Tur pameran dan bincang-bincang bersama kurator Uwe Rieger (The University of Auckland)
Museum Nasional Indonesia
Jalan Merdeka Barat No. 12
Pameran “Bangunan Peka-Arsitektur Tanggap Lingkungan” di Museum Nasional 6-20 Juli 2011 diselenggarakan oleh Goethe-Institut Indonesien bekerja sama denganUwe Rieger, guru besar tamu untuk desain, ketua departemen arsitektur di School of Architecture and Planning The University of Auckland.
Pameran ini mengangkat tema arsitektur reaktif, yaitu arsitektur yang dapat menyesuaikan diri secara dinamis dengan iklim, cuaca, perencanaan atau pengguna. Tujuh instalasi akan dipamerkan. Lima di antaranya didatangkan dari Selandia Baru, sementara dua lainnya dari Indonesia: Ciliwung Recovery Programme (CRP) karya Indonesian Dream (Rezza Rahdian, Erwin Setiawan, Ayu Diah Shanti, Leonardus Chrisnantyo, Mario Lodeweik Lionar, Petrus Narwastu) dan Rumah Bambu Swapasang karya Arsitek Komunitas dari Yogyakarta.
Goethe-Institut Indonesien dengan Rujak Centre for Urban Studies (RCUS) mengundang Anda untuk tur keliling pameran dan bincang-bincang bersama Uwe Rieger pada:
Rabu, 6 Juli 2011 di Museum Nasional, mulai 16:00 WIB.
Acara akan dipandu oleh Marco Kusumawijaya dari RCUS.
Fakta-fakta menarik yang dapat didiskusikan antara lain adalah:
• Kebutuhan untuk mengembangkan arsitektur yang menghemat energi dan bahan dengan bereaksi positif atas alam
• Kebutuhan untuk mentransformasi pengetahuan dan kebijaksanaan dari bentuk-bentuk vernakular/tradisional arsitektur Indonesia ke konteks kontemporer dan perkotaan menggunakan metode ilmiah.
Kami mengharapkan pertukaran pikiran di antara kurator dan Anda semua!
Untuk mendaftarkan kehadiran pada acara ini Anda dapat menghubungi (selambatnya 5 Juli 2011):
Merancang hunian untuk empat (4) keluarga berpenghasilan menengah Jakarta di atas tanah 245 m2 (lihat lampiran) di jalan Rembang No. 11, Jakarta 10310.
Sudah jadi pengetahuan umum bahwa, sementara kelompok masyarakat berpenghasilan sangat tinggi kini mudah mendapatkan hunian di dalam kota (atau di mana saja, untuk hal ini), dan kelompok berpenghasilan rendah mendapatkan subsidi di dalam pusat kota atau di pinggiran kota, atau secara spontan menduduki berbagai tanah publik, kelompok berpenghasilan menengah hanya memiliki pilihan hunian berupa landed house di tepian kota, atau rumah-rumah tua di dalam kampung-kampung yang lama tidak mendapatkan peningkatan prasarana di dalam kota.
Perubahan tata-guna lahan di dalam Kota Jakarta telah mengurangi stok jumlah hunian. Penduduk Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan telah menurun secara absolut dalam sepuluh tahun terakhir. Stok hunian yang tersisa di lokasi-lokasi yang baik (dalam kepentingan modal disebut “lokasi strategis”) untuk hunian karena dekat dengan lapangan pekerjaan dan sarana publik kini terus menerus mengalami ancaman alih fungsi dan harga tanah, yang antara lain secara tidak cakap dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah melalui penetapan Nilai Jual Obyek Pajak yang setinggi-tingginya “mengikuti perkembangan pasar”.
Perpindahan kelas menengah ke pinggir kota dalam jangka panjang akan menyebabkan matinya pusat kota di malam hari, menjadikannya tidak efisien sebagai ruang kota, dan mematikan budaya kehidupan berkota dan mengota itu sendiri. Sementara itu pengembangan sub-kota (suburbs) yang terus menerus spekulatif dan tidak efisien akan menambah kepada pencemaran lingkungan melalui polusi udara para pengulang-alik, penggerusan lahan subur, pemborosan prasarana, dan lain-lain.
Yang harus dilakukan adalah meningkatkan stok hunian di dalam kota Jakarta yang terjangkau oleh kelompok berpenghasilan menengah di Jakarta.
Yang terjangkau ini secara logis adalah meningkatkan kepadatan jumlah hunian per tiap-tiap lahan, tetapi untuk lebih banyak jumlah keluarga, bukan kepadatan fungsi lain atau untuk jumlah orang berbelanja atau untuk jumlah mobil. Ini berarti juga bukan gedung-gedung tinggi yang mahal karena perlengkapan bangunannya (lift, AC, pompa, dll), dan karena biaya struktur bangunan yang makin meningkat per meter persegi pada bangunan yang tinggi.
Tujuan
Sayembara Tidak Berhadiah ini bertujuan mengumpulkan gagasan terbaik untuk meningkatkan kepadatan hunian kelompok berpenghasilan menengah di dalam pusat kota Jakarta, melalui rancangan bangunan hunian untuk empat keluarga pada sebidang tanah yang nyata, ialah di Jalan Rembang no 11 di Jakarta Pusat.
Sayembara ini tidak menentukan batas apapun kecuali lahan yang nyata, dan peruntukan bagi hunian empat keluarga dari kelompok berpenghasilan menengah di Jakarta.
Para peserta dipersilakan menafsirkan sendiri kebutuhan (dan kemampuan serta kewajiban) “keluarga berpenghasilan menengah di Jakarta”. Sebab, arsitektur bukan hanya penerima “terms of reference” yang diterjemahkan menjadi bentuk sesuai pesanan, melainkan arsitektur sendiri berhak dan mampu merumuskan “terms of reference”, dengan kata lain: membayangkan sendiri masyarakat Indonesia masa depan seperti apa.
Sedangkan kelestarian dan atau keramahan terhadap lingkungan sudah dengan sendirinya harus menjadi tujuan tanpa perlu digembar-gemborkan sebagai sesuatu yang khusus atau istimewa. Yang minimal harus dicapai adalah: tidak digunakan pendingin udara, pengolahan kembali air limbah dapur dan kamar mandi, tersedia kemungkinan menggunakan panel photovoltaic, penyerapan air hujan seluruhnya ke dalam tanah (tidak dialirkan ke saluran tepi jalan), komposting, tidak digunakan mesin pengering cucian, dan tidak digunakan lampu pada siang hari.
Rancangan Tidak Perlu Terikat pada Ketentuan seperti KDB, KLB, dan Ketinggian Bangunan.
Format
Karena tujuan di atas, maka rancangan yang dimasukkan minimal perlu mencapai tahap “Schematic Design”. Sangat dianjurkan untuk sampai pada tahap “Design Development”, setidaknya untuk beberapa hal yang menentukan kinerja rancangan mencapai tujuan ramah-lingkungan dan lestari.
Rancangan dikirim hanya dalam bentuk digital ke info@rujak.org, dengan mencantumkan nama dan alamat lengkap serta email peserta, serta berbahasa Indonesia.
Format dijital yang digunakan adalah PDF, DOC, JPG, XLS, dan PPT. Besaran file maksimal 10 mb.
Bila akan menggunakan format lain, harap memberitahu penyelenggara melalui: info@rujak.org
Jadwal:
Pendaftaran (tanpa biaya): Nama, alamat, no.telpon, Alamat email, dikirim ke: info@rujak.org paling lambat tanggal 20 Oktober 2009.
Karya dikirim kepadan info@rujak.org paling lambat tanggal 20 November 2009.
Pemenang (tanpa hadiah) akan diumumkan tanggal 27 November 2009 melalui situs www.rujak.org ataupun pemberitahuan via email.
Tindak Lanjut:
Karya-karya yang diterima akan diterbitkan menjadi “buku” digital dalam bentuk PDF dan disiarkan melalui www.rujak.org dan lain-lain. Selanjutnya akan dipertimbangkan untuk diterbitkan dalam bentuk buku tercetak.
Bilamana ada gagasan khas dari sebagian atau seluruh karya peserta yang digunakan untuk mewujudkan/membangun secara nyata bangunan hunian empat keluarga ini, maka peserta yang bersangkutan akan diberitahu, mendapatkan pengakuan terbuka, dan mendapatkan imbalan yang jumlahnya akan dirundingkan.
Juri:
Dewan Juri terdiri dari para editor www.rujak.org:
Marco Kusumawijaya, Elisa Sutanudjaja, Meutia Chaerani, Andrea Fitrianto, Cecil Mariani, Armely Meiviana
Dan raih kesempatan untuk mendapatkan satu Kursi Accupunto..
Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta mengajak masyarakat Jakarta untuk dapat ikut berpartisipasi pada acara IAI Jakarta Award 2009 dengan cara turut memilih bangunan favorit yang ada di Jakarta.
Caranya mudah saja, cukup dengan memfoto bangunan yang difavoritkan, lalu lampirkan keterangan alamat dan alasan anda memlilih bangunan tersebut, untuk kemudian dikirim via surat elektronik (e-mail) ke alamat award@iai-http://www.facebook.com/l/bbc9f;jakarta.org Waktu pemasukan pilihan atara 11 September hingga 16 Oktober 2009.
Pengirim yang beruntung berhak mendapatkan satu kursi Accupunto. Kursi Accupunto adalah kursi penerima penghargaan desain Red Dot Award 2003, Interior Innovation Award 2004 (German), Good Design Award (Jepang) dan Indonesian Good Design Award 2003. Pengumuman pemenang dapat dilihat pada website http://www.facebook.com/l/bbc9f;www.iai-jakarta.org pada tanggal 23 November 2009.
IAI JAKARTA AWARD 2009
IAI Jakarta Award adalah penghargaan kepada karya arsitektur yang berada di DKI Jakarta oleh arsitek anggota IAI bersertifikat. Penghargaan ini diselenggarakan per tiga tahun seiring dengan penyelenggaraan Musyawarah Daerah IAI Jakarta sejak tahun 2006. Untuk kali ini IAI Jakarta Award hadir dalam cara yang berbeda guna menjangkau lebih banyak lagi arsitek dan masyarakat untuk berpartisipasi.
Seiring dengan penyelenggaraan acara festival arsitektur Jakarta : Jakarta Architecture Trienalle 2009 yang mengambil tema “Affording Architecture” atau “Menjangkau Arsitektur”, IAI Jakarta Award 09 ingin meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap arsitektur. Arsitektur sebagai bagian yang terjangkau dari kehidupan sehari-hari, bagi seluruh warga kota. Dengan adanya interaksi yang semakin berkembang antara arsitektur dan masyarakat, maka diharapkan acara ini akan dapat turut merayakan arsitektur yang baik dan mengundang tanggapan masyarakat terhadap arsitektur yang secara perlahan membentuk Jakarta.
IAI Jakarta Award 09 akan memberikan 5 penghargaan bagi 5 bangunan di Jakarta karya arsitek anggota IAI bersertifikat (SKA), 1 penghargaan bagi bangunan di Jakarta hasil pilihan masyarakat dan 1 penghargaan bagi arsitek yang telah berkontribusi besar bagi arsitektur Jakarta. Dewan Juri terdiri atas arsitek Bambang Eryudhawan IAI dan Adi Purnomo, budayawan Gunawan Muhammad arsitek asing masing-masing Kevin Low dari Malaysia serta Michel Rojkind dari Argentina.
Karya karya nominasi akan dipamerkan pada pameran Jakarta Architecture Trienalle 2009 di Grand Indonesia pada tanggal 09 – 22 November 2009.
Singgih Susilo Kartono among the trees surrounding Magno wooden radio workshop (August 23, 2009@Marco Kusumawijaya)
Singgih Susilo Kartono, the maker of Magno wooden radios, thinks we should grow together with our resources. He wants to prove it in his village, Kandangan, in Temanggung, only 8 km from the house where Police thinks Noordin Top hid. Will it materialise sustainably or become a bursting utopia? Only more elaboration and testing-out will answer that question. We discussed this issue while enjoying fresh air in his workshop on August 23, 2009.
He envisions his village to develop sustainably with production, consumption and resources growing together in the same locale. He wants to literally grow resources for his factory. He has already started growing seeds of sonokeling, mahoni, and other hardwood that he uses for his products, the famous awards winning Magno wooden radios, toys and stationery. He distributes the seeds for free to his neighbours to plant them on their own lands. One slide of his powerful powerpoint presentation shows how more trees emerge and grow bigger as his production grows as well.
With demand for his products growing (creating a current backlog of one month), it is very likely that he will have to expand his production facilities soon, although he does not wish to hurry on that. His neighbours will also enjoy the desentralised distribution of benefits soon. If things go well in the next couple of years, the village vill soon experience a densification process, having new wealth that willl materialise in the “rural” space
Singgih’s vision of production based on local resources, and a fair distribution of wealth in the locale, revives our imagination of “garden city” and other utopias in the history of urbanism. Resources and production are closely linked with relationships clearly tangible and within sight. It would certainly means very low ecological footprint. Fortunately, his “inputs” of the electrical parts in his radios also come from nearby factories in Semarang, two hours by car from Kandangan, Singgih’s base.
His products are sold so far mostly to consumers abroad. MOMA in New York just started to sell them in their stylish museum shop. Can we assume that the value he added to the woods justifies the emission of CO2 of transporting them?
Need for a plan
In anticipation of the spectre of “growth” that is lurking from behind both the demand for his products, and the needs of the village, Singgih is already thinking of creating a “masterplan” to guide the village development into the future. A serious mapping of available assets (natural and man made) is needed. A vision of how a future growth wil also grow and nurture (instead of deplete) the assets will be an intriquing exercise of intellect, creativity and technical skills of many disciplines.
What is creative if only to produce a more variety of products and modes of consumption? What is creative industry/economy if only to create a new layer of competition? Is any layer of competition better than others?