Posts Tagged ‘pasar’


13 Jul 2014

Palembang: Sebuah Catatan Kota

 

images-1

Oleh : Ruhulludin Kudus

Palembang, apa yang menjadi daya tarik orang berkunjung ke Palembang? Pempek? Jembatan Ampera? Sungai Musi? Kain Songket? Mungkin semua ini, tapi apakah kita bisa menambah daya tarik bagi orang lain untuk berkunjung ke salah satu kota paling tua di Indonesia ini? Sejarah. Ya, sejarah kota.

Palembang memiliki sejarah panjang, kerajaan terbesar di Indonesia bahkan di Asia, Sriwijaya yang memilki kekuasaan sampai ke India. Bila kita kembalikan ke Palembang, berbicara Sriwijaya tak lepas dari pengaruh Sungai Musi, karena saat itu sungai berperan sebagai pusat perdagangan. Kota yang dulunya terkenal dengan Venesia dari Timur ini awalnya dibelah oleh ratusan anak Sungai Musi, lalu bertransformasi menjadi kota yang nyaris tak ada sungai lagi. Dalam rangka “memodernisasi” Kota. Pemerintah Kolonial Belanda secara perlahan mengubah Palembang dari kota air menjadi kota daratan. Proses penghilangan simbol kota dimulai sejak zaman kolonial, Gemeente Palembang membuat kebijakan pembangunan dan pengaspalan jalan dengan cara menimbun sungai. Jalan sebagai urat nadi transportasi dibangun di atas “tembokan” yang menimbun sungai dengan menggunakan puru dan kerikil.

Kota ini sangat kaya, khususnya sejarah. Elemen besar kota menarik untuk diceritakan, tapi elemen-elemen pembentuk kota juga berperan penting. Bagaimana Jembatan Ampera mengawali awal pembangunan di Palembang pasca kemerdekaan. Jembatan Ampera sebagai simbol kota, sebagai penghubung Palembang ulu dan Palembang Ilir. Jembatan ini dibuat sebagai media dalam menanamkan ideologi dan menjalankan politik identitas baik nasional maupun lokal. Ketika rakyat mendobrak Orde Lama, Jembatan Ampera menjadi media yang merepresentasikan kehendak mereka agar zaman berubah. Begitu banyak sejarah di Kota Palembang, semua bangunan bisa berbicara berdasarkan zamannya. Kemudian yang ingin saya khususkan yakni Pasar Cinde, karena pasar ini akan segera mengalah dengan kepentingan kapitalis dan akan berganti dengan sebuah bangunan megah.

 

Pasar cinde adalah pertama yang dibangun pasca kemerdekaan pada tahun 1959 di Palembang, dirancang oleh arsitek Belanda, Herman Thomas Karsten. Pasar ini terletak di jalur arteri Kota Palembang. Apabila melewati jalan Sudirman, kita akan dengan mudah mengenali pasar ini, bangunannya memanjang dengan atap datar, kesan bangunan modernnya sangat kuat.

Memasuki kawasan pasar cinde, kita akan disuguhi dengan berbagai bau kue-kue khas Palembang. Karena memang secara penempatan, pedagang  yang berdagang makanan diletakkan area depan. Kemudian memasuki sisi dalam, koridor kecil dengan berbagai kios yang berdagang kelontong dan bumbu dapur menyambut. Kondisi koridor sekarang cukup gelap, hanya remang lampu kios, ditambah lantai yang becek. Koridor kios tak terlalu panjang menuju ruang utama Pasar Cinde. Memasuki ruang utama, disinilah pangan pokok dijual, sayur, ikan dan daging.

Prinsip dasar arsitektur juga diterapkan dalam perancangan perpindahan antar ruang pasar, menggunakan koridor sempit sebagai pengantar sebelum bertemu ruang utama yang besar, sehingga ketika pengunjung memasuki ruang utama, ada kesan kejut sekaligus lega. Begitu arif sang arsitek mendesain ruang-ruang pengantar sebelum memasuki ruang utama. Bagaimana pula  ia mengatur bukaan-bukaan untuk ventilasi udara dan cahaya. Semuanya berpadu elegan dengan jajaran kolom berpenampang cawan.

Lalu lalang pedagang sangat cepat dan lugas, wangi buah dan sayur bercampur bau amis ikan, semua berdampingan. Begitupula para pedagang, lebih terlihat sebagai sebuah koloni kecil. Koloni yang bahu-membahu membangun sumber penghasilan mereka, tak ada persaingan, semua bergerak sebagai satu kesatuan, utuh membentuk pasar.

Ketika saya berkunjung untuk mengamati Pasar Cinde. Terlihat seorang bapak tua yang sedang membersihkan meja warung kopinya, dengan senyum ia menyapa. Sapa pun berlanjut mengejutkan dari seorang tetua yang telah berdiri dibelakang. Perkenalan singkat lalu ia mulai bercerita sebagai pedagang, pahit manis, serta cerita tentang pasar cinde. Pemerintah tidak berani mengusir secara langsung para pedagang ini, namun dengan perlahan pemerintah menyudutkan para pedagang dengan kenaikan harga sewa kios. Pedagang pun dibuat diam. Entah sampai kapan mereka akan bisa berdagang di sini, sementara pemerintah telah mengumumkan bahwa akan adanya revitalisasi pasar cinde, dengan membangun bangunan 20 lantai. Ironis.

Tidak ada lagi pasar paling strategis (dipusat kota) selain pasar cinde di Palembang. Namun pasar cinde sekarang dalam kondisi yang kurang baik. Sanitasi, jalur distribusi sampah, manajemen pasar yang masih perlu diperbaiki. Walaupun begitu, pasar cinde tetap ramai pengunjung. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat sangat menggantungkan kehidupan pada pasar cinde ini, baik pedagang maupun pembeli. Begitu banyak pedagang yang bergantung pada pasar cinde, bukan hanya pedagang di dalam pasar cinde itu sendiri, tapi juga pedagang di sekitar kawasan. Disisi Barat Pasar CInde kita temui ruko-ruko dan pedagang kaki lima yang berdagang segala jenis makanan. Sedangkan disisi timur, banyak pedagang barang-barang bekas dan spare part kendaraan bermotor. Prinsip dasar dari perdagangan, dimana ada keramaian maka akan ada pembeli. Penataan kembali pasar cinde tidak hanya meliputi fisik bangunan pasar cinde itu sendiri, perlu didata juga nonfisik disekitar bangunan.

Penataan nonfisik harus sama porsinya dengan penataan fisik, karena didalamnya terkandung unsur budaya dan kebiasaan turun temurun sebuah pasar. Hal ini tak bisa kita abaikan begitu saja, hanya karena tampilan fisik bangunan yang megah takkan menjamin pedagang akan laku dagangannya. Sebuah budaya ada karena perilaku yang terus berulang. Akankah kita akan menghilangkan sebuah budaya yang telah lama ada (bahkan membentuk identitas kita yang sekarang) dengan sebuah kemodernan?

No Comments »

Topics: , , , , , , | Agent of Change: none |


12 Jul 2013

Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di DKI Jakarta

 

PKL dekat Universitas Bina Nusantara

PKL dekat Universitas Bina Nusantara

 

Teks dan foto  oleh Novela Millatina 

 

PKL adalah sektor informal yang hampir dapat ditemukan di setiap sudut kota besar. Seperti halnya di DKI Jakarta, PKL beberapa tahun belakangan ini menjadi salah satu isu penting dalam penataan kota. Menurut Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan DKI Jakarta, pada tahun 2010 terdapat 78.302 PKL baik yang terdaftar maupun tidak. Tidak menutup kemungkinan, jumlah PKL sesungguhnya melebihi angka yang dirilis oleh pemerintah tersebut. PKL rata-rata menempati ruang publik yang, berdasarkan peraturan, tidak difungsikan untuk berjualan seperti di trotoar, badan jalan, pinggir rel kereta maupun di jembatan penyebrangan.

Kebijakan dalam penataan PKL sudah diatur sejak tahun 1978 oleh Pemprov DKI Jakarta. Pada masa itu sudah mulai banyak pedagang yang memanfaatkan bagian jalan/trotoar untuk tempat usaha. Maka, pada masa kepemimpinan Gubernur Tjokropranolo, ditetapkan Perda No 5 Tahun 1978 tentang Pengaturan Tempat dan Usaha serta Pembinaan Pedagang Kaki Lima dalam Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota. Melalui perda ini, Gubernur memiliki kewenangan untuk menentukan tempat yang diperbolehkan untuk berjualan. Sebelumnya, PKL harus mendapatkan izin terlebih dahulu untuk bisa berjualan. PKL yang sudah mengantongi izin ini dilarang untuk membuat bangunan permanen di lokasi berjualan.

Menurut Perda No 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum, PKL dilarang berjualan di tempat-tempat untuk kepentingan umum, seperti jalan, trotoar, halte dan jembatan penyebrangan kecuali tempat tersebut sudah ditetapkan oleh Gubernur boleh untuk berjualan. Namun faktanya, mekanisme pasar yang bekerja, dalam hal ini pola demand-supply menjadikan ruang-ruang seperti trotoar menjadi ruang ekonomi untuk PKL. Menjadi tantangan bagi Pemda DKI Jakarta untuk mengatur pemanfaatan ruang yang bisa juga memenuhi kebutuhan PKL, sebagai sumber ekonomi. Dalam Perda No 2 Tahun 2002 tentang Perpasaran Swasta, diatur bahwa setiap usaha perpasaran swasta seperti misalnya swalayan, pusat pertokoan diwajibkan menyediakan ruang bagi usaha kecil dan PKL. Aturan ini dikenakan untuk usaha perpasaran swasta dengan luas bangunan 200-500 m2 dan lebih dari 500 m2. Penyediaan ruang untuk berjualan ini tidak dapat dikonversi ke dalam bentuk lain. Pedagang yang akan menempatinya diprioritaskan bagi pedagang yang sudah berjualan di sekitar lokasi tersebut.

 

Capture

 

 

Mengenai lokasi-lokasi untuk berjualan bagi PKL sebenarnya Pemda DKI memiliki Pergub No 3 Tahun 2010 tentang Pengaturan Tempat dan Pembinaan Usaha Mikro Pedagang Kaki Lima. Dalam Pergub yang disahkan pada masa pemerintahan Fauzi Bowo ini terdapat beberapa jenis lokasi usaha, yaitu :

 

jenis lokasi

 

 

Setiap PKL selain wajib memiliki izin usaha, juga wajib untuk membayar retribusi. Retribusi yang harus dibayarkan bervariasi tergantung intensitas waktu berjualan, pemakaian tempat dan juga jenis tempat usaha yaitu terbuka, setengah terbuka atau tertutup. Besarannya untuk PKL di Lokasi binaan dan Lokasi Sementara antara Rp 3.000 – Rp 10.000 per harinya. Untuk PKL di lokasi pujasera, besaran retribusi yang harus dibayarkan antara Rp 3.000 – Rp 15.000 tiap harinya. Retribusi ini akan masuk ke kas daerah sebagai salah satu bentuk penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Setiap Gubernur DKI Jakarta memiliki kecenderungan yang berbeda dalam menyikapi PKL, seperti tertuang dalam tabel berikut:

tabel perbandingna

 

 

Pemda DKI Jakarta sesungguhnya sudah memiliki cukup banyak instrumen penataan PKL. Hanya saja, efektivitas penataan PKL bergantung pada langkah yang diambil oleh setiap pemimpin, apakah akan memprioritaskan PKL untuk ditata dengan pendekatan yang partisipatif ataupun membiarkannya hingga menggurita baru kemudian berusaha menertibkan dengan susah payah.

1 Comment »

Topics: , , , , , , , , | Agent of Change: none |


09 Jul 2013

Koleksi Buku RCUS: Kota-Kota di Indonesia

Berikut adalah resensi dari 4 buku koleksi Rujak mengenai kota Makassar, Kendari, Jakarta dan Yogyakarta dari berbagai aspek seperti ekonomi, sejarah, politik dan sosial. Buku dapat dipinjam di Perpustakaan Rujak dengan menghubungi info@rujak.org

No Comments »

Topics: , , , , , , , , , | Agent of Change: none |


01 May 2013

Terbaru dari Rujak : Dunia Dalam Kota

Dunia dalam kota

Buku ini merupakan hasil dari kolaborasi penggerak isu kota di Makassar, Penerbit Ininnawa, Active Society Institut (AcSI), SADAR, TANAHINDIE, dan Makassarnolkm . Digawangi oleh penerbit Ininnawa, buku hasil penelitian tentang Pasar Terong Makassar terbit pada Maret lalu.

Pasar Terong menjadi muara pertemuan aliran komoditas dari 11 Provinsi di Indonesia. Tidak kurang sejuta petani yang ada di jazirah Sulawesi Selatan mengirim beragam bahan pokok ke sana. Pasar Terong juga merupakan salah satu dari empat pasar rujukan harga bahan pokok di Indonesia setelah Pasar Kramat Jati Jakarta, Pasar Turi Surabaya, dan Pasar Meda Kota di Sumatera Utara.

Buku ini adalah buku pertama yang merekam denyut manusia-manusia yang menghidupkan pasar terpenting di Sulawesi Selatan.

Tetarik membeli buku ini?

Buku “Dunia Dalam Kota” dapat dibeli di Rujak dengan harga Rp. 85.000, -.

Untuk permintaan buku, kirimkan data melalui email info@rujak.org

 

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


02 Sep 2010

Seri Lokakarya Ekonomi Komunitas Perkotaan di Rawabelong

26-28 September 2010
Di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat.

Tenggat Waktu Pendaftaran: 19 September 2010

Tersedia tempat gratis untuk 10 peserta atas dasar first come, first served.  Harap segera mendaftar. Lihat di bawah.

Rujak Center for Urban Studies (RCUS) bekerja sama dengan Kunci Cultural Studies Center dan Ruang Rupa mengundang anda semua untuk berpartisipasi dalam Seri Lokakarya Ekonomi Komunitas Perkotaan di Pasar Rawabelong. Ini suatu  Bengkel Kerja Lintas Sektor yang berlokasi tepat di tengah Pasar Bunga Rawabelong.

Latar Belakang

Dalam menentukan kebijakan pembangunan perkotaan, pihak perencana hanya memperhatikan angka pertumbuhan ekonomi. Dan ketika para investor hendak menanamkan modal, mereka hanya memperhatikan data ekonomi nasional dan kondisi ekonomi politik. Menurut Lin Che Wei, dalam disiplin ekonomi pun didapat kesan bahwa tidak ada ekonom yang sungguh mengkhususkan diri mempelajari Ekonomi Perkotaan.

Pengambil keputusan kerap mengabaikan kompleksitas ekonomi komunitas, yang diwakili oleh pasar-pasar, yang memiliki dimensi hubungan-hubungan sosial yang terjalin kuat dengan produktivitas ekonominya. Produktivitas ekonomi dan reproduktivitas sosial saling jalin menjalin dalam kehidupan sehari-hari, dalam komunitas yang tidak secara formal dan kaku memisahkan ruang kerja dan ruang hidup.

Contoh menarik adalah Pasar Rawabelong dan kampung serta komunitas sekitarnya (Sukabumi Selatan hingga Palmerah). Bermula dari kampung Betawi, tempat asal si Pitung, penuh dengan kebun Anggrek dan berbagai macam tanaman. Kemudahan bercocok tanam bunga pun ditambah dengan lokasi Rawa Belong yang dekat dengan Kali Pesanggrahan. Para petani pun kemudian menjual bunga hasil panenannya di pinggiran Jalan Palmerah.

Tetapi, dengan berjalannya perkembangan kota, Rawabelong seakan dibiarkan saja tanpa perencanaan seperti pembangunan universitas di dekatnya, dan perkembangan eksternal seperti menurunnya permintaan akan bunga oleh perubahan gaya hidup, dapat mengurangi secara tidak semestinya vitalitas ekonomi komunitas Rawabelong. Kalau saja ada pengetahuan dan kesadaran lebih tinggi, maka perubahan-perubahan itu dapat dijadikan faktor dalam rencana pengembangan ekonomi komunitas pasar bunga tersebut.

Rawabelong adalah sebuah ekonomi yang menghubungkan kota dan wilayah. Pada saat yang sama, ia terkait dengan kegiatan di seluruh Jakarta, misalnya digusurnya pedagang bunga di Taman Barito, maupun perubahan gaya hidup.  Pengetahuan akan “ekonomi mikro perkotaan” begini niscaya diperlukan untuk mengelola kota, ketika perubahan-perubahan diperkenalkan dengan sengaja, sehingga dampak negatif dan positifnya dapat diperkirakan dan karena itu dapat dikelola dengan sengaja, bukan hanya sebagai dampak tak sengaja yang dibiarkan begitu saja tanpa sikap.

Luruhnya Ruang-Ruang Ekonomi dan Sosial Milik Komunitas

Sebelum berubah menjadi pasar modern, pasar bunga ini merupakan ruang penengah antara antar hubungan barang dan pedagang, serta pembeli dan dunia luar, dimana bunga menjadi perantara dalam hubungan tersebut. Malah dalam ulasan lain, Betsky menyatakan bahwa pasar bak panggung untuk kebebasan ide dan pengalaman. Namun kebebasan tersebut, seiring waktu mengalami penurunan, bersamaan dengan upaya untuk meregulasi ruang.

Perkembangan kota dan masyarakat yang semakin konsumtif, terhadap produk maupun ruang, memiliki hubungan langsung dengan meningkatnya pentingnya formalitas dalam persepsi terhadap ruang-ruang ktoa. Formalitas tersebut juga membawa kepada hubungan yang efisien dan efektif. Bagaimana akhirnya prinsip ekonomi berada diatas, dengan satu pemikiran yaitu efisiensi biaya dan kemampuan untuk menyediakan ragam macam bunga sesuai dengan permintaan.

Membayangkan ‘Ruang’ Komunitas

Workshop ini didedikasikan untuk membayangkan bagaimana relasi-relasi yang terjadi antara Pasar, Komunitas maupun kepentingan lain diluarnya. Melalui persepsi dan perkembangan persepsi dari masing-masing anggota, tanpa ada keterbatasan media maupun batas, sehingga peserta bebas untuk mengeluarkan intepretasi dan tawarannya terhadap Pasar Rawa Belong dan komunitas sekitarnya.

Jadwal Workshop:

26 – 28 September 2010

Lokasi:

Pasar Rawa Belong

Kegiatan:

1. Tour Rawa Belong dan Hutan Kota Srengseng

2. Diskusi Lintas Sektor

Pendaftaran:

Unduh formulir pendaftaran disini: http://rawabelong.wordpress.com/daftar/

dan kirimkan formulir pendaftaran ke email kami di: info@rujak.org

Selain untuk 20 orang undangan, kami masih menyediakan tempat gratis untuk 10 peserta. Silakan mendaftar segera untuk mendapatkan tempat terbatas ini atas dasar first come first served.

Informasi lebih lanjut mengenai workshop dapat dibaca di: rawabelong.wordpress.com

2 Comments »

Topics: , , , | Agent of Change: none |


11 Aug 2010

Mengenang Pasar Mayestik

Berapa kali dalam sebulan anda mengunjungi pasar tradisional? Itu adalah salah satu pertanyaan dalam survey terhadap 34 orang peserta kunjungan ke Pasar Mayestik yang diselenggarakan oleh JEMA Tour. 16 orang diantaranya menjawab bahwa mereka tidak pernah mengunjungi pasar tradisional. Dan 16 orang pun mengaku tidak pernah mengunjungi Pasar Mayestik, sedangkan 4 orang menolak untuk menjawab.

Beberapa saat lalu, Pasar Mayestik sempat mencuat dalam pemberitaan metropolitan, karena rencana PD Pasar Jaya untuk ‘meremajakan’ pasar tersebut. Pasar tersebut hingga saat dibongkar menampung sekitar 600 pedagang. Ada banyak hal yang menarik dalam pasar Mayestik. Ingin membeli bahan baju dan menjahitkannya dengan harga terjangkau? Disini lokasinya. Pasar Mayestik pun menyediakan berbagai macam peralatan memasak dan membuat kue. Juga pantas menjadi salah satu tujuan kuliner, yaitu demikian banyak penjual rujak bebeg, ada penjual Gabus Saksang hingga snack KhongGuan, disamping juga makanan tradisional diluar Jakarta seperti gudeg dan Nasi Krawu. Disini juga ada pusat jamu yang terkenal, yaitu Toko Jamu Had.

Pasar Mayestik populer dikalangan wanita -terlebih karena tersedia aneka bahan pakaian dan usaha menjahit dengan harga yang terjangkau dan kualitas baik. Ada toko besar Esagenangku, lalu juga banyak kios-kios yang menjadi tujuan para calon pengantin muda untuk mencari barang-barang seserahan untuk upacara pernikahan.

Awal Agustus ini, Pasar Mayestik yang ada pun tinggal kenangan, karena perlahan-lahan pedagang pindah ke tempat penampungan dan kontraktor mulai melakukan kegiatan konstruksi. Tempat penampungannya sendiri hanya terdiri atas 2 lantai, dengan lantai pertama sebagai pasar basah dan makanan sementara lantai kedua menjadi pasar kering yang menjual bahan-bahan pakaian, keperluan dapur hingga usaha menjahit. Kondisi pasar penampungan pun sangat sempit, juga ukuran kios dan koridor yang lebih sempit dibandingkan Pasar Mayestik.

Namun ternyata kondisi tersebut tidak menyurutkan peserta Tour Pasar Mayestik JEMA Tour untuk kembali mengunjungi Pasar Mayestik, setidaknya 25 orang dari peserta tour menyatakan ketertarikannya untuk berkunjung kembali.

Di mata peserta tour, buruknya kondisi fisik pasar menjadikan hal utama dalam kekurangan pasar, misalnya kios-kios yang tak tertata dengan baik, sempit, panas, kotor, kekurangan fasilitas toilet, hingga kurangnya lahan parkir. Namun kondisi fisik yang buruk tersebut diimbangi dengan varian barang dan jasa yang ditawarkan pasar, dan para peserta merasa terkesan dengan kelengkapan barang dan jasa yang ditawarkan, terlebih varian makanan khas daerah.

Terdapat potensi besar dalam Pasar Mayestik, yaitu potensinya sebagai pusat garmen dan busana, mengingat koleksi yang ditawarkan beragam, mulai dari berbagai macam kain, batik, ulos, aksesoris pakaian, toko kancing, hingga desainer dan tukang jahit.

Tentu saja banyak yang diharapkan dari Pasar Mayestik baru, yang kononnya akan setinggi 8 lantai. Misalnya perbaikan fasilitas pengujung seperti parkir dan WC, lokalisasi atraktif untuk penjual makanan serta sarana kebersihan yang mendukung, hingga manajemen yang lebih baik. Setidaknya dengan perbaikan fasilitas yang dilakukan PD Pasar Jaya, diharapkan pula agar terjadi perbaikan mutu dan kualitas pedagang, dengan melalui peniadaan pungli, pelatihan pemasaran hingga upaya menjaga kebersihan.

Di Toko Jamu

Mobil pun jadi kios

2 Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


11 Aug 2010

Mari Kembali Ke Pasar

Dalam 20 tahun terakhir jumlah pusat perbelanjaan dan hypermarket di Jakarta bertambah banyak. Setidaknya dalam satu tahun terdapat minimal 10 pusat perbelanjaan baru skala menengah hingga besar. Namun dalam periode yang sama, terjadi penurunan jumlah pasar tradisional di lokasi tertentu dan cenderung stagnan pada wilayah lain. Sementara jumlah penduduk semakin meningkat dan terjadi peningkatan dalam pertumbuhan ekonomi yang pertahunnya mencapai 6-7%, dimana Jakarta menjadi lokomotif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Pasar merupakan tempat belajar sosialisasi dan bertoleransi. Disitu masyarakat belajar tawar menawar, bernegosiasi. Seperti nenek moyangnya, yaitu Agora – pasar dan tempat kumpul warga di era Yunani hampir 3000 tahun lalu, pasar merupakan tempat berkumpulnya warga tanpa memandang kelas. Sementara yang menjadi kesepakatan diantara mereka berdua adalah harga.

Namun dengan masuknya upaya regulasi dan penataan ruang, terjadi pertanyaan apakah pasar akan selalu sama? Perkembangan kota dan masyarakat yang semakin konsumtif, terhadap produk maupun ruang, memiliki hubungan langsung dengan meningkatnya pentingnya formalitas dalam persepsi terhadap ruang-ruang kota. Formalitas tersebut juga membawa kepada hubungan yang efisien dan efektif. Bagaimana akhirnya prinsip ekonomi berada diatas, dengan satu pemikiran yaitu efisiensi biaya dan kemampuan untuk menyediakan ragam macam sayuran dan daging sesuai dengan permintaan.

Hubungan antara pedagang dan pasar yang tadinya demikian erat pun turut berubah dengan masuknya industrialisasi dan komersialisasi lahan dalam kota. Dahulu sangat memungkinkan bahwa pedagang sekaligus produsen dan/atau pengolah, namun kini telah terjadi peralihan peran, yaitu ia kini hanya bertindah sebagai perantara.

Menariknya 59% dari pertumbuhan ekonomi nasional disumbangkan dari konsumsi warga, setidaknya statistik tersebut menunjukkan betapa masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta doyan belanja. Namun hal tersebut tidak tercermin pada kesejahteraan penghuni pasar. Malah sedikitnya 3 pasar di Jakarta Utara berhenti operasi di tahun 2010. Dan ketiganya adalah pasar komunitas, yang dulunya dekat dengan keseharian masyarakat.
Fakta sederhana yang terjadi pada tiga pasar di Jakarta Utara menunjukkan bahwa pasar tidak akan tumbuh jika komunitas disekitarnya tidak mendukung. Sementara dengan upaya modernisasi pasar yang dilakukan terhadap lokasi serta minimnya lahan pertanian kota membawa pada relasi baru antara pembeli dan penjual.

Bekerja sama dengan JEMA Tour, sebuah tur yang didedikasikan kepada penggemar makanan di Jakarta yang ingin menikmati hidangan lezat kaya nilai budaya, Rujak berupaya menggali pengetahuan dan persepsi yang ada dalam masyarakat. Lewat survey sederhana, para peserta tour perlahan-lahan digugah atas relasi antara dirinya dengan pasar.

Kegiatan JEMA Tour berkutat pada pasar tradisional, dan merupakan aktifitas jalan kami selama 3 jam yang kurang lebi melibatkan budaya lokal pasar dan cicipan makanan lezat khas pasar. Pada akhirnya perlahan-lahan, kegiatan ini dapat menjadi salah satu inspirasi bagi warga Jakarta terhadap pasar tradisional sebagai warisan budaya, sekaligus menjadi salah satu pilihan untuk beraktifitas yang berkelanjutan dan terjangkau bagi warga perkotaan.

Rangkaian Kegiatan JEMA Tour:

Pasar Mayestik, 17-18 Juli 2010

Pasar Petak Sembilan, 7-8 Agustus 2010

4 Comments »

Topics: , | Agent of Change: none |


17 Jun 2010

Festival Bunga Rawa Belong

Di tengah gempitanya Piala Dunia di Afrika Selatan dan Pekan Raya Jakarta di Kemayoran, di daerah Jakarta Barat juga sedang digelar acara tahunan yang tak kalah menarik.

Di jalan Halimun, daerah Palmerah, sedang digelar Festival Bunga Rawa Belong berlokasi di Pasar Rawa Belong itu sendiri. Festival tersebut dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo dan menghadirkan berbagai macam atraksi. Ada replika ondel-ondel dengan menggunakan bunga, lalu ada pameran tanaman hias, hingga lomba tanaman hias.

Festival ini berlangsung dari tanggal 13-19 Juni 2010. Festival ini pun bisa menjadi salah satu agenda liburan anak-anak sekolah: menikmati bunga-bunga bermekaran, atau melewati deretan penjual rangkaian melati yang wangi semerbak, atau membeli bunga untuk menyemarakkan rumah.

Untuk yang tidak pernah berkunjung ke Rawa Belong sebelumnya, kami sediakan peta dibawah ini:
View Pasar Bunga Rawa Belong in a larger map

No Comments »

Topics: , , | Agent of Change: none |


22 Jun 2009

Dicari: Mal Egaliter Bercitarasa Lokal

Jika saya harus memilih satu pusat perbelanjaan favorit di Jakarta, saya akan memilih Mal Kelapa Gading (MKG) di Jakarta Utara. (more…)

1 Comment »

Topics: , | Agent of Change: none |