Posts Tagged ‘jalan-kaki’


23 Jan 2013

Mengenang Pejalan Kaki

Peringatan Hari Pejalan Kaki 22 Januari 2013

1 tahun yang lalu, di halte depan Kementerian Perdagangan, satu keluarga 3 generasi bersama dengan orang-orang lain sedang berjalan menikmati hari Minggu selepas berjalan kaki di Car Free Day. Tiba-tiba ada mobil menyambar mereka dan menewaskan 9 orang, termasuk 1 keluarga tersebut.

Reaksi publik bermunculan keras. Menyoroti betapa buruknya kondisi trotoar di Jakarta.

Kontan muncul komitmen dari Gubernur saat itu Fauzi Bowo mengenai percontohan trotoar di daerah Gajah Mada, Hayam Wuruk dan Cikini. Termasuk diantaranya melarang parkir mobil sepanjang Gajah Mada dan Hayam Wuruk, pekerjaan fisik di trotoar Jalan Cikini.

Namun bagaimana selepas 1 tahun kejadian tersebut?

Laju motor-motor di atas trotoar mengancam pejalan kaki. Motor dan mobil tetap parkir di trotoar, bahkan menutup akses pejalan kaki. Tidak ada yang berubah, seakan kejadian tragis 22 Januari 2012 tersebut tak ubahnya seperti hari Minggu biasa.

Padahal 18 pejalan kaki tewas di trotoar setiap harinya. Perlu berapa banyak korban lagi supaya kita semua serius memperbaiki kondisi trotoar dan kenyamanan pejalan kaki?

 

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


31 Jan 2012

Presentasi @JalanKaki

Mengapa kita harus ber@JalanKaki …. karena kita manusia. Semudah itu toh.

 

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


29 Jan 2012

#TrotoarKita

Hai teman-teman pejalan-kaki.

Sudah lama hak pejalan-kaki dirampas oleh pemotor. Sering sekali pengendara motor melaju diatas trotoar, atau ada mobil dan motor yang parkir sembarangan di trotoar.

Mari luangkan waktu 15 menit saja, pilih harimu, sebisamu, kapan saja.

Sederhana caranya:

Bentangkan Poster yang sudah tersedia di bawah ini saat ada motor-motor yang melintas di trotoar.

Ada berbagai macam pilihan poster. Jika anda ingin cepat, maka bisa mencetak sendiri poster berikut ini dengan printer anda:

htmpth1

htmpth2
Namun kami juga memberikan opsi mencetakkan flyer dari bahan x-banner yang tahan air dan dapat digulung. Ada beberapa pilihan desain. Silakan pilih.

1. Tipe A (Atas dan Bawah)
004

2.Tipe B (Atas dan Bawah)
002

3. Tipe C
003

Kami akan mencetakannya untuk anda – dan silakan kirimkan email kepada kami di info@rujak.org beserta alamat pengiriman dan tipe banner pilihan anda. Ukuran banner ada 2 macam, yaitu 30x90cm dan 30x120cm.

Mengapa berbanner?

Karena kami ingin memberikan kemudahan kepada siapapun yang ingin terlibat kampanye #trotoarkita ini. Tinggal taruh banner di tas anda untuk langsung siap digunakan kapan saja.

Plus jangan lupa tweetpic kegiatan teman-teman sekalian pada saat berkampanye untuk dikirimkan ke @jalankaki dengan #trotoarkita. Yuk menjaga trotoar kita dengan sambil bergaya! :D

 

Tips dan Trik:

1. PeDe aja, karena kita berada di tempat yang benar, yaitu di trotoar.

2. Jangan menatap bagian kepala pemotor. Tatap saja motornya.

3. Kurangi bahasa verbal dengan pemotor, toh percuma, mereka pakai helm.

4.  Ingin efektif, ajak teman-teman mu ya. Demi keamanan juga, dan plus perlu ada teman kan untuk mentweetpic kan fotomu :D .

Perhatian: hanya untuk warga diatas umur 21 tahun (demi alasan keamanan)

1 Comment »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


17 Nov 2011

Jalan Kaki di Jakarta a la Tunanetra Penjual Krupuk


Oleh: Lilin Rosasanti.
Agus Wahono, 44 tahun, berjalan kaki sekitar 20 kilometer setiap harinya untuk berjualan kerupuk. Perjalanan sejauh itu ditempuhnya tanpa indra penglihatan, karena Agus adalah seorang tunanetra.
      Ada banyak penjual kerupuk tunanetra seperti Agus. “Kalo pagi dari rumah Meruya Selatan, muter dulu ke Kelapa Dua, Relasi Jl Arteri, sorenya mangkal di Joglo,” kata Sahwono, juga tunanetra pedagang kerupuk. Rute itu berjarak tak kurang dari 10 km.
     Biasanya para pedagang kerupuk tunanetra ini berjualan di jalan dari pagi hingga sore hari atau malam hari. Pukul 9 pagi hingga 4 sore, atau berangkat pukul 2 siang hingga 9 malam. Permasalahan seperti polusi kendaraan dan kemacetan menjadi makanan sehari-hari.
     Mereka berhadapan langsung dengan kondisi jalan dan lalu lintas yang tidak aman. Tidak ada balok pemandu tunanetra, selokan yang menganga, juga rambu lalu lintas dan jembatan penyebrangan yang tidak bersahabat. Trotoar yang digunakan untuk kepentingan selain pejalan kaki makin menambah beban.
    Tati Sugiarto (50 tahun) mengenang masa dimana kepentingan tunanetra diperhatikan penguasa kota. “Dulu di zaman Ali Sadikin, tunanetra yang berbekal tongkat merah putih sangat diperhatikan. Bila sudah mengangkat tongkat, pengendara motor tidak akan berani ngebut,” kata Tuti.
     Kini mereka berharap pemerintah kota menyediakan lampu merah dengan suara. Tunanetra juga ingin ada jalan khusus bagi tuna netra di jalan-jalan kecil yang mereka lalui, bukan hanya di jalan besar utama di Jakarta. Beberapa bahkan hanya mengharapkan pembuatan selokan yang lebih ramah. Mereka menginginkan selokan yang tidak terlalu dalam (karena banyaknya kemungkinan terjerembab), dilapisi dengan kawat atau ditutup rapat.
     Terperosok di selokan menjadi hal biasa di kalangan para tunanetra. Arsidi yang mengalami terperosok di selokan bersama istri, tabah menganggap kejadian berbahaya itu sebagai guyonan. Arsidi juga memilih tidak menggunakan bus TransJakarta dan lebih memilih bus biasa karena proses menuju halte yang rumit, dan antrian yang selalu panjang.
     Untuk berjualan setiap harinya, Sahwono mengandalkan kekuatan inderanya yang sangat terlatih.  Tongkat menjadi senjata utamanya. “Udah feeling aja. Waktu pertama kali jualan ya, asal jalan aja, sambil tanya-tanya,” kata Sahwono.
Seiring dengan waktu, mereka mulai mengenal “jalan tikus” bila ingin cepat sampai tujuan. “Mata aja yang nggak lihat, tapi perasaan kami sama. Perasaan di mana harus belok. Tidak tepat sekali, tapi seperti ada yang gandeng,” kata Ahmad.
     Entah karena kemampuannya beradaptasi atau sifat nrimo yang membuat pedagang tuna netra ini tidak mengeluhkan banyaknya kekurangan Jakarta sebagai sebuah kota. Tidak terpikir sama sekali bagi mereka untuk pulang kembali ke kampung halaman. “Jakarta bikin saya jadi keras. Jadi semangat,” kata Sahwono.

4 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


17 Nov 2011

Jalan Kaki

Bagaimana menurut Anda? Bisakah Anda menyumbang foto dan komentar kasus jalur pejalan-kaki yang baik dan buruk? Mohon kirim ke info@rujak.org.

Jalur pejalan-kaki sejatinya bagian dari “Daerah Milik Jalan” (DMJ, Right-of-Way). Jadi dia bersifat publik, dikuasasi negara melalui pemerintah, untuk kepentingan umum. Kepentingan umum itu adalah untuk orang berjalan kaki dengan nyaman. Tetapi mengapa hampir tidak ada jalur pejalan kaki yang beradab di kota kita? Ada perebutan: ada sepeda motor naik. Ada pot bunga. Ada tukang tambal ban. Ada penjual makanan….Sementara halaman gedung kosong, parkir mobil disediakan, parkir motor tidak disediakan, sehingga meluap ke jalur pejalan kaki atau biasa disebut juga kaki-lima atau trotoar (dari bahasa Perancis trotoir). Sementara restoran mahal disediakan, tempat makan mayoritas pekerja kantor tidak disediakan, maka muncul warung di atas jalur pejalan kaki. Apakah kaki-lima selamanya adalah ruang abu-abu yang dibiarkan tanpa mediasi, tanpa pimpinan, dan terus menerus menjadi ajang konflik?

Bahkan zebra cross kehilangan makna. Pengendara mobil dan kendaraan bermotor lainnya tidak lagi sadar bahwa mereka diharuskan mengalah kepada penyeberang jalan oleh Undang Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan. Begitu juga ”trotoar, tempat penyeberangan, dan fasilitas lain” di jamin oleh undang-undang tersebut. Kelemahan undang-undang itu adalah, sementara para pejalan kaki wajib menggunakan fasilitas yang disediakan baginya, tidak ada pasal yang menyebutkan bahwa mobil dan motor juga seharusnya wajib menggunakan (hanya) fasilitas yang disediakan baginya, tanpa boleh menyerobot fasilitas pejalan kaki.

Ternyata pemerintah RI, melalui Departemen Pekerjaan Umum, punya panduan yang menarik. Bagaimana menjadikannya kenyataan di kota kita?

Tapi, lihat Susah Payah Jalan Kaki di Manggarai.

Kaki Lima baru di Menteng: siar-siar tidak diisi acian. Supaya air menyerap? Apa tahan lama tanpa bergerak? Dua bulan lagi kita lihat

27 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


29 May 2011

Jalan Kaki di Seputar Istiqlal, Jakarta. Nyamankah?

Oleh Silvia Honsa

Sekitar Masjid Istiqlal, Jakarta, Oktober 2009

Sungguh suatu “kemewahan” bisa berjalan kaki dengan nyaman di Jakarta. Suatu hal yang aneh sebenarnya, karena kegiatan berjalan kaki adalah termasuk kegiatan kita sehari-hari yang paling alami.  Berjalan kaki menjadi “mewah” karena sulit sekali kita menemukan jalur yang nyaman atau paling tidak, aman untuk kita para pejalan kaki melewatinya. Belum lagi masalah adakah jalur pejalan kaki di sepanjang jalan yang akan ditempuh. Nah, itu termasuk hal  yang penting untuk dipertimbangkan saat ingin berjalan kaki dari satu titik ke titik lain.

Kalau pun ada jalur pejalan kaki seperti foto di atas, menurut saya masih kurang nyaman. Lihatlah batas pagar di kiri kanannya, membuat kita pejalan kaki dibatasi interaksinya dengan taman di kiri kanan jalur.

Hak pejalan kaki sepertinya terlalu dibatasi bahkan cenderung diabaikan. Ini aneh sekali. Seakan yang layak ada di jalan begitu kita keluar rumah hanya lah orang-orang yang menggunakan alat transportasi saja. Pemahaman akan jalur jalan menjadi dibatasi hanya untuk mengakomodasi kendaraan dan tidak untuk pejalan kaki.

Kalau merujuk pada pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki di Perkotaan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum , sepertinya ideal sekali jika benar-benar dilaksanakan di tiap kota. Gambar di bawah ini adalah salah satu pedoman mengenai tipologi ruang pejalan kaki di sisi jalan. Nyaman bukan seandainya terwujud?

Lihat lah foto di atas, sebenarnya bisa menjadi cukup nyaman, tetapi desain difokuskan pada halte, bukan pada jalur pejalan kakinya dan sekali lagi, ada pagar pembatas. Mungkin juga tidak bisa menyalahkan seratus persen pertimbangan pemasangan pagar di sini. Tetapi apakah itu satu-satunya solusi?

Ini dia, foto di atas adalah salah satu foto yang sangat menunjukkan keajaiban jalur pejalan kaki di Jakarta. Sebelum bertemu dengan jalur busway ini, saya melewati jalur pejalan kaki seperti dua foto teratas. Tiba-tiba saja saya kebingungan, tertegun, berhenti berjalan. Di depan saya, ada bangunan halte busway yang menghalangi seluruh badan jalur pejalan kaki. Pilihan yang ada sama-sama tidak menyenangkan dan tidak aman. Pertama, seperti tampak di foto, melewati celah antara bangunan busway dengan pagar masjid yang sungguh sangat tidak nyaman. Kedua, turun di badan jalan, berjalan di jalur busway yang jelas selain tidak nyaman juga tidak aman. Akhirnya, saya memilih pilihan pertama, dengan pertimbangan saya tidak berminat ditabrak kendaraan bermotor apabila memilih pilihan kedua.

Bayangkan sulitnya berjalan kaki di Jakarta ini secara umum. Ini baru di sekitar Istiqlal yang nota bene di tengah pusat pemerintahan, bukan hanya untuk DKI Jakarta tetapi Republik Indonesia. Bagaimana dengan di daerah pinggiran? Seperti di Kali Malang yang tidak ada jalur pejalan kakinya, atau di jalan MT Haryono yang ada jalur pejalan kaki tetapi sering kali bersaingan dengan pengendara motor?

Sungguh, bagi saya berjalan kaki di Jakarta lebih sering saya rasakan sebagai suatu perjuangan. Karena pejalan kaki harus berjuang di jalurnya sendiri, menghadapi pengendara motor dan para pedagang. Kalau tidak ada jalurnya, kita terpaksa turun ke bahu jalan, yang artinya menyabung nyawa. Oh, sulitnya berjalan kaki yang nyaman di Jakarta.

Tapi apakah kita pejalan kaki harus menyerah dengan keadaan ini? Saya rasa tidak. Masih ada peluang bagi pejalan kaki untuk memperjuangkan haknya. Apalagi dengan semakin banyaknya orang yang peduli dengan kondisi-kondisi ini dan berusaha untuk membuat solusi yang adil bagi para pejalan kaki dan pengguna jalan yang lain. Masih tersisa harapan. Salah satu gerakan yang saya tahu akhir-akhir ini cukup aktif membahas soal pejalan kaki, adalah pengguna akun twitter @yukjalankaki.

Jadi mari kita tidak patah semangat dalam berjalan kaki di Jakarta.

1 Comment »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


22 Apr 2011

Kitalah Aktor di Jalan.

Menembus batas (kolaborasi: kita dan teralis)

Oleh: Robin Hartanto.

Biasanya kita menjadikan pemerintah sebagai sutradara untuk segala kesemrawutan di ruang publik kota kita, lupa bercermin bahwa kita lah aktor yang berperan dalam jalannya cerita. Beberapa jepretan berikut merupakan berbagai karya kita di Jalan Medan Merdeka Timur, persis di samping Stasiun Gambir. Jalan ini dapat dikatakan cukup memadai, baik transportasinya (dari kereta, busway, bajaj, hingga ojek) maupun fasilitas publiknya (stasiun, halte bus dan busway, jembatan penyeberangan sela 300 meter, zebra cross, dan trotoar selebar 2 meter). Namun di balik segala kelengkapan tersebut, rupanya kreativitas kita terlalu tinggi untuk dibatasi.

Foto-foto diambil pada tanggal 21, bulan 10, tahun 2009. Ada yang mau berbagi foto-foto saat sekarang?

Trotoar belah setengah (kolaborasi: tukang ojek dan kita sebagai pengguna)

2 banding 9 (kolaborasi: penyeberang taat dan penyeberang cepat)

Menyeberang penuh sukacita (kolaborasi: kita dan mobil)

Menyeberang di bawah Jembatan penyeberangan (kolaborasi: kakek dan pegawai kantor)

Alat pengukur lebar badan (kolaborasi: pedagang gerobak dan kita)

Lansekap Medan Merdeka Timur (kolaborasi: kita, kendaraan kita, dan tak lupa Pak Polisi)

Halte tengah jalan (kolaborasi: Pelajar SMA dan sopir serta kenek angkot)

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


16 Apr 2011

Zebra Cross Tinggal Setengah…

Oleh Robin Hartanto.  Foto zebra cross di depan Bank BNI Kota Tua, tanggal 26 Agustus 2010. Setelah perbaikan jalan, zebra cross yang sebelumnya selalu saya pakai untuk menyeberang tiba-tiba tinggal setengah. Sepertinya pemerintah sedang membutuhkan atlet lompat jauh.

Comments Off

Topics: , | Agent of Change: none |


09 Apr 2011

Pejalan Kaki vs. Sepeda Motor

Terbitkan jepretan Anda tentang kasus jalan-kaki dan jalurnya ke info@rujak.org.

Oleh: Famega Syavira Putri;  http://cyapila.com | @cyapila

Bahkan untuk berjalan di trotoar pejalan kaki harus bersaing dengan motor. Saya pernah mencobanya, berjalan kaki dengan cuek di tengah trotoar yang ramai dilalui motor. Hasilnya? Klakson galak tak henti-hentinya dengan mata melotot dari balik helm. Padahal trotoar adalah hak pejalan kaki. Ini foto-fotonya. Suatu siang di sekitar Bank Indonesia, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. –

5 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


07 Apr 2011

Trotoar Lapangan MONAS: Lebar Tapi Kadang Pesing

Oleh: Putri Syrfasari (poo_granger@yahoo.com)

Ini trotoar yang ideal.. Jalannya besar, gak ada yang jualan, dan motor kayaknya gak pernah make. Bonusnya pohonnya gede jadi adem. Eh, tapi ada minusnya deng. Kadang suka bau pesing.

K5 Lapangan Monas, lebar tapi kadang pesing.

No Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |