Posts Tagged ‘jakarta’


11 Mar 2013

Janji Joko untuk Transportasi Jakarta

Sebagai pengingat untuk warga, kami menampilkan beberapa janji Gubernur baru Joko Widodo. Manusia kerap melupakan sesuatu, namun janji tetap tercatat dalam berbagai media.

Kami lampirkan beberapa janji dari Gubernur Joko Widodo, terkait transportasi publik di Jakarta, dalam Rujak Spion-2 yang disusun oleh Anita Halim.

1 Comment »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


23 Jan 2013

Mengenang Pejalan Kaki

Peringatan Hari Pejalan Kaki 22 Januari 2013

1 tahun yang lalu, di halte depan Kementerian Perdagangan, satu keluarga 3 generasi bersama dengan orang-orang lain sedang berjalan menikmati hari Minggu selepas berjalan kaki di Car Free Day. Tiba-tiba ada mobil menyambar mereka dan menewaskan 9 orang, termasuk 1 keluarga tersebut.

Reaksi publik bermunculan keras. Menyoroti betapa buruknya kondisi trotoar di Jakarta.

Kontan muncul komitmen dari Gubernur saat itu Fauzi Bowo mengenai percontohan trotoar di daerah Gajah Mada, Hayam Wuruk dan Cikini. Termasuk diantaranya melarang parkir mobil sepanjang Gajah Mada dan Hayam Wuruk, pekerjaan fisik di trotoar Jalan Cikini.

Namun bagaimana selepas 1 tahun kejadian tersebut?

Laju motor-motor di atas trotoar mengancam pejalan kaki. Motor dan mobil tetap parkir di trotoar, bahkan menutup akses pejalan kaki. Tidak ada yang berubah, seakan kejadian tragis 22 Januari 2012 tersebut tak ubahnya seperti hari Minggu biasa.

Padahal 18 pejalan kaki tewas di trotoar setiap harinya. Perlu berapa banyak korban lagi supaya kita semua serius memperbaiki kondisi trotoar dan kenyamanan pejalan kaki?

 

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


23 Jan 2013

Melawan Lupa

Sarinah, 18 Januari 2013 (Foto: Dian Tri Irawaty)

(Seperti tertulis untuk Opini Sindo Weekly 20 Januari 2013) Saat banjir melanda Jakarta, bermunculan anjuran dan ajakan untuk tidak membuang sampah sembarang, membuang lubang biopori, menanam tanaman dan lain-lain. Namun banjir yang kerap melanda Jakarta tidak serta merta membuat kebanyakan melakukan hal-hal diatas. (more…)

4 Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


20 Jan 2013

Belajar dari Sejarah: Tentang Pantai Indah Kapuk

Dari Timur ke Barat: Waduk Pluit, Pantai Mutiara, Pluit, Muara Karang & Pantai Indah Kapuk di tahun 2013

Tulisan dibawah adalah rangkuman dari buku Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa oleh Restu Gunawan dan 2 artikel Kompas oleh Agus Hermawan di harian Kompas pada tanggal 16 September 1992 dan 17 September 1992.

(more…)

9 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


20 Jan 2013

Belajar dari Sejarah: Tentang Pluit

Dari Timur ke Barat: Waduk Pluit, Pantai Mutiara, Pluit, Muara Karang & Pantai Indah Kapuk di tahun 2004

Tulisan dibawah adalah rangkuman dari buku Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa oleh Restu Gunawan dan 2 artikel Kompas oleh Agus Hermawan di harian Kompas pada tanggal 16 September 1992 dan 17 September 1992.

(more…)

1 Comment »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


15 Jan 2013

Antasari nan Absurb?

Jalan Layang Non Tol Antasari resmi dibuka 15 Januari 2013. Menurut berita ini, jalan layang yang menghabiskan biaya 1.28 Triliun dengan panjang 4.3 km tersebut, mengatakan bahwa hanya mobil yang diperbolehkan naik untuk sementara ini. Jalur yang dibuka pun hanya Blok M-Cipete.

Namun apa yang terjadi pada pagi hingga siang di hari perdana pengoperasian jalan tersebut. Ternyata tidak selancar seperti yang diiming-imingi oleh pemerintah. Setidaknya itu yang tergambar dari 2 foto tertanggal hari ini oleh 2 orang berbeda:

Diatas Jalan Layang Non Tol (oleh Sigit Kusumawijaya)

dan foto berikut:

Pertemuan arus (foto oleh @Sari_Abank)

2 Foto diatas mungkin memang terlalu dini untuk dijadikan sebagai vonis gagalnya kebijakan penambahan volume jalan. Tetapi setidaknya semoga kedua foto tersebut menjadi pengantar masa depan Jakarta jika 6 Ruas Tol Dalam Kota dipaksakan dibangun di Jakarta, terutama pada bagian pertemuan exit jalan dan pertemuan arus.

 

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


09 Jan 2013

Kecerdasan yang Lain

Suryono Herlambang di satu sesi

Sejak 3 Januari 2013, Rujak Center for Urban Studies bekerja sama dengan AEDES Architecture Forum Berlin dan Goethe Institut Jakarta mengadakan Lokakarya Smart City=Smart Citizen+Smart Process. Lokakarya ini bertujuan menggali ide dari kaum muda yang dapat disumbangkan demi masa depan Jakarta yang lebih baik. Ada 25 proposal yang masuk dan, pada akhirnya setelah melewati seleksi, tersisa 12 proposal. Sebagai penyelenggara dan konseptor lokakarya, Rujak mencoba pendekatan lain, keluar dari arus utama tentang apa itu Smart City.

Rujak dan kurator AEDES, Ulla Gensler sepakat bahwa kecerdasan dalam kota tidak melulu berbicara soal teknologi, infrastruktur skala besar atau olahan informasi besar (Big Data). Dia tidak hanya semata rangkaian produk-produk yang mengandalkan komputer. Tidak juga hanya bangunan atau arsitektur semata. Kami percaya bahwa agar suatu kota menjadi cerdas, maka kota tersebut membutuhkan proses dan partisipasi warga. Bisa juga ketika kota tersebut cerdas, maka kota tersebut berpeluang untuk mencerdaskan warganya. Kami percaya bahwa kota yang cerdas, adalah kota yang dengan prosesnya mampu membuat warga menjadi cerdas. Teknologi hanyalah salah satu alat untuk membantu. Aktor utama dalam Smart City, tetaplah warga kota dan proses.

12 peserta lokakarya adalah orang-orang yang beragam latar belakang, asal dan bahkan pendidikan maupun profesi. Kesamaan dari mereka adalah warga kota dan kaum muda yang tumbuh besar di paska 1998 dan kemudahan teknologi. Ada arsitek, penulis, sosiolog, filsuf, seniman, desainer, perencana tur, dan perencana kota. Ada yang bekerja di pemerintah, lembaga penelitian hingga pekerja lepas.

12 peserta mendapatkan pembekalan selama 5 hari pertama lokakarya. Narasumber dari berbagai bidang, profesi, gender dan usia dihadirkan. Ada Suryono Herlambang (perencana kota dan kepala jurusan teknik perencanaan kota dan real estate Universitas Tarumanagara), Yoga Adiwinarto (direktur Institute for Transportation and Development Policy), Selamet Daroyini (aktivis lingkungan di KIARA), Hening Parlan (praktisi mitigasi bencana di Humanitarian Forum Indonesia), Erik Prasetya (Fotografer, salah satu dari 20 fotografer terbaik di Asia), Shanty Syahril (ibu rumah tangga, pelaku kegiatan alternatif untuk anak-anak di kota), Ricky Lestari (desainer lansekap, koordinator Komunitas Hijau Pondok Indah), @nebengers (media sosial tentang berbagi kendaraan) dan Khairani Barokka (artis dan penulis, berkutat di disabilitas dan kesenian). Dan demi workshop, AEDES mengundang Dietmar Leyk, seorang arsitek dan professor di Berlage/TU Delft guna memberikan masukan dan arahan.

Masing-masing dari narasumber menggugah dengan cara unik. Suryono Herlambang menampilkan betapa pengembangan Jakarta tidak bisa dilepaskan dari sirkuit kapital, serta menerangkan bagaimana kapitalisme dan kroni menjadi bagian dalam proses. Yoga menerangkan mengenai kondisi transportasi dan masa depan transportasi Jakarta. Elisa Sutanudjaja menghadirkan bagaimana sejarah permukiman di kota Jakarta. Selamet Daroyini menyorot mengenai masalah air, siklus air terkait dengan kekeringan dan banjir di Jakarta. Selamet juga mengkaitkan dengan kondisi tersebut dengan perubahan ruang di Jakarta. Sementara Hening Parlan menyajikan mengenai kebencanaan di Jakarta serta kondisi Jakarta dalam hal mitigasi dan persiapan bencana.

Sesi berbagi dari @nebengers menunjukkan upaya dan inisiatif kaum muda untuk mengurangi beban kota melalui berbagai kendaraan, serta cara-cara penggunaan maksimal media sosial untuk menunjang insiatif tersebut. Shanty Syahril menunjukkan keprihatinannya akan akses anak-anak ke sekolah maupun materi sekolah tersebut, namun dari situ dia berhasil keluar dengan solusi kreatif dan cerdas untuk menambah kegiatan anak-anak di lingkungan sekolah maupun perumahannya. Shanty menunjukkan betapa modal sosial justru menjadi keunggulan dalam proses menuju warga kota yang cerdas. Ricky Lestari memperlihatkan bagaimana lingkungan menengah keatas yang sering distigmakan individualistis dan elit, justru mampu berproses dalam mencerdaskan warga dan memperbaiki lingkungan bersama-sama. Sesi inspiratif dari Khairani Barokka yang mengajak peserta untuk berpikir kembali ‘Apa itu Normal’, dan mengajak peserta untuk melihat dari betapa luar biasanya dunia yang muncul dari balik kaca mata kaum disabilitas.

Peserta juga mendapatkan kenyataan langsung dari warga-warga yang kami anggap memiliki kecerdasan dalam hidup di kota. Mereka bertemu langsung dengan kaum miskin kota yang tergabung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota di Muara Baru, sebuah daerah padat dengan 17rb KK yang menghuni sekitar Waduk Pluit). Demi menyiapkan kunjungan peserta, warga disana bahkan melakukan serangkaian lokakarya kecil untuk mempersiapkan materi presentasi dan memahami apa itu kecerdasan kota versi mereka. Peserta juga berkunjung ke Bukit Duri, bertemu langsung dengan Ciliwung Merdeka, kelompok warga yang berusaha memperbaiki kualitas lingkungan dengan berbagai program mandiri, dari sosial budaya hingga kebencanaan.

Paska berbagai kuliah, sesi berbagi dan kunjungan, peserta mendapat kekayaan pengetahuan yang beraneka ragam. Ada pengetahuan akan kenyataan yang menakutkan dan menyedihkan yang sepanjang sesi membuat wajah peserta menampilkan mimik kengerian, ada juga pengetahuan yang membawa harapan dan keharuan, bahkan pengetahuan yang membawa tawa dan kreativitas. Dan semua proposal awal dari para peserta pun berubah: menjadi proposal yang dekat dengan warga dan membuka ruang untuk berproses, dan pastinya semakin cerdas.

Dan di sisa lokakarya, mereka masih harus digembleng dari komentar dan masukan dari berbagai kalangan, seperti Irwan Ahmett dan Tita Salina (pasangan seniman), Avianti Armand (arsitek & penulis), Hizrah Muchtar (perencana kota), Bayu Wardhana (penggiat komunitas), dan Famega Syavira (jurnalis).

Proses lokakarya ini terbuka untuk umum. Masyarakat melihat prosesnya langsung dan ikut menikmati sesi berbagi dan kuliah, bahkan mengikuti kunjungan ke warga. Ada warga yang mendadak menjadi narasumber di hari berikutnya. Itu terjadi ketika Erik Prasetya datang di hari kedua lokakarya dan mendengarkan kuliah, dan lalu bersemangat untuk berbagi keahliannya di bidang street photography agar para peserta mampu dan jeli menangkap fenomena perkotaan melalui lensa.

Ini adalah model lokakarya yang lain, beradaptasi dengan kondisi, dan masih memberikan terus ruang untuk berkembang baik di prosesnya maupun pesertanya. Peserta yang datang dengan 12 proposal individual yang berbeda-beda satu sama lain, pada akhirnya menyadari akan kelebihan dan kekurangan proposal satu sama lain. Mereka berkolaborasi dan bekerja sama, walaupun sebagaian besar dari mereka tidak mengenal satu sama lain.

Di hari akhir lokakarya mereka harus mempertanggungjawabkan proposalnya di depan umum. Rujak mengundang masyarakat luas untuk turut hadir dalam presentasi tersebut. Rujak juga turut mengundang pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, dan media.

Lokakarya ini hendak menunjukkan bahwa pengetahuan ada dimana-mana, tidak statis dan berubah. Keahlian tidak eksklusif milik menjadi satu pihak. Pemecah masalah bisa muncul dari pemuda berusia 25 tahun – walaupun dia tidak punya gelar berderet. Atau selama ini solusi tertentu justru telah muncul dari orang miskin atau orang-orang yang distigmakan sebagai cacat maupun dicap sebagai orang individualis. Orang-orang demikian yang berusaha mencerdaskan warga dan kota, yang membebaskan pengetahuan untuk menjadi milik bersama.

Informasi lebih lanjut mengenai acara Public Expose tanggal 13 silakan lihat disini.

Nantikan perbaharuan foto di artikel ini.

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


05 Jan 2013

Solusi bukan Solusi

Pasca banjir di pusat kota tanggal 22 Desember 2012 yang menggenangi Sudirman-Thamrin dan banyak basement maupun lantai dasar pusat perbelanjaan, Gubernur Joko Widodo mencetuskan rencana yang disebut Multi Purpose Deep Tunnel. Jika menurut rencana (dikutip dari Kompas, 4 Januari 2013 silam) maka berikut adalah spesifikasinya:

Spesifikasi dan Jalur Deep Tunnel usulan Jokowi

Jalur Deep Tunnel yang diusulkan oleh Jokowi memang merupakan perubahan dari proposal dibawah, namum memiliki kemiripan, misalnya kegunaan dan kedua ujung tunnel.

Bahkan dengan optimis pula DKI mengklaim sudah ada 3 pihak yang bersedia menjadi investor. Dan mendadak masuk kedalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah; padahal menurut versi RPJMD yang Rujak miliki per akhir November 2012, tidak disebut mengenai pembangunan Deep Tunnel. Apakah ini langkah yang tepat, memasukkan proyek infrastruktur raksasa yang sama sekali belum dikaji kelayakan, geologis, AMDAL, tidak berpayung hukum, tanpa didukung informasi bawah tanah, hasil survey ini? Seberapa banyak yang Pemerintah Provinsi ketahui dari lapisan tanah sejauh 40-60 meter dibawah permukaan tersebut. Dan rencana Deep Tunnel tersebut melewati kawasan Grogol, yang bahkan mengalami kesulitan membangun basement, karena jenis tanah daerah tersebut.

Ada banyak pertanyaan terkait dengan Deep Tunnel dengan diameter 16 meter, atau tunnel yang lebarnya bisa dihuni oleh 3 ruko 4 lantai ini. Deep Tunnel jelas tidak menyelesaikan banjir Jakarta. Deep Tunnel hanya menyelesaikan AKIBAT dari banjir. Dia hanya menjadi tampungan sementara, dan sesungguhnya tak ada bedanya dengan Kanal Banjir Timur, Kanal Banjir Barat, Cengkareng Drain, dan lain-lain. Hanya bedanya ya Deep Tunnel ada dibawah tanah. Sama seperti kanal-kanal dan sistem-sistemnya yang sudah pasti gagal, karena selama 400 tahun akan gagal terus. Kegagalan sistem kanal di Jakarta bahkan telah didokumentasikan dalam bentuk buku.

Jika Jokowi berargumen bahwa di Kuala Lumpur ada proyek serupa dan mampu mengurangi genangan, mari kita lihat kondisi geologis dan geografis Kuala Lumpur, yang memang memungkinkan pembangunan SMART Tunnel. Kuala Lumpur berada 20 meter diatas permukaan laut, dia tidak ditepi pantai dan yang terpenting tidak mengalami penurunan tanah separah Jakarta. Jakarta, merupakan kota pantai, dengan ketinggian sekitar 7 meter diatas permukaan laut, dan bahkan rencananya salah satu muara tunnel akan berakhir di Pluit, yang sekarang sejajar bahkan di bawah permukaan laut.

Jokowi kerap berargumen bahwa konstruksi subway untuk MRTJakarta terlalu mahal, padahal MRTJakarta telah melakukan studi ekspansif, sehingga budget yang terakhir dikeluarkan adalah anggaran sesuai dengan kondisi lapangan. Saya mempertanyakan bagaimana dengan konstruksi Deep Tunnel yang pastinya berkali2 lipat lebih besar diameternya dan berkali lipat lebih panjang. Apakah benar hanya 16 Triliun, saya memutuskan untuk tidak percaya.

Pendekatan infrastruktur dalam menangani banjir telah terbukti hanya memperbaiki secara sementara. Kanal suatu saat pasti akan penuh. Jakarta sudah terkenal dengan kelalaiannya dalam perawatan, dan itu memperburuk akibat dari kebiasaan membangun infrastruktur. Seberapa besar kanal yang hendak dibangun, pada akhirnya tidak akan bisa melawan total curah hujan di kota Jakarta sendiri, dan ditambah dengan aliran air hujan dari berbagai daerah yang masuk melalui 13 sungai di Jakarta. Karenanya pendekatan Deep Tunnel sama sekali tidak lestari, tidak sustainable. Dia sama sekali tidak memperbaiki akar masalah.

Deep Tunnel hanya menyimpan sementara air permukaan (storm water) tanpa sanggup menyerapkan kedalam tanah. Lalu Deep Tunnel nantinya akan mengeluarkannya secara sementara ke Waduk Pluit. Ingin tahu Waduk Pluit seperti apa, ini dia gambarnya:

Waduk Pluit dari udara, foto dari www.jpnn.com

Saat ini di sisi Timur Waduk Pluit dihuni oleh ribuan warga dan mereka kerap mengalami banjir rob dari laut. Bagaimana caranya suatu waduk yang kerap mengalami luapan dari air laut lalu diharapkan menerima tambahan jutaan kubik air dari Deep Tunnel? Jika ingin revitalisasi Waduk Pluit, apakah sudah termasuk dalam anggaran diatas?

Sepakat dengan pernyataan Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU Moch Hasan, perlu berapa besar pompa untuk mengeluarkan air tersebut ke Waduk Pluit? 4 juta kubik air dari kedalaman 40-60 meter? Kita membuang energi terlalu besar hanya demi air yang seharusnya bisa dengan cara lebih murah dikendalikan, misalnya dengan benar-benar mewajibkan ribuan gedung punya sumur resapan sesuai dengan kapasitas serta kedalaman dan tanah yang dijadikan bangunan. Sumur resapan tidak perlu menunggu sampai 4-5 tahun lagi untuk berfungsi. Jangan-jangan sudah bisa beroperasi sebelum musim hujan berikutnya tiba. Jangan-jangan dengan uang yang lebih murah bisa membangun sistem resapan dan tanggul yang lebih baik di kawasan hulu, dan masih menyisakan banyak anggaran untuk merevitalisasi kapasitas kanal dan sungai.

Langkah Deep Tunnel tidak lestari, dan tidak akan pernah lestari.

Tambahan:

Dirjen Sumber Daya Air (2005-2007) yang terlibat di masa awal pengusulan Deep Tunnel mempertanyakan proyek ini.

28 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


04 Jan 2013

Janji Joko

Sebagai pengingat untuk warga, kami menampilkan beberapa janji Gubernur baru Joko Widodo. Manusia kerap melupakan sesuatu, namun janji tetap tercatat dalam berbagai media.

Kami lampirkan beberapa janji dari Gubernur Joko Widodo dalam Rujak Spion, yang disusun oleh Anita Halim.

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: none |


26 Dec 2012

Reportase : Bedah Buku “Kota Rumah Kita”

 

Oleh Alfred Junaidhi | @alfredjunaidhi

 

Pagi yang cerah menandai acara bedah buku “Kota Rumah Kita” yang diadakan di Institut Francais Indonesia, pada Sabtu 15 Desember 2012. Buku yang bersampul karya pemenang World Press Photo: Peter Bialobrzeski, dengan tebal 381 halaman dan telah terbit tahun 2006 silam dibedah oleh Ayu Utami dan Ahmad Djuhara.

Ayu Utami sebagai penulis yang telah dikenal luas oleh masyarakat dengan karya-karyanya seperti Saman, Cerita Enrico, dll mendapat giliran pertama membedah buku ini.

Dia memaparkan pembahasan dari segi bagaimana Marco Kusumawijaya sebagai penulis buku berkomunikasi dengan publiknya (pembacanya) di mana kompleksitas yang rumit disampaikan dengan sederhana.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti “Siapa orang kota sesungguhnya? Siapa yang salah? Darimana kesalahan?” dicoba dimasukkan di dalam buku ini. Tetapi, sebagai buku yang membahas hal-hal yang bersifat ilmiah dengan mengedepankan intelektualitas tetap terdapat kelemahan. Karya para akademisi, menurutnya, memiliki kelemahan ketika tulisan mereka dipaparkan ke masyarakat luas yang sangat beragam mutu kecerdasannya. Berbicara dengan jargon-jargon dan istilah-istilah yang hanya dipahami oleh kalangan mereka menjadikan tulisannya cenderung tidak dipahami oleh masyarakat umum.

Ayu Utami membedah buku dengan cukup menghibur yang membuat peserta diskusi tertawa khususnya ketika dia menceritakan pengalaman-pengalaman yang dia alami sendiri.  Seperti ketika pertanyaan sederhana “Siapa orang kota sesungguhnya?” diajukan dalam buku, Marco menuliskan bahwa tidak bisa dibedakan lagi antara orang desa dan orang kota, karena semuanya telah jadi kota, baik kota besar maupun kota kecil.

Ayu menceritakan kisah mengenai pembantu laki-laki di rumahnya yang tidak mau membersihkan taman pada siang hari karena takut hitam dan memakai body lotion agar tampak lebih putih. Menurut Ayu, anak desa tidak lagi memahami desa karena telah terpogram dalam simbol-simbol yang sama dengan anak kota melalui televisi dan sekolah, sehingga membuat mereka tercerabut dari akarnya.

Buku yang setiap bab-nya terdapat foto karya Erik Prasetya ini kemudian dibedah oleh Ahmad Djuhara, seorang arsitek yang pernah menjadi Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta. Pembahasan yang dilakukan condong ke arah personal karena Djuhara dan Marco telah lama berteman.

Bagi para arsitek, kata Djuhara, buku ini menarik dan merupakan pengayaan, karena Marco berfungsi sebagai pemandu, pewarta, messiah, guru, pembawa berita baik dan buruk, pemikir, penata data, penyusun, pencatat, pengarah, dan pengoreksi. Dalam buku ini yang betul-betul rumah hanya dibahas satu rumah yakni rumahnya Sardjono Sani, selebihnya tentang luar rumah, tetapi tetap disebut rumah karena mengandaikan kota sebagai rumah.

Menurutnya, buku ini merupakan metamorfosa seorang Marco dari seorang yang pemarah yang tercermin dalam karya sebelumnya: Jakarta: Metropolis Tunggang-langgang, menjadi seorang yang lebih bijak. Dengan kecerdasan, kecepatan menganalisis, dan mengambil kesimpulan untuk bertanya, buku ini membagi bab-bab dengan orang kota dan kota, bagaimana kita melihat dan memposisikan diri kita terhadap kota, dan melulu adalah sebuah ajaran.

Ahmad Djuhara dalam pembedahan buku lebih bersifat akademis dikarenakan tulisan-tulisan dalam buku yang dia bahas memang demikian sifatnya seperti JakArt, Aga Khan Award, dan tentang Wendy Brauer pencipta Green Map. Kesan yang ingin disampaikan yakni fungsi Marco yang mengajak kita membangun Jakarta yang cerdas, serta menjadikan Jakarta bisa mencerdaskan orang lain juga.

Sesi tanya jawab para peserta merupakan lanjutan dari acara bedah buku ini. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan para peserta, namun ada satu pertanyaan yang pembahasannya berlangsung menarik dan berkepanjangan sampai habisnya acara. Yaitu pertanyaan tentang subjektifitas individual dalam menghadapi modernisasi pembangunan kota. Marco yang menjawab pertanyaan ini mengatakan bahwa subjek harus mampu menyikapi modernitas agak tidak tergilas begitu saja. Modernitas yang membawa kegalauan karena berkaitan erat dengan urbanisasi dan kolonialisasi. Kita tidak bisa menerima begitu saja apa yang terjadi dalam hidup kita seperti yang dikatakan Chairil Anwar kepada HB Jassin “Aku akan bikin perhitungan habis-habisan dengan begitu banyak di sekelilingku”.  Berdasarkan perkataan Chairil tersebut ingin ditunjukkan bahwa kota akan menjadi lebih baik bukan dikarenakan gubernurnya atau satu dua orang saja, tetapi semua warganya/semua subjek mampu membikin “perhitungan” terhadap kotanya sendiri melalui proses yang cerdas.

Lanjut Marco, kota pada kenyataannya (yang pahit) dibangun oleh mimpi-mimpi orang tertentu yang tidak mencerminkan mimpi semua orang. Namun inilah yang ingin dibangun Marco dalam buku ini yakni partisipasi semua orang atau warga kota berdasarkan pengetahuan yang mendalam. Kegalauan dihadapi bersama dengan cerdas, dengan pikiran yang rasional tanpa prasangka primordial. Dengan kata lain, subjek harus menghadapi modernisasi pembangunan kota tanpa kehilangan harga dirinya sebagai manusia. Tepatlah seperti yang disimpulkan Ayu Utami dan Ahmad Djuhara bahwa dengan membaca buku ini bisa mengubah cara pandang kita yang baru mengenai segala hal.

Tertarik membaca lebih jauh buku “Kota Rumah Kita” ? silahkan klik link ini.

No Comments »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |