Posts Tagged ‘lestari’


07 Oct 2013

5 Program Transisi Menuju Kota Lestari

Freedom

 

Diskusi bersama Marco Kusumawijaya dan Ari Perdana.

10 Oktober 2013, Jam 19:00-21:00

di Freedom Institute, Jalan Proklamasi No. 41, Jakarta Pusat

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


25 Jul 2013

Koleksi Buku RCUS: Lingkungan dan Kelestarian

Berikut adalah resensi dari 5 buku koleksi Rujak mengenai lingkungan dan kelestarian. Buku dapat dipinjam dari Perpustakaan Rujak dengan menghubungi info@rujak.org

No Comments »

Topics: , , , , , , , , , , , | Agent of Change: none |


19 Jan 2010

Undangan Seminar: “Sustainable Urbanism and Its Challenges to Civil Society.”

Hari/Tanggal : Jumat/5 Februari 2010
Pukul : 14:00
Tempat : Aula The Japan Foundation Jakarta

The Japan Foundation mengundang anda untuk hadir dalam acara Ceramah Kebudayaan yang akan diberikan oleh mantan ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta, bapak Marco Kusumawijaya.

Beliau baru saja kembali pada bulan Desember 2009, dari kunjungan dua bulannya ke Jepang atas undangan the Japan Foundation dan International House of Japan. Dari hasil kunjungan tersebut, beliau mendapatkan banyak tambahan pengetahuan dan wawasan yang menarik dalam bidang kebudayaan dan kesenian, yang hendak ia bagi kepada orang-orang di Indonesia.

Acara Ceramah Kebudayaan ini adalah untuk membagi hal-hal yang ia lihat dan dapatkan di Jepang, yang ia harapkan dapat menambah kaya wawasan kebudayaan di Indonesia

Hadir mendampingi beliau adalah dua orang pakar sebagai berikut:

  1. Dr. Bachtiar Alam, Antropolog dan Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia.
  2. Latipah Hendarti, Ph.D Students Ecological Economy, Department of Forest Sciences, Seoul National University.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Dipo di (021) 520 1266.

Tempat terbatas!

Profil Singkat Marco Kusumawijaya

Marco Kusumawijaya, Ketua Pengurus Harian  Dewan Kesenian Jakarta saat ini, adalah seorang arsitek yang juga aktif dalam bidang tata kota, pelestarian lingkungan hidup, seni, dan pembangunan berkelanjutan. Beliau diundang pada bulan September hingga November 2009 yang lalu ke Jepang, dalam Asia Leadership Fellow Program yang diselenggarakan oleh the Japan Foundation dan Intenational House of Japan.

1 Comment »

Topics: , , , , , , , , , , | Agent of Change: none |


28 Dec 2009

Sayembara Prakarsa Mayarakat untuk Kota Lestari

Forum Hijau Bandung, salah satu pemenang sayembara Prakarsa Masyarakat untuk Kota Lestari, bersama dua anggota dewan juri, Yuyun Ismawaty (pemenang Goldman Prize untuk lingkungan, 2009), dan Marco Kusumawijaya, editor Rujak.org

Forum Hijau Bandung, salah satu pemenang sayembara Prakarsa Masyarakat untuk Kota Lestari, bersama dua anggota dewan juri, Yuyun Ismawaty (pemenang Goldman Prize untuk lingkungan, 2009), dan Marco Kusumawijaya, editor Rujak.org. Foto: Tripod, Forum Hijau Bandung, 21 Desember 2009

Prakarsa Masyarakat untuk Kota Lestari adalah sayembara yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Tata Ruang, Departemen Pekerjaan Umum, bekerja sama dengan Kelompok Kerja Kota Lestari yang sebagian anggotanya adalah pendiri rujak.org. Tanggal 21 Desember 2009 Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, menyerahkan piagam dan plakat kepada enam pemenang dari seluruh 46 proposal yang diajukan.

Seluruh proposal yang diajukan dapat dibaca disini.

Karena keterbatasan kemampuan, dewan juri hanya memilih enam pemenang (bukan juara). Tetapi, sebenarnya semua proposal yang diajukan layak mendapat dukungan. Karena itu rujak.org memuat semuanya. Silakan membantu menyebarkan semua prakarsa ini untuk mendapat dukungan dari siapa saja yang berminat.

Para pemenang tidak mendapatkan hadiah langsung; tetapi dijanjikan akan mendapat dukungan dana untuk melaksanakan prakarsa yang telah diusulkannya dalam tahun anggaran 2010 nanti. Bila ini terlaksana, maka boleh jadi inilah pertama kalinya prakarsa masyarakat yang diusulkan secara terbuka melalui sayembara mendapatkan dukungan pendanaan langsung dari pemerintah pusat.

Para pemenang adalah (urutan tidak mencerminkan tingkat kejuaraan. Tidak ada juara, hanya pemenang):

1. Judul: Noto Tuladha Resik Ingkang Morokrembangan, Usulan
Penataan Kawasan dengan Pendekatan Lokal oleh Gabungan
Mahasiswa Peduli Rakyat
Pemrakarsa : Barefoot Architect-ITS Surabaya, dan kawan-kawan
Lokasi : Permukiman Kawasan Boezem Morokrembangan, Surabaya Utara

2. Judul : Menciptakan Masyarakat Kampung Code Utara Berdaya
dengan Optimasi Komunitas Warga
Pemrakarsa : Bapak Ariyanto dan kawan-kawan
Lokasi : Kampung Code Utara RT 01/RW 01 Kotabaru, Yogyakarta

3. Judul : Penataan Bantaran Sungai Berbasis Masyarakat (Pbs-Bermas)
Pemrakarsa : Tim dari Prodi Arsitektur Universitas Teknologi Yogyakarta yaitu
Endy Marlina ST, MT, dan kawan-kawan
Lokasi : Kelurahan Cokrodingratan dan Kelurahan Terban, Kecamatan Jetis

4. Judul : Pengelolaan dan Pembinaan Kebun Bibit Pohon Oleh Siswa
Sekolah Dasar di Kota Bengkulu dalam Rangka Penghijauan
Kawasan Non Hutan di Kota Bengkulu
Pemrakarsa : Bowo Tamtulistio, SP, dan kawan-kawan
Lokasi : Kota Bengkulu

5. Judul: Memperkuat Pendekatan Partisipatif Dalam Penataan dan
Pengelolaan Kanal “Sungai Jawi” Kota Pontianak
Pemrakarsa : Palang Merah Indonesia (PMI) Daerah Kalimantan Barat
Lokasi : Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat

6. Judul: Kolaborasi Antar Partisipan Forum Hijau Bandung menuju
Kota Lestari
(Penerapan 3 Program Kolaborasi: Peta Hijau Persampahan,
Eco-Hotel Rating, dan Masuk RT)
Pemrakarsa : Irmansjah Madewa (Penasehat Forum Hijau Bandung) dan kawankawan
Lokasi : Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat

Penggagas sayembara ini, yaitu Direktorat Jenderal Penataaan Ruang, Departemen PU, dan Kelompok Kerja Kota Lestari, mengganggap penting mendorong prakarsa dari masyarakat dalam rangka transisi menuju kota lestari. Sebab, pada akhirnya perubahan harus terjadi pada tingkat komitmen pribadi, baik secara individual maupun secara berkomunitas, sehingga kepemilikan masyarakat atas perubahan penting dibangkitkan melalui prakarsa aktif.

Kelompok Kerja Kota Lestari adalah kelompok prakarsa terbuka yang terdiri dari antara lain Elisa Sutanudjaja (dosen Universitas Pelita Harapan, editor rujak.org), Nana Firman (campaigner WWF), Yuli Kusworo (arsitek), Armely Meiviana (editor Freetodecide.org, pendiri Green Lifestyle), Shanty Syahril (pekerja lingkungan, pendiri freetodecide.org, pendiri Green Lifestyle dan koordinator Rumah Bersama), Suryono Herlambang (Ketua Jurusan Perencanaan Kota dan Pengembangan Real Estat, Universitas Tarumanagara), Andrea Fitrianto (aritek pada Uurban Poor Consortium), dan Marco Kusumawijaya.

Dewan Juri terdiri dari Deni Ruchyat (Sekretaris Ditjen Tata Ruang, Departemen PU), Yuyun Ismawaty (direktur Bali Fokus, pemenang Goldman Prize untuk lingkungan, 2009) dan Marco Kusumawijaya (Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta, editor rujak.org).

6 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: GreenLifeStyle Rumah Bersama |


25 Dec 2009

Lestari dan Berkelanjutan

Tulisan ini terbit sebelumnya di kolom Bahas!, Majalah TEMPO, 14-20 Desember 2009.

Dengan demam pemanasan buana sekarang, makin banyak kata-kata terkait lingkungan bertaburan dalam Bahasa Indonesia. Sebagian darinya sudah diterjemahkan dari bahasa lain ke dalam Bahasa Indonesia, meskipun penggunaan yang terakhir ini masih setengah-setengah.

Salah satu yang bermasalah adalah kata “berkelanjutan” yang dianggap sebagai pengganti kata sustainable. Tetapi, dalam banyak dokumen resmi masih sering digunakan kata sustainable, dengan huruf miring ataupun tidak.

Kata sustaianble berakar kata-kerja sustain, yang artinya menurut The American Heritage Dictionary (saya kutip hanya yang relevan dengan konteks lingkungan): 1. To keep in existence; maintain; 2. To supply with necessities or nourishment; provide for; 3. To support from below. Asal katanya adalah Latin sustinere (sub+tenere), yang berarti mendukung (dari bawah).

Kata ini umumnya disandingkan dengan hal-hal terkait pembangunan, misalnya secara langsung sustainable development, atau dijabarkan lebih lanjut menjadi sustainable urban development yang biasanya diterjemahkan menjadi “pembangunan perkotaan berkelanjutan”. Terang, tidak perlu dijelaskan, ini berasal dari alam pikiran pembangunan-isme (developmentalism).

Pada asal demikian, maka nampak yang dimaksud “berkelanjutan” adalah prosesnya (pembangunan), tanpa kandungan isi tentang apa yang dimaksud dengan pembangunan yang berkelanjutan itu sendiri. Hal yang sama, tiadanya kandungan makna isi, terjadi ketika kata itu disandingkan dengan suatu entitas, suatu hasil, misalnya yang kerap kita dengar, “kota yang berkelanjutan” (sustainable city). Kota yang berkelanjutan itu seperti apa?

Itulah sebabnya kata sustainable dan yang dianggap terjemahannya, “berkelanjutan”, menjadi kabur atau terlalu terbuka. Ia misalnya digunakan antara lain dalam arti “tetap berjalannya proyek pembangunan setelah bantuan (sering berarti: pinjaman) dihentikan”.

Bahasa Indonesia memiliki kata yang punya definisi substansi yang relevan dalam hal ini: lestari. Menurut KBBI, arti lestari adalah (a) tetap seperti keadaannya semula; tidak berubah, bertahan, kekal.

Kedengarannya definisi itu pasif atau statis. Tetapi kata semula yang saya garis bawahi menyiratkan tuntutan dinamika dalam konteks kekinian. Para ahli ekologi telah menganjurkan pergeseran dari pembangunan yang “ramah-lingkungan” (dampak negatif sekecil mungkin atau nol) menjadi yang “memulihkan lingkungan”, sebab telah disadari kita tidak hanya harus mengurangi pengrusakan, tetapi juga memperbaiki lingungan, mencapai kembali keadaan kapasitasnya yang semula mungkin. Karena itu ada bentukan kata kerja “melestarikan” yang menjadi sangat aktif, sebab terang diperlukan tindakan untuk memulihkan apa yang rusak kembali kepada keadaan dan kapasitas semula. Menurut arti KBBI itu, lestari berarti kekal, bertahan. Ini adalah kata sifat yang dinamis, sebab untuk dapat kekal dan bertahan, suatu keadaan harus berubah-ubah secara kreatif dalam menghadapi hal-hal yang mengenainya. Kalau diam, malah akan tumbang, seperti diujarkan suatu pepatah Hindu “Yang terus bergerak akan tetap berdiri, yang diam akan jatuh”.

Dan, “pelestarian” menurut KBBI berarti “upaya pengelolaan sumber daya alam yang menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.” Meskipun ada banyak keluhan tentang cacat KBBI, saya kira definisi ini patut dipuji sebagai sangat progresif, sangat sesuai dengan perkembangan mutakhir dalam pendekatan linkungan, yang memajukan pemulihan aktif , bukan sekedar pasif ramah-lingkungan.

Suatu pembangunan boleh berkelanjutan. Tetapi berjelanjutan untuk apa? Untuk menghasilkan negeri atau kota yang lestari, tentunya. Jadi mari membangun berkelanjutan sejauh menghasilkan kota dan negeri yang lestari. Suatu pembangunan justru tidak boleh berkelanjutan kalau tujuannya tidak ada, tidak jelas, menyesatkan, atau terus menerus mengeksploitasi tanpa memulihkan.

Sejauh kata memiliki kuasa, saya menganjurkan kita mengganti slogan “kota berkelanjutan” yang terlalu dapat ditafsirkan bukan-bukan dan membuat orang awam terbengong-bengong karena kosong tidak berisi panduan apapun, dengan “kota lestari” yang punya isi yang dapat memandu kita. Di dalam kata “lestari” tersirat keberkelanjutan, tetapi di dalam kata “berkelanjutan” tidak terkandung isi tujuan yang jelas. Akhirnya, Salam Lestari! (Sebagaimana sudah lama digunakan di kalangan pecinta lingkungan, dan tidak lucu kalau diterjemahkan menjadi “Salam Berkelanjutan!”).

1 Comment »

Topics: , , | Agent of Change: none |