<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak &#187; ruang publik</title>
	<atom:link href="http://rujak.org/tag/ruang-publik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujak.org</link>
	<description>For a Better Jakarta. Everyone is Invited.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 09:55:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Lebih Jauh daripada Rokmini</title>
		<link>http://rujak.org/2011/09/lebih-jauh-daripada-rokmini/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/09/lebih-jauh-daripada-rokmini/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 09:46:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[angkot]]></category>
		<category><![CDATA[angkuta umum.angkutan kota]]></category>
		<category><![CDATA[Fauzi Bowo]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja]]></category>
		<category><![CDATA[pemerkosaan]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[rok mini]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=3063</guid>
		<description><![CDATA[Pernyataan Gubernur Fauzi Bowo bahwa sebaiknya perempuan tidak menggunakan rokmini di angkotan kota, setelah peristiwa perkosaan di dalam suatu angkutan-kota, memancing kemarahan perempuan ibukota. Berikut foto-foto mereka ber-demonstrasi di Bundaran HI pada hari minggu, tanggal 18 September 2011, jam 15:00. Segera mencuat, bahwa persoalannya bukan sekedar seorang Gubernur yang salah ngomong. Ucapannya itu mencerminkan suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Rokmini1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3064" title="Rokmini1" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Rokmini1.jpg" alt="" width="512" height="382" /></a></p>
<p>Pernyataan Gubernur Fauzi Bowo bahwa sebaiknya perempuan tidak menggunakan rokmini di angkotan kota, setelah peristiwa perkosaan di dalam suatu angkutan-kota, memancing kemarahan perempuan ibukota. Berikut foto-foto mereka ber-demonstrasi di Bundaran HI pada hari minggu, tanggal 18 September 2011, jam 15:00.</p>
<p>Segera mencuat, bahwa persoalannya bukan sekedar seorang Gubernur yang salah ngomong.</p>
<p>Ucapannya itu mencerminkan suatu bias laki-laki yang memang masih menguasai sebagian (besar?) masyarakat kita: bahwa  kalau ada yang terangsang, maka ada yang &#8220;merangsang&#8221; atau bahkan &#8220;mengundang&#8221;, ialah perempuan itu sendiri, yang lalu dianggap salah, padahal mereka korban.</p>
<p>Selain itu, hal ini menyangkut persoalan kebijakan publik yang serius. Perempuan menuntut juga keamanan di semua ruang publik. Ini negara merdeka, sebuah republik, yang banyak perempuannya bekerja. Perempuan pekerja yang menggunakan angkutan umum lebih banyak daripada pekerja laki-laki, yang punya lebih banyak pilihan, misalnya sepeda motor. Kabarnya pembuat sepeda motor kini mengincar konsumen perempuan dengan transmisi otomatis.</p>
<p>Undang-undang ketenaga-kerjaan kita telah mengharuskan perusahaan untuk menyediakan angkutan antar jemput untuk yang bekerja dan/atau berangkat/pulang di antara jam 23:00-05:00. Adalah kewajiban pemerintah memenuhi menegakkan perintah tersebut. Selain itu patut dihargai semangatnya, bahwa siapapun berhak bekerja, dan itu perlu didukung dengan keamanan dan kondisi lainnya.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Rokmini2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3065" title="Rokmini2" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Rokmini2.jpg" alt="" width="320" height="240" /></a></p>
<p>Angkutan umum kita sudah terkenal brengsek. Ini momentum yang tepat untuk sekalian memperbaikinya besar-besaran: mulai dari kualitas pengemudi dan awak, hingga ke sistem. Mengapa misalnya tidak ada semacam &#8220;SIM&#8221; untuk awak kangkutan umum? Bukankah seringkali mereka ini yang ngawur?</p>
<p>Yang saya maksud termasuk sistem angkutan umum adalah juga: fasilitas pejalan kaki yang baik. Sebab, tidak mungkin orang naik angkutan umum yang baik tanpa berjalan kaki cukup banyak.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Rokmini3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3066" title="Rokmini3" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/09/Rokmini3.jpg" alt="" width="320" height="240" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/09/lebih-jauh-daripada-rokmini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sayembara Perancangan Taman di Pondok Indah</title>
		<link>http://rujak.org/2011/05/sayembara-perancangan-taman/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/05/sayembara-perancangan-taman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 12:01:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agents for Change]]></category>
		<category><![CDATA[Arts & Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Hijau Pondok Indah]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[inisiatif warga]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[sayembara]]></category>
		<category><![CDATA[taman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2929</guid>
		<description><![CDATA[Komunitas Hijau Pondok Indah bekerja sama dengan Green Design Community mempersembahkan Sayembara Perancangan Taman di Pondok Indah Jakarta. Tujuan penyelenggaraan sayembara ini adalah untuk mewujudkan sebuah taman komunitas dengan basis gaya hidup lestari dan mampu menggugah penghuni kawasan Pondok Indah untuk hidup selaras dengan alam dan lestari. Informasi lebih lanjut, silakan baca di poster terlampir]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Komunitas Hijau Pondok Indah bekerja sama dengan Green Design Community mempersembahkan Sayembara Perancangan Taman di Pondok Indah Jakarta.</p>
<p>Tujuan penyelenggaraan sayembara ini adalah untuk mewujudkan sebuah taman komunitas dengan basis gaya hidup lestari dan mampu menggugah penghuni kawasan Pondok Indah untuk hidup selaras dengan alam dan lestari.</p>
<p>Informasi lebih lanjut, silakan baca di poster terlampir</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/05/poster3-090511newcopy.jpg-for-rujak.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-2928" title="poster3 (090511)newcopy.jpg-for rujak" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2011/05/poster3-090511newcopy.jpg-for-rujak-723x1024.jpg" alt="" width="586" height="830" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/05/sayembara-perancangan-taman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Susah Payah Jalan Kaki di Manggarai</title>
		<link>http://rujak.org/2011/04/susah-payah-di-manggarai/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/04/susah-payah-di-manggarai/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Apr 2011 14:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Elisa Sutanudjaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agents for Change]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Institute for Transportation and Development Policy]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-kaki]]></category>
		<category><![CDATA[Manggarai]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>
		<category><![CDATA[spatial plan]]></category>
		<category><![CDATA[transportation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2089</guid>
		<description><![CDATA[Siapa warga Jakarta yang tak tahu Manggarai? Disitu ada Pasar Rumput, surga bagi pemburu bahan bekas, dan beken sebagai gudangnya saniter bekas. Bagi yang tinggal di daerah Bodetabek dan pengguna kereta api, pasti akrab dengan stasiunnya. Lalu di musim penghujan, kita warga Jakarta pun was-was dengan ketinggian di pintu air Manggarai, karena begitu pintu air [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2122" class="wp-caption aligncenter" style="width: 579px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_from-the-air.jpg"><img class="size-full wp-image-2122   " style="margin-top: 0px; margin-bottom: 0px;" title="Manggarai_from the air" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_from-the-air.jpg" alt="" width="569" height="445" /></a><p class="wp-caption-text">Semesta transportasi Manggarai. Foto dari Lantai 5, Pasaraya.</p></div>
<p>Siapa warga Jakarta yang tak tahu Manggarai? Disitu ada Pasar Rumput, surga bagi pemburu bahan bekas, dan beken sebagai gudangnya saniter bekas. Bagi yang tinggal di daerah Bodetabek dan pengguna kereta api, pasti akrab dengan stasiunnya. Lalu di musim penghujan, kita warga Jakarta pun was-was dengan ketinggian di pintu air Manggarai, karena begitu pintu air tersebut dibuka di saat ketinggian berbahaya, maka Istana Negara pun bisa tergenang.</p>
<p>Manggarai pun menjadi cermin tak bercela atas sabarnya warga kota ini dan semerawutnya infrastruktur kota. Bukti bahwa warga kota sangat toleran terhadap kota ini ada pada saat kita mulai turun Stasiun Manggarai, atau saat kita menggunakan Halte TransJakarta.</p>
<p>Tepat didepan Halte TransJakarta, ada Pasaraya Manggarai, namun pengunjung tidak bisa dengan mudah masuk kedalam pertokoan, karena harus melewati jalan raya tanpa jembatan penyeberangan, dan mengelilingi pagar sebelum akhirnya masuk ke pintu utama.</p>
<p>Dengan adanya Stasiun Manggarai dan Halte TransJakarta Manggarai (dan dahulu sempat ada Waterway), Manggarai adalah bagian kota yang diberkahi segala kemudahan transportasi. Tapi benarkah demikian? Esai foto berikut menggambarkan <em>urban hiking</em> dari halte TransJakarta ke Stasiun Manggarai: Februari 2010. Padahal, u<a href="http://rujak.org/2011/04/kaki-lima/">ndang-undang menjamin hak-hak pejalan kaki</a> (<strong>Editorial</strong>).</p>
<p>1. Selepas turun dari bus, pintu keluar mengarah ke Pasaraya Manggarai, sementara Stasiun Manggarai berada diarah sebaliknya. Maka kita harus memutari halte, berjalan di tepian jalan &#8211; berhadapan langsung dengan kendaraan yang lalu lalang.<a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai-Halte-busway.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2107" title="Manggarai Halte busway" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai-Halte-busway.jpg" alt="" width="545" height="310" /></a></p>
<p>2. Setelah berhasil memutari maka masuklah kedalam terowongan, hati-hati karena jalur tersebut tak rata dan sempit.</p>
<div id="attachment_2116" class="wp-caption aligncenter" style="width: 558px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_terowongan.jpg"><img class="size-full wp-image-2116  " title="Manggarai_terowongan" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_terowongan.jpg" alt="" width="548" height="404" /></a><p class="wp-caption-text">Melewati terowongan. Di atasnya: rel kereta api.</p></div>
<p>3. Sebelum sampai ke ujung seberangilah jalan tersebut, dan akan berjumpa dengan ini</p>
<div id="attachment_2112" class="wp-caption aligncenter" style="width: 534px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_Taman.jpeg"><img class="size-full wp-image-2112 " title="Manggarai_Taman" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_Taman.jpeg" alt="" width="524" height="398" /></a><p class="wp-caption-text">Ada taman kecil dipagari</p></div>
<p>4. Lalu di sebelah selatan ada ini</p>
<div id="attachment_2108" class="wp-caption aligncenter" style="width: 558px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_memanjat.jpg"><img class="size-full wp-image-2108    " title="Manggarai_memanjat" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_memanjat.jpg" alt="" width="548" height="411" /></a><p class="wp-caption-text">Panjatlah tangga ini...</p></div>
<p>dan hati-hati ketika naik &#8216;tangga&#8217;.</p>
<div id="attachment_2114" class="wp-caption aligncenter" style="width: 528px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_memanjat2.jpg"><img class="size-full wp-image-2114  " title="Manggarai_memanjat2" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_memanjat2.jpg" alt="" width="518" height="419" /></a><p class="wp-caption-text">Hati-hati dengan pegangan...ada paku!</p></div>
<p>5. Setelah menaiki tangga batu, masih ada lagi yang satu ini.</p>
<div id="attachment_2096" class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/IMG00119-20100204-1031.jpg"><img class="size-full wp-image-2096 " title="Manggarai 06" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/IMG00119-20100204-1031.jpg" alt="" width="512" height="384" /></a><p class="wp-caption-text">hati-hati saat menuruni tangga</p></div>
<p>6.  Lalu jangan lupa untuk membayar Rp 1000 kepada bapak berbaju putih</p>
<div id="attachment_2098" class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/IMG00121-20100204-1031.jpg"><img class="size-full wp-image-2098 " title="Manggarai 07" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/IMG00121-20100204-1031.jpg" alt="" width="512" height="384" /></a><p class="wp-caption-text">Bayar 1000 untuk jasa penempatan tangga-tangga</p></div>
<p>7. Dan anda akan langsung bertemu dengan rel-rel Stasiun Manggarai, silakan ikuti rel untuk menuju Stasiun Manggarai. Tidak dianjurkan bagi pengguna sepatu hak. Stasiun Manggarai ada disebelah kanan.</p>
<div id="attachment_2118" class="wp-caption aligncenter" style="width: 564px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_Menyeberang-Rel.jpg"><img class="size-full wp-image-2118  " title="Manggarai_Menyeberang Rel" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/Manggarai_Menyeberang-Rel.jpg" alt="" width="554" height="360" /></a><p class="wp-caption-text">Melintasi rel: hati-hati, tengok kiri-kanan dulu.</p></div>
<p>Setelah sampai di platform, ada tangga lagi menuju platform stasiun, dan ini adalah bagian belakang stasiun. Sehingga ada kemungkinan untuk naik kereta tanpa membeli karcis lagi.</p>
<p>Sesuatu yang seharusnya mudah, dibuat sulit di Manggarai. Antara Stasiun Manggarai dan Halte TransJakarta ternyata saling bertolak belakang, dan keduanya berada dalam ketinggian berbeda. Hal itu mungkin kesannya sepele, tapi menjadi masalah besar bagi keberhasilan transportasi umum di Jakarta.</p>
<p>Selepas Stasiun Manggarai, maka ada opsi lain jika sungkan melewati tangga, bisa juga menaiki rakit penyeberangan yang dioperasikan warga kampung Menteng Jaya.</p>
<p>8. Hati-hati menuruni tepian kali Ciliwung</p>
<div id="attachment_2101" class="wp-caption aligncenter" style="width: 522px"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/IMG00125-20100204-1055.jpg"><img class="size-full wp-image-2101 " title="Manggarai 09" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/06/IMG00125-20100204-1055.jpg" alt="" width="512" height="384" /></a><p class="wp-caption-text">naik rakit untuk kembali ke halte TransJakarta</p></div>
<p>Ruwetnya Manggarai ini ternyata tidak mampu mehalangi ambisi Pemprov Jakarta. Di awal tahun 2010 ini, pemerintah bahkan menetapkan Manggarai sebagai <a href="http://www.antaranews.com/berita/1264166240/manggarai-jakarta-disiapkan-jadi-stasiun-utama-komuter" target="_blank">stasiun utama komuter</a>, bahkan saat Rujak berkunjung, pintu platform otomatis tengah dipersiapkan. Mari kita tunggu, bagaimana langkah pemprov demi mewujudkan impian tersebut. Minimal impian tersebut seyogyanya mampu membuat para pelaju (komuter) untuk mempu berjalan kaki selayaknya manusia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/04/susah-payah-di-manggarai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Animation of Public Space through the Arts: Innovation and Sustainability</title>
		<link>http://rujak.org/2011/04/animation-of-public-space-through-the-arts-innovation-and-sustainability/</link>
		<comments>http://rujak.org/2011/04/animation-of-public-space-through-the-arts-innovation-and-sustainability/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 05:05:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arts & Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[arts & culture]]></category>
		<category><![CDATA[public space]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2860</guid>
		<description><![CDATA[SYMPOSIUM 28-30 September 2011 Centre for Social Studies (CES), University of Coimbra Coimbra, Portugal CALL FOR CONTRIBUTIONS The Centre for Social Studies (CES), University of Coimbra, Portugal, together with the Utrecht School for the Arts, Utrecht, Netherlands; the Small Cities Community-University Research Alliance at Thompson Rivers University, Kamloops, British Columbia, Canada; and the European Network of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-weight: normal;"><strong>SYMPOSIUM</strong></span></strong></p>
<p>28-30 September 2011</p>
<p>Centre for Social Studies (CES), University of Coimbra</p>
<p>Coimbra, Portugal</p>
<p><strong>CALL FOR CONTRIBUTIONS</strong></p>
<p>The Centre for Social Studies (CES), University of Coimbra, Portugal, together with the Utrecht School for the Arts, Utrecht, Netherlands; the Small Cities Community-University Research Alliance at Thompson Rivers University, Kamloops, British Columbia, Canada; and the European Network of Cultural Administration Training Centres (ENCACT) thematic area on ‘Urban management and cultural policy of the city’ will organize a second annual symposium on <em>Animation of Public Space through the Arts</em>:<em> Innovation and Sustainability</em>.</p>
<p>The leading question of the 2011 symposium is <strong>how innovative artistic animation of public spaces can contribute to building more sustainable cities. </strong>Community sustainability is viewed as encompassing and intertwining environmental, cultural, social, and economic sustainability and resiliency.<strong> </strong>The forum will explore and advance arts-based approaches to sustainable city building, public engagement, and animation of public space by bringing together interdisciplinary researchers, students, and practitioners to share experiences and insights.</p>
<p>Among the discussion themes are:</p>
<p>·     Animation of public space through artistic practices</p>
<p>·     Sustainable use of public space</p>
<p>·     Urban-nature interactions</p>
<p>·     Community change, public engagement, and social sustainability</p>
<p>·     Community transitions and sustainabilities</p>
<p>·     Heritage and memory in the context of cultural sustainability</p>
<p>·     Creativity and innovation for sustainability</p>
<p>·     Sustainability and creative education</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>In the framework of the symposium there will be a special presentation and event with artists involved in Coimbra’s 1976 “Week of art in the streets” and special art commissions organized by Círculo de Artes Plásticas de Coimbra (CAPC), a Centre for Contemporary Art.</p>
<p>The symposium topics will be also explored in two artistic <strong>workshops (Friday, 30<sup>th</sup> of September 2011):</strong></p>
<p>1.       Theatre workshop ‘<em>Animation of Public Space through Innovative Artistic Practices</em>’: Sustainable Lifestyles Project</p>
<p>2.       Eco-cultural Mapping workshop ‘<em>Artistic Approaches to Reengagement with Natural Public Spaces</em>’</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Other partners for the Symposium include:</p>
<p>University of Coimbra ‘Cities and Urban Cultures’ MA and PhD programmes</p>
<p>University of Coimbra Department of Architecture – Architecture; Design and Multimedia programmes</p>
<p>Círculo de Artes Plásticas de Coimbra (CAPC) – Centre for Contemporary Art, Coimbra, Portugal</p>
<p>O Teatrão, Coimbra, Portugal</p>
<p>Pier K, Hoofddorp, The Netherlands</p>
<p>STUT Theatre, Utrecht, The Netherlands</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"><br />
</span></strong></p>
<p><strong>If you are interested in presenting at the symposium or within one of the workshops</strong>, please send us a proposal on your research, artistic project, or other initiative. Please include the following information:</p>
<p>·     Full contact information</p>
<p>·     Title for presentation or contribution</p>
<p>·     Intended delivery context, i.e., at the Symposium, within one of the Workshops, or Other</p>
<p>·     Format, if not a presentation</p>
<p>·     Key themes addressed</p>
<p>·     Abstract about your presentation / project (200 words)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Deadline for submissions: 15 May 2011</strong></p>
<p>Proposals will be reviewed by the Organizing Committee for the Symposium.</p>
<p>For additional information, please contact the coordinator of the event,<strong> </strong>Dr. Nancy Duxbury, Centre for Social Studies (CES), email: <a href="mailto:duxbury@ces.uc.pt">duxbury@ces.uc.pt</a><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2011/04/animation-of-public-space-through-the-arts-innovation-and-sustainability/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persepsi pemerintah kota dan masyarakat pengguna tentang ruang publik pejalan kaki di Depok (Indonesia) dan Kitakyushu (Jepang): sebuah analisis ruang kota dengan konsep spatial triad dari Lefebvre.</title>
		<link>http://rujak.org/2010/12/persepsi-pemerintah-kota-dan-masyarakat-pengguna-tentang-ruang-publik-pejalan-kaki-di-depok-indonesia-dan-kitakyushu-jepang-sebuah-analisis-ruang-kota-dengan-konsep-spatial-triad-dari-lefebvre/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/12/persepsi-pemerintah-kota-dan-masyarakat-pengguna-tentang-ruang-publik-pejalan-kaki-di-depok-indonesia-dan-kitakyushu-jepang-sebuah-analisis-ruang-kota-dengan-konsep-spatial-triad-dari-lefebvre/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2010 15:14:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Depok]]></category>
		<category><![CDATA[Henri Lefebvre]]></category>
		<category><![CDATA[KItakyushu]]></category>
		<category><![CDATA[pejalan kaki]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah kota]]></category>
		<category><![CDATA[persepsi]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[Spatial Triad]]></category>
		<category><![CDATA[transportation]]></category>
		<category><![CDATA[trotoar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2626</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: S.A. Nataliwati, C. Wardhani, S.D. Anwar dan J. Sumabrata. Abstract The livability of urban space recently is being seen as a common need for pedestrian, since walking as a basic mode of transportation is getting more consideration of its importance. Sidewalk, as an open public space for pedestrian, is a part of city’s face [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: S.A. Nataliwati, C. Wardhani, S.D. Anwar dan J. Sumabrata.</p>
<p><em>Abstract</em></p>
<p>The livability of urban space recently is being seen as a common need for pedestrian, since walking as a basic mode of transportation is getting more consideration of its importance. Sidewalk, as an open public space for pedestrian, is a part of city’s face and image, because sidewalks can be seen as an open bowl of perceptions of its stakeholders.</p>
<p>Henry Lefebvre’s spatial triad concept gives the framework for understanding the phenomena behind urban space production and reproduction by analyzing stakeholder’s perceptions. One dimension of the triad is representation of space, the dimension of decision makers, which can be a government, legislative, operator or developer. In the other side is representational space, a perceived and a lived experiences of users with variety of socio- cultural background. Both triad’s dimensions influence each other, and give shapes and characteristic of resulted spatial practice, the third dimension, and its physical environment.</p>
<p>The research was conducted in Margonda street of Depok in Indonesia and Kitakyushu in Japan. Economic, social and cultural background differences characterized each country’s spatial triad’s perception on pedestrian public spaces. This research is expected to provide the framework for self-understanding and knowledge of living ideas in society.</p>
<p>Kata kunci</p>
<p>Spatial triad, persepsi, ruang publik, pejalan kaki, pemerintah kota.</p>
<p>Selengkapnya <a href="http://www.scribd.com/doc/45691281">klik di sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/12/persepsi-pemerintah-kota-dan-masyarakat-pengguna-tentang-ruang-publik-pejalan-kaki-di-depok-indonesia-dan-kitakyushu-jepang-sebuah-analisis-ruang-kota-dengan-konsep-spatial-triad-dari-lefebvre/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arsitektur dan Produksi Ruang Kota</title>
		<link>http://rujak.org/2010/07/arsitektur-dan-produksi-ruang-kota/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/07/arsitektur-dan-produksi-ruang-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 14:49:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arts & Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[arts & culture]]></category>
		<category><![CDATA[RTRW]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[spatial plan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2351</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/07/Salihara_ProduksiRuangKota.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2352" title="Salihara_ProduksiRuangKota" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/07/Salihara_ProduksiRuangKota.jpg" alt="" width="507" height="720" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/07/arsitektur-dan-produksi-ruang-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taman Internet di Batam</title>
		<link>http://rujak.org/2010/07/taman-internet-di-batam/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/07/taman-internet-di-batam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jul 2010 01:49:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Batam]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[Sekupang]]></category>
		<category><![CDATA[taman]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2282</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan dan Foto dari Ricky Lestari. Terlampir foto-foto beberapa taman kota dengan fasilitas internet dan salah satu danau buatan. Internet gratis ada di taman Sungai Harapan, Sekupang, dikelilingi pepohonan yg rimbun serta tanaman-tanaman perdu yang tertata. Taman Sungai Harapan merupakan salah satu taman kota, letaknya sejajar dengan Jalan R.E. Martadinata. Fasilitas internet berada ditengah-tengah taman, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/07/Taman-Internet-di-Taman-Sungai-Harapan-Sekupang.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2283" title="Taman Internet di Taman Sungai Harapan, Sekupang" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/07/Taman-Internet-di-Taman-Sungai-Harapan-Sekupang.jpg" alt="" width="553" height="415" /></a></div>
<div><span style="font-family: Tahoma;">Tulisan dan Foto dari Ricky Lestari. </span></div>
<div><span style="font-family: Tahoma;">Terlampir foto-foto beberapa taman kota dengan fasilitas internet dan salah satu danau buatan.</span></div>
<div><span style="font-family: Tahoma;"><br />
</span></div>
<div><span style="font-family: Tahoma;">Internet gratis ada di taman Sungai Harapan, Sekupang, dikelilingi pepohonan yg rimbun serta tanaman-tanaman perdu yang tertata. Taman Sungai Harapan merupakan salah satu taman kota, letaknya sejajar dengan Jalan R.E. Martadinata. Fasilitas internet berada ditengah-tengah taman, dinaungi semacam gazebo, yang dapat menampung 10 hingga 12 orang. Fasilitas ini disediakan oleh pemerintah, terbuka untuk umum gratis 24 jam. </span></div>
<div><span style="font-family: Tahoma;"><br />
</span></div>
<div><span style="font-family: Tahoma;">Ini suatu petunjuk bahwa kota Batam masih aman, dan pemerintah sangat peduli pada masyarakatnya, terutama dalam bidang pendidikan dan kemajuan teknologi, serta pemanfaatan taman-taman kota secara maksimal. Masyarakat menikmati kesejukan taman sambil belajar, bekerja, membaca dengan membuka <em>laptop</em>. </span></div>
<div><span style="font-family: Tahoma;">Jalan RE Martadinata sangat indah karena, selain lebar dan bersih, juga rimbun oleh barisan pohon Angsana (<em>Pterocarpus indicus</em>) dan cemara (<em>Cassuarina sp.</em>) di sepanjang kiri kanan jalan dengan median jalan yg lebar. Sangat dramatis dan romantis; dan yang paling menyenangkan adalah dari hari senin sampai minggu tidak pernah macet.</span></div>
<div><span style="font-family: Tahoma;"><br />
</span></div>
<div><span style="font-family: Tahoma;">Di salah satu sisi Jalan RE Martadinata ada danau buatan, Danau Sekupang, yang merupakan salah satu penampung air. (Pulau Batam tidak punya mata air alam). Sangat indah dan luas. Salah satu sisi danau ditanami teratai. Taman danau ini tertata rapih, bersih dan teduh. Ada jalur pejalan kaki yg cukup luas pada sisi luarnya.</span></div>
<div><span style="font-family: Tahoma;"><br />
</span></div>
<div><span style="font-family: Tahoma;">Fasilitas internet juga terdapat di taman Engku Putri di Batam Center. Di taman ini ada empat unit gazebo internet. Sayangnya pada saat ini taman Engku Putri sedang dalam perbaikan jadi kurang nyaman. </span><span style="font-family: Tahoma;">Batam Center adalah pusat kegiatan pemerintahan dan perkantoran swasta. Di sini juga ada pelabuhan feri. Taman Engku Putri sangat luas. Ada bangunan kantor Pemerintah Kota Batam yg bergaya arsitektur Melayu.</span></div>
<div><span style="font-family: Tahoma;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/07/Taman-danau-buatankolam-lotus-Sekupang2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2300" title="Taman danau buatan(kolam lotus) Sekupang" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/07/Taman-danau-buatankolam-lotus-Sekupang2.jpg" alt="" width="498" height="374" /></a><br />
</span></div>
<div><span style="font-family: Tahoma;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/07/Jalan-RE-Martadinata-Sekupang.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2293" title="Jalan RE Martadinata, Sekupang" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/07/Jalan-RE-Martadinata-Sekupang.jpg" alt="" width="526" height="394" /></a><br />
</span></div>
<div><span style="font-family: Tahoma;"><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/07/Taman-internet-di-taman-kota-taman-Engku-Putri-Batam-Center.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2292" title="Taman internet di taman kota (taman Engku Putri, Batam Center)" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/07/Taman-internet-di-taman-kota-taman-Engku-Putri-Batam-Center.jpg" alt="" width="516" height="387" /></a><br />
</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/07/taman-internet-di-batam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ruang untuk Budaya Rakyat</title>
		<link>http://rujak.org/2010/07/ruang-untuk-budaya-rakyat/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/07/ruang-untuk-budaya-rakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 14:10:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Editorial]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[ruang tinggal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2267</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Jo Santoso: Pertama adalah bahwa budaya hanya bisa berkembang, atau dikembangkan kalau &#8220;Lebensraum&#8221; yang diperlukannya tersedia. Tidak ada budaya bisa berkembang tanpa keterikatan pada tempat atau teritori/ruang dalam arti fisik. Proses perkembangan budaya terjadi di sebuah tempat dan dilakukan secara bersama oleh sejumlah kelompok masyarakat. Jadi kalau kita bicara tentang budaya urban yang tradisional, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<div id="ygrp-mlmsg">
<div id="ygrp-msg">
<div id="ygrp-text">
<div><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/07/25April2010_CFD_Jembatan1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2320" title="25April2010_CFD_Jembatan" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/07/25April2010_CFD_Jembatan1.jpg" alt="" width="569" height="477" /></a></div>
<div>Oleh Jo Santoso: Pertama adalah bahwa budaya hanya bisa berkembang, atau dikembangkan kalau &#8220;Lebensraum&#8221; yang diperlukannya tersedia.</div>
<div>Tidak ada budaya bisa berkembang tanpa keterikatan pada tempat atau teritori/ruang dalam arti fisik. Proses perkembangan budaya terjadi di<br />
sebuah tempat dan dilakukan secara bersama oleh sejumlah kelompok masyarakat.<br />
Jadi kalau kita bicara tentang budaya urban yang tradisional, yang non-feodal, maka selama ini kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta tidak pernah memberikan tempat yang memungkinkan perkembangan semacam itu bisa berlangsungi. Memang kita tidak seburuk  Singapura yang membabat habis perkampungan tradisional mereka, dan sekarang secara budaya mati suri, tetapi kitapun tidak pernah secara sadar memberikan ruang bagi munculnya sebuah budaya urban yang berbasis pada pola kehidupan masyarakat kita. Budaya kota yang unggul baru bisa (suatu hari) muncul kalau kita juga menyediakan ruang hidup bagi budaya urban untuk semua lapisan masyarakat, terutama untuk rakyat biasa. Karena kalau budaya rakyatnya tidak bisa berkembang, karena digusur habis seperti di Singapura, sekolah tinggi seni sebanyak apapun tidak bisa menggantikan. Kalau tidak ada budaya rakyat, budaya tinggipun tidak bisa muncul.</div>
</div>
</div>
</div>
</blockquote>
<p>Lihat juga<a href="http://rujak.org/2010/06/ruang-khalayak-dan-kebudayaan1/"> Ruang Khalayak dan Kebudayaan</a> serta <a href="http://rujak.org/2010/06/new-book/">City Life, from Jakarta to Dakar</a> dan <a href="http://rujak.org/2009/07/on-provisional-publics-and-intersections-remaking-district-life-in-north-jakarta/">Jakarta Utara</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/07/ruang-untuk-budaya-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ruang Khalayak dan Kebudayaan[1]</title>
		<link>http://rujak.org/2010/06/ruang-khalayak-dan-kebudayaan1/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/06/ruang-khalayak-dan-kebudayaan1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 15:30:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marco Kusumawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=2206</guid>
		<description><![CDATA[Kebudayaan  berproses di dalam dan di antara tiga lapis ruang: -Ruang  dalam rumah, ialah ruang dapur dan ruang keluarga -Ruang depan rumah, ialah ruang tamu dan ruang kerja -Ruang khalayak, dari halaman hingga ke lapangan. Bagaimana? Begini ilustrasinya. Baru-baru ini di Bangalore/Bangaluru saya membaca sebuah buku tentang keragaman Hindu (ditulis sengaja untuk menentang gerakan fundamentalisme [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebudayaan  berproses di dalam dan di antara tiga lapis ruang:</p>
<p>-Ruang  dalam rumah, ialah ruang dapur dan ruang keluarga</p>
<p>-Ruang depan rumah, ialah ruang tamu dan ruang kerja</p>
<p>-Ruang khalayak, dari halaman hingga ke lapangan.</p>
<p>Bagaimana?</p>
<p>Begini ilustrasinya. Baru-baru ini di Bangalore/Bangaluru saya membaca sebuah buku tentang keragaman Hindu (ditulis sengaja untuk menentang gerakan fundamentalisme Hindu): <em>The Hindus, an Alternative History</em>. Pengarangnya, <strong>Wendy Doniger</strong>, menerangkan bahwa kesalahan utama selama ini adalah menganggap Hindu itu hanya “satu/tunggal” sebagaimana dirumuskan dalam teks-teks berbahasa Sanskrit, dan seolah-olah teks itu seluruhnya berasal dari bahasa itu, dan karena itu hanya ditulis oleh elit, para ksatria dan brahman. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah demikian: “Di ruang depan ayah berbahasa Sanskrit&#8221;, &#8220;di dapur ibu berbahasa panskrit.&#8221;  Bahasa Panskrit adalah istilah untuk menyebut semua bahasa-bahasa daerah yang berbeda-beda di seluruh India”. Teks Sanskrit Hindu, menurutnya, banyak yang awalnya berasal dari bahasa daerah ini, ditulis atau diceritakan oleh siapa saja, termasuk kaum Paria, tapi kemudian dikutip oleh teks-teks berbahasa sanskrit. Terjadi proses kanonisasi melalui Bahasa “tinggi”.</p>
<p>Bukankah kita juga demikian? Ketika ayah berbahasa Indonesia dengan Pak RT di ruang tamu, anak ber”bahasa-ibu” (<em>mother-tongue</em>) dengan ibu di dapur. Bahkan ketika jam istirahat di sekolah, meski pun sebelumnya di dalam klas kita berbahasa Indonesia, kita berbahasa daerah.  Di ruangan ini, di hadapan hadirin yang terhormat, pun, saya menggunakan Bahasa Indonesia yang berbeda dengan bahasa Indonesia yang saya gunakan untuk berkomunikasi dengan anak saya di rumah. (Anak saya, baru saya sadari, telah menjadi “lebih” Betawi daripada saya. Dia lahir di Jakarta. Saya di kampung di Pulau Bangka. Sehari-hari dia bilang “ape, emang kenape, gue, dlll” sedang saya tetap kental dengan Melayu rendahan saya.)</p>
<p>Tentang hubungan antara ruang dan perkembangan kebudayaan, tiga hal sederhana dapat dianggap pasti:</p>
<ul>
<li>Kebudayaan berkembang di dalam ruang yang kontinum bukan saja secara horisontal (dari satu ruang ke ruang lainnya), tetapi secara historis (dari satu masa ke masa lainnya)</li>
<li>Kebudayaan selalu berkembang dalam proses komunikasi/dialog</li>
<li>Kebudayaan selalu berubah, perlahan atau lama, dan saling pengaruh mempengaruhi. Suatu kebudayaan bukan saja selalu menyerap kebudayaan lain, tetapi juga selalu menawarkan diri kepada kebudayaan-kebudayaan lain. Arus itu timbal-balik. Dari tiap kebudayaan selalu ada yang dapat ditawarkan kepada yang lain, kepada dunia, selalu ada yang “universalisable” (dapat di-unversal-kan)<a href="#_ftn3">[3]</a></li>
</ul>
<p>Dengan demikian mudah kita melihat peran “ruang publik”, yang tentu saja bukan hanya di dalam pengembangan kebudayaan, termasuk kebudayaan Betawi.</p>
<p>Tapi interaksi yang mengembangkan kebudayaan tidak hanya terjadi antar kelompok.  Interaksi terjadi juga antara orang perorang dengan kelompok, atau dengan dunia. Di sinilah peran para pekerja seni. Ignas Kleden<a href="#_ftn4">[4]</a> menguraikan bahwa nilai-nilai pada akhirnya juga  diolah dalam ruang pribadi orang perorang yang lalu  ditawarkan ke ruang publik pada berbagai tingkatan (komunal, nasional dan global). Inilah yang antara lain tugas mulia seniman, yang melakukannya secara intense dan mewujudkan tawarannya dalam media yang menggugah dan indah.</p>
<p>Mohamed Arkoun, karena itu menggunakan istilah “universalizable”  untuk mengatakan ada nilai-nilai dalam Islam yang “dapat ditawarkan” kepada dunia. Penggunaan kata “universalizable” sekaligus juga menunjukkan kerendahan hati dan niat tulus untuk menyumbang kepada ruang publik, kepada kemanusian dalam arti seluas-luasnya, alih-alih mengambil atau membentuk ruang publik sesuai dengan preferensi sektarian.</p>
<p>Mengapa saya menekankan hal ini? Karena kita telah melewati pemikiran multikulturalisme, tetapi masuk dalam pemikiran inter-kulturalisme. Kita bukan hanya perlu menghormati keberagaman, tetapi juga secara aktif dan terbuka belajar dari orang lain yang berbeda dari kita masing-masing. Konsekuensi dari interkulturalisme adalah kebijakan yang bukan hanya melerai orang per orang atau kelompok per kelompok yang berbeda, melindungi dan mengakomodasi semuanya, tetapi juga mendorong interaksi antara semuanya. Kreativitas muncul dari interaksi aktif demikian. Setiap orang mengambil dan memberi, dan kemudian membawa pulang ke ruang pribadinya sesuatu yang lain lagi, hasil percampuran pemberian dan penerimaan itu. Memberikan berarti menawarkan apa yang mungkin ”universalizable,” bukan memaksakan. Harus tersedia ruang untuk yang diberi, baik sebagai orang perorang maupun sebagai suatu kelompok budaya, untuk memproses tawaran itu secara bebas. Karena itu kreativitas suatu kota bukan hanya berarti <em>creative industry</em> atau <em>creative city</em> yang memproduksi barang kriya dan barang seni. Sebuah Kota itu kreativ pertama-tama dalam arti mampu mengelola keberagaman yang interaktif sehingga semua warganya selalu  produktif “mencipta” dalam semua bidang dan tingkatan, dari nilai-nilai sampai produk material.</p>
<p>Sebuah buku terbaru baru saja terbit, sesudah cukup lama tidak ada buku tentang Jakarta berbahasa Inggeris. <em>City Life, From Jakarta to Dakar</em>, ditulis oleh <strong>Abdoumaliq Simone</strong>, seorang sahabat warga muslim dari AS, keturunan campuran Itali dan Libia yang dengan mudah bisa menyamar ke Pasar tanah Abang, setelah melakukan penelitian tentang kegiatan ekonomi dan sosial di Jakarta Utara. Dia menulis tentang vitalitas, daya hidup, masyarakat di Jakarta Utara: “…menyalurkan berbagai perbedaan menjadi hubungan tertentu menghasilkan kapasitas-kapasitas dan pengalaman-pengalaman tak terduga yang berharga—berharga karena semua itu memperluas apa yang kita anggap mungkin.” <a href="#_ftn5">[5]</a> “Hanya dengan melihat kehidupan perkotaan sebagai suatu konteks untuk pertemuan-pertemuan kita dapat mengerti bagaimana hanya dengan sedikit sumber daya orang dapat bertindak sangat yakin dengan banyak akal.”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Nah, kesimpulan tentang peran kota sederhana. Kota perlu dirancang untuk melancarkan, bukan menyumbat, interaksi, arus komunikasi bolak-balik dari ruang privat ke/dari ruang publik itu secara kontinum, bukan secara terpatah-patah, apalagi terbatah-batah, dan menyeluruh.</p>
<p>Ruang terbuka di kampung-kampung Kupat Kumis (Kumuh Padat, Kumuh Miskin) adalah prakarsa yang baik, hanya saja: istilahnya itu sebaiknya diganti supaya tidak berkesan merendahkan. Dan rung terbuka adalah kebutuhan semua orang, bukan hanya yang miskin. Dan: Perlu lebih mendalam dalam perancangannya. Kampung adalah suatu istilah yang terhormat, karena Kampung adalah bentuk hunian yang sesungguhnya secara sosial budaya sehat dalam makna kontinuitas ruang-ruang di atas. Tentu saja secara fisik ia harus dilengkapi dengan prasarana yang sehat pula. Kampung bukan hanya nama untuk suatu bentuk permukiman, tetapi juga berarti suatu “tempat asal”, suatu “rumah tempat kembali”, tempat di mana orang merasa nyaman. Kampung selalu mengandung ruang khalayak juga, tetapi ruang-ruang khalayak yang jelas tuan rumahnya, bentuk dan norma sosialnya yang lokal dengan semua orang saling mengenal, tidak ada orang asing, hanya orang lain; berbeda dengan ruang kota seperti “jalan raya” yang  penuh dengan “orang asing” yang kepemilikannya abstrak, ialah “umum” dan di bawah perwalian kekuasaan pemerintah sebagai wakil yang publik. Di ruang khalayak kampung, tidak perlu kuasa perwalian seperti pemerintah, karena ruang ini langsung dipelihara dan “dijaga” oleh penghuni kampung, tidak diwakilkan kepada pihak lain.</p>
<p>Saya ingat Walikota Jogja yang terdahulu dengan jujur mengakui: yang membentuk kotanya adalah kampung-kampung itu. Tentu saja tidak berarti Malioboro, alun-alun utara maupun selatan, jalan Solo, tidak penting. Di kampung-kampung itu, penghuni kota memproduksi nilai-nilai yang berbeda dengan yang diproduksi di Jalan Malioboro, mall, dll. Semuanya diperlukan. Yang diperlukan lagi: mengalirnya semua itu secara baik secara dua arah: dari kampung ke ruang publik berskala kota, dan sebaliknya. Efektifitasnya  tergantung pada rancangan detail dalam hal hubungannya dengan jaringan keseluruhan kampung, rumah-rumah yang mengelilinginya, dll.</p>
<p>Untuk membuat ruang khalayak menjadi ruang sosial yang efektif, catatan-catatan berikut dapat diperhatikan:</p>
<p>1.     Ruang terbuka hanyalah salah satu dari “ruang publik”. Untuk “ruang publik/khalayak” yang dimaksudkan untuk interaksi sosial, bisa juga digunakan istilah “ruang sosial”.<br />
2.     Ruang publik dapat dimanfaatkan secara sadar sebagai “prasarana sosial” sebagai bagian dari strategi dalam memudahkan integrasi perkotaan (tanpa mneyeragamkan dan tanpa represi kesatuan dan persatuan), apalagi untuk kota metropolitan. Saskia Sassen mengingatkan peran fasilitas umum ini dalam “integrasi perkotaan”, sebagai alat “klasik” yang biasa saja dan selalu ada sebagai yang esensial bagi suatu kota, ditengah-tengah kebingungan kita mencoba-coba segala hal lain untuk merajut kembali fragmentasi  sosial Jakarta, dan serbuan globalisasi.  Pesannya sederhana: bangunlah prasarana esensial kota (sebagaimana seharusnya setiap kota punya) seperti angkutan umum, ruang pejalan-kaki (trotoir/kaki-lima) ruang terbuka hijau, fasilitas kesenian, pasar, wc umum (jepang merupakan contoh yang baik dalam hal wc umum ini) dll.,  dengan baik, bukan saja sebagai alat fisik fungsional, tetapi juga sebagai prasarana sosialitas penduduk, maka kota akan baik, beradab juga secara sosial-budaya, bukan hanya secara ekonomi dan teknis. Kota Eropa memiliki tradisi <em>public policy</em> yang kuat dalam hal menata ruang publik, baik berupa ruang terbuka maupun fasilitas umum. Sesudah PD2 ada <em>animation policy</em> untuk ruang publik di kota-kota eropa. Olimpiade Barcelona (1992?) dimanfaatkan untuk merevitalisasikan Barcelona dengan antara lain investasi yang strategis pada ruang publik yang efektif (terkait-terhubungkan dengan perumahan, infrastruktur, dan isu-isu lain). “Ruang khalayak yang sehari-hari” lah yang ingin ditekankan oleh saskia sassen. Bagi saya, karena itu: Kaki-lima/trotoir itu penting. Saya selalu mengatakan “Kota yang baik untuk berjalan kaki, pasti baik untuk segala hal yang lain”.  Karena, untuk dapat berjalan kaki dengan nyaman, diperlukan hal-hal lain yang dengan sendirinya akan membuat kota itu baik: rindang, jalan rata, aman, bebas polusi, angkutan umum yang handal, keramahan,….Jalan kaki lebih penting daripada bersepeda.<br />
3.     Fasilitas umum dan sosial adalah bagian dari “ruang publik” dalam pengertian di atas: merupakan ruang fasilitasi pembentukan adab kota&#8211;dan itu berarti kebudayaan.<br />
4.     Ruang publik yang lain: juga media massa, media sosial (fb,…). Tapi, belum ada studi tentang apakah benar social-media benar meningkatkan “kapasitas sosial” manusia.<br />
5.     Ruang terbuka: luas atau banyak saja tidak cukup, tapi juga harus terdistribusi dan miliki aksesibilitas yang baik.<br />
6.     Hijau saja tidak cukup: kinerja sosial dan ekologis penting terukur dan efektif.<br />
7.     Ruang Khalayak itu juga tidak selalu permanen. Festival, misalnya, adalah ruang khalayak yang terbentuk ketika peristiwa terjadi. Pasar Malam punya sejarah kolonial yang menarik. Di masa kolonial, Pasar Malam diselenggarakan berbarengan dengan proses desentralisasi (<em>Desentralisatie Wet 1903</em>) dan otonomi daerah pertama di Hindia Belanda. Pasar malam menjadi <em>trend</em> di semua gemeente baru di Hindia Belanda di awal abad ke-20. Di Jakarta namanya Pasar Gambir. Lalu ia jadi Jakarta Fair di tempat yang hampir sama: kuadran Selatan Lapangan Monas. (Dulu hanya di sebagian kuadran Selatan, sebelah Barat, persis berseberangan dengan ujung Jalan Agus Salim/Sabang).  Festival kesenian pun memiliki fungsi sosial yang luar biasa , selain fungsi internal kesenian itu sendiri. Festival Kesenian adalah kesempatan membahas nilai-nilai yang diproses dan ditawarkan oleh orang perorang seniman secara terbuka di ruang publik yang interaktif. Peran seniman ini, mengacu kepada Ignas Kleden tadi, penting, karena bersifat hakekat. Tanpa peran itu, kesenian hanya menjadi yang “indah”, menjadi formalisme. Tanpa peran itu, masyarakat kehilangan bagian sangat penting dari dirinya. Bukankah karena peran “memproses” nilai ini juga yang sering menjadi sebab seniman dipenjarakan, karena penguasa ingin memonopoli nilai? Bukankah karena ini pula masyarakat “maju” dalam arti yang sesungguhnya, senantiasa bergerak dengan eling atas keadaan. Mangunwijaya mengatakan “seniman adalah yang pertama mendengar suara kokok ayam” (Tentu saja bukan karena sudah bangun pagi-pagi, tapi karena belum tidur, tentu saja).  Selama tiga tahun lalu DKJ bahkan menyelenggarakan festival mini untuk tiga budaya dengan jumlah penganut termasuk terbesar di Jakarta: Betawi, Batak dan Minang. Mudah-mudahan upaya ini dilanjutkan, juga untuk budaya yang penganutnya kecil sekalipun. Sebab, jumlah bukanlah penentu segalanya.<br />
8.     Sambil menciptakan ruang-ruang publik sebanyak mungkin, kita perlu juga waspada terhadap menghilangnya ruang yang ada, serta perubahan yang bisa positif bisa negatif. Misalnya: apakah perubahan (dan kepindahan) Jakarta Fair ke Kemayoran meningkatkan dan menurunkan “kapasitas sosial”nya sebagai ruang publik? Saya bertanya dengan tulus tanpa prasangka. Saya kira penelitian akan sangat penting sebagai sumber pengetahuan untuk masa depan. Mall sebagai ruang publik masih mencengangkan banyak orang, awam maupun ahli. Penting juga untuk mengevaluasi apakah ada ragam ruang publik yang cukup, sehingga kita dapat bersikap proporsional terhadap ruang publik baru, entah namanya <em>mall</em> atau stadion musik rock. Yang baru baik kalau menambah, bukan mengurangi atau menggantikan.</p>
<p>Ruang publik kita menghadapi tantangan-tantangan yang tidak ringan, a.l pertentangan dan perebuatan antara berbagai fungsi dan kepentingan. Kaki-lima adalah contoh yang paling mudah diingat. Sebenarnya juga soal keseluruhan ruang jalan. Kita sering melihat bahwa ketika “jalan diperlebar” maka itu sering berarti aspalnya yang diperlebar, sedangkan trotoir menyempit. Ini fundamental dari perspektif ruang sosial: ruang aspal adalah pasif, meskipun kelihatannya sibuk. Ruang kaki-lima lah yang aktif secara sosial. Bukannya kurang gagasan yang ditawarkan. Bukan pula kurang kasus untuk dipelajari dan dicarikan solusi. Menurut saya perlu ada upaya aktif memfasilitasi, memediasi, negosiasi-negosiasi dalam pembentukan dan penggunaan ruang publik. Pertentangan-pertentangan tidak bisa dibiarkan begitu saja, tetapi perlu didaya-gunakan menjadi energi positif untuk makin mematangkan kehidupan kekotaan kita. Satu demi satu konflik karena kementahan konsep, perlu kita cari solusinya dengan proses mediasi yang aktif, yang bukan untuk menekan dan mereduksi/menyederhanakan, tetapi secara sistematis membangun kesepahaman yang mendalam dan akhirnya rancangan yang baik. Peran mediasi ini, dan sekaligus satu paket dengan cara kerja yang fasilitatif, tidak buru buru memaksakan aturan normatif, karena memang kekotaan itu itu muda dan masih dalam proses pembentukan, sebaiknya dilembagakan di pemerintah daerah.</p>
<p>Contohlah taman kota, untuk menunjukkan bagaimana mentahnya konsep kita. Kita mengenal taman itu dari Eropa. Dari Menteng, dari Kota Baru (Yogya), dari Darmo (Surabaya), dari Kambang Iwak (Bukit Kecik, Palembang), Ijen (Malang). Ketika Berlage, arsitek Belanda yang terkemuka menuliskan kesan dari perjalanannya ke Hindia Belanda tahun 1921, ia katakan bahwa Batavia itu <em>parkstad</em>, bukan <em>tuinstad</em>. Yang kita punya adalah kampung-halaman dan alun-alun. Di Yogya kini nampak betul bagaimana ada aspirasi dan pendudukan alun-alun dalam konsepsi taman kota (rekreatif, bukan ritual). Tetapi belum ada mediasi untuk mematangkan konsep taman-kota yang sesuai dengan kebutuhan kota spesifik. Satu taman kota yang mungkin sangat berhasil adalah Taman Jam Gadang di Bukittinggi.</p>
<p>Kebutuhan kita kini akan ruang khalayak adalah juga dalam rangka mengembangkan pengetahuan, nilai dan praktik-praktik kelestarian. Kita memerlukan <em>habitus</em> dan <em>habitat</em> baru untuk keperluan ini. Ini memerlukan penggalian ke budaya masa lalu yang sama dalamnya dengan orientasi ke masa depan. Ini memerlukan inter-kulturalisme yang sama cairnya dengan kerjasam antara masyarakat dan pemerintah.</p>
<p>Sebagai penutup, saya membaca dalam kertas pengantar diskusi ini ada kutipan penelitian Ninuk Kleden, bahwa tiga hal yang dianggap terpenting dalam fase kehidupan orang Betawi adalah khitanan, kawinan, dan kematian. Orang Betawi sedikit sekali punya konsentrasi untuk mengingat-ingat sesuatu yang berkaitan dengan kelahiran. Wajar jika orang Betawi menganggap adat berulang tahun itu tak penting. Bagi saya, watak berorientasi ke masa depan ini “modern” dan “progresif”/maju sekali. Dengan watak itu, Kebudayaan Betawi adalah aset mendasar untuk membangun Jakarta ke masa depan. Salah, bukan hanya itu: Dengan watak itu, Kebudayaan Betawi telah memungkinkan dan menjadikan Jakarta mampu berkembang sebesar ini, selapang ini secara sosial, ekonomi, budaya dan politik. Hanya  suatu tempat dengan kelapangan watak penduduk yang mementingkan melihat ke masa depan lah yang dapat menjadi suatu metropolis yang tegak.</p>
<p><strong> </strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Untuk Seminar dan Lokakarya Kebudayaan Betawi Tahun 2010, 26 Juni 2010.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Meminjam istilah dari Mohamed Arkoun, filsuf Muslim Perancis asal Aljazair. Ia mengunjungi Indonesia antara lain pada tahun 2000.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Dalam Pidato Kebudayaan 10 November 2009.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> “The idea is that bringing differences into some kind of relationship produces unforseen capacities and experiences that are valuable—valuable because they extend what we think is possible.” (Abdoumaliq Simone, <em>City Life from Jakarta to Dakar</em>, Routledge, 2010, p.61)</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> “It is only by seeing urban life as a context for intersection that we can understand how those with few apparent resources can act with a heightened sense of resourcefulness.” (Ibid. p.115)</p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/06/ruang-khalayak-dan-kebudayaan1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Balai Warga and Kebun Wisata Tanaman Obat</title>
		<link>http://rujak.org/2010/05/balai-warga-and-kebun-wisata-tanaman-obat/</link>
		<comments>http://rujak.org/2010/05/balai-warga-and-kebun-wisata-tanaman-obat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 06:15:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Guest Column]]></category>
		<category><![CDATA[Resources]]></category>
		<category><![CDATA[Agriculture]]></category>
		<category><![CDATA[collaboration]]></category>
		<category><![CDATA[inisiatif warga]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[organic farming]]></category>
		<category><![CDATA[ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>
		<category><![CDATA[sustainability]]></category>
		<category><![CDATA[taman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujak.org/?p=1992</guid>
		<description><![CDATA[Text and Pictures by Anggriani Arifin. Fostering a communal sense of home amongst Community of RW 09, Kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta Timur:  What was the background of the initiative? It begins when the community of RW 09, Kelurahan Pondok Kelapa felt the demand to have a secretariat’s office for daily administrative matters. Having located in [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/Anggie1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1993" title="Anggie1" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/Anggie1.jpg" alt="" width="259" height="181" /></a></p>
<p>Text and Pictures by Anggriani Arifin.</p>
<p><strong>Fostering a communal sense of home amongst Community of RW 09, Kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta Timur:  <em>What was the background of the initiative?</em></strong></p>
<p>It begins when the community of RW 09, Kelurahan Pondok Kelapa felt the demand to have a secretariat’s office for daily administrative matters. Having located in a state-owned housing complex, the neighbourhood was in luck as there was a vacant land that was already allocated for social facility. With an area of over 500 square meters, the previous idea took a turn and elaborated into having a multi-function assembly hall. A series of lobbying process took place and finally the PD. Sarana Jaya approved the proposal with construction stage kick-started in 2003.</p>
<p><strong><em>When Balai Warga comes into place&#8230; </em></strong></p>
<p>The hall evoked community’s enthusiasms and became the manifestation of the RW officials’ humble intention, which is to ensure that every resident has a genuine sense of ownership toward their neighbourhood with a commonly-used public place. The effort to create a functioning public place was reflected in the name the community reffered to the assembly hall, which is “Balai Warga” in the hoped that in the truest sense belongs to every residents of the neighbourhood. The place could be utilize not only for community meetings, but the place was also open to be reserved for badminton games, weddings, private function, Karang Taruna and PKK agenda and any other social activities.</p>
<p>In light of such spirit, every phase in the construction process was self-organized and self-funded by the community. The building was 371 square meters, well-designed and facing the neighbourhood’s basketball field. The initiative had invited a relatively large attention and able to gain supports from the  local government. In 2007, Balai Warga had reached its final completion and the community of RW 09 began to enjoy the presence of a representable, comfortable and usable social facility  that is at the same time, informative on the neighbourhood’s activity.</p>
<p><strong><em>Making neighborhood a home&#8230; </em></strong></p>
<p>Balai Warga’s construction had fueled RW officials’ motivation to continue making betterment to the neighborhood.</p>
<p><em>Community-based Solid-Waste Management and Biopori Holes.</em><strong> </strong> In 2005, the buzz of community-based solid waste management reached the area, a site visit to pioneering Kelurahan Rawajati, South Jakarta was made. To make the neighbourhood environmentally-conscious by managing their solid waste was in response to the area’s vulnerability to flood and the lacking capacity of the surrounded transit disposal sites. The idea was very simple. Residents separate the waste, following the well-known organic, non-organic and toxic waste typology although for practicality, the residents were only expected to separate based on waste that was compost-material, recyclable to be given to scavengers and kinds that could not be utilize for either purpose, should be put in the waste residue category.  The seemingly easy task has proven to be quite difficult to be followed by the residents. Up to now, only a minority group in RW 09 who separated their waste. A short-term solution was proposed. The waste would be separated in a solid management post near the Balai Warga, cooperating with surrounding scavengers who were hired as staff. Although behavior changes was still encouraged, but the method had kept the composting production on-going and motivates the community to start separating waste.</p>
<p>For the composting process, the community of RW 09 opted for a simple method after a series of consultation and visit, The process of turning the organic waste into compost take within a 6-7 week period, with phases comprising of waste separation, aging, turning, sprinkling, and riping. The high points of this method is that it does not require incenerator, without using bio activator, does not produce odour and does not invite flies. Using this method, the compost production can now reach up to 200 bags per week, with selling price of Rp. 3000,- per bag.</p>
<p>In addition to the initiative, the RW officials also utilized biopori methods to reduce waste production and reducing flood risk (the neighbourhood occasionally suffered from flood risk, although a river embankment and dredging initiative of nearby Jati Kramat river in 2007-2008 had significantly overcome the threat). Up to 300 biopori holes were made around parks and main roads in the neighbourhood.</p>
<p><em>Kebun Wisata Tanaman Obat  (Agritourism Herbal Garden)</em><em> and Green Spaces.</em><strong> </strong>The idea was to create an icon for the community that they can be proud of and would like to take part in its success. Located next to Balai Warga, the herbal garden was open for site visits, an information centre on herbs, its benefits and usage, increase awareness on natural health remedies, and as a functioning green space which can be enjoyed by the community. <strong></strong></p>
<p>The garden was built on a 5000 square metre land, and was self funded by the residents. It possessed up to ninety (90) types of herbal plants that was grown there. This effort was assisted by the ASPETRI (associaton of traditional herbs producers of Indonesia). A bamboo-made saung was also constructed with the idea that the residents can reserve the place for lunch, meetings or simply to have family moments overlooking the gardens and the balai warga. The overall idea was to ensure that the garden could really be utilized by the community.</p>
<p>To further creating livability, community were encouraged to have green plants in front of their home and on almost every streets within the neighbourhood. To add tidiness, the trotoirs were repainted and pots of plants were also put on the main streets, as well as making green spaces in idle lands.</p>
<p><strong><em>Creating  Livability </em></strong></p>
<p>The message that was continuously buzzed in the neighbourhood management is that a clean is the key to a healthy and comfortable living environment, in which community’s participation in maintaining the condition is pivotal. To keep the neighbourhood alive, community activities were highly encouraged, with routines like RW siaga (to combat dengue fever), <em>kerja bakti</em> (voluntary community work), independence day’s events trail, aerobics, and others, as well as incidentals such as Kampung Anti Narkoba (anti-drugs kampung) movement by building Anti-Narkoba posts accross the area. A monthly newsletter, <em>Warta 09¸</em> were also circulated to keep every resident informed and acknowledged as part of the community.</p>
<p>Initiatives like one that RW 09 have, certainly would not take place without the work of a rigorous and dedicated RW officials as well as a supportive community. However, it would also never take place if there was no intention to nurture partnership amongst residents and the Rukun Warga (RW) official in making the neighbourhood becomes a home, instead of mere space, to be shared together. The community of RW 09, as well as many communities in DKI Jakarta, had proven that this simple intention is enough to ignite significant changes in any neighborhood.</p>
<p><a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/Anggie3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1995" title="Anggie3" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/Anggie3.jpg" alt="" width="174" height="131" /></a><br />
<a href="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/Anggie2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1994" title="Anggie2" src="http://rujak.org/wp-content/uploads/2010/05/Anggie2.jpg" alt="" width="168" height="126" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujak.org/2010/05/balai-warga-and-kebun-wisata-tanaman-obat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

