<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak &#187; permukiman</title>
	<atom:link href="http://rujak.org/tag/permukiman/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujak.org</link>
	<description>For a Better Jakarta. Everyone is Invited.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 03:28:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Pameran dan Diskusi Sayembara Terbatas StrenKali Surabaya</title>
		<link>http://rujak.org/2011/03/pameran-dan-diskusi-sayembara-terbatas-strenkali-surabaya/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/03/pameran-dan-diskusi-sayembara-terbatas-strenkali-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Mar 2011 22:34:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arts & Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Urban Poor Consortium]]></category>
		<category><![CDATA[arts & culture]]></category>
		<category><![CDATA[collaboration]]></category>
		<category><![CDATA[inisiatif warga]]></category>
		<category><![CDATA[permukiman]]></category>
		<category><![CDATA[sayembara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2852</guid>
		<description><![CDATA[Rujak Center for Urban Studies, bekerja sama dengan Universitas Pelita Harapan, Arkom Jogja dan Paguyuban Warga Strenkali Surabaya menyelenggarakan Pameran dan Diskusi Sayembara Terbatas Stren Kali Surabaya. Pameran: 4-15 April 2011 di Gedung B, Universitas Pelita Harapan Diskusi Peran Arsitek dalam Komunitas 8 April 2011, 13.00 WIB, MYC MultiPurposeRoom Lantai 1 Gedung D, Universitas Pelita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Rujak Center for Urban Studies, bekerja sama dengan Universitas Pelita Harapan, Arkom Jogja dan Paguyuban Warga Strenkali Surabaya menyelenggarakan Pameran dan Diskusi Sayembara Terbatas Stren Kali Surabaya.</p>
<p style="text-align: center;">Pameran: 4-15 April 2011 di Gedung B, Universitas Pelita Harapan</p>
<p style="text-align: center;">Diskusi Peran Arsitek dalam Komunitas</p>
<p style="text-align: center;">8 April 2011, 13.00 WIB, MYC MultiPurposeRoom</p>
<p style="text-align: center;">Lantai 1 Gedung D, Universitas Pelita Harapan</p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-2852"></span><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/03/Poster.jpg"><img class="size-large wp-image-2853 aligncenter" title="Poster" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/03/Poster-788x1024.jpg" alt="" width="473" height="614" /></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;">Permukiman kota untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah belum pernah mendapatkan solusi yang memuaskan, terjamin keberlanjutannya, serta dapat direplikasi. Bahkan dapat dikatakan bahwa pada saat ini ada terasa semacam suatu kebuntuan pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Pemikiran mutakhir di seluruh dunia menyimpulkan bahwa salah satu kunci untuk membuat terobosan adalah: Prakarsa dan Partisipasi Masyarakat yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: left;">Permukiman di Stren Kali yang tergabung dalam Paguyuban Warga Stren Kali Surabaya (PWSS) berupaya menjadi contoh untuk pendekatan yang lestari dengan konsep teknis, ekonomi, sosial-budaya, dan hukum yang benar-benar memajukan prakarsa dan partisipasi masyarakat yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align: left;">Sayembara Terbatas Perencanaan Partisipatif Stren Kali Surabaya merupakan kerja sama antara Rujak Center for Urban Studies, Urban Poor Consortium dan Paguyuban Warga Stren Kali Surabay, dan didukung oleh Asian Coalition of Housing Rights. Peserta sayembara ini adalah 7 arsitek &amp; kantor arsitek: Han Awal, Adi Purnomo, Avianti Armand, URBANE, Wiyoga Nurdiansyah, Yu Sing dan Eko Prawaoto.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/03/pameran-dan-diskusi-sayembara-terbatas-strenkali-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pluit Village: Berapa Hijaukah Pengembang Kita yang terkenal itu?</title>
		<link>http://rujak.org/2010/04/pluit-village-berapa-hijaukah-pengembang-kita-yang-terkenal-itu/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/04/pluit-village-berapa-hijaukah-pengembang-kita-yang-terkenal-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 05:53:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Rujak Answers]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[permukiman]]></category>
		<category><![CDATA[RTRW]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[spatial plan]]></category>
		<category><![CDATA[taman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1885</guid>
		<description><![CDATA[Gunawan Tanuwidjaja (Dari milis Green Map Jakarta) Beberapa saat yang lalu, diadakan Sustainable Jakarta Conference, yang memang merupakan upaya untuk membuat Jakarta lebih berkelanjutan.[1] Ada sebuah pengembang terkenal yang mengajukan konsep Green Master Plan. Tetapi mirisnya ternyata pengembang ini hanya menjual konsep &#8220;Green&#8221;-nya yang kosong dan tidak menerapkan dalam bisnisnya. Pengembang tersebut terlibat dengan sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="ygrp-mlmsg">
<div id="ygrp-msg">
<div id="ygrp-text">
<p>Gunawan Tanuwidjaja<br />
(Dari milis Green Map Jakarta)<br />
Beberapa saat yang lalu, diadakan Sustainable Jakarta Conference, yang memang merupakan upaya untuk membuat Jakarta lebih berkelanjutan.[1] Ada sebuah pengembang terkenal yang mengajukan konsep Green Master Plan. Tetapi mirisnya ternyata pengembang ini hanya menjual konsep &#8220;Green&#8221;-nya yang kosong dan tidak menerapkan dalam bisnisnya.</p>
<p>Pengembang tersebut terlibat dengan sebuah di proyek Kawasan Jakarta Utara, Pluit Village.<br />
Ternyata pengembang ini tidak mempraktekkan &#8220;Green and Responsible Water Resource Management.&#8221;</p>
<p>Pertama, Pengembang diduga telah &#8220;menkonversi badan air menjadi komersial, helipad dan jalan internal (melanggar UU Tata Ruang no 26 tahun 2007 dan UU Sumber Daya Air no 7 tahun 2004)&#8221;. Selain itu pengembang ini diduga telah mengganggu sistem polder yang ada dengan menutup saluran air yang masuk ke dalam Danau Pluit dan meninggikan lansekap di sekitar Danau tsb. Sehingga terjadi genangan di kawasan perumahan di Utara dan Selatan. Sungguh pengembang ini diduga tidak memiliki &#8220;kesatuan kata dan perbuatan.&#8221;</p>
<p>Terbukti pada 2008 &#8211; 2010, Warga Pluit telah menikmati beberapa serangan &#8220;Rob.&#8221; Padahal tadinya warga sempat merasakan aman dari Banjir Besar 2007 karena Polder Pluit yang berjalan dengan baik.</p>
<p>Mungkin sebuah sentuhan baru yang ditawarkan oleh Pluit Village.[2] Dari tinggal di dalam polder seperti di Belanda, menjadi &#8220;tinggal di Venesia, Italia, (alias setengah terendam banjir ketika hujan atau pasang laut datang). Jadi konsepnya dengan pengembang biasa yang menjual promosi BEBAS BANJIR. Mungkin judulnya silahkan tinggal di kawasan yang PASTI BANJIR!</p>
<p>Kalau kami boleh mengutip sebuah kata-kata bijak &#8220;Janganlah memutarbalikkan KEADILAN, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. &#8221; Kmemang mengakui bahwa pengembang ini mampu mengatasi segala birokrasi untuk mewujudkan keinginannya di atas. Tetapi apakah hal ini tidak berlawanan dengan cita-cita mulia dan pelayanan Bpk James Riady,[3] bos besar pengembang ini. Apakah memang halal untuk merusak sistem lingkungan orang lain demi kepentingan ekonomi semata-mata?</p>
<p>Jika ada pertanyaan atau tanggapan silahkan baca dulu artikel kami di website kami dengan link sbb:</p>
<p><a href="http://greenimpactindo.wordpress.com/2010/04/24/challenges-in-creating-sustainable-urban-polder-in-developing-countries-case-study-development-of-pluit-polder-jakarta/">http://greenimpactindo.wordpress.com/2010/04/24/challenges-in-creating-sustainable-urban-polder-in-developing-countries-case-study-development-of-pluit-polder-jakarta/</a></p>
<p>Atau dapat kontak lewat email saja <a href="mailto:gunteitb%40yahoo.com">gunteitb@yahoo.com</a> atau telpon ke 0812 212 208 42.</p>
<p>Terimakasih<br />
Gunawan Tanuwidjaja<br />
Pemerhati Pluit</p>
<p>Pro: Kami juga minta dukungan semua pihak agar Sistem Polder Pluit bisa direvitalisasi, Dan 14 Pompa yang dibeli dan dikonstruksi oleh PU DKI Jakarta bisa dipakai untuk operasi Polder Pluit dengan perencanaan yang baik &#8220;bukan merusak sistem polder yang sudah ada.&#8221;</p>
<p>Footnote<br />
1 &#8211; Mr Gordon Benton OBE, architect and urban planner, giving lecture `The future of urban development in Jakarta and role of private developer&#8217; in Sustainable Jakarta Convention, <a href="http://www.sjconvention.com/Downloads/Sustainable%20Jakarta%20Seminar%20Speakers.pdf">http://www.sjconvention.com/Downloads/Sustainable%20Jakarta%20Seminar%20Speakers.pdf</a></p>
<p>2 - <a href="http://www.lippokarawaci.co.id/retailmalls/pluitvillage.aspx">http://www.lippokarawaci.co.id/retailmalls/pluitvillage.aspx</a></p>
<p>3 - <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/James_Riady">http://en.wikipedia.org/wiki/James_Riady</a><br />
<a href="http://www.grii.org/">http://www.grii.org/</a><br />
<a href="http://www.ladangtuhan.com/komunitas/jadwal-acara-gathering/seminar-ekonomi-antisipasi-krisis-global-bagi-indonesia/">http://www.ladangtuhan.com/komunitas/jadwal-acara-gathering/seminar-ekonomi-antisipasi-krisis-global-bagi-indonesia/</a></p>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/04/pluit-village-berapa-hijaukah-pengembang-kita-yang-terkenal-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shelter for All: Sine Qua Non, not a Chimera</title>
		<link>http://rujak.org/2010/03/shelter-for-all-sine-qua-non-not-a-chimera/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/03/shelter-for-all-sine-qua-non-not-a-chimera/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 02:43:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[permukiman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1806</guid>
		<description><![CDATA[By Muamar Vebry Last week I went to one of the biggest housing and land development project in Serpong, trying to identify a potential house to buy. The result was depressing; it was way above my purchasing power &#8212; by far. Sadly, despite the splendid infrastructure and its impressive greenery, my dream house was out [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>By Muamar Vebry</strong></p>
<p>Last week I went to one of the biggest housing and land development project in Serpong, trying to identify a potential house to buy. The result was depressing; it was way above my purchasing power &#8212; by far. Sadly, despite the splendid infrastructure and its impressive greenery, my dream house was out of reach.</p>
<p>This week, I went to check out several RUSUNAMI (high-rise and low cost apartment) in Eastern Jakarta. Surprisingly it was still beyond my reach. One question struck me, how on earth can low income and middle income earners in Jakarta afford a decent house if the price of the properties are way above their heads. Whilst Government interventions in affordable public housing through mass production of RUSUNAMI, which supposedly targeted the low-mid income groups with income less than 4.5 million per month, apparently is not affordable enough. The price of one RUSUNAMI unit is capped at IDR144 million maxima, which by whatever means would hardly be purchased by people in the low-income group.</p>
<p>Besides the price, another consecutive question struck me, one that relates to the compatibility of high-rise forms of low cost housing targeted for the low income. This question came from my earliest observation of 3 (three) Rumah Susun in Jakarta, one in Bendungan Hilir, one in Kebon Kacang and the other one in Tebet, regardless of the fact that Rumah Susun &#8212; which is also a low-cost housing introduced in 1990 &#8212; and RUSUNAMI is not an apples to apples comparison. Perhaps I am being very subjective here and made an over simplistic conclusion, but my lay mans observation is that the higher the Rumah Susun raises, the lower the maintenance.  That does tell me something:  the low-cost high-rise housing model in Indonesia is not working.</p>
<p>It should be noted that our beloved country has never had glimmering success stories in the provision of adequate shelter and secure tenure for the low income group. Despite the rosy programming, many low cost housing projects or Government&#8217; funded programmes have failed to yield tangible results. The situation has worsened since developers became disinterested in low cost housing, simply because they could not milk a good profit out of it.</p>
<p>It&#8217;s been reported that many developers have terminated the development of RUSUNAMI and are no longer offering a subsidized low-cost apartment. Consequently, the price of RUSUNAMI has increased from the previously capped IDR 144 million maxima to a new ceiling capped at IDR 200 million &#8212; more that 25% increased in ballpark estimation &#8212; which now targets the mid-income group. The Deputy of Formal Housing for the Ministry of Housing confirms that many developers have terminated their commitment to develop subsidized apartments due to an increase of production cost (materials etc&#8230;). The Deputy pontificates that this could not be avoided as there is no legal binding clause between Government and Developers that says developers must develop subsidized housing. The Deputy also points out that it should be looked on from the bright side, in return; many apartments for mid-income earners are being developed and soon will supply the housing market (KOMPAS daily newspaper, February 27, 2010). Once again it shows a policy failure &#8212; low-income groups are left out in the cold.</p>
<p>In a nutshell, lack of political will to serve the low-income housing sector is one of the many causes, not to mention that a systematic, properly designed and well-targeted social housing program has never been considered as a top Government priority. What has happened is scattered and sporadic initiatives, poorly planned and managed interventions, and spread thinly on a piece meal approach.</p>
<p>In Indonesia, the market forces it-self plays quite a substantial role to limit the supply of low cost housing and manages to keep the housing price beyond low income&#8217;s earners purchasing power. Please don’t get me wrong, I am not against the free market I believe free market society is good. However, it somehow fails to address the needs of adequate shelter for the low income group.</p>
<p>To address this, a political will should be properly nurtured and intelligent Government interventions should be adopted. By learning from the past failures in dealing with low-cost housing provisions, by taking into account few facts: first, the landed property is overpriced; one could get an affordable landed property but it can be 2-3 hours driving to/from Jakarta; second, the current high-rise model for example RUSUNAMI (or probably the upcoming RUSUNAMI Version 2.0) is not affordable,  high-rises are not socio-culturally suitable for low income group and the maintenance cost is expensive and will increase incrementally over time; and third, a developer driven model has not been able to address the pressing needs of low-cost housing demand as most developers are bogged down supplying  houses to the niche market of middle income and high income groups.</p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>To date, the Government is revising the regulation on subsidized housing. But I can&#8217;t see how any breakthrough will be made as it is still likely to play within the &#8220;old&#8221; context of the proven-failured-high-rise-apartment (RUSUNAMI). As highlighted in Kompas Daily in February 27, it seems the Government is merely aiming to enlarge the size of the of the unit, revising the amount of government&#8217;s subsidy and the funniest thing revising the income criteria for the targeted consumer from those earning IDR 4.5 million per month to IDR 6 million per month. This is completely misleading.</p>
<p>Hence, this might be a good time to challenge the Government to think outside the box and focus more on informal housing.</p>
<p>Construction costs are relatively small for low cost housing (landed house), whilst the land and infrastructure cost are relatively high. The Government, in this context Ministry of Housing, should play a more intelligent role in supporting other than developer driven modality such as self help modality to delivering a decent and affordable landed house or a duplex perhaps, and become a competitor in housing market &#8212; which so far has been monopolized by a developer driven approach for quite sometime.</p>
<p>There are various approaches which could be adopted, a possible solution could be attained through state interventions to provide matured land &#8212; either by giving a temporal right to use, providing land for free or selling it for an affordable price with reasonable repayment scheme &#8211;, and adequately equipped with basic infrastructure needs such as installed pipe-water, electricity connections and other vital basic services.</p>
<p>The housing delivery mechanism itself is not rocket science. It is simply utilizing a community development approach towards targeted groups by organizing and facilitating targeted low income groups to construct their own landed houses through self help modality &#8212; based on their individual needs and their financial capacity (core house or extended house). The planning and construction process could be assisted by professional/social architects, engineers and facilitators to ensure proper planning and design of the environment and that it meets the expected standard. The source of finance could vary, one possible way is to seek financing from community cooperative institutions or micro finance institutions which provides micro loans either for productive or consumptive purposes &#8212; so that the low income could avoid neck-chocking interest rates that are applied by mainstream Banks.</p>
<p>Thailand has successfully addressed the massive growth of slum areas in Bangkok by providing access to land to low income groups to build their own low-cost housing through participatory approach. The basic element of Thailand success story lies in the congruent approach, mutually agreed solution, high commitment coupled with strong synergy between stakeholders involved (i.e. Civil Society, Academic Institutions and the Government ultimately).</p>
<p>Another remarkable success was made by Enrique Peñalosa, a politician who served as mayor of Bogotá &#8212; Colombia&#8217;s capital city of 7 million &#8212; for three years (1998-2001). During his term, he bought undeveloped land on the outskirts of the city to prevent real estate speculation and ensured that it will be developed as affordable housing with electrical, sewage, and telephone service as well as space reserved for parks, schools, and greenways.</p>
<p>The question is now whether the Government of Indonesia is willing to give access to land for the poor and invest state funds to mature land by building the necessary infrastructure?</p>
<p>The Government has given access to state owned land to many developers to build RUSUNAMI, so why can’t they grant access to &#8220;well-organized low income groups&#8221;?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/03/shelter-for-all-sine-qua-non-not-a-chimera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perumahan di Pundak Generasi Muda</title>
		<link>http://rujak.org/2009/09/perumahan-di-pundak-generasi-muda/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/09/perumahan-di-pundak-generasi-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 17:11:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[permukiman]]></category>
		<category><![CDATA[sayembara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1104</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Odie Banoreza Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang bersinggungan dengan arsitektur. Sehingga ilmu arsitektur turut bertanggung jawab terhadap masyarakat luas dalam menyediakan hunian yang sehat dan nyaman. Namun, jika kita melihat realita perumahan Indonesia maka data yang ada mampu memberikan beberapa kesimpulan. Berdasarkan data tersebut, Indonesia kekurangan rumah sebesar 5.8 juta unit, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Odie Banoreza</p>
<p>Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang bersinggungan dengan arsitektur. Sehingga ilmu arsitektur turut bertanggung jawab terhadap masyarakat luas dalam menyediakan hunian yang sehat dan nyaman. Namun, jika kita melihat realita perumahan Indonesia maka data yang ada mampu memberikan beberapa kesimpulan. <span id="more-1104"></span></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1105" title="Untitled-1" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/Untitled-1.jpg" alt="Untitled-1" width="576" height="432" /></p>
<p>Berdasarkan data tersebut, Indonesia kekurangan rumah sebesar 5.8 juta unit, dengan pertumbuhan kebutuhan akan rumah baru mencapai 800.000/tahun. Hal ini disebabkan karena  pertumbuhan penduduk. Sementara bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang menempati kawasan kumuh seluas 54.000 hektar di seluruh Indonesia, terdapat 13 juta unit rumah tidak layak huni. Diperkirakan hingga tahun 2020 rata – rata kebutuhan rumah pertahun mencapai 1,2 juta unit.</p>
<p>Terlihat tingginya angka permintaan, dan itu menjadi tanggung jawab kita bersama. Kenapa hal ini bisa terjadi? Selain dikarenakan karena tingkat pertumbuhan, bisa juga disebabkan oleh dua hal: pertama, rendahnya tingkat pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak dan terjangkau; Kedua, Menurunnya kualitas lingkungan permukiman. Sesungguhnya pemerintah telah mencanangkan Rencana Strategis Pembangunan Perumahan periode 2004-2009, akan tetapi mungkin target yang dicapai masih jauh dari harapan yang diinginkan oleh masyarakat. Sehingga tingkat kepuasan masyarakat terhadap pengadaan pemukiman masih rendah.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1108" title="Untitled-2" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/Untitled-2.jpg" alt="Untitled-2" width="319" height="480" /></p>
<p><strong> </strong>Jakarta sebagai ibukota Negara terkadang  menjadi panutan bagi kota – kota lain dalam memperbaiki diri. Sehingga Jakarta sepatutnya menjadi contoh yang baik bagi kota lain di Indonesia. Sebagai contoh, konsep jalur bus di Jakarta diadopsi oleh  Yogyakarta, Manado dan banyak kota lainnya dalam upaya memperbaiki sistem transportasi umum mereka.</p>
<p>Akan tetapi pada realitanya, tetap saja ada kekurangan yang dimiliki oleh Jakarta. Keberpihakan pada kalangan atas jelas tampak pada tumbuhnya apartemen – apartemen yang diperuntukan bagi kalangan tersebut.  Pembangunan hunian bagi kalangan atas per tahun mencapai 6000 unit, ini dianggap sudah lebih dari cukup. Sedangkan pembangunan hunian untuk kalangan menengah per tahun mencapai 12.000 unit yang pada realita pemenuhan kebutuhan unit hunian untuk golongan masyarakat ini bisa dibilang 0 %. Itu belum termasuk kebutuhan hunian bagi masyarakat bawah yang mencapai 181.000 unit yang 21.000 unitnya merupakan kawasan kumuh berat. Suatu ketimpangan terjadi apabila kontrol pemerintah kurang ditambah anggaran minim.</p>
<p>Ketimpangan ini juga dapat dilihat dari laju pertumbuhan penduduk di Jakarta. Pertumbuhan penduduk di Jakarta pada rentang 1990 – 2000 hanya 0,16 % pertahun,  pertumbuhan penduduk  Jakarta Selatan -0,67%(minus), Jakarta Timur 1,33%, Jakarta Pusat -2,01% (minus), Jakarta Barat 0,49%, dan Jakarta Utara 0,52%. Akan tetapi pertumbuhan penduduk di kota satelit Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi mencapai 4% pertahun, Gejala pertumbuhan yang negatif ini bisa kita saksikan adanya perubahan fungsi perumahan yang terus berganti menjadi kawasan komersial. Ada keberpihakan Jakarta kepada kepentingan ekonomi dibandingkan pada pemenuhan kepada masyarakat berupa perumahan. Ini menyebabkan penduduk Jakarta berekspansi keluar jakarta, akan tetapi tetap berkomuter karena mereka bekerja di Jakarta..</p>
<p><strong> </strong>Berbanding terbalik dengan pemenuhan kebutuhan perumahan di Jakarta, jusru Jakarta semakin dipenuhi oleh pusat perbelanjaaanya. Setidaknya ada 130 pusat perbelanjaan atau mall tersebar di seluruh penjutu.. Keberadaan mall di Jakarta riskan karena jarak yang relatif dekat antar mall dan kemungkinan akan ada yang bangkrut karena persaingan. Namun diperkirakan beberapa tahun ke depan 2000 mall regional yang ada di seluruh dunia akan tutup atau berubah fungsi. Memang kini seakan-akan ekonomi Jakarta nampak kokoh dan bergairah dengan keberadaan mall sebagai penguasa lahan, tapi bukannya tak mungkin beberapa tahun lagi mall ada mall yang tutup dan berubah fungsi. Jika hal itu terjadi, maka mall dapat dimanfaatkan sebagai perumahan bagi masyarakat di Jakarta dengan merevitalisasinya. <strong> </strong></p>
<p>Jika memang kebutuhan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah demikian mendesak, ada banyak yang bisa kita pelajari dari masa lalu dan luar negeri tentang kepedulian terhadap pemenuhan perumahan bagi mereka. Beberapa contoh: <em>sand bag house</em> karya MMA architecs di CapeTown, Afrika Selatan. Rumah ini menggunakan karung pasir sebagai dinding bangunannya dengan budget sekitar $ 8600.  Lalu ada <em>Space Block Hanoi Model</em>, sebuah proyek rumah percobaan yang dikerjakan oleh Kazuhiro Kojima + Kojima Lab., Tokyo University of Science dan Magaribuchi Lab dari University of Tokyo: sebuah proyek revitalisasi perumahan kumuh. Dari dalam negeri,  ada Pemukiman Kali Cho-de di Yogyakarta oleh Romo Mangunwijaya.</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_1109" class="wp-caption aligncenter" style="width: 228px"><img class="size-full wp-image-1109" title="Untitled-3" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/Untitled-3.jpg" alt="Perumahan Kali Cho-De" width="218" height="387" /><p class="wp-caption-text">Perumahan Kali Cho-De</p></div>
<div id="attachment_1110" class="wp-caption aligncenter" style="width: 215px"><img class="size-medium wp-image-1110" title="Untitled-4" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/09/Untitled-4-205x300.jpg" alt="Space Block Hanoi" width="205" height="300" /><p class="wp-caption-text">Space Block Hanoi</p></div>
<p>Lalu apa yang bisa dilakukan kita sebagai generasi muda? Kita adalah penggerak perubahan di masa yang datang, sudah tentu memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini sampai tuntas. Kita saat ini berada dalam proses perubahan dan memiliki kewajiban untuk memecahkan masalah dengan solusi tepat guna di masa depan. Sekarang mungkin kita hanya bisa mengikuti dan sedikit bereksistensi pada proses perubahan saat ini. Tapi 10-20 tahun lagi dengan modal ilmu, pengalaman, pelajaran dari masa lalu dan proses regenerasi yang terjadi, kita harus siap untuk mengambil keputusan terbaik demi perkembangan arsitektur, umumnya, dan masalah pemukiman di Indonesia, khususnya.</p>
<p><strong> </strong>Memanh perubahan bisa terjadi kalau kita mengalami bencana, dengan bencana kita belajar untuk saling menjaga dan memikirkan satu sama lain. Tapi saya juga percaya, jika ada political will yang baik, maka kita bisa berubah: memikirkan orang lain, terutama kalangan bawah yang selalu menjadi “keset”.  Walaupun kemungkinan itu kecil tapi tetap ada. Paling tidak, saya percaya dan optimis? Bagaimana dengan Anda? Mungkin anda bisa mulai menyalurkan optimisme anda dengan mengikuti <a href="http://rujak.org/2009/09/sayembara-tanpa-hadiah/" target="_blank">Sayembara Tanpa Hadiah</a>.</p>
<hr size="1" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/09/perumahan-di-pundak-generasi-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Singgih of Magno Wooden Radio offers a New Urbanism</title>
		<link>http://rujak.org/2009/08/new-urbanism-growing-together-with-your-resources/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/08/new-urbanism-growing-together-with-your-resources/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 09:39:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Agriculture]]></category>
		<category><![CDATA[arts & culture]]></category>
		<category><![CDATA[assets-based development]]></category>
		<category><![CDATA[creativity]]></category>
		<category><![CDATA[design]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[organic farming]]></category>
		<category><![CDATA[permukiman]]></category>
		<category><![CDATA[pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[spatial plan]]></category>
		<category><![CDATA[sustainability]]></category>
		<category><![CDATA[urban agriculture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=975</guid>
		<description><![CDATA[Singgih Susilo Kartono, the maker of Magno wooden radios, thinks we should grow together with our resources. He wants to prove it in his village, Kandangan, in Temanggung, only 8 km from the house where Police thinks Noordin Top hid.  Will it materialise sustainably or become a bursting utopia? Only more elaboration and testing-out will answer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_976" class="wp-caption alignleft" style="width: 598px"><img class="size-full wp-image-976" title="Singgih" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/08/Singgih.jpg" alt="Singgih" width="588" height="468" /><p class="wp-caption-text">Singgih Susilo Kartono among the trees surrounding Magno wooden radio workshop  (August 23, 2009@Marco Kusumawijaya)</p></div>
<p>Singgih Susilo Kartono, the maker of <a href="http://www.magno-design.com/">Magno wooden radios</a>, thinks we should grow together with our resources. He wants to prove it in his village, Kandangan, in Temanggung, only 8 km from the house where Police thinks Noordin Top hid.  Will it materialise sustainably or become a bursting utopia? Only more elaboration and testing-out will answer that question. We discussed this issue while enjoying fresh air in his workshop on August 23, 2009.</p>
<p>He envisions his village to develop sustainably with production, consumption and resources growing together in the same locale. He wants to literally grow resources for his factory. He has already started growing seeds of sonokeling, mahoni, and other hardwood that he uses for his products, the famous awards winning Magno wooden radios, toys and stationery. He distributes the seeds for free to his neighbours to plant them on their own lands. One slide of his powerful powerpoint presentation shows how more trees emerge and grow bigger as his production grows as well.</p>
<p>With demand for his products growing (creating a current backlog of one month), it is very likely that he will have to expand his production facilities soon, although he does not wish to hurry on that. His neighbours will also enjoy the desentralised distribution of benefits soon. If things go well in the next couple of years, the village vill soon experience a densification process, having new wealth that willl materialise in the “rural” space</p>
<p>Singgih’s vision of production based on local resources, and a fair distribution of wealth in the locale, revives our imagination of “garden city” and other utopias in the history of urbanism. Resources and production are closely linked with relationships clearly tangible and within sight. It would certainly means very low ecological footprint. Fortunately, his “inputs” of the electrical parts in his radios also come from nearby factories in Semarang, two hours by car from Kandangan, Singgih’s base.</p>
<p>His products are sold so far mostly to consumers abroad. MOMA in New York just started to sell them in their stylish museum shop. Can we assume that the value he added to the woods justifies the emission of CO2 of transporting them?</p>
<p><strong>Need for a plan</strong></p>
<p>In anticipation of the spectre of  “growth” that is lurking from behind both the demand for his products, and the needs of the village, Singgih is already thinking of  creating a “masterplan” to guide the village development into the future. A serious mapping of available assets (natural and man made) is needed. A vision of how a future growth wil also grow and nurture (instead of deplete) the assets will be an intriquing exercise of intellect, creativity and technical skills of many disciplines.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/08/new-urbanism-growing-together-with-your-resources/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hunian 4 Lantai Lebih Berkelanjutan</title>
		<link>http://rujak.org/2009/08/hunian-4-lantai-lebih-berkelanjutan/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/08/hunian-4-lantai-lebih-berkelanjutan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 04:22:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andrea Fitrianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[permukiman]]></category>
		<category><![CDATA[spatial plan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=892</guid>
		<description><![CDATA[Orang bilang Jakarta bukan ‘kota’ tetapi kampung besar karena di Jakarta rumah-rumah berdiri di lahan masing-masing sebagian besar dengan halaman sendiri sebagaimana rumah pedesaan. Ciri-ciri hunian kota yang multi-keluarga, yang efisien dalam penggunaan lahan, tidak umum di Jakarta, begitu juga layanan dasar kota seperti jalur pejalan kaki dan taman kota, sulit ditemui. Memang, Jakarta pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_897" class="wp-caption alignleft" style="width: 563px"><img class="size-full wp-image-897" title="Erik_Catur_Low" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/08/Erik_Catur_Low2.jpg" alt="Erik_Catur_Low" width="553" height="407" /><p class="wp-caption-text">A sustained social space under a fly-over, next to a railroad, initially facilitated by Jakarta Biennale 2009 (Photo by Erik Prasetya,2009) </p></div>
<p><strong><span style="font-weight: normal;">Orang bilang Jakarta bukan ‘kota’ tetapi kampung besar karena di Jakarta rumah-rumah berdiri di lahan masing-masing sebagian besar dengan halaman sendiri sebagaimana rumah pedesaan. Ciri-ciri hunian kota yang multi-keluarga, yang efisien dalam penggunaan lahan, tidak umum di Jakarta, begitu juga layanan dasar kota seperti jalur pejalan kaki dan taman kota, sulit ditemui.</span></strong></p>
<p>Memang, Jakarta pada awalnya adalah kota-kota yang beraglomerasi. <em>Batavia</em> dengan <em>Meester Cornelis,</em> belakangan dengan kampung-kampung seperti Kemang dan Condet. Diantaranya dibangun hunian modern berkonsep <em>garden city,</em> berkepadatan rendah, satu-dua lantai, seperti di Menteng, Kebayoran Baru, Pondok Indah, Pulomas, dan lain-lain.</p>
<p>Padahal kepadatan (<em>density</em>) adalah kata kunci bagi kota. Asumsi umum mengatakan semakin padat maka semakin efisien, ini terkait mahalnya lahan dan pengadaaan layanan kota—air bersih, saluran pembuangan, jaringan listrik, dan lain-lain. Tetapi, kota adalah wujud eksistensi sosial-budaya manusia, bentuknya tidak cukup ditentukan skala ekonomi lahan dan jaringan infrastruktur.</p>
<p><span id="more-892"></span>Dalam rangka peningkatan kepadatan, belakangan kota Jakarta membangun apartemen-apartemen jangkung dengan fasilitas bersama. Dari pembangunan vertikal didapat ruang terbuka di kaki apartemen. Bagaimana ruang berharga ini digunakan? untuk kepentingan sosialkah? Sayangnya tidak, karena lahan yang diperoleh lebih sering digunakan untuk sirkulasi dan parkir mobil. Di dalam bangunan, ’ruang publik’ yang terbentuk pada lobby, <em>lift</em>, tangga, dan koridor dikelola oleh manajemen apartemen, sama sekali tidak publik. Sudah dipahami secara umum, ruang-ruang tersebut adalah sekat bagi segregasi sosial. Padahal, awalnya ruang publik adalah modal sosial, medium bagi interaksi sosial, bagi kontrol sosial, dan bagi aksi kolektif seperti gotong-royong.</p>
<p>Alih-alih meningkatkan kepadatan, apartemen jangkung membunuh unit-unit sosial tradisional—tetangga, dusun, dan kampung—serta menciptakan ketergantungan kepada korporasi. Mungkin pemerintah ingin meniru Singapura yang penduduknya mau—<em>atau dipaksa agar mau?—</em>tinggal di boks-boks beton yang diperbaharui setiap 10 tahun, sehingga harus beradaptasi dengan lingkungan baru, tetangga baru, setiap 10 tahun. Di lingkungan semacam ini tidak ada tempat bagi masyarakat, yang ada hanya massa—hanya baik untuk politisi dan industri konstruksi, tetapi tidak baik untuk masyarakat secara keseluruhan, tidak baik untuk keberlanjutan maupun demokrasi.</p>
<p>Apartemen jangkung juga mengisolasi anak-anak dan kaum lanjut-usia dari ruang terbuka dan dari alam—<em>dari tanah</em>. Hunian bertingkat tinggi dengan <em>lift</em> membatasi aktivitas anak saat tumbuh kembang—<em>bukankah ini kejahatan terhadap kemanusiaan? </em>Di lain hal, pada banyak kasus tidak tersedia cukup sumber-daya untuk merawat <em>lift</em> dan fasilitas umum lainnya, terlebih bila hunian ini ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Mekanisasi bangunan dengan sistim <em>lift</em>, pompa air, atau sampah domestik memang memerlukan energi dan biaya yang tidak murah.</p>
<p>Urbanisme modern ada yang bertentangan dengan hakikat kota: untuk interaksi manusia. <em>Garden city</em> mengajarkan individualitas; akuisisi ruang urban menjadi ruang pribadi, halaman rumah dan rumah yang besar. Memang demikian ini yang disukai oleh industri pengembang dan spekulator. Modernitas semu memandang hunian dan kota sebagai sistim monolit mekanistik dan menempatkan manusia sebagai bagian darinya—tidak lagi subjek. Maka mobil dan <em>lift</em> mengubah hunian dan wajah kota-kota seluruh dunia. Mampukah kita mengambil pelajaran dari masyarakat lain? Urbanisme macam apa yang harus kita ikuti?</p>
<p>Mari kita lihat rajutan kota yang telah berumur ratusan tahun, yang tumbuh secara alami dan organik, misalnya yang ada di kota-kota tradisional Eropa. Di sana ada kepadatan yang manusiawi. Hunian multi-keluarga 4 lantai sesuai dengan jangkauan mobilitas manusia yang alami. Skalanya sesuai dengan unit sosial pertetanggaan, 6-10 unit dalam satu bangunan, kadang dengan toko di lantai dasar. Tanpa <em>lift,</em> sehingga tidak memerlukan listrik hanya untuk naik-turun. Kota-kota ini menjadi tempat yang manusiawi dan produktif.</p>
<p>Lihat juga kampung-kampung di Jakarta seperti Galur, Prumpung, dan Pademangan yang juga tumbuh secara alami dan organik. Ia memiliki ciri kepadatan tinggi, ramah-pejalan<em>, </em>berperuntukan-campur (<em>mixed-use</em>), ada interaksi sosial tinggi, dan efisien dalam penggunaan sumber-daya kota, sesuai dengan nilai-nilai yang dimajukan oleh konsep tata kota mtakhir. Kita perlu belajar hidup meng-kota pada kampung-kampung ini.</p>
<p>Benar, bahwa ada lingkungan kampung miskin tidak sehat dan rawan penyakit sehingga perlu kesempatan bagi kota untuk meletakkan prasarana, meletakan jaringan air bersih, instalasi listrik yang aman, dan saluran pembuangan. Untuk itu, adakah jalan lain tanpa menggusur kampung sekaligus menghancurkan nilai-nilai tadi, yang susah payah dibangun di tempat-tempat lain?</p>
<p>Mewujudkan hunian multi-keluarga 4 lantai sebagai <em>voluntary densification, </em>pemadatan atas prakarsa warga, memberi arti lain, selain meraih kepadatan. Kepemilikan bersama atas satu unit bangunan, kondominium, berarti memperkuat keamanan tinggal (<em>tenure security</em>) sehingga lebih tahan terhadap penggusuran. Sebagai kompensasi ruang, akan diperoleh ruang-ruang terbuka yang benar-benar publik, yang hijau, yang dimanfaatkan dan dikelola bersama oleh warga.</p>
<p>Sejak awal, rumah-rumah yang baik dan berkelanjutan dibangun sendiri oleh penghuninya, bukan oleh pengembang apalagi negara. Sudah waktunya membuat preseden baru, hunian yang meng-kota, 4 lantai multi-keluarga, untuk kemandirian dan keberlanjutan, untuk wujud ’urbanisme Indonesia abad-21.’</p>
<p>Sila bergabung dengan <em>cause </em>di <em>facebook</em>: <em><a href="http://apps.facebook.com/causes/324654/38174379?m=6d54c0aa" target="_blank">4 lantai untuk hunian kota</a></em><em>.</em></p>
<p>Tentang prakarsa hunian kolektif: <em><a href="http://rumahbersama.multiply.com" target="_blank">CoHousing</a> </em>dan<em> </em><em><a href="http://cohousingjakarta.wordpress.com" target="_blank">workshop CoHousing</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/08/hunian-4-lantai-lebih-berkelanjutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cohousing: Inisiatif Warga Jakarta untuk Membangun Perumahan Ramah Lingkungan</title>
		<link>http://rujak.org/2009/07/cohousing-inisiatif-warga-jakarta-untuk/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/07/cohousing-inisiatif-warga-jakarta-untuk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 12:15:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[collaboration]]></category>
		<category><![CDATA[inisiatif warga]]></category>
		<category><![CDATA[permukiman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=771</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Armely Meiviana. Ada ratusan kawasan permukiman yang tersedia di Jakarta dan sekitarnya, mulai dari rumah sederhana hingga rumah mewah. Semuanya menawarkan berbagai kelebihan, seperti harga murah, lokasi strategis dekat tol, bebas banjir, desain mengikuti bentuk rumah di Eropa atau AS. Belum lagi fasilitas olahraga dan rekreasi keluarga,  fasilitas perkantoran, sekolah, rumah sakit serta pusat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="size-full wp-image-795 alignnone" title="4_Anggota Komunitas Rumah Bersama modified" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/4_Anggota-Komunitas-Rumah-Bersama-modified.jpg" alt="4_Anggota Komunitas Rumah Bersama modified" width="560" height="420" /></p>
<p style="text-align: left;">Oleh Armely Meiviana.</p>
<p>Ada ratusan kawasan permukiman yang tersedia di Jakarta dan sekitarnya, mulai dari rumah sederhana hingga rumah mewah. Semuanya menawarkan berbagai kelebihan, seperti harga murah, lokasi strategis dekat tol, bebas banjir, desain mengikuti bentuk rumah di Eropa atau AS. Belum lagi fasilitas olahraga dan rekreasi keluarga,  fasilitas perkantoran, sekolah, rumah sakit serta pusat perbelanjaan yang mudah dijangkau. Belakangan pasar properti bahkan diramaikan oleh proyek hunian baru yang mengklaim dirinya berwawasan lingkungan.</p>
<p>Lalu apa yang kurang? Apa yang membuat sekelompok warga Jakarta yang menamakan diri <a href="http://www.scribd.com/doc/17815910/2Komunitas-Rumah-Bersama">Komunitas Rumah Bersama</a>, berupaya untuk mengembangkan konsep <em>cohousing</em>, jenis permukiman yang didesain oleh komunitas?<span id="more-771"></span></p>
<p>”<em>Permukiman yang ditawarkan oleh para pengembang hingga hari ini didominasi oleh jalan mobil, . walau berbentuk cluster sekalipun. </em><em>Konsep cohousing menawarkan hal yang berbeda. Parkiran mobil diletakkan di pinggir lahan permukiman, sementara di antar rumah cukup disediakan jalan setapak untuk berjalan kaki atau bersepeda. Dengan begitu saya tidak perlu merasa khawatir meninggalkan anak saya bermain. Selain itu dengan berjalan kaki kemungkinan interaksi antar warga juga jadi meningkat. </em>”, jelas Shanty Syahril, Koordinator Komunitas Rumah Bersama yang juga seorang ibu dengan anak berusia 5 tahun.</p>
<p>Hal ini disampaikan pada sebuah acara diskusi dan pameran yang bertemakan<strong> ”Cohousing: Membangun Perumahan, Merealisasikan Mimpi”. </strong>Acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Rumah Bersama bertujuan untuk membuka mata warga Jakarta mengenai keberadaan berbagai <em>real estate</em> yang tidak dapat menjawab kebutuhan pasar serta memunculkan ide <em>cohousing</em> sebagai alternatif solusi untuk mengatasi hal tersebut.</p>
<p>”<em>Pengembang sejauh ini hanya menjual mimpi kepada pembeli dengan menyediakan desain-desain rumah hunian yang meniru desain rumah-rumah di luar negeri untuk memberikan kesan seolah-olah mereka sedang berada di negara lain</em>,”ujar Tiyok Prasetyoadi, seorang arsitek yang juga anggota Komunitas Rumah Bersama. Dalam presentasinya, ia memperlihatkan beberapa gambar desain hunian yang ditawarkan oleh pengembang.”<em>Padahal jenis desain seperti itu tidak cocok dengan alam Indonesia yang tropis</em>,”lanjut <ins datetime="2009-07-29T08:54" cite="mailto:Shanty%20Syahril">Tiyok</ins>.</p>
<p>Konsep cohousing sendiri merupakan sebuah permukiman yang dibangun secara partisipatif oleh sejumlah calon penghuni, sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan tiap individu. Selain itu, permukiman jenis ini ditandai dengan adanya fasilitas-fasilitas yang digunakan bersama, seperti ruang serbaguna yang diantaranya sebagai tempat berkumpul anggota komunitas, tempat bermain anak, perpustakaan, ruang ibadah, gudang, dan parkir mobil, guna menghemat lahan.</p>
<p>Dengan konsep cohousing, setiap rumah tidak harus memiliki semua hal. Beberapa peralatan yang tidak digunakan secara rutin, seperti gergaji, tangga, &amp; bor, bisa digunakan bersama. Begitu juga dengan mobil, tidak semua rumah harus memilikinya karena bisa melakukan <em>carpooling </em>atau satu mobil beramai-ramai. ”<em>Jadi konsep cohousing ini menawarkan gaya hidup yang ekonomi<ins datetime="2009-07-29T08:53" cite="mailto:Shanty%20Syahril">s</ins>,  ramah lingkungan dan meningkatkan interaksi sosial antar warga</em>,”tegas Shanty.</p>
<p>Komunitas Rumah Bersama mulai diinisiasi pada 25 November 2007, dan sejauh ini terdiri dari 9 rumah tangga dengan beragam latar belakang profesi, usia, suku, dan agama. Kesemuanya ini telah sepakat untuk berproses mengembangkan hunian dengan konsep <em>cohousing</em>.</p>
<p>Sejauh ini komunitas telah melakukan 9 kali pertemuan untuk membahas langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk merealisasikan <em>cohousing</em>. Saat ini tantangan yang dihadapi adalah mengidentifikasi alternatif skema pembiayaan, mengingat bahwa anggota komunitas seperti halnya rumah tangga kelas menengah pada umumnya secara finansial tidak mampu untuk membeli lahan serta membangun rumah dengan cara kontan.</p>
<p>Idealnya cohousing ini terdiri dari 15 sampai 25 rumah tangga. “<em>Oleh karena itu kami masih mencari beberapa individu/keluarga yang berminat untuk bergabung menjadi calon tetangga kami</em>,” ucap Shanty.</p>
<p>Namun mengingat proses terealisasinya <em>cohousing </em>membutuhkan waktu <ins datetime="2009-07-29T09:15" cite="mailto:Shanty%20Syahril">relatif lama dibanding membeli rumah jadi</ins>, maka beberapa pasangan yang sedang mencari hunian pun memilih mundur.</p>
<p>Selain itu, tak sedikit yang berprasangka bahwa <em>cohousing</em> yang tampak seperti permukiman yang sangat ideal membutuhkan biaya yang lebih mahal dibanding membeli rumah biasa. ”<em>Padahal prinsip membangun rumah di cohousing adalah menggunakan lahan secara minimal. Jadi jika lahan rumah pribadi yang dibutuhkan kecil serta kemampuan finansial juga seadanya, maka biaya yang harus ditanggung juga minimal. Dan pembayarannya pun diharapkan bisa dengan skema cicilan</em>”, jelas Shanty.</p>
<p><em>”Mengingat bahwa ide cohousing ini masih baru, di mana komunitas berperan sebagai pengembang kawasan, maka kami berharap bisa menemukan bank yang mempunyai skema perbankan yang sesuai</em>,”tambah Shanty.</p>
<p>Pada acara ini juga dipresentasikan beberapa bentuk desain cohousing yang merupakan hasil eksplorasi beberapa <strong>mahasiswa arsitektur Universitas Pelita Harapan</strong>. Desain tersebut menggunakan prinsip-prinsip <em>cohousing </em>sesuai permintaan Komunitas Rumah Bersama, yaitu menggunakan lahan minimal, dengan memerhatikan aspek-aspek lingkungan, seperti penggunaan material, pemanfaatan cahaya matahari &amp; angin sebagai sumber energi, pendaurulangan air, dsb.</p>
<p>Elisa Sutanudjaja, Dosen Arsitektur UPH, yang berinisiatif menyelenggarakan <a href="http://cohousingjakarta.wordpress.com/">workshop cohousing</a> bagi mahasiswanya menjelaskan,”<em>Konsep cohousing ini bertolak belakang dengan urbanitas Jakarta yang individualis. Selain itu menawarkan pendekatan yang berbeda dengan perumahan massal yang ada, di mana membutuhkan partisipasi dalam proses perwujudannya.Dan ini adalah kesempatan yang langka bagi mahasiswa, karena melalui workshop mahasiswa mendapatkan pengalaman mendesain untuk memenuhi keinginan klien yang nyata, yang tidak hanya satu orang, namun sekaligus 9 rumah tangga dalam satu desain yang utuh</em>.”</p>
<p>Saat mengawali acara diskusi, Marco Kusumawijaya, seorang pegiat isu perkotaan yang juga anggota Komunitas Rumah Bersama menegaskan,“<em>Apa yang menjadi realitas saat ini, yang ditawarkan oleh para pengembang, belum tentu realistis. </em><em>Dan mimpi yang ditawarkan oleh Komunitas Rumah Bersama sesungguhnya sesuatu yang sangat realistis untuk diwujudkan</em>.”</p>
<p>Acara diskusi &amp; pameran <strong>Cohousing: Membangun Perumahan, Merealisasikan Mimpi, diselenggarakan di Museum Bank Mandiri, 25 Juli 2009, pk.10.00-14.00</strong>. Acara ini cukup mendapat sambutan hangat dengan dihadiri oleh sekitar 100 peserta yang terdiri dari para pegiat arsitektur, lingkungan, permukiman, dan isu perkotaan serta mereka yang sedang mencari hunian.</p>
<p>Info lebih lanjut kontak: <strong>Shanty Syahril</strong> di <strong>0812 203 5903</strong> atau <strong>sshanty@gmail.com</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Catatan :</strong></p>
<p>-       Konsep cohousing pertama kali dikembangkan di Denmark pada tahun 1960an oleh sekelompok keluarga yang tidak puas dengan kondisi permukiman yang ada pada saat itu. Pada tahun 1980an, ide ini dikembangkan di AS. Saat ini konsep cohousing sudah diterapkan di banyak negara, seperti Eropa Utara, Kanada, Inggris, Australia dan AS. Untuk tahu lebih lanjut tentang konsep cohousing, bisa dilihat di: <strong>www.cohousing.org</strong></p>
<p>-       Cohousing bisa dibangun di kota, pinggiran kota atau desa. Secara fisik bentuknya bisa berupa apartemen, townhouse, apartemen yang tidak tinggi (maks.4 lantai), dll.</p>
<p>-       Karakteristik cohousing (6 hal):</p>
<ul>
<li><strong>Proses partisipatif</strong>, calon penghuni terlibat sejak awal dalam mendesain permukiman serta bentuk komunitas yang sesuai dengan kebutuhan</li>
<li><strong>Desain perumahan</strong> harus mendukung kehidupan berkomunitas. Biasanya berbentuk <em>cluster</em>, bebas kendaraan bermotor dan memudahkan tiap anggota untuk selalu berinteraksi satu sama lainnya.</li>
<li>Adanya <strong>fasilitas bersama</strong> yang dirancang untuk digunakan sehari-hari untuk menghemat lahan &amp; pengeluaran</li>
<li><strong>Dikelola oleh penghuni</strong>, ada pembagian tugas di antara sesama penghuni untuk mengelola kawasan permukiman</li>
<li>Pengambilan keputusan harus dilakukan secara <strong>konsensus</strong>, bukan berdasarkan hierarki.</li>
<li><strong>Sistem ekonomi tidak komunal</strong>, di mana tiap penghuni mempunyai sumber penghasilannya sendiri yang tidak berasal dari komunitas.</li>
</ul>
<p>-       Catatan perjalanan Komunitas Rumah Bersama untuk mewujudkan cohousing bisa dilihat di <a href="http://www.scribd.com/doc/17815910/2Komunitas-Rumah-Bersama">http://www.scribd.com/doc/17815910/2Komunitas-Rumah-Bersama</a></p>
<p>-       Dokumentasi workshop cohousing mahasiswa Universita Pelita Harapan bisa dilihat di<strong> cohousingjakarta.wordpress.com.</strong></p>
<p><strong>Lihat juga pengamatan dan ide tentang suasana diskusi warga yang menyenangkan: </strong><strong><a href="http://rujak.org/2009/07/para-bocah-yang-ikut-meramaikan-diskusi/">http://rujak.org/2009/07/para-bocah-yang-ikut-meramaikan-diskusi/</a></strong></p>
<p><strong><img class="alignnone size-full wp-image-797" title="3_Diskusi modified" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2009/07/3_Diskusi-modified.jpg" alt="3_Diskusi modified" width="560" height="420" /></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/07/cohousing-inisiatif-warga-jakarta-untuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekologi Jakarta: Potensi yang Terancam</title>
		<link>http://rujak.org/2009/07/ekologi-jakarta-potensi-yang-terancam/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/07/ekologi-jakarta-potensi-yang-terancam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 03:44:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andrea Fitrianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>
		<category><![CDATA[assets-based development]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[permukiman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=564</guid>
		<description><![CDATA[Ekologi Jakarta terancam punah. Penduduk penghuni dalam kota Jakarta berkurang, menurun setidaknya dalam 10 tahun terakhir. Keragaman berkurang, bukan saja dalam arti fungsi (terutama dengan menghilangnya hunian di tengah kota), tetapi juga dalam arti keragaman strata ekonomi. Kelemahan terletak pada tidak adanya koherensi antara kebijakan perpajakan, pembangunan perkotaan, tata ruang/kota, dan konservasi. Bahkan kawasan perumahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 0.21cm;" align="justify"><span lang="fi-FI"><a href="http://www.flickr.com/photos/rujak/3708716447/"><img class="alignleft" src="http://farm3.static.flickr.com/2448/3708716447_0b677438de_m.jpg" alt="" width="240" height="204" /></a></span></p>
<p>Ekologi Jakarta terancam punah. Penduduk penghuni dalam kota Jakarta berkurang, menurun setidaknya dalam 10 tahun terakhir. Keragaman berkurang, bukan saja dalam arti fungsi (terutama dengan menghilangnya hunian di tengah kota), tetapi juga dalam arti keragaman strata ekonomi. <strong><span style="font-weight: normal;">Kelemahan terletak pada tidak adanya koherensi antara kebijakan perpajakan, pembangunan perkotaan, tata ruang/kota, dan konservasi.</span></strong> Bahkan kawasan perumahan berkualitas tinggi (setidaknya dulu) seperti Menteng pun sedang mengalami penurunan. </p>
<p> </p>
<p>(Lihat studi pada <a href="http://rujak.org/2009/07/loe-loe-gue-gue/">http://rujak.org/2009/07/loe-loe-gue-gue/</a> dan <a href="http://rujak.org/2009/07/imagining-jakarta/">http://rujak.org/2009/07/visioning-the-future-of-jakarta-imagining-jakarta/</a>; serta artikel di  <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/03/21/the-plight-and-plea-menteng.html">http://www.thejakartapost.com/news/2009/03/21/the-plight-and-plea-menteng.html</a>, dan <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/04/envisaging-a-mutually-beneficial039-kind-jakarta.html">http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/04/envisaging-a-mutually-beneficial039-kind-jakarta.html</a> )<span id="more-564"></span></p>
<p> </p>
<p>Di beberapa tempat, misalnya di Jakarta Utara, keragaman itu bertahan.</p>
<p> </p>
<p>Abdoumaliq Simone (Professor of Soscology, Goldsmith College, University of London), dengan kesegaran ”pandangan orang luar”, melihat Jakarta Utara memiliki percampuran (<em>mixture</em>) sosial sebagai satu dari sedikit saja ’harta’ yang kini masih dimiliki Jakarta, yang memiliki potensi sangat penting untuk meningkatkan vitalitas Jakarta, bila bukan hanya untuk survivalnya.</p>
<p> </p>
<p>Struktur sosial berkait dengan struktur fisik kota. Bagian utara Jakarta memiliki jalan-jalan utama dengan kanal dan jembatan. Kaviling-kavling sepanjang jalan ditempati penduduk menengah-atas dan digunakan untuk fungsi komersil. Masuk ke jalan lingkungan, kavling-kavling dihuni oleh kelas menengah, dan masuk ke lorong ditemui kampung dengan penduduk miskin hingga menengah. Lingkungan permukiman di bagian utara Jakarta masih memberi tempat bagi satu rentang kelompok sosial: dari sangat-miskin hingga menengah-atas dalam satu lingkungan yang relatif kecil.</p>
<p> </p>
<p>Keragaman, percampuran, dalam struktur sosio-ekonomi di bagian Utara Jakarta pada tingkat tertentu dilestarikan oleh rancangan kota kolonial zaman belanda. <em>Boulevard </em>berkanal, bangunan umum, jalan lingkungan, <em>townhouse</em>, dan kantung-kantung permukiman (kampung) menjadi batas teritorial bagi kelompok-kelompok sosial tadi. Kampung juga mendukung fungsi ekonomi di jalan besar yang menyediakan produk dan jasa.</p>
<p> </p>
<p>Kampung kota menawarkan produk dan jasa yang sangat kompetitif. Misalnya, penyedia jasa dekorasi pameran, salah satu jenis usaha yang umum disana. Pemiliknya seorang berpendidikan arsitektur, dan memang masih memberikan jasa arsitektur. Saat menerima pesanan dekorasi pameran, dia akan mengurai, menjabarkan, dan membagi pekerjaan kepada mandor, lalu mandor mencari tukang untuk masing-masing pekerjaan yang ada. OPesanan ini bersifat sekali-sekali, musiman, tapi para tukang dapat terus berpenghasilan karena mereka pekerja berpindah. Pada saat lain mereka adalah pembuat meja-kursi. Demikianlah ini adalah ekonomi dengan kelenturan dan efisiensi tersendiri, ciri yang membuat mereka sangat kompetitif; dan ini ada, hidup di kampung-kampung kota Jakarta.</p>
<p> </p>
<p>Kedekatan jarak memungkinkan kontak dan berkembangnya relasi-relasi ekonomi. Konstelasi urban ini belum tentu adil, seringkali manipulatif bahkan menindas, problematik. Tidak ada keraguan tentang hal itu. Namun, dinamika sosial ekonomi ini lah yang memberikan nafas dan kekuatan kepada sebuah kota.</p>
<p> </p>
<p>Disitu juga ada skala, yang memungkinkan struktur ini berfungsi. Perlu dicatat, tatanan kota lama tercipta saat kota belum mengenal kendaraan bermotor sehingga segala sesuatu direncanakan berpedoman pada ukuran manusia, <em>atau mungkin juga kuda?</em> Saat itu kehidupan kota berjalan tanpa banyak bergantung pada kendaraan bermotor—suatu kondisi yang kembali dirindukan saat ini.</p>
<p> </p>
<p>Dapat dibayangkan apabila arah pembangunan kota Jakarta, misalnya di bagian Utara dengan rencana reklamasi, akan menuju seperti Sudirman dan Thamrin yang padat modal namun meminggirkan penduduk miskin, wilayah Jakarta ini akan kehilangan kapasitas serta vitalitas yang selama ini ditunjukkan oleh ekologinya. Apa yang akan terjadi bila penduduk miskin kota digusur demi ilusi fatamorgana kemakmuran atau <em>efek Dubai</em>?</p>
<p> </p>
<p>Salah satu soal kita, barangkali, adalah karena lebih mudah meyakinkan para pengambil keputusan tentang pertambahan nilai satu meter persegi lantai <em>mall</em> baru dan sekian unit tenaga kerja dan sekian nilai tambah dari tas <em>louis vuitton</em> yang dijual disana. Lebih sulit menjelaskan bahwa satu meter persegi lahan di Pademangan adalah sekian unit tenaga kerja, sekian relasi ekonomi dan relsasi sosial, dan ini semua mendukung sekian banyak relasi ekonomi di tingkatan seluruh kota, sehingga secara keseluruhan dan dalam jangka panjang mempunyai nilai lebih bagi metropolis Jakarta.</p>
<p> </p>
<p>Apa yang kita, warga negara biasa, harus dan dapat lakukan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/07/ekologi-jakarta-potensi-yang-terancam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Living in the Bubbles</title>
		<link>http://rujak.org/2009/07/living-in-the-bubbles/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/07/living-in-the-bubbles/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 18:32:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Meutia Chaerani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>
		<category><![CDATA[permukiman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[Last week’s news on Jakarta has been quite encouraging. Community initiatives such as greenlifestyle, greenmap, Indonesian Folding Bike Community, and even rujak.org received media coverage. Media were also eager to get a glimpse of the upcoming masterplan of Jakarta, which is said to be transit oriented development, and experts were enthusiastic to respond. Among all [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><a href="http://www.flickr.com/photos/moriza/253115427/"><img title="Gated prospect" src="http://farm1.static.flickr.com/80/253115427_08a6063f8f_m.jpg" alt="Gated prospect, by moriza" width="240" height="180" /></a><p class="wp-caption-text">Gated prospect, by moriza</p></div>
<p>Last week’s news on Jakarta has been quite encouraging. Community initiatives such as <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/29/students-learn-simple-lessons-help-save-mother-earth.html">greenlifestyle</a>, <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/29/green-map-aims-take-jakartans-water.html">greenmap</a>, <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/29/folding-bikes-looking-space-city.html">Indonesian Folding Bike Community</a>, and even <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/29/rujakorg039-a-hub-hubbub.html">rujak.org</a> received media coverage. Media were also eager to get a glimpse of the upcoming masterplan of Jakarta, which is said to be <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/30/new-spatial-master-plan-focus-public-transport.html">transit oriented development</a>, and <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/07/03/addressing-disasters-density-future-jakarta.html">experts were enthusiastic to respond</a>.</p>
<p>Among all the good news, there’s hidden <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/26/special-report-depok039s-majority-enjoys-living-exclusive-islamic-residences.html">a small report about a growing number of religion-based housing estate for sale in the suburbs, high in demand</a>. And this is not just talking about the architecture style, but it goes as far as the selection of buyers and even renters.<span id="more-464"></span></p>
<p>“<a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/26/special-report-depok039s-majority-enjoys-living-exclusive-islamic-residences.html">To ensure the implementation of Islamic values, all developers seek out Muslim buyers exclusively, and ask that if they decide to sell or rent out their house, that they only choose other Muslims to sell or rent to.</a>”</p>
<p>Is this a clear sign that our society is become more segregated than before?</p>
<p>In Jakarta, we’re working really hard to stay within our herds. <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/06/27/editorial-for-muslims-only.html">People are working hard to stay segregated from other social class</a>.</p>
<p>The cars are no longer a mode of transportation &#8211;  they are bubbles that isolate the passengers from the harsh reality of Jakarta street life, keeping them in comfort despite Jakarta’s scorching sun. It brings the passenger from a secure, gated house, to a secure gated office or shopping center. Houses race to build higher and higher concrete fences. A person living from bubbles to bubbles. It’s really hard work, costly, and inefficient. It is a social illness.</p>
<p>Meanwhile, the other segment of the society is excluded from those spaces. The delineation is clear.</p>
<p>Why the push for bubbles and segregation? Perhaps, there is this illusion of, “<em>If everything is uniform, then everything is going to be allright</em>”. But history proves that civilization actually thrives with diversity.</p>
<p>What is your thought on this? We should do something, don&#8217;t you think?  Tell us your ideas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/07/living-in-the-bubbles/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Loe Loe, Gue Gue</title>
		<link>http://rujak.org/2009/07/loe-loe-gue-gue/</link>
		<comments>http://rujak.org/2009/07/loe-loe-gue-gue/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 18:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[city-region]]></category>
		<category><![CDATA[permukiman]]></category>
		<category><![CDATA[RTRW]]></category>
		<category><![CDATA[spatial plan]]></category>
		<category><![CDATA[transportation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[Andi Rahmah, Agus P. Sari, et.al., Loe Loe, Gue Gue; Hancurnya Kerekatan Sosial, Rusaknya Lingkungan Kota Jakarta, Yayasan Pelangi, Jakarta 2004. Loe Loe, Gue Gue]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Andi Rahmah, Agus P. Sari, et.al., <em>Loe Loe, Gue Gue; Hancurnya Kerekatan Sosial, Rusaknya Lingkungan Kota Jakarta, </em>Yayasan Pelangi, Jakarta 2004.<br />
<a href="http://www.scribd.com/doc/17077987/loeloeguegue">Loe Loe, Gue Gue</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2009/07/loe-loe-gue-gue/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

