Posts Tagged ‘city-region’


19 Apr 2010

Rawabelong: Sebuah Ekonomi

Kalau ke Rawabelong, jangan beli bunga sedikit. Harus banyak, supaya tidak berat di ongkos datang dan pergi. Harga bunga di sini antara seperlima hingga sepersepuluh dari harga di toko bunga atau florist bergaya di mall. Di Rawabelong sini bunga tidak dijual tangkai per tangkai. Minimal kemasan adalah lima hingga belasan tangkai.

Kabarnya, Rawabelong adalah pasar bunga terbesar di Asia Tenggara, dengan omset berkisar dari 15 hingga 20 milyar rupiah per bulan. Ini belum termasuk putaran uang pada perdagangan barang penunjang seperti pot, busa air, pesanan penghias pesta, dan lain-lain.

Bunga segar datang dari Malang, Bandung, Cipanas dan daerah-daerah penghasil lainnya.

Itu sekarang. Dulu Rawabelong sendiri adalah penghasil bunga segar, terutama anggrek, ialah di generasi kakek atau ayah dari penjual sekarang. Dulu sebagian besar kawasan Rawabelong masih berupa sawa dan darat yang digunakan untuk bertani bunga. Perdagangan bunga terjadi di pinggir jalan. Jaman Bang Ali sudah dibuarkan los-los pasar. Perubahan pasti mulai terjadi di tahun 1980an. Pasar yang sekarang dibangun pada tahun 1989 oleh Pemprov DKI. Perkembangan kemudian menyebabkan petani beralih menjadi pedagang, karena tanah lebih bernilai bila dijadikan bangunan, antara lain untuk kos mahasiswa Universitas Bina Nusantara (BINUS).

Di pasar sekarang ada sekitar 125 pedagang tetap yang menyewa kiosk-kiosk. Selain itu ada lebih dari 175 pedagang musiman yang membayar retribusi harian di lapak. Mawar, salah satu favorit, misalnya, terjual rata-rata 20,000 tangkai per hari.

Menurut seorang pedagang kiosk, penurunan “konsumsi” bunga belakangan ini tersebab antara lain oleh penggusuran pedagang bunga eceran di Taman barito. Gerai yang dekat dengan masyarakat, yang ingin membeli bunga tangkai demi tangkai, kelihatannya tidak bertambah. Sedang ketika keluarga Bakrie mantu, maka terjadi kelangkaan pasokan bunga, dan harga melonjak dengan persedian yang terbatas, karena jalur pasokan terputus oleh pembelian langsung ke petani atau perusahaan pengimpor. Dulu pada hari Valentine, 14 Februari, konsumsi biasanya meningkat cukup tajam. Sekarang tidak, antara lain karena adanya peran coklat untuk mengisi hari cinta-kasih itu. Hm. Dan kita melihat ada tambahan toko coklat memang belakangan ini di Jakarta.

Rawabelong adalah sebuah ekonomi yang menghubungkan kota dan wilayah. Pada saat yang sama, ia terkait dengan kegiatan di seluruh Jakarta. Karena itu, suatu perubahan di dalam kota Jakarta (misalnya berdirinya sebuah universitas di dekatnya, digusurnya pedagang bunga di Taman Barito, bertambahnya kegemaran pada coklat) akan mempengaruhinya. Pengetahuan akan “ekonomi mikro perkotaan” begini niscaya diperlukan untuk mengelola kota, ketika perubahan-perubahan diperkenalkan dengan sengaja, sehingga dampak negatif dan positifnya dapat diperkirakan dan karena itu dapat dikelola dengan sengaja, bukan hanya sebagai dampak tak sengaja yang dibiarkan begitu saja tanpa sikap. Ketika Jakarta sedang menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah 2010-2030, adakah pengetahuan-pengetahuan seperti ini mendasarinya?

(Tulisan ini adalah hasil liputan bersama dengan The Jakarta Post)


http://rujak.org/2010/04/tedxgreenjakarta/


3 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


01 Apr 2010

Summer School for Sustainable Design

Summer School for Sustainable Design will take place between the 30. August and the 4. September in Germany, in a cloister very close to Cologne.

The initiators are: Wuppertal Institute (www.wupperinst.org), ecosign (Academy for ecologic design, www.ecosign.net), Folwang University (www.folkwang-uni.de/), Luzern University (i.a.).

You can find information about the last Summer School here: http://www.designwalks.org/

We are looking for a lecturer, that could run/lead the workshop “Urban Creative Lifeworlds”, that will take place on September, the 1st. in the frame of the Summer School.

If you have an idea about someone, who can combine theoretical competences with practical experiences in this field, please contact me: Every information is welcome.

***

Urban Creative Lifeworlds

The first cities were founded about 5000 years ago. Since then, cities are functioning as centers of cultural, economic and creative growth. The sizzling urban lifestyles however grow in the urban peripheries, within flexible and informal networks. Throughout the 19th century, urban development was closely linked to industrialization; the last decades of deindustrialization however are a challenge for many cities like the former US-motor city Detroit or the urban Ruhr region (“Ruhr Metropolis”). At the same time this challenge can be a chance for a sustainable development of cities – and peripheries. Participation, networks and creativity are decisive factors for such challenges.

The “Ruhr Metropolis” adjacent to our venue, is a model for these structural changes of urban lifeworlds;  remarkable efforts have been made to face the challenges. This is why it has been rewarded as Europe’s Cultural Capital for 2010, following the maxim “Culture through Change, Change through Culture”.

There are, however, still many questions to be answered: How can the social and economic problems be transformed into new and more sustainable solutions? What is labour, what is leisure, what is a citizen in the post-industrial age? How can creativity be enhanced? How can we take advantage of the creative forces of urban peripheries? What are the perspectives of urban life in the future?

Our workshop will develop new concepts of urbanity, and creative solutions for future sustainable lifeworlds. Just the appropriate challenge for sustainable designers! The workshop will provide you with diverse perspectives from theory to real-life projects. We will go five steps to gain results:

1.     Analyzing urban living environments and discussing their structures, urban phenomena and problems, artificial and natural environments, culture and nature, creativity and transversality, and looking at the city as a system depending on interaction with its ecological, social, cultural, and emotional environment.

2.     Immersing into a real-life project of turning a normal urban environment into a creative lifeworld to explore new and sustainable ways of lifestyles, urbanity and creativity, opening altogether new and different perspectives.

3.     Providing you a space for your creativity to shape new ideas, and to apply the theoretical and practical insights to your personal experiences and backgrounds. You will shape visions of new and sustainable urban lifeworlds.

4.     Discussing and evaluating your ideas and sketches, thinking about consequences and requirements. This will be the real-life-test for your ideas.

5.     Presenting your work results to the other workshops and discussing them with the whole summer school group.

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


21 Jul 2009

Mengapa 70% pengunjung Rujak di Indonesia berasal dari Bekasi?

Rujak_low2Pengunjung dari Jakarta hanya 14 %.  Pada 22 Juli 2009, sebulan setelah peluncuran, 3 minggu setelah on-line efektif, pengunjung RUJAK mencapai 2,000 lebih, dari 37 negara. Dari seluruh pengunjung global ini, yang asal Bekasi sekitar 60%. 

RUJAK mengucapkan banyak terima kasih kepada pengunjung. 

Mengapa kunjungan dari Bekasi secara menyolok jauh lebih banyak daripada yang dari tempat lain? (more…)

21 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


04 Jul 2009

Loe Loe, Gue Gue

Andi Rahmah, Agus P. Sari, et.al., Loe Loe, Gue Gue; Hancurnya Kerekatan Sosial, Rusaknya Lingkungan Kota Jakarta, Yayasan Pelangi, Jakarta 2004.
Loe Loe, Gue Gue

1 Comment »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


27 Jun 2009

The Wealth of Cities: Towards an Assets-based Development of Newly Urbanizing Regions[1] by John Friedmann

Abstract

An argument is developed for an endogenous development of city-regions throughout the world. Emphasis is placed on seven clusters of tangible regional assets in which investments should preferentially be made. They include basic human needs, organized civil society, the heritage of the built environment and popular culture, intellectual and creative assets, the region’s resource endowment, the quality of its environment, and urban infrastructure. In conclusion, a plea is made for a “whole of government” collaborative approach to planning for an endogenous development.

(more…)

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |