Posts Tagged ‘penataan kota’


14 Oct 2013

PKL: Bukan Urusan Perut Semata

 

IMG_3353

 

Isu PKL di DKI Jakarta tengah menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini. Keberadaannya sering dianggap mengganggu lalu lintas, mengokupasi jalur pejalan kaki, merusak pemandangan, serta menjual produk yang berkualitas rendah maupun tak layak konsumsi. Tapi mengapa PKL ini masih bertahan dan justru jumlahnya terus bertambah? 

 

Oleh Khairunnisa dan Dinar Ramadhani

 

PKL muncul di sela-sela kota sebagai ironi. Ia hadir di pasar-pasar tradisional, gang-gang sempit, terminal, hingga sekolah-sekolah. Namun keberadaannya juga banyak ditemukan di tengah-tengah gedung-gedung megah perkantoran maupun pusat perbelanjaan dan mall-mall yang bergengsi. Ia juga memadati jalan utama dan taman kota yang menjadi tempat lalu lalang dan persinggahan bagi para citizens. Jelas, keberadaan PKL ini didukung dengan adanya kebutuhan atau permintaan dari masyarakat. Selain karena harga yang ditawarkan relatif ramah kantong, keberadaannya pun mudah dijumpai di berbagai tempat, tak harus memaksa konsumen untuk berjalan masuk menuju bangunan tertentu. Namun, keberadaan PKL ini ternyata menimbulkan perdebatan. Lokasi yang mereka pilih untuk berjualan seringkali mengganggu area pejalan kaki dan menjadi salah satu alasan penyebab kemacetan.

 

IMG_3339

PKL ada karena kebutuhan pasar, kebutuhan masyarakat akan produk/jajanan murah yang dapat dijangkau dengan mudah. Lebih jauh lagi jika melihat mengenai PKL, nilai-nilai apa yang membuat PKL berbeda dari penjaja yang lain?

“Jajanan pikulan atau dorongan itu punya sejarah lebih, ada nilai story telling,” (Bondan Winarno)

Salah satu nilai yang ada pada PKL adalah sejarah. Seorang pedagang sate ayam di daerah Sabang misalnya, sudah berjualan hampir 20 tahun lamanya. Bayangkan, peristiwa apa saja yang sudah ia alami sepanjang berjualan disana? Ikatan pedagang dengan suatu lokasi menjadikan mereka sebagai salah satu saksi sejarah terjadinya perubahan di lingkungan tempat mereka berjualan. “Saya udah jualan di sini berapa tahun neng, lama banget. Dulu tuh ya, jalanan tuh enggak begini”, mungkin ini menjadi salah satu kalimat yang kebanyakan dikatakan oleh pedagang saat menceritakan kisah selama ia berjualan di tempat itu.

IMG_3354

Beberapa konsumen bahkan memiliki kesan nostalgia pada PKL yang menjajakan produk/makanan tertentu, mengingatkan pada masa sekolah, kuliah, bahkan suasana pada kampong halaman. Wajar saja, sebagian besar penjaja di kaki lima ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Masyarakat perkotaan yang umumnya heterogen dan multikultur akan merasakan sepenggal kampung halaman ketika mengunjungi PKL dari daerahnya. Masyarakat dari daerah lain pun tak ketinggalan, penasaran mengicip rasa kampung halaman orang bisa menjadi salah satu alasannya. Terlebih dengan harga yang murah dan dapat dijangkau semua kalangan.

Keakraban pun dapat terjalin melalui percakapan-percakapan singkat yang terjadi antara pedagang dan pembeli membuat adanya. “Tante”, “Mami”, dan “Om”, adalah sapaan-sapaan akrab yang dimiliki oleh konsumen tetap terhadap pedagang, ataupun sebaliknya pun sering ditemukan. Konsumen yang membeli makanan di PKL, akan berhubungan dengan pedagangnya secara langsung dan lebih dekat. Hal ini akan sulit ditemukan jika membeli makanan di restoran karena ada jarak antara konsumen dan pedagang.

photo (2)

 

Pada perkotaan di negara-negara berkembang, sektor informal seperti PKL ini belum cukup mendapat perhatian. Akibatnya, pelaku sektor informal ini tidak mendapatkan ruang dan menjadi kaum marjinal yang seolah harus ditertibkan. Tentu telah banyak cerita bahwa relokasi PKL tak jarang menempati lokasi baru yang sepi pembeli, sementara tempatnya berjualan dulu dibangun menjadi pasar modern megah bagi investor besar. Tak pelak, PKL ini kerap mengajukan keberatannya terhadap kebijakan penggusuran maupun relokasi. Meskipun mereka menyadari kesalahannya, tapi itu tak berarti pihak lain tidak memiliki andil dalam pelanggaran ini. PKL umunya telah membayar iuran untuk retribusi daerah berupa iuran kebersihan, keamanan, dan sewa tempat. Hal itu membuat PKL merasa berhak akan usahanya tersebut. Lalu ke mana bermuaranya iuran-iuran ini? Berdasarkan suvei yang telah dilakukan di ruas Jalan Sudirman-Thamrin, mereka mengaku iuran ini dibayarkan ke kelurahan, atau pengurus daerah setempat seperti RT/RW.

Berbeda dengan pemerintah DKI Jakarta yang terlihat masih kurang menaruh perhatian pada PKL, lain halnya di Singapura. Singapura tidak berbeda dengan Jakarta, di mana banyak orang menyukai makanan PKL, tetapi tampak perbedaan keberadaan PKL di Singapura dengan di Jakarta. Lokasi PKL di Singapura telah diatur oleh pemerintah, mereka dikumpulkan di satu lokasi untuk berjualan dengan tempat yang bagus dan rapi. Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah Singapura sejak tahun 1960-an.

Seperti yang sudah dikatakan bahwa PKL itu ada karena ada yang membutuhkan. Suatu kebutuhan itu muncul karena ada hal yang tidak terpenuhi, salah satu contohnya adalah bagi para pegawai. Kawasan Universitas Bina Nusantara dan Senayan City, serta kawasan Grand Indonesia adalah contoh lokasi di mana ditemukan PKL yang cukup banyak. Sebagian besar konsumen yang ditemukan di lokasi ini adalah pegawai mall setempat. Murah adalah alasan mereka mengonsumsi makanan yang dijajakan oleh PKL sebab makanan yang terdapat di tempat mereka berkerja tidak terjangkau. Makanan yang tersedia memiliki harga yang cukup mahal, sehingga makanan yang dijajakan oleh PKL menjadi alternatif terbaik bagi mereka.

 

IMG_9323

PKL telah menjadi salah satu wajah kompleksitas kota. Sektor informal yang dibina, diberi ruang, dan diintegerasikan dengan perkekonomian kota tentu dapat menambah pundi-pundi pendapatan daerah. Menilik kebutuhan masyarakat dengan segala keunikan PKL yang telah disebutkan di atas, sudah seharusnya masalah PKL ini menjadi perhatian. Penanganan PKL di setiap titik pun bisa jadi amat berbeda, bergantung pada karakteristik lokasi, peralatan serta barang dagangan, serta jenis konsumennya. Penangan PKL ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi tiap perkotaan di Indonesia. Pengusutan pihak-pihak di balik PKL ini tentu akan menyebabkan benturan di berbagai tataran. Oleh karenanya kerja sama dan dukungan dari berbagai pihak tentu amat diperlukan dalam menangani masalah PKL ini.

 

No Comments »

Topics: , , , , , | Agent of Change: none |


30 Jan 2013

#RelawanKota untuk Jakarta

IMG_4996

Pada akhir November 2012, beberapa orang berkumpul di balai warga di Muara Baru, Jakarta Utara. Mereka tampak asyik berdiskusi tentang isu kemiskinan kota bersama beberapa organisasi yang bergerak di isu tersebut. Di antara wajah yang tengah semangat berdiskusi ada kaum muda  yang tergabung dalam program #RelawanKota yang digagas oleh Rujak sejak awal November 2012.

IMG_5035

 

Untuk kegiatan di atas, #RelawanKota tergabung dalam Tim Penataan Kampung Partisipatif.  Bersama warga dan sejumlah organisasi seperti Urban Poor Consortium (UPC), Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), dan Arsitek Komunitas (Arkom), #RelawanKota merancang konsep alternatif dalam penataan kampung miskin di Jakarta. Cita-cita besar mereka adalah merancang penataan kampung, secara partisipatif, dalam skala kota Jakarta.

20121201_140543

Seminggu setelah diskusi pengenalan isu tentang kemiskinan kota, tim Penataan Kampung Partisipatif terlibat dalam workshop dua hari di awal Desember bersama perwakilan warga dari kampung miskin di berbagai wilayah Jakarta seperti Muara Baru, Walang, Papanggo, Kebun Tebu, Rawa Malang, dan Kampung Melayu yang tergabung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK). Dalam workshop dua hari tersebut, #RelawanKota bersama Arkom dan UPC memfasilitasi proses pra pemetaan yang membahas  tentang peta fisik kampung, masalah kampung, dan impian warga terhadap penataan kampung nya ke depan.

 

20121201_110326

Tim penataan kampung partisipatif merupakan bagian dari Program Rujak bernama #RelawanKota. Tujuan Rujak membuka program #RelawanKota adalah membuka kesempatan pada warga Jakarta untuk berkontribusi dalam akumulasi pengetahuan perkotaan. Rujak selama ini belajar bahwa pengetahuan perkotaan ada dimana saja, dan termasuk ada di dalam warga kota. Warga kota yang beragam membentuk wajah kota dan pengetahuan itu sendiri.

Kegiatan #RelawanKota terbuka untuk umur berapapun dan latar belakang apapun. Peserta #RelawanKota yang saat ini terlibat dalam beragam kegiatan di Rujak berasal dari latar belakang berbeda. Ada mahasiswa, perawat, pekerja kantoran, pekerja lepas, PNS, dan lain-lain.

Dalam program Relawan Kota ada kegiatan yang mengharuskan kehadiran secara fisik, tapi ada juga kegiatan yang bisa dilakukan dari jarak jauh. Semua produksi yang dihasilkan dari kegiatan ini akan berlisensi Creative Commons ( CC BY (By Attribution) SA (Shared-Alike) NC (Non Commercial), yang artinya produk ini bebas dipakai orang lain untuk bentuk media dan kegiatan serupa, asalkan menyebutkan pembuat/asal dan bertujuan untuk Non Komersial. Dengan ini teman-teman sekalian menjadi penyebar pengetahuan (secara bebas tanpa copyright) kepada orang banyak.

Kegiatan #RelawanKota yang Rujak tawarkan adalah sebagai berikut:

  1. Diskusi Kota

Deskripsi : mengelola diskusi kota yang diadakan secara rutin berupa Program SabtuKota yang diadakan di Institut Francais Indonesia (IFI) dan Diskusi Tematik di Goethe Institut. #RelawanKota akan mengelelola kegiatan yang dibagi menjadi tim reportase, Live Tweet, Dokumentasi dan Moderator acara.

Berikut adalah salah satu reportase diskusi SabtuKota.

2.    Penataan Kampung Partisipatif

Deskripsi : terlibat dalam proses penataan kampung partisipatif seperti proses pemetaan kampung, perencanaan kampung dan pelaksanaan penataan kampung. Program ini bekerjasama dengan Arsitek Komunitas (Arkom), Urban Poor Consortium (UPC), Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK).

3.    Perpustakaan Rujak 

Deskripsi: Mengklasifikasikan buku baik versi elektronik maupun versi buku, video dan DVD; pembuatan katalog perpustakaan.  Keterangan: Kegiatan ini memerlukan kehadiran fisik secara rutin minimal 1xseminggu. Harap membawa laptop. Keuntungan: Tiap relawan Perpustakaan Rujak mendapatkan keuntungan untuk meminjam buku-buku di Perpustakaan Rujak selama menjadi #RelawanKota di bidang ini.

4.    KlikJKT

Deskripsi: mengasuh dan menyunting isi laporan warga yang masuk via KLIKJKT, serta menyampaikan laporan reguler kepada Gubernur, Wakil Gubernur dan SKPD terkait. KlikJKT saat ini juga dikirmkan langsung kepada Pemprov DKI Jakarta, karenanya butuh banyak relawan untuk mengapprove laporan yang setiap saat masuk dari berbagai media.

Keterangan: KlikJKT tidak membutuhkan kehadiran fisik di Jakarta, hanya perlu training 1 kali untuk menggunakan Ushaidi.

5.    ResensiKota

Deskripsi: memberikan resensi terhadap buku-buku perkotaan ataupun kliping-kliping yang telah dikumpulkan oleh Tim #ManajemenPengetahuanPerkotaan. Relawan diharapkan membaca buku-buku ataupun kliping dengan topik tertentu dan kemudian memberikan resensi terhadap buku tersebut. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyebarkan pengetahuan perkotaan yang ada di dalam buku-buku dimana buku-buku tersebut tidak mungkin dibaca oleh semua orang. Resensi buku akan tersedia dalam bentuk Wikipedia di wiki.rujak.org ataupun di Wikipedia Indonesia.

Berikut adalah salah satu contoh resensi kota yang dibuat oleh #RelawanKota

6.    Manajemen Pengetahuan Perkotaan

Deskripsi: melakukan kliping elektronik terhadap topik-topik perkotaan tertentu. Kliping tersebut akan tersedia dan diakses untuk umum. Dan akan diinformasikan secara berkala melalui media sosial dan situs. Tujuannya: Untuk membantu masyarakat untuk Melawan Lupa terhadap kejadian perkotaan.

Keterangan: Kegiatan ini tidak memerlukan kehadiran fisik dan bisa dilakukan dimanapun, hanya memerlukan internet.

 7.    InfoKOTA

Deskripsi: membuat infografis tentang berbagai masalah perkotaan dan kebijakan perkotaan. Kegiatan ini akan menerjemahkan berbagai macam kerumitan peraturan dan masalah perkotaan kedalam infografis, dengan harapan semakin banyak warga-warga Jakarta dapat memahami isu perkotaan, sehingga meningkatkan pengetahuan dan memperbaiki kualitas partisipasi perkotaan. Hasil dari kegiatan ini akan berlisensi CC-BY-SA-NC.

Keterangan: Kegiatan ini tidak memerlukan kehadiran fisik dan bisa dilakukan dimanapun. egiatan ini memerlukan kemampuan untuk menggunakan software desain. Contoh yang pernah dibuat dan dimuat di website Rujak adalah infografis tentang transportasi.

8.    Pelatih Tata Ruang

Deskripsi: memberikan pelatihan kepada warga sebanyak-banyaknya tentang dasar-dasar pengetahuan tata ruang. #RelawanKota disini harus mendapatkan pelatihan sebanyak 2 kali sebelum bisa melatih sesama warga. Keterangan: Peminat disini diharapkan untuk melatih warga di lingkungan sekitarnya (rumah, kantor, sekolah, dll), dengan bekal toolkits tata ruang untuk kita. Kegiatan ini hanya berlaku utk domisil Jakarta. Saat ini Rujak telah melatih ratusan orang, dari berbagai kalangan. Harapan kami adalah agar banyak orang dapat memahami tata ruang.

Bagi warga Jakarta lainnya yang tertarik untuk bergabung dalam program #RelawanKota, dapat menghubungi Rujak melalui info@rujak.org

 

 

1 Comment »

Topics: , , , , , , , | Agent of Change: none |