Posts Tagged ‘ruang publik’
04 Jul 2010
Taman Internet di Batam
01 Jul 2010
Ruang untuk Budaya Rakyat
Oleh Jo Santoso: Pertama adalah bahwa budaya hanya bisa berkembang, atau dikembangkan kalau “Lebensraum” yang diperlukannya tersedia.Tidak ada budaya bisa berkembang tanpa keterikatan pada tempat atau teritori/ruang dalam arti fisik. Proses perkembangan budaya terjadi di
sebuah tempat dan dilakukan secara bersama oleh sejumlah kelompok masyarakat.
Jadi kalau kita bicara tentang budaya urban yang tradisional, yang non-feodal, maka selama ini kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta tidak pernah memberikan tempat yang memungkinkan perkembangan semacam itu bisa berlangsungi. Memang kita tidak seburuk Singapura yang membabat habis perkampungan tradisional mereka, dan sekarang secara budaya mati suri, tetapi kitapun tidak pernah secara sadar memberikan ruang bagi munculnya sebuah budaya urban yang berbasis pada pola kehidupan masyarakat kita. Budaya kota yang unggul baru bisa (suatu hari) muncul kalau kita juga menyediakan ruang hidup bagi budaya urban untuk semua lapisan masyarakat, terutama untuk rakyat biasa. Karena kalau budaya rakyatnya tidak bisa berkembang, karena digusur habis seperti di Singapura, sekolah tinggi seni sebanyak apapun tidak bisa menggantikan. Kalau tidak ada budaya rakyat, budaya tinggipun tidak bisa muncul.
Lihat juga Ruang Khalayak dan Kebudayaan serta City Life, from Jakarta to Dakar dan Jakarta Utara
24 Jun 2010
Ruang Khalayak dan Kebudayaan[1]
Kebudayaan berproses di dalam dan di antara tiga lapis ruang:
-Ruang dalam rumah, ialah ruang dapur dan ruang keluarga
-Ruang depan rumah, ialah ruang tamu dan ruang kerja
-Ruang khalayak, dari halaman hingga ke lapangan.
Bagaimana?
Begini ilustrasinya. Baru-baru ini di Bangalore/Bangaluru saya membaca sebuah buku tentang keragaman Hindu (ditulis sengaja untuk menentang gerakan fundamentalisme Hindu): The Hindus, an Alternative History. Pengarangnya, Wendy Doniger, menerangkan bahwa kesalahan utama selama ini adalah menganggap Hindu itu hanya “satu/tunggal” sebagaimana dirumuskan dalam teks-teks berbahasa Sanskrit, dan seolah-olah teks itu seluruhnya berasal dari bahasa itu, dan karena itu hanya ditulis oleh elit, para ksatria dan brahman. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah demikian: “Di ruang depan ayah berbahasa Sanskrit”, “di dapur ibu berbahasa panskrit.” Bahasa Panskrit adalah istilah untuk menyebut semua bahasa-bahasa daerah yang berbeda-beda di seluruh India”. Teks Sanskrit Hindu, menurutnya, banyak yang awalnya berasal dari bahasa daerah ini, ditulis atau diceritakan oleh siapa saja, termasuk kaum Paria, tapi kemudian dikutip oleh teks-teks berbahasa sanskrit. Terjadi proses kanonisasi melalui Bahasa “tinggi”.
Bukankah kita juga demikian? Ketika ayah berbahasa Indonesia dengan Pak RT di ruang tamu, anak ber”bahasa-ibu” (mother-tongue) dengan ibu di dapur. Bahkan ketika jam istirahat di sekolah, meski pun sebelumnya di dalam klas kita berbahasa Indonesia, kita berbahasa daerah. Di ruangan ini, di hadapan hadirin yang terhormat, pun, saya menggunakan Bahasa Indonesia yang berbeda dengan bahasa Indonesia yang saya gunakan untuk berkomunikasi dengan anak saya di rumah. (Anak saya, baru saya sadari, telah menjadi “lebih” Betawi daripada saya. Dia lahir di Jakarta. Saya di kampung di Pulau Bangka. Sehari-hari dia bilang “ape, emang kenape, gue, dlll” sedang saya tetap kental dengan Melayu rendahan saya.)
Tentang hubungan antara ruang dan perkembangan kebudayaan, tiga hal sederhana dapat dianggap pasti:
- Kebudayaan berkembang di dalam ruang yang kontinum bukan saja secara horisontal (dari satu ruang ke ruang lainnya), tetapi secara historis (dari satu masa ke masa lainnya)
- Kebudayaan selalu berkembang dalam proses komunikasi/dialog
- Kebudayaan selalu berubah, perlahan atau lama, dan saling pengaruh mempengaruhi. Suatu kebudayaan bukan saja selalu menyerap kebudayaan lain, tetapi juga selalu menawarkan diri kepada kebudayaan-kebudayaan lain. Arus itu timbal-balik. Dari tiap kebudayaan selalu ada yang dapat ditawarkan kepada yang lain, kepada dunia, selalu ada yang “universalisable” (dapat di-unversal-kan)[3]
Dengan demikian mudah kita melihat peran “ruang publik”, yang tentu saja bukan hanya di dalam pengembangan kebudayaan, termasuk kebudayaan Betawi.
Tapi interaksi yang mengembangkan kebudayaan tidak hanya terjadi antar kelompok. Interaksi terjadi juga antara orang perorang dengan kelompok, atau dengan dunia. Di sinilah peran para pekerja seni. Ignas Kleden[4] menguraikan bahwa nilai-nilai pada akhirnya juga diolah dalam ruang pribadi orang perorang yang lalu ditawarkan ke ruang publik pada berbagai tingkatan (komunal, nasional dan global). Inilah yang antara lain tugas mulia seniman, yang melakukannya secara intense dan mewujudkan tawarannya dalam media yang menggugah dan indah.
Mohamed Arkoun, karena itu menggunakan istilah “universalizable” untuk mengatakan ada nilai-nilai dalam Islam yang “dapat ditawarkan” kepada dunia. Penggunaan kata “universalizable” sekaligus juga menunjukkan kerendahan hati dan niat tulus untuk menyumbang kepada ruang publik, kepada kemanusian dalam arti seluas-luasnya, alih-alih mengambil atau membentuk ruang publik sesuai dengan preferensi sektarian.
Mengapa saya menekankan hal ini? Karena kita telah melewati pemikiran multikulturalisme, tetapi masuk dalam pemikiran inter-kulturalisme. Kita bukan hanya perlu menghormati keberagaman, tetapi juga secara aktif dan terbuka belajar dari orang lain yang berbeda dari kita masing-masing. Konsekuensi dari interkulturalisme adalah kebijakan yang bukan hanya melerai orang per orang atau kelompok per kelompok yang berbeda, melindungi dan mengakomodasi semuanya, tetapi juga mendorong interaksi antara semuanya. Kreativitas muncul dari interaksi aktif demikian. Setiap orang mengambil dan memberi, dan kemudian membawa pulang ke ruang pribadinya sesuatu yang lain lagi, hasil percampuran pemberian dan penerimaan itu. Memberikan berarti menawarkan apa yang mungkin ”universalizable,” bukan memaksakan. Harus tersedia ruang untuk yang diberi, baik sebagai orang perorang maupun sebagai suatu kelompok budaya, untuk memproses tawaran itu secara bebas. Karena itu kreativitas suatu kota bukan hanya berarti creative industry atau creative city yang memproduksi barang kriya dan barang seni. Sebuah Kota itu kreativ pertama-tama dalam arti mampu mengelola keberagaman yang interaktif sehingga semua warganya selalu produktif “mencipta” dalam semua bidang dan tingkatan, dari nilai-nilai sampai produk material.
Sebuah buku terbaru baru saja terbit, sesudah cukup lama tidak ada buku tentang Jakarta berbahasa Inggeris. City Life, From Jakarta to Dakar, ditulis oleh Abdoumaliq Simone, seorang sahabat warga muslim dari AS, keturunan campuran Itali dan Libia yang dengan mudah bisa menyamar ke Pasar tanah Abang, setelah melakukan penelitian tentang kegiatan ekonomi dan sosial di Jakarta Utara. Dia menulis tentang vitalitas, daya hidup, masyarakat di Jakarta Utara: “…menyalurkan berbagai perbedaan menjadi hubungan tertentu menghasilkan kapasitas-kapasitas dan pengalaman-pengalaman tak terduga yang berharga—berharga karena semua itu memperluas apa yang kita anggap mungkin.” [5] “Hanya dengan melihat kehidupan perkotaan sebagai suatu konteks untuk pertemuan-pertemuan kita dapat mengerti bagaimana hanya dengan sedikit sumber daya orang dapat bertindak sangat yakin dengan banyak akal.”[6]
Nah, kesimpulan tentang peran kota sederhana. Kota perlu dirancang untuk melancarkan, bukan menyumbat, interaksi, arus komunikasi bolak-balik dari ruang privat ke/dari ruang publik itu secara kontinum, bukan secara terpatah-patah, apalagi terbatah-batah, dan menyeluruh.
Ruang terbuka di kampung-kampung Kupat Kumis (Kumuh Padat, Kumuh Miskin) adalah prakarsa yang baik, hanya saja: istilahnya itu sebaiknya diganti supaya tidak berkesan merendahkan. Dan rung terbuka adalah kebutuhan semua orang, bukan hanya yang miskin. Dan: Perlu lebih mendalam dalam perancangannya. Kampung adalah suatu istilah yang terhormat, karena Kampung adalah bentuk hunian yang sesungguhnya secara sosial budaya sehat dalam makna kontinuitas ruang-ruang di atas. Tentu saja secara fisik ia harus dilengkapi dengan prasarana yang sehat pula. Kampung bukan hanya nama untuk suatu bentuk permukiman, tetapi juga berarti suatu “tempat asal”, suatu “rumah tempat kembali”, tempat di mana orang merasa nyaman. Kampung selalu mengandung ruang khalayak juga, tetapi ruang-ruang khalayak yang jelas tuan rumahnya, bentuk dan norma sosialnya yang lokal dengan semua orang saling mengenal, tidak ada orang asing, hanya orang lain; berbeda dengan ruang kota seperti “jalan raya” yang penuh dengan “orang asing” yang kepemilikannya abstrak, ialah “umum” dan di bawah perwalian kekuasaan pemerintah sebagai wakil yang publik. Di ruang khalayak kampung, tidak perlu kuasa perwalian seperti pemerintah, karena ruang ini langsung dipelihara dan “dijaga” oleh penghuni kampung, tidak diwakilkan kepada pihak lain.
Saya ingat Walikota Jogja yang terdahulu dengan jujur mengakui: yang membentuk kotanya adalah kampung-kampung itu. Tentu saja tidak berarti Malioboro, alun-alun utara maupun selatan, jalan Solo, tidak penting. Di kampung-kampung itu, penghuni kota memproduksi nilai-nilai yang berbeda dengan yang diproduksi di Jalan Malioboro, mall, dll. Semuanya diperlukan. Yang diperlukan lagi: mengalirnya semua itu secara baik secara dua arah: dari kampung ke ruang publik berskala kota, dan sebaliknya. Efektifitasnya tergantung pada rancangan detail dalam hal hubungannya dengan jaringan keseluruhan kampung, rumah-rumah yang mengelilinginya, dll.
Untuk membuat ruang khalayak menjadi ruang sosial yang efektif, catatan-catatan berikut dapat diperhatikan:
1. Ruang terbuka hanyalah salah satu dari “ruang publik”. Untuk “ruang publik/khalayak” yang dimaksudkan untuk interaksi sosial, bisa juga digunakan istilah “ruang sosial”.
2. Ruang publik dapat dimanfaatkan secara sadar sebagai “prasarana sosial” sebagai bagian dari strategi dalam memudahkan integrasi perkotaan (tanpa mneyeragamkan dan tanpa represi kesatuan dan persatuan), apalagi untuk kota metropolitan. Saskia Sassen mengingatkan peran fasilitas umum ini dalam “integrasi perkotaan”, sebagai alat “klasik” yang biasa saja dan selalu ada sebagai yang esensial bagi suatu kota, ditengah-tengah kebingungan kita mencoba-coba segala hal lain untuk merajut kembali fragmentasi sosial Jakarta, dan serbuan globalisasi. Pesannya sederhana: bangunlah prasarana esensial kota (sebagaimana seharusnya setiap kota punya) seperti angkutan umum, ruang pejalan-kaki (trotoir/kaki-lima) ruang terbuka hijau, fasilitas kesenian, pasar, wc umum (jepang merupakan contoh yang baik dalam hal wc umum ini) dll., dengan baik, bukan saja sebagai alat fisik fungsional, tetapi juga sebagai prasarana sosialitas penduduk, maka kota akan baik, beradab juga secara sosial-budaya, bukan hanya secara ekonomi dan teknis. Kota Eropa memiliki tradisi public policy yang kuat dalam hal menata ruang publik, baik berupa ruang terbuka maupun fasilitas umum. Sesudah PD2 ada animation policy untuk ruang publik di kota-kota eropa. Olimpiade Barcelona (1992?) dimanfaatkan untuk merevitalisasikan Barcelona dengan antara lain investasi yang strategis pada ruang publik yang efektif (terkait-terhubungkan dengan perumahan, infrastruktur, dan isu-isu lain). “Ruang khalayak yang sehari-hari” lah yang ingin ditekankan oleh saskia sassen. Bagi saya, karena itu: Kaki-lima/trotoir itu penting. Saya selalu mengatakan “Kota yang baik untuk berjalan kaki, pasti baik untuk segala hal yang lain”. Karena, untuk dapat berjalan kaki dengan nyaman, diperlukan hal-hal lain yang dengan sendirinya akan membuat kota itu baik: rindang, jalan rata, aman, bebas polusi, angkutan umum yang handal, keramahan,….Jalan kaki lebih penting daripada bersepeda.
3. Fasilitas umum dan sosial adalah bagian dari “ruang publik” dalam pengertian di atas: merupakan ruang fasilitasi pembentukan adab kota–dan itu berarti kebudayaan.
4. Ruang publik yang lain: juga media massa, media sosial (fb,…). Tapi, belum ada studi tentang apakah benar social-media benar meningkatkan “kapasitas sosial” manusia.
5. Ruang terbuka: luas atau banyak saja tidak cukup, tapi juga harus terdistribusi dan miliki aksesibilitas yang baik.
6. Hijau saja tidak cukup: kinerja sosial dan ekologis penting terukur dan efektif.
7. Ruang Khalayak itu juga tidak selalu permanen. Festival, misalnya, adalah ruang khalayak yang terbentuk ketika peristiwa terjadi. Pasar Malam punya sejarah kolonial yang menarik. Di masa kolonial, Pasar Malam diselenggarakan berbarengan dengan proses desentralisasi (Desentralisatie Wet 1903) dan otonomi daerah pertama di Hindia Belanda. Pasar malam menjadi trend di semua gemeente baru di Hindia Belanda di awal abad ke-20. Di Jakarta namanya Pasar Gambir. Lalu ia jadi Jakarta Fair di tempat yang hampir sama: kuadran Selatan Lapangan Monas. (Dulu hanya di sebagian kuadran Selatan, sebelah Barat, persis berseberangan dengan ujung Jalan Agus Salim/Sabang). Festival kesenian pun memiliki fungsi sosial yang luar biasa , selain fungsi internal kesenian itu sendiri. Festival Kesenian adalah kesempatan membahas nilai-nilai yang diproses dan ditawarkan oleh orang perorang seniman secara terbuka di ruang publik yang interaktif. Peran seniman ini, mengacu kepada Ignas Kleden tadi, penting, karena bersifat hakekat. Tanpa peran itu, kesenian hanya menjadi yang “indah”, menjadi formalisme. Tanpa peran itu, masyarakat kehilangan bagian sangat penting dari dirinya. Bukankah karena peran “memproses” nilai ini juga yang sering menjadi sebab seniman dipenjarakan, karena penguasa ingin memonopoli nilai? Bukankah karena ini pula masyarakat “maju” dalam arti yang sesungguhnya, senantiasa bergerak dengan eling atas keadaan. Mangunwijaya mengatakan “seniman adalah yang pertama mendengar suara kokok ayam” (Tentu saja bukan karena sudah bangun pagi-pagi, tapi karena belum tidur, tentu saja). Selama tiga tahun lalu DKJ bahkan menyelenggarakan festival mini untuk tiga budaya dengan jumlah penganut termasuk terbesar di Jakarta: Betawi, Batak dan Minang. Mudah-mudahan upaya ini dilanjutkan, juga untuk budaya yang penganutnya kecil sekalipun. Sebab, jumlah bukanlah penentu segalanya.
8. Sambil menciptakan ruang-ruang publik sebanyak mungkin, kita perlu juga waspada terhadap menghilangnya ruang yang ada, serta perubahan yang bisa positif bisa negatif. Misalnya: apakah perubahan (dan kepindahan) Jakarta Fair ke Kemayoran meningkatkan dan menurunkan “kapasitas sosial”nya sebagai ruang publik? Saya bertanya dengan tulus tanpa prasangka. Saya kira penelitian akan sangat penting sebagai sumber pengetahuan untuk masa depan. Mall sebagai ruang publik masih mencengangkan banyak orang, awam maupun ahli. Penting juga untuk mengevaluasi apakah ada ragam ruang publik yang cukup, sehingga kita dapat bersikap proporsional terhadap ruang publik baru, entah namanya mall atau stadion musik rock. Yang baru baik kalau menambah, bukan mengurangi atau menggantikan.
Ruang publik kita menghadapi tantangan-tantangan yang tidak ringan, a.l pertentangan dan perebuatan antara berbagai fungsi dan kepentingan. Kaki-lima adalah contoh yang paling mudah diingat. Sebenarnya juga soal keseluruhan ruang jalan. Kita sering melihat bahwa ketika “jalan diperlebar” maka itu sering berarti aspalnya yang diperlebar, sedangkan trotoir menyempit. Ini fundamental dari perspektif ruang sosial: ruang aspal adalah pasif, meskipun kelihatannya sibuk. Ruang kaki-lima lah yang aktif secara sosial. Bukannya kurang gagasan yang ditawarkan. Bukan pula kurang kasus untuk dipelajari dan dicarikan solusi. Menurut saya perlu ada upaya aktif memfasilitasi, memediasi, negosiasi-negosiasi dalam pembentukan dan penggunaan ruang publik. Pertentangan-pertentangan tidak bisa dibiarkan begitu saja, tetapi perlu didaya-gunakan menjadi energi positif untuk makin mematangkan kehidupan kekotaan kita. Satu demi satu konflik karena kementahan konsep, perlu kita cari solusinya dengan proses mediasi yang aktif, yang bukan untuk menekan dan mereduksi/menyederhanakan, tetapi secara sistematis membangun kesepahaman yang mendalam dan akhirnya rancangan yang baik. Peran mediasi ini, dan sekaligus satu paket dengan cara kerja yang fasilitatif, tidak buru buru memaksakan aturan normatif, karena memang kekotaan itu itu muda dan masih dalam proses pembentukan, sebaiknya dilembagakan di pemerintah daerah.
Contohlah taman kota, untuk menunjukkan bagaimana mentahnya konsep kita. Kita mengenal taman itu dari Eropa. Dari Menteng, dari Kota Baru (Yogya), dari Darmo (Surabaya), dari Kambang Iwak (Bukit Kecik, Palembang), Ijen (Malang). Ketika Berlage, arsitek Belanda yang terkemuka menuliskan kesan dari perjalanannya ke Hindia Belanda tahun 1921, ia katakan bahwa Batavia itu parkstad, bukan tuinstad. Yang kita punya adalah kampung-halaman dan alun-alun. Di Yogya kini nampak betul bagaimana ada aspirasi dan pendudukan alun-alun dalam konsepsi taman kota (rekreatif, bukan ritual). Tetapi belum ada mediasi untuk mematangkan konsep taman-kota yang sesuai dengan kebutuhan kota spesifik. Satu taman kota yang mungkin sangat berhasil adalah Taman Jam Gadang di Bukittinggi.
Kebutuhan kita kini akan ruang khalayak adalah juga dalam rangka mengembangkan pengetahuan, nilai dan praktik-praktik kelestarian. Kita memerlukan habitus dan habitat baru untuk keperluan ini. Ini memerlukan penggalian ke budaya masa lalu yang sama dalamnya dengan orientasi ke masa depan. Ini memerlukan inter-kulturalisme yang sama cairnya dengan kerjasam antara masyarakat dan pemerintah.
Sebagai penutup, saya membaca dalam kertas pengantar diskusi ini ada kutipan penelitian Ninuk Kleden, bahwa tiga hal yang dianggap terpenting dalam fase kehidupan orang Betawi adalah khitanan, kawinan, dan kematian. Orang Betawi sedikit sekali punya konsentrasi untuk mengingat-ingat sesuatu yang berkaitan dengan kelahiran. Wajar jika orang Betawi menganggap adat berulang tahun itu tak penting. Bagi saya, watak berorientasi ke masa depan ini “modern” dan “progresif”/maju sekali. Dengan watak itu, Kebudayaan Betawi adalah aset mendasar untuk membangun Jakarta ke masa depan. Salah, bukan hanya itu: Dengan watak itu, Kebudayaan Betawi telah memungkinkan dan menjadikan Jakarta mampu berkembang sebesar ini, selapang ini secara sosial, ekonomi, budaya dan politik. Hanya suatu tempat dengan kelapangan watak penduduk yang mementingkan melihat ke masa depan lah yang dapat menjadi suatu metropolis yang tegak.
[1] Untuk Seminar dan Lokakarya Kebudayaan Betawi Tahun 2010, 26 Juni 2010.
[3] Meminjam istilah dari Mohamed Arkoun, filsuf Muslim Perancis asal Aljazair. Ia mengunjungi Indonesia antara lain pada tahun 2000.
[4] Dalam Pidato Kebudayaan 10 November 2009.
[5] “The idea is that bringing differences into some kind of relationship produces unforseen capacities and experiences that are valuable—valuable because they extend what we think is possible.” (Abdoumaliq Simone, City Life from Jakarta to Dakar, Routledge, 2010, p.61)
[6] “It is only by seeing urban life as a context for intersection that we can understand how those with few apparent resources can act with a heightened sense of resourcefulness.” (Ibid. p.115)
07 Jun 2010
Susah Payah di Manggarai
Siapa warga Jakarta yang tak tahu Manggarai? Disitu ada Pasar Rumput, surga bagi pemburu bahan bekas, dan beken sebagai gudangnya saniter bekas. Bagi yang tinggal di daerah Bodetabek dan pengguna kereta api, pasti akrab dengan stasiunnya. Lalu di musim penghujan, kita warga Jakarta pun was-was dengan ketinggian di pintu air Manggarai, karena begitu pintu air tersebut dibuka di saat ketinggian berbahaya, maka Istana Negara pun bisa tergenang.
Manggarai pun menjadi cermin tak bercela atas sabarnya warga kota ini dan semerawutnya infrastruktur kota. Bukti bahwa warga kota sangat toleran terhadap kota ini ada pada saat kita mulai turun Stasiun Manggarai, atau saat kita menggunakan Halte TransJakarta.
Tepat didepan Halte TransJakarta, ada Pasaraya Manggarai, namun pengunjung tidak bisa dengan mudah masuk kedalam pertokoan, karena harus melewati jalan raya tanpa jembatan penyeberangan, dan mengelilingi pagar sebelum akhirnya masuk ke pintu utama.
Dengan adanya Stasiun Manggarai dan Halte TransJakarta Manggarai (dan dahulu sempat ada Waterway), Manggarai adalah bagian kota yang diberkahi segala kemudahan transportasi. Tapi benarkah demikian? Esai foto berikut menggambarkan urban hiking dari halte TransJakarta ke Stasiun Manggarai: Februari 2010.
1. Selepas turun dari bus, pintu keluar mengarah ke Pasaraya Manggarai, sementara Stasiun Manggarai berada diarah sebaliknya. Maka kita harus memutari halte, berjalan di tepian jalan – berhadapan langsung dengan kendaraan yang lalu lalang.
2. Setelah berhasil memutari maka masuklah kedalam terowongan, hati-hati karena jalur tersebut tak rata dan sempit.
3. Sebelum sampai ke ujung seberangilah jalan tersebut, dan akan berjumpa dengan ini
4. Lalu di sebelah selatan ada ini
dan hati-hati ketika naik ‘tangga’.
5. Setelah menaiki tangga batu, masih ada lagi yang satu ini.
6. Lalu jangan lupa untuk membayar Rp 1000 kepada bapak berbaju putih
7. Dan anda akan langsung bertemu dengan rel-rel Stasiun Manggarai, silakan ikuti rel untuk menuju Stasiun Manggarai. Tidak dianjurkan bagi pengguna sepatu hak. Stasiun Manggarai ada disebelah kanan.
Setelah sampai di platform, ada tangga lagi menuju platform stasiun, dan ini adalah bagian belakang stasiun. Sehingga ada kemungkinan untuk naik kereta tanpa membeli karcis lagi.
Sesuatu yang seharusnya mudah, dibuat sulit di Manggarai. Antara Stasiun Manggarai dan Halte TransJakarta ternyata saling bertolak belakang, dan keduanya berada dalam ketinggian berbeda. Hal itu mungkin kesannya sepele, tapi menjadi masalah besar bagi keberhasilan transportasi umum di Jakarta.
Selepas Stasiun Manggarai, maka ada opsi lain jika sungkan melewati tangga, bisa juga menaiki rakit penyeberangan yang dioperasikan warga kampung Menteng Jaya.
8. Hati-hati menuruni tepian kali Ciliwung
Ruwetnya Manggarai ini ternyata tidak mampu mehalangi ambisi Pemprov Jakarta. Di awal tahun 2010 ini, pemerintah bahkan menetapkan Manggarai sebagai stasiun utama komuter, bahkan saat Rujak berkunjung, pintu platform otomatis tengah dipersiapkan. Mari kita tunggu, bagaimana langkah pemprov demi mewujudkan impian tersebut. Minimal impian tersebut seyogyanya mampu membuat para pelaju (komuter) untuk mempu berjalan kaki selayaknya manusia.
25 May 2010
Balai Warga and Kebun Wisata Tanaman Obat
Text and Pictures by Anggriani Arifin.
Fostering a communal sense of home amongst Community of RW 09, Kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta Timur: What was the background of the initiative?
It begins when the community of RW 09, Kelurahan Pondok Kelapa felt the demand to have a secretariat’s office for daily administrative matters. Having located in a state-owned housing complex, the neighbourhood was in luck as there was a vacant land that was already allocated for social facility. With an area of over 500 square meters, the previous idea took a turn and elaborated into having a multi-function assembly hall. A series of lobbying process took place and finally the PD. Sarana Jaya approved the proposal with construction stage kick-started in 2003.
When Balai Warga comes into place…
The hall evoked community’s enthusiasms and became the manifestation of the RW officials’ humble intention, which is to ensure that every resident has a genuine sense of ownership toward their neighbourhood with a commonly-used public place. The effort to create a functioning public place was reflected in the name the community reffered to the assembly hall, which is “Balai Warga” in the hoped that in the truest sense belongs to every residents of the neighbourhood. The place could be utilize not only for community meetings, but the place was also open to be reserved for badminton games, weddings, private function, Karang Taruna and PKK agenda and any other social activities.
In light of such spirit, every phase in the construction process was self-organized and self-funded by the community. The building was 371 square meters, well-designed and facing the neighbourhood’s basketball field. The initiative had invited a relatively large attention and able to gain supports from the local government. In 2007, Balai Warga had reached its final completion and the community of RW 09 began to enjoy the presence of a representable, comfortable and usable social facility that is at the same time, informative on the neighbourhood’s activity.
Making neighborhood a home…
Balai Warga’s construction had fueled RW officials’ motivation to continue making betterment to the neighborhood.
Community-based Solid-Waste Management and Biopori Holes. In 2005, the buzz of community-based solid waste management reached the area, a site visit to pioneering Kelurahan Rawajati, South Jakarta was made. To make the neighbourhood environmentally-conscious by managing their solid waste was in response to the area’s vulnerability to flood and the lacking capacity of the surrounded transit disposal sites. The idea was very simple. Residents separate the waste, following the well-known organic, non-organic and toxic waste typology although for practicality, the residents were only expected to separate based on waste that was compost-material, recyclable to be given to scavengers and kinds that could not be utilize for either purpose, should be put in the waste residue category. The seemingly easy task has proven to be quite difficult to be followed by the residents. Up to now, only a minority group in RW 09 who separated their waste. A short-term solution was proposed. The waste would be separated in a solid management post near the Balai Warga, cooperating with surrounding scavengers who were hired as staff. Although behavior changes was still encouraged, but the method had kept the composting production on-going and motivates the community to start separating waste.
For the composting process, the community of RW 09 opted for a simple method after a series of consultation and visit, The process of turning the organic waste into compost take within a 6-7 week period, with phases comprising of waste separation, aging, turning, sprinkling, and riping. The high points of this method is that it does not require incenerator, without using bio activator, does not produce odour and does not invite flies. Using this method, the compost production can now reach up to 200 bags per week, with selling price of Rp. 3000,- per bag.
In addition to the initiative, the RW officials also utilized biopori methods to reduce waste production and reducing flood risk (the neighbourhood occasionally suffered from flood risk, although a river embankment and dredging initiative of nearby Jati Kramat river in 2007-2008 had significantly overcome the threat). Up to 300 biopori holes were made around parks and main roads in the neighbourhood.
Kebun Wisata Tanaman Obat (Agritourism Herbal Garden) and Green Spaces. The idea was to create an icon for the community that they can be proud of and would like to take part in its success. Located next to Balai Warga, the herbal garden was open for site visits, an information centre on herbs, its benefits and usage, increase awareness on natural health remedies, and as a functioning green space which can be enjoyed by the community.
The garden was built on a 5000 square metre land, and was self funded by the residents. It possessed up to ninety (90) types of herbal plants that was grown there. This effort was assisted by the ASPETRI (associaton of traditional herbs producers of Indonesia). A bamboo-made saung was also constructed with the idea that the residents can reserve the place for lunch, meetings or simply to have family moments overlooking the gardens and the balai warga. The overall idea was to ensure that the garden could really be utilized by the community.
To further creating livability, community were encouraged to have green plants in front of their home and on almost every streets within the neighbourhood. To add tidiness, the trotoirs were repainted and pots of plants were also put on the main streets, as well as making green spaces in idle lands.
Creating Livability
The message that was continuously buzzed in the neighbourhood management is that a clean is the key to a healthy and comfortable living environment, in which community’s participation in maintaining the condition is pivotal. To keep the neighbourhood alive, community activities were highly encouraged, with routines like RW siaga (to combat dengue fever), kerja bakti (voluntary community work), independence day’s events trail, aerobics, and others, as well as incidentals such as Kampung Anti Narkoba (anti-drugs kampung) movement by building Anti-Narkoba posts accross the area. A monthly newsletter, Warta 09¸ were also circulated to keep every resident informed and acknowledged as part of the community.
Initiatives like one that RW 09 have, certainly would not take place without the work of a rigorous and dedicated RW officials as well as a supportive community. However, it would also never take place if there was no intention to nurture partnership amongst residents and the Rukun Warga (RW) official in making the neighbourhood becomes a home, instead of mere space, to be shared together. The community of RW 09, as well as many communities in DKI Jakarta, had proven that this simple intention is enough to ignite significant changes in any neighborhood.
04 May 2010
Ode Sebuah Taman
Oleh : Okky Madasari
Rasanya seperti kerampokan. Kehilangan satu barang kesayangan, yang bersamanya saya telah merangkai banyak kenangan, sekaligus menyimpan harapan. Tapi ini bukan barang. Bukan juga milik saya, yang untuk mendapatkannya saya harus menukar uang. Ini hanya sebuah taman dengan danau buatan. Milik negara, di sebelah timur Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kami menemukannya tanpa kesengajaan.
Mungkin memang berlebihan. Tapi memang seperti itu rasanya, saat kemarin petugas itu menutup rapat pagar dan menolak saya untuk bertandang. Taman berdanau itu tak lagi bisa dikunjungi orang-orang. Demi ketertiban. Juga demi keindahan pemandangan. (more…)
25 Apr 2010
Car-Free Day: Sudah Aja Deh
Car-free Day sudah mengubah Jalan Thamrin menjadi ruang sosial yang hiruk pikuk. Polusi udara mungkin memang berkurang, tetapi polusi suara dan sampah pasti bertambah.
Dia juga makin padat pesan, yang tidak semuanya relevan dengan tujuan car-free day atau gagasan hijau umumnya.
Berbagai komunitas dan produk sibuk menjual dirinya. Juga Gubernur dan pemerintahnya. Pesan, pesan. Teks, teks. Identitas, identitas.
(Senang juga tadi disapa Gubernur yang sedang bersepeda dan ternyata mengenali saya)
Keberhasilannya menciptakan ruang sosial merupakan hal tersendiri. Mungkin suatu by-product. Namun, mungkin memang berguna untuk penduduk Jakarta, yang nampaknya merindukan ruang ekspresi begini. Kedudukan Jalan Thamrin sebagai pusat kekayaan Jakarta (dan Indonesia) bagi sebagian besar urban villagers Jakarta nampak surreal, dan karena itu menjadi manis sekali ketika sekali-sekali bisa dikuasai oleh rakyat.
Bundaran HI pada tahun 1997-1998 juga menjelma menjadi ruang publik yang sungguh politik. Pada tahun 2001 transformasi itu berusaha distop, dengan mengubah permukaannya, yang bahkan pernah diberi tanda ‘Awas Listrik”. Kini mungkin transformasi berikut sedang berlangsung.
Asal sampah dan polusi suara tidak malah menjadi beban baru bagi suatu masyarakat urban yang memang sedang bingung dan setengah pesimis.
Bagaimana kalau dibikin car-free NIGHTS?
24 Apr 2010
Pluit Village: Berapa Hijaukah Pengembang Kita yang terkenal itu?
Gunawan Tanuwidjaja
(Dari milis Green Map Jakarta)
Beberapa saat yang lalu, diadakan Sustainable Jakarta Conference, yang memang merupakan upaya untuk membuat Jakarta lebih berkelanjutan.[1] Ada sebuah pengembang terkenal yang mengajukan konsep Green Master Plan. Tetapi mirisnya ternyata pengembang ini hanya menjual konsep “Green”-nya yang kosong dan tidak menerapkan dalam bisnisnya.
Pengembang tersebut terlibat dengan sebuah di proyek Kawasan Jakarta Utara, Pluit Village.
Ternyata pengembang ini tidak mempraktekkan “Green and Responsible Water Resource Management.”
Pertama, Pengembang diduga telah “menkonversi badan air menjadi komersial, helipad dan jalan internal (melanggar UU Tata Ruang no 26 tahun 2007 dan UU Sumber Daya Air no 7 tahun 2004)”. Selain itu pengembang ini diduga telah mengganggu sistem polder yang ada dengan menutup saluran air yang masuk ke dalam Danau Pluit dan meninggikan lansekap di sekitar Danau tsb. Sehingga terjadi genangan di kawasan perumahan di Utara dan Selatan. Sungguh pengembang ini diduga tidak memiliki “kesatuan kata dan perbuatan.”
Terbukti pada 2008 – 2010, Warga Pluit telah menikmati beberapa serangan “Rob.” Padahal tadinya warga sempat merasakan aman dari Banjir Besar 2007 karena Polder Pluit yang berjalan dengan baik.
Mungkin sebuah sentuhan baru yang ditawarkan oleh Pluit Village.[2] Dari tinggal di dalam polder seperti di Belanda, menjadi “tinggal di Venesia, Italia, (alias setengah terendam banjir ketika hujan atau pasang laut datang). Jadi konsepnya dengan pengembang biasa yang menjual promosi BEBAS BANJIR. Mungkin judulnya silahkan tinggal di kawasan yang PASTI BANJIR!
Kalau kami boleh mengutip sebuah kata-kata bijak “Janganlah memutarbalikkan KEADILAN, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. ” Kmemang mengakui bahwa pengembang ini mampu mengatasi segala birokrasi untuk mewujudkan keinginannya di atas. Tetapi apakah hal ini tidak berlawanan dengan cita-cita mulia dan pelayanan Bpk James Riady,[3] bos besar pengembang ini. Apakah memang halal untuk merusak sistem lingkungan orang lain demi kepentingan ekonomi semata-mata?
Jika ada pertanyaan atau tanggapan silahkan baca dulu artikel kami di website kami dengan link sbb:
Atau dapat kontak lewat email saja gunteitb@yahoo.com atau telpon ke 0812 212 208 42.
Terimakasih
Gunawan Tanuwidjaja
Pemerhati Pluit
Pro: Kami juga minta dukungan semua pihak agar Sistem Polder Pluit bisa direvitalisasi, Dan 14 Pompa yang dibeli dan dikonstruksi oleh PU DKI Jakarta bisa dipakai untuk operasi Polder Pluit dengan perencanaan yang baik “bukan merusak sistem polder yang sudah ada.”
Footnote
1 – Mr Gordon Benton OBE, architect and urban planner, giving lecture `The future of urban development in Jakarta and role of private developer’ in Sustainable Jakarta Convention, http://www.sjconvention.com/Downloads/Sustainable%20Jakarta%20Seminar%20Speakers.pdf
2 - http://www.lippokarawaci.co.id/retailmalls/pluitvillage.aspx
3 - http://en.wikipedia.org/wiki/James_Riady
http://www.grii.org/
http://www.ladangtuhan.com/komunitas/jadwal-acara-gathering/seminar-ekonomi-antisipasi-krisis-global-bagi-indonesia/
05 Feb 2010
Aksi Bersih Sampah Suaka Margasatwa Muara Angke, 7 Februari 2010
Dear Monsters,
Selamat Hari Lahan Basah Sedunia, 2 Februari 2010
“Caring for Wetlands, an Answer to Climate Change”
Dalam rangka menyambut Hari Lahan Basah Sedunia, Jakarta Green Monster kembali mengadakan acara Bersih Sampah Angke
Mari-mari gulung lengan bajumu untuk membersihkan sampah bersama
Jakarta Green Monster dan masyarakat lainnya,,,
Minggu, 7 Februari 2010
Lokasi: Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA)
pukul 08.00 – 12.00 WIB.
Apa saja yang harus dibawa??
1. Pakaian ganti
2. Botol Minuman (Panitia hanya menyediakan air minum isi ulang)
3. Sepatu/sepatu boot)
4. Makanan ringan
Untuk informasi dan pendaftaran peserta, hubungi:
Yulia Es Campur : 081314366870
Hendra ‘Kobe’ Aquan : 08157988053
Putri Ayusha : 085648177747
salam,
Putri Ayusha
Mengapa bersih sampah?
sampah-sampah yang mengalir masuk ke SMMA bisa menutupi akar mangroove
dan menyebabkan pohon2 tersebut mati,,,
SMMA merupakan rumah bagi 7 spesies mangroove, 91 spesies burung
seperti Bangau Bluwok, Kareo Padi, Pecuk Ular Asia, dsb, serta monyet
ekor panjang, dan lain sebagainya.
Kawasan ini juga menjadi tempat perlindungan bagi burung Bubut Jawa
(Centropus nigroforus) yang merupakan burung endemik Pulau Jawa. Saat
ini bubut Jawa berjumlah tidak lebih dari 10 ekor.
Jakarta yang merupakan hutan beton ternyata masih memiliki lahan basah
yang dihuni oleh berbagai jenis burung,,,tanpa lahan basah ini Jakarta
bisa lebih kebanjiran dan tenggelam air pasang
kosongkan jadwal mari-mari selamatkan lahan basah tersisa di Jakarta
dari tumpukan sampah
Bagaimana Menuju Suaka Margasatwa Muara Angke?
Menggunakan Kendaraan Umum
1. Busway
Naik busway Harmoni – Kalideres, turun di Halte Jelambar (samping
Citraland). Cari angkot berwarna merah nomer B 01 jurusan Grogol -
Angke. Turun di pintu gerbang Pantai Indah Kapuk. tepat di ujung Jl.
Muara Karang, ditandai dengan Pizza Hut dan apartemen. Jalan kaki
masuk ke Pantai Indah Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50
meter dari gerbang, di sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa
Muara Angke. Ikuti jalan setapak di seberang kompleks ruko Meditarania
Niaga, pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke sekitar 300 meter dari
jembatan.
2. Bus dari Terminal Grogol
Naik kendaraan apa saja yang berhenti di Terminal Grogol. Cari angkot
berwarna merah nomer B 01 jurusan Grogol – Angke. Turun di pintu
gerbang Pantai Indah Kapuk. tepat di ujung Jl. Muara Karang, ditandai
dengan Pizza Hut dan apartemen. Jalan kaki masuk ke Pantai Indah
Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter dari gerbang, di
sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara Angke. Ikuti jalan
setapak di seberang kompleks ruko Meditarania Niaga, pintu masuk Suaka
Margasatwa Muara Angke sekitar 300 meter dari jembatan.
3. Bus dari Terminal Blok M
Naik bus Steady Safe Non AC No 37 Jurusan BLOK M – Muara Angke,
ongkosnya cukup Rp. 2000. Bus ini umumnya gak sampai Muara Angke
(sesuai info dari keneknya), tapi cuman sampai Megamall Pluit.
Dari Megamall Pluit dilanjutkan naik angkot dua kali, nomornya 11
warna merah, dengan ongkos Rp. 2000 turun di Jl Mandara. Dari situ
naik lagi angkot warna merah yang melewati kawasan Pantai Indah Kapuk
dengan ongkos Rp. 1000 turun di depan ruko Mediterania yang langsung
berseberangan dengan pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.
Menggunakan Kendaraan Pribadi Roda Empat atau Lebih
1. Melalui Tol Dalam Kota
Ambil pintu keluar Pluit. Ikuti jalan melintasi Mega Mall Pluit. Lurus
hingga masuk Jl. Muara Karang yang ditandai dengan perempatan dengan
jembatan. Ikuti terus sampai ujung Jl. Muara Karang, ditandai dengan
Pizza Hut dan apartemen. Belok ke kiri, masuk ke Pantai Indah Kapuk,
setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter dari gerbang, di
sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara Angke. Anda bisa
parkir di kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di seberang pintu
masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.
2. Melalui Tol Bandara
Ambil pintu keluar Pantai Indah Kapuk. Masuk dalam kompleks Pantai
Indah Kapuk. Ikuti jalan yang menuju Mediterania. Anda bisa parkir di
kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di seberang pintu masuk Suaka
Margasatwa Muara Angke.
Menggunakan Motor atau Sepeda
Dari arah Grogol, masuk ke Jl. Jembatan Tiga, ikuti hingga Jl.
Jembatan Lima. Ikuti terus jalan utama sampai melewati Mega Mall
Pluit. Lurus hingga masuk Jl. Muara Karang yang ditandai dengan
perempatan dengan jembatan. Ikuti terus sampai ujung Jl. Muara Karang,
ditandai dengan Pizza Hut dan apartemen. Belok ke kiri, masuk ke
Pantai Indah Kapuk, setelah menyeberang jembatan (sekitar 50 meter
dari gerbang, di sebelah kanan Anda adalah Suaka Margasatwa Muara
Angke. Anda bisa parkir di kompleks ruko Meditarania Niaga, persis di
seberang pintu masuk Suaka Margasatwa Muara Angke.
Catatan:
Warga sekitar Suaka Margasatwa Muara Angke mengenalnya dengan nama
Cagar Alam. Jadi, jika Anda hendak bertanya, tanyakan di mana lokasi
cagar alam.






























