Posts Tagged ‘desa-kota’


21 Mar 2012

Festival Desa, 23 Maret 2012

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


08 Feb 2011

Bagaimana Sebaiknya Hubungan Desa-Kota Menuju Abad Ekologi?

Lokakarya:
Memikir Ulang Desa-Kota; Jalan Menuju Kelestarian

Waktu dan Tempat Lokakarya:

Hari, tanggal    : Jumat – Minggu, 4 – 6 Maret 2011

Tempat            : Desa Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah 56281 Indonesia

Tujuan Lokarya:

Semua peserta bersama-sama belajar:

  1. Menyegarkan kembali pengetahuan tentang hubungan desa dan kota.
  2. Memahami mengapa hubungan itu perlu diperbaharui dan dibangun kembali.
  3. Mempelajari kemungkinan hubungan-hubungan baru antara desa dan kota.
  4. Mempelajari prinsip-prinsip perencanaan desa dalam perspektif kelestarian dan proses urbanisasi yang sedang terjadi.

Cara Belajar:

  1. Studi kasus desa produksi radio Magno (Studio Piranti Works); dari keadaan menuju visi. Perencanaan atau intervensi apa yang perlu dan dapat dilakukan?
  2. Studi kasus karya dan pengalaman COMBINE Resource Institution (CRI) membangun konsep lumbung komunitas dengan sistem informasi desa: bagaimana memanfaatkannya untuk menata ulang hubungan desa-kota?
  3. Pengamatan dan analisis bersama berdasarkan studi kasus
  4. Belajar dari lingkungan dan belajar bersama sesama peserta dari berbagai latar belakang/disiplin.

Latar Belakang:

Hubungan desa-kota itu nyata. Ada banyak keluhan, misanya tentang ekploitasi kota atas desa. Namun, hubungan ini terjadi karena desa juga memerlukan kota. Produksi (pertanian) memerlukan konsumsi, selain sebaliknya. Di beberapa negara, pertanian mendapatkan perlindungan berupa subsidi langsung dan/atau pembatasan impor atau/dan ekspor. Nilai barang produksi primer, karena menyangkut dasar hajat hidup orang banyak, menjadi sangat politis. Nilai sering ditentukan dengan berbagai intervensi, terkadang merugikan atau menguntungkan penduduk desa yang berprofesi sebagai petani. Nilai tukar produk pertanian sering dianggap terlalu rendah, tidak memiliki daya tawar yang tinggi, atau setidaknya sebanding dengan produk barang sekunder dan jasa dari kota. Jadi, bagaimana menetapkan mekanisme yang adil? Bagaimana mengukur ketimpangan ini? Migrasi umumnya dianggap terjadi satu arah—dari desa ke kota—dan tidak pernah sebaliknya, kecuali migrasi musiman, misalnya ketika penduduk desa ke kota hanya untuk mencari pekerjaan sementara menunggu panen, dan kemudian kembali ke desa di musim panen dan tanam. Arus migrasi orang ini membawa arus moneter dari kota ke desa. Ada setingkat re-investasi ke desa. Ada banyak pula keluhan tentang menyusutnya penduduk pedesaan dalam arti yang bekerja di sektor pertanian. Namun, ada pula kasus-kasus kembalinya orang ke desa sebagai pilihan sadar untuk bekerja kembali di sektor pertanian.

Dalam anggapan ekonomi konvensional, desa berputar di sekitar sektor primer pertanian, sedangkan kota-kota mengkonsumsi hasilnya dan berputar pada poros ekonomi sekunder dan tersier, pengolahan dan jasa. Namun, tidak berarti desa tidak melakukan pengolahan. Pengolahan produk pertanian itu sendiri menjadi industri yang makin lazim. Produk pertanian yang keluar dari desa tidak lagi hanya berupa bahan mentah, tetapi telah diproses menjadi berbagai turunan dengan energi entropi yang makin tinggi. Selain itu, desa juga memproduksi barang-barang sekunder, antara lain yang bernilai tinggi, seperti barang kerajinan tenun (kain), anyaman, ukiran, berbagai bentuk kesenian, dan lain sebagainya. Sementara itu, tidak berarti di kota tidak ada kegiatan primer, baik pertanian maupun pertambangan. Beberapa kota berawal dari pertambangan. Pertanian di dalam wilayah kota pun sudah biasa, meskipun benar mungkin makin berkurang, yakni di kota-kota Asia.

Desa dan kota bukanah kategori hitam-putih, setidaknya bila dilihat dari sudut pandang ekonomi.

Singgih Kartono, pendiri Magno-Piranti Works membawa sektor sekunder (produksi radio) dan tersier (jasa perancangan/design) ke dalam desa. Para penganjur ekonomi ekologis menganjurkan dengan sesadar-sadarnya sektor primer (pertanian) ke dalam kota; urban organic agriculture.  Desa ke dalam kota dan kota ke dalam desa makin menjadi lazim. Hubungannya bukan lagi seperti dua entitas yang berhadapan, melainkan saling mengada benar-benar di dalam yang lainnya.

Transisi ke abad ekologis memang melihat hubungan itu perlu dibangun kembali. Tujuannya cukup jelas, yaitu mengurangi jarak ruang produksi dan konsumsi, sehingga mengurangi pengangkutan dan jejak karbon. Dalam wacana perencanaan, kata kota-wilayah (city-region) makin sering disandingkan sebagai satu kata. Persoalannya bukan lagi masalah keadilan nilai tukar, eksploitasi, dan hal-hal lain yang berat sebelah, melainkan telah menjadi keperluan untuk lestari bersama atau musnah bersama. Kesadaran ilmiah ekologis juga memastikan bagaimana hubungan hulu dan hilir itu berkesinambungan erat. Kota dan desa berada dalam suatu kesinambungan ekosistem, baik mikro maupun makro. Air itu satu. Udara itu satu. Bumi itu satu. Desa-kota bukan saja berada dan terbentuk dalam suatu kontinuum de facto, tetapi perlu dirajut lebih makin erat dalam suatu hubungan yang saling melestarikan.

Ada beberapa syarat minimal yang dapat menjadi dasar dari hubungan yang dapat saling melestarikan itu, meliputi:

1.     Pertumbuhan produksi dan konsumsi berada dalam batas-batas kemampuan lingkungan memulihkan diri. Ada pemikiran dan bukti-bukti bahwa kita dapat membantu meningkatkan pemulihan diri lingkungan. Manusia, dengan segala kegiatan konsumsi dan produksinya, bia tumbuh, maka sebaiknya “tumbuh bersama sumber daya lingkungannya,” bukan hanya menyedot atau menggerus lingkungannya. Pertumbuhan sumber daya, setidaknya sebanyak-banyaknya organik, harus direncanakan secara cermat supaya lestari dalam kecukupan secara kuantitatif maupun kualitatif.

2.     Hubungan sosial yang makin adil dan terbuka antara produsen dan konsumen.

3.     Mottainai: tidak ada sampah. Craddle to cradle: sampah adalah bahan bagi proses berikutnya. Proses produksi dan konsumsi menghasilkan sampah minimal, sebatas yang dapat diserap langsung oleh lingkungan yang terkelola, lebih baik lagi kalau dapat digunakan dalam siklus produksi-konsumsi berikutnya tanpa menyisakan sesuatu secara sia-sia.

Pertanyaan dasar lokakarya ini adalah:

  1. Bagaimana sebaiknya hubungan desa dan kota dibangun kembali, dalam rangka menuju ke kelestarian, dan dalam keadaan nyata yang berlaku sekarang?
  2. Apakah gerangan gagasan-gagasan kreatif yang dapat kita munculkan, baik yang konseptual maupun yang praktis?
  3. Apa tindakan yang dapat dilakukan?

Rencana Agenda Lokakarya:

Klik di sini

Fasilitator Lokakarya:

  1. Marco Kusumawijaya (RCUS; Jakarta)
  2. Elanto Wijoyono (COMBINE Resource Institution; Yogyakarta)
  3. Singgih S. Kartono (Magno – Piranti Works; Temanggung)

Peserta Lokakarya:

Lokakarya ini dilaksanakan dalam kelas kecil, terbatas untuk 15 orang.

Prioritas peserta adalah yang berlatar belakang pendidikan/bergiat dalam ranah pembangunan desa, media, arsitektur, pertanian, sosiologi, kesenian, studi perkotaan dan kawasan, manajemen pengetahuan, industri, dan lingkungan.

Pendaftaran: (Klik di sini untuk Formulir Pendaftaran)

  • Pendaftaran ikut serta lokakarya dilakukan dengan mengirimkan formulir pendaftaran yang telah diisi ke alamat e-mail desakotalestari[at]gmail.com
  • Pendaftaran peserta dibuka hingga hari Kamis, 24 Februari 2011 pukul 20.00 WIB.
  • Peserta akan diseleksi oleh penyelenggara dan diumumkan daftarnya paling lambat 3 (tiga) hari setelah tenggat waktu pendaftaran peserta.

Teknis keikutsertaan:

  • Pendaftaran lokakarya tidak dipungut biaya.
  • Peserta menanggung sendiri biaya transportasi dari tempat asal ke Yogyakarta (jika turut bergabung di kantor COMBINE) dan sebaliknya. Akomodasi peserta selama di Yogyakarta tidak ditanggung oleh penyelenggara lokakarya. Transportasi peserta dari Yogyakarta ke Temanggung dan sebaliknya ditanggung oleh COMBINE.

Alamat COMBINE Resource Institution:

Jl. K.H. Ali Maksum No. 183 Pelemsewu, Panggungharjo, Sewon, Bantul

D.I. Yogyakarta 55188 Indonesia

Telp./Faks: 0274 – 411 123

  • Peserta yang datang langsung dari tempat asal ke Desa Kandangan di Temanggung, Jawa Tengah membiaya sendiri transportasi menuju dan dari Temanggung.
  • Penyelenggara menyediakan akomodasi dasar bagi para peserta selama mengikuti lokakarya, berupa tempat menginap bersama dan makan selama kegiatan lokakarya. Keperluan lain yang bersifat pribadi dan/atau penambahan/pengalihan akomodasi selama acara tidak ditanggung oleh penyelenggara. Penyelenggara sebatas dapat memberikan rekomendasi pilihan akomodasi jika diperlukan.
  • Peserta mempersiapkan alat kerja pribadi (laptop, alat tulis, alat dokumentasi, perlengkapan observasi lapangan) untuk digunakan sendiri selama pelaksanaan lokakarya.
  • Keterangan teknis lainnya akan diinformasikan kemudian setelah daftar peserta terseleksi diterbitkan.
  • Kontak penyelenggara:

◦      Elanto Wijoyono – Yogyakarta (0815 7865 8586)

◦      Marco Kusumawijaya – Jakarta (0816 811 563)

Profil Penyelenggara:

Mengenai Magno – Piranti Works (http://www.magno-design.com):

Singgih Kartono mendirikan “pabrik” radio dan beberapa produk lainnya dari kayu dengan rancangan yang sangat baik. Ia melakukan pembibitan pohon-pohon yang kayunya akan dipakai sebagai bahan bakunya. Bibit-bibit ini diberikan cuma-cuma kepada masyarakat sekitar untuk ditanam. Pada dasarnya ia membawa ekonomi sekunder dan tersier ke dalam jantung desa, ia meng-kota-kan desa. Gagasannya adalah membawa pertumbuhan ekonomi ke desa dan sekaligus menumbuhkan desa sebagai sumber daya yang lestari. Ini adalah suatu eksperimen yang menarik dalam kerangka transisi ekologis. Apa persisnya yang dilakukan sekarang? Sejauh apa perkembangan gagasan tersebut di lapangan? Apa yang akan dilakukannya lagi? Sejauh apa ini dapat membawa kepada kelestarian hubungan desa-kota, industri dan kerajinan, pada keseluruhan rangkaian mata-rantai produksi-konsumsi? Apakah ini merupakan jalan yang dapat ditempuh lebih banyak orang, di wilayah (desa dan kota), dalam menuju kelestarian? Sejauh apa pendekatan ini dapat dibawa dan diikuti? Apakah perlu “perencanaan” setempat untuk mendukung gagasan “tumbuh bersama sumber daya” menjadi makin efektif?

Mengenai COMBINE Resource Institution – CRI (http://combine.or.id):

COMBINE didirikan dengan keyakinan bahwa keberdayaan suatu komunitas antara lain ditentukan pada kemampuannya untuk mendapatkan akses terhadap informasi sumber daya. Dengan informasi yang dikelola secara mandiri, suatu komunitas yang tinggal di suatu wilayah (bisa desa, bisa pula kota) akan mampu menentukan sendiri apa yang dibutuhkan untuk membangun kehidupan di wilayahnya. Mereka akan mampu pula menentukan seberapa banyak sumber daya yang ada harus dipakai dan berapa yang harus dijaga agar kehidupan komunitas mereka tetap lestari. Kebutuhan yang belum terpenuhi akan dapat dicukupi dengan mendasarkan diri atas informasi sumber daya komunitas lain yang dapat diakses melalui jejaring komunikasi dan informasi. Dengan cara-caranya sendiri, banyak komunitas di Indonesia telah memiliki beragam pengalaman bernilai dan bermanfaat dalam pengelolaan informasi dan pengetahuan untuk pelestarian sumber daya lokal. COMBINE Resource Institution hadir untuk memberikan dukungan optimalisasi kemampuan tersebut dengan teknologi informasi komunikasi tepat guna dan membantu mendokumentasikan praktik-praktik cerdas dari banyak komunitas pintar di Indonesia. Bagaimana memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman ini untuk memikirkan kembali hubungan antara desa dan kota ada;lah hal yang bisa dipelajari bersama?

Mengenai Rujak Center for Urban Studies – RCUS (http://rujak.org):

RCUS bertujuan membantu menciptakan dinamika pengetahuan yang digali, dipupuk dan dimanfaatkan bersama-sama dalam rangka perubahan yang diperlukan menuju ke abad ekologi. Ia bekerja di tataran penelitian, peningkatan kapasitas dan advokasi kebijakan. Memusatkan perhatian pada masyarakat perkotaan, RCUS menganggap salah satu perubahan yang penting adalah hubungan antara masyarakat perkotaan dengan masyarakat dan wilayah pedesaan. RCUS tertarik dengan laku dan cara-cara mengetahui (epistemologi) yang baru, terutama yang digali bersama dengan masyarakat.

Formulir Pendaftaran Peserta Lokakarya

Memikir Ulang Desa-Kota; Jalan Menuju Kelestarian

Nama lengkap                         : …………………………………………………………………………………..

Tempat, tanggal lahir               : …………………………………………………………………………………..

Alamat                                     : …………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………..

Pekerjaan/kegiatan terkini        : …………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………..

Latar belakang pendidikan       : …………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………..

Nomor telepon/HP                  : …………………………………………………………………………………..

e-mail                                      : …………………………………………………………………………………..

Website/blog                           : …………………………………………………………………………………..

Transportasi                            :  [   ] via Yogyakarta (kantor COMBINE) – p.p.

[   ] langsung Temanggung, Jawa Tengah – p.p.

Tujuan mengikuti lokakarya    :

………………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………………..

Catatan kondisi pribadi (vegetarian/tidak, riwayat sakit, dan sebagainya):

………………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………………..

kirimkan formulir ini via e-mail ke alamat desakotalestari[at]gmail.com paling lambat hari Kamis, 24 Februari 2011 pukul 20.00 WIB.

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |