Posts Tagged ‘Banjir’


28 Jun 2011

“Bangunan Peka” bersama Prof. Uwe Rieger, Indonesian Dream dan Arsitek Komunitas

BANGUNAN PEKA

Arsitektur Tanggap Lingkungan

6 Juli 2011, 16:00 WIB

Tur pameran dan bincang-bincang bersama kurator Uwe Rieger (The University of Auckland)

Museum Nasional Indonesia
Jalan Merdeka Barat No. 12

PameranBangunan Peka-Arsitektur Tanggap Lingkungan” di Museum Nasional 6-20 Juli 2011 diselenggarakan oleh Goethe-Institut Indonesien bekerja sama dengan Uwe Rieger, guru besar tamu untuk desain, ketua departemen arsitektur di School of Architecture and Planning The University of Auckland.

Pameran ini mengangkat tema arsitektur reaktif, yaitu arsitektur yang dapat menyesuaikan diri secara dinamis dengan iklim, cuaca, perencanaan atau pengguna. Tujuh instalasi akan dipamerkan. Lima di antaranya didatangkan dari Selandia Baru, sementara dua lainnya dari Indonesia: Ciliwung Recovery Programme (CRP) karya Indonesian Dream (Rezza Rahdian, Erwin Setiawan, Ayu Diah Shanti, Leonardus Chrisnantyo, Mario Lodeweik Lionar, Petrus Narwastu) dan Rumah Bambu Swapasang karya Arsitek Komunitas dari Yogyakarta.

Goethe-Institut Indonesien dengan Rujak Centre for Urban Studies (RCUS) mengundang Anda untuk tur keliling pameran dan bincang-bincang bersama Uwe Rieger pada:

Rabu, 6 Juli 2011 di Museum Nasional, mulai 16:00 WIB.

Acara akan dipandu oleh Marco Kusumawijaya dari RCUS.

Fakta-fakta menarik yang dapat didiskusikan antara lain adalah:
• Kebutuhan untuk mengembangkan arsitektur yang menghemat energi dan bahan dengan bereaksi positif atas alam
• Kebutuhan untuk mentransformasi pengetahuan dan kebijaksanaan dari bentuk-bentuk vernakular/tradisional arsitektur Indonesia ke konteks kontemporer dan perkotaan menggunakan metode ilmiah.

Kami mengharapkan pertukaran pikiran di antara kurator dan Anda semua!

Untuk mendaftarkan kehadiran pada acara ini Anda dapat menghubungi (selambatnya 5 Juli 2011):

Dinyah Latuconsina

Goethe-Institut Indonesien

Jl. Sam Ratulangi 9-15

Jakarta 10350

Tel. +62-21-23550208 – 147

Latuconsina@jakarta.goethe.org

1 Comment »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |


16 Jun 2010

Genangan Harian di Pangeran Jayakarta

Hari Rabu ini, negara tetangga kita Singapura dikejutkan dengan banjir cukup tinggi di Orchard Road dan dua lokasi lainnya, yang pada titik tertentu hingga sampai dada orang dewasa. Konon menurut harian Strait Times, banjir tersebut didahului dengan curah hujan tinggi, sekitar 100 mm dalam jangka waktu 2 jam, yaitu 60% dari total curah hujan perkiraan di bulan Juni.

Anomali alam tersebut mungkin tidak dapat diduga oleh pemerinta Singapura dengan badan-badan terkaitnya, seperti PUB (Public Utilities Board) dan Badan Lingkungan Hidup Singapura; sehingga segala macam infrastruktur pengendali banjir seperti Marina Barrage, tidak mampu mengantisipasi tingginya curah hujan yang disaat bersamaan bertepatan dengan tingginya muka air laut.

Namun yang terjadi hampir setiap hari di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat, bukanlah sebuah fenomena alam, ataupun anomali alam. Selama hampir 2 tahun, setiap harinya sekitar 20-30% Jalan Pangeran Jayakarta tersebut digenangi oleh air – terlebih pada sisi bagian selatan. Jika kurang akrab dengan nama jalan tersebut, Jalan ‘Pangjay’ – demikian sebutan akrab masyarakat sekitar merupakan jalan yang sejajar dengan Jalan Arteri Mangga Dua dan jalan yang menghubungkan Gunung Sahari dan daerah Pinangsia. Lokasi Pangjay yang demikian strategis, menjadi tempat favorit untuk kantor hingga bengkel dan dealer mobil, mulai dari usaha percetakan, toko besi hingga pasar malam dan warung-warung makan di malam hari.

Akhirnya genangan air harian itu dianggap biasa saja, padahal air tersebut menggenangi jalan sepanjang lebih dari 200 meter, dengan ketinggian genangan di daerah tertentu mencapai lutut orang dewasa. Ada upaya-upaya memperbaiki, seperti normalisasi saluran, namun tetap saja genangan air itu kembali lagi. Ketika hujan tiba, ketinggian air bertambah. Jika curah hujannya tinggi, maka hampir seluruh jalan tergenang.

Bahkan tutur seorang supir taksi ketika melewati jalan tersebut, banyak supir taksi dan mobil boks serta pengemudi motor yang memanfaatkan genangan air tersebut untuk mencuci mobil dan motor. Menurutnya, air genangan tersebut tidak kotor dan tidak berbau, jadi baik-baik saja ketika digunakan untuk mencuci.

Lalu siapakah yang bersalah dalam hal ini ? Airnya?  Dinas Pekerjaan Umum, Pengembang yang semena-mena membangun ratusan ruko tanpa resapan air?, warga? Atau jangan-jangan laut pasang yang salah?

Lalu pertanyaan lain, sebetulnya darimanakah air itu? Air pasang laut kah, air got kah, atau bocoran air bersih? Genangan tersebut tidak berbau, padahal terjadi setiap hari. Tidak ada sampah di genangan tersebut. Kondisi genangan air tersebut tentu sesuatu ironi, ketika bulan April lalu, Jakarta Utara – wilayah Jakarta yang berseberangan persis dengan jalan tersebut, mengalami krisis air bersih.

Tapi tanpa menyalahkan siapapun juga, genangan harian di ‘Pangjay’ bukanlah hal biasa, dan harus ditindaklanjuti sebagai hal yang luar biasa, seperti halnya banjir dadakan di Orchard Road tersebut.

Berikut ilustrasi kondisi harian Jalan Pangeran Jayakarta, walaupun sedang tidak hujan

Seorang ibu susah payah menyeberangi jalan, sementara angkot gelap berhenti di kanan jalan utk mengangkut penumpang

Sudah biasa, jadi mobil pun melintas cepat

Sisi utara jalan, yang relatif memiliki ketinggian air lebih rendah dibandingkan sisi selatan

1 Comment »

Topics: | Agent of Change: none |


04 May 2010

Ode Sebuah Taman

Danau Kalibata, foto © Okky Madasari

Oleh : Okky Madasari

Rasanya seperti kerampokan. Kehilangan satu barang kesayangan, yang bersamanya saya telah merangkai banyak kenangan, sekaligus menyimpan harapan. Tapi ini bukan barang. Bukan juga milik saya, yang untuk mendapatkannya saya harus menukar uang. Ini hanya sebuah taman dengan danau buatan. Milik negara, di sebelah timur Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kami menemukannya tanpa kesengajaan.

Mungkin memang berlebihan. Tapi memang seperti itu rasanya, saat kemarin petugas itu menutup rapat pagar dan menolak saya untuk bertandang. Taman berdanau itu tak lagi bisa dikunjungi orang-orang. Demi ketertiban. Juga demi keindahan pemandangan. (more…)

2 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


24 Apr 2010

Pluit Village: Berapa Hijaukah Pengembang Kita yang terkenal itu?

Gunawan Tanuwidjaja
(Dari milis Green Map Jakarta)
Beberapa saat yang lalu, diadakan Sustainable Jakarta Conference, yang memang merupakan upaya untuk membuat Jakarta lebih berkelanjutan.[1] Ada sebuah pengembang terkenal yang mengajukan konsep Green Master Plan. Tetapi mirisnya ternyata pengembang ini hanya menjual konsep “Green”-nya yang kosong dan tidak menerapkan dalam bisnisnya.

Pengembang tersebut terlibat dengan sebuah di proyek Kawasan Jakarta Utara, Pluit Village.
Ternyata pengembang ini tidak mempraktekkan “Green and Responsible Water Resource Management.”

Pertama, Pengembang diduga telah “menkonversi badan air menjadi komersial, helipad dan jalan internal (melanggar UU Tata Ruang no 26 tahun 2007 dan UU Sumber Daya Air no 7 tahun 2004)”. Selain itu pengembang ini diduga telah mengganggu sistem polder yang ada dengan menutup saluran air yang masuk ke dalam Danau Pluit dan meninggikan lansekap di sekitar Danau tsb. Sehingga terjadi genangan di kawasan perumahan di Utara dan Selatan. Sungguh pengembang ini diduga tidak memiliki “kesatuan kata dan perbuatan.”

Terbukti pada 2008 – 2010, Warga Pluit telah menikmati beberapa serangan “Rob.” Padahal tadinya warga sempat merasakan aman dari Banjir Besar 2007 karena Polder Pluit yang berjalan dengan baik.

Mungkin sebuah sentuhan baru yang ditawarkan oleh Pluit Village.[2] Dari tinggal di dalam polder seperti di Belanda, menjadi “tinggal di Venesia, Italia, (alias setengah terendam banjir ketika hujan atau pasang laut datang). Jadi konsepnya dengan pengembang biasa yang menjual promosi BEBAS BANJIR. Mungkin judulnya silahkan tinggal di kawasan yang PASTI BANJIR!

Kalau kami boleh mengutip sebuah kata-kata bijak “Janganlah memutarbalikkan KEADILAN, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. ” Kmemang mengakui bahwa pengembang ini mampu mengatasi segala birokrasi untuk mewujudkan keinginannya di atas. Tetapi apakah hal ini tidak berlawanan dengan cita-cita mulia dan pelayanan Bpk James Riady,[3] bos besar pengembang ini. Apakah memang halal untuk merusak sistem lingkungan orang lain demi kepentingan ekonomi semata-mata?

Jika ada pertanyaan atau tanggapan silahkan baca dulu artikel kami di website kami dengan link sbb:

http://greenimpactindo.wordpress.com/2010/04/24/challenges-in-creating-sustainable-urban-polder-in-developing-countries-case-study-development-of-pluit-polder-jakarta/

Atau dapat kontak lewat email saja gunteitb@yahoo.com atau telpon ke 0812 212 208 42.

Terimakasih
Gunawan Tanuwidjaja
Pemerhati Pluit

Pro: Kami juga minta dukungan semua pihak agar Sistem Polder Pluit bisa direvitalisasi, Dan 14 Pompa yang dibeli dan dikonstruksi oleh PU DKI Jakarta bisa dipakai untuk operasi Polder Pluit dengan perencanaan yang baik “bukan merusak sistem polder yang sudah ada.”

Footnote
1 – Mr Gordon Benton OBE, architect and urban planner, giving lecture `The future of urban development in Jakarta and role of private developer’ in Sustainable Jakarta Convention, http://www.sjconvention.com/Downloads/Sustainable%20Jakarta%20Seminar%20Speakers.pdf

2 - http://www.lippokarawaci.co.id/retailmalls/pluitvillage.aspx

3 - http://en.wikipedia.org/wiki/James_Riady
http://www.grii.org/
http://www.ladangtuhan.com/komunitas/jadwal-acara-gathering/seminar-ekonomi-antisipasi-krisis-global-bagi-indonesia/

No Comments »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


22 Feb 2010

STOP PRESS: Koreksi atas pemberitaan KOMPAS, Senin, 22 Februari 2010

Kepada yth. Redaksi KOMPAS,

Terima kasih atas pemberitaannya tentang keberadaan Koalisi Warga untuk Jakarta 2030.

Saya ingin menyampaikan koreksi atas berita Saudara pada KOMPAS Hari Senin, 22 Februari, 2010, halaman 27 (“Mungkin Perlu Koin Atasi Bencana”) kolom 7, alinea dari atas.

Pada alinea itu tertulis:

Marco Kusumawijaya,……, mengatakan, pemerintah seharusnya bertindak cepat. Pemprov DKI, misalnya, diminta segera menetapkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) DKI 2010-2030.

(Saya garis bawahi “segera menetapkan”)

Pertama, saya merasa semampu ingatan saya belum pernah diwawancarai oleh penulis berita, Sdr. Neli Triana.

Kedua, tuntutan saya dan Koalisi Warga untuk Jakarta 2030 adalah JUSTRU agar MENUNDA penetapan RTRW Jakarta 2010-2030, dan agar MENGULANGr proses penyusunannya secara partisipatif, karena rancangan yang ada sekarang belum memenuhi syarat-syarat substansi maupun prosedural sesuai peraturan perundang-undangan yang sudah ada.

Pandangan saya ini termuat juga dalam tulisan terlampir yang sebelumnya sudah saya kirimkan kepada Redaksi KOMPAS yth.

Salam hormat,

Marco Kusumawijaya

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


02 Feb 2010

M. Farhan dan Kanal Banjir Timur

Farhan di Kanal Banjir Timur bersama rujak, 13 Januari 2010

Farhan di Kanal Banjir Timur bersama rujak, 13 Januari 2010

M. Farhan, tuan rumah (host) acara Tatap Muka di TV One, kunjungi Kanal Banjir Timur bersama editor Rujak pada tanggal 13 Januari 2010. Kunjungan ini ditayangkan pada hari Minggu tanggal 16 Januari 2010.

Kanal Banjir Timur, yang kini secara salah kaprah disebut sebagai Banjir Kanal Timur (BKT karena mengikuti sebutan lama menurut tata-bahasa Belanda, memotong lima aliran air di bagian timur Jakarta. Air dari lima aliran ini, sebelum masuk ke pusat Jakarta, dialirkan oleh kanal tersebut langsung ke laut. Ia diperkirakan akan kurangi banjir sebesar 35 % di kawasan timur, bagian utara Jakarta. Tentu saja angka ini akan berubah-ubah tergantung pada rob, naiknya permukaan air laut karena perubahan iklim, dan tutupan hutan di daerah hulu maupun sepanjang kanal.

Kanal sudah menembus ke laut, tetapi pembangunan tepian (embankment)nya masih jauh dari selesai. Dan, masih banyak tersisa pertanyaan: Bagaimana penataan ruang di sepanjang kanal? Apakah akan jadi ruang publik atau diserahkan kepada swasta? Bagaimana perubahan guna-lahan sepanjang kanal akan direncanakan atau dibiarkan tidak terkendali, diserahkan kepada pasar? Apakah akan dimanfaatkan untuk mengisi kekurangan Kota Jakarta sekarang, seperti ruang terbuka hijau dan biru yang asri untuk kesehatan penduduk? Atau malah nantinya akan tidak terurus dan kotor lagi?

Bagaimana wujudnya dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2010-2030 yang sedang disusun?

Bagaimana menurut Anda? Sampaikan pandangan Anda untuk Rencana Tata Ruang Jakarta 2010-2030. Klik di sini.

Kanal Banjir Timur, Jakarta, 13 Januari 2010

Kanal Banjir Timur, Jakarta, 13 Januari 2010

5 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


12 Jan 2010

Tur Hijau bersama Komunitas Peta Hijau Jakarta: Mengenal Waduk dan Situ

Sabtu, 16 Januari 2010;  Pukul : 07.30 – 12.00 WIB

Bulan Januari-Februari adalah bulan waspada bagi warga Jakarta.

Sebagian besar warga tahu kalau di 2 bulan ini curah hujan akan tinggi dan Jakarta banjir. Bertahun-tahun Pemda DKI upaya mengatasi banjir, namun belum membuahkan hasil maksimal. Antara lain membangun waduk, konservasi situ/danau, membuat kanal baru (Banjir Kanal Timur).

Komunitas Peta Hijau Jakarta (PHJ) lewat kegiatan “Tur Hijau”, kali ini hendak mengajak warga Jakarta untuk mengenal fungsi-fungsi dari waduk dan situ yang ada di kota ini. Ada 2 lokasi yang akan kita kunjungi, yaitu Waduk Setiabudi dan Situ/Danau Ragunan. Kegiatan ini juga dalam rangka memperingati ulang tahun ke 6 busway hadir di kota Jakarta (15 Januari 2004). Busway atau salah satu transportasi publik (selain kereta listrik) di Jakarta ini, masih jauh dari ideal. Masih banyak harapan-harapan warga Jakarta yang belum terpenuhi. Namun lepas dari itu semua, sepatutnya kita (warga) sebagai pemangku kepentingan (stake holder) merayakan tahun keenam busway transjakarta.

Komunitas PHJ mengajak teman-teman untuk merayakan tahun ke-6 kehadiran busway , dengan menggunakan busway mengunjungi Waduk Setiabudi dan Situ Ragunan, pada:
Sabtu, 16 Januari 2010;  Pukul : 07.30 – 12.00 WIB

Rute : Waduk Setiabudi menuju Situ Ragunan dengan menggunakan busway.

Titik kumpul : pk 07.00 WIB di luar halte busway Dukuh Atas (yang bawah, dekat Landmark Building-nanti ada bendera Green Map)

Biaya : Rp 50.000/orang, sudah termasuk tiket busway pp, snack dan makan siang, tiket masuk KB Ragunan. Pendaftaran via email : petahijaujakarta@yahoo.com – Silakan kirim nama dan nomer ponsel. Pendaftaran akan ditutup bila peserta sudah mencapai kuota 30 orang atau batas waktu terakhir Jumat, 15 Januari pukul 15.00 WIB.

Peserta disarankan membawa botol minuman sendiri, untuk mengurangi sampah kemasan plastik. Info lebih lanjut :  021-68465892

Ada apa di antara Waduk Setiabudi – Situ Ragunan? Waduk Setiabudi, terbagi dalam 2 waduk, yaitu Setiabudi Timur dan Barat. Waduk ini setiap harinya menerima limbah cair dari pemukiman maupun perkantoran yang menjamur di sepanjang Rasuna Said. Sayangnya, hanya satu waduk yang memiliki alat penghancur limbah. Selain itu waduk Setiabudi berfungsi sebagai pengendali banjir, bila ketinggian air mencapai batas tertentu, maka air akan dibuang ke kanal barat. Situ Ragunan, di dalam kawasan kebun binatang ini, mempunyai beberapa situ alam maupun buatan. Situ-situ di Ragunan ini adalah tempat yang ideal untuk fungsi-fungsi resapan air tanah. Karena lokasinya relatif terawat, maka situ Ragunan ini juga berfungsi sebagai tempat rekreasi. Dari lokasi ini, kita dapat belajar bagaimana bila sebuah situ dapat memberikan manfaat lingkungan (resapan air) maupun budaya seperti tempat rekreasi dan mendatangkan usaha-usaha ekonomi.

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: Peta Hijau |


04 Aug 2009

Bersih Sampah Pesisir Utara bersama Jakarta Green Monster

Saturday, August 8, 2009

Time:
8:00am – 12:00pm
Location:
Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Lindung Angke Kapuk, Pelelangan Ikan Muara Angke
Street:
Pantai Indah Utara 2, Pantai Indah Kapuk
Phone:
02194425951
Email:

(more…)

4 Comments »

Topics: | Agent of Change: Jakarta Green Monster |


05 Jul 2009

Bang Idin Hebat

Oleh Amartya Syahruzad  & Laksmi Prasvita. Bang Idin, penyelamat Sungai Pesanggrahan,  telah memenangkan Kalpataru untuk konservasi air,  dan berbagai penghargaan di Abu Dhabi, Jerman dan Belanda.

(more…)

32 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: Bang Idin |


30 Jun 2009

Warga, Tata Ruang, Jakarta Lestari

Terbit dalam versi lain di Majalah Tempo, 22-29 Juni 2009

Ada sih keistimewaan ulang tahun Jakarta kali ini. Pada tahun ini seharusnya pemerintah DKI Jakarta selesaikan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuknya, sebab RTRW yang sekarang habis masa berlakunya tahun depan. Penataan ruang adalah tugas pemerintah yang tidak dapat didelegasikan kepada siapa pun, sebab ia mengatur hidup bersama kita. Tetapi justru karena alasan yang sama ia harus melibatkan semua orang.

(more…)

7 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |