
Slamet Abdul Syukur mengingatkan bahaya polusi suara
Polusi suara berdampak pada banyak fungsi tubuh manusia, karena indera pendengaran adalah sensor pemberi masukan kepada otak untuk mengatur banyak fungsi lainnya, termasuk emosi, keseimbangan, dan bahkan kecerdasan. Selain itu, kebiasaan mendengarkan suara yang melebihi ambang batas juga menumpulkan kemampuan indera pendengaran untuk dapat menangkap suara-suara yang lebih halus dan indah.
Sekitar 20 orang, antara lain Dr. Damayanti, Ketua Komisi Nasional Penanggulangan Gangguan Kesehatan Pendengaran, musisi Ivan Slank, dokter spesialis THT, ahli burung Ady Kristanto (penulis buku Alam Jakarta), penggiat Peta Hijau Bayu Wardhana, pemrajarsa TEDxJakarta Karina Sigar, direktur Ruang Rupa dan anggota Komite Senirupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Ade Dharmawan, dan pendiri Institut Grafi Sosial Arif Aditya, pada Rabu tanggal 12 Agustus 2009 di DKJ mendengarkan dan membahasa paparan dan himbauan komposer senior Slamet Abdul Syukur.
Menurut Slamet Abdul Syukur, anggota Akademi Jakarta, sudah waktunya kita mulai menyadarkan masyarakat akan bahaya polusi suara yang mulai meningkat bahayanya terhadap kesehatan kita semua, justru karena hal ini belum sepopuler seperti polusi udara dan lain-lain pengganggu kualitas hidup kita.
Ada rencana menyelenggarakan kegiatan bersama di bulan November 2009 sebagai bagian dari proses perubahan menuju penanggulangan kebisingan yang berkelanjutan
Akademi Jakarta dan DKJ mengajak publik, baik organisasi mauun perorangan, untuk bersama-sama melakukan sesuatu.
Gagasan dan keinginan terlibat dapat disampaikan kepada info@rujak.org atau info@dkj.or.id.
Lihat juga paparan Dr.Ronny Suwento, ahli THT dari RS Cipto Mangunkusumo, yang juga hadir pada pertemuan tersebut: http://www.scribd.com/doc/18627438/Music-Induced-Tim-120809

