Posts Tagged ‘Nelayan’


10 Apr 2012

Review buku : Orang Pulo di Pulau Karang

 

Oleh: Robin Hartanto

Penyusun: Rosida Erowati Irsyad

Penerbit: Lab Teater Ciputat

 

Tak elak bersembunyi ribuan pesona di balik Duizen Eilanden. Kepulauan Seribu, yang selama ini banyak dikenal dengan kekayaan wisata baharinya, rupanya turut menyimpan kekayaan budaya masyarakat yang menghuninya. Hal tersebutlah yang kemudian hendak direkam buku ini, alih-alih merekam kekayaan alam yang mungkin akan lebih laku dibaca.

Untuk mengerucutkan cakupan kajian, dengan tegas buku ini menentukan wilayah Pulo sebagai batasan, termasuk di dalamnya Pulo Panggang, Pulo Pramuka, dan Pulo Karya. Penegasan ini menjadi penting diketahui karena kata Pulo sendiri memiliki ambiguitas oral karena juga digunakan sebagai awalan untuk menyebutkan “pulau” lain seperti Pulo Tidung atau bahkan Pulo Seribu (Kepulauan Seribu).

Para pembaca buku ini dapat menyimak potret Orang Pulo dari berbagai sisi. Sejarah, mitos, kondisi geografis, dan kesenian mereka terekam ringkas dan jelas. Praktis kita dapat menemukan hubungan kawasan ini dengan Batavia, mitos tentang Dara Putih yang melegenda, hingga ilmu silat alif yang dikreasikan masyarakat Pulo dari berbagai aliran.

Namun, buku ini tidak hanya berhenti pada cerita besar. Petite histoire malah menghidupkan buku ini. Hampir di setiap segmennya terdapat kutipan-kutipan, bukan dari mulut orang terkenal melainkan dari tutur masyarakat setempat. Tak ayal kita dapat menemukan kalimat spontan seperti “Mau ke kampung…”, “…pantang pulang. Jika sudah maju harus berhasil”, atau “Mati Blanda!”, yang justru memberikan warna pada buku ini. Berbagai data dan cerita pun digali langsung dari penduduk setempat, di samping karena keterbatasan catatan tertulis tentang itu. Tak luput juga tercatat cerita-cerita sederhana tentang Mbok Tinah pedagang makanan kudapan atau Pak Nawawi penggiat lenong.

Beberapa hal perlu menjadi masukan untuk buku ini. Ketiadaan keterangan gambar membuat pembacanya terkadang sulit memahami gambar-gambar yang ada, selain permainan efek-efek warna pada foto-foto terasa agak berlebihan. Saya sendiri sulit untuk memahami letak dan batasan dari Pulo tanpa mencari lebih lanjut di dunia maya, karena minimnya peta atau gambar yang menjelaskan hal tersebut, terutama untuk orang yang tidak pernah kesana sebelumnya.

Tentu saja buku ini tak luput dari keterbatasan yang dapat dimaklumi. Mengutip ucapan antropolog Bisri Effendy, buku ini memang dimaksudkan sebagai penelitian awal. Apa yang direkam memang lebih bersifat kilas potret, tanpa perlu menyelam jauh ke dalam. Sebuah usaha yang sangat perlu untuk mendorong penelitian-penelitian lebih lanjut.

 

 

 

 

 

2 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


03 Aug 2010

TK Milik Nelayan

TK Nelayan di bawah tiang listrik

Teks dan Foto oleh Yanti Maryanti.

Aku pernah menawarkan latihan melukis di atas kain untuk anak-anak muda di kampung nelayan di Kampung Muara, namun Ibu Syamsudin malah menyarankan aku memberi latihan menggambar pada anak-anak TK di samping rumahnya. Dengan semangat istri pengurus organisasi nelayan itu mengeluarkan semua hasil karya anak didiknya. Aku terbelalak mendengar jumlah siswa yang belajar di sekolah kecil itu. Dua ratusan lebih siswa TK menunggu diajari melukis.

Dua bulan yang lalu Ibu Syamsudin memperlihatkan ratusan block note bergaris milik para siswa kepadaku. Block note itu adalah media latihan menggambar milik anak-anak TK di perkampungan nelayan itu. Ada gambar ikan, perahu, rumah, orang dan juga garis-garis tidak beraturan menghiasi lembar-lembar kertas bergaris itu. Mereka menggambar dengan pensil berwarna yang jumlahnya terbatas yang dipinjamkan sekolah. Para murid menggunakannya bergantian.

Sekolah TK itu tampak menyolok berada di tengah perumahan kumuh masyarakat nelayan. Sekolah itu tampak menyolok karena cat bangunannya yang baru dan berwarna-warni. Sementara perumahan di sekililingnya cenderung terlihat kusam. TK itu berdiri atas prakarsa masyarakat setempat yang menginginkan agar anak mereka memiliki tempat belajar di dekat rumah mereka. Pak Syamsudin memiliki peran besar dalam pendirian sekolah tersebut. Ia juga sering merelakan uang pribadinya untuk pengelolaan sekolah tersebut. Terakhir ada beberapa lembaga sosial yang mulai membantu mereka.

Saat aku datang, gedungnya masih baru karena baru saja dibangun dan dicat dengan dana bantuan dari Program Pundi Amal dari sebuah stasiun televisi. Meskipun memiliki alat permainan ayunan dan alat panjatan di depan sekolah, sesungguhnya masih banyak hal yang memprihatinkan dari sekolah itu.

Murid yang ditampung di sekolah itu jumlahnya sangat besar  dan tidak sebanding dengan luas gedung sehingga jadwal sekolah berlangsung pagi hingga menjelang sore. Pengajarnya pun bukan guru profesional yang terlatih mengajar anak-anak. Para pengajarnya adalah para remaja di perkampungan tersebut. Mereka mengajar secara bergiliran dengan sarana seadanya. Guru-guru tersebut tidak menerima gaji.

Sebagian besar siswa yang belajar di TK tersebut adalah anak nelayan di RW 04, Kelurahan Kamal Muara, Kejamatan Pejaringan, Jakarta Utara. Mereka adalah korban penggusuran pada tahun 1998. Kemudian mereka menempati lahan kosong tanpa surat kepemilikan tanah hingga saat ini.

Meskipun tahun ini Pemerintah DKI telah menganggarkan tujuh ratus milyard lebih dana untuk penanggulangan banjir, tampaknya hasilnya tak begitu dirasakan oleh masyarakat di sekitar TK itu. Sebulan sekali air rob dari laut datang menggenagi kampung mereka. Periodenya pun tergolong panjang. Bisa tiga hari hingga satu minggu air baru surut. TK tersebut juga tak luput dari banjir.

No Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |