Posts Tagged ‘kertas bekas’


22 Mar 2010

Pioneering e-Invitation only: Vivi Yip Art Room

Is it possible to really be paper-less?

Vivi Yip Art Room just took another step closer. No printed invitation now. Invitations are sent only via SMS, BBM and emails.

In average Vivi Yip Art Room organises two exhibitions per month. For each, 250 printed invitations were sent before. That means 6,000 printed invitations per year. (Compare it to about 32,00o by the Jakarta Arts Council). Not now. The gallery is also rationalising exhibition cataloques, by making them thinner, in the forms of small brochure or leaflet.

It might be the first such an establishment to use only paperless invitations.

Check it out: http://viviyipartroom.com/

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


10 Dec 2009

Sebuah keajaiban di hari raya Idul Adha

Beberapa waktu yang lalu, di rujak ada sebuah artikel yang mengangkat masalah mengenai budaya meninggalkan sampah koran setiap selesai Salat Id. Dan praktek ini telah terjadi selama berpuluh-puluh tahun, di setiap mesjid dan lapangan yang menyelenggarakan salat hari raya di Indonesia.

Namun pada Hari Raya Idul Adha yang lalu (27/11), sebuah ‘keajaiban’ telah terjadi! Sebuah mesjid tampak bersih seusai Salat Ied. Bisa dikatakan tidak ada lagi sampah koran yang bertebaran. Halaman mesjid dan jalan yang digunakan salat tampak lengang dan bersih.

titik pengumpulan koran

titik pengumpulan koran

Terobosan yang dilakukan oleh Mesjid Asy-Syakiriin ini, sebuah mesjid di kawasan Pondok Bambu, ialah menyediakan kotak-kotak tempat pengumpulan koran bekas alas salat di segala penjuru lokasi salat. Seluruhnya berjumlah 16 titik.

Di atas setiap kotak tersebut terdapat tulisan besar yang tampak dari kejauhan,”Seusai Salat Ied, Mohon Koran Bekas Alas Salat Dilipat Kembali dan Dikumpulkan di Sini”.  Dengan begitu, tidak ada alasan lagi bagi peserta salat untuk berdalih,”habis gak tahu korannya harus ditaruh di mana,” atau “habis jauh sih tempat pengumpulan korannya.”

Upaya ini juga diperkuat dengan pengumuman lewat pengeras suara yang mengingatkan jamaah agar tidak lupa mengumpulkan sampah korannya. Pengumuman ini dilakukan berulang kali, sebelum dan sesudah Salat Ied.

Inisiatif ini dilakukan karena kebetulan sekali ketua pengurus Mesjid Asy-Syakiriin, Pak Suparto (65 thn), mempunyai kepedulian yang sangat kuat akan kebersihan lingkungan. Ia tidak jemu mengingatkan para jamaah mesjid untuk membuang sampah di tempat sampah, walau seringkali himbauannya ini tidak diindahkan oleh para pengguna mesjid.

Selain itu, Pak Muslim Arief (55 thn), yang waktu itu bertanggung jawab sebagai ketua panitia Salat Ied di mesjid tersebut, menyambut baik ide agar tiap peserta salat bertanggung jawab atas sampah bekas alas salatnya.

Awalnya penyelenggara pejamaah mengumpulkan koran bekasnyangumpulan sampah ini pesimis bahwa akan ada banyak orang yang bersedia melipat dan mengumpulkan sampah korannya ke kotak-kotak yang telah disediakan. Mengingat bahwa tidaklah mudah untuk mengubah sebuah kebiasaan yang sudah dilakukan turun-temurun.

Tak dinyana, sesusai Salat Ied, ternyata ada banyak jamaah yang menerapkan himbauan tersebut. Walau ada juga yang hanya meletakkan koran bekasnya begitu saja di atas kotak, tanpa dilipat terlebih dahulu. Alhasil, mesjid tampak bersih dalam sekejap. Hal ini membuat salah seorang petugas mesjid, Agung berkomentar,”wah bersih ya, beda banget dengan Salad Idul Fitri kemarin, sampahnya bertebaran.”

Coba bandingkan foto di bawah ini dengan foto yang diambil di lokasi yang sama pada waktu Idul Fitri yang lalu.

sampah koran hanya terlihat di titik pengumpulan

sampah koran hanya terlihat di titik pengumpulan

Para pemulung yang bersuka ria

Ketika para jamaah meninggalkan tempat salat, tak lama kemudian terlihat seorang pemulupara pemulung bersuka riang yang menandak kegirangan. Ada apa gerangan?

Ternyata ia bersuka hati, karena dengan mudahnya ia tinggal mengambil kardus berisi koran-koran yang sudah dilipat dan dirapikan oleh para peserta Salat Ied.

Berbeda dengan salat hari raya di tahun-tahun sebelumnya mereka harus bersusah payah memunguti koran yang bertebaran di jalan. Kini para pemulung tinggal mendatangi titik-titik pengumpulan Koran, merapikannya dan kemudian mengangkutnya dengan kardus yang ada.

“Sekarang kerjaan mungut koran jadi lebih cepat,” ujar seorang ibu pemulung.

Tak disangka, upaya sederhana untuk mengubah kebiasaan jamaah mesjid dalam membuang sampah, ternyata juga membuahkan manfaat bagi para pemulung.

2 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


15 Aug 2009

WHAT YOU CAN DO TO PROMOTE ENVIRONMENTAL PAPERS

RUJAK received tips below from Dian Kusumaningtyas (diankusumaningtyas@yahoo.com.au)  that she found in www.conservatree.org

What can you as an individual do to promote environmental papers? Plenty! Here are some examples:

  • Buy recycled copy paper. For printing and copying needs, buy recycled paper. Look for high levels of post-consumer content (at least 30%). Talk to your coworkers and see if you can get your office to switch to recycled paper as well! Check back soon for a toolkit to help you through the process of implementing change in the workplace.
  • Switch to recycled content tissue paper. It is especially important to purchase recycled content tissues and toilet paper since none of these products are recycled again after use. Recycled tissue paper is made from other paper products like office paper, and the use of the fibers in tissue is the last time those fibers will be used.
  • Buy recycled when purchasing school supplies for kids. Calendars, notebooks, folders, and nearly all other school supplies are available with recycled content. Talk with your children about why it is important to buy recycled.
  • Ask the magazines you subscribe to if they are printing on recycled paper. Include a note with your next bill payment or send a note separately. Be persistent. Send a note to the catalogs you receive, too.
  • Include a note with your credit card, utility, and loan bill payments asking if they are printing on recycled paper. Every person who tells them about recycled paper is helping to push for change. If enough people are vocal, change will happen.
  • Ask your bank if they are using recycled paper. Bank statements, receipts, and forms can all be printed on recycled paper. Talk with your bank about how you can help support them switching to recycled.
  • Check with your kid’s school about use of environmental papers. There are many ways to increase the use of environmental paper in schools, including switching office use, departmental use, and janitorial supplies.
  • Ask your local newspaper if they are printing on recycled paper. Newspapers use a huge amount of paper, and printing on recycled paper together with good collection systems for old newspapers can reduce unnecessary waste.
  • Talk with your place of worship or other spiritual center about paper usage. Many spiritual leaders are beginning to talk about the need for individuals to be responsible consumers. Help nurture this trend.
  • Build your local recycling program to help your area on supporting good paper collection practices.

 

1 Comment »

Topics: | Agent of Change: none |


06 Jul 2009

Ganjalan laptop murah meriah

Ganjal alas laptop dengan untelan kertas bekas sehingga ia tidak panas. Ganjalan ini murah meriah. Juga ramah lingkungan karena memanfaatkan kertas bekas. Ganjalan memberikan ruang udara antara alas laptop dan permukaan meja. 

Tips:

- Gunakan kertas bekas yang KEDUA SISI-nya sudah digunakan, dan kering dan masih cukup getas, berukuran kurang lebih A4 atau A5.

- Untel kertas bekas seadanya, jangan terlalu padat, sehingga masih elastis dan dapat mengembang. Untelan longar demikian lebih sedikit menyimpan panas, dan sentuhannya dengan alas laptop minimal. Buatkan empat untelan, untuk ke-empat sudut alas laptop

- Letakkan untelan di bawah alas laptop.

- Gunakan untelan ini berkali-kali. Simpan di laci ketika selesai digunakan.

- Ketika untelan menjadi padat karena sering digunakan, coba rentangkan lagi, lalu diuntel ulang supaya tetap longgar dan mengembang.

- Setelah untelan menjadi terlalu padat dan tidak mau mengembang lagi, boleh dibuang,

Perhatian:

Kertas yang diuntel lebih sulit didaur ulang; karena itu, bagaimanapun juga, gunakanlah untelan kertas bekas ini selama mungkin sehingga hemat. 

Apakah para pengunjung Rujak ada ide lain? Mohon berbagi.

IMG_0217IMG_0218

8 Comments »

Topics: | Agent of Change: none |