<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak &#187; Banjir</title>
	<atom:link href="http://rujak.org/tag/banjir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujak.org</link>
	<description>For a Better Jakarta. Everyone is Invited.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 03:28:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>&#8220;Bangunan Peka&#8221; bersama Prof. Uwe Rieger, Indonesian Dream dan Arsitek Komunitas</title>
		<link>http://rujak.org/2011/06/bangunan-peka-bersama-prof-uwe-rieger-indonesian-dream-dan-arsitek-komunitas/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/06/bangunan-peka-bersama-prof-uwe-rieger-indonesian-dream-dan-arsitek-komunitas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 06:40:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[ciliwung]]></category>
		<category><![CDATA[design]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>
		<category><![CDATA[sustainability]]></category>
		<category><![CDATA[Uwe Rieger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2965</guid>
		<description><![CDATA[BANGUNAN PEKA Arsitektur Tanggap Lingkungan 6 Juli 2011, 16:00 WIB Tur pameran dan bincang-bincang bersama kurator Uwe Rieger (The University of Auckland) Museum Nasional Indonesia Jalan Merdeka Barat No. 12 Pameran “Bangunan Peka-Arsitektur Tanggap Lingkungan” di Museum Nasional 6-20 Juli 2011 diselenggarakan oleh Goethe-Institut Indonesien bekerja sama dengan Uwe Rieger, guru besar tamu untuk desain, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/06/Bangunan-Peka.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2966" title="Bangunan Peka" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/06/Bangunan-Peka.jpg" alt="" width="604" height="186" /></a></p>
<p><strong>BANGUNAN PEKA</strong></p>
<p>Arsitektur Tanggap Lingkungan<strong> </strong></p>
<p>6 Juli 2011, 16:00 WIB</p>
<p>Tur pameran dan bincang-bincang bersama kurator Uwe Rieger (The University of Auckland)</p>
<p>Museum Nasional Indonesia<br />
Jalan Merdeka Barat No. 12</p>
<p><strong>Pameran</strong> “<strong>Bangunan Peka-Arsitektur Tanggap Lingkungan” di Museum Nasional 6-20 Juli 2011 </strong>diselenggarakan oleh Goethe-Institut Indonesien bekerja sama dengan<strong> </strong>Uwe Rieger, guru besar tamu untuk desain, ketua departemen arsitektur di School of Architecture and Planning The University of Auckland.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pameran ini mengangkat tema arsitektur reaktif, yaitu arsitektur yang dapat menyesuaikan diri secara dinamis dengan iklim, cuaca, perencanaan atau pengguna. Tujuh instalasi akan dipamerkan. Lima di antaranya didatangkan dari Selandia Baru, sementara dua lainnya dari Indonesia: Ciliwung Recovery Programme (CRP) karya <strong>Indonesian Dream</strong> (Rezza Rahdian, Erwin Setiawan, Ayu Diah Shanti, Leonardus Chrisnantyo, Mario Lodeweik Lionar, Petrus Narwastu) dan Rumah Bambu Swapasang karya <strong>Arsitek Komunitas</strong> dari Yogyakarta.</p>
<p>Goethe-Institut Indonesien dengan Rujak Centre for Urban Studies (RCUS) mengundang Anda untuk tur keliling pameran dan bincang-bincang bersama Uwe Rieger pada:</p>
<p><strong>Rabu, 6 Juli 2011 di Museum Nasional, mulai 16:00 WIB</strong>.</p>
<p>Acara akan dipandu oleh Marco Kusumawijaya dari RCUS.</p>
<p>Fakta-fakta menarik yang dapat didiskusikan antara lain adalah:<br />
• Kebutuhan untuk mengembangkan arsitektur yang menghemat energi dan bahan dengan bereaksi positif atas alam<br />
• Kebutuhan untuk mentransformasi pengetahuan dan kebijaksanaan dari bentuk-bentuk vernakular/tradisional arsitektur Indonesia ke konteks kontemporer dan perkotaan menggunakan metode ilmiah.</p>
<p>Kami mengharapkan pertukaran pikiran di antara kurator dan Anda semua!</p>
<p>Untuk mendaftarkan kehadiran pada acara ini Anda dapat menghubungi (selambatnya 5 Juli 2011):</p>
<p>Dinyah Latuconsina</p>
<p>Goethe-Institut Indonesien</p>
<p>Jl. Sam Ratulangi 9-15</p>
<p>Jakarta 10350</p>
<p>Tel. +62-21-23550208 – 147</p>
<p>Latuconsina@jakarta.goethe.org</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/06/bangunan-peka-bersama-prof-uwe-rieger-indonesian-dream-dan-arsitek-komunitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Genangan Harian di Pangeran Jayakarta</title>
		<link>http://rujak.org/2010/06/genangan-harian-di-pangeran-jayakarta/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/06/genangan-harian-di-pangeran-jayakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 07:21:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2189</guid>
		<description><![CDATA[Hari Rabu ini, negara tetangga kita Singapura dikejutkan dengan banjir cukup tinggi di Orchard Road dan dua lokasi lainnya, yang pada titik tertentu hingga sampai dada orang dewasa. Konon menurut harian Strait Times, banjir tersebut didahului dengan curah hujan tinggi, sekitar 100 mm dalam jangka waktu 2 jam, yaitu 60% dari total curah hujan perkiraan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Rabu ini, negara tetangga kita Singapura dikejutkan dengan banjir cukup tinggi di Orchard Road dan dua lokasi lainnya, yang pada titik tertentu hingga sampai dada orang dewasa. Konon menurut <a href="http://www.straitstimes.com/BreakingNews/Singapore/Story/STIStory_541057.html" target="_blank">harian Strait Times</a>, banjir tersebut didahului dengan curah hujan tinggi, sekitar 100 mm dalam jangka waktu 2 jam, yaitu 60% dari total curah hujan perkiraan di bulan Juni.</p>
<p>Anomali alam tersebut mungkin tidak dapat diduga oleh pemerinta Singapura dengan badan-badan terkaitnya, seperti PUB (Public Utilities Board) dan Badan Lingkungan Hidup Singapura; sehingga segala macam infrastruktur pengendali banjir seperti Marina Barrage, tidak mampu mengantisipasi tingginya curah hujan yang disaat bersamaan bertepatan dengan tingginya muka air laut.</p>
<p>Namun yang terjadi hampir setiap hari di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat, bukanlah sebuah fenomena alam, ataupun anomali alam. Selama hampir 2 tahun, setiap harinya sekitar 20-30% Jalan Pangeran Jayakarta tersebut digenangi oleh air &#8211; terlebih pada sisi bagian selatan. Jika kurang akrab dengan nama jalan tersebut, Jalan &#8216;Pangjay&#8217; &#8211; demikian sebutan akrab masyarakat sekitar merupakan jalan yang sejajar dengan Jalan Arteri Mangga Dua dan jalan yang menghubungkan Gunung Sahari dan daerah Pinangsia. Lokasi Pangjay yang demikian strategis, menjadi tempat favorit untuk kantor hingga bengkel dan dealer mobil, mulai dari usaha percetakan, toko besi hingga pasar malam dan warung-warung makan di malam hari.</p>
<p>Akhirnya genangan air harian itu dianggap biasa saja, padahal air tersebut menggenangi jalan sepanjang lebih dari 200 meter, dengan ketinggian genangan di daerah tertentu mencapai lutut orang dewasa. Ada upaya-upaya memperbaiki, seperti normalisasi saluran, namun tetap saja genangan air itu kembali lagi. Ketika hujan tiba, ketinggian air bertambah. Jika curah hujannya tinggi, maka hampir seluruh jalan tergenang.</p>
<p>Bahkan tutur seorang supir taksi ketika melewati jalan tersebut, banyak supir taksi dan mobil boks serta pengemudi motor yang memanfaatkan genangan air tersebut untuk mencuci mobil dan motor. Menurutnya, air genangan tersebut tidak kotor dan tidak berbau, jadi baik-baik saja ketika digunakan untuk mencuci.</p>
<p>Lalu siapakah yang bersalah dalam hal ini ? Airnya?  Dinas Pekerjaan Umum, Pengembang yang semena-mena membangun ratusan ruko tanpa resapan air?, warga? Atau jangan-jangan laut pasang yang salah?</p>
<p>Lalu pertanyaan lain, sebetulnya darimanakah air itu? Air pasang laut kah, air got kah, atau bocoran air bersih? Genangan tersebut tidak berbau, padahal terjadi setiap hari. Tidak ada sampah di genangan tersebut. Kondisi genangan air tersebut tentu sesuatu ironi, ketika bulan April lalu, Jakarta Utara &#8211; wilayah Jakarta yang berseberangan persis dengan jalan tersebut, mengalami krisis air bersih.</p>
<p>Tapi tanpa menyalahkan siapapun juga, genangan harian di &#8216;Pangjay&#8217; bukanlah hal biasa, dan harus ditindaklanjuti sebagai hal yang luar biasa, seperti halnya banjir dadakan di Orchard Road tersebut.</p>
<p>Berikut ilustrasi kondisi harian Jalan Pangeran Jayakarta, walaupun sedang tidak hujan</p>
<div id="attachment_2191" class="wp-caption aligncenter" style="width: 453px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/J01.jpg"><img class="size-full wp-image-2191" title="J01" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/J01.jpg" alt="" width="443" height="296" /></a><p class="wp-caption-text">Seorang ibu susah payah menyeberangi jalan, sementara angkot gelap berhenti di kanan jalan utk mengangkut penumpang</p></div>
<div id="attachment_2192" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/J02.jpg"><img class="size-full wp-image-2192" title="J02" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/J02.jpg" alt="" width="480" height="360" /></a><p class="wp-caption-text">Sudah biasa, jadi mobil pun melintas cepat</p></div>
<div id="attachment_2193" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/J03.jpg"><img class="size-full wp-image-2193" title="J03" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/J03.jpg" alt="" width="480" height="333" /></a><p class="wp-caption-text">Sisi utara jalan, yang relatif memiliki ketinggian air lebih rendah dibandingkan sisi selatan</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/06/genangan-harian-di-pangeran-jayakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ode Sebuah Taman</title>
		<link>http://rujak.org/2010/05/ode-sebuah-taman/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/05/ode-sebuah-taman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 15:51:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[RTRW]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1927</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Okky Madasari Rasanya seperti kerampokan. Kehilangan satu barang kesayangan, yang bersamanya saya telah merangkai banyak kenangan, sekaligus menyimpan harapan. Tapi ini bukan barang. Bukan juga milik saya, yang untuk mendapatkannya saya harus menukar uang. Ini hanya sebuah taman dengan danau buatan. Milik negara, di sebelah timur Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kami menemukannya tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1928" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/danau-kalibata_med.jpg"><img class="size-full wp-image-1928" title="danau kalibata_med" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/danau-kalibata_med.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Danau Kalibata, foto © Okky Madasari</p></div>
<p><strong>Oleh : Okky Madasari</strong></p>
<p>Rasanya seperti kerampokan. Kehilangan satu barang kesayangan, yang bersamanya saya telah merangkai banyak kenangan, sekaligus menyimpan harapan. Tapi ini bukan barang. Bukan juga milik saya, yang untuk mendapatkannya saya harus menukar uang. Ini hanya sebuah taman dengan danau buatan. Milik negara, di sebelah timur Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kami menemukannya tanpa kesengajaan.</p>
<p>Mungkin memang berlebihan. Tapi memang seperti itu rasanya, saat kemarin petugas itu menutup rapat pagar dan menolak saya untuk bertandang. Taman berdanau itu tak lagi bisa dikunjungi orang-orang. Demi ketertiban. Juga demi keindahan pemandangan.<span id="more-1927"></span></p>
<p>Kata petugas itu, perintah sudah turun sejak Obama mau datang. Katanya, jangan sampai presiden negara besar itu terganggu dengan kehadiran orang-orang. Lalu saat istri Jenderal AH Nasution meninggal dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, katanya, banyak pejabat tinggi yang marah karena taman itu bisa dipakai tempat pacaran.</p>
<p>Padahal, taman ini berbatas tembok tinggi dengan Taman Makam Pahlawan. Masing-masing dengan gerbang sendiri-sendiri. Tidak akan pernah ada yang terganggu satu sama lain. Lagipula, seberapa sering ada presiden yang mau datang? Juga seberapa sering ada upacara kematian?</p>
<p>Ah, beginilah rasanya kehilangan kesenangan. Tempat itu terlanjur menghiasi benak saya. Danaunya yang tak terlalu luas, di mana burung-burung prenjak suka menukik rendah, menyentuh air sebentar lalu terbang bebas. Taman rumput di pinggir danau, tempat tumbuh frangipani, aster, dan berbagai bunga yang saya tak tahu namanya. Di situ saya kerap duduk, membaca buku atau melipat kaki dan memejamkan mata. Batako di sekelilingnya, tempat saya dan suami lari pagi. Dan yang terindah adalah saat matahari perlahan-lahan turun, membuat air danau keemasan, lalu menghilang tepat tegak lurus dari tempat duduk di pinggir danau.</p>
<p>Kami berdua memang pecinta taman-taman kota. Kami selalu ingat bagaimana matahari tenggelam di balik Gedung Departemen Perhubungan saat kami duduk di kolam ikan koi, sebelah lapangan basket Monas. Di Situ Lembang, saya melebur dalam keceriaan anak-anak yang berenang-renang di danau. Di Suropati kami tahu bagaimana burung dara menikmati alunan biola. Di Danau UI, kalau sedang tak memandang ke arah bangunan tinggi rektorat, kami kerap lupa ini hanya selangkah dari Jakarta. Dan betapapun indahnya taman-taman itu, tetap saja rasa kecewa itu menggelanyuti ketika salah satu terpaksa pergi.</p>
<p>Tolong, tolong, buka kembali pintu pagar itu. Biarkan kami menjadi warga kota yang manusiawi. Jangan paksa kami menua di dalam gedung-gedung tinggi berpendingin udara, mengukur bahagia dengan hanya berbelanja. Biarkan keindahan itu bisa dinikmati. Agar kami masih selalu ingat, masih ada yang bisa disyukuri dari pembangunan kota ini. Danau itu akan merindukan pengunjung, rumput-rumput itu butuh sentuhan kami, dan burung-burung itu akan selalu mencari pemujanya.</p>
<p>Lagipula, bukankah taman itu milik kami juga?</p>
<p><em> Okky Madasari  adalah seorang Novelis &amp; pengajar di Universitas Paramadina, Jakarta</em></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">*</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/05/ode-sebuah-taman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pluit Village: Berapa Hijaukah Pengembang Kita yang terkenal itu?</title>
		<link>http://rujak.org/2010/04/pluit-village-berapa-hijaukah-pengembang-kita-yang-terkenal-itu/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/04/pluit-village-berapa-hijaukah-pengembang-kita-yang-terkenal-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 05:53:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Rujak Answers]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[permukiman]]></category>
		<category><![CDATA[RTRW]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[spatial plan]]></category>
		<category><![CDATA[taman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1885</guid>
		<description><![CDATA[Gunawan Tanuwidjaja (Dari milis Green Map Jakarta) Beberapa saat yang lalu, diadakan Sustainable Jakarta Conference, yang memang merupakan upaya untuk membuat Jakarta lebih berkelanjutan.[1] Ada sebuah pengembang terkenal yang mengajukan konsep Green Master Plan. Tetapi mirisnya ternyata pengembang ini hanya menjual konsep &#8220;Green&#8221;-nya yang kosong dan tidak menerapkan dalam bisnisnya. Pengembang tersebut terlibat dengan sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="ygrp-mlmsg">
<div id="ygrp-msg">
<div id="ygrp-text">
<p>Gunawan Tanuwidjaja<br />
(Dari milis Green Map Jakarta)<br />
Beberapa saat yang lalu, diadakan Sustainable Jakarta Conference, yang memang merupakan upaya untuk membuat Jakarta lebih berkelanjutan.[1] Ada sebuah pengembang terkenal yang mengajukan konsep Green Master Plan. Tetapi mirisnya ternyata pengembang ini hanya menjual konsep &#8220;Green&#8221;-nya yang kosong dan tidak menerapkan dalam bisnisnya.</p>
<p>Pengembang tersebut terlibat dengan sebuah di proyek Kawasan Jakarta Utara, Pluit Village.<br />
Ternyata pengembang ini tidak mempraktekkan &#8220;Green and Responsible Water Resource Management.&#8221;</p>
<p>Pertama, Pengembang diduga telah &#8220;menkonversi badan air menjadi komersial, helipad dan jalan internal (melanggar UU Tata Ruang no 26 tahun 2007 dan UU Sumber Daya Air no 7 tahun 2004)&#8221;. Selain itu pengembang ini diduga telah mengganggu sistem polder yang ada dengan menutup saluran air yang masuk ke dalam Danau Pluit dan meninggikan lansekap di sekitar Danau tsb. Sehingga terjadi genangan di kawasan perumahan di Utara dan Selatan. Sungguh pengembang ini diduga tidak memiliki &#8220;kesatuan kata dan perbuatan.&#8221;</p>
<p>Terbukti pada 2008 &#8211; 2010, Warga Pluit telah menikmati beberapa serangan &#8220;Rob.&#8221; Padahal tadinya warga sempat merasakan aman dari Banjir Besar 2007 karena Polder Pluit yang berjalan dengan baik.</p>
<p>Mungkin sebuah sentuhan baru yang ditawarkan oleh Pluit Village.[2] Dari tinggal di dalam polder seperti di Belanda, menjadi &#8220;tinggal di Venesia, Italia, (alias setengah terendam banjir ketika hujan atau pasang laut datang). Jadi konsepnya dengan pengembang biasa yang menjual promosi BEBAS BANJIR. Mungkin judulnya silahkan tinggal di kawasan yang PASTI BANJIR!</p>
<p>Kalau kami boleh mengutip sebuah kata-kata bijak &#8220;Janganlah memutarbalikkan KEADILAN, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. &#8221; Kmemang mengakui bahwa pengembang ini mampu mengatasi segala birokrasi untuk mewujudkan keinginannya di atas. Tetapi apakah hal ini tidak berlawanan dengan cita-cita mulia dan pelayanan Bpk James Riady,[3] bos besar pengembang ini. Apakah memang halal untuk merusak sistem lingkungan orang lain demi kepentingan ekonomi semata-mata?</p>
<p>Jika ada pertanyaan atau tanggapan silahkan baca dulu artikel kami di website kami dengan link sbb:</p>
<p><a href="http://greenimpactindo.wordpress.com/2010/04/24/challenges-in-creating-sustainable-urban-polder-in-developing-countries-case-study-development-of-pluit-polder-jakarta/">http://greenimpactindo.wordpress.com/2010/04/24/challenges-in-creating-sustainable-urban-polder-in-developing-countries-case-study-development-of-pluit-polder-jakarta/</a></p>
<p>Atau dapat kontak lewat email saja <a href="mailto:gunteitb%40yahoo.com">gunteitb@yahoo.com</a> atau telpon ke 0812 212 208 42.</p>
<p>Terimakasih<br />
Gunawan Tanuwidjaja<br />
Pemerhati Pluit</p>
<p>Pro: Kami juga minta dukungan semua pihak agar Sistem Polder Pluit bisa direvitalisasi, Dan 14 Pompa yang dibeli dan dikonstruksi oleh PU DKI Jakarta bisa dipakai untuk operasi Polder Pluit dengan perencanaan yang baik &#8220;bukan merusak sistem polder yang sudah ada.&#8221;</p>
<p>Footnote<br />
1 &#8211; Mr Gordon Benton OBE, architect and urban planner, giving lecture `The future of urban development in Jakarta and role of private developer&#8217; in Sustainable Jakarta Convention, <a href="http://www.sjconvention.com/Downloads/Sustainable%20Jakarta%20Seminar%20Speakers.pdf">http://www.sjconvention.com/Downloads/Sustainable%20Jakarta%20Seminar%20Speakers.pdf</a></p>
<p>2 - <a href="http://www.lippokarawaci.co.id/retailmalls/pluitvillage.aspx">http://www.lippokarawaci.co.id/retailmalls/pluitvillage.aspx</a></p>
<p>3 - <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/James_Riady">http://en.wikipedia.org/wiki/James_Riady</a><br />
<a href="http://www.grii.org/">http://www.grii.org/</a><br />
<a href="http://www.ladangtuhan.com/komunitas/jadwal-acara-gathering/seminar-ekonomi-antisipasi-krisis-global-bagi-indonesia/">http://www.ladangtuhan.com/komunitas/jadwal-acara-gathering/seminar-ekonomi-antisipasi-krisis-global-bagi-indonesia/</a></p>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/04/pluit-village-berapa-hijaukah-pengembang-kita-yang-terkenal-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>STOP PRESS: Koreksi atas pemberitaan KOMPAS, Senin, 22 Februari 2010</title>
		<link>http://rujak.org/2010/02/stop-press-koreksi-atas-pemberitaan-kompas-senin-22-februari-2010/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/02/stop-press-koreksi-atas-pemberitaan-kompas-senin-22-februari-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 05:37:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[RTRW]]></category>
		<category><![CDATA[spatial plan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1647</guid>
		<description><![CDATA[Kepada yth. Redaksi KOMPAS, Terima kasih atas pemberitaannya tentang keberadaan Koalisi Warga untuk Jakarta 2030. Saya ingin menyampaikan koreksi atas berita Saudara pada KOMPAS Hari Senin, 22 Februari, 2010, halaman 27 (&#8220;Mungkin Perlu Koin Atasi Bencana&#8221;) kolom 7, alinea dari atas. Pada alinea itu tertulis: Marco Kusumawijaya,&#8230;&#8230;, mengatakan, pemerintah seharusnya bertindak cepat. Pemprov DKI, misalnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/02/Koalisi2030_logo.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1652" title="Koalisi2030_logo" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/02/Koalisi2030_logo.jpg" alt="" width="128" height="130" /></a>Kepada yth. Redaksi KOMPAS,</p>
<p>Terima kasih atas pemberitaannya tentang keberadaan Koalisi Warga untuk Jakarta 2030.</p>
<p>Saya ingin menyampaikan koreksi atas berita Saudara pada <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/22/03380216/mungkin.perlu.koin.atasi.bencana">KOMPAS Hari Senin, 22 Februari, 2010, halaman 27 (&#8220;Mungkin Perlu Koin Atasi Bencana&#8221;) kolom 7, alinea dari atas</a>.</p>
<p>Pada alinea itu tertulis:</p>
<p>Marco Kusumawijaya,&#8230;&#8230;, mengatakan, pemerintah seharusnya bertindak cepat. Pemprov DKI, misalnya, diminta <span style="text-decoration: underline;">segera</span> <span style="text-decoration: underline;">menetapkan</span> rencana tata ruang wilayah (RTRW) DKI 2010-2030.</p>
<p>(Saya garis bawahi &#8220;segera menetapkan&#8221;)</p>
<p>Pertama, saya merasa semampu ingatan saya belum pernah diwawancarai oleh penulis berita, Sdr. Neli Triana.</p>
<p>Kedua, tuntutan saya dan Koalisi Warga untuk Jakarta 2030 adalah JUSTRU agar MENUNDA penetapan RTRW Jakarta 2010-2030, dan agar MENGULANGr proses penyusunannya secara partisipatif, karena rancangan yang ada sekarang belum memenuhi syarat-syarat substansi maupun prosedural sesuai peraturan perundang-undangan yang sudah ada.</p>
<p>Pandangan saya ini termuat juga dalam tulisan terlampir yang sebelumnya sudah saya kirimkan kepada Redaksi KOMPAS yth.</p>
<p>Salam hormat,</p>
<p>Marco Kusumawijaya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/02/stop-press-koreksi-atas-pemberitaan-kompas-senin-22-februari-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>M. Farhan dan Kanal Banjir Timur</title>
		<link>http://rujak.org/2010/02/m-farhan-dan-kanal-banjir-timur/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/02/m-farhan-dan-kanal-banjir-timur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 01:58:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir Kanal Timur (BKT)]]></category>
		<category><![CDATA[Farhan]]></category>
		<category><![CDATA[Kanal Banjir Timur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1533</guid>
		<description><![CDATA[M. Farhan, tuan rumah (host) acara Tatap Muka di TV One, kunjungi Kanal Banjir Timur bersama editor Rujak pada tanggal 13 Januari 2010. Kunjungan ini ditayangkan pada hari Minggu tanggal 16 Januari 2010. Kanal Banjir Timur, yang kini secara salah kaprah disebut sebagai Banjir Kanal Timur (BKT karena mengikuti sebutan lama menurut tata-bahasa Belanda, memotong lima [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1534" class="wp-caption aligncenter" style="width: 586px"><img class="size-full wp-image-1534  " title="Farhan di Kanal Banjir Timur, 13 Januari 2010" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/02/farhan_kbt.jpg" alt="Farhan di Kanal Banjir Timur bersama rujak, 13 Januari 2010" width="576" height="432" /><p class="wp-caption-text">Farhan di Kanal Banjir Timur bersama rujak, 13 Januari 2010</p></div>
<p>M. Farhan, tuan rumah (<em>host</em>) acara Tatap Muka di TV One, kunjungi Kanal Banjir Timur bersama editor Rujak pada tanggal 13 Januari 2010. Kunjungan ini ditayangkan pada hari Minggu tanggal 16 Januari 2010.</p>
<p>Kanal Banjir Timur, yang kini secara salah kaprah disebut sebagai Banjir Kanal Timur (BKT karena mengikuti sebutan lama menurut tata-bahasa Belanda, memotong lima aliran air di bagian timur Jakarta. Air dari lima aliran ini, sebelum masuk ke pusat Jakarta, dialirkan oleh kanal tersebut langsung ke laut. Ia diperkirakan akan kurangi banjir sebesar 35 % di kawasan timur, bagian utara Jakarta. Tentu saja angka ini akan berubah-ubah tergantung pada rob, naiknya permukaan air laut karena <a href="http://rujak.org/2009/06/economics-of-climate-change-in-se/">perubahan iklim</a>, dan <a href="http://rujak.org/idin/">tutupan hutan di daerah hulu maupun sepanjang kanal</a>.</p>
<p>Kanal sudah menembus ke laut, tetapi pembangunan tepian (embankment)nya masih jauh dari selesai. Dan, masih banyak tersisa pertanyaan: <a href="http://rujak.org/2009/07/‘sunan’-jogokali-gotong-royong-hijaukan-kampung/">Bagaimana penataan ruang di sepanjang kanal?</a> Apakah akan jadi ruang publik atau diserahkan kepada swasta? Bagaimana perubahan guna-lahan sepanjang kanal akan direncanakan atau dibiarkan tidak terkendali, diserahkan kepada pasar? Apakah akan dimanfaatkan untuk mengisi kekurangan Kota Jakarta sekarang, seperti ruang terbuka hijau dan biru yang asri untuk kesehatan penduduk? Atau malah nantinya akan tidak terurus dan kotor lagi?</p>
<p>Bagaimana wujudnya dalam <a href="http://rujak.org/2009/12/tata-ruang-jakarta-2030/">Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2010-2030</a> yang sedang disusun?</p>
<p>Bagaimana menurut Anda? Sampaikan pandangan Anda untuk Rencana Tata Ruang Jakarta 2010-2030. <a href="https://spreadsheets.google.com/viewform?hl=en&amp;formkey=dEJWenV5STRBOFdIa0t5Vmt1ZjVLaXc6MA">Klik di sini</a>.</p>
<div id="attachment_1537" class="wp-caption aligncenter" style="width: 586px"><img class="size-full wp-image-1537  " title="bkt" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/02/bkt.jpg" alt="Kanal Banjir Timur, Jakarta, 13 Januari 2010" width="576" height="432" /><p class="wp-caption-text">Kanal Banjir Timur, Jakarta, 13 Januari 2010</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/02/m-farhan-dan-kanal-banjir-timur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tur Hijau bersama Komunitas Peta Hijau Jakarta: Mengenal Waduk dan Situ</title>
		<link>http://rujak.org/2010/01/tur-hijau-bersama-komunitas-peta-hijau-jakarta-mengenal-waduk-dan-situ/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/01/tur-hijau-bersama-komunitas-peta-hijau-jakarta-mengenal-waduk-dan-situ/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 07:55:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agents for Change]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Peta Hijau]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[bus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1484</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 16 Januari 2010;  Pukul : 07.30 – 12.00 WIB Bulan Januari-Februari adalah bulan waspada bagi warga Jakarta. Sebagian besar warga tahu kalau di 2 bulan ini curah hujan akan tinggi dan Jakarta banjir. Bertahun-tahun Pemda DKI upaya mengatasi banjir, namun belum membuahkan hasil maksimal. Antara lain membangun waduk, konservasi situ/danau, membuat kanal baru (Banjir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu, 16 Januari 2010;  Pukul : 07.30 – 12.00 WIB</p>
<p>Bulan Januari-Februari adalah bulan waspada bagi warga Jakarta.</p>
<p>Sebagian besar warga tahu kalau di 2 bulan ini curah hujan akan tinggi dan Jakarta banjir. Bertahun-tahun Pemda DKI upaya mengatasi banjir, namun belum membuahkan hasil maksimal. Antara lain membangun waduk, konservasi situ/danau, membuat kanal baru (Banjir Kanal Timur).</p>
<p>Komunitas Peta Hijau Jakarta (PHJ) lewat kegiatan &#8220;Tur Hijau&#8221;, kali ini hendak mengajak warga Jakarta untuk mengenal fungsi-fungsi dari waduk dan situ yang ada di kota ini. Ada 2 lokasi yang akan kita kunjungi, yaitu Waduk Setiabudi dan Situ/Danau Ragunan.  Kegiatan ini juga dalam rangka memperingati ulang tahun ke 6 busway hadir di kota Jakarta (15 Januari 2004). Busway atau salah satu transportasi publik (selain kereta listrik) di Jakarta ini, masih jauh dari ideal. Masih banyak harapan-harapan warga Jakarta yang belum terpenuhi. Namun lepas dari itu semua, sepatutnya kita (warga) sebagai pemangku kepentingan (stake holder) merayakan tahun keenam busway transjakarta.</p>
<p>Komunitas PHJ mengajak teman-teman untuk merayakan tahun ke-6 kehadiran busway , dengan menggunakan busway mengunjungi Waduk Setiabudi dan Situ Ragunan, pada:<br />
<strong>Sabtu, 16 Januari 2010;  Pukul : 07.30 – 12.00 WIB</strong></p>
<p>Rute : Waduk Setiabudi menuju Situ Ragunan dengan menggunakan busway.</p>
<p>Titik kumpul : pk 07.00 WIB di luar halte busway Dukuh Atas (yang bawah, dekat Landmark Building-nanti ada bendera Green Map)</p>
<p>Biaya : Rp 50.000/orang, sudah termasuk tiket busway pp, snack dan makan siang, tiket masuk KB Ragunan.  Pendaftaran via email : petahijaujakarta@yahoo.com &#8211; Silakan kirim nama dan nomer ponsel. Pendaftaran akan ditutup bila peserta sudah mencapai kuota 30 orang atau batas waktu terakhir Jumat, 15 Januari pukul 15.00 WIB.</p>
<p>Peserta disarankan membawa botol minuman sendiri, untuk mengurangi sampah kemasan plastik.  Info lebih lanjut :  021-68465892</p>
<p>Ada apa di antara Waduk Setiabudi – Situ Ragunan?  Waduk Setiabudi, terbagi dalam 2 waduk, yaitu Setiabudi Timur dan Barat. Waduk ini setiap harinya menerima limbah cair dari pemukiman maupun perkantoran yang menjamur di sepanjang Rasuna Said. Sayangnya, hanya satu waduk yang memiliki alat penghancur limbah. Selain itu waduk Setiabudi berfungsi sebagai pengendali banjir, bila ketinggian air mencapai batas tertentu, maka air akan dibuang ke kanal barat.  Situ Ragunan, di dalam kawasan kebun binatang ini, mempunyai beberapa situ alam maupun buatan. Situ-situ di Ragunan ini adalah tempat yang ideal untuk fungsi-fungsi resapan air tanah. Karena lokasinya relatif terawat, maka situ Ragunan ini juga berfungsi sebagai tempat rekreasi. Dari lokasi ini, kita dapat belajar bagaimana bila sebuah situ dapat memberikan manfaat lingkungan (resapan air) maupun budaya seperti tempat rekreasi dan mendatangkan usaha-usaha ekonomi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/01/tur-hijau-bersama-komunitas-peta-hijau-jakarta-mengenal-waduk-dan-situ/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersih Sampah Pesisir Utara bersama Jakarta Green Monster</title>
		<link>http://rujak.org/2009/08/bersih-sampah-pesisir-utara-bersama-jakarta-green-monster/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/08/bersih-sampah-pesisir-utara-bersama-jakarta-green-monster/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 14:57:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta Green Monster]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=840</guid>
		<description><![CDATA[Saturday, August 8, 2009 Time: 8:00am &#8211; 12:00pm Location: Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Lindung Angke Kapuk, Pelelangan Ikan Muara Angke Street: Pantai Indah Utara 2, Pantai Indah Kapuk Phone: 02194425951 Email: monster@jgm.or.id Memasuki bulan Agustus ini Jakarta Green Monster dan Coca Cola Indonesia kembali menyelenggarakan Aksi Bersih Sampah rutin di pesisir utara Jakarta. Kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saturday, August 8, 2009</p>
<table id="Time and Place" style="margin-bottom: 10px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="padding: 1px 0px; font-size: 11px; text-align: left; vertical-align: top; width: 100px; color: #808080;">Time:</td>
<td style="font-size: 11px; text-align: left; vertical-align: top; padding-top: 1px; padding-right: 0px; padding-bottom: 1px; padding-left: 0px;">
<div style="word-wrap: break-word;">8:00am &#8211; 12:00pm</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 1px 0px; font-size: 11px; text-align: left; vertical-align: top; width: 100px; color: #808080;">Location:</td>
<td style="font-size: 11px; text-align: left; vertical-align: top; padding-top: 1px; padding-right: 0px; padding-bottom: 1px; padding-left: 0px;">
<div style="word-wrap: break-word;">Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Lindung Angke Kapuk, Pelelangan Ikan Muara Angke</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 1px 0px; font-size: 11px; text-align: left; vertical-align: top; width: 100px; color: #808080;">Street:</td>
<td style="font-size: 11px; text-align: left; vertical-align: top; padding-top: 1px; padding-right: 0px; padding-bottom: 1px; padding-left: 0px;">
<div style="word-wrap: break-word;">Pantai Indah Utara 2, Pantai Indah Kapuk</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table id="Contact Info" style="margin-bottom: 10px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="padding: 1px 0px; font-size: 11px; text-align: left; vertical-align: top; width: 100px; color: #808080;">Phone:</td>
<td style="font-size: 11px; text-align: left; vertical-align: top; padding-top: 1px; padding-right: 0px; padding-bottom: 1px; padding-left: 0px;">
<div style="word-wrap: break-word;">02194425951</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 1px 0px; font-size: 11px; text-align: left; vertical-align: top; width: 100px; color: #808080;">Email:</td>
<td style="font-size: 11px; text-align: left; vertical-align: top; padding-top: 1px; padding-right: 0px; padding-bottom: 1px; padding-left: 0px;">
<div style="word-wrap: break-word;"><a style="cursor: pointer; color: #3b5998; text-decoration: none;" href="mailto:monster@jgm.or.id">monster@jgm.or.id</a></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><span id="more-840"></span><img class="alignleft size-full wp-image-841" title="n114493178683_4620" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/08/n114493178683_4620.jpg" alt="n114493178683_4620" width="200" height="283" />Memasuki bulan Agustus ini Jakarta Green Monster dan Coca Cola Indonesia kembali menyelenggarakan Aksi Bersih Sampah rutin di pesisir utara Jakarta. Kali ini lembaga yang terlibat semakin bertambah, antara lain BKSDA DKI Jakarta, Kementrian Negara Lingkungan Hidup dan BPLHD DKI Jakarta.</p>
<p>Kegiatan ini merupakan peluncuran Program Coastal Cleanup Pertama Indonesia. Yang akan dilaksanakan pada Sabtu, 8 Agustus 2008 jam 08.00 &#8211; 12.00 WIB. Lokasi pembersihan ada di tiga lokasi, yaitu Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Lindung Angke Kapuk dan Pelelangan Ikan Muara Angke.</p>
<p>Perlengkapan pribadi yang harus disiapkan antara lain pakaian ganti, botol air minum, sepatu kets, topi dan obat pribadi. Anda berminat bergabung? Ayo rame-rame daftarkan diri anda atau komunitas anda ke Icay di 021 94425951. Be there !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/08/bersih-sampah-pesisir-utara-bersama-jakarta-green-monster/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bang Idin Hebat</title>
		<link>http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 08:40:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bang Idin]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Agriculture]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=406</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Amartya Syahruzad  &#38; Laksmi Prasvita. Bang Idin, penyelamat Sungai Pesanggrahan,  telah memenangkan Kalpataru untuk konservasi air,  dan berbagai penghargaan di Abu Dhabi, Jerman dan Belanda. Sempadan sungai tersebut  terancam pembangunan perumahan, pembuangan sampah serta limbah. Bang Idin, yang nama lengkapnya adalah Haji Chaerudin, telah menata 120 hektar lahan dari total 136 km panjang sungai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em><strong>Oleh Amartya Syahruzad  &amp; Laksmi Prasvita.</strong></em> Bang Idin<strong>, </strong>penyelamat Sungai Pesanggrahan,  telah memenangkan Kalpataru untuk konservasi air,  dan berbagai penghargaan di Abu Dhabi, Jerman dan Belanda.</p>
<p><span id="more-406"></span></p>
<p>Sempadan sungai tersebut  terancam pembangunan perumahan, pembuangan sampah serta limbah. Bang Idin, yang nama lengkapnya adalah Haji Chaerudin, telah menata 120 hektar lahan dari total 136 km panjang sungai Pesanggrahan. Empat puluh hektar darinya berada di Jakarta Selatan di sepanjang 36 km bantaran sungai. 80 hektar lainnya tersebar di wilayah Bogor, Tangerang, Depok dan Banten. Lahan yang ditata Bang Idin dan Kelompok Tani Sangga Buana bimbingannya, ditanami sekitar 60.000pohon, yang terdiri dari tanaman buah buahan, koridor burung, tanaman langka, tanaman obat, serta tanaman dengan nilai konservasi. Sekitar 20.000 ikan dari berbagai jenis dilepaskan kembali  ke habitat sungai . Burung, kura kura, berang-berang, ular piton,  musang  dan berbagai  jenis binatang lainnya yang telah punah  telah dikembalikan lagi ke habitatnya. Hutan Bang Idin seluas 40 hektar disepanjang 36km sungai Pesanggrahan, bisa dicapai dari Vila Delima, Jl. Karang Tengah Raya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.</p>
<p><em>Hari  ini aku diajak ibuku bersama eyang ke hutan Bang Idin. Kami berangkat pagi hari, sampai di sana siang hari. Kami turun tangga sampai bawah. Terus kami bertemu dengan Bang Idin. Aku takut waktu turun karena ada kuburan. Tapi akhirnya senang. Aku melihat sungai yang cokelat, tapi kata Bang Idin sungai itu bersih. Bang Idin memakai baju yang kotor dan tidak memakai sandal dan keliatan udelnya. Aku tidak takut sama Bang Idin. Tapi aku takutnya sama ular dan buaya.  Aku dan ibuku ngobrol sama Bang Idin sambil menulis apa yang dia katakan. Terus kami diajak Bang Idin ke hutan yang dia selamatkan. Kata Bang Idin di hutan dia ada banyak binatang. Eyangku saja takut.  Eyangku jalannya lambat jadi aku harus gandeng dia. Kami ditunjukkan mata air, dan banyak pohon-pohon. Aku lihat pohon jengkol, waru, oyong, singkong, kecapi, buni dan gondang. Pohon jengkolnya ternyata besar sekali. Ada suara tokek yang mengagumkan. Ada banyak binatang selain tokek: kadal, ular, cicak, burung, ikan, kepiting  (panggilannya yuyuk), capung, kupu-kupu dan tawon. Ada banyak nyamuk disitu, jadi lain kali harus pakai obat anti nyamuk.</em></p>
<p><em>Terus kami pergi ke empang. Eyang membeli ikan mas yang beratnya tiga kilo. Aku dan ibuku memancing. Kami dibantu oleh abang-abang yang ada disitu. Aku dapat ikan mas kecil dan diberi labu air. Kata Bang Idin labunya bagus buat otak. Bang Idin orangnya hebat bisa menyelamatkan hutan. Aku senang dan mau kembali lagi. Bang Idin menyelamatkan hutan, pohon-pohon obat, titik-titik mata air supaya kita punya air minum. Kata Bang Idin, air yang berasal dari mata air itu bisa diminum. Daun waru itu buat obat demam. Bang Idin jago silat macan dan bawa golok kemana-mana. Tapi, dia bilang, “Jawara itu bukan memukul orang klenger, tapi berteman. Kalo yang memukul orang klenger itu namanya preman.”</em></p>
<p><em>Amartya Syahruzad, 10 tahun, adalah putra dari Laksmi Prasvita.</em></p>
<p><em>***</em></p>
<p style="margin: 0.0px 0.0px 0.0px 0.0px; font: 14.0px Times New Roman;"><strong>KETIKA SUNGAI MASIH BERPALUNG DI PESANGGRAHAN</strong></p>
<p style="text-align: left;">Oleh Laksmi Prasvita, konsultan PR.</p>
<p>“Alam Ini Bukan Warisan Nenek Moyang Tetapi Titipan Anak Cucu Kita”, demikian  tulisan di sebuah plang yang di tancapkan di sebatang pohon ditengah jalan masuk menuju Pos 1, salah satu pos pengawasan sungai Pesanggrahan. Dilatar belakang plang tersebut, seorang lelaki berkostum silat hitam, penuh lumpur dan tak beralas kaki, tampak sedang membersihkan <em>dinghy</em>. Dia segera menyambut kami dan memperkenalkan diri: “Saya Bang Idin”</p>
<p>Pemenang hadiah Kalpataru untuk bidang konservasi air itu sangat terbuka,  hangat dan rendah hati. “Ada sekitar 150 titik mata air di sepanjang sungai Pesanggrahan yang harus diselamatkan. Jika air tidak diselamatkan, bisa lebih mahal harganya daripada bensin”, ujarnya. Dengan antusias dia melanjutkan: “Ada sekitar 30 rawa besar yang hilang di Jakarta. Jika Jakarta banjir, itu karena air menemukan jalannya. Alam tidak bisa dilawan!”</p>
<p>Segalanyanya berawal dari keprihatinan 15 tahun yang lalu. Saat itu, Bang Idin menyaksikan kerusakan  sempadan sungai Pesanggrahan yang penuh sampah, gundul, gersang  dan malahan ditumbuhi bangunan perumahan baru, serta menjadi tempat pembuangan limbah.  Bang Idin melancarkan protes. Ia berujar: “Protes saya lakukan dengan membersihkan sampah, menanam pohon dan tidak memaki maki, alih-alih membuat bom seperti Amrozi”</p>
<p>“Saya protes akan filsafat pembangunan yang hanya menekankan pada pembangunan fisik. Pembangunan itu seharusnya menekankan pada pembangunan manusia agar lebih mengenal jati dirinya, mengenal Tuhannya dan mengenal hakikat hidup”</p>
<p>Ada pepatah leluhur yang mengatakan: kalau sungai tak lagi berpalung, kalau pasar tak lagi tawar menawar, maka hilanglah peradaban. “Pepatah ini saya pegang dan memberi saya motivasi untuk menjaga palung sungai serta pasar tradisional, yang memberi tempat kepada manusia untuk saling berinteraksi . Bukan mall, dimana harga sudah ditentukan dan pembeli harus membayar harga yang ditentukan. Peradaban akan hilang jika interaksi antar manusia dihilangkan”</p>
<p>Pembangunan di Jakarta yang marak dengan berdirinya gedung dan perumahan penduduk, terus memberikan ancaman bukan saja bagi interaksi tradisional antar manusia namun juga interaksi manusia dengan alamnya. Peraturan Pemerintah menetapkan lebar sempadan sungai  minimal 50-100meter (tergantung besar sungai dan peruntukan daerah sekitar). Artinya wilayah ini harus dijaga dari jarahan pembangunan perumahan dan gedung. Namun peraturan ini mendapat ancaman dari meningkatnya harga tanah. Harga untuk mempertahankan tanah bagi lingkungan hidup harus bertarung dengan <em>opportunity cost</em> harga ekonominya. Dengan menerawang Bang Idin mengatakan: “Pembangunan seharusnya berdasarkan kearifan bukan keuntungan ekonomi semata. Kalau berdasarkan kearifan kita pasti untung. Kalau berdasarkan keuntungan ekonomi semata, kita semua akan tengelam”. Sebuah filsafat yang kini menjaga dan membuat sungai masih berpalung di Pesanggrahan.</p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="size-full wp-image-407 aligncenter" title="bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan (2)" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/bang-Idin-di-pinggir-sungai-pesanggrahan-2.JPG" alt="bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan (2)" width="553" height="415" />
<a href='http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/bang-idin-di-pinggir-sungai-pesanggrahan-2/' title='bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan (2)'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/bang-Idin-di-pinggir-sungai-pesanggrahan-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan (2)" title="bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan (2)" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/plang-jalan-masuk-pos-1-2/' title='Plang Jalan Masuk Pos 1 (2)'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/Plang-Jalan-Masuk-Pos-1-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Plang Jalan Masuk Pos 1 (2)" title="Plang Jalan Masuk Pos 1 (2)" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/bang-idin-di-pinggir-sungai-pesanggrahan/' title='bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/bang-Idin-di-pinggir-sungai-pesanggrahan-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan" title="bang Idin di pinggir sungai pesanggrahan" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/marty-dapat-ikan/' title='Marty dapat ikan'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/Marty-dapat-ikan-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Marty dapat ikan" title="Marty dapat ikan" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/bang-idin-kasih-tahu-makanan-obat/' title='Bang Idin kasih tahu makanan obat'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/Bang-Idin-kasih-tahu-makanan-obat-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Bang Idin kasih tahu makanan obat" title="Bang Idin kasih tahu makanan obat" /></a>
<a href='http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/plang-jalan-masuk-pos-1/' title='Plang jalan masuk pos 1'><img width="150" height="150" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/Plang-jalan-masuk-pos-1-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Plang jalan masuk pos 1" title="Plang jalan masuk pos 1" /></a>
</p>
<p></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/07/bang-idin-hebat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warga, Tata Ruang, Jakarta Lestari</title>
		<link>http://rujak.org/2009/06/warga-tata-ruang-jakarta-lestari/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/06/warga-tata-ruang-jakarta-lestari/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 20:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[RTRW]]></category>
		<category><![CDATA[spatial plan]]></category>
		<category><![CDATA[transportation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[Terbit dalam versi lain di Majalah Tempo, 22-29 Juni 2009 Ada sih keistimewaan ulang tahun Jakarta kali ini. Pada tahun ini seharusnya pemerintah DKI Jakarta selesaikan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuknya, sebab RTRW yang sekarang habis masa berlakunya tahun depan. Penataan ruang adalah tugas pemerintah yang tidak dapat didelegasikan kepada siapa pun, sebab ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><em>Terbit dalam versi lain di Majalah Tempo, 22-29 Juni 2009</em></p>
<p>Ada <em>sih</em> keistimewaan ulang tahun Jakarta kali ini. Pada tahun ini seharusnya pemerintah DKI Jakarta selesaikan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuknya, sebab RTRW yang sekarang habis masa berlakunya tahun depan. Penataan ruang adalah tugas pemerintah yang tidak dapat didelegasikan kepada siapa pun, sebab ia mengatur hidup bersama kita. Tetapi justru karena alasan yang sama ia harus melibatkan semua orang.</p>
<p><span id="more-347"></span></p>
<p>Penataan ruang mengatur sumber daya paling penting dalam kehidupan bersama, bukan karena ruang itu sendiri adalah sumber daya, melainkan karena segala sumber daya yang lain terdapat atau terjadi di dalam ruang dalam mewujudkan potensinya. Ruang adalah tempat peristiwa transaksi ekonomi maupun sosial-budaya. Pada ruang melekat sejarah dan makna-makna yang mengalir sampai jauh tanpa dapat dipotong-potong secara semena-mena .</p>
<p>Suatu Rencana Tata Ruang Wilayah, pada dasarnya memaparkan atau setidaknya bersandar pada suatu visi. Visi ini tidak terkira pentingnya untuk memandu kita menuju masa depan, termasuk dalam memecahkan masalah-masalah yang ada sekarang.</p>
<p>Kita memang harus menyelesaikan masalah-masalah yang selama ini tertunda, misalnya banjir, kemacetan, demam berdarah, dan Sinematek Indonesia. Tetapi menyelesaikan masalah di depan mata memerlukan visi yang jauh ke masa depan sebagai panduan. Untuk selesaikan kemacetan kita perlu visi tentang angkutan umum dan integrasinya dengan <em>land-use</em> untuk Jakarta hingga akhir abad ini. Untuk selesaikan masalah banjir kita perlu visi tentang pengelolaan air secara komprehensif 100 tahun ke depan. Itulah yang dilakukan oleh para pemimpin dan perencana sepanjang sejarah manusia. Untuk selesaikan masalah Sinematek Indonesia, kita perlu visi tentang peran museum dalam pengembangan kebudayaan ibukota. Tanpa visi, penanganan masalah secara <em>ad-hoc</em> hanya akan membuat kita menjadi pemadam kebakaran yang selalu terlambat.</p>
<p>Sekarang kita sudah tahu harganya keterlambatan: bukan saja biaya uang memperbaiki menjadi mahal tidak terkira, tetapi juga biaya sosial dan budaya yang membuat kita <em>ribut</em> satu sama lain.  Kasus yang nyata misalnya adalah saluran-saluran dan kanal di Jakarta yang karena tidak pernah dirawat (antara lain dikeruk) secara berarti selama lebih dari 30 tahun, menurut suatu studi, telah menurunkan kapasitas sebagiannya hingga 40 %. Menurut studi itu, banjir akan cukup tertanggulangi kalau kapasitas itu dikembalikan (dan dirawat!).</p>
<p>Tindakan tanpa visi komprehensif juga mudah menyebabkan inkonsistensi. Gubernur baru-baru ini mengeluhkan betapa tidak mungkinnya mencapai target jumlah ruang terbuka 30 % sebagaimana disyaratkan undang-undang. Pada saat yang sama ruang terbuka di bawah jalan layang kereta api di Gondangdia yang selama ini telah digunakan untuk instalasi komposting dan pembiakan tanaman hias atas prakarsa masyarakat dan kantor kelurahan, telah sebagian digusur untuk perluasan lapangan parkir Buddha Bar.</p>
<p>Inkonsistensi bukan soal sepele. Untuk berubah segera dan besar-besaran orang perlu percaya bahwa semua pihak akan melakukan bagiannya secara konsisten.  Lebih dari sebelumnya, kita kini sungguh memerlukan pemerintah yang dapat dipercaya untuk membuat dan melaksanakan kebijakan dengan konsisten. Tidak ada hal yang terlalu kecil dalam hal ini, sebab taruhannya adalah kepercayaan, yang menjadi dasar bagi keinginan untuk berubah secara mendasar serentak bersama-sama.</p>
<p>Visi diperlukan untuk memberi jiwa kepada tindakan, sehingga tindakan-tindakan tidak bertentangan satu dengan yang lain. Kelestarian tidak bisa tidak harus menjadi jiwa baru dalam kita membangun. Soalnya sudah mendesak. Air laut sudah dipastikan akan naik. Gejala <em>Urban Heat Islands</em> (temperatur di tengah kota meningkat melebihi pinggiran, sementara aliran udara melambat) sudah nyata. Tidak ada yang dapat lebih dirusak. Yang dapat dilakukan hanya memperbaiki, “membangun” kembali.</p>
<p>Tiba-tiba kata “membangun” berbunyi lain dalam sukma kita. Di dalamnya harus ada paham tentang akumulasi, tentang kelestarian. Kita membangun bukan hanya untuk kita yang hidup di masa kini, tetapi juga untuk hidup yang akan datang. Sebab, kita sekarang sudah menjadi korban dari cara “membangun” yang tidak lestari dari generasi sebelum kita. Kita tidak ingin mengulang. Sudah lama dikatakan bahwa <em>green is the new red, </em>yang saya mengerti sebagai solidaritas intra- dan antar-generasi, serta antar-spesies.</p>
<p>Dan solidaritas sedang merebak sebagai prakarsa kelompok-kelompok masyarakat yang berjuang memperbaiki lingkungannya. Masyarakat kita telah makin tumbuh sebagai kelas menengah yang jauh lebih cerdas dan mandiri dibandingkan dengan 10 tahun lalu.  Prakarsa dari bawah ini sangat strategis karena mengakar melalui praktek dalam tubuh masyarakat, tempat perubahan efektif perlu dan akan terjadi. Ini tidak boleh hilang karena tindakan atau kebijakan yang salah, yang sayangnya juga masih terus kita alami dari waktu ke waktu.</p>
<p>Sebenarnya berlebihan untuk mengatakan bahwa unsur terpenting sebuah kota adalah warganya. Ini adalah suatu <em>truism</em>. Anehnya, memang sepanjang sejarah ada saja orang yang merasa perlu mengingatkannya kembali. Shakespeare menulis begitu. Sebelumnya Sophocles juga. Dan kini para pengusung ekonomi kreatif bilang begitu.</p>
<p>Warga sekarang mudah menyebarkan dan mendapatkan informasi. Proses belajar dan meniru kini mudah dan cepat. Tetapi, perubahan sistemik memerlukan peran negara, yang harus menjamin bahwa perubahan yang dimulai warga didukung, dijaga dan ditiru semua pihak, termasuk pemerintah, yang harus juga memaksa yang bandel. Perubahan hanya efektif bila terjadi bersama-sama dan menyeluruh. Salah satu kelemahan manusia ialah ia tidak ingin berubah sendirian, dan selalu menunggu tauladan atau pemimpin. Sebab itu kata-kata Mahatma Gandhi, “<em>You ought to be the change you wish to see in this world</em>”. Selain itu, manusia juga tidak ingin “menahan diri sendirian” dalam memanfaatkan sumber daya bersama seperti alam. Sebab, “Kalau bukan aku, <em>tokh</em> ada orang lain yang akan menghabiskannya.”</p>
<p>Kini kita mencatat di seluruh Jakarta ada beragam prakarsa masyarakat: ada kumpulan ibu-ibu yang ingin mengaktifkan taman lingkungan dan tepian kali untuk berbagai kegiatan. Ada yang memilah sampah dan bikin kompos. Ada yang bangun pusat kesenian. Ada yang bangun komunitas sepeda, peta hijau, tur tempat bersejarah, dan banyak lagi. Pemerintah perlu mendukung semua prakarsa itu supaya beranak pinak dengan cepat dan masif. Pemerintah dapat memudahkan dan memberikan insentif, alokasikan dana untuk memajukan kompetisi positif di kalangan masyarakat warga. Warga kadang memerlukan <em>venture capital</em> untuk prakarsa yang hasilnya akan berguna bagi khalayak ramai.</p>
<p>Di Seatle, AS, ada kantong anggaran pemerintah kota yang tersedia bagi warga yang, misalnya, memulai bisnis <em>car-pooling</em>. Di Aichi, Jepang ada dana untuk masyarakat menindaklanjuti, bila mereka dengan menggunakan Peta Hijau mengidentifikasi tindakan untuk meningkatkan kualitas lingkungannya.</p>
<p>Warga perlu mendapat jaminan bahwa pemerintah juga melakukan tugasnya, sehingga ada saling percaya bahwa semua pihak melakukan bagiannya. Di Santa Monica, ada peraturan daerah tentang <em>zero run-off</em>. Warga dilarang membuang air apapun, termasuk air hujan yang jatuh ke halamannya, ke saluran kota. Sebaliknya pemerintah juga mengumpulkan air hujan yang jatuh di ruang khalayak untuk didaur ulang pada suatu instalasi yang sengaja dibuat mencolok.</p>
<p>Yang perlu dilakukan pemerintah sungguh berat. Diperlukan perombakan epistemologi, metodologi dan nomenklatur yang terlanjur terlembaga dalam undang-undang, pendidikan dan praktek profesional penataan ruang. Pada suatu diskusi di University of British Columbia, Vancouver, Maret lalu, yang dihadiri ahli Asia seperti Terry McGee (“Desa-Kota”),  Michael Leaf, John Friedmann, Jo Santoso, Abidin Kusno,  dan beberapa pejabat BAPPEDA Jakarta, disimpulkan bahwa tanpa perombakan  itu, tidak akan diperoleh RTRW yang berguna. Saya menganjurkan bagaimana pun juga Jakarta harus mencari celah untuk menjadi pionir dengan menerapkan metodologi dan nomenklatur baru. Tapi entah itu mungkin atau tidak, termasuk ada tidaknya energi di kalangan birokrasi untuk keperluan tersebut. Kalau ada, kita wajib mendukungnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/06/warga-tata-ruang-jakarta-lestari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

