;www.iai-jakarta.org pada tanggal 23 November 2009.

IAI JAKARTA AWARD 2009

IAI Jakarta Award adalah penghargaan kepada karya arsitektur yang berada di DKI Jakarta oleh arsitek anggota IAI bersertifikat. Penghargaan ini diselenggarakan per tiga tahun seiring dengan penyelenggaraan Musyawarah Daerah IAI Jakarta sejak tahun 2006. Untuk kali ini IAI Jakarta Award hadir dalam cara yang berbeda guna menjangkau lebih banyak lagi arsitek dan masyarakat untuk berpartisipasi.

Seiring dengan penyelenggaraan acara festival arsitektur Jakarta : Jakarta Architecture Trienalle 2009 yang mengambil tema “Affording Architecture” atau “Menjangkau Arsitektur”, IAI Jakarta Award 09 ingin meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap arsitektur. Arsitektur sebagai bagian yang terjangkau dari kehidupan sehari-hari, bagi seluruh warga kota. Dengan adanya interaksi yang semakin berkembang antara arsitektur dan masyarakat, maka diharapkan acara ini akan dapat turut merayakan arsitektur yang baik dan mengundang tanggapan masyarakat terhadap arsitektur yang secara perlahan membentuk Jakarta.

IAI Jakarta Award 09 akan memberikan 5 penghargaan bagi 5 bangunan di Jakarta karya arsitek anggota IAI bersertifikat (SKA), 1 penghargaan bagi bangunan di Jakarta hasil pilihan masyarakat dan 1 penghargaan bagi arsitek yang telah berkontribusi besar bagi arsitektur Jakarta. Dewan Juri terdiri atas arsitek Bambang Eryudhawan IAI dan Adi Purnomo, budayawan Gunawan Muhammad arsitek asing masing-masing Kevin Low dari Malaysia serta Michel Rojkind dari Argentina.

Karya karya nominasi akan dipamerkan pada pameran Jakarta Architecture Trienalle 2009 di Grand Indonesia pada tanggal 09 – 22 November 2009.

2 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


02 Sep 2009

JAKARTA dan Gempa: Keselamatan Manusia dalam Bangunan

Gempa Jakarta 2 September 2009: Di mana tempat untuk evakuasi sementara? (0209009@MKusumawijaya)

Oleh: DIAN KUSUMANINGTYAS.

Bagaimana keselamatan manusia di dalam gedung dapat dijamin ketika terjadi gempa? Jakarta barusan mengalami runtunan gelombang gempa yang berasal dari Tasikmalaya. Ber-ribu orang berhamburan keluar dari gedung dan rumahnya (jumlah tepatnya tidak diketahui). Berbagai cara yang diketahui orang dicoba untuk dikerjakan, seperti: lari keluar gedung, berlindung dibawah meja dll. (more…)

12 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


09 Aug 2009

Architecture in Los Angeles

 A presentation and discussion.

By Kimberli meyer, Director of MAK Center for Art and Architecture, Los Angeles (http://www.makcenter.org).

Wednesday, August 19, at 18:00-19:00 pm

At Serambi Salihara, Komunitas Salihara, Jalan Salihara, 16, Pejaten, South Jakarta.

Entry is free. Please invite your friends.

http://www.artscapemedia.com/podcasts/archives/2006/11/kimberli_meyer.html

Kimberli Meyer earned her Bachelor of Architecture degree at the University of Illinois, Chicago, and practiced architecture in Chicago before moving to Southern California. She received her M.F.A. from California Institute of the Arts in 1995, and has since lived in Los Angeles pursuing art and architecture projects. Ms. Meyer has been Director of the MAK Center for Art and Architecture, Los Angeles at the Schindler House since 2002. There she has co-curated the current exhibition The Gen(h)ome Project along with Open Source Architecture. She has also co-curated the exhibition Symmetry (2006) with Nizan Shaked and Showdown! at the Schindler House (2004) with Fritz Haegj. She has directed guest curator François Perrin for the exhibition and publication Yves Klein: Air Architecture (2004) and has organized Schindler’s Paradise: Architectural Resistance (2003), an architectural ideas competition, exhibition, and publication. The MAK Center for Art and Architecture is a contemporary, experimental, multidisciplinary center for art and architecture that operates from architect Rudolph M. Schindler’s own House and Studio (1922) in West Hollywood. It was established in 1994 as an alliance between the MAK Museum in Vienna and Friends of the Schindler House in West Hollywood. Designed and built by Rudolph Schindler in 1921–1922 as live/work space for two families, the Schindler House redefined notions of residential space and architecture. It is the mission of the MAK Center to continue the conversation initiated by Schindler by creating and supporting programming that explores the dynamic intersections of art, architecture, and culture. The MAK Center acts as a “think tank” for current issues in art and architecture by encouraging exploration and experimentation of artistic practices. It produces a year-round schedule of exhibitions, lectures, concerts, film screenings, performances, publications and new work commissions. It also hosts an international residency program for visiting artists and architects, who live and work in the Mackey Apartments (R. M. Schindler, 1939).

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


11 Jul 2009

Beauty or Banality: Jakarta at Night

Lights in the city: Is it “still” beautiful or getting banal? Talks about the banality of the city’s visual culture  is not new. There are rules and regulation. But it is not clear what the visual cultural basis is. Buildings are often blocked by billboards. Do we want to see architecture or the lighted boxes?

IMG_0358

More picture at: http://www.flickr.com/photos/rujak/sets/72157621271200296/

In the past, mangrove trees were cut down just to make visual corridor for a billboard along the toll road to the airport. When protested, it was eventually taken down. Do we want to see billboards or mangrove trees along the toll road? The “wetland” system (of which mangrove trees are but parts of it) on the northern coast of Jakarta is actually unique, with some rare species of birds as well as the long-tail monkeys, considering there is little left of its kind along the northern coast of the whole Java.  

Look, every time we pass the major streets in Jakarta, more billboards are springing up. More buildings are becoming hidden behind it. Are we going to defend architecture or commercial graphics?

High-level pollution now covers the city not only in the air, but also visually, and there are concerns also about noise…Indeed, in the bigness of this metropolis: our senses are becoming dull!

3 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


05 Jul 2009

Bang Idin Hebat

Oleh Amartya Syahruzad  & Laksmi Prasvita. Bang Idin, penyelamat Sungai Pesanggrahan,  telah memenangkan Kalpataru untuk konservasi air,  dan berbagai penghargaan di Abu Dhabi, Jerman dan Belanda.

(more…)

32 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: Bang Idin |


27 Jun 2009

Energy Efficiency Building Retrofit Conference

More than 400 people, including representatives from NGO, development organizations, building- related consultants, building material producers, and private developers, attended the Energy Efficiency Building Retrofit Conference held by Pemprov DKI and Clinton Climate Initiative, Clinton Foundation yesterday in Four Seasons Hotel, and this brings a dash of optimism that Jakarta residents still have serious enthusiasm for trying to be “green”. (more…)

2 Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


26 Jun 2009

Hemat dengan Engsel Pivot

Kayu pada bangunan dapat dihemat dengan menggunakan engsel pivot untuk pintu dan jendela. (more…)

4 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |