Posts Tagged ‘pameran’


12 Jun 2013

Kumpulan Kecerdasan Asia Tenggara di Berlin

 

Pembukaan Smart City_oleh Evawani Ellisa

Pembukaan Smart City Workshop

 

Teks oleh Elisa Sutanudjaja

Selama kurang lebih sepuluh (10) hari, AedesEAST dan ANCB The Metropolitan Laboratory
di Berlin menyelenggarakan pameran, simposium dan bengkel kerja dengan tema
Smart City: The Next Generation (Focus Southeast Asia). Acara tersebut dibuka
pada tanggal 7 Juni 2013, menjadi ajang berkumpul kecerdasan yang
terakumulasi dan terjadi di kota-kota di Asia Tenggara: Jakarta, Kuala Lumpur,
Bandung, Singapore, Phnom Penh, Hanoi, Saigon, Manila, Bandung, dan lainnya.
Dalam acara pembukaan, hadir pula Wakil Presiden Filipina dan memberikan
apresiasi terhadap berlangsungnya rangkaian kegiatan pameran, simposium dan
bengkel kerja tersebut. Acara ini bukan hanya berlangsung di bulan Juni 2013
saja, tapi juga telah dimulai sejak akhir tahun 2012, melalui proses seleksi karya
dan penelitian serta proses bengkel kerja Smart City di 3 kota: Jakarta, Manila,
dan Phnom Penh.

Nuansa perpaduan kesenian Asia Tenggara terasa kental saat acara tersebut
dimulai dengan penampilan dari kelompok musik-tarian kontemporer dari State
University of Philippine, yang seakan-akan memadukan kesenian Filipina,
Melayu, Jawa dan sebagainya dalam ritmik dan musik mereka.
Duo seniman Indonesia: Irwan Ahmett dan Tita Salina, dan dibantu oleh Elisa
Sutanudjaja, mengajak dan mengusik para hadirin dengan bermain-main musik
di dinding gedung galeri. Seri Urban Play dari Ahmett-Salina terinspirasi dari
celotehan, gossip, bincang-bincang yang biasa terjadi dan terdengar di sepanjang
trotoar kota.

Keesokan harinya, selama dua (2) hari, peserta simposium diajak untuk mengikuti
perkembangan terkait dengan kecerdasan kota melalui berbagai diskusi panel
dalam bermacam tema, yaitu: Smart Behaviour/Social Inclusion, Smart
Technologies and Materials, Smart Housing, Smart Mobility, Smart City – The
Larger Scale, Creative Industries as Smart Economy Factors, Smart Collaborative
Heritage Management. Masing-masing panel dipandu dengan interaktif oleh
moderator yang berpengalaman sesuai dengan tema tersebut, mengajukan
pertanyaan pemancing sebelum akhirnya disambut dengan perdebatan dan
komentar aktif dari para hadirin.

Sementara pameran Smart City menghadirkan ragam karya dari berbagai macam
tema, mulai dari pendekatan dan proyek sederhana hingga konsep kota utopia.
Termasuk diantaranya dari Indonesia: beragam upaya kreatif dari Bandung
Creative City Forum, desain ruang hijau skala besar dari Cosmas Gozali, proposal
untuk Muara Baru dari mahasiswa Universitas Bina Nusantara Hardy Suanto ,
karya Arsitek Komunitas Yogyakarta, Instalasi Permainan di kampong Cikini dan
ruang serba guna di kampong Cikini dari Jurusan Arsitektur Universitas
Indonesia, situs pemetaan kota dari SoloKotaKita, serial permainan kota dari
Ahmett+Salina, dan upaya Paguyuban Warga StrenKali Surabaya dalam
mewujudkan perumahan lestari di sepanjang StrenKali. Pameran dari Indonesia
juga diperkaya oleh hadirnya 11 karya Bengkel Kerja Smart City Jakarta yang
telah berlangsung dari tanggal 3-13 Januari 2013.Rangkaian acara di Berlin diakhiri dengan Bengkel Kerja Kaum Muda, yang
mengajak Generasi Baru dari Jakarta, Manila, Phnom Penh dan Eropa bersamasama memikirkan relasi yang terjadi antara air dan kota, dengan mengambil
studi kasus di Berlin.

Nantinya hasil simposium, katalog, dan bengkel kerja dapat dinikmati di situs
Aedes: www.aedes-arc.de

Pembukaan Acara: 7 Juni 2013
Simposium : 8-9 Juni 2013
Debat The Water Challenges : 10 Juni 2013
Pameran : 18 Mei – 4 Juli 2013
Aedes am Pfefferberg, Studio
Christinenstrasse 18-19
10119 Berlin

No Comments »

Topics: , , , , , , , , , | Agent of Change: none |


12 Dec 2009

Agenda Kegiatan Desember Dewan Kesenian Jakarta

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: Dewan Kesenian Jakarta |


15 Sep 2009

Katalog Workshop AMI: Ruang Tinggal Dalam Kota

Katalog Pameran Ruang Tinggal Dalam Kota

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


15 Sep 2009

Ketika Ruang Tinggal Dipertanyakan

IMG_1626

Melalui utopia arsitektur berhenti sebagai proyek rancangan pesanan individual. Ia ingin berpikir ‘menyempurnakan’ masa depan semua. Ia menjadi pemikiran. Ia menjadi alat kolektif membincangkan ideal bersama. Karena kota menjadi obyek yang tepat. Pada ruang kota, arsitektur berhenti menjadi alat pesanan pribadi, sebab ia harus menjadi alat kolektif (Marco Kusumawijaya, 2009)

Setidaknya kalimat diatas berulang kali dikutip, mulai dari undangan hingga pada saat pembukaan Pameran Workshop Arsitek Muda Indonesia yang bertajuk Ruang Tinggal dalam Kota. Pemikiran utopis inilah yang menjadi dasar materi pameran yang mempertanyakan ruang tinggal. Di saat ruang tinggal ditempatkan dalam kota, maka arti kata ruang tinggal tersebut bisa terdekonstruksi, berevolusi dan memiliki makna lain menjadi lebih dari sekadar bangunan di alamat KTP.

Ada banyak hal yang tersirat dan tersurat dalam 14 hasil workshop. Mereka berangkat dari fenomena, derita, kekinian, peluang, persepsi, definisi akan tinggal didalam kota. Tema akan kota dan ruang tinggal begitu dekat dalam keseharian. Di tangan para arsitek muda dan mahasiswa arsitektur, 14 proposal itu menjadi usulan yang unik, berani, sedikit naïf, penuh mimpi, idealis dan bersemangat. Namun bukankah itu yang diharapkan dari generasi penerus bangsa?

Kenyataan bahwa Jakarta adalah kota kontemporer menjadikan Jakarta sebagai isu favorit dalam workshop ini.  Kekontemporeran Jakarta menjadi kota dan warganya yang selalu bergerak. Jakarta seakan meradikalkan mobilitas warganya, entah secara visual maupun fisik. Itulah yang menjadi isu proposal seperti: Mobile House, diDedikasikan untuk Komuter, metabolism of Jakarta city, ruang mimpi, dan ruang.waktu.tinggal.

Dua proposal pertama berkutat pada masalah waktu tempuh dari dan ke rumah tinggal. Mobile House pada akhirnya menyediakan struktur-struktur utama di berbagai penjuru Jakarta, sebagai sarang rumah-rumah untuk bermetabolis dan tinggal – memungkinkan rumah tersebut untuk berpindah tempat sesuai dengan kebutuhan. Seperti layaknya apartemen-apartemen di tengah kota, Mobile House mendekatkan jarak penghuni ke tempat aktivitas, hanya si penghuni dan unitnya dengan mudah berpindah tempat ke antero kota. Sementara diDedikasikan untuk Komuter adalah upaya untuk mengembalikan para komuter ke dalam kota dengan menempati ruang yang memang selama ini mereka tempati sepanjang perjalanan, yaitu Jalan Tol Dalam Kota. Proposal ini menggugat keberadaan jalan tol dalam kota yang tentu saja berlawanan dengan prinsip transportasi publik. Dan disaat bersamaan iapun menggugat kediaman (mobil) akibat macet di jalan tol, sehingga dalam kediaman adalah gerak itu sendiri. Mobil dianggap sebagai home in homelessness untuk jangka waktu tertentu di jalan tol itu.

Pergerakan dan mobilitas dapat dilihat juga seperti sistem metabolisme dalam tubuh manusia, setidaknya itu yang diutarakan oleh kelompok metabolism of Jakarta city. Didalam tubuh (kota) yang sehat, tentunya memerlukan aliran (pergerakan) yang sehat pula. Proposal ini seakan berupaya untuk menghilangkan kadar kolesterol dalam darah, seperti halnya mencoba menyehatkan pergerakan dan sistem yang terjadi dalam daerah Blok M.

Benturan antara pergerakan semu dan kediaman absurb muncul pada proposal ruang mimpi. Pergerakan yang muncul dari indahnya magnet kota, namun disaat bersamaan menyaring calon warganya, hingga terpaksalah warga menempati no-man’s land, dalam hal ini pinggir rel kereta api. Menjadikan kediaman tersebut sewaktu-waktu bisa digugat, tergusur dan berpindah ke tempat lain.

Ruang-ruang kota marjinal tak hanya berhenti sebatas pinggir rel kereta api, tapi bisa juga kolong jembatan dan bantaran kali. Bahkan untuk konteks kota Jakarta, jalur pejalan kaki pun menjadi ruang tak bertuan, seperti banyak yang terjadi di balik gedung-gedung kantor. Proposal ruang bayangan melihat ruang-ruang tersebut sebagai peluang yang dapat dikembangkan menjadi serial ruang tinggal.

Sementara ide akan kota sebagai hidup nomaden muncul dalam proposal ruang.waktu.tinggal. Dalam hal ini, hidup nomad adalah intermezzo. Mereka percaya bahwa ruang tinggal adalah segala sesuatu yang memiliki waktu kebersamaan dengan seseorang dalam kurun waktu tertentu. Berangkat dari konsep film The Terminal, berubah menjadi konsep arsitektural paradoks nomadisme, menjadikan waktu sebagai penentu desain, bukannya klien ataupun kebutuhan ruang. Seakan waktu yang dijual, dan kemudian dikemas dalam bentuk ruang.

Berlawanan dengan gugatan terhadap gaya hidup nomad, proposal ruang kembali justru memperlihatkan konsep kota dan ruang tinggal di masa lampau. Ruang tinggal kembali menjadi kediaman dalam arti sesungguhnya, yaitu sebagai rumah, tempat untuk berhenti total dari pergerakan – menjadi tempat untuk pulang.

Isu-isu populer seperti keberlanjutan (sustainability) pun muncul dalam beberapa proposal, seperti Tropical Capsule Bungalow, Linear City dan nenek moyangku seorang pelaut. Tropical Capsule Bungalow berangkat dari isu pembangunan di Bali yang cenderung merusak alam, maka dari situ lahirlah ide bungalow dengan bahan sampah daur ulang dan kemudian ditempatkan di lokasi terbengkalai sudut kota. Sementara Linear City berangkat dari konsep abad 19 akhir dengan nama yang sama. Proposal tersebut berusaha untuk mengkompakkan area Kuningan disepanjang jalan, dan lalu merelokasikan area-area lain di belakangan jalan Kuningan hingga berubah menjadi area konservasi dan preservasi. Tentu pembentukan dan luasan bangunan disepanjang Kuningan serta perbandingan lahan memakai perhitungan jejak kaki ekologis. Kenyataan akan perubahan iklim, buruknya lingkungan dan kerap rutinnya banjir melanda Jakarta, mendasari proposal nenek moyangku seorang pelaut. Dengan demikian, diharapkan warga Jakarta di masa mendatang mampu adaptif terhadap bencana yang kini menjadi rutinitas.

Kota Bandung turut menjadi inspirasi, terutama bagi 2 proposal yang berasal dari Bandung yaitu kota skala kita dan fashion, Bandung, arsitektur. Keduanya mengambil lokasi sama yaitu di Dago, namun berangkat dari pemahaman yang berbeda. Proposal pertama berupaya mengembalikan skala kota di sepanjang jalan Dago kepada manusia, dengan memberikan kekayaan dan kuasa ruang terhadap pejalan kaki. Kota skala kita melakukan pemisahan yang jelas dan mutlak antara pejalan kaki dan bukan. Sementara proposal kedua: fashion, Bandung, arsitektur, mencoba menarik benang merah antara mode dan arsitektur dengan mempertanyakan kemungkinan deskripsi ruang tinggal sebagai elemen (aksesoris) dalam kota. Aksesoris dalam busana terkadang bisa menjadi pelengkap pakaian bahkan penyatu, seperti halnya dengan menempatkan ruang-ruang kecil dengan tepat pada titik-titik kota tertentu. Mungkin sejalan dengan idealisme Coco Chanel: Fashion is no something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in th street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening.

Dua proposal lain membahas keintiman antara tubuh dalam ruang. Blackout Architecture menggali akan kemungkinan jika perencanaan ruang tidak bergantung pada indera penglihatan. Bagaimana jika para perencana kota dan arsitek mulai juga memperhatikan indera-indera lain dalam merencanakan ruang. Blackout Architecture hadir dengan instalasi yang diharapkan mampu memberikan stimuli dan kepekaan indera. Rumah ini tidak untuk dijual, berangkat dari personalisasi rumah berdasar pemiliknya. Proposal ini seakan menjadi kritik terhadap tendensi komersialisasi, standarisasi dan industrialisasi rumah lewat produk developer.

Dan ruang tinggal pun beragam dan menggelitik. Ada beberapa hal yang menarik dari 14 proposal ini. Waktu menjadi krusial, karena dalam ruang tinggal unsur waktu sangat erat. Penolakan akan ruang-ruang yang steril dan tidak unik pun terjadi. Ada yang memperhatikan kaum marjinal kota dan ada pula yang bermimpi ‘hijau lestari’. Lalu bagaimana pemahaman anda terhadap ruang tinggal? Apa arti ruang tinggal bagi anda?

Pameran Workshop AMI 9-19 September 2009

Galeri Komunitas Salihara

Jalan Salihara No. 16
Pasar Minggu – Jakarta Selatan

Foto oleh Dita Wisnuwardani dan Kezia Paramita


Trailer Final AMI Ruang Tinggal Dalam Kota from wagionobustami on Vimeo.

allowscriptaccess=”always” allowfullscreen=”true”>

Trailer AMI Ruang Tinggal Dalam Kota from wagionobustami on Vimeo.

2 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |