<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak &#187; Keselamatan Bangunan</title>
	<atom:link href="http://rujak.org/tag/keselamatan-bangunan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujak.org</link>
	<description>For a Better Jakarta. Everyone is Invited.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 06:21:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>JAKARTA dan Gempa: Keselamatan Manusia dalam Bangunan</title>
		<link>http://rujak.org/2009/09/jakarta-dan-gempa-keselamatan-bangunan/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/09/jakarta-dan-gempa-keselamatan-bangunan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 15:15:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa]]></category>
		<category><![CDATA[Keselamatan Bangunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1002</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: DIAN KUSUMANINGTYAS.
Bagaimana keselamatan manusia di dalam gedung dapat dijamin ketika terjadi gempa? Jakarta barusan mengalami runtunan gelombang gempa yang berasal dari Tasikmalaya. Ber-ribu orang berhamburan keluar dari gedung dan rumahnya (jumlah tepatnya tidak diketahui). Berbagai cara yang diketahui orang dicoba untuk dikerjakan, seperti: lari keluar gedung, berlindung dibawah meja dll.
Banyak hal yang terkait dalam hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-1006 alignnone" style="margin: 7px; border: 2px solid black;" title="Gempa Jakarta 2 September 2009: Di mana tempat untuk evakuasi sementara? (0209009@MKusumawijaya)" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/Gempa009009_2.jpg" alt="Gempa Jakarta 2 September 2009: Di mana tempat untuk evakuasi sementara? (0209009@MKusumawijaya)" width="426" height="306" /></p>
<p>Oleh: DIAN KUSUMANINGTYAS.</p>
<p>Bagaimana keselamatan manusia di dalam gedung dapat dijamin ketika terjadi gempa? Jakarta barusan mengalami runtunan gelombang gempa yang berasal dari Tasikmalaya. Ber-ribu orang berhamburan keluar dari gedung dan rumahnya (jumlah tepatnya tidak diketahui). Berbagai cara yang diketahui orang dicoba untuk dikerjakan, seperti: lari keluar gedung, berlindung dibawah meja dll.<span id="more-1002"></span></p>
<p>Banyak hal yang terkait dalam hal ini yang bisa saya bagi dalam 2 bagian:</p>
<p>1.     Perencanaan gedung2</p>
<p>2.     Perencanaan lingkungan</p>
<p>Pertama saya bahas soal gedung2. Untuk masyarakat awam sudah di kondisikan bahwa dalam keadaan berbahaya (api dan gempa dll – seperti gedung ditabrak pesawat dll) disarankan untuk segera lari menuju kearah tangga kebakaran dan turun di lantai yang langsung mengarah ke ruang terbuka. Tujuannya supaya semuanya segera berada di ruang terbuka yang aman. Pertanyaannya apakah tangga kebakaran cukup aman untuk ‘mendadak’ di pakai oleh ribuan manusia yang menempati gedung tersebut. Jawaban langsung saya sebagai arsitek… ‘waduh gedung yang mana ya…?</p>
<p>Disinilah letak masalahnya di Jakarta. Gedung2 yang ada di Indonesia dan Jakarta; kebanyakan didisain berdasarkan ilmu ‘kompromi’. Kompromi dalam hal:</p>
<p>1.     Perbandingan jumlah tangga kebakaran terhadap jumlah manusia didalam gedung.</p>
<p>2.     Kekuatan disain dari tangga kebakaran</p>
<p>3.     Ketepatan disain system pengendalian keamanan tangga kebakaran</p>
<p>4.     Ukuran minimum dari tangga kebakaran.</p>
<p>Jadi; jawaban langsungnya adalah: Tidak tau. Apakah betul aman atau tidak aman.</p>
<p>Tangga kebakaran itu sendiri sebetulnya berdasarkan ilmu arsitektur yang baik dan benar; sudah ada kriteria2nya untuk dapat dikategorikan aman. Dan kriteria2 ini sudah banyak diperbaiki setelah terjadinya banyak kecelakaan seperti yang terjadi di negara2 lain. Di Jakarta sudah cukup baik (diatas kertas) tetapi pelaksanaannya yang masih kurang diawasi.</p>
<p>Yang menjadi masalah juga dalam perhitungan okupansi (penghuni) dan perhitungan jumlah tangga kebakaran adalah perbedaan pengertian mengenai jumlah okupansi yang mana yang harus di pakai – aktual versus maximum &#8211; . Aktual menghasilkan jumlah tangga kebakaran yang lebih kecil; sementara maksimum memberikan jumlah tangga kebakaran yang lebih banyak.</p>
<p>Hal diatas menjadi masalah lagi. Di luar negeri sudah ter bukti. Karena perhitungan aktual menghasilkan jumlah tangga kebakaran yang mengakibatkan pada saat terjadinya bahaya; tangga tersebut dipenuhi oleh jumlah manusia (maksimum) yang diluar kapasitas tangga kebakaran tersebut. Kejadian ini sudah memakan korban di banyak Negara.</p>
<p>Jadi; kalau terjadi bahaya didalam gedung; harus menggunakan apa? Tidak ada pilihan lain; harus menggunakan Tangga Kebakaran. Bagaimana dengan bahaya jumlah manusia yang berlebihan didalam tangga? Tetap jauh lebih aman untuk turun dengan tangga kebakaran daripada berusaha turun dengan media yang lainnya; atau pun berlindung dibawah meja. Kenapa? Karena berlindung meja; pada bangunan yang strukturnya tidak kuat menahan getaran gempa atau terbakar; akhirnya dapat mengakibatkan keseluruhan gedung runtuh. Dan keruntuhan balok2 dan tiang2 gedung juga sangat berbahaya. Ditambah lagi dengan kemungkinan terjadinya kebakaran didalam gedung akibat runtuhnya dinding, kolom, balok dll.</p>
<p>Inti dari penggunaan Tangga Kebakaran adalah: men-transfer manusia dari daerah berbahaya menuju lapangan terbuka yang aman untuk di evakuasi.</p>
<p>Mengenai keamanan Tangga Kebakaran itu sendiri; mungkin saat ini sudah harus di perjuangkan kepada pemerintah untuk sesegera mungkin di lakukan audit keselamatan manusia didalam gedung terhadap semua gedung yang ada.</p>
<p>Pertanyaan berikutnya: kalau kita digedung tinggi yang terbuat dari kaca, apakah sesudah keluar dari gedung sudah pasti aman? Bukannya masih ada persoalan kaca2 gedung yang retak dan berjatuhan dari tempat yang tinggi?</p>
<p>Jawabannya: Ya betul dan kita masih tidak aman karena kaca2 tersebut. Kenapa  bisa begitu. Karena: banyak gedung yang tidak didisain dengan Safety Glass (karena lebih mahal). Sebetulnya secara arsitektur dan struktur ada ketentuan yang sudah cukup baik. Setiap ketinggian di hitung kekuatan angin dan lain lainnya dan dihitung kekuatan yang diperlukan untuk penahan (façade) selimut gedung. Pada kenyataannya hal inipun sering di kompromikan. Jadi jawabannya: sesudah keluar dari tangga kebakaran masih menunggu satu bahaya lagi… keretakan kaca2 dan berhamburannya serpihan kaca dari ketinggian.</p>
<p>Lalu pertanyaan berikutnya kalau kita sudah bisa keluar dari  dua bahaya tersebut; apakah kita akan aman? Jawabannya: masih belum. Karena keluar dari tangga kebakaran; dan mudah2an tidak kejatuhan kaca; tapi keluarnya kemana? Ruang terbuka. Ruang terbukanya bukannya sudah di penuhi oleh parkiran mobil? dan benda2 lainnya yang tidak seharusnya ada di area yang disebutkan: Assembly Space ?</p>
<p>Assembly Space adalah area yang di siapkan oleh pemerintah untuk evakuasi bahaya apapun juga; misalnya: gempa, angin keras (topan, kebakaran besar dll). Di area ini; seharusnya masyarakat yang tertimpa bahaya bisa melarikan diri dan menuju tempat tersebut untuk menunggu evakuasi pemerintah.</p>
<p>Pertanyaannya: ada kah tempat tersebut di Jakarta? Pernah dengar? Pernah tau? Pernah diumumkan pemerintah? Semua jawabannya tidak.</p>
<p>Assembly space adalah tanggung jawab pemerintah. Ini adalah masalah kedua yang saya tuliskan di awal artikel ini. Ini adalah persoalan Perencanaan Lingkungan. Dalam persyaratan2 perencanan tata lingkungan kota; assembly space diketahui dan dimengerti oleh perencana; kembali lagi yang menjadi persoalannya adalah kompromi2 yang harus dibuat yang mengakibatkan hilangnya assembly space.</p>
<p>Bagaimana kesiapan Jakarta dalam menanggulangi fenomena alam? Jawabannya tidak siap. Dalam segala jenis bahaya. Apakah itu gempa maupun banjir.</p>
<p>Yang harus diingat oleh semua penduduk Indonesia; adalah Negara kita ini duduk diatas tanah yang sangat kaya dengan hasil tambang artinya; banyak gempa dan fenomena alam yang tidak kita ketahui terjadi dibawah tanah. Laut kita kaya dengan hasil tambang dan laut; artinya laut kita sangat kaya dengan nabati dan kehangatan yang muncul dari dasar laut. Artinya kita dikelilingi laut yang memiliki gunung2 api dibawah laut.</p>
<p>Alangkah beruntungnya kita hidup di alam yang sangat kaya. Betul sekali. Tapi kita harus menyiapkan diri juga karena bahaya fenomena alam adalah kehidupan kita sehari2.</p>
<p>Dalam keadaan berbahaya; bagaimana menyelamatkan diri di Jakarta? Tidak diketahui juga.</p>
<p>Pertanyaannya: Apa yang ditunggu? Apakah harus ditungu sampai terjadi gempa besar yang menghancurkan gedung tinggi lalu mengakibatkan kebakaran besar dan membawa korban besar baru kita sadar untuk memperbaiki diri?</p>
<p>Kita tidak dapat memindahkan pulau Jawa ke planet Mars. Kita tidak dapat memindahkan rangkaian gunung api diatas tanah dan dibawah laut yang ada di Indonesia. Kapan masyarakat (termasuk para birokrat) bersedia untuk memperbaiki lingkungannya?</p>
<p>Bayangkan saja; jumlah populasi manusia yang ada di Jakarta yang harus dievakuasi pada saat terjadi fenomena alam yang besar. Apa yang harus dilakukan? Siapa yang harus melakukan? Mudah2an pemerintah punya rencana.</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/09/jakarta-dan-gempa-keselamatan-bangunan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
