Posts Tagged ‘JEMA’


11 Aug 2010

Mengenang Pasar Mayestik

Berapa kali dalam sebulan anda mengunjungi pasar tradisional? Itu adalah salah satu pertanyaan dalam survey terhadap 34 orang peserta kunjungan ke Pasar Mayestik yang diselenggarakan oleh JEMA Tour. 16 orang diantaranya menjawab bahwa mereka tidak pernah mengunjungi pasar tradisional. Dan 16 orang pun mengaku tidak pernah mengunjungi Pasar Mayestik, sedangkan 4 orang menolak untuk menjawab.

Beberapa saat lalu, Pasar Mayestik sempat mencuat dalam pemberitaan metropolitan, karena rencana PD Pasar Jaya untuk ‘meremajakan’ pasar tersebut. Pasar tersebut hingga saat dibongkar menampung sekitar 600 pedagang. Ada banyak hal yang menarik dalam pasar Mayestik. Ingin membeli bahan baju dan menjahitkannya dengan harga terjangkau? Disini lokasinya. Pasar Mayestik pun menyediakan berbagai macam peralatan memasak dan membuat kue. Juga pantas menjadi salah satu tujuan kuliner, yaitu demikian banyak penjual rujak bebeg, ada penjual Gabus Saksang hingga snack KhongGuan, disamping juga makanan tradisional diluar Jakarta seperti gudeg dan Nasi Krawu. Disini juga ada pusat jamu yang terkenal, yaitu Toko Jamu Had.

Pasar Mayestik populer dikalangan wanita -terlebih karena tersedia aneka bahan pakaian dan usaha menjahit dengan harga yang terjangkau dan kualitas baik. Ada toko besar Esagenangku, lalu juga banyak kios-kios yang menjadi tujuan para calon pengantin muda untuk mencari barang-barang seserahan untuk upacara pernikahan.

Awal Agustus ini, Pasar Mayestik yang ada pun tinggal kenangan, karena perlahan-lahan pedagang pindah ke tempat penampungan dan kontraktor mulai melakukan kegiatan konstruksi. Tempat penampungannya sendiri hanya terdiri atas 2 lantai, dengan lantai pertama sebagai pasar basah dan makanan sementara lantai kedua menjadi pasar kering yang menjual bahan-bahan pakaian, keperluan dapur hingga usaha menjahit. Kondisi pasar penampungan pun sangat sempit, juga ukuran kios dan koridor yang lebih sempit dibandingkan Pasar Mayestik.

Namun ternyata kondisi tersebut tidak menyurutkan peserta Tour Pasar Mayestik JEMA Tour untuk kembali mengunjungi Pasar Mayestik, setidaknya 25 orang dari peserta tour menyatakan ketertarikannya untuk berkunjung kembali.

Di mata peserta tour, buruknya kondisi fisik pasar menjadikan hal utama dalam kekurangan pasar, misalnya kios-kios yang tak tertata dengan baik, sempit, panas, kotor, kekurangan fasilitas toilet, hingga kurangnya lahan parkir. Namun kondisi fisik yang buruk tersebut diimbangi dengan varian barang dan jasa yang ditawarkan pasar, dan para peserta merasa terkesan dengan kelengkapan barang dan jasa yang ditawarkan, terlebih varian makanan khas daerah.

Terdapat potensi besar dalam Pasar Mayestik, yaitu potensinya sebagai pusat garmen dan busana, mengingat koleksi yang ditawarkan beragam, mulai dari berbagai macam kain, batik, ulos, aksesoris pakaian, toko kancing, hingga desainer dan tukang jahit.

Tentu saja banyak yang diharapkan dari Pasar Mayestik baru, yang kononnya akan setinggi 8 lantai. Misalnya perbaikan fasilitas pengujung seperti parkir dan WC, lokalisasi atraktif untuk penjual makanan serta sarana kebersihan yang mendukung, hingga manajemen yang lebih baik. Setidaknya dengan perbaikan fasilitas yang dilakukan PD Pasar Jaya, diharapkan pula agar terjadi perbaikan mutu dan kualitas pedagang, dengan melalui peniadaan pungli, pelatihan pemasaran hingga upaya menjaga kebersihan.

Di Toko Jamu

Mobil pun jadi kios

2 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


11 Aug 2010

Mari Kembali Ke Pasar

Dalam 20 tahun terakhir jumlah pusat perbelanjaan dan hypermarket di Jakarta bertambah banyak. Setidaknya dalam satu tahun terdapat minimal 10 pusat perbelanjaan baru skala menengah hingga besar. Namun dalam periode yang sama, terjadi penurunan jumlah pasar tradisional di lokasi tertentu dan cenderung stagnan pada wilayah lain. Sementara jumlah penduduk semakin meningkat dan terjadi peningkatan dalam pertumbuhan ekonomi yang pertahunnya mencapai 6-7%, dimana Jakarta menjadi lokomotif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Pasar merupakan tempat belajar sosialisasi dan bertoleransi. Disitu masyarakat belajar tawar menawar, bernegosiasi. Seperti nenek moyangnya, yaitu Agora – pasar dan tempat kumpul warga di era Yunani hampir 3000 tahun lalu, pasar merupakan tempat berkumpulnya warga tanpa memandang kelas. Sementara yang menjadi kesepakatan diantara mereka berdua adalah harga.

Namun dengan masuknya upaya regulasi dan penataan ruang, terjadi pertanyaan apakah pasar akan selalu sama? Perkembangan kota dan masyarakat yang semakin konsumtif, terhadap produk maupun ruang, memiliki hubungan langsung dengan meningkatnya pentingnya formalitas dalam persepsi terhadap ruang-ruang kota. Formalitas tersebut juga membawa kepada hubungan yang efisien dan efektif. Bagaimana akhirnya prinsip ekonomi berada diatas, dengan satu pemikiran yaitu efisiensi biaya dan kemampuan untuk menyediakan ragam macam sayuran dan daging sesuai dengan permintaan.

Hubungan antara pedagang dan pasar yang tadinya demikian erat pun turut berubah dengan masuknya industrialisasi dan komersialisasi lahan dalam kota. Dahulu sangat memungkinkan bahwa pedagang sekaligus produsen dan/atau pengolah, namun kini telah terjadi peralihan peran, yaitu ia kini hanya bertindah sebagai perantara.

Menariknya 59% dari pertumbuhan ekonomi nasional disumbangkan dari konsumsi warga, setidaknya statistik tersebut menunjukkan betapa masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta doyan belanja. Namun hal tersebut tidak tercermin pada kesejahteraan penghuni pasar. Malah sedikitnya 3 pasar di Jakarta Utara berhenti operasi di tahun 2010. Dan ketiganya adalah pasar komunitas, yang dulunya dekat dengan keseharian masyarakat.
Fakta sederhana yang terjadi pada tiga pasar di Jakarta Utara menunjukkan bahwa pasar tidak akan tumbuh jika komunitas disekitarnya tidak mendukung. Sementara dengan upaya modernisasi pasar yang dilakukan terhadap lokasi serta minimnya lahan pertanian kota membawa pada relasi baru antara pembeli dan penjual.

Bekerja sama dengan JEMA Tour, sebuah tur yang didedikasikan kepada penggemar makanan di Jakarta yang ingin menikmati hidangan lezat kaya nilai budaya, Rujak berupaya menggali pengetahuan dan persepsi yang ada dalam masyarakat. Lewat survey sederhana, para peserta tour perlahan-lahan digugah atas relasi antara dirinya dengan pasar.

Kegiatan JEMA Tour berkutat pada pasar tradisional, dan merupakan aktifitas jalan kami selama 3 jam yang kurang lebi melibatkan budaya lokal pasar dan cicipan makanan lezat khas pasar. Pada akhirnya perlahan-lahan, kegiatan ini dapat menjadi salah satu inspirasi bagi warga Jakarta terhadap pasar tradisional sebagai warisan budaya, sekaligus menjadi salah satu pilihan untuk beraktifitas yang berkelanjutan dan terjangkau bagi warga perkotaan.

Rangkaian Kegiatan JEMA Tour:

Pasar Mayestik, 17-18 Juli 2010

Pasar Petak Sembilan, 7-8 Agustus 2010

4 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |