Posts Tagged ‘komunitas’


11 Dec 2013

Seminar “Menggali Pengetahuan Kota untuk Kota yang Ekologis”

 

RUJAK POSTER

Poster designed by @idznie

 

Dunia memasuki abad kota di mana lebih dari separuh penduduk dunia akan tinggal di wilayah perkotaan. Pertambahan penduduk di kota tentu akan menghadirkan tantangan baru khususnya dalam membawa kota menjadi lebih ekologis.

Perubahan menuju kota ekologis memerlukan pengetahuan. Pengetahuan adalah prasyarat untuk perubahan. Hak atas pengetahuan adalah hak mendasar, di samping penting sebagai prasyarat untuk mampu berperan serta dalam proses pengambilan keputusan tentang masa depan kota.

Sejak Agustus 2011, Rujak Center for Urban Studies bekerjasama dengan kaum muda dan komunitas di tiga kota; Surabaya, Semarang dan Makassar, menjalankan program bernama Dinamika Pengetahuan Perkotaan (DPP). Program ini bertujuan membangun dinamika-pengetahuan (knowledge dynamics) perkotaan di tiga kota-wilayah Indonesia sebagai perintis, dengan cara menyemangati produksi-bersama pengetahuan perkotaan dan pemanfaatannya ke dalam proses penyusunan kebijakan perkotaan.

Program dilaksanakan dengan mengkonsolidasikan penelitian dan penilaian yang sudah ada, memanfaatkan media-sosial untuk memetakan kegiatan produksi dan pengetahuan warga kota sehari-hari, dan menyelenggarakan forum konsultatif dengan memanfaatkan platform media-sosial dan lembaga-lembaga setempat lainnya. Di akhir program, proses produksi pengetahuan perkotaan telah terbangun di tiga kota dan menghasilkan mesin crowd-sourcing online; ayorek.org (Surabaya), makassarnolkm (Makassar) dan ugd.org (Semarang).

Melalui seminar ini, perwakilan dari ketiga kota akan melaporkan hasil program DPP.

Selain itu, saat ini, Pemerintah Pusat melalui Kementrian Dalam Negeri sedang menyusun RUU Perkotaan. Seminar ini juga dimaksudkan untuk mengajak peserta memberikan masukan yang lebih substantif dalam proses penyusunan RUU Perkotaan selain masukan dari ketiga kota.

 

Seminar akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal            :  Selasa, 17 Desember 2013

Waktu                         :  12.00-16.30 WIB (dimulai dengan makan siang)

Lokasi                         :  Hotel Treva Internasional, Jl. Menteng Raya No. 33 Jakarta Pusat

 

Bagi yang berminat hadir, silahkan mendaftar ke alamat email : info@rujak.org

Tempat terbatas.

 

 

 

 

No Comments »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |


13 Sep 2013

Produksi bersama Pengetahuan Kesiagaan Bencana

IMG_1920

 

” Kita harus jeli membedakan bencana yang sepenuhnya karena ulah manusia dari bencana yang sepenuhnya tak terduga, seperti gempa bumi, tsunami dan gunung meletus. Banjir merupakan kejadian yang dapat dihentikan dan dapat diduga. Kita harus jernih melihat dan fokus untuk menghapuskan bencana itu. Sementara terhadap bencana-bencana alam yang tak terduga, memang kita harus fokus untuk bersiaga. Saya khawatir, kalau kita tidak jernih melihat ini, maka kita akan sibuk bersiaga terus terhadap bencana yang seharusnya dapat dihindari, dan ini mengakibatkan kurangnya usaha untuk menghapuskannya, seperti banjir Jakarta yang sepenuhnya karena salah pembangunan. Jadi, jangan kita sibuk membuat kesiagaan dan justru lupa membuat program yang menghapus banjir sama sekali. Dan itu mungkin sekali dilakukan kalau kita mau memperbaiki tata ruang, disiplin, dan seterusnya” – Marco Kusumawijaya

 

Pada 31 Agustus – 2 September 2013, Rujak Center for Urban Studies bersama ARKOM Jogja mengadakan workshop “Kreativitas dan kesiagaan Bencana” di Bumi Pemuda Rahayu.  Didukung oleh The Japan Foundation, workshop ini ditujukan untuk mempertemukan beragam pihak yang selama ini berkecimpung di isu kebencanaan (pemerintah, penyintas dan pekerja kemanusiaan) juga pekerja kreatif untuk bersama memproduksi pendekatan kesiagaan bencana yang lebih menarik dan kreatif.

Peserta datang dari wilayah berbeda dengan tipologi bencana yang berbeda, seperti Aceh (Tsunami), Sumatera Barat (gempa bumi), Yogyakarta dan Bantul (letusan gunung merapi dan gempa bumi) juga Jakarta (banjir).

IMG_1810

Workshop dibagi menjadi dua sesi yaitu sesi berbagi pengetahuan tentang kebencanaan dan sesi diskusi kelompok yang merumuskan pendekatan kreatif terkait kesiagaan bencana.

Dalam sesi berbagi pengetahuan, baik penyintas, pemerintah maupun pekerja kemanusiaan menjadi narasumber. Presentasi narasumber di sesi berbagi pengetahuan dapat diunduh di sini

Dari sesi ini, terangkum poin penting yaitu bahwa pengetahuan kesiagaan  bencana hanya dimiliki oleh sebagian orang. Kemungkinan besar hal ini  disebabkan karena :

a. Produksi pengetahuan belum dilakukan bersama. Penentuan jalur evakuasi dan penentuan lokasi pengungsian masih dilakukan secara sepihak, oleh pemerintah, dan belum secara maksimal melibatkan masyarakat. Salah satu contoh nya adalah pengalaman penyintas dari Aceh, Ibu Nilawati, di mana pada saat gempa bumi besar tahun ini banyak warga yang tidak lari menyelamatkan diri ke Gedung Tsunami, sebagaimana dilatih tiap tahunnya pada peringatan Tsunami. Sebagian besar warga justru lari menyelamatkan diri ke wilayah yang lebih jauh. Pilihan warga ini bukan tanpa alasan. Tsunami lalu memberikan mereka pengetahuan bahwa menyelamatkan diri ke wilayah tertentu (semisal Ketapang) yang berada di daratan tinggi terbukti menyelamatkan mereka.

Begitu juga pengalaman mereka terkait bangunan gedung. Dari pengalaman Tsunami, bangunan gedung termasuk bangunan yang tidak selamat dari Tsunami. Kepercayaan warga juga cukup kuat bahwa masjid lebih aman sebagai tempat pengungsian.

Bersama memproduksi pengetahuan menjadi catatan penting karena masih ada perbedaan cara pandang penyintas dan pemerintah tentang kesiagaan bencana. Salah satu contoh adalah kelompok penyintas Merapi di mana terdapat tiga (3) dusun (Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul dan Srenen) yang menetap di wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB 3) .

Sejak letusan besar di tahun 2010 lalu, tiga dusun ini menetapkan prinsip “Living in Harmony with Disaster” . Pesan tersebut mengakar karena kuatnya desakan dari pemerintah setempat untuk merelokasi warga yang masih tinggal di kawasan tersebut. Bagi warga, pilihan menetap di kawasan yang dikategorikan sebagai Kawasan Rawan Bencana bukan tanpa persiapan. Hingga saat ini, warga telah terorganisir membentuk Komunitas Siaga Merapi. Secara ekonomi, warga juga bersiaga dengan membetuk tabungan komunitas berupa tabungan bencana yang dikumpulkan melalui metode jimpitan.

Sebagai bentuk upaya penyadaran, komunitas ini, bersama ARKOM Jogja, membuat film dokumentasi yang merekam proses pendidikan kesiagaan bencana di tingkat anak-anak melalui metode gambar.

Kesiagaan warga di 3 dusun lereng Merapi bukannya tanpa dasar pengetahuan. Apa yang kita kerap sebut sebagai kearifan lokal telah mereka praktekkan selama ini. Pengetahuan yang dihasilkan dari proses hidup bersama alam membantu warga dalam menyiagakan diri terhadap bencana. Bunyi gemeretak pohon bambu, binatang yang berlarian, kelompok burung yang migrasi, merupakan pertanda bencana dan pengetahuan bagi warga untuk bersiaga.

Hal ini masih sulit dimengerti oleh pemerintah, khususnya dalam penetapan sistem peringatan dini (early warning system). Penetapan standar siaga dari pemerintah, yang didasarkan pada teknologi, menjadi terlihat bertolak belakang dengan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat.

 

IMG_1901

 

b. Pengemasan dan distribusi pengetahuan kesiagaan bencana belum mampu menjangkau masyarakat luas.

Catatan ini menjadi pendorong dilaksanakan nya workshop kreativitas dan kesiagaan bencana. Pengetahuan kesiagaan bencana yang belum tersebar ke masyarakat mensyiratkan dua hal, terkait pengemasan produk pengetahuan dan cara penyebaran pengetahuan itu sendiri.

Narasumber workshop, yaitu Hirokazu Nagata dan Takayuki Shimizu dihadirkan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka terkait kesiagaan bencana. Hirokazu Nagata adalah seorang arsitek yang bersama lembaganya, +arts,  diminta oleh Pemerintah Kobe untuk merancang strategi penyebaran pengetahuan kesiagaan bencana gempa. Dengan pendekatan kreatif dan pengemasan menarik melalui visual arts, Nagata telah mengkampanyekan kesiagaan bencana selama lima tahun terakhir. Menggandeng perusahaan, termasuk toko Muji, dan lembaga pendidikan, Nagata mengupayakan agar produk pengetahuan siaga bencana bisa tersebar ke berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Bicara kreativitas, Takayuki Shimizu, seorang pengrajin bambu dari Kota Beppu, memberikan workshop kerajinan bambu kepada pengrajin bambu yang tersebar di desa-desa sekitar Bumi Pemuda Rahayu.

 

IMG_1959

Di hari kedua workshop, peserta merumuskan beragam pendekatan kreatif terkait kampanye kesiagaan bencana. Peserta dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan tipologi bencana yang disebutkan di atas. Ide yang muncul dari diskusi kelompok terkait kesiagaan bencana sangat menarik. Untuk mensosialisasikan keberadaan dan fungsi gedung tsunami, kelompok tsunami menawarkan ide seperti “game virtual tsunami”, festival tsunami, dll. Game virtual tsunami ditujukan sebagai simulasi bencana. Prinsip di balik serangkaian ide ini adalah mendekatkan keberadaan dan fungsi gedung tsunami dalam kehidupan sehari hari warga.

Untuk gempa bumi di Sumatera Barat, kelompok peserta mengusulkan konsep yang bernama “Gadang Bagoyang”, yaitu alat sederhana berupa kerajinan berbentuk rumah gadang yang dipasang di rumah sebagai penanda adanya getaran untuk peringatan dini atas gempa bumi. Strategi yang ditawarkan terkait kesiagaan terhadap bencana dimulai dari level keluarga/rumah tangga yang kemudian akan menyebar hingga level komunitas.

Kumpulan ide kreatif dari empat kelompok dapat diunduh di sini

 

IMG_1957

Di akhir workshop, peserta mempresentasikan ide-ide kreatifnya dalam sebuah konferensi yang diadakan di Balai Bambu, Pakuncen, Yogyakarta. Rencana tindak lanjut workshop adalah undangan dari the Japan Foundation untuk peserta mengirimkan proposal program sebagai upaya merealisasikan proposal yang dihasilkan.

Diskusi antar beragam pihak penting untuk terus dilakukan. Proses yang dilakukan selama workshop kemarin menjadi media diskusi pertukaran pengetahuan dan cara pandang terkait kebencanaaan. Diskusi  lintas latar belakang memunculkan banyak ide tentang strategi dan pendekatan kesiagaan bencana yang lebih kreatif.

 

1 Comment »

Topics: , , , , , , , , | Agent of Change: none |


01 May 2013

Terbaru dari Rujak : Dunia Dalam Kota

Dunia dalam kota

Buku ini merupakan hasil dari kolaborasi penggerak isu kota di Makassar, Penerbit Ininnawa, Active Society Institut (AcSI), SADAR, TANAHINDIE, dan Makassarnolkm . Digawangi oleh penerbit Ininnawa, buku hasil penelitian tentang Pasar Terong Makassar terbit pada Maret lalu.

Pasar Terong menjadi muara pertemuan aliran komoditas dari 11 Provinsi di Indonesia. Tidak kurang sejuta petani yang ada di jazirah Sulawesi Selatan mengirim beragam bahan pokok ke sana. Pasar Terong juga merupakan salah satu dari empat pasar rujukan harga bahan pokok di Indonesia setelah Pasar Kramat Jati Jakarta, Pasar Turi Surabaya, dan Pasar Meda Kota di Sumatera Utara.

Buku ini adalah buku pertama yang merekam denyut manusia-manusia yang menghidupkan pasar terpenting di Sulawesi Selatan.

Tetarik membeli buku ini?

Buku “Dunia Dalam Kota” dapat dibeli di Rujak dengan harga Rp. 85.000, -.

Untuk permintaan buku, kirimkan data melalui email info@rujak.org

 

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


24 Apr 2013

Kota (Belum) Tanggap Banjir Yang (Tidak) Ramah Anak

IMG_0433

 

Oleh : Gita Hastarika

 

Anak-anak selalu terlihat gembira, bahkan saat mengalami banjir. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya.

Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, khususnya Muara Baru sudah akrab dengan banjir atau rob karena letaknya yang dekat dengan laut. Akan tetapi banjir di awal tahun 2013 ini mereka anggap kiamat kecil. “Saat banjir besar tahun 2002, ketinggian air masih di bawah satu meter. Tahun ini ketinggian air mencapai dua meter,” ungkap Mardiyah, warga Muara Baru, Penjaringan.

Salah satu penyumbang parahnya banjir di wilayah ini adalah terjadinya penurunan tanah. Tempo.com menulis pada 2008-2009, permukaan tanah Muara Baru (salah satu RW di kelurahan ini) turun sampai -14 cm dari permukaan air laut. Pada 2009-2010, angka itu bertambah menjadi -15.2 cm dari permukaan air laut.

Maka, bisa disimpulkan selama Jakarta belum bisa mengatasi masalah penurunan tanah ini, warga Muara Baru sulit berharap banjir tak akan terjadi lagi. Namun hal yang bisa dilakukan adalah menyiapkan daerah ini agar tanggap bencana. Masalahnya, belum ada sistem tanggap bencana di Penjaringan yang siap dalam mengoordinasi pengungsi dan bantuan, termasuk distribusi perahu karet, dan membuat dapur umum yang siap melayani orang banyak.

Herannya, kepanikan seperti yang dirasakan oleh Mardiyah jarang kita lihat dari anak-anak. Di berita-berita, kerap terlihat anak-anak girang meski rumah mereka terendam. Mungkin karena mereka bisa berenang gratis, atau sekolah mereka diliburkan, atau senang masuk TV.

 

IMG_0425

Padahal, saat banjir, anak-anak adalah korban yang paling menderita. Buktinya, pasca banjir, pasien Posyandu menumpuk. “Anak saya terkena muntaber. Banyak yang demam tinggi dan terkena penyakit kulit,” ujar Mardiyah, Kader Posyandu. “Kesannya mereka tidak mengerti kalau banjir itu bencana, padahal tubuh mereka tidak bisa berbohong jika situasi itu tidak nyaman bagi mereka,” tambahnya.

 

IMG_0659

Kondisi pengungsian yang sesak dan sekolah yang terendam juga membuat anak-anak tak bisa berkegiatan normal.

Permasalahan yang memperparah dampak banjir di Kelurahan padat penduduk ini adalah tidak adanya titik-titik evakuasi yang terencana. Masih untung di kelurahan ini terdapat sekolah negeri, mesjid, dan Rusun Penjaringan yang bisa dialihfungsikan sebagai shelter yang kering, walau tidak bisa menampung seluruh pengungsi. “Banyak keluarga, khususnya yang rumahnya bertingkat, tidak mengungsi, karena setelah sampai di posko, ternyata poskonya sudah penuh. Anak-anak tidak bisa tidur, mau selonjor saja susah.” Selain itu anak-anak yang selalu bermain akan merasa stress karena hari-harinya berlalu tanpa kegiatan yang berarti.

Dalam kondisi seperti ini, warga RT 19 dan 20 yang mengungsi di Rusun Penjaringan beruntung karena bisa memanfaatkan Ruang Sahabat Anak (RSA) yang dibuka Wahana Visi Indonesia (WVI).  RSA merupakan shelter yang didesain untuk memberikan kenyamanan dan mengisi waktu anak-anak dalam masa tanggap bencana. Di  RSA, sekitar 100-200 anak mendapat berbagai fasilitas termasuk mobil perpustakaan. Salah satunya Adinda (8), “Senang, di sini bisa bermain dan membaca, jadi tidak bosan.”

 

IMG_1670

 

 

IMG_0937

 

Selain itu, WVI juga menerjunkan tim fasilitator yang mengajarkan anak-anak menggambar, mewarnai, juga bermain. Gambar-gambar anak-anak ini kemudian dipajang di dinding Rusun sehingga menciptakan suasana yang menyenangkan. WVI juga memberikan pelatihan bagaimana memberi makan anak yang sehat dan higienis, yang sering dilupakan pada masa banjir.

 

IMG_0972

 

 

IMG_1739

Sulitnya mendapatkan makanan dan peralatan anak-anak juga dirasakan oleh ibu-ibu di Penjaringan. “Semua toko tutup. Saya sempat berjalan kaki ke Pluit berharap Pluit Imperium buka, tapi ternyata tutup juga,” ungkap Mardiyah. Ia mengatakan saat terjadi banjir, bantuan yang paling sering disalurkan adalah mie instan, dan banyak anak-anak balita apalagi batita yang belum diperbolehkan mengkonsumsi makanan seperti itu.

Wahana Visi Indonesia yang memiliki program pengembangan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan anak di Kelurahan Penjaringan y juga memiliki program tanggap bencana. Ini mengapa saat banjir kemarin, mereka bisa langsung mengerahkan perangkat yang sudah siap untuk merespon bencana. “Kami langsung membuka Ruang Sahabat Anak di posko-posko yang memungkinkan, menyalurkan bantuan children kit yang terdiri dari selimut, bedak, minyak telon, sabun, odol, sikat gigi anak, dan school kit, serta bekerja sama dengan Kader Posyandu menyalurkan makanan pendamping ASI untuk batita dan balita,” jelas Shintya Kurniawan, Media Relation WVI.

Program tanggap bencana seperti yang dilakukan oleh WVI memang sudah banyak dilakukan oleh LSM-LSM lokal dan internasional, pemerintah, atau organisasi masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang terkena bencana alam seperti gempa bumi atau tsunami. Namun melihat bencana lingkungan semakin mengancam kawasan urban seperti Penjaringan yang minim fasilitas umum dan tempat evakuasi, maka sistem tanggap bencana yang ramah pada anak-anak juga patut diaplikasikan di kawasan urban yang rawan banjir atau mungkin kebakaran.

Fabianus Boli Uran, senior field facilitator WVI mengatakan Maret ini akan bicara dengan seluruh stakeholder di Penjaringan untuk membangun sistem tanggap bencana yang komprehensif. Dengan demikian bantuan yang datang akan terkoordinasi dengan BNPB dan pemerintah setempat, dan didukung perangkat yang ada di wilayah tersebut seperti Kader Posyandu, Kelurahan, Karang Taruna, dsb. Sistem ini dapat direplika oleh kawasan-kawasan rawan banjir lainnya, khususnya yang memiliki keterbatasan fasilitas dan ekonomi, serta padat penduduk. “Wilayah lain seperti Kampung Melayu sudah lebih tanggap menghadapi banjir. Seharusnya, Penjaringan, yang hampir selalu tergenang saat laut pasang, juga memiliki sistem tanggap bencana yang ramah anak-anak.”

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


07 Sep 2012

Aku Cinta Jakarta?

“We experience our cities emotionally, yet we talk about them technically.” Charles Landry, The Creative City

Dengan membayar pajak, menaati peraturan dan mengikuti pilkada, banyak warga kota telah merasa cukup berpartisipasi dalam kehidupan berkota. Kemudian tipe warga seperti Ini mengharapkan pemerintah melakukan segalanya untuk membuat hidup mereka lebih mudah atau sesuai standarnya. Keterlibatan mereka dengan kota berhenti di 3 hal tersebut, tanpa merasa perlu dan penting untuk menghadiri pertemuan warga, pembangunan yang terjadi di sekitarnya atau peduli dengan masa depan kota.

Apakah itu cukup?

Berapa banyak warga kota melihat kotanya seperti meja buffet all you can eat, dimana mereka bisa pilih dan ambil apa yang mereka suka, dan tidak memakan yang menurut mereka tidak enak. Atau mungkin seperti supermarket, dimana warga bisa memilih jenis dan jumlah produk sesuai dengan uang di kantung mereka,

Namun jika bertanya, apakah kamu cinta kotamu? Berapa banyak yang menjawab: ‘ya, saya cinta.’?

Kata cinta mungkin terasa aneh jika disandingkan dengan kota dan perencanaan. Kata cinta bisa jadi tidak pernah muncul dalam diskusi serius tentang kota, rapat perencanaan atau dokumen kota. Dengan pemilihan kata-kata yang sangat teknis, membuat imajinasi menjadi sempit, mengisi ruang teknis tersebut.

Bagaimana jika kita mulai membawa cinta kedalam diskusi kota? Tentu indah. Cinta pada seseorang membuat kita mau berbuat lebih, menghargainya dan menjaganya tanpa pamrih. Cinta membuat kita menjadi sabar, pemaaf dan memaklumi, membuat kita tersenyum ketika mengingat rasa itu.
Cinta pada kota membuat warganya ingin berbuat lebih. Mereka merasa tidak cukup jika hanya berhenti pada membayar pajak, coblos pilkada atau mengeluh akan kemacetan.
Cinta pada kota membawa warganya rela berkorban untuk kota, dan yang lain memaklumi hal tersebut.

Saat ini Rujak sedang berada di Makassar, mengikuti forum Dinamika Pengetahuan Perkotaan yang sedang diadakan oleh warga Makassar. Didalam ruangan, ada banyak yang berkata: “Saya cinta Makassar”. Mereka berbicara dengan antusias mengenai kenangan yang meraka miliki dan harapan masa depan Pantai Losari.

Bagaimana dengan Jakarta? Bisakah warganya menemukan satu atau beberapa hal yang membuat mereka cinta? Bisakah mereka melihat Jakarta bukan sebagai sekadar tempat cari uang?

1 Comment »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


06 Jul 2012

Sampah di Jakarta, bagaimana kelolanya?

 

Pada Mei lalu, Rujak kembali mengadakan diskusi akhir pekan yang kali ini bertemakan sampah di Jakarta. Diskusi pada akhir minggu di pertengahan bulan Mei tersebut dimulai dengan pemutaran film tentang Revolusi Hijau di kota Sau Paulo, Brazil. Bila tersebut frase revolusi hijau, maka yang terlintas di ingatan kita adalah sistem intensifikasi olah tanah dan tanaman pangan dengan tujuan meningkatkan hasil pertanian. Tetapi, di Sau Paulo, yang disebut dengan revolusi hijau adalah pengelolaan sampah skala kota. Melalui proyek Clean Development Mechanism, kota Sao Paulo di Brazil berhasil mengubah dua tempat pembuangan sampah terbesar di kota itu menjadi ramah lingkungan.

Untuk sampah basah, kota ini mengolahnya melalui sistem landfill dengan hasil akhirnya adalah energi listrik yang dihasilkan dari olahan gas metan. 40 ribu ton sampah, setinggi Menara Pisa, dihasilkan setiap harinya oleh warga Sao Paulo. Dari pengolahan dengan skema “waste to energy”, satu ton sampah yang diolah dapat menghasilkan 200 liter metan, dan dapat menerangi satu rumah selama 1 jam. Pengolahan landfill selama satu tahun dapat menerangi 400.000 warga Sao Paulo.

Dari 2004 hingga September 2011, kedua tempat pembuangan sampah tersebut berhasil mencegah pelepasan 352.000 ton gas metana ke udara dengan mengubahnya menjadi listrik berkapasitas lebih dari 1 juta MW. Tidak hanya sampah basah, sampah kering juga diolah dalam skala besar, seperti kaleng-kaleng, kertas, dan metal. Untuk pengolahan sampah kaleng, dari sejumlah 10 ton sampah kaleng yang dihasilkan, 9 ton dapat diolah oleh 14 perusahaan yang juga berperan sebagai pusat pengumpul. Keberhasilan ini kemudian digadang-gadang oleh pemerintah Kota Sao Paulo yang dianggap telah berhasil mengolah sampah dan mengelola kota menjadi lebih bersih dan nyaman.

Lalu, bagaimana dengan Jakarta?  Sebagai megapolitan ternyata Jakarta menghasilkan sampah melebihi 6000 ton sampah/hari (JBIC SAPROV 2007). Dari jumlah tersebut, kontributor terbesar adalah sampah rumah tangga (52,97%), kantor (27,35%), industri (8,97%), sekolah (5,32%), pasar (4%). Menjadi prihatin kemudian, sebagai kontributor sampah terbesar, 80% sampah rumah tangga di Jakarta tidak didaur ulang.

Bicara tentang skema Clean Development Mechanism (CDM) , Dini Trisyanti dari InSWA yang hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut menjelaskan bahwa Indonesia, termasuk Jakarta, sudah tidak asing dengan skema ini. Menurutnya, mekanisme CDM (dilahirkan melalui Protokol Kyoto), juga sudah dilakukan di beberapa daerah di Indonesia. CDM di sini adalah mekanisme insentif yang diberikan apabila gas metan dari landfill bisa dimanfaatkan dan tidak terlepas ke udara.

Sosialisasi di tahun 2005 diikuti oleh pelaksanaan di beberapa daerah seperti Bekasi, Makasar, Palembang, dan Bali. Pada periode 2010-2011 evaluasi yang dilakukan terhadap pelaksanaan skema ini menunjukan bahwa skema ini tidak berhasil di Indonesia.

Menurut Dini, terdapat kesalahan presepsi para pihak yang menerapkan CDM.  Para pihak hanya melihat sebagian dari keseluruhan proses tentang bagaimana mengubah sampah menjadi energi, tetapi tidak melihat seluruh konsep pengelolaan sampah. Para pihak cenderung hanya fokus mengekstrak gas sebanyak mungkin untuk diubah menjadi listrik dan pada akhirnya mendapatkan dana, bukan fokus membuat landfill yang bagus. Menurutnya, itu merupakan persepsi keliru yang kemudian menjadi boomerang. Persepsi ini kemudian mendorong investor untuk mengklaim bahwa mereka bisa mengolah sampah dan hasilkan listrik di mana si penghasil sampah tidak perlu membayar apa-apa, dengan asumsi akan dapat menjual listrik itu kembali. Sehingga, pada akhirnya tidak ada yang jalan.

Salah satu contoh adalah Konsep CDM di Bali pada tahun 2005. Pihak swasta pengelola menegaskan bahwa biaya operasional/ tipping fee tidak diperlukan. Namun, pada prakteknya, untuk mendapatkan landfill yang baik sehingga menghasilkan gas yang banyak, diperlukan penataan yang memakan biaya besar. Akhirnya proyek menjadi terbengkalai hingga saat ini.

 

Menurut Dini, yang harus dilihat secara utuh adalah di aspek cleaning service nya karena masalah sampah didominasi oleh masalah non teknis (80%). Masalah teknis hanya 20%. Menurutnya, kita perlu pahami konsep utuh tentang sampah melalui 5 aspek, yaitu

1. Aspek hukum. Sejak 2008 melalui UU no 18 tahun 2008 Indonesia sudah memiliki Undang-Undang tentang Sampah. Namun peraturan perundang-undangan di bawahnya masih belum terbentuk seperti PP, Perda bahkan Pergub.  Hal ini tentu saja mempersulit pelaksanaan ketentuan dalam UU.

2. Aspek institusi. Siapa sebenarnya lembaga yang bertanggung jawab untuk urus sampah? Apakah hanya Dinas kebersihan?

Menurut Dini harus ada keterlibatan juga dari institusi lain seperti Kementrian PU, Kementrian Perhubungan, Kementrian Sosial, Kementrian Tenaga Kerja, Kepolisian, dll terkait penanganan sampah. Saat ini masing-masing dinas tersebut punya program sendiri untuk penanganan sampah, tetapi tidak ada sinergi di dalamnya.

3. Aspek finansial. Aspek ini merupakan aspek yang paling sering disalahartikan. Menurutnya, waste to energy bisa menghasilkan uang. Tetapi ketika itu saja yang yang dipahami dari pengelolaan sampah, maka jadi salah kaprah.  Karena ada anggapan mengolah sampah menghasilkan uang, justru yang mengolah diminta untuk membayar sampah yang dihasilkan. Seharusnya yang mengolah justru diberikan insentif. Jangan diartikan bahwa industri barang bekas, waste to energy, bisa menyelesaikan masalah sampah. Yang juga harus dilihat adalah konsep cleaning servicenya atau operasional pengelolaan sampah.

 

“Prinsipnya, karena kita buang sampah maka kita harus bayar. Yang terjadi, si pengolah sampah justru harus beli sampah dari si penghasil sampah. Prinsip yang tepat adalah polluter pays principle”.                                                              - Dini Trisyanti-

Untuk bisa ke tahap warga membayar biaya pengelolaan sampah di Indonesia, menurutnya, minimal pemerintah mensubsidi dulu. Apabila pemerintah dapat buktikan mampu kelola sampah, warga akan mengikuti.

Terdapat beragam pembiayaan dalam pengelolaan sampah. Pertama, ada biaya investasi (tingkat DKI Jakarta investasi nya sekitar Rp. 100-200 juta/ton).  Lalu biaya operasional termasuk di dalam nya biaya pengolahan sampah (tipping fee), biaya menimbang, pemadatan dan penutupan land fill. Idealnya, menurut Dini, pengelolaan sanitary landfill memakan biaya Rp. 250ribu/ton. Di Indonesia, hanya Jakarta yang bersedia membayar mendekati biaya ideal, yaitu Rp. 114 ribu/ton.

4. Paradigma. Terkait paradigma, menurut Dini, yang sulit untuk diberikan pemahaman adalah para pengambil kebijakan, dalam hal ini anggota legislatif. Menurutnya, Pemda sudah mengerti alasan besarnya biaya atau anggaran pengelolaan sampah. Tetapi, pemahaman yang baik justru tidak ada di tingkatan DPRD.

Sebagai contoh, ketika Pemda DKI ingin membangun incinerator di Sunter melalui pendekatan intermediate treatment facility atau pengolahan sampah di dalam kota dengan teknologi tinggi, dengan kapasitas 1000 ton, DPRD Jakarta mempertanyakan rencana tersebut. Pertanyaan DPRD terkait faktor pembiayaan pengelolaan incinerator sejumlah Rp. 400 juta/hari. Pendekatan ini melibatkan biaya tipping fee besar yang belum bisa dipahami oleh anggota legislatif. Karena masih ada perdebatan di level pengambil keputusan, maka program ini masih tertunda.

Hingga saat ini, pengelolaan sampah masih terpusat di Bantar gebang, yang belum menggunakan konsep pengelolaan dengan CDM. Menurut Dini, TPA ini lebih fokus pada bagaimana menglola sampah dengan landfill yang baik. Sehingga, pengolahan sampah di Bantar Gebang tidak mendapatkan insentif dari CDM tetapi mendapatkan tipping fee dari Pemda.

Selain itu, ketentuan tentang berapa % seharusnya anggaran untuk pengelolaan sampah (untuk menimbang, memadatkan dan menutup sampah), sampai sekarang belum jelas. Bahkan menurut Dini, kementrian teknis terkait belum memberikan data detail sampai saat ini. Sedangkan menurutnya, apabila tidak ada anggaran dari PU maka Pemda tidak mempunyai dasar untuk  mengalokasikan anggaran pengelolaan sampah.

Setelah adanya kesamaan pemahaman antara Pemerintah dan DPRD, maka aspek lain yang diperlukan adalah edukasi ke masyarakat, yang menurutnya justru banyak melakukan terobosan. Seharusnya, inisiatif-inisiatif  dari masyarakat diakui dan disambung oleh pemerintah, tambahnya.

5. Aspek teknologi. Menurut Dini, setiap pilihan teknologi yang digunakan akan menentukan biaya yang dikeluarkan. Terkait pilihan teknologi, Dini mengumpamakan teknologi seperti obat. Apabila diperlukan untuk jangka pendek, maka harus dilakukan. Untuk saat ini, pengelolaan yang terpusat membutuhkan landfill dan menggunakan incinerator. Walaupun banyak efek sampingnya, seperti soal pencemaran udara, menurutnya harus dilakukan.

Untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan, menurutnya ke depan perlu mengubah pilihan teknologi secara bertahap. Hal ini sangat terkait dengan pilihan luas cakupan pengolahan sampah. Apabila cakupannya adalah wilayah kota, maka incinerator masih akan mungkin digunakan. Tetapi, apabila pengolahan sampah dilakukan di skala wilayah yang lebih kecil, semisal tingkat kawasan (kelurahan/RW) atau bahkan pengelolaan di tingkat rumah tangga, maka hal ini bisa mengubah pilihan teknologi dan tentunya, jumlah biaya yang dikeluarkan.

 

Idealnya ke depan, tiap-tiap rumah tangga dapat mengelola sampah yang dihasilkannya. Seperti disebut di atas tentang banyaknya jumlah inisiatif oleh warga, salah satu peserta diskusi menceritakan pengalaman komunitas nya. Ricky Lestari yang mewakili Komunitas Hijau Pondok Indah (KHPI) memaparkan bahwa melalui program Masuk RT (Manajemen Sampah untuk Kawasan Rumah Tangga), KHPI mencoba mengelola sampah di tingkat komunitas. Visi dari program ini adalah zero waste yaitu visi di mana warga Pondok Indah bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan dengan cara mengurangi, memanfaatkan kembali, dan mendaur ulang sampah.

Menurutnya, zero waste akan dicapai dengan pemilahan sampah di masing-masing rumah tangga, RT, dan RW dan penyaluran sampah ke tempat-tempat tertentu (pabrik daur ulang kertas dan plastik, pabrik daur ulang dan tempat pembuatan kompos). Program tersebut dimulai dengan riset pada tahun 2011 tentang volume dan komposisi sampah. Hasil riset menyebutkan bahwa sebagian besar sampah yang dihasilkan adalah sampah rumah dapur  (53%). Bekerjasama dengan beberapa pihak seperti Greeneration Indonesia, mahasiswa, CIMB Indonesia, pengembang (Metropolitan Kencana) dan RW 13, KHPI mengaplikasikan program  tersebut di 3 RT di wilayah RW 13.  Selain RW 13, saat ini RW lain di kawasan Pondok Indah juga tertarik dan meminta untuk diadakan program yang sama.

 

Bicara tentang inisiatif dari masyarakat, menjadi catatan peserta diskusi kemudian bahwa saat ini sudah banyak sekali inisiatif yang coba dimunculkan namun masih kurang difasilitasi oleh pemerintah. Artinya, walaupun beragam komunitas sudah mencoba mengolah sampah, minimal melakukan pemilahan di tingkat rumah tangga, akan menjadi sia-sia apabila beragam inisiatif ini tidak coba diakomodasi di cakupan wilayah yang lebih besar, semisal kawasan seperti Kelurahan, atau bahkan Kotamadya.

Diskusi kemudian mengidentifikasi bahwa selama ini tidak semua warga saling mengetahui adanya inisiatif-inisatiif tersebut, atau bahkan mengetahui bagaimana pengelolaan sampah di Jakarta dilakukan.

Di akhir diskusi, peserta menyepakati bahwa perlu dilakukan pemetaan tentang skema pengelolaan sampah di Jakarta. Untuk memulai usul tersebut, tur sampah kemudian menjadi kesepakatan peserta yang nantinya dapat difasilitasi oleh Rujak Center for Urban Studies (RCUS). Rencananya, tur sampah akan diadakan pada Juli ini dan diharapkan bisa dilanjutkan dengan dihasilkannya produk pemetaan pengelolaan sampah Jakarta.

Informasi dan pendaftaran untuk tur sampah, silakan klik.

 

2 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


05 Apr 2012

Media Sosial dan Pemanfaatannya

Oleh Dian Tri Irawaty

 

“ Pengguna facebook kita ada 30,1 juta, itu adalah no 2 terbesar pengguna di dunia”.

 

“Untuk pengguna twitter, kita ada 6,2 juta. Kalau dari sisi jumlah, kita no.3 pengguna terbesar di Asia. Di dunia kita yang paling tinggi dalam hal men-tweet, yaitu sebesar 20,8%. Amerika itu cuma 11,9% dan peringkat dua adalah Brazil dengan 20,5%”.

 

“Kalau dihitung-hitung dengan yang menggunakan handphone, pengguna internet di Indonesia mencapai 45 juta pelanggan”

 

“Jumlah blogger kita ada 2,7 juta blogger”.

 

“Pengguna Handphone ada 150-180 juta orang. Ini angka yang besar sekali, kalau kita bicara soal penggunaan media sosial  di Indonesia”.

 

Serangkaian cuplikan kalimat di atas adalah bagian dari film Linimas(s)a yang diputar pada Sabtu akhir Maret lalu di kantor Rujak. Pada hari itu Rujak mengadakan Rujak Sorot dan Diskusi dengan tema Kota dan Ruang Maya. Film @linimas(s)a adalah sebuah film dokumenter yang menggambarkan pemanfaatan media sosial untuk kampanye atau perubahan sosial di segala isu seperti kemanusiaan, bencana alam, keadilan, HAM, dll.

Ada banyak cerita yang terangkum dalam film dokumenter tersebut. Ada kisah penarik becak di Jogja yang mengiklankan jasanya melalui FB dan Twitter, ada Komunitas Blogger Bengawan yang mengadakan kegiatan pelatihan penggunaan internet untuk orang-orang dengan kemampuan berbeda (diffable), ada kisah perjuangan koin untuk Prita, kisah upaya pengumpulan donor darah (blood for life), kisah relawan (Lintas Merapi) untuk Bencana letusan Gunung Merapi 2010 dan juga kisah dukungan aksi anti korupsi – Satu Juta Dukungan untuk Bibit-Chandra, yang kesemuanya menggunakan beragam media sosial seperti twitter dan FB dalam mengkampanyekan isu.

Hadir dalam diskusi yang juga merangkap sebagai penanggap adalah Ignatius Haryanto (pakar media) dan Glenn Marsalim (pakar periklanan). Terhadap film tersebut,  keduanya menilai film dokumenter ini sebagai film yang menarik dan meresonansi fungsi media sosial.

Ignasius Haryanto melihat media sosial, dalam film tersebut, sebagai alat yang menarik untuk eksperimen-eksperimen seperti blood for life, lintas merapi, pengiklanan jasa penarik becak, dll. Dalam hal ini,  Hari (panggilan Ignatius Haryanto) menilai bahwa media sosial dilihat sebagai alternatif sumber informasi. Apabila dikawinkan dengan media mainstream, maka informasi yang dihasilkan akan lebih berpengaruh. Dengan semakin maraknya penggunaan media sosial maka, menurutnya, media tidak lagi dikonsumsi secara pasif. Pemanfaat media saat ini sudah terlibat, tidak hanya mengkonsumsi secara pasif, tetapi juga mengelola informasi tersebut baik dalam bentuk berbagi (share, retweet) ataupun mengkonsumsi dengan kritis. Hal positif lain yang muncul adalah meningkatnya budaya partisipasi dan solidaritas di kalangan pemanfaat media sosial, sebagaimana tercerminkan dalam film @linimas(s)a.

 

Yang menjadi catatan Hari atas fenomena pemanfaatan media sosial adalah di soal akurasi informasi yang berseliweran. Menurutnya, berseliwerannya informasi juga memiliki kelemahan tersendiri yaitu semakin sempitnya jarak ruang dan waktu yang membuat ingatan kita menjadi pendek. Kampanye isu dalam media sosial  (hangatnya berita) memiliki waktu  kisaran tiga (3) hari di mana dalam media mainstream, sebuah isu bisa dikelola selama enam (6) hari, atau lebih.

Contoh yang Hari angkat adalah kampanye koin Prita. Hari mengingatkan kita semua bahwa walaupun kasus Prita masih berlanjut hingga saat ini di tingkat Mahkamah Agung, namun semangat orang-orang yang dulu perduli tidaklah sama lagi.

Hal lain yang dikiritisi oleh Hari dari fenomena pemanfaatan media sosial adalah di soal tingkat kepedulian atau solidaritas. Sejauh mana masyarakat benar-benar peduli terhadap isu atau wacana yang diangkat melalui media sosial? Apakah sebatas meng-klik saja atau hingga komitmen dalam bentuk aksi nyata?

Kekhawatiran Hari dijawab oleh Glenn Marsalim yang melihat bahwa pemanfaatan media sosial   secara masif saat ini merupakan euforia media sosial. Menurutnya, untuk menjadi alat penggerak yang masif, ada tiga prasyarat dalam pemanfaatan media sosial, yaitu:

  1. Bahwa isu yang dikampanyekan memiliki aspek personalitas. Artinya, isu yang diangkat merupakan isu yang bisa dirasakan oleh masing-masing pribadi pengguna media sosial. Glenn mencontohkan kampanye koin Prita di mana dia menilai bahwa masyarakat yang mendukung kampanye tersebut merasa terkait dengan kasus yang dialami Prita baik sebagai ibu rumah tangga ataupun Prita sebagai konsumen.
  2. Bahwa isu yang dikampanyekan memiliki jalan cerita. Ada kisah di situ, soal ketidakadilan, kemanusiaan, dll.
  3. Bahwa kampanye tidak hanya sebatas wacana tetapi juga mewujud dalam aksi nyata dan mudah dilakukan seperti meng-klik dukungan (dalam sejuta dukungan untuk Bibit-Chandra) atau mengumpulkan koin (dalam kasus koin untuk Prita).

Prasyarat ini bisa menjawab apa yang menjadi catatan Yanuar Nugroho dalam film, bahwa bicara soal solidaritas, ada perbedaan besar antara kampanye koin Prita  dengan kampanye Lumpur Lapindo. Menurut Glenn, hal ini disebabkan unsur personalitas dan aksi nyata yang mudah, tidak terpenuhi di kampanye Lumpur Lapindo.  Ada perbedaan antara membantu seorang Prita dengan membantu ratusan keluarga korban Lumpur Lapindo. Ada aksi nyata dan mudah dilakukan dalam kampanye koin Prita, tetapi sulit direalisasikan untuk kampanye lumpur Lapindo, terlebih lagi yang disasar adalah perusahaan milik Bakrie.

Bicara soal keberlanjutan isu, terkait dengan karakteristik ingatan pendek dari media sosial, salah satu peserta, Anita, menyarankan untuk terus menerus mengkampanyekan isu atau wacana melalui media sosial. Anita mengungkapkan bahwa setiap harinya mengupload video lagu John Lennon yang berjudul “Imagine”. Hal ini sudah ia lakukan lebih dari 40 hari berturut-turut sebagai upayanya mengkampanyekan perdamaian.

Percobaan tersebut belum memberi jawaban apakah upayanya itu bisa memperpanjang ingatan pendek yang dimiliki oleh media sosial. Tetapi, Anita menjelaskan bahwa setiap harinya selalu ada respon yang ia terima atas video yang diupload.

Menyoal kampanye melalui media sosial, menurut Glenn, terlepas dari peran media sosial sebagai media kampanye yang efektif, perlu diingat bahwa sebagian besar pengguna media sosial berusia belasan tahun hingga awal 20-an yang sebagian besar menggunakan media sosial untuk bersenang-senang, lucu-lucuan, berteman, dan juga sebatas mengeluh soal layanan publik yang buruk. Mereka bukanlah kelompok masyarakat yang kerap semangat merespon kampanye isu-isu sosial.  Jumlah pengguna FB dan Twitter yang fantastis, menurut Glenn, kerap disalahartikan sebagai mereka yang akan selalu responsif atas kampanye-kampanye sosial.

Pendapat Glenn dikuatkan oleh hasil riset Merlyna Lim berjudul @crossroads: Democratization & Corporatization of Media in Indonesia, tahun 2011. Dalam hasil riset tersebut, terungkap bahwa pengguna internet adalah mereka yang berusia 18-24 tahun (41%) dan pengguna mobile web sebagian besar (53%) adalah mereka yang berusia 18-27 tahun.

Pada akhir diskusi, ada beberapa poin karakteristik dari media sosial yang bisa dikerucutkan yaitu bahwa sebagai sebuah euforia, media sosial hadir sebagai media di mana kita bisa mengakses informasi dari orang-orang yang bukan bagian dari jaringan yang kita miliki. Dalam hal ini, Hari mencontohkan manfaat media sosial bagi jurnalis yang melalui media sosial mampu mendapatkan informasi dari warga dalam bentuk jurnalisme warga. Hal ini, menurutnya tetap memerlukan pengecekan dari jurnalis tersebut. Gambaran yang sama juga dibahas oleh Paul Lewis: Crowdsourcing the News (http://www.ted.com/talks/paul_lewis_crowdsourcing_the_news.html) yang menggambarkan bagaimana dia bisa mengungkap dua kasus kematian berdasarkan informasi yang dia terima sebagai respon atas diumumkannya berita tersebut melalui media sosial.

Selain sebagai media crowdsourcing, media sosial juga  mampu memunculkan kembali dan menguatkan nilai-nilai solidaritas dan budaya partisipasi di masyarakat. Namun, ada catatan dari situ yaitu ingatan jangka pendek dari media sosial dan seliweran informasi yang akurasinya harus tetap kita kritisi.

Pada akhir diskusi, salah satu peserta menanyakan berapa lama lagi FB dan Twitter masih digunakan oleh masyarakat? Glenn menegaskan bahwa  pada hakekatnya media sosial tidak akan berhenti, ia hanya bertransformasi.

1 Comment »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


12 Mar 2012

RujakEvent Maret 2012 “Kota dan Ruang Maya”

 

Rujak Center for Urban Studies mengadakan event rutin tiap Sabtu dan pada edisi Maret ke-2 ini. Sesuai dengan highlight bulan Maret akan berkisah tentang Kota dan Ruang Maya, berikut ragam kegiatan Sabtu kami:

Rujak Screen and Share: 31 Maret 2012  09.30 – 12.00

Kami akan menampilkan film karya dari ICTWATCH.COM dan WatchDoC ini memakai istilah “Linimasa” atau “timeline” dengan penanggap  yang Rujak hadirkan adalah:

1. Ignatius Haryanto (pakar media)

2. Glen Marsalim (pakar periklanan)

—————————

Semua kegiatan akan dilakukan di

Rujak Center for Urban Studies
Graha Ranuza Lt. 2
Jalan Timor no.10
Belakang Plaza BII Thamrin
Menteng, Jakarta
——–
Nah kami nantikan kehadiran anda, tapi jangan lupa mendaftar dengan mengisi form dibawah ini.
Salam dan Mari Berbagi!

Comments Off

Topics: , , | Agent of Change: none |