Posts Tagged ‘kota’


26 Apr 2012

Patungan, Yuk!

Yuk, Berpatungan

Punya impian kreatif namun tidak ada dana dalam mewujudkannya? Ingin berwira-sosial namun tidak kendala dana? Lagi dan kerap kali dana menjadi masalah untuk menggapai mimpi.

Tapi jangan lupa, sikap gotong royong sudah mendarah daging dalam masyarakat. Banyak sekali orang yang mungkin memiliki minat sama dengan anda, dan mau membantu dalam bentuk dana untuk mewujudkannya.

Patungan.net adalah bentuk media yang memungkinkan bertemunya pemilik ide dengan penyandang dana. Seperti dikutip dari situsnya, Patungan.net bertujuan untuk mendorong perkembangan kinerja kewirausahaan Indonesia. Pengaju proyek dilatih untuk, selain memikirkan teknis proyek ajuan, mereka dituntut untuk dapat mempresentasikan (menjual) gagasan, mempromosikan, yang dilakukan secara pararel dengan melakukan tahapan kerja, dan ‘memelihara’ dukungan.

Proyek seperti apa yang diharapkan ada di Patungan.net? Proyek yang diajukan, memenuhi kriteria dasar, yaitu;
• Berpikiran terbuka
• Berguna bagi publik
• Bertema: lingkungan (hidup dan sosial), sejarah, dan seni
• Berkelanjutan

Lalu apa peran masyarakat untuk mendukung proyek? Mudah, dapat berpartisipasi dengan cara mendonasi. Ada banyak proyek baik (dan akan bertambah terus) dan proyek-proyek tersebut membutuhkan dana publik. Entah itu proyek teater, film, workshop dan kesenian. Silakan cek daftar proyek ini dan dukunglah yang sesuai dengan hati. Tidak perlu khawatir dengan jumlah uang yang bisa anda patungkan.

Patungan, Yuk!

Cara Mengajukan Proyek Patungan.Net

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |


28 Mar 2012

Bijak Menggunakan Air

Oleh Adipati Rahmat SPi, MSi

Air merupakan senyawa yang sangat penting tidak hanya manusia, namun juga kelangsungan ekologi hayati dan non hayati. Namun secara khusus, bagi manusia, kekurangan air dapat menyebabkan kematian. Hal ini dikarenakan sekitar 80% tubuh manusia terdiri dari air. Otak dan darah adalah dua organ penting yang memiliki kadar air di atas 80%. Otak memiliki komponen air sebanyak 90 persen, sementara darah memiliki komponen air 95 persen. Jika kadar air dalam tubuh berkurang 1 persen, maka akan timbul rasa haus dan gangguan mood; jika berkurang  2-3 persen, suhu tubuh akan meningkat, timbul rasa haus dan gangguan stamina; jika berkurang 4 persen, kemampuan fisik akan menurun hingga 25 persen; dan apabila kadar air di dalam tubuh berkurang hingga 7 persen seseorang bisa jatuh pingsan hingga menyebabkan kematian.

Semua makhluk hidup yang diketahui memiliki ketergantungan terhadap air. Air merupakan zat pelarut yang penting untuk makhluk hidup dan adalah bagian penting dalam proses metabolisme. Di Indonesia, hingga saat ini air masih memiliki sifat common property, dalam artian milik bersama, sehingga monopoli dan privatisasi pengelolaan air dilarang, dan Pemerintah bertanggung jawab menjamin ketersediaan air bagi kelangsungan hidup penduduknya yang diatur dalam Undang-undang nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

Pada umumnya, manusia diasumsikan membutuhkan sekitar 150 liter air perharinya. Air ini digunakan untuk bermacam-macam kebutuhan, dari minum, makan, mandi, memasak, hingga mencuci. Dengan demikian kebutuhan akan air bagi setiap manusia jumlahnya cukup bervariasi, dan jenisnya berbeda-beda. Misalnya untuk minum dan makan, disyaratkan air bersih yang sudah dimasak. Sedangkan untuk mandi cukup air yang bersih. Dan untuk keperluan lain seperti menyiram tanaman, air bekas pakai juga dapat digunakan. Namun tetap, jumlahnya berkisar antara 75 liter hingga 150 liter per hari per orang. Jumlah tersebut akan sangat terlihat besar dan jika kita membandingkannya dengan jumlah penduduk dan daya dukung air di lingkungan kita.

Indonesia pada saat ini masih tercatat sebagai negara yang masih memperbolehkan warganya untuk memenuhi kebutuhan air pribadinyanya dari air tanah. Air tanah dalam hal ini adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah permukaan tanah. Negara-negara maju, terutama yang memiliki daya dukung air lebih sedikit, misalnya karena pengaruh empat musim, sangat membatasi kegiatan pengambilan air tanah, walaupun untuk kebutuhan pribadi. Namun belum mampunya Pemerintah dalam menyediakan air bersih yang layak, membuat kegiatan eksplorasi air tanah secara pribadi diperbolehkan, selama bukan untuk kepentingan ekonomi, misalnya untuk usaha laundry, pencucian kendaraan, atau bangunan dan gedung. Seyogyanya, tanggung jawab ini diemban oleh PT. PDAM. Namun jumlah PDAM yang berhasil melayani warganya, hingga saat ini masih sangat sedikit. Tidak tersedianya jaringan perpipaan yang baik, tingkat kebocoran yang tinggi, dan langkanya sumber air bersih menjadi penyebab, mengapa hampir semua Kota dan Kabupaten sebagian besar masyarakatnya masih belum terlayani oleh PDAM masing-masing. Padahal pemenuhan kebutuhan air bagi setiap anggota masyarakat merupakan amanat Undang-undang, dan juga tencantum dalam salah satu tujuan dari Millenium Development Goals (MDG) yang ikut disepakati oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Dengan terbatasnya pasokan air dari PDAM dan penggunaan sumur-sumur bor milik masyarakat, daya dukung air tanah di Indonesia menjadi semakin menurun. Padahal air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan. Air tanah (selain air sungai dan air hujan) juga mempunyai peranan yang sangat penting terutama dalam menjaga keseimbangan dan ketersediaan bahan baku air untuk kepentingan rumah tangga (domestik) maupun untuk kepentingan industri. Misalnya di Kota Jakarta, ketergantungan pasokan air bersih dan air tanah telah mencapai ± 70%.

Tingginya jumlah penduduk di Kota Jakarta mengakibatkan kebutuhan akan air, terutama air bersih menjadi sangat tinggi. Kondisi ini menyebabkan terjadinya eksplotasi air tanah yang berlebihan. Berdasarkan kedalamannya, terdapat 3 pembagian aquifer air tanah, yaitu upper aquifer yang terdapat pada ke dalaman kurang dari 40 meter, middle aquifer pada ke dalaman 40 sampai 140 meter, dan lower aquifer yang terdapat pada ke dalaman 140 sampai 250 meter. Sedangkan pada ke dalaman lebih dari 250 meter masih ditemukan air  namun dengan kualitas yang sudah menurun dan banyak ditemukan sedimen.

Di Kota Jakarta air tanah diekstraksi mulai dari kedalaman 40 meter. Pada kedalaman 40 meter, cara yang digunakan untuk mengektraksinya adalah dengan pembuatan sumur dan pemasangan pompa air. Pada daerah permukiman, ektraksi air tanah masih dilakukan pada kedalaman kurang dari 40 meter, namun  didaerah perindustrian ektraksi air tanah sudah dilakukan pada kedalaman lebih dari 40 meter.

Berdasarkan Dinas Pertambangan DKI Jakarta, wilayah Kota Jakarta Utara sudah termasuk zona rusak untuk aquifer 40 hingga 140 m. Sedangkan Kotamadya Jakarta Pusat,  Kotamadya Jakarta Barat, Kotamadya Jakarta Timur, dan Kotamadya Jakarta Selatan masih termasuk zona kritis untuk aquifer 40 hingga 140 m. Dan tingkat kerawanan ini masih terus berlangsung. Perbandingannya dapat disimak pada perhitungan di dua tabel berikut ini.

Tabel 1. Pengambilan Air Tanah di Kota DKI Jakarta Tahun 2008

Tahun 2008

Nilai

Satuan

Jumlah Penduduk

9,146,200

jiwa

Kebutuhan per orang

150

liter

Hari

Satu hari dalam setahun

365

Hari

kebutuhan per tahun

500,754,450,000

liter

Hari

Pemenuhan oleh PDAM (54%)

270,407,403,000

liter

Tahun

Pemakaian air tanah (46%)

230,347,047,000

liter

Tahun

Potensi Air Tanah Jakarta

532,000,000,000

liter

Tahun

Batas Aman 30-40% dari Potensi

186,200,000,000

Kelebihan Pengambilan

-44,147,047,000

Sumber: BPS Tahun 2011

Tabel 2. Pengambilan Air Tanah di Kota DKI Jakarta Tahun 2010

Tahun 2010

Nilai

Satuan

Jumlah Penduduk

9,729,500

jiwa
Kebutuhan per orang

150

liter hari
Satu hari dalam setahun

365

hari
kebutuhan per tahun

532,690,125,000

liter hari
Pemenuhan oleh PDAM (54%)

287,652,667,500

liter tahun
Pemakaian air tanah (46%)

245,037,457,500

liter tahun
Potensi Air Tanah Jakarta

532,000,000,000

liter tahun
Batas Aman 30-40% dari Potensi

186,200,000,000

Kelebihan Pengambilan

-58,837,457,500

Sumber: BPS Tahun 2011

Pada kedua tabel tersebut dapat terlihat bahwa, pada Tahun 2008 dimana jumlah penduduk DKI Jakarta adalah 9.146.200 jiwa, terdapat kelebihan pengambilan air tanah sebesar 44 juta liter. Jumlah ini kemudian meningkat hingga 12 juta liter pada Tahun 2010. Kelebihan pengambilan air tanah ini adalah penyebab utama bagaimana fenomena memburuknya kualitas air tanah di Kota DKI Jakarta terutama di Kotamadya Jakarta Utara terus terjadi. Dan juga dapat menjelaskan sebagai hubungan tidak langsung, bagaimana penurunan muka tanah Kota DKI Jakarta terjadi.

Masyarakat secara langsung telah mempengaruhi daya dukung air tanah dengan melakukan kegiatan pengambilan air tanah. Eksploitasi air tanah yang berlebihan telah mengakibatkan laju penurunan daya dukung air tanah menurun, kemudian menyebabkan penurunan kualitas air tanah sehingga partikel-partikel berbahaya seperti bakteri E.Colli menjadi dominan, dan pada gilirannya akan membahayakan kesehatan masyarakat itu sendiri. Dengan demikian secara keseluruhan akan menjadi satu lingkaran penuh yang saling berhubungan. Manusia, air, dan Kota itu sendiri.

Selayaknya manusia, sebuah Kota pun memiliki batasannya. Dan ketika batasannya itu terlampaui, maka sistem alam akan melakukan tugasnya. Penyakit dan wabah akan timbul dan membuat seleksi alam. Mengurangi jumlah penduduknya sehingga mendekati daya dukung awal Kota tersebut kembali. Namun pada dasarnya, dengan memahami bagaimana suatu sistem “kota yang hidup” bekerja, kita dapat menyesuaikan perilaku kita dengan batasan-batasan kota yang kita tinggali. Bijak dalam menggunakan air adalah salah satunya. Menggunakan keran shower daripada menggunakan bak penampung air, dapat mengurangi penggunaan air saat mandi secara signifikan. Menggunakan air bekas mencuci untuk menyiram tanaman dapat menghemat puluhan liter air. Mencuci kendaraan di tempat pencucian komersil yang menggunakan air daur ulang, dapat menjadi pesan bahwa kita menghargai keberadaan air yang sudah sangat terbatas ini.Bijak menggunakan air berarti menghormati alam, dan menghargai Kota yang kita tinggali.

 

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


08 Feb 2012

RujakEvent Februari 2012

newsleter-05_small

Rujak Center for Urban Studies mengadakan event rutin tiap Sabtu mulai bulan Februari ini. Sesuai dengan highlight bulan Februari ini yang akan berkisah tentang Kota dan Air, berikut ragam kegiatan Sabtu kami:

(Acara Gratis dengan Mendaftar Terlebih Dahulu disini – dengan maksimal 20 orang per acara)

RujakScreen: 11 Februari 2012  10.00 – 12.00

Kami akan menampilkan 2 film yang bertutur tentang Ciliwung, masa lampau dan masa kini. Terimakasih kepada Komunitas Historia dan Gekko Studio yang telah memberikan ijin penayangan dua film berikut:

1. Ciliwung 20-40an

2. From Communities: Toward an Integrated Water Resource Management

—————————

RujakTalk: 18 Februari 2012 09.30

Dilema Jakarta & Giant Sea Wall

Masa depan mungkin tidak pasti, tetapi tidak dengan masa depan Pantai Utara Jakarta. Saat ini sebagian besar wilayah Pantura Jakarta mengalami penurunan permukaan tanah. Jika tidak ada tindakan pencegahan maka di tahun 2050 sudah dipastikan Bandara Soekarno Hatta akan tenggelam.

Skenario mungkin berbicara lain. Lewat kerjasama antara Belanda dan Indonesia, munculah usulan solusi yang bernama Jakarta Coastal Defense Strategy atau yang kerap disebut pers sebagai Jakarta Giant Sea Wall. Proposal tersebut diformulasikan untuk mampu melindungi Pantai Utara Jakarta dengan 3 juta penduduknya serta investasi triliunan rupiah di masa yang akan datang.
Seperti apakah proposal tersebut? Apakah dia berupa dinding tinggi besar jelek? Lalu apa yang terjadi dengan Laut Jawa dan Kepulauan Seribu? Darimana uangnya? Bagaimana nasib muara sungai-sungai kita?
RujakTalk mengajak untuk menengok proposal Jakarta Coastal Defense Strategy, yang merupakan hasil studi regional antara Deltares (perusahaan konsultan Belanda) dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum serta Pemerintah Provinsi Jakarta. Ini merupakan rencana besar dan warga Jakarta seharusnya diundang untuk tahu.
————-
RujakShare: 25 Februari 2012 09.30
Sharing bersama beragam komunitas di Ciliwung
Bersama Ivana Lie dari Sanggar Ciliwung Merdeka dan Sudirman Asun dari Komunitas Ciliwung
———–
Semua kegiatan akan dilakukan di
Rujak Center for Urban Studies
Graha Ranuza Lt. 2
Jalan Timor no.10
Belakang Plaza BII Thamrin
Menteng, Jakarta
——–
Nah kami nantikan kehadiran anda, tapi jangan lupa mendaftar terlebih dahulu atau isi form dibawah ini.
Salam dan Mari Berbagi!

No Comments »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |


08 Feb 2012

Tentang Kota dan Air

newsleter-01_cover_smalloleh Robin Hartanto Kota dan kehidupan di dalamnya bergantung penuh pada air. Bagi kota, air bukan hanya berkat, tapi juga kutukan. Ketika berlebih dan tidak terkontrol, air dapat menghancurkan kota dalam sekejap. Ketika kurang, keberlangsungan hidup manusia terancam.

Maka ketika para sejarawan berkata bahwa keberadaan air adalah mula peradaban, bukan tidak mungkin bahwa air pula yang akan mengakhirinya. Dalam bukunya The World Without Us, Alan Weisman mencoba menginvestigasi apa yang akan terjadi dengan kota New York tanpa manusia. Setengah jam, air mencapai ketinggian yang membuat kereta api tidak bisa lewat lagi. 36 jam, sebagian besar kota New York tenggelam. 20 tahun, kolom-kolom baja yang menopang jalan mengalami korosi dan runtuh.

Tidak heran bahwa Singapura memprioritaskan air sebagai prioritas dalam pengelolaan lingkungan. “Every other policy had to bend at the knees for water survival,” sebut Lee Kuan Yew dalam acara Singapore International Water Week tahun 2008.

Lalu, bagaimana dengan Jakarta? Berbagai masalah, dari segi kuantitas maupun kualitas air, siap menjawab pertanyaan ini.

J. J. Rizal pernah menulis bahwa tingkat keamanan air bersih di Jakarta hanya sektar 2,2 persen, atau jika ditambah dengan air tanah menjadi 27,2 persen (bandingkan dengan Singapura yang mencapai 98 persen). Penelitian Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) mengungkapkan fakta yang lebih mengerikan. Mutu aliran sungai di 45 titik pantau di 13 DAS Ciliwung pada 2010: kondisi baik nol persen, tercemar ringan sembilan persen, tecemar sedang sembilan persen dan tercemar berat 82 persen. Tidak mengherankan, karena 2,5 persen timbulan sampah Jakarta (600 m3/hari) mengalir di Sungai Ciliwung.

Ironisnya, dengan curah hujan yang sangat tinggi, kelangkaan air bersih tetap saja terjadi. Salah satu air termahal di dunia bahkan dijual di Jakarta, tepatnya di gang-gang sempit di daerah Pademangan Timur. Firdaus Ali dari Badan Regulator PAM DKI Jakarta mengungkapkan bahwa warga di sana membeli air dengan harga 37 ribu hingga 75 ribu rupiah per meter kubik.

Air tanah menjadi solusi yang siap menghantam kembali. Penurunan air tanah nyata terukur. Data 2007-2008 menunjukkan bahwa bagian utara Jakarta mengalami penurunan 17-26 sentimeter per tahun, dengan kecepatan pemompaan yang semakin meningkat tiap tahunnya.

Dengan latar tersebut, diskursus tentang kota dan air, sangatlah relevan dan mendesak. Oleh karena itu, RCUS mengangkat topik “Kota dan Air”, yang akan diisi dengan beragam program yang saling mengisi. Yuyun Ismawati, seorang aktivis lingkungan yang pernah memenangkan Goldman Prize, akan berbagi cerita tentang kota dan air di RujakTalk. Di RujakScreen, kami akan menampilkan berbagai film dokumenter tentang Sungai Ciliwung, salah satunya From Communities: Towards an Integrated Water Resource Management karya Gekko Studio. Berbagai komunitas seperti Sanggar Ciliwung Merdeka dan Komunitas Peduli Ciliwung turut kami undang untuk bercerita tentang program-program mereka dalam RujakShare.

Mari berbagi!

Kurator Acara: Robin Hartanto

Comments Off

Topics: , , , | Agent of Change: none |


29 May 2011

Jalan Kaki di Seputar Istiqlal, Jakarta. Nyamankah?

Oleh Silvia Honsa

Sekitar Masjid Istiqlal, Jakarta, Oktober 2009

Sungguh suatu “kemewahan” bisa berjalan kaki dengan nyaman di Jakarta. Suatu hal yang aneh sebenarnya, karena kegiatan berjalan kaki adalah termasuk kegiatan kita sehari-hari yang paling alami.  Berjalan kaki menjadi “mewah” karena sulit sekali kita menemukan jalur yang nyaman atau paling tidak, aman untuk kita para pejalan kaki melewatinya. Belum lagi masalah adakah jalur pejalan kaki di sepanjang jalan yang akan ditempuh. Nah, itu termasuk hal  yang penting untuk dipertimbangkan saat ingin berjalan kaki dari satu titik ke titik lain.

Kalau pun ada jalur pejalan kaki seperti foto di atas, menurut saya masih kurang nyaman. Lihatlah batas pagar di kiri kanannya, membuat kita pejalan kaki dibatasi interaksinya dengan taman di kiri kanan jalur.

Hak pejalan kaki sepertinya terlalu dibatasi bahkan cenderung diabaikan. Ini aneh sekali. Seakan yang layak ada di jalan begitu kita keluar rumah hanya lah orang-orang yang menggunakan alat transportasi saja. Pemahaman akan jalur jalan menjadi dibatasi hanya untuk mengakomodasi kendaraan dan tidak untuk pejalan kaki.

Kalau merujuk pada pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki di Perkotaan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum , sepertinya ideal sekali jika benar-benar dilaksanakan di tiap kota. Gambar di bawah ini adalah salah satu pedoman mengenai tipologi ruang pejalan kaki di sisi jalan. Nyaman bukan seandainya terwujud?

Lihat lah foto di atas, sebenarnya bisa menjadi cukup nyaman, tetapi desain difokuskan pada halte, bukan pada jalur pejalan kakinya dan sekali lagi, ada pagar pembatas. Mungkin juga tidak bisa menyalahkan seratus persen pertimbangan pemasangan pagar di sini. Tetapi apakah itu satu-satunya solusi?

Ini dia, foto di atas adalah salah satu foto yang sangat menunjukkan keajaiban jalur pejalan kaki di Jakarta. Sebelum bertemu dengan jalur busway ini, saya melewati jalur pejalan kaki seperti dua foto teratas. Tiba-tiba saja saya kebingungan, tertegun, berhenti berjalan. Di depan saya, ada bangunan halte busway yang menghalangi seluruh badan jalur pejalan kaki. Pilihan yang ada sama-sama tidak menyenangkan dan tidak aman. Pertama, seperti tampak di foto, melewati celah antara bangunan busway dengan pagar masjid yang sungguh sangat tidak nyaman. Kedua, turun di badan jalan, berjalan di jalur busway yang jelas selain tidak nyaman juga tidak aman. Akhirnya, saya memilih pilihan pertama, dengan pertimbangan saya tidak berminat ditabrak kendaraan bermotor apabila memilih pilihan kedua.

Bayangkan sulitnya berjalan kaki di Jakarta ini secara umum. Ini baru di sekitar Istiqlal yang nota bene di tengah pusat pemerintahan, bukan hanya untuk DKI Jakarta tetapi Republik Indonesia. Bagaimana dengan di daerah pinggiran? Seperti di Kali Malang yang tidak ada jalur pejalan kakinya, atau di jalan MT Haryono yang ada jalur pejalan kaki tetapi sering kali bersaingan dengan pengendara motor?

Sungguh, bagi saya berjalan kaki di Jakarta lebih sering saya rasakan sebagai suatu perjuangan. Karena pejalan kaki harus berjuang di jalurnya sendiri, menghadapi pengendara motor dan para pedagang. Kalau tidak ada jalurnya, kita terpaksa turun ke bahu jalan, yang artinya menyabung nyawa. Oh, sulitnya berjalan kaki yang nyaman di Jakarta.

Tapi apakah kita pejalan kaki harus menyerah dengan keadaan ini? Saya rasa tidak. Masih ada peluang bagi pejalan kaki untuk memperjuangkan haknya. Apalagi dengan semakin banyaknya orang yang peduli dengan kondisi-kondisi ini dan berusaha untuk membuat solusi yang adil bagi para pejalan kaki dan pengguna jalan yang lain. Masih tersisa harapan. Salah satu gerakan yang saya tahu akhir-akhir ini cukup aktif membahas soal pejalan kaki, adalah pengguna akun twitter @yukjalankaki.

Jadi mari kita tidak patah semangat dalam berjalan kaki di Jakarta.

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


11 Jun 2010

NEW BOOK

Abdoumalig Simone, City Life from Jakarta to Dakar: Movements at the Crossroads, Routledge, 2010.

“City Life from Jakarta to Dakar is an important new book examining the potentials of urban life from unexpected places that has been consciously written for undergraduate urban courses, while not oversimplifying its subject.

Through powerful stories as well as an incisive theoretical point of view, the book puts cities in Africa and Southeast Asia as a cutting edge in thinking about the urban world of today. It shows how much of what is considered peripheral to urban life is actually critical to it and thereby opens up new ways for understanding what is possible to do in cities from now on.”

Abdoumaliq Simone is an urbanist and Professor of Sociology at Goldsmiths College, University of London. He has been visiting Jakarta and Indonesia at large since 1980′s, and especially intensely in the last five years. While in Jakarta he helps, among others, Urban Poor Consortium, with their research. He is visiting Jakarta again in later half of this year.

1 Comment »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |


15 Dec 2009

Apakah Pejalan Kaki Perlu Kumpulkan Sejuta Tanda Tangan juga?

Saya harap tidak demikian.

Ketika komunitas Bike To Work meminta jalur sepeda kepada Gubernur Jakarta, maka sang gubernur pun menantang balik: ‘Jika komunitas mampu mendapatkan tanda tangan dari 1 juta pesepeda, maka gubernur baru memenuhi tuntutan jalur sepeda. Apakah demi mendapatkan trotoar nyaman, aman, dan lestari, maka warga Jakarta harus mengajukan 1 juta tanda-tangan dahulu sebelum ditindaklanjuti oleh gubernur?

Memanusiawikan Areal Pejalan Kaki.

Kehidupan kota yang demokratis berarti kehidupan kota yang memenangkan kepentingan publik diatas kepentingan pribadi dan golongan. Cermin kota yang demokratis dapat terlihat dari kondisi ruang-ruang publiknya. Bagaimana dengan kondisi trotoar dan taman-tamannya? Apakah kota didominasi oleh bangunan-bangunan publik seperti museum dan perpustakaan atau dikuasai oleh pusat-pusat perbelanjaan?

Walikota Bogota periode tahun 1998 – 2001, Enrique Penalosa dalam acara Sustainable Jakarta Convention mengutarakan pentingnya trotoar, demikian dikutip: “Sidewalks are the most important factor of democratic life.” Di trotoar itulah para warga dari berbagai macam latar belakang bertemu dan memiliki status yang sama, yaitu sebagai pejalan kaki. Trotoar pun dianggap penting karena trotoar merupakan perpanjangan tangan dari taman-taman kota. Taman-taman dan elemen kota lainnya terhubung dan disatukan oleh trotoar.

Lebih lanjut lagi, Walikota Penalosa mengutarakan deskripsi kota yang baik ( A Good City), yaitu kota dimana warga-warganya bahagia ketika berada didalam luar ruangan dan ruang publik, serta mau menghabiskan waktu diluar. Kota tersebut baik, apabila ramah dan nyaman bagi anak-anak, kaum manula dan kaum difabel (diffabled people).

Lalu bagaimana dengan Jakarta? Jakarta boleh bangga akan berbagai macam pusat perbelanjaan dengan desain mutakhir. Namun pusat perbelanjaan bukanlah ruang publik, karena dalam pusat perbelanjaan terjadi seleksi terhadap kelas ekonomi, dan tentunya mengesampingkan kaum miskin. Kedemokratisan Jakarta pun dipertanyakan jika melihat kondisi trotoar dan taman-taman kota. Trotoar-trotoar di Jakarta bagaikan serupa tak sama dengan trotoar di negara-negara Afrika, misalnya kota di Kamerun dan Sudan.

Kondisi trotoar di Kamerun

Kondisi trotoar di Kamerun, memiliki kesamaan dengan trotoar di Jakarta

Di trotoar Jakarta, para pejalan kaki bersaing dengan parkir mobil, motor, sampah hingga pedagang kaki lima. Jangankan menjadi jalur sepeda, para pejalan kaki pun sering tersingkir dari trotoar. Tak hanya harus bersaing, pejalan kaki harus berhadapan dengan kondisi trotoar yang menyedihkan, seperti permukaan tidak rata, diinterupsi terus menerus oleh pintu masuk dan keluar mobil dan terkadang ada motor yang melaju diatas trotoar.

Kondisi trotoar yang buruk bukannya tidak disadari oleh aparat. Setidaknya itulah yang tersurat dari situs resmi Pemda DKI Jakarta. Tak hanya ketidakmampuan pemerintah untuk membuat nyaman trotoar, ada saja orang-orang yang merusak trotoar, misalnya oknum yang mencuri conblock, hingga pedagang (baik pedagang kaki lima maupun bukan) yang menginvansi secara masif trotoar, dan akhirnya melemparkan para pejalan kaki sehingga harus tersingkir dan berdampingan dengan mobil motor yang melaju di jalan.

Keberpihakan kota Jakarta terhadap kendaraan bermotor pun terlihat jelas, dengan semakin banyaknya jalan baru dalam rupa jalan tol, jalan layang, jalan pintas bawah tanah, hingga jalan arteri yang terus bertambah, sementara areal pejalan kaki terkikis dan terdeteriorasi.

Adakah yang salah dalam perencanaan dan desain urban Jakarta sehingga kondisi trotoar semakin menyedihkan dan hak pejalan kaki terus terzalimi? Bisa jadi karena trotoar dianggap sebagai pelengkap bukan sebagai kebutuhan. Ditambah lagi, kemacetan yang ada, selalu dianggap oleh para insinyur jalan sebagai tanda kurangnya jalan mobil, sehingga pejalan kaki menjadi warga kelas dua di kota ini. Pada akhirnya keputusan akan pentingnya trotoar menjadi kebutusan teknis (engineering decision) dan bukannya berdasarkan kehendak dan keputusan politik (political decision). Dan terkadang pemangku kepentingan pun tak sadar, kalau trotoar adalah salah satu sarana transportasi umum. Terlebih jika trotoar tersebut memiliki hubungan dan jaringan yang baik dengan moda transportasi umum lainnya, seperti halte TransJakarta, halte bus, dan stasiun kereta api.

Lalu apa yang perlu warga Jakarta lakukan demi merebut kembali ruang jalan kaki tersebut? Pertama, sadarlah bahwa trotoar itu adalah aset kota, hargailah trotoar. Jika dan seandainya gubernur memerlukan tanda tangan sejuta pejalan kaki demi memperbaiki trotoar, marilah kita sesama warga Jakarta kerja keras mengumpulkan tanda tangan demi memerdekakan trotoar. Para pemilik gedung-gedung dan bangunan yang berdampingan langsung dengan trotoar, diminta ‘kemurahan-hatinya’ untuk menjaga agar kontinuitas trotoar tidak terinterupsi dengan parkir mobil, pintu masuk dan keluar kendaraan motor, hingga perpanjangan gerai-gerainya, termasuk menyediakan areal bagi pedagang kaki lima dalam kompleks kantor. Para pemakai sepeda motor, dimohon untuk tidak menjajah trotoar sebagai tempat parkir maupun jalan singkat.

Mari bersama-sama mewujudkan Trotoar yang Merdeka.

5 Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


19 Nov 2009

December 3, 2009: Seminar “Estate Management of Kota Tua, Jakarta”

08:30-14:00, Seminar “Estate Management of Kota Tua, Jakarta”, Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia.
Marco Kusumawijaya of RUJAK will give a presentation.

3 Comments »

Topics: | Agent of Change: none |


26 Oct 2009

Balada Sungai Jakarta

13 sungai dan puluhan kali melewati wilayah Jakarta dalam bermacam rupa, warna dan bau. Sungai dan kali tersebut membelah jalan, mengiringi jalan, ada di belakang rumah kita atau sepanjang kita berjalan dan bersepeda. Lalu bagaimanakah warga Jakarta berinteraksi dengan sungai-sungai itu. (more…)

6 Comments »

Topics: , | Agent of Change: Peta Hijau |


25 Oct 2009

Malang Melintang Infrastruktur Jakarta

Tidak semua kawasan dan jalan Jakarta beruntung seperti jalan Thamrin dan Sudirman: areal pejalan kaki yang nyaman kadang ditemani pohon rimbun, pemberhentian TransJakarta hanya selemparan batu, serta jembatan penyeberangan berkanopi. Bahkan pengendara sepeda pun bisa melenggang dengan bebas tanpa takut terserempet motor atau bis kota. Lampu penerangan jalan pun tercukupi, tanpa perlu khawatir melewati jalan tersebut pada tengah malam.

Tapi mari kita tengok daerah sejauh 10 kilometer dari Tugu Monas yaitu perempatan Daan Mogot, Cengkareng. Di daerah tersebut terjadi tambal sulam infrastruktur: ada yang baru, ada yang hilang. Terbaru adalah lintasan jalan tol lingkar luar tepat diatas perempatan sibuk Daan Mogot – Arteri Kapuk. Tak jauh dari situ, ada proyek penurapan Kali Mokervart sepanjang Jalan Daan Mogot yang sebentar lagi tuntas, dan diharapkan selesai sebelum musim penghujan.

Persimpangan Daan Mogot, Cengkareng

Kesemrawutan, apakah hal tersebut harus terjadi seiring dengan pembangunan? Tak hanya pada masa konstruksi, tak jarang setelah konstruksi pun kerap meninggalkan kesemrawutan. Seperti ketika deretan pohon di jalur pembatas MH Thamrin harus ditebang demi pelebaran jalan kontan mewariskan tutup-tutup saluran air yang tak rata dan banjir – dan akhirnya dibongkar lagi bulan ini.

Problematika infrastruktur Jakarta tak hanya berhenti pada masalah tambal sulam akibat proses renovasi dan pembangunan, tapi juga pada banyaknya elemen infrastruktur dan pelengkap yang harus ditampung, mulai dari lampu jalan, lampu lalu lintas, rambu lalu lintas, drainase, kabel listrik, telepon, gas, pejalan kaki, tempat sampah, panel listrik, jembatan penyeberangan hingga papan reklame dan masih banyak lagi. Tak jarang pula infrastruktur contohnya jalur pejalan kaki pun diinvasi oleh pedagang kaki lima, motor, tempat parkir hingga terminal bayangan. Infrastruktur jalan di Jakarta pun dituntut harus mampu melayani berbagai macam kepentingan, mulai dari TransJakarta, mobil pribadi, motor, angkutan umum hingga sepeda dan pejalan kaki.

Jakarta bagaikan sang artis kecanduan operasi plastik. Namun selama ini warga mungkin kerap melirik dan menuduh ketidakbecusan pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat dalam mengkoordinasi pekerjaan lapangan. Tapi jika dikembalikan kepada diri sendiri, maka carut marut dan cantiknya infrastruktur pun tergantung dari warganya, apakah mereka pun mau menjaganya? Apakah mereka rela tidak parkir di trotoar, apakah pengemudi motor rela tidak naik trotoar di kala macet, apakah pedagang kaki lima rela tidak berjualan di trotoar menutupi saluran air, apakah warga menahan diri untuk tidak membuang sampah di drainase, apakah pengguna mikrolet rela turun di halte resmi dan bukannya turun di sembarang tempat, apakah pemilik gedung tidak semena-mena membuat jalan pintu masuk keluar mobil seenaknya dan merusak trotoar, apakah rela tidak mengebor air tanah seenaknya. Dan jika pemerintah berupaya, warga rela dan berpartisipasi, niscaya infrastruktur Jakarta memiliki masa depan lebih cerah.

3 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |