<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak &#187; bureaucratic reform</title>
	<atom:link href="http://rujak.org/tag/bureaucratic-reform/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujak.org</link>
	<description>For a Better Jakarta. Everyone is Invited.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 06:21:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ruang Keluarga Jakarta</title>
		<link>http://rujak.org/2009/07/740/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/07/740/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 12:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[bureaucratic reform]]></category>
		<category><![CDATA[collaboration]]></category>
		<category><![CDATA[inisiatif warga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[Rasa frustasi saya jika pergi ke kantor pemerintah sudah dimulai sejak 12 tahun lalu,  ketika harus berurusan dengan Dinas Tata Kota (sekarang Dinas Tata Ruang). Saat itu tidak ada petunjuk yang jelas, arahan yang diberi orang sekitar tidak jelas, dan didalam pun tidak tahu berurusan dengan pihak yang benar atau oknum. Dan itu semua demi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignnone" style="width: 640px"><a href="http://www.flickr.com/photos/rujak/3771196929/"><img class=" " title="Dimanakah Anda Mengantri?" src="http://farm3.static.flickr.com/2573/3771196929_2812bc0d5a_o_d.jpg" alt="Suatu ketika di kantor camat, tanggal 30 Juli 2009 pukul 15.30 WIB. Dimanakah sebaiknya anda mengantri untuk mendapatkan pelayanan? Didalam atau diluar?" width="630" height="420" /></a><p class="wp-caption-text">Suatu ketika di kantor camat, tanggal 30 Juli 2009 pukul 15.30 WIB. Dimanakah sebaiknya anda mengantri untuk mendapatkan pelayanan? Didalam atau diluar?</p></div>
<p>Rasa frustasi saya jika pergi ke kantor pemerintah sudah dimulai sejak 12 tahun lalu,  ketika harus berurusan dengan Dinas Tata Kota (sekarang <a href="http://tatakota-jakartaku.net">Dinas Tata Ruang</a>). Saat itu tidak ada petunjuk yang jelas, arahan yang diberi orang sekitar tidak jelas, dan didalam pun tidak tahu berurusan dengan pihak yang benar atau oknum. Dan itu semua demi secarik dua carik lembar rancang kota.</p>
<p>Sama lagi ketika saya harus mencari statistik kehidupan beragama di Jakarta, kemana saya bisa pergi? Yang jelas bukan Departemen Agama? Dan bukan juta Biro Pusat Statistik. Atau jika ingin melihat foto dan peta Jakarta jaman kolonial, kemanakah kita pergi?</p>
<p><span id="more-740"></span>Ketidakjelasan dan kesimpangsiuran informasi, tak hanya terjadi karena kurangnya sosialisasi. Didalam kompleks bangunan pemerintah pun kita mampu menemukan kekacauan alur sirkulasi dan tata letak ruang. Pengalaman pribadi yaitu ketika saya ‘bertualang’ didalam kantor pos pusat. Lucunya, perjalanan dari ruang ke ruang lain bisa saya lewati dengan memasuki ruang-ruang terlarang untuk publik, seperti ruang sortir surat.</p>
<p>Dapatkah saya berpandangan bahwai birokrasi dan pelayanan publik kota tercermin dari susunan organisasi ruang kantor-kantor pemerintahan? Dari pengalaman pribadi saya hingga terakhir berkunjung ke gedung depdikbud setidaknya mencerminkan semua itu. Mari berpikir sejenak, apakah saya dan anda memiliki pengalaman menyenangkan selama mengunjungi bangunan birokrasi? Jika demikian, bisakah saya beropini layaknya mens sana in corpero sano: jika bangunannya memiliki distribusi sirkulasi yang baik dan desain interior yang sehat, maka kondisi tersebut mampu memperbaiki pelayanan dan servis pemerintahan?</p>
<p>Dua hari lalu saya bersimborok dengan spanduk besar di jalan Sudirman, intinya: Ayo wujudkan Jakarta sebagai <em>Service City</em>! Lalu pertanyaannya, mampukah pelayanan Jakarta menyenangkan dan memenangkan hati, setidaknya, penduduk? Tak hanya pelayanan bagaimana dengan infrastruktur kota, sudah siapkah? Dengan menjadi service city, maka Jakarta <strong>minimal</strong> harus bebas banjir, bebas macet, akses transportasi publik tepat waktu dan cepat, tata ruang efisien, mengurangi polusi.</p>
<p>Ok, seandainya tidak sanggup, untuk waktu dekat apa yang dapat dilakukan? Tentu, Jakarta tidak memerlukan iconic building ala <a href="http://www.guggenheim-bilbao.es/?idioma=en" target="_blank">Guggenheim Bilbao</a>, setidaknya untuk saat ini. Mungkin yang diperlukan adalah tempat untuk warga. Dan hari ini saya berkunjung ke <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Bank_Mandiri" target="_blank">Museum Bank Mandiri</a>, yang berlokasi di depan Stasiun Kota. Terlepas dari ketragisan macet daerah Kota, Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia bak perayaan akan ruang publik. Museum Bank Mandiri membuka pintunya lebar-lebar kepada komunitas dan semua golongan yang membutuhkan ruang apresiasi dan ruang berkumpul: mulai dari pameran, komunitas merajut, hingga pertemuan reuni. Semua diterima dan dilayani dengan sangat baik. Dan museum itu untuk segala umur, di satu sudut ada tempat bermain anak hingga ada banyak tempat duduk dan meja sehingga ramah bagi manula.</p>
<p>Sedikit belajar dari Museum Bank Mandiri, setidaknya mungkin Jakarta perlu <em>one stop building for everything</em>. <em>Everything, I mean EVERYTHING</em>. Tempat kita mengajukan ijin membangun, tempat kita melihat visi Jakarta (ya, setidaknya kita perlu punya visi!), tempat kita mengadu, tempat kita rembug warga, tempat kita mencari segala informasi tentang Jakarta, dan bisa juga tempat investor mencari kemungkinan investasi, serta tempat pemda mensosialisasikan seluruh program-programnya. Dan “ <em>everyone is invited”</em> (tentu bukan kantor pusat www.rujak.org yah), semua mendapat perlakuan yang sama dan diterima. Tapi jangan lupa, wujudkan desain dengan tata ruang bersahabat dan mengakomodasi seluruh golongan dari bayi hingga manula, orang buta hingga tuna daksa. Logika sirkulasi yang sederhana namun teratur. Intinya perencanaan yang mampu mengakomodasi kebutuhan di masa yang akan datang.</p>
<p>Lihat juga sebuah ide tentang <em><a href="http://rujak.org/2009/07/sebuah-tempat-warga-mengenal-jakarta-dan-berpartisipasi-membangunnya/"><strong>Sebuah Tempat untuk Warga Mengenal Jakarta dan Berpartisipasi Membangunnya</strong></a></em>, karya tugas akhir <strong>Yanaika Agustine, </strong>arsitek: Di sini warga Jakarta dapat mengenal Jakarta secara interaktif dan terbuka, dan dapat memberikan saran-sarannya, juga terdapat ruang-ruang tempat warga dapat menyelenggarakan pertemuan, mewujudkan <strong>inisiatif warga</strong>.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><a href="http://www.flickr.com/photos/rujak/3772032488/"><img title="Kotak Saran di Kantor Lurah" src="http://farm4.static.flickr.com/3560/3772032488_1ae1a0d02a_o_d.jpg" alt="Kotak Saran yang Kesepian, Menunggu Saran dari Warganya ...." width="400" height="601" /></a><p class="wp-caption-text">Kotak Saran yang Kesepian, Menunggu Saran dari Warganya ....</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/07/740/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
