Posts Tagged ‘kota’


01 May 2013

Terbaru dari Rujak : Dunia Dalam Kota

Dunia dalam kota

Buku ini merupakan hasil dari kolaborasi penggerak isu kota di Makassar, Penerbit Ininnawa, Active Society Institut (AcSI), SADAR, TANAHINDIE, dan Makassarnolkm . Digawangi oleh penerbit Ininnawa, buku hasil penelitian tentang Pasar Terong Makassar terbit pada Maret lalu.

Pasar Terong menjadi muara pertemuan aliran komoditas dari 11 Provinsi di Indonesia. Tidak kurang sejuta petani yang ada di jazirah Sulawesi Selatan mengirim beragam bahan pokok ke sana. Pasar Terong juga merupakan salah satu dari empat pasar rujukan harga bahan pokok di Indonesia setelah Pasar Kramat Jati Jakarta, Pasar Turi Surabaya, dan Pasar Meda Kota di Sumatera Utara.

Buku ini adalah buku pertama yang merekam denyut manusia-manusia yang menghidupkan pasar terpenting di Sulawesi Selatan.

Tetarik membeli buku ini?

Buku “Dunia Dalam Kota” dapat dibeli di Rujak dengan harga Rp. 85.000, -.

Untuk permintaan buku, kirimkan data melalui email info@rujak.org

 

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


30 Jan 2013

#RelawanKota untuk Jakarta

IMG_4996

Pada akhir November 2012, beberapa orang berkumpul di balai warga di Muara Baru, Jakarta Utara. Mereka tampak asyik berdiskusi tentang isu kemiskinan kota bersama beberapa organisasi yang bergerak di isu tersebut. Di antara wajah yang tengah semangat berdiskusi ada kaum muda  yang tergabung dalam program #RelawanKota yang digagas oleh Rujak sejak awal November 2012.

IMG_5035

 

Untuk kegiatan di atas, #RelawanKota tergabung dalam Tim Penataan Kampung Partisipatif.  Bersama warga dan sejumlah organisasi seperti Urban Poor Consortium (UPC), Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), dan Arsitek Komunitas (Arkom), #RelawanKota merancang konsep alternatif dalam penataan kampung miskin di Jakarta. Cita-cita besar mereka adalah merancang penataan kampung, secara partisipatif, dalam skala kota Jakarta.

20121201_140543

Seminggu setelah diskusi pengenalan isu tentang kemiskinan kota, tim Penataan Kampung Partisipatif terlibat dalam workshop dua hari di awal Desember bersama perwakilan warga dari kampung miskin di berbagai wilayah Jakarta seperti Muara Baru, Walang, Papanggo, Kebun Tebu, Rawa Malang, dan Kampung Melayu yang tergabung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK). Dalam workshop dua hari tersebut, #RelawanKota bersama Arkom dan UPC memfasilitasi proses pra pemetaan yang membahas  tentang peta fisik kampung, masalah kampung, dan impian warga terhadap penataan kampung nya ke depan.

 

20121201_110326

Tim penataan kampung partisipatif merupakan bagian dari Program Rujak bernama #RelawanKota. Tujuan Rujak membuka program #RelawanKota adalah membuka kesempatan pada warga Jakarta untuk berkontribusi dalam akumulasi pengetahuan perkotaan. Rujak selama ini belajar bahwa pengetahuan perkotaan ada dimana saja, dan termasuk ada di dalam warga kota. Warga kota yang beragam membentuk wajah kota dan pengetahuan itu sendiri.

Kegiatan #RelawanKota terbuka untuk umur berapapun dan latar belakang apapun. Peserta #RelawanKota yang saat ini terlibat dalam beragam kegiatan di Rujak berasal dari latar belakang berbeda. Ada mahasiswa, perawat, pekerja kantoran, pekerja lepas, PNS, dan lain-lain.

Dalam program Relawan Kota ada kegiatan yang mengharuskan kehadiran secara fisik, tapi ada juga kegiatan yang bisa dilakukan dari jarak jauh. Semua produksi yang dihasilkan dari kegiatan ini akan berlisensi Creative Commons ( CC BY (By Attribution) SA (Shared-Alike) NC (Non Commercial), yang artinya produk ini bebas dipakai orang lain untuk bentuk media dan kegiatan serupa, asalkan menyebutkan pembuat/asal dan bertujuan untuk Non Komersial. Dengan ini teman-teman sekalian menjadi penyebar pengetahuan (secara bebas tanpa copyright) kepada orang banyak.

Kegiatan #RelawanKota yang Rujak tawarkan adalah sebagai berikut:

  1. Diskusi Kota

Deskripsi : mengelola diskusi kota yang diadakan secara rutin berupa Program SabtuKota yang diadakan di Institut Francais Indonesia (IFI) dan Diskusi Tematik di Goethe Institut. #RelawanKota akan mengelelola kegiatan yang dibagi menjadi tim reportase, Live Tweet, Dokumentasi dan Moderator acara.

Berikut adalah salah satu reportase diskusi SabtuKota.

2.    Penataan Kampung Partisipatif

Deskripsi : terlibat dalam proses penataan kampung partisipatif seperti proses pemetaan kampung, perencanaan kampung dan pelaksanaan penataan kampung. Program ini bekerjasama dengan Arsitek Komunitas (Arkom), Urban Poor Consortium (UPC), Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK).

3.    Perpustakaan Rujak 

Deskripsi: Mengklasifikasikan buku baik versi elektronik maupun versi buku, video dan DVD; pembuatan katalog perpustakaan.  Keterangan: Kegiatan ini memerlukan kehadiran fisik secara rutin minimal 1xseminggu. Harap membawa laptop. Keuntungan: Tiap relawan Perpustakaan Rujak mendapatkan keuntungan untuk meminjam buku-buku di Perpustakaan Rujak selama menjadi #RelawanKota di bidang ini.

4.    KlikJKT

Deskripsi: mengasuh dan menyunting isi laporan warga yang masuk via KLIKJKT, serta menyampaikan laporan reguler kepada Gubernur, Wakil Gubernur dan SKPD terkait. KlikJKT saat ini juga dikirmkan langsung kepada Pemprov DKI Jakarta, karenanya butuh banyak relawan untuk mengapprove laporan yang setiap saat masuk dari berbagai media.

Keterangan: KlikJKT tidak membutuhkan kehadiran fisik di Jakarta, hanya perlu training 1 kali untuk menggunakan Ushaidi.

5.    ResensiKota

Deskripsi: memberikan resensi terhadap buku-buku perkotaan ataupun kliping-kliping yang telah dikumpulkan oleh Tim #ManajemenPengetahuanPerkotaan. Relawan diharapkan membaca buku-buku ataupun kliping dengan topik tertentu dan kemudian memberikan resensi terhadap buku tersebut. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyebarkan pengetahuan perkotaan yang ada di dalam buku-buku dimana buku-buku tersebut tidak mungkin dibaca oleh semua orang. Resensi buku akan tersedia dalam bentuk Wikipedia di wiki.rujak.org ataupun di Wikipedia Indonesia.

Berikut adalah salah satu contoh resensi kota yang dibuat oleh #RelawanKota

6.    Manajemen Pengetahuan Perkotaan

Deskripsi: melakukan kliping elektronik terhadap topik-topik perkotaan tertentu. Kliping tersebut akan tersedia dan diakses untuk umum. Dan akan diinformasikan secara berkala melalui media sosial dan situs. Tujuannya: Untuk membantu masyarakat untuk Melawan Lupa terhadap kejadian perkotaan.

Keterangan: Kegiatan ini tidak memerlukan kehadiran fisik dan bisa dilakukan dimanapun, hanya memerlukan internet.

 7.    InfoKOTA

Deskripsi: membuat infografis tentang berbagai masalah perkotaan dan kebijakan perkotaan. Kegiatan ini akan menerjemahkan berbagai macam kerumitan peraturan dan masalah perkotaan kedalam infografis, dengan harapan semakin banyak warga-warga Jakarta dapat memahami isu perkotaan, sehingga meningkatkan pengetahuan dan memperbaiki kualitas partisipasi perkotaan. Hasil dari kegiatan ini akan berlisensi CC-BY-SA-NC.

Keterangan: Kegiatan ini tidak memerlukan kehadiran fisik dan bisa dilakukan dimanapun. egiatan ini memerlukan kemampuan untuk menggunakan software desain. Contoh yang pernah dibuat dan dimuat di website Rujak adalah infografis tentang transportasi.

8.    Pelatih Tata Ruang

Deskripsi: memberikan pelatihan kepada warga sebanyak-banyaknya tentang dasar-dasar pengetahuan tata ruang. #RelawanKota disini harus mendapatkan pelatihan sebanyak 2 kali sebelum bisa melatih sesama warga. Keterangan: Peminat disini diharapkan untuk melatih warga di lingkungan sekitarnya (rumah, kantor, sekolah, dll), dengan bekal toolkits tata ruang untuk kita. Kegiatan ini hanya berlaku utk domisil Jakarta. Saat ini Rujak telah melatih ratusan orang, dari berbagai kalangan. Harapan kami adalah agar banyak orang dapat memahami tata ruang.

Bagi warga Jakarta lainnya yang tertarik untuk bergabung dalam program #RelawanKota, dapat menghubungi Rujak melalui info@rujak.org

 

 

1 Comment »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |


18 Jan 2013

Resensi Buku “Kota-Kota di Jawa : Identitas, Gaya Hidup dan Permasalahan Sosial”

Oleh Ibnu Nadzir

Buku Kota-Kota di Jawa: Identitas, Gaya Hidup dan Permasalahan Sosial adalah satu dari dua  kumpulan tulisan yang dibuat untuk merayakan ulang tahun Prof. Dr. Djoko Suryo, Guru Besar Sejarah UGM. Buku ini terdiri dari 18 tulisan akademis yang dibuat oleh mantan murid maupun koleganya yang bekerja di beragam institusi. Karena latar belakang sejarah tersebut, maka tidaklah mengherankan kalau tulisan dengan perspektif sejarah paling banyak muncul. Meskipun demikian, tema yang beragam saya kira membuat pekerjaan Sri Margana dan M. Nursam sebagai editor tidak mudah. Untuk mempermudah pembaca mencari tautan antar tema mereka kemudian  membagi 18 tulisan ini dalam lima tema besar.

Bagian pertama buku ini berbicara mengenai “Identitas kota”. Konsep identitas yang dikemukakan dalam bagian ini cukup fleksibel untuk dapat menampung ragam ide penulis. Tulisan Susanto misalnya, mencermati kota Solo yang kesulitan meneguhkan jati dirinya karena dipengaruhi modernisasi. Pada tulisan yang lain, Heddy Shri Ahimsa-Putra melihat kemungkinan merintis multikulturalisme di lewat penciptaan ulang tradisi Imlek oleh PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) di Yogyakarta.  Kedua tulisan tadi dan beberapa tulisan lainnya banyak bicara mengenai kegamangan kota ataupun unit di dalamnya terhadap perubahan.

Perkembangan kota selalu membuka ruang bagi munculnya gaya hidup baru yang tidak ditemukan sebelumnya. Persoalan “Gaya Hidup Perkotaan” menjadi tema yang diangkat dalam bagian kedua. Dalam bagian ini, tulisan Mutiah Amini melihat kemunculan biro konsultasi perkawinan pada awal abad 20 sebagai tanda adanya pergeseran nilai perkawinan Jawa. Tulisan lain karya Widya Fitrianingsih mengangkat isu konstruksi  sosok perempuan yang muncul dalam pariwara di Hindia Belanda pada periode 1900-1942.

“Permasalahan Sosial Perkotaan” adalah tema yang diangkat pada bagian ketiga. Bagian ini menyoroti persoalan-persoalan yang kerap dihindari pengelola kota. Persoalan seperti kemiskinan, prostitusi, dan aborsi sudah mengemuka sejalan dengan kelahiran kota-kota di Jawa. Tulisan Reza Hudianto mendeskripsikan Kota Malang yang pada masa itu bukan tempat yang ramah bagi kelompok ‘orang kecil’. Pada tulisan lain, Gayung Kusuma membahas persoalan aborsi yang meningkat seiring dengan dinamika kota pada masa kolonial.

Pada bagian keempat, Sajana Sigit Wahyudi berbicara mengenai Kota Surabaya yang menjadi magnet bagi migran Madura. Dalam bagian yang sama, Razief membahas dinamika buruh pelabuhan di Tanjung Priok pada periode 1920-1930-an. Tulisan-tulisan tersebut dimasukkan dalam kategori tema “ Urbanisasi, Pelabuhan dan Tenaga Kerja”.

Tema “Dinamika Politik  dan Ekonomi” menjadi penutup buku ini. Budiawan membahas kemunculan Marx House sebagai kelompok studi kiri pada masa awal revolusi. Dinamika kelompok tersebut memiliki sumbangan besar bagi perkembangan Partai Komunis Indonesia pada periode berikutnya. Tema serupa juga muncul dalam tulisan Didi Kwartanada dalam tulisan soal organisasi KEI (Kemadjuan Ekonomi Indonesia). Organisasi pedagang pribumi di Yogyakarta ini pernah memiliki pengaruh besar dalam peta perdangan lokal pada masa 1941-1949.

Bias pada Orang Kecil?

Bagi saya kumpulan tulisan ini merepresentasikan sosok kota sebenarnya yang terdiri dari kumpulan fragmen realitas. Persoalannya, realitas mana yang dianggap layak merepresentasikan kota? Jika menilik tulisan-tulisan yang ada dalam buku ini, sangat kuat terasa bahwa kota direpresentasikan sebagai ruang yang dimiliki kelompok elit. Sebagian besar kelompok masyarakat yang diangkat dalam kumpulan tulisan ini termasuk adalah orang-orang yang memiliki hak istimewa baik melalui akses pendidikan, modal, maupun konsumsi. Jika bicara angka, tentu saja kelompok seperti ini jauh lebih sedikit daripada kelompok yang bisa digolongkan sebagai ‘orang kecil’. Hal ini menjadi ironis, karena Prof. Djoko Suryo seperti yang dikemukakan oleh Reza Hudianto punya ketetarikan khusus pada kajian mengenai ‘orang kecil’ seperti yang dapat dilihat dalam disertasinya (hlm. 133). Upaya untuk menghadirkan pembacaan kota yang lebih berimbang seperti yang dilakukan oleh Reza Hudianto, Razief, atau Gayung Kusuma pun masih terasa kurang.

Ketimpangan representasi ini bisa saja digugat sebagai bentuk bias terhadap ‘orang kecil’ dalam pembacaan tentang kota. Namun, kesimpulan semacam itu boleh jadi sangat spekulatif apalagi kalau kita mengingat banyaknya keterbatasan penyusunan historiografi di Indonesia. Meskipun oral history sudah cukup lazim digunakan, dokumen tertulis tetap menjadi sumber data utama sejarawan. Dalam kasus Indonesia, dokumen tertulis ini sebagian besar bersumber pada catatan pejabat kolonial Belanda. Sehingga sejarawan yang bekerja di Indonesia seringkali diharuskan bekerja dalam kerangka tulisan pencatatnya di masa itu. Catatan-catatan ini tentu saja tidak terlepas dari bias, termasuk bias tentang urgensi atau signifikansi kelompok sosial yang ada. Mudah diduga kalau catatan mengenai orang kecil tidak termasuk pada hal-hal yang dianggap utama pada masa itu.

Keterbatasan tersebut sangat bisa diterima, sebab sebagian besar tulisan dalam buku ini toh dibangun dengan kerangka pikir yang baik. Tulisan-tulisan dalam buku ini juga berhasil menghindar  dari stereotip membosankan yang biasa ditemui pada naskah akademis. Buku ini cocok bagi siapa saja yang tertarik membaca mengenai dinamika kota di Jawa dari sudut pandang historis dan antropologis. Saya tidak tahu komentar Prof. Dr. Djoko Suryo mengenai buku ini, tapi saya kira kumpulan tulisan ini adalah hadiah yang berharga karena melakukan apresiasi pada sosoknya tanpa glorifikasi yang berlebihan.

Buku ini bisa dipinjam melalui keanggotaan perpustakaan Rujak.

1 Comment »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


26 Dec 2012

Reportase : Bedah Buku “Kota Rumah Kita”

 

Oleh Alfred Junaidhi | @alfredjunaidhi

 

Pagi yang cerah menandai acara bedah buku “Kota Rumah Kita” yang diadakan di Institut Francais Indonesia, pada Sabtu 15 Desember 2012. Buku yang bersampul karya pemenang World Press Photo: Peter Bialobrzeski, dengan tebal 381 halaman dan telah terbit tahun 2006 silam dibedah oleh Ayu Utami dan Ahmad Djuhara.

Ayu Utami sebagai penulis yang telah dikenal luas oleh masyarakat dengan karya-karyanya seperti Saman, Cerita Enrico, dll mendapat giliran pertama membedah buku ini.

Dia memaparkan pembahasan dari segi bagaimana Marco Kusumawijaya sebagai penulis buku berkomunikasi dengan publiknya (pembacanya) di mana kompleksitas yang rumit disampaikan dengan sederhana.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti “Siapa orang kota sesungguhnya? Siapa yang salah? Darimana kesalahan?” dicoba dimasukkan di dalam buku ini. Tetapi, sebagai buku yang membahas hal-hal yang bersifat ilmiah dengan mengedepankan intelektualitas tetap terdapat kelemahan. Karya para akademisi, menurutnya, memiliki kelemahan ketika tulisan mereka dipaparkan ke masyarakat luas yang sangat beragam mutu kecerdasannya. Berbicara dengan jargon-jargon dan istilah-istilah yang hanya dipahami oleh kalangan mereka menjadikan tulisannya cenderung tidak dipahami oleh masyarakat umum.

Ayu Utami membedah buku dengan cukup menghibur yang membuat peserta diskusi tertawa khususnya ketika dia menceritakan pengalaman-pengalaman yang dia alami sendiri.  Seperti ketika pertanyaan sederhana “Siapa orang kota sesungguhnya?” diajukan dalam buku, Marco menuliskan bahwa tidak bisa dibedakan lagi antara orang desa dan orang kota, karena semuanya telah jadi kota, baik kota besar maupun kota kecil.

Ayu menceritakan kisah mengenai pembantu laki-laki di rumahnya yang tidak mau membersihkan taman pada siang hari karena takut hitam dan memakai body lotion agar tampak lebih putih. Menurut Ayu, anak desa tidak lagi memahami desa karena telah terpogram dalam simbol-simbol yang sama dengan anak kota melalui televisi dan sekolah, sehingga membuat mereka tercerabut dari akarnya.

Buku yang setiap bab-nya terdapat foto karya Erik Prasetya ini kemudian dibedah oleh Ahmad Djuhara, seorang arsitek yang pernah menjadi Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta. Pembahasan yang dilakukan condong ke arah personal karena Djuhara dan Marco telah lama berteman.

Bagi para arsitek, kata Djuhara, buku ini menarik dan merupakan pengayaan, karena Marco berfungsi sebagai pemandu, pewarta, messiah, guru, pembawa berita baik dan buruk, pemikir, penata data, penyusun, pencatat, pengarah, dan pengoreksi. Dalam buku ini yang betul-betul rumah hanya dibahas satu rumah yakni rumahnya Sardjono Sani, selebihnya tentang luar rumah, tetapi tetap disebut rumah karena mengandaikan kota sebagai rumah.

Menurutnya, buku ini merupakan metamorfosa seorang Marco dari seorang yang pemarah yang tercermin dalam karya sebelumnya: Jakarta: Metropolis Tunggang-langgang, menjadi seorang yang lebih bijak. Dengan kecerdasan, kecepatan menganalisis, dan mengambil kesimpulan untuk bertanya, buku ini membagi bab-bab dengan orang kota dan kota, bagaimana kita melihat dan memposisikan diri kita terhadap kota, dan melulu adalah sebuah ajaran.

Ahmad Djuhara dalam pembedahan buku lebih bersifat akademis dikarenakan tulisan-tulisan dalam buku yang dia bahas memang demikian sifatnya seperti JakArt, Aga Khan Award, dan tentang Wendy Brauer pencipta Green Map. Kesan yang ingin disampaikan yakni fungsi Marco yang mengajak kita membangun Jakarta yang cerdas, serta menjadikan Jakarta bisa mencerdaskan orang lain juga.

Sesi tanya jawab para peserta merupakan lanjutan dari acara bedah buku ini. Ada beberapa pertanyaan yang diajukan para peserta, namun ada satu pertanyaan yang pembahasannya berlangsung menarik dan berkepanjangan sampai habisnya acara. Yaitu pertanyaan tentang subjektifitas individual dalam menghadapi modernisasi pembangunan kota. Marco yang menjawab pertanyaan ini mengatakan bahwa subjek harus mampu menyikapi modernitas agak tidak tergilas begitu saja. Modernitas yang membawa kegalauan karena berkaitan erat dengan urbanisasi dan kolonialisasi. Kita tidak bisa menerima begitu saja apa yang terjadi dalam hidup kita seperti yang dikatakan Chairil Anwar kepada HB Jassin “Aku akan bikin perhitungan habis-habisan dengan begitu banyak di sekelilingku”.  Berdasarkan perkataan Chairil tersebut ingin ditunjukkan bahwa kota akan menjadi lebih baik bukan dikarenakan gubernurnya atau satu dua orang saja, tetapi semua warganya/semua subjek mampu membikin “perhitungan” terhadap kotanya sendiri melalui proses yang cerdas.

Lanjut Marco, kota pada kenyataannya (yang pahit) dibangun oleh mimpi-mimpi orang tertentu yang tidak mencerminkan mimpi semua orang. Namun inilah yang ingin dibangun Marco dalam buku ini yakni partisipasi semua orang atau warga kota berdasarkan pengetahuan yang mendalam. Kegalauan dihadapi bersama dengan cerdas, dengan pikiran yang rasional tanpa prasangka primordial. Dengan kata lain, subjek harus menghadapi modernisasi pembangunan kota tanpa kehilangan harga dirinya sebagai manusia. Tepatlah seperti yang disimpulkan Ayu Utami dan Ahmad Djuhara bahwa dengan membaca buku ini bisa mengubah cara pandang kita yang baru mengenai segala hal.

Tertarik membaca lebih jauh buku “Kota Rumah Kita” ? silahkan klik link ini.

No Comments »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |


03 Dec 2012

SabtuKota : Bedah Buku “Kota Rumah Kita”


Bedah Buku Kota Rumah Kita karya Marco Kusumawijaya oleh:

Ahmad Djuhara dan Ayu Utami

Tanggal 15 Desember 2012, jam 10.00 – 12.00

di Institut Francais Indonesia,

Jl Salemba Raya no. 25

Buku dapat diperoleh disini.

Untuk pendaftaran acara:

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


26 Apr 2012

Patungan, Yuk!

Yuk, Berpatungan

Punya impian kreatif namun tidak ada dana dalam mewujudkannya? Ingin berwira-sosial namun tidak kendala dana? Lagi dan kerap kali dana menjadi masalah untuk menggapai mimpi.

Tapi jangan lupa, sikap gotong royong sudah mendarah daging dalam masyarakat. Banyak sekali orang yang mungkin memiliki minat sama dengan anda, dan mau membantu dalam bentuk dana untuk mewujudkannya.

Patungan.net adalah bentuk media yang memungkinkan bertemunya pemilik ide dengan penyandang dana. Seperti dikutip dari situsnya, Patungan.net bertujuan untuk mendorong perkembangan kinerja kewirausahaan Indonesia. Pengaju proyek dilatih untuk, selain memikirkan teknis proyek ajuan, mereka dituntut untuk dapat mempresentasikan (menjual) gagasan, mempromosikan, yang dilakukan secara pararel dengan melakukan tahapan kerja, dan ‘memelihara’ dukungan.

Proyek seperti apa yang diharapkan ada di Patungan.net? Proyek yang diajukan, memenuhi kriteria dasar, yaitu;
• Berpikiran terbuka
• Berguna bagi publik
• Bertema: lingkungan (hidup dan sosial), sejarah, dan seni
• Berkelanjutan

Lalu apa peran masyarakat untuk mendukung proyek? Mudah, dapat berpartisipasi dengan cara mendonasi. Ada banyak proyek baik (dan akan bertambah terus) dan proyek-proyek tersebut membutuhkan dana publik. Entah itu proyek teater, film, workshop dan kesenian. Silakan cek daftar proyek ini dan dukunglah yang sesuai dengan hati. Tidak perlu khawatir dengan jumlah uang yang bisa anda patungkan.

Patungan, Yuk!

Cara Mengajukan Proyek Patungan.Net

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |


28 Mar 2012

Bijak Menggunakan Air

Oleh Adipati Rahmat SPi, MSi

Air merupakan senyawa yang sangat penting tidak hanya manusia, namun juga kelangsungan ekologi hayati dan non hayati. Namun secara khusus, bagi manusia, kekurangan air dapat menyebabkan kematian. Hal ini dikarenakan sekitar 80% tubuh manusia terdiri dari air. Otak dan darah adalah dua organ penting yang memiliki kadar air di atas 80%. Otak memiliki komponen air sebanyak 90 persen, sementara darah memiliki komponen air 95 persen. Jika kadar air dalam tubuh berkurang 1 persen, maka akan timbul rasa haus dan gangguan mood; jika berkurang  2-3 persen, suhu tubuh akan meningkat, timbul rasa haus dan gangguan stamina; jika berkurang 4 persen, kemampuan fisik akan menurun hingga 25 persen; dan apabila kadar air di dalam tubuh berkurang hingga 7 persen seseorang bisa jatuh pingsan hingga menyebabkan kematian.

Semua makhluk hidup yang diketahui memiliki ketergantungan terhadap air. Air merupakan zat pelarut yang penting untuk makhluk hidup dan adalah bagian penting dalam proses metabolisme. Di Indonesia, hingga saat ini air masih memiliki sifat common property, dalam artian milik bersama, sehingga monopoli dan privatisasi pengelolaan air dilarang, dan Pemerintah bertanggung jawab menjamin ketersediaan air bagi kelangsungan hidup penduduknya yang diatur dalam Undang-undang nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

Pada umumnya, manusia diasumsikan membutuhkan sekitar 150 liter air perharinya. Air ini digunakan untuk bermacam-macam kebutuhan, dari minum, makan, mandi, memasak, hingga mencuci. Dengan demikian kebutuhan akan air bagi setiap manusia jumlahnya cukup bervariasi, dan jenisnya berbeda-beda. Misalnya untuk minum dan makan, disyaratkan air bersih yang sudah dimasak. Sedangkan untuk mandi cukup air yang bersih. Dan untuk keperluan lain seperti menyiram tanaman, air bekas pakai juga dapat digunakan. Namun tetap, jumlahnya berkisar antara 75 liter hingga 150 liter per hari per orang. Jumlah tersebut akan sangat terlihat besar dan jika kita membandingkannya dengan jumlah penduduk dan daya dukung air di lingkungan kita.

Indonesia pada saat ini masih tercatat sebagai negara yang masih memperbolehkan warganya untuk memenuhi kebutuhan air pribadinyanya dari air tanah. Air tanah dalam hal ini adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah permukaan tanah. Negara-negara maju, terutama yang memiliki daya dukung air lebih sedikit, misalnya karena pengaruh empat musim, sangat membatasi kegiatan pengambilan air tanah, walaupun untuk kebutuhan pribadi. Namun belum mampunya Pemerintah dalam menyediakan air bersih yang layak, membuat kegiatan eksplorasi air tanah secara pribadi diperbolehkan, selama bukan untuk kepentingan ekonomi, misalnya untuk usaha laundry, pencucian kendaraan, atau bangunan dan gedung. Seyogyanya, tanggung jawab ini diemban oleh PT. PDAM. Namun jumlah PDAM yang berhasil melayani warganya, hingga saat ini masih sangat sedikit. Tidak tersedianya jaringan perpipaan yang baik, tingkat kebocoran yang tinggi, dan langkanya sumber air bersih menjadi penyebab, mengapa hampir semua Kota dan Kabupaten sebagian besar masyarakatnya masih belum terlayani oleh PDAM masing-masing. Padahal pemenuhan kebutuhan air bagi setiap anggota masyarakat merupakan amanat Undang-undang, dan juga tencantum dalam salah satu tujuan dari Millenium Development Goals (MDG) yang ikut disepakati oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Dengan terbatasnya pasokan air dari PDAM dan penggunaan sumur-sumur bor milik masyarakat, daya dukung air tanah di Indonesia menjadi semakin menurun. Padahal air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan. Air tanah (selain air sungai dan air hujan) juga mempunyai peranan yang sangat penting terutama dalam menjaga keseimbangan dan ketersediaan bahan baku air untuk kepentingan rumah tangga (domestik) maupun untuk kepentingan industri. Misalnya di Kota Jakarta, ketergantungan pasokan air bersih dan air tanah telah mencapai ± 70%.

Tingginya jumlah penduduk di Kota Jakarta mengakibatkan kebutuhan akan air, terutama air bersih menjadi sangat tinggi. Kondisi ini menyebabkan terjadinya eksplotasi air tanah yang berlebihan. Berdasarkan kedalamannya, terdapat 3 pembagian aquifer air tanah, yaitu upper aquifer yang terdapat pada ke dalaman kurang dari 40 meter, middle aquifer pada ke dalaman 40 sampai 140 meter, dan lower aquifer yang terdapat pada ke dalaman 140 sampai 250 meter. Sedangkan pada ke dalaman lebih dari 250 meter masih ditemukan air  namun dengan kualitas yang sudah menurun dan banyak ditemukan sedimen.

Di Kota Jakarta air tanah diekstraksi mulai dari kedalaman 40 meter. Pada kedalaman 40 meter, cara yang digunakan untuk mengektraksinya adalah dengan pembuatan sumur dan pemasangan pompa air. Pada daerah permukiman, ektraksi air tanah masih dilakukan pada kedalaman kurang dari 40 meter, namun  didaerah perindustrian ektraksi air tanah sudah dilakukan pada kedalaman lebih dari 40 meter.

Berdasarkan Dinas Pertambangan DKI Jakarta, wilayah Kota Jakarta Utara sudah termasuk zona rusak untuk aquifer 40 hingga 140 m. Sedangkan Kotamadya Jakarta Pusat,  Kotamadya Jakarta Barat, Kotamadya Jakarta Timur, dan Kotamadya Jakarta Selatan masih termasuk zona kritis untuk aquifer 40 hingga 140 m. Dan tingkat kerawanan ini masih terus berlangsung. Perbandingannya dapat disimak pada perhitungan di dua tabel berikut ini.

Tabel 1. Pengambilan Air Tanah di Kota DKI Jakarta Tahun 2008

Tahun 2008

Nilai

Satuan

Jumlah Penduduk

9,146,200

jiwa

Kebutuhan per orang

150

liter

Hari

Satu hari dalam setahun

365

Hari

kebutuhan per tahun

500,754,450,000

liter

Hari

Pemenuhan oleh PDAM (54%)

270,407,403,000

liter

Tahun

Pemakaian air tanah (46%)

230,347,047,000

liter

Tahun

Potensi Air Tanah Jakarta

532,000,000,000

liter

Tahun

Batas Aman 30-40% dari Potensi

186,200,000,000

Kelebihan Pengambilan

-44,147,047,000

Sumber: BPS Tahun 2011

Tabel 2. Pengambilan Air Tanah di Kota DKI Jakarta Tahun 2010

Tahun 2010

Nilai

Satuan

Jumlah Penduduk

9,729,500

jiwa
Kebutuhan per orang

150

liter hari
Satu hari dalam setahun

365

hari
kebutuhan per tahun

532,690,125,000

liter hari
Pemenuhan oleh PDAM (54%)

287,652,667,500

liter tahun
Pemakaian air tanah (46%)

245,037,457,500

liter tahun
Potensi Air Tanah Jakarta

532,000,000,000

liter tahun
Batas Aman 30-40% dari Potensi

186,200,000,000

Kelebihan Pengambilan

-58,837,457,500

Sumber: BPS Tahun 2011

Pada kedua tabel tersebut dapat terlihat bahwa, pada Tahun 2008 dimana jumlah penduduk DKI Jakarta adalah 9.146.200 jiwa, terdapat kelebihan pengambilan air tanah sebesar 44 juta liter. Jumlah ini kemudian meningkat hingga 12 juta liter pada Tahun 2010. Kelebihan pengambilan air tanah ini adalah penyebab utama bagaimana fenomena memburuknya kualitas air tanah di Kota DKI Jakarta terutama di Kotamadya Jakarta Utara terus terjadi. Dan juga dapat menjelaskan sebagai hubungan tidak langsung, bagaimana penurunan muka tanah Kota DKI Jakarta terjadi.

Masyarakat secara langsung telah mempengaruhi daya dukung air tanah dengan melakukan kegiatan pengambilan air tanah. Eksploitasi air tanah yang berlebihan telah mengakibatkan laju penurunan daya dukung air tanah menurun, kemudian menyebabkan penurunan kualitas air tanah sehingga partikel-partikel berbahaya seperti bakteri E.Colli menjadi dominan, dan pada gilirannya akan membahayakan kesehatan masyarakat itu sendiri. Dengan demikian secara keseluruhan akan menjadi satu lingkaran penuh yang saling berhubungan. Manusia, air, dan Kota itu sendiri.

Selayaknya manusia, sebuah Kota pun memiliki batasannya. Dan ketika batasannya itu terlampaui, maka sistem alam akan melakukan tugasnya. Penyakit dan wabah akan timbul dan membuat seleksi alam. Mengurangi jumlah penduduknya sehingga mendekati daya dukung awal Kota tersebut kembali. Namun pada dasarnya, dengan memahami bagaimana suatu sistem “kota yang hidup” bekerja, kita dapat menyesuaikan perilaku kita dengan batasan-batasan kota yang kita tinggali. Bijak dalam menggunakan air adalah salah satunya. Menggunakan keran shower daripada menggunakan bak penampung air, dapat mengurangi penggunaan air saat mandi secara signifikan. Menggunakan air bekas mencuci untuk menyiram tanaman dapat menghemat puluhan liter air. Mencuci kendaraan di tempat pencucian komersil yang menggunakan air daur ulang, dapat menjadi pesan bahwa kita menghargai keberadaan air yang sudah sangat terbatas ini.Bijak menggunakan air berarti menghormati alam, dan menghargai Kota yang kita tinggali.

 

No Comments »

Topics: , , , , | Agent of Change: none |


08 Feb 2012

RujakEvent Februari 2012

newsleter-05_small

Rujak Center for Urban Studies mengadakan event rutin tiap Sabtu mulai bulan Februari ini. Sesuai dengan highlight bulan Februari ini yang akan berkisah tentang Kota dan Air, berikut ragam kegiatan Sabtu kami:

(Acara Gratis dengan Mendaftar Terlebih Dahulu disini – dengan maksimal 20 orang per acara)

RujakScreen: 11 Februari 2012  10.00 – 12.00

Kami akan menampilkan 2 film yang bertutur tentang Ciliwung, masa lampau dan masa kini. Terimakasih kepada Komunitas Historia dan Gekko Studio yang telah memberikan ijin penayangan dua film berikut:

1. Ciliwung 20-40an

2. From Communities: Toward an Integrated Water Resource Management

—————————

RujakTalk: 18 Februari 2012 09.30

Dilema Jakarta & Giant Sea Wall

Masa depan mungkin tidak pasti, tetapi tidak dengan masa depan Pantai Utara Jakarta. Saat ini sebagian besar wilayah Pantura Jakarta mengalami penurunan permukaan tanah. Jika tidak ada tindakan pencegahan maka di tahun 2050 sudah dipastikan Bandara Soekarno Hatta akan tenggelam.

Skenario mungkin berbicara lain. Lewat kerjasama antara Belanda dan Indonesia, munculah usulan solusi yang bernama Jakarta Coastal Defense Strategy atau yang kerap disebut pers sebagai Jakarta Giant Sea Wall. Proposal tersebut diformulasikan untuk mampu melindungi Pantai Utara Jakarta dengan 3 juta penduduknya serta investasi triliunan rupiah di masa yang akan datang.
Seperti apakah proposal tersebut? Apakah dia berupa dinding tinggi besar jelek? Lalu apa yang terjadi dengan Laut Jawa dan Kepulauan Seribu? Darimana uangnya? Bagaimana nasib muara sungai-sungai kita?
RujakTalk mengajak untuk menengok proposal Jakarta Coastal Defense Strategy, yang merupakan hasil studi regional antara Deltares (perusahaan konsultan Belanda) dan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum serta Pemerintah Provinsi Jakarta. Ini merupakan rencana besar dan warga Jakarta seharusnya diundang untuk tahu.
————-
RujakShare: 25 Februari 2012 09.30
Sharing bersama beragam komunitas di Ciliwung
Bersama Ivana Lie dari Sanggar Ciliwung Merdeka dan Sudirman Asun dari Komunitas Ciliwung
———–
Semua kegiatan akan dilakukan di
Rujak Center for Urban Studies
Graha Ranuza Lt. 2
Jalan Timor no.10
Belakang Plaza BII Thamrin
Menteng, Jakarta
——–
Nah kami nantikan kehadiran anda, tapi jangan lupa mendaftar terlebih dahulu atau isi form dibawah ini.
Salam dan Mari Berbagi!

No Comments »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |


08 Feb 2012

Tentang Kota dan Air

newsleter-01_cover_smalloleh Robin Hartanto Kota dan kehidupan di dalamnya bergantung penuh pada air. Bagi kota, air bukan hanya berkat, tapi juga kutukan. Ketika berlebih dan tidak terkontrol, air dapat menghancurkan kota dalam sekejap. Ketika kurang, keberlangsungan hidup manusia terancam.

Maka ketika para sejarawan berkata bahwa keberadaan air adalah mula peradaban, bukan tidak mungkin bahwa air pula yang akan mengakhirinya. Dalam bukunya The World Without Us, Alan Weisman mencoba menginvestigasi apa yang akan terjadi dengan kota New York tanpa manusia. Setengah jam, air mencapai ketinggian yang membuat kereta api tidak bisa lewat lagi. 36 jam, sebagian besar kota New York tenggelam. 20 tahun, kolom-kolom baja yang menopang jalan mengalami korosi dan runtuh.

Tidak heran bahwa Singapura memprioritaskan air sebagai prioritas dalam pengelolaan lingkungan. “Every other policy had to bend at the knees for water survival,” sebut Lee Kuan Yew dalam acara Singapore International Water Week tahun 2008.

Lalu, bagaimana dengan Jakarta? Berbagai masalah, dari segi kuantitas maupun kualitas air, siap menjawab pertanyaan ini.

J. J. Rizal pernah menulis bahwa tingkat keamanan air bersih di Jakarta hanya sektar 2,2 persen, atau jika ditambah dengan air tanah menjadi 27,2 persen (bandingkan dengan Singapura yang mencapai 98 persen). Penelitian Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) mengungkapkan fakta yang lebih mengerikan. Mutu aliran sungai di 45 titik pantau di 13 DAS Ciliwung pada 2010: kondisi baik nol persen, tercemar ringan sembilan persen, tecemar sedang sembilan persen dan tercemar berat 82 persen. Tidak mengherankan, karena 2,5 persen timbulan sampah Jakarta (600 m3/hari) mengalir di Sungai Ciliwung.

Ironisnya, dengan curah hujan yang sangat tinggi, kelangkaan air bersih tetap saja terjadi. Salah satu air termahal di dunia bahkan dijual di Jakarta, tepatnya di gang-gang sempit di daerah Pademangan Timur. Firdaus Ali dari Badan Regulator PAM DKI Jakarta mengungkapkan bahwa warga di sana membeli air dengan harga 37 ribu hingga 75 ribu rupiah per meter kubik.

Air tanah menjadi solusi yang siap menghantam kembali. Penurunan air tanah nyata terukur. Data 2007-2008 menunjukkan bahwa bagian utara Jakarta mengalami penurunan 17-26 sentimeter per tahun, dengan kecepatan pemompaan yang semakin meningkat tiap tahunnya.

Dengan latar tersebut, diskursus tentang kota dan air, sangatlah relevan dan mendesak. Oleh karena itu, RCUS mengangkat topik “Kota dan Air”, yang akan diisi dengan beragam program yang saling mengisi. Yuyun Ismawati, seorang aktivis lingkungan yang pernah memenangkan Goldman Prize, akan berbagi cerita tentang kota dan air di RujakTalk. Di RujakScreen, kami akan menampilkan berbagai film dokumenter tentang Sungai Ciliwung, salah satunya From Communities: Towards an Integrated Water Resource Management karya Gekko Studio. Berbagai komunitas seperti Sanggar Ciliwung Merdeka dan Komunitas Peduli Ciliwung turut kami undang untuk bercerita tentang program-program mereka dalam RujakShare.

Mari berbagi!

Kurator Acara: Robin Hartanto

Comments Off

Topics: , , , | Agent of Change: none |


29 May 2011

Jalan Kaki di Seputar Istiqlal, Jakarta. Nyamankah?

Oleh Silvia Honsa

Sekitar Masjid Istiqlal, Jakarta, Oktober 2009

Sungguh suatu “kemewahan” bisa berjalan kaki dengan nyaman di Jakarta. Suatu hal yang aneh sebenarnya, karena kegiatan berjalan kaki adalah termasuk kegiatan kita sehari-hari yang paling alami.  Berjalan kaki menjadi “mewah” karena sulit sekali kita menemukan jalur yang nyaman atau paling tidak, aman untuk kita para pejalan kaki melewatinya. Belum lagi masalah adakah jalur pejalan kaki di sepanjang jalan yang akan ditempuh. Nah, itu termasuk hal  yang penting untuk dipertimbangkan saat ingin berjalan kaki dari satu titik ke titik lain.

Kalau pun ada jalur pejalan kaki seperti foto di atas, menurut saya masih kurang nyaman. Lihatlah batas pagar di kiri kanannya, membuat kita pejalan kaki dibatasi interaksinya dengan taman di kiri kanan jalur.

Hak pejalan kaki sepertinya terlalu dibatasi bahkan cenderung diabaikan. Ini aneh sekali. Seakan yang layak ada di jalan begitu kita keluar rumah hanya lah orang-orang yang menggunakan alat transportasi saja. Pemahaman akan jalur jalan menjadi dibatasi hanya untuk mengakomodasi kendaraan dan tidak untuk pejalan kaki.

Kalau merujuk pada pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki di Perkotaan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum , sepertinya ideal sekali jika benar-benar dilaksanakan di tiap kota. Gambar di bawah ini adalah salah satu pedoman mengenai tipologi ruang pejalan kaki di sisi jalan. Nyaman bukan seandainya terwujud?

Lihat lah foto di atas, sebenarnya bisa menjadi cukup nyaman, tetapi desain difokuskan pada halte, bukan pada jalur pejalan kakinya dan sekali lagi, ada pagar pembatas. Mungkin juga tidak bisa menyalahkan seratus persen pertimbangan pemasangan pagar di sini. Tetapi apakah itu satu-satunya solusi?

Ini dia, foto di atas adalah salah satu foto yang sangat menunjukkan keajaiban jalur pejalan kaki di Jakarta. Sebelum bertemu dengan jalur busway ini, saya melewati jalur pejalan kaki seperti dua foto teratas. Tiba-tiba saja saya kebingungan, tertegun, berhenti berjalan. Di depan saya, ada bangunan halte busway yang menghalangi seluruh badan jalur pejalan kaki. Pilihan yang ada sama-sama tidak menyenangkan dan tidak aman. Pertama, seperti tampak di foto, melewati celah antara bangunan busway dengan pagar masjid yang sungguh sangat tidak nyaman. Kedua, turun di badan jalan, berjalan di jalur busway yang jelas selain tidak nyaman juga tidak aman. Akhirnya, saya memilih pilihan pertama, dengan pertimbangan saya tidak berminat ditabrak kendaraan bermotor apabila memilih pilihan kedua.

Bayangkan sulitnya berjalan kaki di Jakarta ini secara umum. Ini baru di sekitar Istiqlal yang nota bene di tengah pusat pemerintahan, bukan hanya untuk DKI Jakarta tetapi Republik Indonesia. Bagaimana dengan di daerah pinggiran? Seperti di Kali Malang yang tidak ada jalur pejalan kakinya, atau di jalan MT Haryono yang ada jalur pejalan kaki tetapi sering kali bersaingan dengan pengendara motor?

Sungguh, bagi saya berjalan kaki di Jakarta lebih sering saya rasakan sebagai suatu perjuangan. Karena pejalan kaki harus berjuang di jalurnya sendiri, menghadapi pengendara motor dan para pedagang. Kalau tidak ada jalurnya, kita terpaksa turun ke bahu jalan, yang artinya menyabung nyawa. Oh, sulitnya berjalan kaki yang nyaman di Jakarta.

Tapi apakah kita pejalan kaki harus menyerah dengan keadaan ini? Saya rasa tidak. Masih ada peluang bagi pejalan kaki untuk memperjuangkan haknya. Apalagi dengan semakin banyaknya orang yang peduli dengan kondisi-kondisi ini dan berusaha untuk membuat solusi yang adil bagi para pejalan kaki dan pengguna jalan yang lain. Masih tersisa harapan. Salah satu gerakan yang saya tahu akhir-akhir ini cukup aktif membahas soal pejalan kaki, adalah pengguna akun twitter @yukjalankaki.

Jadi mari kita tidak patah semangat dalam berjalan kaki di Jakarta.

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |