Posts Tagged ‘kampung’


28 Aug 2009

Singgih of Magno Wooden Radio offers a New Urbanism

Singgih

Singgih Susilo Kartono among the trees surrounding Magno wooden radio workshop (August 23, 2009@Marco Kusumawijaya)

Singgih Susilo Kartono, the maker of Magno wooden radios, thinks we should grow together with our resources. He wants to prove it in his village, Kandangan, in Temanggung, only 8 km from the house where Police thinks Noordin Top hid.  Will it materialise sustainably or become a bursting utopia? Only more elaboration and testing-out will answer that question. We discussed this issue while enjoying fresh air in his workshop on August 23, 2009.

He envisions his village to develop sustainably with production, consumption and resources growing together in the same locale. He wants to literally grow resources for his factory. He has already started growing seeds of sonokeling, mahoni, and other hardwood that he uses for his products, the famous awards winning Magno wooden radios, toys and stationery. He distributes the seeds for free to his neighbours to plant them on their own lands. One slide of his powerful powerpoint presentation shows how more trees emerge and grow bigger as his production grows as well.

With demand for his products growing (creating a current backlog of one month), it is very likely that he will have to expand his production facilities soon, although he does not wish to hurry on that. His neighbours will also enjoy the desentralised distribution of benefits soon. If things go well in the next couple of years, the village vill soon experience a densification process, having new wealth that willl materialise in the “rural” space

Singgih’s vision of production based on local resources, and a fair distribution of wealth in the locale, revives our imagination of “garden city” and other utopias in the history of urbanism. Resources and production are closely linked with relationships clearly tangible and within sight. It would certainly means very low ecological footprint. Fortunately, his “inputs” of the electrical parts in his radios also come from nearby factories in Semarang, two hours by car from Kandangan, Singgih’s base.

His products are sold so far mostly to consumers abroad. MOMA in New York just started to sell them in their stylish museum shop. Can we assume that the value he added to the woods justifies the emission of CO2 of transporting them?

Need for a plan

In anticipation of the spectre of  “growth” that is lurking from behind both the demand for his products, and the needs of the village, Singgih is already thinking of  creating a “masterplan” to guide the village development into the future. A serious mapping of available assets (natural and man made) is needed. A vision of how a future growth wil also grow and nurture (instead of deplete) the assets will be an intriquing exercise of intellect, creativity and technical skills of many disciplines.

No Comments »

Topics: , , , , , , , , , , , | Agent of Change: none |


30 Jul 2009

On Provisional Publics and Intersections: Remaking District Life in North Jakarta

by Abdoumaliq Simone

Introduction

     For residents of cities, a simple question remains at the heart of their engagement with the city: what can people do together and under what circumstances? What is it that people do with each other when what they do isn’t quite competition, collaboration, conflict, possession or dispossession?  From this question stem the critical dimensions of urban policy in terms of who residents have to deal with, talk to, be intruded upon or intruding; who does space belong to, who has access to what kinds of space for what purposes?  As soon as these considerations are opened up then a wide range of political, administrative and technical consideration about how cities are run also become more contestable and specific. 

See complete article (50 pages) in:

On Provisional Publics and Intersections: Remaking District Life in North Jakarta.

2 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


24 Jul 2009

Lima RW Hijau di Jakarta.

Lima RW dan satu kelurahan di Jakarta memanfaatkan lahan pekarangan rumah-rumah warga untuk mengolah sampah menjadi kompos, yang kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk untuk memperbanyak tanaman. Mereka juga melakukan kegiatan-kegiatan terkait peningkatan ketahanan pangan dan kebersihan lingkungan serta pemanfaatan teknologi tepat guna.

Lihat editorial sebelumnya: http://rujak.org/2009/06/a-week-full-of-hope-disappointment-next/ (more…)

1 Comment »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


20 Jul 2009

Indonesian Green Map makers look into the future in Borobudur

 

IMG_0758

Green Map needs to persistently engage people residing in the areas being mapped in order to help generating intimate knowledge of places, and giving local voice a chance in the changing world. Green Map needs to ever amphasize its participatory method. Indonesian Green Map makers all over the country need to assemble together the total assets they have so far generated to be the basis for strengthening their capacity to achieve that goal. (more…)

3 Comments »

Topics: , | Agent of Change: Peta Hijau |


14 Jul 2009

Ekologi Jakarta: Potensi yang Terancam

Ekologi Jakarta terancam punah. Penduduk penghuni dalam kota Jakarta berkurang, menurun setidaknya dalam 10 tahun terakhir. Keragaman berkurang, bukan saja dalam arti fungsi (terutama dengan menghilangnya hunian di tengah kota), tetapi juga dalam arti keragaman strata ekonomi. Kelemahan terletak pada tidak adanya koherensi antara kebijakan perpajakan, pembangunan perkotaan, tata ruang/kota, dan konservasi. Bahkan kawasan perumahan berkualitas tinggi (setidaknya dulu) seperti Menteng pun sedang mengalami penurunan. 

 

(Lihat studi pada http://rujak.org/2009/07/loe-loe-gue-gue/ dan http://rujak.org/2009/07/visioning-the-future-of-jakarta-imagining-jakarta/; serta artikel di  http://www.thejakartapost.com/news/2009/03/21/the-plight-and-plea-menteng.html, dan http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/04/envisaging-a-mutually-beneficial039-kind-jakarta.html ) (more…)

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |


09 Jul 2009

Stren Kali, Surabaya: Contoh untuk Jakarta

Oleh Yuli Kusworo.

Pemerintah tidak pernah punya alternatif yang masuk akal. Karena itu, inisiatif masyarakat adalah satu-satunya solusi . Di Surabaya ada suatu inisiatif pendekatan permukiman lestari oleh masyarakat yang dapat dicontoh Jakarta.

Kampung hijau dengan pupuk organik hasil kompos

Kampung hijau dengan pupuk organik hasil kompos

Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya (PWSKS) melawan ‘cap buruk’ yang selama ini ditujukan kepada mereka. Pada tahun 2002, berbekal semangat gotong royong dan kekuatan kebersamaan, warga mulai mengorganisasikan kampungnya, memperbaiki kualitas lingkungan kampungnya, melalui kearifan mereka sendiri, dan mengkampanyekannya ke media lokal dan nasional bahwa PWSKS adalah warga Kota yang baik dan peduli. Memang bukan pekerjaan mudah seperti menghapus  kesalahan tulis pada selembar kertas.

Melalui kelompok tabungan perempuan di masing-masing kampung, warga sepakat memilah sampah. Sampah plastik dan kertas dipilah dan dikumpulkan tiap hari Minggu. Sampah ditimbang dan dijual kepada pengumpul di sekitar kampung. Uang yang didapat dikumpulkan pada kelompok tabungan dan dijadikan dana cadangan renovasi kampung.

Kegiatan ini secara bergelombang menyebar ke seluruh kampung-kampung anggota PWSKS. Bahkan tak sedikit warga yang memungut sampah plastik yang mengapung di sungai dan mengumpulkannya melalui ibu-ibu. Ibu Kartika, warga Gunungsari mengatakan, ”Meskipun dana yang kami dapat dari penjualan sampah kertas dan plastik ini tidak besar, namun kami menjaga semangat yang sudah tumbuh agar tetap besar. Hanya dengan cara inilah pemerintah akan melihat, bahwa kami juga bisa berbuat untuk Kota Surabaya”.

Sampah organis yang berasal dari masing-masing rumah dicacah dan dimasukkan dalan sebuah keranjang ”ajaib” yang disebut Keranjang Takakura, dari nama pemciptanya, Prof. Takakura dari Jepang. Keranjang Takakura adalah salah satu cara pengomposan paling sederhana yang dilakukan pada lingkungan terkecil, yaitu rumah-tangga. Dengan paradigma baru ”memilah dan mengolah sendiri”, masing-masing rumah dan anggota keluarga akan sadar bahwa sampah bukan masalah.

Setiap 4-5 bulan sekali dilakukan panen bersama kompos, hasil dari Keranjang Takakura.

Sebagian hasilnya ditawarkan kepada Pemerintah Kota, yang saat ini sedang menggalakkan penghijauan kota. Sebagian lainnya digunakan untuk memupuk tanaman obat-obatan (TOGA, Tanaman Obat Keluarga) yang ditanam di lahan sempit di tepi jalan kampung masing-masing.

Akhirnya ’Sunan’ Jogokali bisa membuka mata para Anggota DPRD Propinsi Jawa Timur yang tergabung dalam Panitia Khusus (Pansus) Peraturan Daerah (Perda) Penataan Permukiman Stren Kali Surabaya. Pada 7 Oktober 2007, DPRD Propinsi Jawa Timur mengesahkan sebuah peraturan yang sangat partisipatif dan pro rakyat, yaitu Perda Nomor 9 Tahun 2007 tentang Penataan Permukiman Stren Kali Surabaya, yang intisarinya adalah warga diperbolehkan tetap tinggal di Permukiman Terbatas di Stren Kali, dengan melakukan penataan kampung.

Yuli Kusworo adalah Arsitek untuk Urban Poor Consortium (UPC) dan Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya

jogo kalipenghijauan2penghijauan5

IMG_0429

IMG_0455

IMG_0415

12 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: Urban Poor Consortium |


22 Jun 2009

Siapa Suruh Datang Jakarta?

Masalah kampung di Jakarta  sebenarnya sudah kuno untuk dibicarakan. Tetapi, mengapa masalah ini tidak terpecahkan juga? Salah siapa? Semuanya akan saling tunjuk jari.

(more…)

No Comments »

Topics: | Agent of Change: none |